
Ning yang merasa sangat kesal pada Athar lebih memilih diam ketimbang harus terus berdebat. Ia memalingkan wajahnya dari Athar sang pengendara mobil yang duduk di sebelahnya. Pandangannya mengarah ke samping, tepat ke jendela kaca pintu.
Athar pun demikian, ia hanya konsentrasi menyetir dan tak bicara lagi. Namun sesekali ia melirik ke arah Ning secara diam- diam.
Suasana di dalam mobil mendadak hening. Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan apa pun lagi, hingga mobil Athar berhenti di depan pintu utama sebuah restoran ternama dan cukup mewah.
“Ayok keluar ….” ajak Athar yang sudah di luar dan membukakan pintu mobil untuk Ning.
Ning yang terlihat bingung, mengedarkan pandangannya kesana kemari. Nampaknya sedari tadi ia melamun dan tak menyadari jika mobil yang ditumpanginya sudah berhenti.
“Hei, ayok keluar … kenapa malah bengong?” Athar kembali mengajak Ning turun dari mobil.
“Tuan om ini apa- apan sih? Parkir kok di depan pintu restoran," protes Ning.
“Tinggal kasih kuncinya pada penjaga itu, nanti juga diparkirkan … Ayok kita makan, aku sudah lapar ….”
Ning mendengus kesal, ia lalu membuka seat belt nya dan turun dari mobil.
Saat hendak melangkah, Athar menarik tangan Ning.
“Mau kemana?” tanya Athar.
Ning menoleh “Mau masuk lah … bukannya kita mau makan?” ucap Ning ketus.
“Apa kau lupa dengan apa yang ku katakan tadi di mobil?”
“Bilang apa emang??” tanya Ning heran sembari mengingat- ingat.
Athar mendekatkan dirinya pada Ning. Ia lalu berbisik di telinga Ning.
“Di depan keluarga atau pun orang lain, kita adalah sepasang kekasih ….”
“Iya aku ingat … sudah cepat kita masuk … bukannya tuan om sudah lapar?” Ning menarik kembali tangannya yang masih dipegang oleh Athar.
“Jangan memanggil ku seperti itu ….” Athar kembali berbisik.
Ning kembali mendengus kesal.
“Ayo sayang, kita masuk … Aku sudah lapar ….” ucap Ning dengan nada manja dan suara sedikit agak keras. Athar tersenyum, lalu meletakan tangan Ning di lengannya.
“Tetap seperti ini,” bisik Athar yang kini tangannya di gandeng oleh Ning.
“Hmmm ….” Ning pun menurut saja, agar mereka bisa segera masuk. Karena ia pun sebenarnya sudah sangat lapar.
Athar dan Ning duduk di salah satu meja di sana. Seorang pelayan datang menghampiri keduanya dengan memberikan buku menu makanan yang ada di restoran tersebut.
“Kamu mau makan apa?” tanya Athar sembari melihat- lihat buku menu tersebut.
“Terserah ….” ucap Ning.
“Oke ….” Athar kemudian memesan makanan pada pelayan tersebut.
Athar dan Ning bergantian pergi ke belakang untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan.
Tak lama, dua orang pelayan pun datang dengan masing- masing di tangannya membawa nampan berisi makanan dan minuman yang sudah dipesan Athar. Mereka menyajikan dua piring steak beserta dua minuman tersebut di meja.
“Ayok kita makan … steak di sini rasanya enak loh ….” Athar mengambil pisau dan garpu untuk memotong steak miliknya.
“Ini aja makanannya?” tanya Ning terheran- heran.
“Iya … Memangnya kamu mau pesan apa lagi? Tinggal bilang saja sama pelayannya kalau mau nambah ….” Athar mulai menyuapkan steak ke dalam mulutnya.
“Nanti saja, makan yang ini dulu … Eh tapi, nasi nya mana?” Ning nampak bingung.
Uhuk uhuk uhuk ….
