NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Dari Dinosaurus Menuju Anaconda


__ADS_3

Ning yang lari terbirit- birit merasa bingung harus pergi kemana. Secara spontan ia masuk ke dalam kamar mandi yang biasa digunakan oleh tamu.


Dut dut dut dut ….


Si kenttut beliung pun langsung keluar bagai petasan penyambut pengantin betawi.


“Fiuh … akhirnya aku bisa kentut dengan tenang tanpa membuat si tuan Om pingsan ….” ucapnya merasa lega dengan tubuh masih mengahadap ke pintu.


“Emhh, bau banget sih … kalau gini sih jangankan hanya si tuan om yang akan pingsan tapi semua orang normal juga bisa pingsan mencium bau kentut ku ini.” Ning langsung menutup hidungnya.


“Uhuk uhuk uhuk … dasar kacung jorok, kentut mu bau sekali!!” bentak Dino yang menjadi korban polusi udara si kentut beliung.


Ning terkejut luar biasa mendengar suara si bayi besar dari arah belakangnya. Ia langsung membalikan tubuh.


“Ka kau … sedang apa kau di sini?” ucap Ning terbata-bata.


“Memangnya kau tidak lihat aku sedang apa di atas kloset ini, hah? Selain jorok, kau itu tak punya etika ya, masuk ke kamar mandi sembarangan … Keluar !!” hardik Dino.


“Aaaaaaakkk ….” Ning berteriak saat melihat ke arah bawah.


Ia menutup mata dengan telapak tangannya, lalu membalikan tubuhnya lagi dan membuka pintu. Ning keluar dan kembali berlari menuju kamar nya.


“Dasar sialan …kenapa dia tidak mengunci kamar mandinya kalau sedang buang hajat … Dinosaurus menyebalkan, brengsek, terkutuk kau!!”


“Argh … dasar Dinosaurus keparat … Dia sudah menodai kesucian mata ku… sial sial sial ….” Ning tak hentinya menggerutu kesal saat ia sudah berada di dalam kamar nya.


Ning bergegas ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya berkali- kali, berharap emosinya bisa berkurang dan matanya bisa melupakan hal terlarang yang telah dilihatnya tadi.


Baru saja keluar dari kamar mandi, ia mendengar suara ketukan pintu.


“Itu pasti si Dinosaurus yang akan memarahi ku habis- habisan karena insiden tadi … Cih, jangan harap aku akan membukakan pintu untuk mu ….” ucap Ning menebak orang yang datang.


Ia lalu membuka pintu jendela dan duduk di atas kursi tanpa sandaran sembari melihat keluar jendela.


Tok tok tok …


Suara ketukan kembali terdengar, Ning masih tak menghiraukannya. Ia malah dengan sengaja memasang earphone di telinganya dan mendengarkan musik dari ponsel sembari melihat pemandangan taman di luar sana.


Ning begitu menikmati alunan musik favorit yang tengah didengarnya. Lagu- lagu romantis membuatnya seolah terhanyut di dalamnya. Mungkin ia membayangkan dirinya menjadi lelakon dalam video klip lagu tersebut, entah itu jadi pemeran wanita utamanya, entah hanya cameo yang terlihat kakinya saja.


Tiba- tiba pikirannya tertuju pada seseorang.


“Kenapa aku kepikiran dia terus ya?” tanyanya sembari membayangkan orang itu.


“Aaaaaahhhhh, kenapa bayangannya begitu jelas di depan mata ku?” ucapnya bernada manja.


“Bayangan siapa Ning?” tanya seseorang yang dilihat Ning itu.


“Hah, kok dia kayaknya bicara pada ku juga?” ucapnya heran saat melihat pergerakan bibir bayangan di hadapannya.


Ning semakin heran saat orang yang dibayangkannya mendekat. Tangannya tiba- tiba menarik earphone dari telinganya dengan perlahan.


“Pantas saja saya mengetuk pintu berkali- kali tidak dibuka juga, ternyata karena benda ini,” ucapnya sembari memegang earphone di kedua tangannya.


“Hah, kenapa bayangan Tuan Om begitu nyata sih?” Ning masih menganggap kalau itu adalah khayalannya.


“Oh jadi kau sedang membayangkan ku, Ning?”


“He emm ….” Ning mengangguk perlahan dengan senyuman merekah di bibirnya.


Athar yang melihat itu merasa aneh dan heran. Ia melangkah lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Ning hingga hanya ada jarak lima centimeter saja. Kedua mata mereka saling bertatapan. Beruntung jendelanya tak memakai besi tralis, hingga tak ada penghalang bagi mereka.


“O em ji … mimpi ini begitu indah … Jangan bangunkan aku dulu ya, please please please ….” bisik Ning dalam hati dengan mata terbelak.


