
Ting ... drt drtt drrtt …
Ponsel dalam saku piama Ning berbunyi disertai getaran. Ia mengambil ponselnya, kemudian melihat layar ponselnya dan ternyata ada pesan masuk. Ia pun membukanya.
KuDaniel Mesum
“Nona galak, kudanil mu ini pulang dulu ya.”
“Lain kali saja aku ajarkan main kuda- kudaannya”
“hahahaha”
“Dasar berengs*k … siapa juga yang ingin main kuda- kudaan dengan mu!!” Ning menggerutu kesal tanpa menjawab pesan dari Athar. Ia memasukan ponselnya ke dalam sakunya lagi, kemudian keluar dari kamar Kinanti.
Ceklek ….
“Loh, Pak Singgih baru pulang?” Ning berpapasan dengan Singgih yang baru masuk ke dalam rumah dengan menggendong Nana yang tertidur.
“Iya … Tadi saya membawa Nana ke makam Diandra, lalu membawanya ke rumah saya … Tapi dia tak mau tidur di sana, katanya tidak ada mainan dan bonekanya,” ucap Singgih yang kemudian membawa Nana ke kamar untuk menidurkannya.
Setelah menyelimuti Nana, ia mencium kening putrinya.
Cup
“Papa sangat menyayangimu Dayana, putriku ….” ucapnya kembali mencium kening putrinya. Dengan berat hati ia pergi meninggalkan sang putri yang tertidur lelap itu.
“Mbak, saya titip Nana ya … Besok saya masuk kerja lagi …"
"Saya minta nomor kontak Mbak Ning, karena mungkin saya tidak bisa setiap hari datang ke sini … Klinik dan rumah sakit tempat saya praktek terlampau jauh dari sini ….” ucapnya mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.
“Baik, Pak ….” Ning menyebutkan nomor ponselnya. Singgih pun mengetik dan menyimpan dalam kontak telepon-nya.
“Sekalian nomor rekeningnya, Mbak … Jadi untuk kebutuhan Nana saya akan transfer ke rekening Mbak Ning ….”
Ning pun memberikan nomor rekeningnya.
“Jangan lupa kunci rumahnya ya … Tadi saya kaget pas masuk, pintunya ternyata tidak dikunci ….” ucapnya mengingatkan Ning
“Baik, Pak … Maaf tadi ada Pak Daniel di sini … Saya pikir beliau belum pulang, karena tadi saya ada di dalam kamar ….” ucap Ning memberi alasan.
“Kalau begitu saya permisi ….” Singgih berpamitan untuk pergi.
“Iya, Pak … Hati- hati ….” ucap Ning.
Singgih mengangguk sembari tersenyum.
“Oh iya, Pak … Jangan lupa hari sabtu nanti di sekolahnya Nana ada acara murid bersama orang tuanya ….” ucapnya mengingatkan Singgih tentang surat pemberitahuan dari sekolah Nana dulu.
“Iya, insyaallah saya hadir … Saya pergi dulu, Mbak … Assalamu’alaikum ….” ucapnya lalu beranjak pergi.
“Wa’alaikumsalam ….” Ning mengantarkan Singgih dengan mengikutinya dari belakang hingga ke depan pintu.
Ia terus memandangi punggung Singgih, hingga pria itu keluar dari pintu pagar besi dan masuk ke dalam mobilnya yang diparkir di pinggir jalan.
“Udah ganteng, ramah, baik lagi … Duda perfecto ….” gumanya sembari senyam senyum sendiri.
Ting … Drtt drrt drrttt …
Ning nampak bersemangat melihat ponselnya yang ia kira mendapat pesan dari Singgih.
KuDaniel Mesum
“Segitunya ngeliatin si Singgih …”
“Naksir ya?”
“Ingat sama perjanjian kita!”
Ning membelakan matanya setelah membaca pesan dari Athar.
“Sialan … ternyata si breng*sek mesum itu belum pulang,” umpatnya dalam hati.
Ia mengedarkan pandangannya, dan benar saja ada sebuah mobil dengan mesin yang menyala, tapi berdiam diri di seberang sana.
Ning bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu. Ia pun berlari ke kamar Nana untuk menemaninya tidur agar Athar tak mengganggunya lagi. Tak lupa, ia pun mematikan ponselnya.
