NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Bibirku ....!!!


__ADS_3

Ning yang merasakan kesedihan begitu dalam mengingat semua hal menyakitkan yang pernah dialaminya, entah dalam keadaan sadar atau tidak, menumpahkan air matanya dalam pelukan orang lain. Padahal biasanya ia selalu menyembunyikan kesedihannya serta air matanya dari siapa pun.


“Huhuhuhuhu …. Hiks hiks ….”


Athar yang melihat hal itu, hanya bisa berdiam diri tanpa berkomentar apa pun. Baru kali ini ia melihat sisi lain dibalik wanita yang selalu bersikap galak, ceplas- ceplos dan sering berdebat dengannya itu.


Hatinya merasa terenyuh seolah bisa merasakan kesedihan yang Ning rasakan. Sesungguhnya ada rasa keinginan untuk membalas pelukan Ning atau sekedar mengusap kepala Ning untuk menenangkannya. Namun entah mengapa tangannya terasa berat untuk melakukan hal itu.


“Kasihan kamu, Ning … ternyata hidup mu semalang itu ….” Lirihnya dalam hati sembari menatap sendu kepala wanita yang memeluknya dengan erat itu.


Ia merasa bingung harus berbuat apa untuk menghibur Ning. Sepertinya ia merasa takut jika salah bicara lagi yang nantinya bisa menyinggung perasaan Ning. Namun lama kelamaan ia pun merasa tidak nyaman jika harus terus dalam posisi seperti itu.


Walau bagaimana pun ia tetaplah seorang pria normal yang jika terus dipeluk oleh seorang wanita, lama- kelamaan jiwa kelelakiannya bisa meronta- ronta bangkit.


Ia mulai merasakan atmosfer panas dalam tubuhnya. Bukan hanya itu, air mata Ning yang sudah membasahi bajunya pun mulai tembus pada kulit dadanya. Gelenyar aneh tiba- tiba muncul begitu saja.


Athar menghela nafas panjang untuk menstabilkan kegugupannya agar dirinya tetap tenang.


“Ning … mau sampai berapa lama lagi kau menangis seperti ini? Kemeja ku sudah basah ini,” akhirnya ia bersuara dengan bersikap sebiasa mungkin.


“Huhuhuhu … hiks hiks ….” Ning sama sekali tak menjawab, ia masih terus menangis.


“Oh … apa ini hanya alasan mu saja agar bisa berlama- lama memeluk ku?” goda Athar yang berusaha agar Ning melepaskan pelukannya.


“Srrooookkk…” Ning menyedot kembali sesuatu yang hendak keluar dari lubang hidungnya dengan suara nyaring.


“Ih … kau jorok sekali ….” sontak Athar melepaskan pelukan Ning dan menjauhkan tubuh Ning darinya.


“Kenapa dilepas sih? Kan aku belum kenyang nangis nya … huhuhu hiks hiks,” protes Ning yang masih menangis sampai ia sesenggukan. Ia menatap kesal pada Athar, dan Athar pun balik menatapnya dengan terheran- heran.


“Oh ya ampun …Mau nangis berapa lama lagi? Nanti air mata mu bisa kering itu,” ucap Athar menggelengkan kepalanya merasa tak habis pikir.


Ning yang masih sesenggukan menundukkan kepalanya. Nampaknya ia baru menyadari dan merasa malu jika wajah kusutnya terus dipandangi oleh Athar.


“Kau itu sudah cukup lama menangis, masa masih belum lega? Sudah berhenti nangisnya, cuci wajah mu sana … berantakan sekali itu….”


Ning pun akhirnya berhenti menangis. Ia mengelap wajahnya dengan telapak tangan. Dengan langkah gontai ia beranjak pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang sudah basah dengan air mata.


Selang beberapa saat Ning pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang nampak segar meski masih terlihat sembab dan matanya agak merah.


Ia melangkah menghampiri Athar yang sedang berdiri di depan meja makan.


“Nih minum dulu ….” Athar memberikan segelas air minum pada Ning.


Ia yang masih sesenggukan pun menerimanya lalu duduk, kemudian minum.


