NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
ABG Tuir


__ADS_3

Ning yang masih berdiri, terus menonton video yang berdurasi selama tiga menit lebih itu sampai selesai. Sementara Ocha tak hentinya menertawakan pemeran utama dalam video tersebut.


“Kok dia bisa sampai gitu ya, Cha?” tanya Ning terheran- heran. Ia berjalan, lalu mendaratkan bokongnya di kursi tamu.


“Gue juga gak tahu, Ning… Gue pulang sebelum pestanya selesai, dan baru satu jam yang lalu gue dapet kiriman video itu….”ucapnya kemudian terkekeh. Ia pun ikut duduk di kursi yang berbeda, sembari senyam- senyum sendiri.


“Kenapa lo?” tanya Ning heran.


”Lihat video itu, gue jadi inget sama si ganteng yang mabuk di pinggir jalan, merancau gak jelas terus dipeluk sama lo… hahaha….” Ocha tertawa dengan renyahnya.


“Ck, diam lo!!” sentak Ning menatap tak suka. Bukan karena Ocha menertawakannya, tapi lebih pada panggilan ‘si ganteng’ yang Ocha tujukan pada om tamvan kesayangannya.


“Beneran gue jadi kebayang si ganteng… Tapi walaupun dia mabuk, kegantengannya tuh gak luntur sama sekali… Beda noh sama si Siska, lo lihat kan di video itu wajahnya penuh coretan lipstik kayak badut ditambah rambut berantakan… Bajunya juga kotor kayak abis disiram air comberan, ihhh….” ucapnya bergidik ngeri, yang kemudian kembali tertawa.


“Kasihan Siska… Pasti malu banget….” Ning nampak prihatin.


“Hello… lo sendiri apa kabar, Ning... Dia itu udah ngerjain lo dan bikin lo malu di depan banyak orang… Jadi itu ganjaran setimpal untuk nya… Heran gue, kok dia masih dendam aja sama lo gara- gara si ketupat basi itu… Harusnya kan dia marah sama pacarnya si ketupat, kan kemarin dia datang gandeng pacarnya….” Cerocos Ocha.


“Heran gue juga….”


“Tapi tadi kata anak- anak di grup, si Siska kayak dicekokin sama dikerjain orang gitu… Mana mungkin cewek yang so high class mabuk di depan orang banyak dengan penampilan seperti itu dan membawa botol minuman di tangannya pula….”


“Dikerjain sama siapa?” tanya Ning penasaran.


“Mana gue tahu… Kan tadi gue udah bilang gue gak ada pas kejadian itu….” Ucapnya mengedikkan bahu. Wajahnya tiba- tiba berubah kesal. “Oh ya, gue kesel banget sama kelakuan calon suami lo… Kok bisa- bisanya sih dia pergi gitu aja saat lo dipermalukan depan orang banyak… Gak nyangka gue dia kayak gitu… Udahlah, lo mending sama si ganteng aja… so sweet banget sih dia, sampe ngangetin lo pakai jas nya….”


“Hah? Kok lo tahu? Perasaan gue pas ditelpon tadi gak bilang soal itu?” Ning malah terpusat pada pembahasan soal Athar ketimbang Singgih.


“Ya tahu lah, orang gue nyariin lo… Tapi pas si ganteng ada sama lo di halte dan lihat lo meluk dia, gue gak berani ganggu kemesraan kalian… Cie cie berpelukan….” ucapnya yang diakhiri menggoda Ning.


“Apaan sih lo….” ucap Ning mengelak.


“Hahaha… malu ya ketahuan… Kalian ngapain aja hayoo pas dia nganterin lo ke pulang ke sini?” goda Ocha yang membuat Ning hampir tersedak ludahnya sendiri.


“Lo ngomong apa sih, Cha??” Ning nampak salah tingkah, sepertinya ia takut jika Ocha mengetahui kemesraannya bersama Athar semalam. Ia pun bangkit dan berdiri.


“Udah ah, gue mau sholat dulu terus tidur, capek banget semalaman jagain Nana….” ucapnya lalu beranjak pergi ke kamar mandi kemudian ke kamarnya.


Ting… drt drt drt


Baru saja Ning melipat alat sholatnya, ponselnya berbunyi diiringi getaran. Ia segera mengambil ponsel dari dalam tas nya.


“Hah? Siapa ini?” Ning bertanya- tanya melihat nama kontak yang mengiriminya pesan.