**
Keesokan harinya, pagi- pagi sekali Bu Asri sudah pulang dari rumah sakit bersama Kinanti. Nana yang sempat menangis karena tak mendapati Singgih di rumah itu pun terlihat gembira melihat neneknya sudah sembuh. Dan beruntung ia masih bisa dibujuk untuk pergi ke sekolah setelah melakukan video call dengan Singgih.
Selama beberapa hari ini , Athar dan Ning tak pernah saling bertemu, karena Athar bertugas ke luar kota. Namun ia selalu mengganggu Ning, baik itu lewat pesan singkat atau pun menelponnya
Athar berperilaku layaknya seorang kekasih sungguhan. Ia mewajibkan Ning melapor kemana pun ia pergi dan dengan siapa perginya. Bahkan yang lebih parah, Ning harus mengirimkan foto kegiatan yang dilaporkannya itu.
Ning yang awalnya merasa kesal dan malas meladeni Athar, kini justru sudah terbiasa dan menikmatinya. Athar telah membuat hari- harinya terasa berbeda dari sebelumnya.
Tanpa ia sadari, ia selalu nampak berbunga- bunga layaknya wanita yang sedang kasmaran. Meski lebih sering dibuat kesal, tapi itulah yang membuatnya merindukan sosok pria menyebalkan itu.
“Sudah hampir lima hari ini gak ketemu sama si kudanil … Kapan dia akan pulang ya??” gumamnya nampak sedih.
“Ck, arghhh … sadar sadar Ning, dia itu cuma pacar bohongan bukan beneran ... Jangan terlalu berharap … lo sama dia tuh bagaikan hidung dan upil, gak bisa nempel lama- lama yang kemudian dibuang begitu saja ….” ucapnya memperingatkan dirinya sendiri.
Athar memang selalu berkirim pesan dan menelpon Ning, tapi sekali pun ia tak pernah menghubunginya lewat video call. Sedangkan setiap menelpon Nana atau saat menelponnya dan minta bicara dengan Nana, Athar pasti memindahkan sambunganya telponnya ke video call seperti hari ini.
“Iiiihhh, rasanya aku ingin sekali menonjok wajahnya jika dia muncul d hadapan ku!!!"
"Curang banget sih, sama Nana dia selalu video call, giliran sama aku gak pernah … Sekalinya aku mengintipnya sedang video call dengan Nana, pasti dia akan langsung mematikannya … sebal sebal sebal!!!”
Ning tak hentinya menggerutu kesal, setelah ia keluar dari kamar Nana yang baru saja tidur siang setelah selesai video call dengan Athar.
Ingin rasanya ia mengatakan pada pria itu, jika ia begitu merindukannya. Namun itu adalah hal yang sangat memalukan bagi dirinya. Padahal setiap hari selalu berkomunikasi, tetap saja rindu semakin menggebu. Lumayan lah, setidaknya mendengar suara si om tamvan bisa sedikit mengobati kerinduannya.
“Kenapa Ning?” tanya Bu Asri yang sedang duduk di ruang tengah merasa heran melihat Ning nampak kesal dan uring-uringan.
“Eh, Bu Asri … hehehe,” Ning merasa malu terciduk.
__ADS_1
“Kenapa? Kamu kayak kesal gitu ….” tanya Bu Asri.
“Eng … enggak apa-apa kok, Bu ….” Ning menjawab gelagapan.
“Apa Nana yang membuat mu kesal?” tanya B Asri menebak-nebak.
“Bukan… engak kok, Bu … Nana baru saja tidur, tadi aku kesal setelah selesai telponan sama teman aku … Dia emang suka bikin aku kesal dan naik darah … hehehe ….” Ning nampaknya enggan menyebutkan jika dia kesal pada Athar.
“Oh, gitu toh ….”
“Iya Bu … hehe … Saya permisi mau mandi dulu ….” ucapnya berpamitan sembari menggaruk lengannya. Entah itu karena memang gatal, atau gugup.
“Silahkan ….” ucap Bu Asri tersenyum.
Ning bergegas ke kamar mandi, sebelum Bu Asri banyak bertanya padanya. Nampaknya ia tak ingin orang tahu, jika ia sedang kesal pada Athar dan takut bertanya tentang hubungan mereka.
**
Sorenya, Singgih datang ke rumah Bu Asri untuk melakukan latihan gladi resik bersama putrinya. Keduanya pun latihan di halaman depan untuk mengikuti perlombaan besok di sekolah Nana.
