
Pagi ini begitu dingin, udaranya terasa menyeruak dan menusuk pori- pori. Hembusan nafas pun terlihat jelas bagai asap yang keluar dari perapian. Namun tak perduli sedingin apa pun cuacanya, para pegawai di kediaman keluarga Sahulekha tetap menjalankan tugasnya sebagai mana mestinya.
“Mama ….” panggil Sheryl yang baru saja duduk di kursi meja makan.
“Iya, sayang... Kenapa hem?” sahut Rosmala yang duduk di sebelahnya.
“Mbak Ning Nong kemana sih? Kenapa gak ke kamar aku lagi?” tanya Sheryl lalu cemberut.
“Kan Mbak Susi sudah datang lagi … Jadi sekarang Mbak Ning kembali melayani Kak Dino.” Rosmala memberi penjelasan pada putri bungsunya.
"Kamu makan dulu ya, sayang ...Nih udah Mama siapkan." Rosmala menyodorkan piring berisi makanan kesukaannya Sheryl.
"Iya, Mama...."
"Anak mama makin hari makin pinter ya..." ucapnya tersenyum sembari mengusap kepala putrinya. Ia lalu mengedarkan pandangannya.
“Kepala pelayan … Sepertinya saya tidak melihat Ning sejak tadi? Dino pun belum turun untuk sarapan bersama.” Rosmala baru teringat pada Ning yang belum muncul.
“Saya akan mencarinya, Nyonya.” Kepala pelayan pun bergegas pergi.
“Mama perhatian sekali terhadap seorang pelayan,” sindir Diasri.
“Mama hanya tidak ingin Dino kembali seperti dulu lagi … Setidaknya pengasuhnya sudah memberi perubahan baik pada kakak mu, Dias.”
“Ya ya ya … Mama sangat memanjakan anak sulung Mama itu ….”
“Apa kamu juga ingin memiliki pengasuh sama seperti Dino dan Sheryl?” Aufar ikut mengomentari putrinya.
“Gak banget deh, Pa ….” Diasri mencebikan bibirnya dan berhenti berkomentar.
“Pagi semua ….” Sapa Dino yang baru muncul.
“Dino … Kami sudah menunggu mu sejak tadi ....” ucap Nyonya besar.
“Maaf Oma … aku bangun terlambat.” Dino lalu duduk di kursi sebelah Oma-nya.
“Tidak apa- apa … ayok kita sarapan bersama,” ajak Nyonya besa dan ia pun mulai mengisi piring kosong dengan makanan untuk sarapannya.
Tak lama Rosmala melihat kedatangan kepala pelayan. Ia melihat kepala pelayan yang memberi kode padanya. Ia pun mengakhiri makannya.
“Maaf, aku duluan Bang, Mami ….” ucapnya lalu berdiri.
“Mau kemana?” tanya Aufar heran.
“Ada urusan mendesak, Bang ….” ucapnya pada sang suami.
“Hmm ….” Aufar pun mengerti saat ia melihat ke arah kepala pelayan.
“Ros, jangan lupa nanti siang kita ada acara ….” ucap Nyonya besar mengingatkan.
“Iya, Mami … Kepala pelayan dan yang lainnya sudah menyiapkan segalanya. Ros permisi dulu …”
Rosmala beranjak pergi meninggalkan ruang makan diikuti oleh kepala pelayan di belakangnya. Mereka pun masuk ke ruang kerja Rosmala.
“Ada apa?” tanya Rosmala pada kepala pelayan yang baru saja menutup pintu ruangan itu.
“Maaf Nyonya, saya dan Utari tidak bisa menemukan keberadaan Ning. Barang- barangnya pun sudah tidak ada….” ucapnya melapor.
“Apa? Maksud mu Ning sudah pergi dari rumah ini?” Rosmala terkejut mendengarnya.
“Sepertinya begitu Nyonya … Dan kami hanya menemukan amplop coklat ini di kamar Ning.” Kepala pelayan menyerahkan barang temuannya tersebut.
“Apa ini?” tanya nya heran pada benda yang kini berada di tangannya.
“Saya kurang tahu Nyonya, karena di sana tertulis nama Anda … Jadi saya tidak berani membukanya.”
“Baiklah, terimakasih … Kau boleh pergi dan periksa persiapan acara kita untuk siang nanti.”
“Baik, Nyonya … Saya permisi.”
“Hmm ….” Angguk Rosmala.
Perlahan ia membuka amplop coklat yang diserahkan oleh kepala pelayan. Ternyata di dalamnya terdapat sepucuk surat, sebuah buku kecil dan sebuah kartu. Ia yang merasa heran kemudian membuka lipatan surat tersebut dan membacanya.
Raut wajahnya berubah setelah ia selesai membaca surat tersebut, ia memasukan kembali surat dan dua benda lainnya ke dalam amplop, kemudian bergegas keluar.
