
Pulih dari sakit bukannya merasakan senang dan lega, justru Ning malah merasakan kesal yang amat luar biasa menggendok dalam hati. Si Om tamvan yang biasanya selalu membuatnya kesemsem, kini malah membuatnya marah dan emosi jiwa.
Alih- alih meminta maaf, namun malah menambah kekesalan Ning terhadapnya dengan perilakunya yang di luar dugaan.
Ning menghela nafas panjang beberapa kali untuk menstabilkan emosinya yang meluap- luap, karena orang yang menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya sudah tidak ada.
“Tenangkan dirimu Ning … tenangkan ….” ucapnya berdialog sendiri.
“Tarik nafas ….” Ning menghirup nafas panjang lewat hidung.
“Buang ….” Ia pun menghembuskan nya melalui mulut.
Hal itu dilakukan hingga berkali- kali. Namun sayang setelah yang ke empat kalinya, ia menghirup nafas melalui hidung dan malah keluar melalui bokong …
Duut durut dut dut …
“Ahhhh … lega rasanya ….” Ning akhirnya bisa bernafas lega dan merasa plong.
“Emhh … bau apa ini?” ucap seseorang yang disinyalir menghirup gas beracun yang berasal dari Ning. Sontak suara pria itu mengagetkan Ning.
“O em ji … ternyata disini ada orang lain … Jangan- jangan itu suara si Pak Dokter … Aduh gimana ini … Malu banget gue ….” jerit Ning dalam hati.
Ia tak berani menoleh ke arah belakang kursi tempat ia duduk. Ia hanya diam sembari memejamkan matanya, karena tak sanggup bertatap muka dengan orang itu, jika orang itu menghampirinya.
Tiba- tiba terdengar suara deringan ponsel yang kembali mengejutkannya. Secara reflex Ning membuka matanya dan mengedarkan pandangannya kesana kemari.
“Oh, untunglah tidak ada siapa- siapa disini ….” ucapnya bernafas lega, karena sepertinya orang tadi langsung pergi menjauh dari ruang tamu saat mencium bau gas beracun Ning.
“Hape siapa itu yang bunyi?” ucapnya bertanya- tanya.
Ponsel itu terus berdering, namun ia tak melihat keberadaan ponsel tersebut. Akan tetapi suaranya begitu nyaring dan terasa dekat.
Ning lalu teringat sesuatu yang ditinggalkan Athar di atas meja sebelum ia pergi, yakni sebuah godie bag.
Diambilah godie bag tersebut, dan benar saja di dalamnya terdapat sebuah dus ponsel dengan merk ternama, dan juga benda lain yang ada di bawah dus tersebut.
Ning hanya berfokus pada dus ponsel yang ternyata merupakan tempat asal suara deringan tersebut. Ning membuka dus nya kemudian mengambil ponsel yang masih berdering itu
Di layarnya tercantum nama si pemanggil ….
Om Tamvan is calling …
“Apa ini? Om tamvan? Oh astaga… ini si kudanil meyebalkan itu ….” ucapnya terkejut.
“Cih … jangan harap aku akan mengangkat telpon mu!!” Ning melempar ponsel tersebut ke kursi tempat ia duduk.
“Telpon saja terus, aku tidak akan pernah mengangkatnya … wle ….” Ning menjulurkan lidahnya seolah sedang mengejek ponsel tersebut, hingga akhirnya si ponsel pun berhenti berdering.
“Hahaha … capek juga kan lo nelponin mulu ….” Ning kembali mengambil ponsel itu dan menekan tombol pinggir kanan atasnya untuk menonaktifkan ponsel tersebut.
“Mati lo hape!! Hahaha ….” Ning tertawa puas sembari menatap ponsel yang sudah dimatikannya.
“Ning … ini_____” tiba- tiba Kinanti datang dengan menyodorkan sebuah ponsel pada Ning.
“Astagfrullah … Mabak Kinan ngagetin aja … ada apa?”
“Ini … ada yang ingin bicara dengan mu,” ucapnya dengan ponsel ditangannya.