“Eug ….” Ning yang sudah menghabiskan air minumnya dalam sekali teguk langsung bersendawa.


"Terimakasih ….” ucap Ning meletakan gelas di atas meja.


“Ih, kau itu ya … Sedang sedih pun tak bisa menjaga kesopanan,” ejek Athar lalu duduk di kursi yang saling berhadapan dengan Ning dan hanya terhalang meja.


“Tuan Om kapan datang?” tanya Ning tak memperdulikan ejekan Athar.


“Tadi saat kau sedang bicara pada Singgih ….”


“Kok gak kedengaran suara mobil berhenti di depan?”


“Aku naik ojek ke sini,” ucap Athar.


“Gak mungkin ….” Ning tak percaya.


“Baiklah, kalau begitu aku jalan kaki dari kantorku sampai ke sini,” ucap Athar meyakinkan.


“Itu lebih mustahil ….” Ning lebih tak percaya.


“Hahahahaha … Aku senang kau sudah kembali seperti biasanya ….” Athar malah tertawa.


“Maksudnya?” Ning nampak heran.


“Maksudnya sudah enggak termehek- mehek kayak tadi … Kan bisanya kau selalu galak pada ku, hehehe ….” ucap Athar tersenyum, sedangkan Ning malah cemberut.


“Hei, tolong itu wajah dikondisikan … Udah kusut, bibirnya dimonyong- monyongin gitu lagi ….” Athar kembali menggoda Ning. Sedangkan Ning malah mendengus kesal dan membuang muka.


“Hahahaha … ternyata kau lucu sekali kalau ngembek gitu ….” Athar malah menertawakan Ning.


“Tertawa saja tertawa … kau itu suka sekali mengejek ku!!” Ning menggerutu kesal.


“Oh ya … ternyata kau punya keberanian juga untuk menasehati si Singgih sialan itu ….” Athar memuji Ning.


“Hah? Jadi Tuan Om mendengar semua pembicaraan kami?” ucap Ning terkejut.


“Hmmm ….” Athar mengangguk.


“Memangnya tidak ada yang pernah menasehatinya soal sikapnya pada Nana?” tanya Ning heran.


“Tentu saja semua orang sudah bosan menasehatinya … Bu Asri saja sampai sakit memikirkan kelakuan anaknya yang keras kepala itu .…”


“Apa yang semalam tuan Om hajar itu dokter Singgih …” tanya Ning menebak.


“Memangnya siapa lagi?”


“Bukan seperti itu cara nesehatin orang ….”


“Aku sudah muak dengan nya … Bicara baik- baik sudah, bicara kasar apalagi, sampai menghajarnya pun tak membuat dia merubah sikapnya pada Nana ….” cerocos Athar.


“Lalu sekarang dokter Singgih dimana?” Ning mengedarkan pandangannya.


“Tentu saja dia pergi … Mustahil dia akan tinggal disini menjaga Nana, walaupun kau bilang akan pulang ….”


Ning menghela nafas panjang. Ia kembali terlihat sedih.


“Apa suratnya diberikan sama Tuan Om?”


“Surat apa?” Athar malah balik bertanya.


“Surat pemberitahuan dari sekolah Nana ….”


“Oh, surat yang kalian bicarakan tadi?”


“Iya,” angguk Ning.


“Memangnya itu surat apa?” tanya Athar penasaran.


“Itu surat pemberitahuan tentang acara rekreasi sekolah Nana dan orang tua murid diperkenankan ikut. Kalau gak salah nantinya ada perlombaan gitu dengan tema aku dan ayah …."


“Kapan acaranya?” tanya Athar.


“Satu mingguan lagi kalau gak salah, Sabtu depan ...."


“Biar aku saja yang menghadirinya,” ucap Athar.

__ADS_1


Ning menghela nafas kasar. Nampak raut kekecewaan di wajahnya.


“Ning ….” panggil Athar.


“Iya.” sahut Ning.


“Apa kau benar- benar akan pulang?”


“Tentu saja, mana mungkin aku terus- terusan tinggal di sini ….”