Athar semakin mendekatkan wajahnya. Hal itu membuat Ning seolah dimabuk kepayang. Ia tak sanggup menahan gejolak yang menggelora di dalam dadanya. Mata yang sempat terbelak pun berubah menjadi tatapan pasrah yang perlahan dipejamkannya.


Perasaan dag dig dug jer kini telah melanda Ning. Hembusan nafas Athar bagai angina semilir surgawi yang menyejukkan hatinya. Ning terus saja memejamkan matanya menunggu adegan selanjutnya.


“Busyet dah lama amat sih? Kenapa bibirnya gak sampai- sampai ke bibir gue … Kurang pasrah gimana coba … Ayo dong Tuan Om … nanti keburu bangun dari mimpi nihh, ahh ….” jerit Ning dalam hati. Ia lalu memonyongkan bibirnya, berharap bibir Athar cepat melahapnya.


Nampak terukir senyuman di bibir Athar. Bukannya mendekat bibirnya pada ibir Ning, ia justru malah berbelok.


“Apa kau ingin aku mencium mu?” bisiknya di telinga Ning.


Ning yang masih memonyongkan bibirnya dengan mata terpejam, mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Athar.


“Ya Allah tolong … kenapa bsikannya terdengar begitu sexy bagaikan suara ******* meminta kenikmatan … Rasanya aku ingin mengigitnya sekarang juga, greget banget ihhhh ….” Ning terus bergumam dalam hatinya.


Wushhh ….


Athar meniup telinga Ning dan membuatnya seketika membuka matanya. Bibir monyongnya pun berubah menjadi ternganga, tatkala melihat Athar yang kini memberinya tatapan serius.


“Jadi kau benar- benar ingin aku mencium mu, Ning?” tanyanya masih dengan tatapan serius.


“Hah, in ini beneran? Bukan mimpi?” Ning yang masih terkejut baru tersadar.


“Memangnya tadi kau sedang tidur?” tanya Athar dengan menaikan kedua alisnya.


Ning menggelengkan kepalanya perlahan dengan raut wajah terkejut.


“Aaaaaakkkkk ….” Ning berteriak.


Gedebruk ….


Ning secara reflex menjauhkan drinya dari wajah Athar dan tanpa sengaja membuatnya terjatuh dari kursi. Kini ia berbaring terlentang di lantai.


“Alamak … apa di sini ada cangkul? Aku ingin mengubur hidup- hidup diriku sendiri ….” jeritnya dalam hati.


“Ning, apa kau baik- baik saja?” tanya Athar dari luar jendela.

__ADS_1


“Aku ingin menghilang detik ini juga ….” ucapnya yang benar- benar merasa malu.


“Maaf, Tuan Athar … Nyonya besar mencari anda. Beliau sudah menunggu di kamar.” Tiba- tiba terdengar suara kepala pelan di luar sana.


“Aku akan ke sana setelah urusanku dengan Ning selesai.” Athar nampaknya masih mencemaskan Ning yang jatuh dari kursi akibat dikerjai olehnya tadi.


“Maaf, Tuan … Nyonya besar belum mau minum obatnya sebelum bertemu dengan anda.”


Athar menghela nafas kasar. “Baiklah … aku ayok kita pergi.”


“Syukurlah .. akhirnya dia pergi juga … Mau ditaruh dimana muka guu ....” Ning sedikitnya merasa lega dengan kepergian Athar.


“Ya Allah … malunya kebangetan ini mah … Aku tidak akan sanggup bertatap muka lagi dengan tuan Om … Pasti tadi aku kelihatan mupeng dan sangat mengharapkannya … “ Ning menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


“Arghhh … kenapa hari ini sial banget sihh ….” Ning yang masih berbaring di lantai, memukul lantai dengan kepalan tangannya.


Tok tok tok …


“Ning, Nyonya Ros memanggil mu untuk menghadapnya di ruang kerja ….” teriak Utari dari balik pintu kamar Ning.


“Apa? Nyonya Ros memanggil ku? Aduh … ada apa lagi ini?” gumamnya berprasangka.


Tok tok tok …


“Ning apa kau mendengar ku? Kau harus ingat ya, Nyonya Ros paling tidak suka menunggu.”


“Iya ….” sahut Ning, ia pun segera bangkit dengan mengusap- usap bokongnya yang terasa sakit. Ning pergi ke kamar mandi dan kembali membasuh wajahnya. Ia lalu merapihkan diri dan segera beranjak keluar dari kamarnya.


Ning berjalan dengan langkah gontai dan lesu. Ia terus memikirkan jenis kesialan apa lagi yang akan di dapatkannya.