“Hah? Siapa?” tanya Ning heran.
“Penting katanya, soal barang yang ada dalam tas mu ….”
“Apa?”Ning semakin heran.
“Iya … ini ambil hape ku ….”
Ning lalu mengambil ponsel yang disodorkan Kinanti pada nya. Ia pun menempelan ponsel itu pada telinganya. Sedangkan sang pemilik ponsel meninggalkan Ning dan masuk ke dalam kamarnya.
“Hallo ….” sapa Ning.
“Kenapa telpon ku gak diangkat- angkat?”
“Astoge … ini kan suara si kudanil menyebalkan itu … Dasar kampret, licin juga nih orang ….” Gumam Ning dalam hati.
“Hallo … hallo ….” ucap Athar yang tak mendapatkan jawaban.
“Iy iya hallo … ada apa lagi sih ?” Ning menjawab ketus.
“Aku menghubungi mu berkali- kali kenapa gak diangkat- angkat? Dan sekarang nomornya malah tidak aktif?”
“Aku gak berani pakai hape orang ….” ucap Ning beralasan.
“Ya ampun … mulai sekarang hape itu milik mu, beserta barang lain yang ada dalam godie bag yang ku berikan pada mu.”
“Apa? Memang apalagi isinya?” tanya Ning heran.
“Sesuai dengan isi tas mu, tapi itu jauh lebih bagus …”
“Apa? Tas yang mana?” Ning nampak mengingat- ingat.
“Maaf semalam aku memeriksa tas mu untuk mencari ponsel mu … Tapi, aku____”
“Apa? Kau itu benar- benar lancang!!” Ning yang baru teringat denga isi tas nya langsung kembali marah.
“Maaf, aku tidak sengaja melihat semua itu, hehe.”
“Lalu kau kemanakan barang- barang ku?”
“Aku buang … karena sepertinya suda lusuh dan jelek … Yang ada di dalam godie bag sebagai gantinya."
“Apa?? Ihhhh… kau itu selain mesum maximal, juga sangat sangat sangat menyebalkan!!!”
Tut tut tut …
Ning yang benar- benar marah langsung memutuskan sambungan telponnya. Ingin rasanya ia membanting ponsel yang berada dalam gengamannya itu. Namun sayang ponsel itu milik orang lain, sehingga ia tak melakukannya. Karena jika rusak, ia tak punya uang untuk menggantinya.
“Ihhh… si kudanil benar- benar kurang ajar … Pantas saja tadi aku heran kenapa semua pakaian dalam ku tiba- tiba hilang, kan sebelumnya aku simpan di tas ku yang satunya lagi … Argh … kau benar- benar lancang kudanil!!!” Ning benar-benar marah.
Ting ting …
Ponsel di tangan Ning kembali berbunyi, namun itu menandakan sebuah pesan. Ning pun membukanya.
Kak Daniel
“Aktifkan handpone-mu!!”
Kinanti
“Aku tidak punya hape!”
Kak Daniel
“Oh baiklah, kalau begitu aku akan mengupload foto saat aku memelukmu di tempat tidur tadi pagi.”
Ning terkejut luar biasa membaca pesan Athar. “Apa? Jadi tadi pagi dia sempat- sempatnya mengambil foto saat dia memelukku?”
“Kau benar- benar brengsek, kudanil!!”
Ting ting ...
Kak Daniel
“Atau aku kirimkan fotonya pada Dino atau Kak Ros?”
Kinanti
“Iya iya baiklah.”
“Ternyata dia itu tukang ngancam orang ….” Ning menggerutu kesal.
Ning pun akhirnya menyerah dan kembali mengaktifkan ponsel baru yang diberikan oleh Athar. Dan tak lupa ia menghapus riwayat pesannya dengan Athar di ponsel milik Kinanti. Ia juga mengganti nama kontak Athar menjadi Kudaniel Mesum.
Ting ting …
baru saja diaktifkan,langsung ada pesan masuk.