My Beloved : [“Maaf, sayang… Tadi aku meninggalkan mu… Aku takut tak bisa mengendalikan diri untuk menghajar si brengsek itu lagi.”]


Ning mengerutkan dahi nya. “Oh ya ampun, jadi ini nomor nya si kudaniel… Kapan aku menyimpannya? Bukannya nomor lama dia sudah nyemplung ke laut….” gumamnya terheran- heran.


"Hmmm… pasti semalam tuh, saat aku tidur di kamar Nana,” ucapannya menebak apa yang dilakukan Athar.


My Beloved : [“Kamu sudah pulang ya?”]


Ning kembali membaca pesan masuk. “Eh, darimana dia tahu kalau aku sudah pulang?” ucapnya terheran- heran. Ia menscrol pesan sebelumnya yang ternyata ada beberapa foto dirinya yang dikirim ke nomor My Beloved itu, bahkan ada foto yang terimanya juga.


NING







My Beloved :




“Pantesan, dia tahu aku sudah pulang… Pasti lihat dari GPS….” ucapnya yang kemudian membaringkan tubunya di atas tempat tidur. Ia senyam senyum sendiri melihat ada foto Athar juga di sana yang sedang berdiri di dekat pohon kelapa.


“Ganteng nya kudaniel mesum- ku, hhihihihii….”pujinya sambil mesem- mesem memandangi foto sang tambatan hati.


Ning tak hentinya memandangi foto Athar hingga membuatnya tertidur. Sepertinya setelah melewati dua hari yang melelahkan, membuatnya ingin istirahat sejenak.


**


“Ning… bangun….” terdengar sayup- sayup bisikan di telinga Ning yang membuatnya menggeliat.


“Ahhh, aku masih ngantuk… Jangan ganggu aku, Tuan om….” ucap Ning masih dalam mata terpejam.


“Apa kau tidak ingin bertemu dulu sebelum berangkat?”


“Kan ini lagi ketemu, sayang….” Ning menjawab dengan benar, namun ia terlihat sedang mengigau.


“Buka dulu mata mu….” titahnya.


Ning tak bergeming, malah ia tak menjawab dan malah mengeratkan pelukannya pada guling, melanjutkan tidurnya.


“Hei, cepat bangun !!” sentak orang itu dengan nada tinggi.


“Ahh… gak mau… masih ngantuk….” Ning masih enggan membuka matanya.


“Bangun… Ini sudah hampir jam lima….” Ia lalu menarik guling Ning.


“Ahh… cium dulu….” ucapnya lalu memonyongkan bibirnya, masih dengan mata terpejam.


Plak ….


“Aduhhh… kok bibir ku malah dipukul!!” protesnya lalu membuka mata.


“Najis banget gue nyium lo!! Gini- gini gue masih normal ya, suka sama laki!!” cerocos Ocha nampak kesal dengan melempar guling tepat mengenai wajah Ning.


Ning terperanjat melihat Ocha berdiri di sebelah ranjangnya. Ia langsung bangun, lalu duduk. “Loh… Ocha… kok lo ada di sini? bukannya____”


“Bukannya apa? Lo lagi mimpi mesum ya??”


“Eng… enggak kok… Gue masih ngantuk ah, mau tidur lagi….” Ning yang merasa malu, kembali berbaring dan memeluk guling nya.


“Ih dasar kebo… itu ada tamu mau ketemu sama lo….”

__ADS_1


“Bilang aja gue gak enak badan dan butuh banyak istirahat….” Ning tak peduli.


“Haduh… Dasar kebo lo… tidur mulu….” Ejeknya menggelengkan kepala. “Yaudah, gue bilang dulu sama si ganteng kalo lo gak mau ketemu sama dia….”


Ning kembali bangun saat mendengar ucapan Ocha. “ Siapa Cha? Si ganteng?” tanyanya terkejut.


“Iya… Pak Daniel ada di ruang tamu….”


Ning langsung bangkit, turun dari ranjang dan bergegas pergi keluar kamar untuk menemui sang pujaan hati nya di ruang tamu.


“Ning tunggu!!” Ocha terlambat menghentikan Ning yang berlalu begitu saja dengan berlari.


“Tuan om….” Sapa Ning saat berdiri di belakang kursi yang berhadapan dengan tempat Athar duduk.


"Hahahahaha….”Sang pujaan hati malah tertawa melihat kedatangan Ning yang tiba- tiba.


Ning yang sebelumnya terlihat senang dengan kedatangan Athar, langsung beringsut karena malah ditertawakan. “Apanya yang lucu?” ucapnya ketus.


