NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Om Setan Mesum


__ADS_3

“Tidak ingin bertemu bagaimana? Tadi kau sudah terlanjur melihat ku … Sudah cepat bangun!!” ucapnya menarik selimut, namun Ning kembali menariknya dengan kuat.


“Pergi sana!!” teriak Ning dari dalam selimut.


Selang beberapa saat ia tak mendengar sahutan lagi, namun ia tetap bertahan di dalam selimut.


“Argh .. panas sekali kalau lama- lama di dalam selimut begini … Dia sudah pergi atau belum ya?” gumam Ning dalam hati.


Perlahan ia membuka selimutnya dan menoleh ke arah kirinya.


“Ciluk Baaaa ….” Ternyata orang itu masih ada dan malah menggoda Ning dengan candaannya.


Ning melotot dengan mulut ternganga, dengan segera ia berbalik lagi dan masuk kembali ke dalam selimut.


“Kau itu hanya pura- pura tidak ingin bertemu dengan ku … tapi sebenarnya merindukan ku, kan?”


“Gak usah ge-er jadi orang … cepat pergi sana!!” Ning semakin kesal hingga ia bicara ketus.


“Aku tidak akan pergi sebelum kau bangun dan menghabiskan makanan mu ….” Ia tetap bertahan duduk di sisi tempat tidur.


“Terserah … aku mau tidur ….” Ning sudah tak mau menghiraukannya lagi.


"Kenapa dia gak pergi- pergi sih?? Ini lagi si kentut tumben susah keluar? Padahal kan lagi butuh banget," gerutu Ning dalam hati.


“Emm, baiklah … kalau begitu aku juga akan tidur … karena sebenarnya aku juga sangat mengantuk …. Hoaam …” ucap pria itu lalu pura- pura menguap.


“Eh … kenapa dia tidak menyahut lagi?“ tanyanya dalam hati.


“Baiklah … aku akan membuat mu bangun, kakak peri ….” ucapnya lagi dalam hati sembari tersenyum licik.


Ia lalu berbaring di sebelah Ning yang membelakanginya. Tiba- tiba tangannya memeluk tubuh Ning dari belakang.


Ning yang terkejut membelakan matanya saat merasakan pelukan orang itu.


“Apa-apaan kau ini .. dasar mesum kurang ajar!!” Ning berontak untuk melepaskan diri dari pelukan pria itu, namun ia malah semakin mengencangkan pelukannya.


“Lepaskan aku … lepaskan !!” bentak Ning masih dari dalam selimut.


“Sudah diam … kau kan kedinginan, dipeluk begini akan membuat mu hangat.”


“Dasar mesum … kurang ajar … lepaskan aku!! kalau tidak aku akan berteriak ….” Ning semakin marah dan kesal.


Ning terus berontak berusaha melepaskan diri dari pelukan pria itu. Namun ia malah mengeratkan pelukannya hingga membuat Ning tak bisa berkutik. Akhirnya Ning pun diam tak bergerak lagi, namun kini justru isak tangisnya yang terdengar.


“Hiks hiks hiks ….” Ning pun akhirnya menangis, karena sudah tak bisa berbuat apa- apa lagi. Belum lagi tangannya yang di infus membuat geraknya semakin terbatas.


Mendengar suara tangisan Ning, dengan segera ia melepaskan pelukannya. Ia pun bangkit dan kembali duduk seperti semula.


“Ning ….” Lirihnya kemudian tangannya menyentuh bahu Ning.


“Pergi!! Hiks Hiks ….”


“Ning … maaf_____”


“Pergi!!! Hiks hiks ….”


“Ba baiklah, aku akan pergi … tapi kau makan bubur dan minum obat nya ya ….” ucapnya merasa tak enak hati sudah membuat Ning menangis. Ia pun beranjak pergi meninggalkan Ning yang masih bersembunyi di dalam selimut dengan perasaan bersalah.


Ning membuka selimutnya, ia menoleh ke arah pintu yang baru saja di tutup oleh pria itu.


“Dia benar- benar menganggap ku wanita seperti itu … hiks hiks hiks,” lirih Ning dengan raut wajah sedih dan kecewa.


Ia diam termenung memikirkan hal yang baru saja terjadi dengan air mata yang masih terus menetes membasahi pipinya hingga beberapa saat.


**


Tok tok tok …


“Ning, apa kamu sudah bangun?” tanya seseorang dari balik pintu.