Kudanil Mesum
“Nah gitu dong”
__ADS_1
“Jangan lupa dengan dua upah ku lagi ya”
Ning
“Apa?”
Kudanil Mesum
“Memasakan ku makan malam dan memijat ku"
Ning
“Mimpi saja sana!!”
Kudanil Mesum
“Baiklah, ku kirimkan foto kita pada Kak Ros.”
Ning
“Baiklah, mau dimasakin apa?”
Kudanil Mesum
“Nah gitu dong”
“Masak apa aja yang penting enak.”
Ning
“Dasar tukang ngancam!!”
Kudanil mesum
“😉😉😉"
Ning
“Ihh … dasar genit!”
Kudanil Mesum
“Apa kau tidak memakai pakaian dalam setelah mandi tadi?”
"🤭😂"
“Ihhh … dasar mesum brengsek!!!!” Ning semakin marah hingga ia tak membalas lagi pesan dari Athar, karena itu hanya akan membuatnya semakin kesal dan marah. Ia pun bangkit dan beranjak meninggalkan ruang tamu.
Tok tok tok …
“Mbak Kinan, ini ponselnya ….”
“Masuk, Ning ….”
Ceklek …
Ning pun masuk ke dalam kamar Kinanti yang sempat digunakan olehnya sebelumnya. Ia menghampiri Kinanti yang sedang melipat alat shalat yang sudah digunakannya.
“Mbak, ini ponselnya … terimkasih, ya….”Ning menyodorkan ponsel pada Kinanti dan ia menerimanya.
“Sama- sama … sudah selesai bicara sama Kak Daniel nya?” tanyanya tersenyum.
“Iy iya ….” ucap Ning seperti merasa malu.
“Dia perhatian sekali ya sama kamu Ning … Padahal selama ini ia selalu cuek pada wanita mana pun ….”
“Itu sih bukan perhatian Mbak… Dia hanya merasa bersalah saja sama saya, karena sudah menuduh saya yang tidk- tidak saat saya masih bekerja di rumah Nyonya besar.”
“Oh, ya … maksudnya itu penebusan rasa bersalah gitu?”
“Ya lebih seperti itu tepatnya …. Oh iya Mbak Kinan, tadi saya mau numpang shalat mau pinjam mukena, tapi gak tau dimana nyimpennya.”
“Kamu pakai saja ini … Nanti setelah selesai, bergabunglah di ruang makan untuk makan siang bersama kami….”
“Iy iya, Mbak Kinan ….” ucapnya mengangguk. Ia pun mengenakan mukena untuk melaksanakanshalat, sedangkan Kinanti pergi meninggalkan kamar.
Setelah selesai, Ning kembali melipat dan menyimpan alat shakatnya di atas tempat tidur Kinanti. Ia pun keluar dari kamar. Ia berjalan dengan melihat kesana kemari karena belum tahu letak ruang makan di sebelah mana.
Saat sedang berjalan, Ning melihat Nana berdiri di depan sebuah pintu ruangan dengan membawa boneka serta sesuatu di tangannya. Ia terlihat menundukkan kepalanya dengan raut wajah sedih. Ning pun menghampirinya.
“Peri kecil … sedang apa di sini?” tanya Ning.
“Kakak peri ….”
Grep …
Nana tiba- tiba memeluk kaki Ning.
“Peri kecil lagi sedih ya?” tanya Ning menebak.
Nana hanya menganggukkan kepalanya.
“Em, kalau gitu gimana kalau kita main boneka?”
Nana melepaskan pelukannya kemudian menanggahkan kepalanya untuk menatap wajah Ning. “Ayok main boneka ….”
“Eh … tapi kita harus makan dulu supaya ada tenaga untuk bermain.”
“Ayo ayo makan ….” Nana menarik tangan Ning lalu berjalan menuju ruang makan. Dan ternyata di sana sudah ada Kinanti dan Bu Asri.
“Pantas saja Nana lama, ternyata mencari Kak Ning dulu, ya ….” ucap Bu Asri. “Ayok duduk sini Ning,” ajak beliau.
“Baik, Bu … terimakasih.”