Tok tok tok …


“Nyonya, ini saya Ning ….”


“Masuk ….” Ning pun memasuki ruangan itu. ia berjalan dengan menundukkan kepalanya hingga sampai di depan meja kerja Rosmala.


“Berapa nomor rekening mu?” Rosmala langsung bertanya anpa menruh Ning untuk duduk.


Ning menanggahkan kepalanya dan menata Rosmala dengan terheran- heran. “Hah? Nomor rekening?”


“Iya … kau punya nomor rekening kan?” Rosmala kembali bertanya.


“Punya.” Ning menjawab dengan singkat dan pasti.


“Sebutkan nomor dan nama bank-nya!” titah Rosmala.


“Apa? Tapi untuk apa?” tanya Ning heran.


“Sudah cepat sebutkan nama Bank dan nomor rekeningnya! Banyak bicara sekali kau ini….”


Ning lalu menyebutkan nomor rekening berserta nama bank-nya dan Rosmala mengetik yang disebutkan Ning pada ponselnya.


“Tentu saja, karna kau memiliki nama teraneh yang pernah ada di dunia ini.”


“Cih, ujung- ujungnya menghina ku juga kau!” Ning menggerutu dalam hati.


Ting ting …


Ponsel Ning berbunyi, ia mengambil ponsel tersebut dari dalam saku celananya. Terlihat di layar ada pemberitahuan pesan masuk. Ning pun membuka pesan tersebut.


“Hah? Ini … Nyonya barusan mentrasfer uang ke rekening saya?” tanya Ning memastikan.


“Memangnya siapa lagi?”


Ning membekap mulutnya setelah melihat jumlah nominal uang yang di transferkan oleh Rosmala.


“In ini ini … ini uang untuk apa, Nyonya?”


“Kau sudah satu bulan bekerja di sini, bukan? Tentu saja itu upah kerja mu ….”


“Tapi, Nyonya … ini terlalu besar … Bukankah gaji ku lima juta, dan itu pun tidak akan dibayarkan pada ku karena dianggap sebagai cicilan hutang Mang Asep.”


“Kau pikir saya sekejam itu memperlakukan mu seperti romusha apa?”


“Tapi Nyonya ini jumlahnya lima kali lipat … apa ini gaji ku selama lima bulan dibayar di muka?” tanya Ning kembali memastikan.


“Gaji mu memang lima juta, tapi kau sudah berhasil membuat banyak perubahan pada putraku … Anggap saja itu sebagai bonus.”


“Apa? Benarkah? Nyonya serius kan?”


“Tentu saja, memangnya aku terlihat sedang bercanda?”


“Alhamdulillah … akhirnya setelah tiga kali mengalami kesialan, aku mendapat rezeki melimpah … terimakasih ya Allah …” Ning mengucap syukur an menempelkan ponsel di dadanya.


“Heh, memang kau mau kalau setiap akan mendapatkan uang harus sial dulu?” Rosmala malah mengejek Ning.


“Ya enggak lah, Nyonya …”Ning menjawab lalu memonyongkan bibirnya.


“Pergilah, urusan kita sudah selesai.” Rosmala mengebaskan tangannya.


“Tapi Nyonya …”


“Apalagi?”


“Eng … saya akan mentransfer uang ini lagi pada rekening Nyonya,” ucap Ning.


“Untuk apa? Apa kau ingin menghina ku, hah?” Rosmala merasa tersinggung.


“Bukan begitu Nyonya … Saya ingin membayar hutang Mang Asep pada Nyonya.”

__ADS_1


Rosmala menghela nafas kasar.


"Hei, itu gaji pertama mu … Gunakanlah untuk keperluan mu, kenapa malah memikirkan orang lain yang bahkan tidak memperduikan mu sama sekali ....”


“Maaf Nyonya … apa nyonya lupa tujuan Nyonya mempekerjakan saya di sini adalah agar saya membayar hutang paman saya pada Nyonya. Dan sekarang saya ingin membayarnya, walau belum semuanya,” ucap Ning mengingatkan.


“Ning … lebih baik kau gunakan uang itu untuk membeli keperluan mu. Membeli sandal misalnya, ku lihat selama ini kau selalu memakai sandal hotel.” Rosmala ternyata memperhatikan Ning juga.


“Tapi, ini banyak sekali … Masa aku membeli sandal dengan uang 25 juta?”


“Astaga … kau in bodoh atau apa sih? Tentu saja kau beli kebutuhan mu yang lainnya.” Rosmala tak habis pikir.


“Iya sih … dengan uang sebanyak ini saya bisa membeli apa pun yang saya mau. Tapi, saya tidak mau menunda- nunda membayar hutang … Bagaimana kalau besok saya meninggal dan hutang belum lunas, bisa kebawa ke akherat nanti ….” Ning ternyata paham juga soal kewajiban membayar hutang.