“Tolong tinggalah sementara disini untuk mengurus Nana selagi Bu Asri dirawat … Aku tidak bisa membawanya ke apartment ku karena Mami kadang suka datang kesana, jadi di sana tidak aman untuk Nana ….” pinta Athar.


“Tapi, bukannya di sini ada Bi Sumi?”


“Bi Sumi hanya membantu membersihkan rumah ini, mencuci dan memasak … Dia datang pagi dan pulang sore setelah memasak untuk makan malam. Jadi tetap saja, malam nya Nana akan sendirian, hari ini pun dia tak datang karena sakit … Lagi pula bukankah kau belum mendapatkan pekerjaan? Bagaimana kalau kau bekerja sebagai pengasuhnya Nana? Aku yang akan menggaji mu ….” ucap Athar panjang lebar hingga ia memberi tawaran pekerjaan pada Ning.


Ning tak langsung menjawab tawaran Athar. Ia malah terdiam dan nampak memikirkan sesuatu.


“Lagi pula kau akan pulang kemana, Ning? Kak Ros bilang rumah mu sudah disita rentenir … Dan malam itu Kinanti menemukan mu pingsan di jalanan, sedang apa kamu malam- malam di sana?” tanya Athar yang masih penasaran kemana perginya Ning saat menghilang kemarin- kemarin.


Ning menatap Athar dengan raut wajah serius.


“Aku tinggal di jalanan, dan setiap malam aku mencari mangsa untuk menjual diri … Itu kan yang Tuan Om pikirkan tentang ku?”


Athar tertegun mendengar ucapan Ning. Ia kembali teringat dengan kesalahannya.


“Ning, aku benar- benar minta maaf sudah menuduh mu yang tidak- tidak … Kalau saja aku tahu jika malam itu Kak Ros yang menyuruh mu tidur di kamar ku untuk menyembunyikan Nana dari Mami, aku tidak akan salah paham dan marah pada mu … Aku benar- benar menyesal, Ning ….” ucapnya dengan penuh penyesalan sembari menundukkan kepalanya.


Ning malah tersenyum melihat raut wajah Athar dan nampak menahan tawa.


“Aku hanya bercanda Tuan Om … tidak usah memelas begitu … hehehe,” ucap Ning terkekeh.


Athar menegakkan kepalanya dengan ekspresi wajah tak percaya. “Jadi kau sudah memaafkan ku?”


“Emm … gimana nanti deh,” Ning malah menggodanya.


“Apa?” Athar nampak keberatan.


“Hehehehe … iya iya aku sudah memaafkan Tuan Om … Tapi ada syaratnya ….”


“Apa syaratnya?”


“Hapus foto itu.” Ning akhirnya menemukan cara menghilangkan benda yang selalu dijadikan ancaman oleh Athar.


“Foto apa?” tanya Athar heran.


“Foto saat Tuan Om memeluk ku ….” ucap Ning memperjelas.


“Eng, soal itu aku minta maaf … Karena sebenarnya foto itu tidak pernah ada … aku hanya mengarang saja supaya kau mau menuruti ucapan ku, hehehe ….” ucap Athar tersenyum kikuk


“Apa? Kau itu benar- benar ya ….” Ning kembali merasa kesal pada Athar.


“Jadi kamu mau pulang kemana? Biar aku mengantar mu ….” Athar malah mengalihkan pembicaraan untuk menghindari kemarahan Ning.


“Aku juga belum tahu mau pulang kemana … Tapi, Nyonya Ros sudah mengembalikan buku tabungan dan ATM ku, jadi aku akan menggunakan uang itu untuk ngontrak rumah sama modal usaha juga kayaknya … Zaman sekarang cari pekerjaan itu susah banget, apalagi aku hanya lulusan SMA.” Ning malah curhat, ternyata Athar berhasil mengalihkannya.


“Lalu, kemarin- kemarin kamu tinggal dimana? Kak Ros sampai mengerahkan orang untuk mencari mu, dan setiap hari dia begitu mengkhawatirkan mu ….” Athar kembali mempertanyakan hal itu karena tak kunjung mendapat jawaban.