“Rambut mu itu, kayak rambut singa… Kamu ngelindur ya? Lap dulu tuh ditepian bibir udah kayak pulau salju, hahahaha….” Athar kembali tertawa dan ucapannya membuat Ning terbelalak. Ia langsung balik kanan dan ngacir ke kamar mandi.


“Yassalam… kenapa aku bisa lupa kalau baru bangun tidur… Malu banget kan ketemu dia dalam keadaan seperti ini….” Ning menggerutuki dirinya sendiri saat melihat penampilannya dari pantulan cermin yang menempel pada dinding kamar mandi.


Ia keluar sebentar untuk mengambil handuk kimono yang dijemur dibelakang. Kemudian masuk kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


**


“Maaf ya jadi nunggu lama….” ucap Ning yang kembali menghampiri Athar di ruang tamu. Kini ia sudah terlihat segar dan wangi, karena sudah mandi, berganti pakaian dan sedikit memoles wajahnya.


“Gak apa- apa… Kamu suruh aku nginep di sini juga, gak masalah….” ucapnya dengan santai.


“Dih, siapa juga yang mau nyuruh tuan om nginep….” Ning mencebikkan bibirnya.


“Hahahaha… mode galak udah keluar… Tapi aku suka….”


“Maaf, Pak… Kita harus segera ke bandara….” Riko yang berdiri di ambang pintu, mengingatkan atasannya.


“Kau dengar… Sayangnya aku tidak bisa menginap di sini….” ucapnya lalu bangkit dan berdiri.


“Tuan om beneran mau pergi sekarang?” perasaan sedih dan tak rela kembali datang menerpa Ning.


“Bukankah aku sudah bilang tadi pagi?” ucapnya mengangkat kedua alisnya.


“Memangnya harus sekarang banget ya?” Ning masih tak bisa merelakan kepergian pujaan hatinya.


Athar tersenyum melihat raut wajah si gadis galak yang tiba- tiba berubah sendu lalu menundukkan kepala. Ia berjalan menghampiri Ning yang masih berdiri di belakang kursi yang bersebrangan dengan kursi yang didudukinya tadi.


Athar menyentuh dagu dan mengangkat wajah Ning yang sebelumnya menekuk. “Hei, kok jadi sedih? Perasaan tadi masih galak?” godanya.


Bugh


Ning memukul dada Athar, bukan sekali tapi hingga tiga kali. Athar langsung mendekap Ning ke dalam pelukannya.


“Sebenarnya aku berniat langsung berangkat saja tanpa menemui mu dulu… Tapi setelah sejak tadi telpon ku tidak diangkat- angkat, terpaksa aku datang ke sini untuk menemui mu….” Ucapnya sembari membelai rambut panjang Ning yang terurai.


Ning melepaskan diri dari pelukan Athar. Matanya saling bertatapan dengan Athar.


"Memangnya kenapa? Apa kau ingin meninggalkan ku tanpa kabar dan tak akan kembali seperti dulu lagi?” ucapnya dengan perasaan was-was.


Athar menggeleng. “Karena aku tak ingin melihat mu sedih seperti ini….” ucapnya mengelus pipi Ning dengan lembut.


“Aku tidak peduli jika aku tak melihatnya….”


Bugh


Ning kembali memukul dada Athar dengan telapak tangannya.


“Selain itu, jika aku langsung pergi ke bandara, tidak akan mendapat pukulan bertubi- tubi dari mu, sayang… Hahaha….” Athar tak kuat menahan tawa melihat Ning yang memberengut.


Ning semakin kesal dibuatnya. Hanya seorang Daniel Athar Sahulekha lah yang bisa membuat Ning bahagia sekaligus kesal di saat bersamaan. Namun tak dapat dipungkiri, rasa cintanya sangatlah besar pada pria yang juga begitu mencintainya.


Cup


Athar mengecup pipi kanan Ning, tentunya hal itu membuat pipinya merah merona. Rasa kesal pun sirna seketika. Ning tersipu malu, dan membuat Athar terkekeh geli melihatnya. Ia kembali menarik tubuh Ning dan membawa ke pelukannya. Hingga beberapa saat ia melepaskan.


Cup


Athar mengecup kening Ning. “Aku harus pergi sekarang… Jaga dirimu baik- baik, jangan lupa minum obat… Dan, selesaikan urusan mu dengannya….”


Ning hanya mengangguk pelan dengan terus menatap mata Athar.