__ADS_1
“Sopir, antarkan ke rumah Ning!” titahnya setelah sang sopir menutupkan pintu mobil untuk Rosmala yang sudah duduk di dalamnya. Ia mengambil ponsel dan berusaha menghubungi Ning.
Sopir pun melaksanakan perintah Rosmala. Ia segera masuk dan melajukan mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mobil yang Rosmala tumpangi akhirnya sampai di depan halaman rumah Ning yang dulu pernah dua kali disambanginya.
Rosmala pun turun dari mobilnya. Ia berjalan dan masuk ke halaman rumah yang terlihat sepi itu.
Tok tok tok ….
“Permisi ….” Rosmala mengetuk pintu rumah tersebut, namun tak ada sahutan sama sekali atau pun yang membukakan pintu.
Tok tok tok …
“Permisi ….” Ia kembali mengetuk pintu, namun tetap tak mendapat jawaban dari orang di dalam rumah itu.
“Ibu ini siapa ya?” terdengar suara seseorang yang menghampiri Rosmala.
Rosmala membalikan tubuhnya dan mengarahkan pandangannya pada orang tersebut yang berdiri di belakang Rosmala di halaman rumah Ning.
“Saya Rosmala, Ning merupakan salah satu pegawai di rumah saya....” ia pun memperkenalkan dirinya dengan ramah.
“Oh, Ibu mencari Ning ya?” ibu itu kembali bertanya.
“Iya, apa Ning sudah pulang ke sini?”
“Iya, semalam Ning pulang ke sini … Bahkan dia tidur di luar.”
“Apa? Tidur di luar?” Rosmala kembali terkejut.
“Iya, Ning tidur di luar karena rumahnya di kunci… Soalnya, rumah ini kan sudah disita sama rentenir sejak dua minggu yang lalu, karena Asep sama Marni gak bisa membayar hutang mereka pada rentenir itu. Dan mereka pergi gak tahu kemana ….” Ibu itu menjelaskan panjang lebar.
“Lalu Ning dimana sekarang?” Rosmala hanya berfokus pada Ning dan tak memperdulikan nasib Asep serta keluarganya.
“Saya tidak tahu, Bu. Tadi pagi saya sudah tidak melihat Ning lagi … Kasihan Bu, semalaman Ning menangis di sini, dia gak mau diajak ke rumah para tetangga yang menawarinya.”
“Kira- kira Ning pergi kemana ya? Apa Ibu tahu? Sejak tadi saya mencoba menelponnya, tapi tidak aktif.” Rosmala semakin mengkhawatirkan Ning.
“Saya gak tahu, Bu … si Ocha sahabatnya Ning sudah pindah ke Surabaya tinggal sama kakaknya.”
“Setahu saya enggak, Bu ... Ning itu anak dari kakaknya Asep satu- satunya yang sudah meninggal. Jadi ya Ning cuma punya Asep setelah orang tua dan neneknya meninggal.”
Rosmala menghela nafas panjang. Ia nampak begitu mengkhawatirkan Ning, apalagi setelah mendengar informasi dari tetangganya Ning itu.
“Terimakasih ya, Bu … Saya akan mencari Ning ke tempat lain.”
“Iya, Bu … semoga Ibu bisa menemukannya … Kasihan dia udah gak punya siapa- siapa setelah Asep dan keluarganya meninggalkannya. Apalagi rumah ini sudah bukan miliknya lagi.”
Rosmala mengangguk. Ia mengambil sesuatu dari dalam tas nya.
“Bu, ini kartu nama saya … Tolong segera hubungi saya jika Ibu melihat Ning.”
“Iy iya, Bu.” ucapnya menerima kartu nama tersebut.
“Oh iya, ini untuk beli bakso … Saya permisi, Bu.” Rosmala memberikan uang dua lembar pecahan seratus ribu pada informan tersebut.
“Terimkasih banyak, Bu.“ ucapnya tersenyum sumringah. Rosmala pun meninggalkan halaman rumah itu dan kembali masuk ke dalam mobilnya dengan terus mencoba menghubungi Ning.
“Wah, baik banget itu majikannya si Ning … Gak percaya deh sama ucapanya si Marni yang bilang Ibu itu kejam dan memeras keluarga mereka ….” ucap Ibu itu kemudian beranjak pergi dengan senyum merekah, karena sudah mendapatkan fulus secara cuma- cuma.
Rosmala yang begitu mengkhawatirkan Ning, masih terus mencoba menghubuninya. Namun nomor Ning tetap tidak aktif. Bahkan ia mencoba menggunakan aplikasi untuk melacak nomor Ning, tetap tidak bisa menemukannya.
“Kemana anak itu?” gumam Rosmala dengan terus mengedarkan pandangan ke jalan berharap melihat keberadaan Ning.
Akhirnya ia menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Ning. Ia memberikan foto dan nomor kontak Ning agar mempermudah mereka untuk mencari Ning.