Ning menghela nafas sejenak.


“Saat aku pulang, rumahku dikunci dan di gembok dari luar. Tetanggaku bilang rumah itu sudah disita oleh rentenir, karena pamanku tak bisa membayar hutangnya … Aku tak bisa menerima hal itu, dan malam itu aku tidur di teras rumah, karena tak tahu harus pergi kemana dan aku tak punya uang sama sekali.” Ning menundukkan kepalanya, ia terlihat sedih mengingat hal itu.


“Besoknya aku menjual hape-ku dan uangnya hanya cukup untuk menyewa sebuah kos- kosan kecil … Setiap hari aku berkeliling mencari pekerjaan, tapi aku tak kunjung mendapat pekerjaan. Dan akhirnya aku menjadi buruh cuci keliling, dengan begitu aku bisa mendapatkan uang untuk makan.”


“Maafkan aku, Ning … karena kesalahanku, kamu mendapat banyak kesulitan ….” ucapnya lirih.


“Hehh, gak apa- apa kali Tuan Om … Aku sudah terbiasa hidup susah dan berjuang sendiri sejak kecil,” ucap Ning tersenyum simpul.


“Ayok aku antar pulang ke rumah mu,” ajaknya menawarkan diri.


“Itu sudah bukan rumah ku lagi, untuk apa aku kesana?”


“Kita temui rentenir itu dan menebus rumah mu.”


“Aku tidak punya uang sebanyak itu … Mungkin rumah itu tidak akan bisa kembali lagi pada ku.”


“Aku yang akan menebusnya ….” ucap Athar yakin.


“Tidak usah Tuan Om, aku tidak ingin merepotkan siapa pun.” Ning menolak.


“Anggap saja itu sebagai permintaan maaf ku atas semua kesalahan ku pada mu ….”


“Tidak usah Tuan Om … Aku ucapkan terimaksih atas niat baik mu, tapi aku tidak ingin punya hutang pada siapa pun … Lagi pula sudah mulai mengikhalskan rumah itu.” Ning lalu bangkit dan berdiri.


“Mau kemana? Apa kau benar- benar akan pergi meninggalkan Nana sendirian di sini?” Athar sepertinya takut jika Ning benar-benar pergi lagi.


“Aku mau masak untuk makan siang, mumpung Nana masih tidur.”


“Tidak perlu masak, kita akan makan di luar sekalian mengajak Nana jalan- jalan.”


“Hah?” Ning nampak heran.


“Semalam aku sudah berjanji padanya, bukan? Kau siap- siap saja … nanti setelah Nana bangun kita berangkat.”


“Baiklah ….”


“Ambil godie bag yang ada di ruang tamu.”


“Apa? Jangan bilang kau membelikan ku pakaian dalam lagi.” Ning mengira-ngira.


“Hahaha, tentu saja bukan.” Athar tertawa mengingat kekonyolannya.


“Lalu apa?” tanya Ning lagi.


“Lihat saja sendiri ….” Athar tak mau mengatakannya. Ning pun melangkahkan kakinya untuk pergi.


“Ning …” Athar memanggil Ning lagi.


“Apalagi?” tanya Ning yang menghentikan langkahnya.


“Apa semua pakaian dalamnya pas dengan ukuran mu?” tanya Athar dengan tersenyum lebar.


Ning membuang muka dan melengos pergi begitu saja dengan raut wajah kesal.


“Dasar, sekali mesum tetap mesum … Pertanyaan macam apa itu?” Ning mengerutu kesal.


“Eh, tapi bagaimana dia bisa membeli pakaian dalam yang benar- benar pas dengan ukuran ku?”


“Oh astaga … apa dia mengukur sendiri dengan tangannya saat aku tidur?”


“Mentang- mentang sudah lama menduda, dia pikir bisa megang- megang gue dengan seenak jidatnya apa? Awas kau kudanil mesum!!!” Ning yang merasa kesal terus menggerutu dalam hatinya.