“I love you….” ucapnya kembali mengecup kening Ning. Nampaknya ia tak ingin berlama- lama, karena hal itu bisa membuatnya semakin berat meninggalkan Ning. Namun tak disangka, Ning malah kembali memeluknya.


“Aku akan sangat merindukan mu….” ucap Ning lirih.


“Aku juga….”


“Jangan lama- lama perginya….”


“Ya.”


“Jangan nakal di sana….”


“Ya.”


“Jangan lupa telpon aku….”


“Tapi harus diangkat ya… Jangan seperti tadi, aku menelpon mu sampai 20 kali gak diangkat- angkat….” ucapnya seolah menyindir.


“Tadi aku ketiduran… Dan hapenya di silent….” ucap Ning beralasan.


“Aku tahu… Bisakah kau melepaskan pelukan mu? Riko sudah menginterupsi ku, tuh….”


Ning pun melepaskan pelukannya. Dan Athar kembali mendaratkan bibirnya pada kening Ning. namun sekarang kecupannya lebih lama.


Athar pun melangkahkan kakinya menuju pintu keluar bersama Ning yang berjalan di samping dengan menggandeng tangannya. Hingga keduanya sampai depan pintu gerbang halaman rumah Ning.


“Aku pergi… Jaga dirimu baik- baik….” ucapnya mengusap lembut kepala Ning.


“Hmm…” angguk Ning melepaskan genggaman tangannya. “Hati- hati….”


Athar masuk ke dalam mobil. Ia menurunkan jendela kaca mobil, lalu melambaikan tangannya dari dalam saat sang sopir mulai melajukan mobilnya. Ning pun melambaikan tangan hingga mobil itu tak terlihat setelah berbelok di tikungan.


Air mata yang sejak tadi ditahannya, akhirnya mengalir begitu saja. Meski kali ini Athar berpamitan padanya sebelum pergi, namun itu tetap membuatnya sangat sedih. Baru saja memulai hubungan, ia harus ditinggalkan.

__ADS_1


Ning kembali memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Telapak tangannya menghapus jejak air mata yang masih saja mengalir.


“Kalian udah jadian?” Ocha yang duduk di kursi tamu langsung melempar pertanyaan pada Ning saat sahabatnya itu baru melewati pintu masuk. Ning menghela nafas panjang, kemudian menghampiri Ocha dan duduk di kursi yang berhadapan dengannya yang terhalang oleh meja.


“Jadi?” Ocha masih menunggu jawaban Ning sudah berhenti menangis, namun matanya masih terlihat sembab.


“Gue sama dia sudah saling mengungkapkan perasaan kami….” aku Ning.


“Lalu, dokter Singgih?”


“Lo sendiri kan yang bilang supaya gue ikutin kata hati gue… Dan hati gue milih dia….” Ning menghela nafas sejenak. “Gue akan mengakhiri hubungan gue sama Mas Igih… Karena baik gue atau pun dia, sama – sama tak saling cinta….”


Kini giliran Ocha yang menghela nafas panjang. “Gue akan selalu dukung lo, selama itu membuat lo bahagia… Sebaiknya lo segera mengakhiri hubungan lo sama dokter Singgih, sebelum dia mengetahui hubungan lo sama si ganteng… Dan gue juga gak mau orang- orang mengecap lo sebagai perempuan gak bener yang menjalin hubungan dengan dua pria sekaligus….”


“Iya, Cha… gue lagi nyari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini dengan Mas Igih… Untuk sekarang, biar nunggu Nana sembuh dulu….”


Ocha menganggukkan kepala, sebagai tanda ia sudah paham. “Barusan si ganteng mau pergi kemana? Kok sampai pamitan lebay gitu?” tanya Ocha penasaran.


“Dia mau balik lagi ke London, karena ada pekerjaan penting… Tapi nanti dia bakalan balik lagi ke sini….”


“Oh, berarti lo sama si ganteng bakal LDR- an dong?”


“Daniel!! Si ganteng si ganteng terus, lo !!” protes Ning kesal, bukannya menjawab.


“Hahaha… Mentang- mentang udah jadian … Tapi sekarang pantas ish kalau lo cemburu, gak kayak kemaren- kemaren… hahaha….” Ocha tertawa dengan renyahnya.


“Diam lo, Cha….” Ning mengambil bantal kursi yang dan hendak dilemparkannya pada Ocha. Namun Ocha segera bangkit dan bergegas pergi, sebelum menerima kemarahan Ning.