**
Tak terasa seminggu sudah Rosmala terus mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Ning. Bahkan ia menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengawasi rumah Ning, berharap Ning akan kembali ke sana. Namun sayang, usahanya selama ini belum mendapatkan hasil. Hal itu membuatnya dirundung gelisah dan kekhawatiran akan keadaan Ning.
Tok tok tok …
“Kak Ros … Ini Athar.”
“Masuk ….” sahut Rosmala.
__ADS_1
“Kak, Bang Aufar bilang ada berkas yang dititipkan untuk aku tanda tangani?” ucapnya yang baru saja duduk di kursi depan meja kerja Rosmala.
“Iya.” Rosmala meletakan kertas di atas amplop coklat di meja nya. Ia pun mengambil dokumen dari dalam lacinya.
“Eng, akhir- akhir ini Kak Ros sering melamun dan terlihat gelisah … Apa karena Bang Aufar bertugas ke Amsterdam selama beberapa hari ini?” Athar membuka topik pembicaraan.
“Abang mu itu sudah biasa bepergian ke luar negeri dan kami setiap hari kami selalu berkomunikasi … Ayolah, ini zaman modern dan alat komunikasi sudah canggih … Dan aku ini bukan orang yang kurang update ….” ucap Rosmala tersenyum.
“Ya ya ya …. Terus kenapa dong? Apa Kakak ingin menyusul Bang Aufar ke sana?” Athar nampak sedang menyelidik.
“Hehe … Yang benar saja, banyak yang harus aku urus di sini… Untuk apa aku membuntuti Abang mu yang sedang bekerja di sana?” Rosmala menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Ia lalu memberikan dokumen yang diminta Athar.
“Apa Mami yang meminta mu untuk menanyakan hal ini?” tanya Rosmala curiga.
“Hehe … ya begitulah … Mami sangat mengkhawatirkan mu, Kak… Lalu apa yang menggangu pikiran mu?”
Rosmala menghembuskan nafas kasar.
“Sudah seminggu ini Ning pergi dan tidak ada kabar sama sekali.”
“Ning? Maksudnya pengasuh Dino itu?” tanya Athar heran.
“Ya.” angguk Rosmala.
“Oh, baguslah kalau dia sudah pergi.” Athar malah bersyukur.
“Tapi dia pergi tanpa memberi tahu ku sama sekali dan tidak ada yang tahu dia pergi kemana … Bahkan dia tidak pulang ke rumahnya. Aku sudah mengerahkan orang untuk mencarinya kemana- mana, tapi tetap tidak menemukannya.”
“Apa? Yang benar saja? Kakak gelisah hanya karena memikirkan pelayan itu? Sampai menyuruh orang untuk mencarinya ….” Athar semakin heran.
“Apa dia mencuri barang berharga dari rumah ini?” tanya Dino yang tiba- tiba masuk ke ruangan tersebut tanpa permisi atau pun mengetuk pintu.
“Ah iya, Dino benar … Apa dia mencuri barang kakak makanya kakak mencarinya?” Athar sependapat dengan Dino.
“Kalian itu bicara apa? Ning itu anak yang jujur,” ucap Rosmala tegas.
“Jujur apanya, Kak? Licik iya kali,” cicit Athar.
“Bener tuh kata Om Athar … si kacung itu wanita murahan dan mata duitan … Ngapain mama memperdulikan kacung itu.” Dino pun mengamini ucapan Athar.
“Jaga bicara kalian! Ning bukan orang yang seperti itu.” Rosmala mulai kesal pada anak dan adik iparnya itu.
“Memang kenyataannya begitu … Udahlah Ma, gak usah mikirin kacung itu lagi.” Dino bersikeras.
“Bagaimana Mama tidak memikirkannya. Dia pergi tanpa membawa uang sepeser pun,” ucap Rosmala ketus.
“Kakak tahu dari mana? Mana mungkin wanita yang rela melakukan apa pun demi uang pergi dari sini tanpa membawa uang ….” ucap Athar.
“Lihat ini!” Rosmala melemparkan amplop berwarna coklat beserta sepucuk surat yang Ning tinggalkan.
Athar mengambil kertas yang dilipat itu.
"Apa ini?" tanyanya heran.
"Baca saja sendiri...." titah Rosmala yang terlihat jengah.
Athar yang merasa penasaran membuka lipatan kertas itu. Ia lalu membaca isi suratnya.
Setelah selesai membacanya, Athar pun tersenyum sinis.
"Jadi in surat dari pelayan itu?" ucapnya meremehkan.
"Iya, itu surat dari Ning ...." Rosmala membenarkan.
"Aku tidak percaya dengan apa yang ia katakan?" Athar lalu melempar kembali surat itu.
Dino mengambil surat itu dan membacanya, karena ia pun merasa penasaran.
"Cih ... ini surat pengaduan atau surat pengunduran diri?" Dino pun tersenyum kecut.
------------- TBC --------------
************************
Happy Reading .....
__ADS_1
Mon maaf ini jemari eceu kebanyakan ngetik nya, jadi dibagi dua episode.....