Athar yang baru saja menelan potongan steak yang sudah dilahapnya, langsung tersedak mendengar ucapan Ning. Ia mengambil gelas minumannya, kemudian minum dengan perlahan.
“Lapar sih lapar … Tapi pelan- pelan aja kali makannya .. Aku juga gak akan minta jatah tuan om kok ….” ucap Ning menyindir.
Athar yang sudah berhenti batuk, menarik nafas panjang.
“Tadi kamu menanyakan apa? Nasi?” tanya Athar memastikan pendengarannya.
“Iya nasi … Masa cuman makan daging sama sayurannya aja sih … Nasinya kok gak ada ….”ucap Ning dengan polosnya.
“Hahahaha … memangnya ini warung nasi padang ….” Athar tertawa geli mendengar ucapan Ning.
"Itu kan ada kentang gorengnya sebagai karbohidrat pengganti nasi.”
“Tapi kan beda rasanya … Nasi ya nasi, kentang ya kentang ….” ucap Ning kekeuh ingin ada nasi.
“Kalau begitu kamu pesan lagi saja ….” Athar memberi solusi.
“Gak mau ahh, nanti harus nunggu lama lagi …Aku makan ini saja lah ….”
“Ya sudah … terserah kamu saja ….” Athar kembali melanjutkan makan.
Ning yang akan mulai makan, kembali terlihat kebingungan.
“ Tuan Om ….”
“Bilang apa?” sindir Athar.
“Eh, s-a-y-a-ng … sendok nya mana?” Ning meralat dengan sengaja mempertegas panggilan sayang pada Athar.
“Makan steak itu gak usah pakai sendok … Cukup pakai garpu saja, dan untuk memotong steak nya pakai pisau itu ….”ucap Athar.
“Oh ….” Ning mengambil garpu dan pisau yang sudah ada di sisi piringnya. Ia memperhatikan cara makan Athar dan mulai mengikutinya.
Ning menusuk daging steak dengan garpu seperti yang dilakukan Athar, kemudian berusaha memotongnya dengan pisau. Namun sudah berusaha beberapa kali, ia tak kunjung berhasil.
“Ihhh … kok susah banget sih … Si kudanil kelihatannya gampang banget motongnya. Udah kayak motong kue tart aja … Jangan- jangan daging punya gue belum mateng lagi … Kok masih alot gini … Gak adil banget sih tuh pelayan ngasih makanan ke gue sama ke si kudanil pakai pilih kasih segala ….” gerutu Ning dalam hati.
Ning masih terus berusaha memotong daging steak-nya, namun tetap tak kunjung berhasil.
“Arhhh … ribet banget sih makan daging aja ….” gumam Ning dalam hati.
Ia lalu meletakan kembali pisaunya di sisi kanan piringnya. Ia mengangkat daging yang masih ditusuk garpu. Dan akhirnya ia pun memakan daging tersebut menggunakan tangan.
“Nyammm … bener kata tuan om … Daging nya enak….” ucapnya sembari mengunyah daging yang baru saja digigitnya.
Athar yang sejak tadi hanya fokus makan tanpa melihat ke arah Ning, tiba- tiba menegakkan pandangannya mengarah pada Ning. Betapa terkejutnya ia melihat kelakuan Ning yang makan steak seperti makan rendang nasi padang dengan menggunakan tangan. Ditambah satu kakinya dinaikan dan di tekuk di atas kursi.
“Astaga … Ning, kamu yang bener saja … Kenapa makan steak- nya pakai tangan begitu?” protes Athar.
“Kenapa kaget gitu? Biasa aja keleus … Makan itu dimana- mana pakai tangan .. Masa iya aku makan harus pakai kaki?” ucap Ning tak perduli.
“Maksud ku, kenapa gak pakai garpu seperti ini?” Athar memperlihatkan steak miliknya yang ditusuk oleh garpu.
“Arhhh … ribet kayak begitu mah … enakan begini, lebih nikmat … Beuh, apalagi kalau pakai nasi sama kuah santan dan sambel ijo kayak di rumah makan padang ….”