Ning dengan segera menghapus jejak air matanya. Ia mengambil ai minum yang ada di nampan di atas lemari laci di sebelah tempat tidur dan segera meminumnya. Ia kembali berbaring setelah meletakan gelas yang airnya tinggal setengahnya ke tempat semula.


Tok tok tok ….


“Iya, Bu … Aku sudah bangun ….”


Ceklek ….


Bu Asri pun masuk dan berjalan mendekat ke ranjang tempat Ning berbaring.


“Kamu sudah enakan?” tanya Bu Asri.


Ning bangkit lalu duduk. “ Iya Bu … Alhamdulillah ….”


“Kelihatannya kamu habis nangis ya? Kenapa? Apa masih sakit?”


“Eng enggak kok, Bu ….” ucap Ning menyanggah dengan gelagapan.


“Lalu kenapa mata mu sembab, dan suara mu seperti habis nangis?”


“A aku … a aku … aku merasa terharu, ibu bahkan tidak mengenal ku. Tapi, ibu sudah menolong, membawa ku ke rumah ini, dan bahkan merawat ku,” ucapnya kembali meneteskan air mata.


Hal itu memang benar- benar dirasakannya, walau sebenarnya itu bukan penyebab ia menangis sebelumnya.


Bu Asri mengusap punggung tangan Ning sembari tersenyum.


“Jangan sungkan seperti itu … Nana sudah cerita kalau kamu sangat baik pada nya … Apa salahnya jika kami juga berbuat baik pada mu ….”


“Hehe, terimakasih banyak, Bu ….”


“Sejak semalam kamu terus mengatakan hal itu …memangnya tidak bosan?” tanya beliau kembali tersenyum. Matanya melirik ke arah lemari laci sebelah tempat tidur.


“Loh, kok bubur nya belum dimakan? Padahal itu bubur ayam spesial yang dibuat langsung oleh Daniel … Tuh ayam suir nya aja banyak, juga pakai telur ayam kampung rebus … Kasihan loh, Daniel membuatnya sejak subuh tadi ….”


“Hah? Jadi Pak Daniel yang membuatnya?”tanya Ning terkejut.


“Iya … Padahal kata ibu beli saja … Eh, Daniel malah kekeuh pengen bikin sendiri … Sebaiknya segera dimakan, kalau sudah dingin nanti gak enak.”


“Iya, tuh Bu … Dari tadi disuruh makan gak mau ….” ucap Athar yang masuk begitu saja tanpa permisi.


“Kamu itu … gimana Ning bisa makan? Tangan kanannya kan di infus … Semalam aja bisa makan disuapi sama Kinan,” cerocos Bu Arsi pada Athar.


“Baiklah kalau begitu, sekarang aku yang akan menyuapi nya,” ucapnya menawarkan diri.


“Gak usah … aku belum lapar ….” Ning kembali bicara ketus.


Krukk kruk kruk …


Terdengar bunyi perut keroncongan. Dan hal itu membuat Bu Asri juga Athar tersenyum nampak menahan tawa. Ning pun terlihat malu, ia menundukkan kepalanya sembari memegang perutnya.


“Katanya gak lapar … Itu cacing di perut mu sudah berdemo, loh ….” ejek Athar menyindir.


“Sudahlah … sebaiknya kamu segera makan … Terus nanti minum obat dan vitamin, supaya kamu cepat sehat … Ibu tinggal dulu ya.” Bu Asri pun beranjak pergi meninggalkan Ning dan Athar di dalam kamar itu. Namun setelah keluar beliau sengaja tidak menutup pintunya yang sejak beliau masuk terbuka.

__ADS_1


Ning memperlihatkan wajah jutek pada Athar. Namun si tuan om tamvan tetap memberinya senyuman. Ia mengambil mangkuk dari atas nampan. Kemudian duduk di sisi tempat tidur di dekat Ning.


“Aaaakk ….” Athar menyodorkan sesendok bubur ke arah mulut Ning. Namun ia malah membuang muka.


“Ning … ayok makan dulu, nanti minum obat … Jangan seperti anak kecil begini.”


“Aku tidak mau makan … apalagi disuapi oleh anda ….” ucapnya tanpa menoleh sedikitpun pada Athar.


Athar menghela nafas panjang. Nampak nya ia harus bersabar menghadapi Ning yang terlihat kesal dan marah padanya.


“Ning, Kinan bilang kemarin kamu pingsan karena kelelahan dan kurang asupan makanan … Sekarang kamu makan ya, supaya badan mu tidak lemas lagi,” bujuknya.