“Sayang, latihanya sudah dulu ya… Nana pasti capek, kita istirahat yuk ….” ucapnya mengajak berhenti latihan.
“Tapi malam ini Papa bobo di sini kan?” tanya Nana penuh harap.
“Tentu saja, kan biar besok bisa berangkat bersama ke acara di sekolah kam, sayang ….”
“Hore … hore … malam ini Nana bobo sama Papa ….” Nana berjingkrak-jingkrak karena senang.
“Nana ... ini minum dulu, pasti capek ya ….” Ning menghampiri dengan membawa botol minuman dan memberikannya pada Nana.
“Trimakasih kakak peri ….” Nana menerima botol yang tutupnya sudah dibuka oleh Ning. Ia pun meminumnya.
“Sama- sama ….” ucap Ning tersenyum.
“Ayok kita masuk ….” ajak Singgih pada putrinya yang sudah selesai minum.
“Gak mau … Nana mau main sama kakak peri,” tolak Nana yang malah mengambil bola dari atas rerumputan bekas latihan tadi.
“Baiklah ….” Singgih pun beranjak meninggalkan Nana. Namun ia tidak masuk ke dalam rumah, melainkan ia menghampiri dan duduk bersama Bu Asri di kurs teras rumah.
“Gih, minum dulu teh-nya mumpung masih panas….” ucap Bu Asri.
“Terimakasih, Bu ….”
“Bukan ibu yang buat, tapi Ning ….”
“Hehehehe ….” Singggih hanya tersenyum.
“Gih ….” panggil Bu Asri.
“Iya, Bu ….” sahutnya.
Bu Asri menghela nafas panjang. “Gih, apa kamu tidak berniat untuk menikah lagi?” tanya beliau.
“Bu … Ibu tahu kan kalau aku sangat mencintai Diandra … Dan sampai kapan pun perasaan ku akan tetap sama, meskipun dia sudah tiada ….”
“Ibu tidak usah khawatir, aku yang akan mengurus Dayana ...." Singgih tetap memberi alasan untuk menolak.
“Kamu kan kerja di klinik sama di rumah sakit … Belum lagi suka ada panggilan darurat … Tidak mungkin kan kamu bisa menjaga Dayana setiap saat ….” Bu Asri masih berusaha membujuk.
“Dayana kan punya pengasuh, Bu ….” ucap Singgih.
“Iya memang Nana punya pengasuh … Figur seorang ibu dan pengasuh itu berbeda, Gih ….”
“Bu___”
“Ibu tahu kamu sangat mencintai Diandra, tapi dia kan sudah meninggal dan tak akan kembali lagi ke dunia ini… Ibu yakin, di sana dia akan bahagia jika melihat kamu dan putri kalian bahagia juga di sini ….”
“Kamu masih muda, Gih … masa depan mu masih panjang … Kamu juga pasti ingin kan putri mu tumbuh dengan keluarga yang utuh, kan? Sejak lahir ia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, bahkan dari kamu, Gih ….”
“Ibu juga setelah Bapak meninggal tidak pernah menikah lagi, kan?” Singgih malah membalikan pertanyaan.
“Itu hal yang berbeda … Dulu bapak mu meninggal saat kamu masih kuliah di kedokteran dan Kinanti masih sekolah … Lelaki mana yang mau menikahi janda yang memerlukan biaya banyak untuk pendidikan anak- anaknya … Makanya ibu lebih memilih menjanda dan bekerja keras untuk kalian ….” ucap Bu Asri memberi penjelasan.
“Tapi, lain halnya dengan kamu, Gih … Kamu membutuhkan seorang istri agar kamu dan anak mu yang masih kecil itu ada yang ngurus, ada yang merhatiin…. Lihat dirimu, terlihat kurus begitu …. ” Bu Asri terus berusaha membujuk.
“Dan perlu kamu tahu, Nana beberapa kali pernah bertanya pada ibu … Kenapa mama peri pergi ke surga, gak di sini saja sama Nana? Mamanya teman- teman suka ke sekolah, nungguin mereka sekolah. Tapi mama peri Nana gak ada… Tak jarang dia menangis karena merasa tidak disayangi oleh ibunya ….”
Singgih diam termenung. Ia menoleh, lalu memandangi putrinya yang sedang asyik bermain bersama Ning, dengan tatapan sendu hingga beberapa saat. Ia menghela nafas panjang. Namun, tak lagi membalas ucapan ibunya. Dan setelah menyeruput teh-nya, ia pun bangkit.