“Ning, hentikan … itu lagi kaki mu ditekuk dinaikan ke kursi …. Duduk yang sopan … semua orang sedang memperhatikan kita ….” Ahar kembali berbisik dengan mata yang melirik ke sana- kemari.
“Gak mau … makan begini lebih nikmat ….” Ning tak menggubris dan malah makan seperti orang barbar. Menggigit daging, kemudian melahap sayuran serta kentang goreng yang membuat mulutnya penuh dengan makanan.
Hal itu membuat selera makan Athar mendadak hilang. Ia pun menghentikan makan dan meletakan kembali pisau serta garpu nya di atas piring.
“Ning turunkan kaki mu, jangan bersikap kampungan seperti itu … bikin malu tahu gak!!”
Ning langsung menghentikan makannya dan meletakan kembali daging steak yang sudah tinggal setengahnya ke atas piring. Ia pun menurunkan kakinya. Namun bukannya duduk manis, tapi ia malah berdiri.
Ning mengedarkan pandangannya, dan benar saja beberapa orang yang tengah makan di restoran tersebut sedang melihat dan nampak memperhatikan Ning. Ada yang tertawa sambil geleng- geleng kepala, ada yang saling berbisik-bisik, ada yang tersenyum sinis. Mungkin mereka melihat pakaian Ning yang sederhana serta sikap makannya yang aneh di restoran mewah tersebut.
“Kalau bikin malu, gak usah ngajak aku yang kampungan ini makan di sini!!” ucap Ning dengan ketus. Ia pergi begitu saja meninggalkan Athar dengan perasaan, malu, kecewa bercampur marah.
“Ning … tunggu!!” Athar pun bangkit. Ia mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan yang kemudian di letakan di bawah gelas minumannya. Ia segera berlari pergi mengejar Ning.
“Ning, tunggu!!” Athar berlari sembari memanggil Ning yang sama- sama berlari menuju pintu keluar yang tadi dilewatinya.
Beruntung Athar berhasil mengejar Ning dan langsung menarik tangannya. Hal itu mampu menghentikan langkah Ning.
“Lepaskan!!” Ning menarik kasar tangannya.
__ADS_1
“Mau kemana?” Athar mengeratkan cengkraman tangannya.
“Aku mau pulang ke rumah Bu Asri ….”
“Memangnya kamu tahu alamatnya? Ini sudah malam, bahaya kalau kamu pergi sendirian ….”
Ning terdiam, karena ia memang tak tahu alamat rumah Bu Asri. Dan itu hanya alasannya saja untuk keluar dari restoran tersebut.
“Lepaskan aku!! jangan dekat- dekat dengan ku … Nanti aku membuat tuan Om malu….”
Athar menghela nafas sejenak. Ia baru menyadari jika perkataannya tadi sudah menyinggung perasaan Ning.
“Maaf atas ucapan ku tadi … aku tidak bermaksud____”
“Antarkan aku pulang ke rumah Bu Asri," ucap Ning ketus.
“Baiklah … Tapi jangan kabur lagi ….”
“Iya."
Athar memberi isyarat pada penjaga pintu depan untu mengambilkan mobilnya. Dan tak lama seseorang membawakan mobilnya yang kemudian berhenti di depan Athar dan Ning berdiri.
“Ini kunci mobilnya, Pak….” penjaga itu menyodorkan kunci mobil.
“Terimakasih,” ucap Athar sembari memberikan uang tips.
“Terimakasih kembali, Pak ….”
“Tunggu!!” cegah Athar saat melihat Ning hendak menyentuh pintu mobil.
“Ada apa? Bukannya kita akan pulang?” tanya Ning heran.
Athar menghampiri Ning.
“Biar aku saja yang membukakan pintunya ….” ucapnya lalu membukakan pintu mobil.
Ning mendengus kesal. Ia memutar jengah bola matanya. Ia pun masuk dan duduk.