“Aku bilang tidak ya tidak!!!” ucap Ning dengan nada ketus masih tak menoleh pada Athar.


“Ning … Aku minta maaf atas kejadian di malam itu … Aku benar- benar menyesal sudah mengatakan hal- hal yang tidak pantas dan menuduh mu yang tidak- tidak, tanpa mendengar penjelasan dari mu ….” ucapnya menyesal.


“Aku tahu kau pasti sangat marah pada ku … Aku juga minta maaf atas kejadian tadi … Aku tidak bermaksud____”


“Keluar !!!” bentak Ning menunjukan ke arah pintu, namun tetap masih memalingkan wajah dari Athar.


“Ning ___”


“Keluar!!!” Ning kembali mengulang.


“Baiklah … aku akan keluar … Tapi kamu makan buburnya ya, obat dan vitamin nya juga sudah ada di atas nampan …” Athar menghela nafas panjang. Ia lalu bangkit dan berdiri.


Athar melihat Ning yang masih memalingkan wajah darinya dengan tatapan sendu. Ia kembali menaruh mangkuk di atas nampan.


“Ning ….”


“Pergi!!!” bentaknya lagi mengusir Athar.


“Baiklah … Tapi apakah aku harus pergi ke tempat yang kau tunjukkan?” tanya Athar.


Ning langsung melihat ke arah tangannya menunjuk, yang ternyata sejak tadi ia menunjuk ke arah lemari pakaian, bukan ke pintu kamar. Ia pun mengubah arah jari telunjuknya ke arah pintu dan kembali memalingkan wajahnya dari Athar.


“Keluar!!” bentaknya kembali mengusir.


“Baiklah, karena sekarang aku tahu kemana arah ku pergi … Jangan lupa ma____”


“Keluar!!!” Ning memotong ucapan Athar dan mengusirnya.


“Iya iya iya ….” Athar pun dengan segera beranjak pergi, ia tak mau membuat Ning kembali menangis.


Setelah Ning mendengar suara pintu yang ditutup. Ia melihat ke arah pintu untuk memastikan jika Athar sudah benar- benar keluar dari kamar itu.


“Fiuh … akhirnya dia pergi juga … Dari tadi kek, aku udah lapar banget pengen makan bubur spesial buatan Pak Daniel,” ucap Ning bernafas lega. Ia pun mengambil mangkuk bubur tersebut dan dengan segera memakannya meski menggunakan tangan kiri.


“Hmm, dari baunya aja udah kecium … pasti rasanya enak ….” Ning mengirup aroma bubur yang sudah ada di tangannya itu.


Ning mulai menyendokkan kemudian memakannya dengan lahap hingga buburnya habis tak tersisa, meski ia mengalami kesulitan karena tak terbiasa makan menggunakan tangan kiri.


Ia pun meminum obat dan vitamin yang sudah disediakan pada nampan tersebut.Tanpa ia sadari, Athar memperhatikannya dari luar jendela kamar.


“Eugg ….” Ning bersendawa dengan kerasnya. Dan hal itu membuat Athar tertawa gemas dengan menahan suara agar tak terdengar oleh Ning.


Krekkk …


Kaki Athar tanpa sengaja menginjak sebuah ranting. Ning yang mendegar suara itu pun melihat ke asal suara yang tak lain adalah tempat Athar berdiri mengintipnya. Dengan segera Athar pun berjongkok untuk bersembunyi.


“Siapa di sana?” tanya Ning setengah berteriak.


“Miawwww….” Athar menirukan suara kucing.


“Ya ampun … Gadis aneh ini … dulu memanggil ku tuan om, sekarang kok jadi memberi ku julukan si mesum,” gumam Athar dalam hati.


“Athar … apa yang kau lakukan di situ?”


Suara itu mengejutkan Athar sekaligus Ning yang sedang berada di dalam kamar, karena mereka berdua kenal betul dengan suara yang sudah tak asing di telinga mereka itu.


“Tuh kan bener … si mesum itu ngintipin aku dari jendela … Dasar mesum .. sekali mesum tetap mesum ….” Ning menggerutu kesal tapi degan memelankan suaranya.


“Dan itu … Nyonya Rosmala kenapa bisa ke sini? Argh …. Kenapa aku bisa lupa sih … Dia kan ada hubungannya dengan Nana ….”


“ Apa jangan- jangan ini rumah orang tuanya Nyonya Rosmala ….” Ning terus saja berdialog sendiri. Sementara di luar Athar segera menghampiri Rosmala yang baru saja datang.