“Kakak peri duduk dekat Nana,” ajaknya.
“Baiklah peri kecil ….” Ning membantu Nana duduk, kemudian ia pun duduk di sebelah Nana.
“Singgih mana, Kinan?” tanya Bu Asri.
“Kakak tadi sudah makan saat aku pulang … Dia tidur lagi kayaknya, katanya capek karena baru pulang subuh ….” ucap Kinanti.
Mereka pun makan siang bersama tanpa anak lelaki Bu Asri. Padahal Ning ingin sekali bertemu dengan Pak Dokter itu.
Setelah selesai makan, Nana mengajak Ning ke kamarnya untuk menemaninya menggambar. Ia pun dengan senang hati menerima ajakan Nana. Dan ternyata bukan hanya menggambar, merek pun bermain boneka dan masak- masakan. Nana terlihat sangat senang dengan keberadaan Ning.
**
Tak terasa hari mulai gelap, Ning yang sudah selesai memandikan Nana dan memakaikan pakainnya pun pergi mandi.
Saking asyiknya ia menemani Nana, hingga ia melupakan janjinya memasakkan makan malam untuk Athar.
Baru saja selesai menyuapi Nana makan yang mendadak manja padanya, Ning tiba- tiba merasa sakit perut dan bergegas keluar kamar dengan membawa bekas makan Nana untuk disimpannya ke dapur. Kemudian ia pergi ke kamar mandi.
Setelah beberapa saat, ia kembali ke kamar Nana, namun ia tak melihat keberadaan Nana di sana.
“Loh, Nana kemana ya? Tadi katanya mau main boneka sambil nungguin aku ….” ucapnya berdialog sendiri sebari mengedarkan pandangannya. Ning pun keluar dari kamar Nana karena tak menemukannya.
“Pergi … keluar dari kamar ku!!” terdengar suara teriakan seseorang.
Saat Ning hendak melangkah, ponselnya tiba- tiba berdering. Ia pun mengambilnya dari dalam saku celana.
“Ngapain sih si kudanil ini menelpon ku segala!!”
“Oh Ya ampun … aku lupa tidak memasak makan malam untuknya ….” Ning menepok jidatnya.
“Argh … untuk apa aku memperdulikannya ….”
“Eh tapi … nanti gimana kalau foto itu disebarluaskan … Argh … kenapa aku jadi tidak ada pilihan lain sih ….”
“Huaaaa … huaaaa ….” Tiba- tiba terdengar suara tangisan.
“Hah … itu seperti suara Nana ….” Ning yang nampak khawatir langsung bergegas pergi dan tanpa sadar ia yang berniat menolak panggilan, justru malah menggeser kursor ke warna hijau yang artinya menerima panggilan tersebut.
Ning berjalan menuju asal suara yang ternyata dari ruangan yang sebelumnya tempat Nana berdiri di sana sebelum makan siang tadi.
“Singgih, kenapa kamu terus seperti ini … Kapan kamu akan berubah ….” Kini bukan hanya suara Nana, tapi ada suara Bu Asri juga. Ning pun menghentikan langkahnya di depan pintu yang terbuka lebar.
Betapa terkejutnya Ning melihat keributan di ruangan itu yang merupakan kamar Singgih, anaknya Bu Asri.
__ADS_1
“Bawa dia pergi dari sini, aku tidak ingin melihatnya!!” Singgih memalingkan wajah dari Nana yang menangis histeris di depan kaki nya.
“Huaaaaa … huaaaaa ….” Nana menangis semakin kencang.
“Kakak keterlaluan!! Kinanti berjongkok untuk membawa Nana yang duduk di lantai memegang kaki Singgih.
“Cukup Kinan … cepat bawa dia pergi …!!”
“Singgih … kenapa kamu terus seperti ini, hiks hiks ….” Bu Asri yang menangis sembari memegang dadanya, tiba- tiba hilang keseimbangan dan jatuh pingsan.
“Ibu ….” teriak Kinanti dan Singgih, keduanya menghampiri Bu Asri yang tergeletak di lantai.