“Aku mandi dulu, Bu ….” ucapnya lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
Bu Asri mendengus pasrah. “Anak itu memang selalu keras kepala ….” lirihnya sedih.
Bu Asri memandangi cucunya yang terlihat begitu gembira bermain bersama Ning. Bu Asri tersenyum sumringah melihat hal itu. Namun, nampaknya ada hal lain yang membuat beliau begitu senang.
“Sudah dulu ya mainnya .. Nana kan belum mandi, udah bau acem ih … Mandi dulu yuk ….” ajak Ning.
“Gak mau … masih mau main ….” tolak Nana.
“Loh, badannya Nana kan udah bau acem … Nanti ada kecoa merayap ke badannya Nana, ihh serem ….” ucap Ning menakut-nakuti.
“Ih gak mau ada kecoa ….” Nana bergidik ngeri.
“Kalau gitu kita mandi, terus pakai sabun wangi dan parfum wangi strobery yang baru dibeliin Dady itu loh ….” bujuk Ning.
“Mau mau … tapi, bolanya juga dimandiin ya ….” Nana memberi syarat.
“Emmm … boleh deh … Ayo kita mandi ….” ajak Ning, lalu menuntun tangan Nana.
“Sudah selesai mainnya?”tanya Bu Asri sat Mana dan Ning sudah sampai teras.
“Sudah nenek … Kata kakak peri, Nana bau acem nanti dirayapin kecoa jadi harus mandi biar wangi stobery ….” ucap Nana.
“Ya ampun, serem sekali kalau ada kecoa merayap ke badan ya ….” ucap Bu Asri.
__ADS_1
“Makanya Nana mau mandi biar wangi stroberi… yeyeyeye ...." ucapnya bersemangat.
Bu Asri tersenyum melihat Nana yang begitu senang. Pandanganya beralih pada Ning yang sedang menggaruk lenganya.
“Kamu digigit nyamu Ning? Kok garuk- garuk gitu?” tanya beliau.
“Gak tahu, Bu … Tiba- tiba gatel gini … Tapi gak ada bekas gigitan nyamuk atau semut kok ….” ucap Ning merasa aneh.
“Padahal tadi siang udah mandi ya … Mungkin karena keringetan ….” ucap Bu Asri.
“Iya, Bu … sepertinya gitu….”
“Yasudah kamu juga mandi aja biar gak gatal- gatal lagi," ucap Bu Asri menyarankan.
“Baik, Bu .. kami permisi dulu….”
“Iya ….” angguk Bu Asri.
Ning membawa Nana masuk kedalam untuk memandikannya. Bu Asri terus memandangi keduanya hingga tak terlihat lagi.
“Ning begitu dekat dengan Nana, padahal masih baru kenal … Dia juga anak yang rajin … Sepertinya di cocok menjadi ibunya Nana ….” gumam Bu Asri dalam hati sembari tersenyum.
*
Malamnya seusai menemani Nana menggambar dan mewarnai, Singgih menceritaan dongeng sebagai pengantar tidur putrinya. Sementara Ning tengah menonton TV di ruang tengah.
“Sedang nonton apa Ning?” tanya Bu Asri menghampiri.
“Nonton sinetron, Bu … hehehe.”
“Kamu kok garuk- garuk lagi? Apa kamu masih merasa gatal- gatal?” tanya Bu Asri heran.
“Iya nih, Bu … saya juga gak tahu kenapa … Padahal tadi sebelum shalat isya saya mandi lagi dan bahkan hari ini saya mandi sampai empat kali, Bu ….”
“Sebentar, ibu punya bedak tabur untuk gatal- gatal ….”
Bu Asri pergi ke kamarnya untuk mengambil bedak tersebut. Tak lama beliau pun kembali menghampiri Ning dan duduk di sofa bersebelahan dengannya.
“Ini bedaknya,” ucapnya memberikan bedak tabur kemasan botol tersebut.
“Kamu balurkan saja ke bagian yang terasa gatal .. Kalu bisa jaangan digaruk terus, takutnya nanti kulit mu bisa iritasi.….”
“Iya, Bu … terimakasih banyak ….” Ning menerima bedak tersebut dan mulai membalurkannya pada lengan dan kakinya yang terasa gatal.
“Em, saya mau taya sesuatu, boleh?” tanya Bu Asri ragu-ragu.