__ADS_1


Ia pergi mengambil empat godie bag yang disebutkan Athar yang ternyata isinya beberapa dres wanita serta sepatu dengan brand ternama. Ia pun membawanya ke kamar Nana.


Setelah Nana bangun, Ning memandikannya dan mereka pun bersiap untuk pergi bersama Athar.


Keduanya pun menghampiri Athar yang sudah menunggu di ruang tamu. Dia pun ternyata sudah berganti pakaian.


“Dady ….” Nana langsung berlari menghampiri Athar.


“Wah wah, peri kecil ku cantik sekali,” ucapnya lalu menggendong Nana. Ia melihat ke arah Ning. “Kenapa gak pakai baju yang ku belikan?”


“Oh, itu untuk ku? Kirain untuk mabak Kinanti ….” ucap Ning pura- pura.


“Ganti bajumu!!” titah Athar.


“Gak mau!!” tolak Ning.


“Baiklah kalau gitu kita tidak jadi pergi ….”


“Aaaaaahh ... Dady ayok kita berangkat ….” Nana langsung merengek saat mendengar ucapan Athar.


“Peri kecil ku, kita akan berangkat setelah kakak peri mu itu berganti pakaian. Tapi seperinya Kakak peri gak mau kalau kita pergi jalan- jalan ….” Athar akhirnya memanfaatkan Nana agar Ning menurutinya, karena ancaman foto hoak sudah tidak berguna lagi.


“Kakak peri ayok cepat ganti bajunya, Nana pengan main mandi bola,” rengek Nana pada Ning.


Ning mencebikkan bibirnya dan menatap tidak suka pada Athar. Dengan terpaksa ia pun kembali ke kamar Nana untuk berganti pakaian.


Setelah beberapa saat ia pun kembali dengan mengenakan pakaian yang sudah dibelikan Athar. Ketiganya pun berangkat, dengan Athar yang menyetir sendiri mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Ning yang duduk di jok depan sebelah Athar yang mengemudi, terus mengacuhkan Athar dengan wajah yang menghadap kaca pintu mobil. Nampaknya ia masih sangat kesal pada si om tamvan nya itu.


Meski Athar sudah berusaha mengajaknya bicara, namun tak membuat Ning menoleh ke arah nya. Bahkan ia hanya menjawab dengan ‘hmmm’ atau ‘iya’ atau ‘ tidak’. Dan hal itu membuat Athar merasa gemas padanya.


“Hei, kita sudah sampai … apa kau tidak mau keluar?” ucap Athar yang sudah membukakan pintu untuk Ning dari luar. Kini mereka berada di parkiran sebuah mall besar.


“Aku nunggu di sini saja?” ucapnya ketus dengan memalingkan wajah.


“Yakin?” goda Athar.


“Hmmm ….”


“Peri kecil, kakak peri nya gak mau ikut kita main mandi bola,” ucap Athar pada Nana yang berdiri di sampingnya. Nana pun menghampiri Ning lalu menarik tangannya.


“Kakak peri ayok mandi bola sama Nana... ayok ayok ….” rengeknya menggoyangkan tangan Ning.


Ning akhirnya menolehkan wajahnya dan mendelik tajam pada Athar yang tersenyum lebar padanya.


“Kakak peri ayok kita turun ….” Nana kembali merengek.


“Iya, baiklah ….” Ning pun dengan terpaksa menuruti permintaan Nana yang terus merengek. Ia pun turun dari mobil.


Tangan kanan Nana memegang tangan Athar, sedangkan tangan kirinya memegang tangan Ning.


“Ayo kita kemon ….” ucap Nana dengan penuh semangat. Ia menarik tangan Athar dan Ning, membawa keduanya berjalan bersamanya.


Ning yang melihat Nana begitu bahagia dan bersemangat, tak kuasa melepaskan tangannya. Walau sebenarnya ia tak mau melakukannya karena masih sangat kesal pada Athar yang terlihat senang dengan ulah Nana itu.


Ketiganya pun berjalan memasuki mall tersebut. Melihat hal itu, orang- orang akan mengira kalau mereka adalah ayah, ibu dan anak sungguhan.