“Kakak apaan sih ngagetin orang aja ….” tanyanya yang terlihat malu.


“Kamu ngapain itu jongkok di bawah jendela kamar Kinanti? Jangan- jangan kamu suka ya sama dia?” selidik Rosmala.


“Ya enggak lah … Kinanti itu sudah ku anggap seperti adikku sendiri … Lagi pula sebentar lagi dia akan menikah ….”


“Terus ngapain kamu di situ?”


“Di dalam sana ada Ning ….”


“Apa? Jadi kamu tadi ngintipin Ning?”


“Bukan … eh iya … eh aduh maksudnya____”


“Kamu itu benar- benar ya … sudah menuduhnya yang tidak baik, tapi malah kamu sendiri yang berbuat tidak baik ….”


“Kak, aku cuma pengen tahu dia makan dan minum obat apa enggak … soalnya dari tadi gak mau makan….”


“Apa?”


“Iya ….”


Rosmala kemudian masuk ke dalam rumah dan tak melanjutkan percakapannya dengan Athar. Nampaknya ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ing yang selama berhari-hari terus dicarinya.


Ia menyapa Bu Asri, kemudian masuk ke kamar Kinanti ditemani Bu Asri setelah beliau mengetuk pintu terlebih dahulu dan Ning mempersilahkan beliau masuk.


“Mari masuk, Ros ….” Ajak Bu Asri.


“Terimakasih, Bu ….” ucapnya lalu masuk mengikuti Bu Asri.


“Ning … ada yang ingin bertemu dengan mu ….” ucap Bu Asri.


Ning yang sedang duduk di tempat tidur, membuka selimutnya dan ia hendak turun untuk menyambut kedatangan Rosmala.


“Sudah duduk saja, tidak usah berdiri …” cegah Rosmala yang kemudian menghampiri Ning dan duduk di sisi tempat tidur.


“Nyonya Ros ….” sapa Ning.


“Kala begitu Ibu tinggal dulu, ya ….” Bu Asri pamit undur diri.


“Terimakasih, Bu ….” ucap Rosmala tersenyum.


“Bagaimana keadaan mu Ning? Athar bilang semalam kamu pingsan di jalan?” tanya Rosmala.


“Alhamdulillah sudah baikan, Nyonya … Tapi maaf, saya belum bisa membayar cicilan yang saya janjikan, karena saya belum mendapatkan pekerjaan.”


Rosmala menghela nafas sejenak. “Ning, jangan pikirkan soal itu lagi … Yang penting sekarang saya tahu kalau kamu dalam keadaan baik- baik saja,” ucapnya tersenyum. Ia lalu mengambil sesuatu dari dalam tas nya.

__ADS_1


“Dan ini saya kembalikan barang milik mu.” Rosmala menyerahkan buku tabungan beserta kartu ATM Ning.


“Tapi, Nyonya ini____”


“Lupakan soal hutang paman mu … Sebenarnya itu hanya alasan saya saja agar kamu mau bekerja dengan saya….”


“Apa?” Ning terheran- heran.


“Iya … saat saya melihat sikap bar- bar mu, saya fikir kamu orang yang tepat untuk menjadi pengasuh anak saya … Dan ternyata benar, kamu orang yang gigih dan tak mudah menyerah, hingga berhasil merubah anak saya yang keras kepala itu.”


“Saya minta maaf karena hanya demi kenpentingan anak saya, jadi merepotkan mu dan sampai mengancam akan mengambil rumah mu … Saya berhutang banyak pada mu Ning … Dan soal rumah mu yang disita rentenir, saya_____”


Ceklek …


Belum selesai Rosmala bicara, tiba- tiba ada yang membuka pintu dan langsung masuk begitu saja menghampiri Rosmala yang sedang bersama Ning.


“Dino … Kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu ….” protes Rosmala.


“Maaf Ma ….” ucap Dino.


Ning yang terkejut melihat keberadaan Dino hanya bisa terdiam dengan mulut ternganga.


“Baiklah Dino … kamu punya waktu sepuluh menit, sebelum Oma menyadari ketidak beradaan mu di rumah … Mama tunggu di luar ….” Ucapnya lalu bangkit dan berdiri. Ia hanya tersenyum peda Ning kemudian beranjak pergi.


“Bagaimana bisa kau keluar dari ___?”


“Aku minta maaf atas semua perkataan ku yang sudah menyakiti perasaan mu, Ning ….” Ucapnya dengan menundukkan kepala.


“Apa?” Ning kembali terkejut.