“Tentu saja boleh, Bu … Nanya doaang kan, Bu? Hehehe ….”
“Menurut kamu, Singgih itu bagaimana?” tanya beliau to the poin.
“Hah? Pak Singgih? Bagaimana gimana Bu maksudnya?” tanya Ning merasa kurang paham arah pertanyaan Bu Asri.
“Ya menurut pendapat kamu, Singgih itu orang yang seperti apa?” Bu Asri memperjelas pertanyaan nya.
“Oh … gitu maksud Ibu toh, hehehe … Pak Singgih orangnya baik, perhatian sama ibu dan Nana juga, sopan, solatnya rajin dan____” Ning tak melanjutkan ucapannya.
“Dan apa?” tanya Bu Asrsi penasaran.
“Ganteng, Bu …. Hehehe ….” ucap Ning malu-malu.
“Kamu ini ….” Bu Asri terkekeh dibuatnya.
“Emang bener Bu … Pak Singgih tuh udah tinggi, sembada, ganteng, seorang dokter lagi … Ya walaupun duda, tapi pasti banyak tuh Bu yang ngantri untuk dapetin cintanya Duda keren perfecto seperti Pak Singgih … hehehe." Ning bicara terus terang.
“Termasuk kamu, Ning?” tanya Bu Asri menyelidik.
“Hahhaha … Mana mungkin saya berani bermimpi mendapatkan Pak Singgih, Bu … Memangnya ini dunia sinetron dimana pelayan dinikahi oleh majikannya." Ning malah tertawa renyah.
“Ya bisa saja, kan? Cinta itu kan datangnya gak pilih kasih, Ning ….”
“Hahahaha … Ibu bisa aja ….” Ning menggeleng-gelengkan kepala sembari tertawa.
“Ning … awalnya saya merasa aneh dan heran, kenapa Nana bisa sangat dekat dengan kamu … Padahal, Nana tipikal anak yang susah sekali dekat dengan orang asing baik itu denga anak- anak atau orang dewasa … Tapi, sama kamu … Dia bisa langsung sedekat itu, bahkan sampai mau diajak pulang di hari pertama kalian bertemu ….”
Bu Asri menghela nafas sejanak. “Saya sampai bertanya- tanya, apakah ini sebuah pertanda, jika kamu bisa menjadi sosok seorang ibu untuk Nana?” tanya Bu Asri dengan raut wajah serius.
“Ap apa? Maksud Ibu_____?” raut wajah Ning berubah seketika dan berhenti tertawa.
“Apa kamu bersedia menjadi ibunya Nana?” tanya Bu Asri penuh harap.
“Hah? Apa?” tanya Ning terkejut.
“Iya, mau kah kamu menjadi ibunya Nana sekaligus istrinya Singgih ….” Bu Asri memperjelas maksud dari pertanyaannya.
“Hah?” Ning terkejut luar bisa mendengar ucapan Bu Asri. Ia terdiam mematung dengan mulut yang ternganga, karena tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Apa ini? Apa ini artiya aku sedang dilamar? Bu Asri melamar ku untuk putranya? Oh ya ampun, apa aku sedang dilamar??” gumam Ning dalam hatinya. Ia terhanyut dalam lamunan dan pemikirannya sendiri, hingga ia merasakan sesuatu yang jika keluar akan menggemparkan ruang tengah itu.
“Maaf, Bu .. saya permisi keluar sebentar ….” ucapnya berdiri dan bergegas pergi meninggalkan Bu Asri secepat mungin. Ia berlari menuju keluar rumah yang kebetulan pintunya terbuka.
Dutt duuut dut durutt dut dut….
Akhirnya Ning mengeluarkan gas beracunya yang membuatnya merasa lega.
“Hoek … bau apa ini???” terdengar seseorang menggerutu dan terdengar hendak muntah dari arah belakang Ning.
“Sial … ternyata di sini ada orang ….” jerit Ning dalam hati.
Perlahan ia menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang terserang gas beracunya, karena ia suara orang itu bicara sembari membekap mulutnya. Sehingga Ning tak mengenali suaranya.
“Omigot … Malu banget gue…..” Ning menjerit dalam hati. Ia kembali melihat ke arah depan dan menepok jidatnya. Ia mememejakan matanya karena merasa malu dan tak sanggup beradu pandang dengan orang itu.
--------------- TBC ----------------
************************
__ADS_1
Happy Reading ….