Mereka pergi makan dan setelah itu menemani Nana menjajal permainan di arena bermain di mall tersebut. Dan hal itu membuat Ning mencair melupakan kekesalannya pada Athar, sehingga bisa tertawa ceria bersama Nana juga Athar.


Nana kini memilih tujuan utamanya, yakni arena mandi bola lengkap dengan mainan lainnya. Namun Athar dan Ning tidak ikut masuk, mereka hanya menunggu dan memperhatikan Nana dari luar arena mandi bola saja dengan duduk di kursi panjang di luar arena permainan tersebut.


“Nana senang banget kayaknya ….” ucap Ning yang terus memperhatikan Nana.


“Iya … kalau dia sedang sedih, aku sering membawanya ke sini ….” ucap Athar tersenyum melihat keceriaan Nana.


“Pantas saja, Nana sejak dari rumah semangat sekali ingin mandi bola ….”


“Kita sudah seperti orang tua yang sedang mengasuh anaknya, ya ….” ucap Athar tersenyum dan melirik sepintas pada Ning.


“Apa?” Ning langsung menoleh pada Athar.


“Hmmmm ….” Athar malah tersenyum lebar.


“Hahaha, lebih tepatnya … tuan om seperti Om- om yang sedang mengasuh dua keponakannya … hahaha,” ucap Ning tertawa geli.


“Apa? Kau pikir orang- orang akan menyangka dirimu itu keponakan ku? Yang benar saja … Aku terlihat muda dan gagah begini, kok dikira om om ….” Athar tak terima disebut om- om.


“Emang iya kan, Om Duda … hahaha,” Ning malah mengejeknya.


“Apa kau bilang? Om Duda?” Athar terkejut sekaligus heran mendengar sebutan baru Ning pada dirinya.


“Iya, Om Duda ….” angguk Ning.


“Siapa bilang aku ini duda?” ucap Athar mempertanyakan.


“Hah? Bukannya Tuan Om ini emang sudah duda?” giliran Ning kini yang terkejut.


“Heh, siapa yang mengatakan hal itu pada mu?” Athar kembali mempertanyakan hal yang sama.


“It itu … eng … Emangnya Tuan Om ini bukan duda gitu?” Ning yang malah balik bertanya.


“Duda apa?” Athar seolah tak merasa.


“Hahh? jangan- jangan Utari dulu membohongiku saat dia bilang kalau si tuan om ini duda … Mana dia bilang duda beda dari yang lain… Aduh, malu banget gue… Jadi kelihatan sotoy begini ….” gumam Ning dalam hati. Hingga ia tak menyadari jika Athar bergeser mendekat padanya.


“Hei … kenapa malah melamun?” Athar berbisik di telinga Ning, dan membuatnya terperanjat membuyarkan lamunannya. Hingga ia secara reflex menoleh ke arah Athar.


Cup …


Tanpa sengaja bibir Ning beradu dengan bibir Athar. Keduanya yang sama- sama terkejut membelakkan matanya.


“Alamak … apaan ini … Emaaakk aku mau pingsan …..” jerit Ning dalam hati. Sontak ia pun segera menjauhkan dirinya dari Athar.


Gedebruk …


Ning pun terjatuh dari kursi tempatnya duduk, hingga membuatnya tergeletak di lantai dengan jemari yang menyentuh bibirnya. Matanya melotot tapi kesadarannya seperti hilang.


“Bibir ku ….!!!!” Ning menjerit seperti sudah kehilangan sesuatu yang berharga miliknya.


Athar sepertinya baru tersadar dari shock saat mendengar suara Ning. Ia yang melihat Ning terkapar di lantai langsung bergegas menghampirinya.


“Ning, kau tidak apa- apa?” tanyanya cemas.


Ning yang melihat wajah Athar yang berjongkok di sebelahnya yang masih tergeletak di lantai, kembali shock mengingat apa yang baru saja terjadi.


Tiba- tiba semuanya menjadi gelap hingga Ning pun tak sadarkan diri.


-------------------- TBC----------------


**************************

__ADS_1


Happy Reading …


__ADS_2