Tak sampai di situ, setelah masuk Athar juga membantu memasangkan seat belt Ning. Tentunya hal itu membuat Ning semakin muak pada pria yang sering dipanggilnya dengan sebutan tuan om tersebut.
“Gak usah so so an romantis kali, di depan security inih ….” sindir Ning.
“Bukan romantis, tapi tangan mu itu kotor … Bisa- bisa mobil ku bau steak ….”
Ning yang merasa kesal langsung tercengang. Ia melihat jari tangan kanannya yang memang kotor bekas makan steak tadi.
“Oh, ya ampun … kenapa aku sampai lupa cuci tangan tadi ya ….” gumamnya merasa malu. Ning menjilati jemarinya satu persatu.
“Ih … Jangan dijilat begitu … Jorok banget sih kamu ….” protes Athar.
“Daripada kotor … mending aku jilatin aja biar bersih ….”
“Bersih apanya ih … Itu ambil di dalam dashboard ada tisu basah dan handsanitizer … Bersihkan tangan mu menggunakan itu ….” ucap Athar yang sudah melajukan mobilnya.
Ning membuka laci dashboard dan mengambil dua benda tersebut. Ia membersihkan jemari tangan kanannya menggunakan tisu basah yang kemudian disemprot dengan cairan handsanitizer.
“Tuan om ….” panggil Ning.
“Apa lagi?"
“Ini gimana cara menurunkan kaca mobilnya?”
“AC nya sudah dinyalakan, tidak perlu menurunkan kaca ….”
“Bukan itu … aku mau membuang tisu bekas ini ….” Ning menunjukkan tisu bekas.
“Itu di belakang ada tong sampah … Jangan buang sampah sembarangan ….” Athar melirik ke belakang dasboard rem tangan. Ning pun membuang tisu itu ke dalam tong sampah kecil.
Kruk kruk kruk …
“Kamu masih lapar?” tanya Athar melirik Ning.
“Ya." jawab Ning ketus.
“Aku gak mau makan di restoran … Apaan makan daging doang, gak ada nasinya," tolak Ning menggerutu.
“Ya kamu tinggal pilih menu yang ada nasi nya lah ….”
“Gak mau … aku mau makan pecel lele di warung pinggir jalan aja.”
“Itu gak terjamin kebersihannya, Ning ….”
“Siapa bilang? Tuan om gak tahu aja kalau pedagang kaki lima juga suka menjaga kebersihan makanan, bahan- bahan, peralatan dan tempatnya, walaupun mereka dagang di pinggir jalan ….” cerocos Ning.
“Banyak berita di televisi tentang pedagang curang yang mencampurkan bahan- bahan berbahaya pada makanan dagangannya ….” ucap Athar.
“Yaelah, gak semua pedagang curang seperti itu kali … Lagian, mana ada pecel lele pakai borax atau formalin ….”
“Ya bisa aja kan lele yang dijual lele tiren ….” Athar tak mau kalah debat.
“Ya iyalah lele nya mati kemarin, terus dikasih bumbu, baru deh dipasak sekarang … Kalau mati sekarang, ribet kali harus ngebersihin dulu, terus ngebumbuin sambil masak ….”
“Pokoknya makan di restoran atau café saja ….” ucap Athar tegas.
“Yang mau makan aku atau tuan om sih? Rempong amat … berhenti berhenti … tuh di depan sana ada warung pecel lele ….”
“Enggak!!!” tolak Athar.
“Berhenti atau aku lompat nih ….” ancam Ning.
“Kau!!!”
“Beneran aku mau lompat ….” Ning hendak membuka pintu mobil.
“Iya iya ….” Athar dengan terpaksa menghentikan mobilnya ke pinggir jalan di dekat pedagang pecel lele.
Ning langsung keluar tanpa menghiraukan Athar. Ia menghampiri warung yang dipasang dadakan itu dan memesan makanan. Kemudian, ia duduk di kursi yang tersedia di luar warung. Kebetulan ada empat meja di sana dan satu meja yang terdapat empat kursi masih kosong.