Ning mendengus kesal, kemudian pergi ke kamarnya. Dan benar saja, saat ia melihat layar ponselnya terdapat 20 panggilan tak terjawab serta 20 pesan di aplikasi whatsapp-nya yang belum dibuka. Ia pun membuka pesan dari sang pujaan hatinya.


Ia senyum senyum sendiri sembari menggeleng, karena hanya terdapat huruf ‘P’ berderet kebawah setelah pesan terakhir Athar ‘kok gak dibalas- balas sih’.


“Om om kok mirip ABG aja chat nya,” gumamnya terkekeh geli.


***


Keesokan harinya...


Seperti biasa Ning menjalankan aktivitas kesehariannya, yakni bekerja karena sudah beberapa hari ini ia absen.


Kali ini ia tak mengantarkan Nana sekolah, karena menurut kabar yang ia terima dari Bu Asri, anak itu masih harus istirahat dan belum sembuh total. Namun Ning nampaknya masih enggan pergi ke sana, karena masih ada Singgih di sana. Mungkin menghindarinya saat ini adalah hal terbaik, setidaknya sampai Nana sembuh total.


Baru saja selesai makan siang, ponselnya berbunyi yang menandakan ada pesan masuk. Ning tersenyum sumringah saat melihat si pengirim pesan. Ia lalu membukanya.


My Beloved : [“Aku sudah sampai di London… I love U… I miss U… 😘😘😘”]


Ning : [“Alhamdilillah… Love U too… 😘”]


My Beloved : [“Gak kangen emang? ☹️ ”]


“Dasar ABG tua….” umpat Ning terkekeh. Ia lalu membalas pesannya.


Ning : [" Enggak tuh... 😜"]


My Beloved. : [" Kenapa? 😭😭"]


Ning : [“Kan baru ketemu kemarin sore….”]


My Beloved : [ “☹️😡😤 😭😭”]


“Hahahaha… “ bukannya membalas Ning malah tertawa ternahak- bahak, hingga jarinya tanpa sengaja mendial gambar bentuk kamera video yang sejajar dengan nama kontak di pesan whatsapp yang sedang ia baca itu.


“Dasar ABG tuir… hahahaha….” Ning tak hentinya tertawa mengejek Athar. Saking asyiknya ia tak menyadari jika sang pujaan hati mendengar bahkan melihatnya.


“Gak sopan kamu ya, ngatain aku ABG tuir!!”


Seketika tawa Ning pun terhenti. Ia mengarahkan pandanganya kesana kemari mencari keberadaan Athar.


“Aku di London, gak di situ!!” ucapnya ketus dan menampakan raut wajah kesal. Ning langsung melihat ke layar ponsel yang masih digenggamnya. Dan ternyata dari situlah asal suara si ABG tuir.


“Hehehehe… peace….” Ning menapakkan senyum yang dipaksakan dengan memperlihatkan barisan giginya. Ia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda perdamaian. Nampaknya ia merasa malu dan tak enak hati, Athar mendengar ejekannya.


“Tunggu hukuman dariku….” ucapnya lalu mematikan sambungan video call nya.


Ning menepok jidatnya sendiri. “Ya ampun, kenapa dia jadi sensi begitu….” ucapnya menggeleng- gelengkan kepala.


Tok tok tok


terdengar suara ketukan pintu.


“Masuk!!” sahut Ning.


“Maaf, Bu… Itu di luar ada tamu udah nungguin dari tadi di kursi teras….” ucap seorang pria yang merupakan salah satu pegawai Ning.


“Kenapa baru bilang sekarang?” tanya Ning heran.


”Tadi saya dengar ibu sedang bicara dengan seseorang, jadi saya nunggu ibu selesai dulu….”


“Terimakasih, saya akan menemuinya….” Ning bangkit, dan pamit undur diri.


Ning beranjak pergi keluar ruangannya untuk menemui tamu tersebut.


-


----------- TBC --------------


**************************


-


-


Happy Reading....😘😉


-


-


Monmaaf baru up lagi… biasalah emak- emak suka rempong sama persiapan lebaran, ditambah sanak saudara pada mudik, dilanjut pigi pigi otewe otewe hollybey... jadilah si om tamvan terabaikan.


🙏🙏🙏


Berhubung masih dalam suasana lebaran, karena memang belum habis tanggal bulan syawal-nya. Eceu dan segenap keluarga om tamvan juga Ning nong neng jring mengucapkan minal aidin walfaidin, mohon maaf lahir dan batin…🙏🙏

__ADS_1


Alapyu full…..😉😘😘😘


__ADS_2