“Aku benar- benar minta maaf ….” Dino mengulang kembali ucapannya.


“Kau serius? Minta maaf pada ku yang hanya seorang kacung ini?” tanya Ning memastikan.


Dino menegakkan kepalanya dan memberanikan diri menatap Ning.


"Memangnya wajah ku terlihat bercanda?”


“Tidak sih … mau bercanda atau pun serius wajah mu gitu- gitu aja.”


“Jadi gimana?” tanya Dino.


“Apanya?” Ning malah balik bertanya.


“Apa kau memaafkan ku?”


“Heh … tidak semudah itu ferguso ….”


“Kau itu benar- benar kejam … Sudah memanggil ku Dinosaurus, sekarang malah lebih parah jadi ferguso ….”


“Lebih parah apa nya?” tanya Ning heran


“Kau pikir aku tidak tahu kalau ferguso itu anjing peliaraannya Marimar ….”


“Hahahaha … aku tidak menyangka ternyata kau tahu pemain telenovela juga ….” Ning menertawakan Dino dengan renyahnya, sementara Dino mendengus kesal.


“Uluh- uluh … Tuan Muda kok jadi ngambek sih … hhahaha.”


“Cepat ... waktu ku tidak banyak … Kalau aku terlalu lama di luar, Mama bisa terkena masalah besar ….”


“Alhamdulillah ___”


“Kau itu apa-apaan sih? Malah bersyukur ….” ucap Dino kesal.


“Aku belum selesai bicara … Alhamduillah akhirnya kamu memperdulikan ibu mu … Aku senang kau sudah banyak berubah, sepertinya hubungan mu dengan Nyonya Ros sudah membaik …”


“Jadi gimana?” Dino kembali mempertanyakan.


“Gimana apa nya?”


“Aku dimaafkan tidak?” tanyanya seolah menodong.


“Nanti deh aku pikir- pikir dulu ….” ucap Ning dengan entengnya.


Dino kembali mendengus kesal. “Sia- sia aku datang menemui mu ….”


“Ya ampun … Kenapa terbalik seperti ini? yang minta maaf kok malah lebih galak sih … Seharusnya yang ngambek itu aku … dasar aneh!!”


“Lalu?”


“Emmm … aku tidak melihat kesungguhan mu tuh.”


“Baiklah … Ning, aku benar- benar minta maaf atas semua keslahan ku pada mu … Aku akan melakukan apa pun agar kau mau memafkan ku ….” ucap Dino besrsungguh-sungguh.


“Ciuss?” Ning nampaknya sedang mempermainkan mantan anak asuhnya itu.


“Apanya?” tanya Dino heran.


“Akan melakukan apa pun?” ucap Ning.


“Iy iya ….” Dino nampak ragu.


“Termasuk meminum air kolomberan?”


“Apa?” ucapnya terkejut.


“Hahahahahahaha....” Ning menertawakan raut wajah Dino yang terlihat shock. Namun tawanya berhenti seketika saat Athar datang menhgampiri mereka berdua.


“Ada apa Om?” tanya Dino heran.


“Gak ada apa-apa … Gak enak aja sama Bu Asri kalau kalian berduaan di dalam kamar.”


“Tuan muda datang hanya untuk menjenguk saya, kenapa harus tidak enak segala?” ucap Ning dengan nada ketus.


“Ya … kalian ini kan yang satu laki- laki dan yang satu perempuan … jadi gak enak kan …” ucap Athar tak mau kalah.


“Cih … lalu tadi apa dia beberapa kali masuk ke kamar pakai meluk- meluk segala lagi … Dasar licik!!” gerutu Ning dalam hati dengan mendelik tajam pada Athar.


“Maksud Om, kalau ada laki- laki dan perempuan dalam satu kamar, orang ketiganya setan gitu?” ucap Dino yang menebak maksud dari ucapan Athar.


“Nah iya seperti itu ….” Athar membenarkan.


“Berarti Om setan nya dong ….” ucap Dino.


“Hahahahahahahaha … Kurang lengkap … Om setan mesum …. Hahahaha,” ucap Ning yang tak kuat menahan tawa, begitu pun dengan Dino yang ikut tertawa. Sementara Athar nampak kesal melihat mereka berdua.


“Kenapa sikapnya pada ku dan pada Dino begitu berbeda?” gumanya dalam hati sembari menatap tidak suka pada Dino dan Ning yang masih menertawakannya.


--------------- TBC-------------


************************


Happy Reading ….

__ADS_1


__ADS_2