“Hei, Ning ngapain lo di sini?” sapa seseorang yang sepertinya mengenali Ning. Ia pun menoleh pada orang tersebut yang ternyata berdua bersama temannya.
“Loh, Ruli … Dodi … ngapain lo di sini?” sapa Ning pada kedua orang tersebut.
“Ya mau makan pecel lele lah,” ucap orang yang bernama Ruli itu. Ia lalu duduk di kursi sebelah Ning dan pria yang bernama Dodi duduk di kursi yang berhadapan dengan Ning dan hanya terhalang meja.
“Gimana kabar lo? Sama siapa lo ke sini?” tanya Ruly.
“Kabar baik lah, masih bertahan hidup gue ….” ucap Ning.
“Kirain sudah innalilahi, Lo … Gue denger paman sama bibi lo pergi entah kemana dan rumah lo udah disita rentenir ….” ucap Ruly.
“Yaelah, dari bapak gue udah gak ada juga gue mah berjuang sendiri untuk hidup kali … Masa iya kehilangan rumah sama keluarga aja gue langsung mengakhiri hidup … rugi banget, belom kawin, belom sukses, belom kaya ….” ucap Ning.
“Lo sih, nama doank Ningrat, tapi hidup lo blangsak ….” ejek Dodi.
“Hahahaha ….” Ketiga pun tertawa.
Athar yang tadinya enggan keluar dari mobil, melihat Ning bersama dua orang laki- laki, membuatnya khawatir dan dengan terpaksa ia turun untuk menghampiri Ning.
“Ekhm ….” Athar berdahem dan kini berdiri di dekat meja Ning yang sedang bercanda gurau sembari ketawa- ketiwi berama kedua lelaki itu. Mereka pun mengarahkan pandangannya pada Athar.
“Boleh saya duduk di sini? kursi yang lainnya penuh ….” ucap Athar meminta izin.
“Silahkan, Pak ….” ucap Dodi yang bergeser ke kursi yang satunya lagi dan memberikan kursi yang ia duduki sebelumnya. Sementara Ning nampak bersikap cuek pada Athar seolah tak mengenalnya.
“Terimakasih ….” Athar mengeluarkan sapu tangan dan mengelap kursi tersebut. Dengan terpaksa ia duduk di tempat yang menurutnya kurang bersih itu.
“By the way, kenapa lo gak jadi kuliah, Ning? Bukannya lo lulus ya waktu kita ikutan tes PMDK bareng?” tanya Ruly heran.
“Gak gue ambil ….”
“Kenapa, kan biaya kuliahnya gratis … Bego banget sih lo, kapan lagi bisa kuliah gratis ….” ucap Dodi.
“Iya biaya kuliah gratis, giliran buku dan peralatan lainnya kan beli sendiri … Duit dari mana coba, mendingan gue kerja aja deh ….”
__ADS_1
“Terus sekarang lo kerja dimana? Bukannya lo udah tiga kali dipecat ….” tanya Ruly.
“Iya bener … jangan bilang lo dipecat gara- gara kentut lo itu ….” Dodi menebak- nebak.
“Maklum, dia ini kan si lepetomane ….” ejek Ruly.
“Hahahaha ….” Ruly dan Dodi tertawa.
“Ketawa aja lo pada … seneng banget ngetawain gue ….” gerutu Ning kesal.
“Lagian lo, punya keanehan segala, kalau panik sama ketakutan berlebih suka kentut sembarangan ….” ucap Ruly.
“Ning, kayaknya lo harus berobat deh biar gak kentut sembarangan gitu lagi ….” Dodi memberi saran.
“Iya Ning, tapi kayaknya kalau ke dokter lo malah akan diketawain … Mending berobat ke orang pinter aja ….” usul Ruly.
“Orang pinter kayak lo gitu?” ucap Ning.
“Ih anjirr, beda lah … Gue mah pinter soal pelajaran di sekolah bukan soal gituan ….” sanggah Ruly tak terima.
“Soal gituan apaan, nyet?” tanya Dodi.