“Iya kalau itu hutang mu … itu kan hutang paman mu ….” Rosmala mengoreksi.


“Em, bagaimana kalau saya membayar 20 juta dulu, jadi saya akan tetap memakai uang gaji saya yang lima juta?” ucap Ning bernegosiasi.


“Anak ini benar- benar aneh … Biasanya yang mau bayar hutang bernegosiasi minta tambahan waktu, ini malah benegosiasi mau membayar secepatnya,” gumam Rosmala dalam hati.


“Jadi gimana, Nyonya? Mau ya?” Ning kembali memberi penawaran.


“Sudah pergi sana! kau bisa mencicil hutang paman mu dengan gaji bulan depan….” Rosmala malah mengusir Ning dan menolak penawaran Ning.


“Tapi_____” Ning masih berusaha.


“Pergi !! Sebelum saya benar- benar marah pada mu!” bentak Rosmala.


“Iy iya, Nyonya … saya permisi Nyonya … Terimakasih banyak atas gaji dan bosnusnya.”


“Hmmmmm ….”


Ning pun melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan tersebut. Iamerasa senang sekaligus kesal.


“Tunggu!!” Rosmala menghentikan langkah Ning yang sudah sampai di depan pintu. Ning pun membalikan tubuhnya.


“Ada apa Nyonya? Apa Nyonya berubah pikiran?” tanyanya dengan wajah berbinar.


“Besok kau tidak perlu menjadi pelayan pribadi Dino lagi.”


“Apa? Maksud nyonya saya di pecat?” Ning nampaknya sudah kerasan dengan pekerjaannya.


“Bukan … Tapi selama beberapa hari kau gantikan tugas pengasuh Sheryl, karena pengasuhnya baru saja pulang kampung, ibunya sakit.”


“Nona Sheryl?” tanya Ning heran.


“Iya, Sheryl putri bungsu ku … Mulai besok kau antar dia ke sekolah dan mengurus semua keperluannya. Dino biar saya sendiri yang awasi.”


“Baik, Nyonya ….” Ning pun menerima perintah majikannya tersebut.


“Sekarang pergilah ke kamar Sheryl, dia ada tugas dari sekolah nya. Minta Utari mengantar mu ke kamar Sheryl ….”


“Baik Nyonya … saya permisi.”


“Hmmm ….”


“Aduh, kenapa harus berurusan sama anak kecil sih … males banget … Kakaknya saja menyebalkan, apalagi adiknya, pasti lebih merepotkan ….”


“Huft … pantas saja ngasih gaji besar, ternyata disuruh ngurusin bocah … Ini sih namanya dari dinosaurus menuju anaconda ….” Ning tak hentinya menggerutu dalam hati sembari melangkahkan kakinya.


Sesuai perintah Rosmala, ia pun minta Utari mengantarkannya ke kamar Sheryl yang ternyata bersebelahan dengan kamar milik Athar.


“O Em ji … ini yang sebelah ini kan kamar si Tuan Om … semoga saja dia tidak ke sini,” gumam Ning dalam hati merasa was- was.


Tok tok tok …


”Non Sheryl … ini Mbak Utari, boleh kah si mbak masuk?”


“Iya ….” Sheryl menyahut.


“Ayok Ning kita masuk,” ajaknya lalu membuka pintu.


Ia pun melangkah masuk bersama Ning yang terlihat waspada dengan melihat kesana kemari. Sepertinya ia trauma dengan jebakan betman yang pernah Dino berikan sebagai sambutan saat pertama kali ia memasuki kamar Dino.


Kamar yang bernuansa serba pink itu nampak sama luasnya dengan kamar milik Dino. Ning dan Utari melangkah perlahan memasuki kamar tersebut.


“Kalau menggambar pakai garis tipis dulu, jangan langsung tebal,” terdengar suara seseorang di dalam sana.


Deg …


“Sepertinya aku kenal suara itu ….” gumam Ning dalam hati.


Ia pun menlanjutkan langkahnya mendekat pada Shery yang sedang menggambar di atas karpet permadani berbentuk bulat di sebelah tempat tidurnya.


Betapa terkejutnya Ning melihat orang yang sedang duduk bersama Sheryl di sana. ia membekap mulutnya sendiri.


“Kenapa dia ada di sini?” Ning kembali bergumam dalam hati.


------------ TBC--------------


**********************


Happy Reading ….😉


Jangan luva tinggalkan jejak mu … Like, koment, vote, hadiah, rate bintang lima … 😉😍


Tilimikicih …😉


Aylapyu All … 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2