“Ya soal ngobatin orang aneh, hahahaha ….” ucap Ruly tertawa.
“Jadi, gimana Ning? Lo mau gak?” tanya Ruly.
“Ogah ah … Ntar yang ada sebelum diobatin gue disuruh jawab pertanyaan dulu kayak di iklan jamu masuk angin … Beli jamu nya aja di tes pelajaran matematika,” tolak Ning memberi alasan aneh.
“Hahahaha … Dasar koban iklan lo ….” ejek Dodi.
Ning bersama kedua temannya terus bicara kesana kemari sambil tertawa. Sementara Athar yang sejak tadi duduk bergabung dengan mereka, seolah tak dianggap keberadaannya. Tak bisa dipungkiri ada perasaan kesal dalam hatinya
Akhirnya daripada kesal sendiri, ia mengeluarkan ponselnya dan nampak berkirim pesan dengan seseorang. Namun tetap menyimak pembicaraan Ning dengan teman- temannya.
“Dia bisa bercanda gurau dengan kedua orang ini … Tapi saat dengan ku dia hanya bisa marah- marah saja ….” gumamnya dalam hati.
Tak lama makanan yang dipesan ketiga orang itu tiba dan disajikan di meja tersebut oleh pelayan di warung itu. Ning bersama kedua temannya pun mulai makan setelah mencuci tangan pada air yang disediakan di mangkuk plastik kecil.
Ruly secara diam- diam terus memperhatikan Ning sembari makan. Athar yang menyadari hal itu, merasa semakin kesal. Sudah tidak dianggap keberadaannya, kini ia melihat ada pria lain yang memperhatikan Ning tepat di depan matanya.
“Ning, lo kok cuma pesan nasi pecel lele sama teh panas doang sih?” tanya Ruly kembali membuka pembicaraan.
“Iya, bukannya lo udah kerja? Udah punya duit kali, traktir kita- kita kek ….” tambah Dodi.
“Gue gak punya duit … ini aja kayaknya gue dapat wangsit bakalan ketemu lo berdua buat traktir gue makan ….” ucap Ning ngasal dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“Anjirr, indra penciuman lo tajam banget ya … emangnya lo kerja apaan sih?” tanya Dodi penasaran.
“Jadi pengasuh ….” ucap Ning sembari mengunyah makanannya yang sudah hampir habis.
“Pengasuh orang apa hewan?” tanya Dodi.
“Pengasuh anak orang lah, ogah banget gue ngasuh anak singa atau anak gorilla ….”
“Alah, gorila sama singa aja bakalan takut sama lo karena bau kentut lo yang semerbak busuk….” Dodi tak hentinya mengejek Ning.
“Jorok banget sih lo, lagi makan malah bahas kentut….” ucap Ruly kesal, karena ia yang memulai topik pembicaraan, tapi malah Dodi yang asyik ngobrol dengan Ning.
“Ning, mendingan lo jadi pacar gue aja deh … Gue biayain hidup lo … Kalau perlu jadi bini gue aja sekalian ….” ujar Ruly.
Uhuk uhuk uhuk ….
Ning yang sedang makan, langsung tersedak mendengar ucapan Ruly. Athar dengan segera mengambil minuman Ning dan menyodorkan nya pada Ning. Padahal Ruly sudah mengambil air minumnya untuk diberikan pada Ning, tapi keduluan oleh Athar. Akhirnya Ruly meminumnya sendiri.
“Kalau makan itu pelan- pelan ….” ucap Athar seolah menunjukan perhatiannya di depan kedua teman Ning.
“Ning, lo kenal sama orang ini?” tanya Dodi heran sembari menunjuk pria yang duduk di sebelahnya.
“Saya suaminya?” ucap Athar dengan menatap tidak suka pada Dodi.
Byurrrr …
Ruly yang sangat terkejut, menyemburkan air yang sedang diminumnya dan mengenai Dodi.
“Apa? Suaminya Ning?” ucap Ruly masih dengan ekspresi terkejut dan tak percaya.
“Ya … saya suaminya ….” ucap Athar meyakinkan.
“Sialan lo!!!” maki Dodi.
“Apa? Anda memaki saya barusan?” hardik Athar pada Dodi.
“Bu bukan Pak, itu temen saya nyembur air ke muka saya, nih … saya marah sama dia, bukan sama Bapak ….” Dodi nampak ketakutan melihat wajah Athar yang memberinya tatapan tajam.
“Ning, lo belum jawab pertanyaan gue? Dia beneran suami lo?” Ruly kembali bertanya pada Ning untuk memastikan kebenarannya.
Ning hendak membuka mulut untuk bicara, namun Athar langsung menyela.
“Saya kan dari tadi sudah bilang, kalau saya ini suaminya … Apakah anda tuli?”
“Hei gak usah ngaku- ngaku ya … Tadi saja Ning sendiri bilang kalau dia belum kawin, belum sukses, belum kaya ….” bentak Ruly kesal.
Athar memperlihatkan sebuah foto di layar ponselnya pada Ruly.
“Silahkan anda lihat baik- baik foto ini,” ucapnya tersenyum sinis.
Ruly dan Dodi kembali terkejut melihat foto Ning dan Athar sedang berciuman. Ning pun tak kalah terkejutnya.
"Kurang ajar si KuDanil... Apa-apaan ini, kenapa dia menunjukkan foto insiden itu," batin Ning kesal.
“Sayang, kamu sudah selesai makannya, kan? Ayok kita pulang ….” ajaknya dengan suara lembut.
“Enggak!!” Ning menolak dengan ketus.
Athar mengambil dompet dari dalam saku celananya dan mengeluarkan tiga lembar uang pecahan seratus ribuan. Ia meletakan uang tersebut di atas meja, kemudian berdiri dan menghampiri Ning. Namun sang gadis malah membuang muka karena benar- benar merasa kesal dan marah pada Athar. Ia membungkuk dan tak disangka ia menggendong Ning kemudian membawanya pergi.
“Ih, lepaskan aku …. Turunkan aku!!” Ning berontak.
“Diam atau aku akan mencium mu di depan semua orang ….” bisik Athar terus berjalan menuju mobilnya dan meninggalkan kedua teman Ning yang masih syok. Ning pun tak berontak lagi, namun sesungguhnya ia ingin sekali mencakar- cakar wajah Athar.
Athar menurunkan Ning di depan pintu mobil. ia lalu membuka pintu.
"Masuk!!" titah Athar. Ning pun masuk dan duduk dengan perasaan kesal dan marah.
Athar menutup pintunya. Ia pun segera masuk kedalam mobil.
"Apa maksud mu memperlihatkan foto itu dan mengaku- ngaku jadi suamiku, hah??" hardik Ning kesal.
"Apa kau lebih senang diajak menikah oleh teman yang duduk disebelah mu begitu??"
"Itu bukan urusan mu!!"
"Tentu saja itu urusan ku, karena aku______" ucapan Athar terhenti.
"Kau apa hah?!" bentak Ning semakin kesal.
"Karena aku ... aku ini kan pacar pura-pura mu...." ucap Athar gelagapan.
"Ihhhhh... dasar KuDanil menyebalkan!!!" Ning menyerang Athar untuk meluapkan kekesalan dan kemarahannya. Ia memukul- mukul lengan Athar, menjambak rambutnya dan mer*mas- r*mas wajahnya dengan tangan yang masih kotor.
Athar mencoba melepaskan diri dari amukan Ning. Namun tangan Ning yang terus menyerangnya secara membabi buta. Akhirnya Athar mencengkram kedua tangan Ning, tapi ia masih berontak.
Athar menarik tangan Ning hingga ia mendekat padanya. Satu tangannya merangkul leher Ning dan secepat kilat bibirnya melahap bibir Ning.
"Emhhhh...."
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasi keduanya secara diam- diam.
------------ TBC --------------
***************************
Happy Reading ....😉😘
__ADS_1