Ning yang terlihat cemas pun masuk dan menghampiri Nana yang duduk di lantai sambil menangis kejer. Ia pun segera memeluk Nana untuk menenangkannya.
“Ibu … ibu bangun ibu ….” Kinanti menepok pipi Bu Asri untuk membangunkannya, sementara Singgih memeriksa keadaanya.
“Puas kamu sekarang … puas!! Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu yang buruk terjadi pada Ibu!!” teriak Kinanti pada sang kakak.
Singgih yang mengkhawatirkan ibunya tak menghiraukan perkataan Kinanti. Ia segera menggendong Bu Asri dan membaringkan beliau di atas tempat tidurnya. Ia mengambil peralatan medis dari dalam tas kerja nya dan langsung memeriksa keadaan ibunya.
Sementara Ning yang meihat situasi semakin kacau itu, segera menggendong dan membawa pergi Nana yang masih menangis.
“Huaaaaa … huaaaaaa ….”
“Ssstttt … sudah ya peri kecil jangan menangis lagi ….” Ning yang kini berada di dalam kamar Nana dan duduk di tempat tidur dengan Nana dipangkuanya, terus berusaha memenangkan Nana dalam pelukannya. Namun Nana tak kunjung berhenti menangis.
“Huaaaaa … huaaaaa ….”
“Sudah ya cantik … jangan nangis lagi … Di sini kan ada Kakak peri ….” Ning semakin bingung harus berbuat apa untuk meredakan tangisan Nana.
“Sebenarnya apa yang terjadi di sana? Kenapa semuanya begitu kacau begini? Perasaan tadi masih baik- baik saja ….” gumam Ning dalam hati.
Ceklek …
Tiba- tiba ada yang membuka dan masuk begitu saja menghampiri Ning dan Nana.
“Nana, sayang … kamu gak apa-apa?” Athar langsung mengambil alih Nana dari pangkuan Ning. Ia menggendong Nana dan menenangkanya di pelukannya.
“Dady … Papa jahat … huaaaaa … Huaaaa ….”
“Sssstttt …. Sudah sayang ya … Dady ada di sini … sudah ya cup cup, sayang ….” Athar mengusap- usap punggung Nana. Ia pun mulai tenang dan berhenti menangis dipelukan Dady nya.
Sementara Ning terlihat bingung serta terkesima.
“Ternyata si kudanil mesum punya naluri kebapak-an juga ….” gumamnya dalam hati.
“Eh, tapi kenapa Nana bilang papa jahat, sedangkan ia memangil si kudanil dengan sebutan Dady … Maksudnya apa ini? Apa Papa dan Dady itu orang yang berbeda?” Ning kembali bergumam dalam hati dengan penuh tanda tanya.
“Ning ….” Panggil Athar.
“Iy iya ….” Ning terperanjat membuyarkan lamunannya.
“Tolong bawakan segelas air minum untuk Nana ….” pintanya.
“Iya ….” Ning pun bergegas pergi ke dapur. Saat berjalan melewati kamar Singgih yang pintunya sudah tertutup. Ia yang berniat melihat keadaan Bu Asri pun mengurungkan niatnya, karena tak ingin mengganggu istirahatnya Bu Asri, pikirnya.
Tak lama ia pun kembali ke kamar Nana dengan membawa segelas air minum di tangannya.
“Ini minumnya ….” Ning memberikannya pada Athar yang sedang duduk dengan memangku Nana sembari merapikan rambut Nana yang berantakan.
“Terimakasih …” ucap Athar.
“Peri kecil minum dulu ya ….”
Nana mengangguk dan Athar pun membantu meminumkan air itu pada Nana.
“Anak pintar …” ucapnya lalu mengecup pucuk kepala Nana.
Ia menyimpan gelas ke lemari laci sebelah ranjang Nana. Ia lalu mengambil tisu basah yang ada disana dan membersihkan wajah Nana dengan lembut dan perlahan. Sepertinya ia sudah telaten mengurus peri kecilnya itu.
“Peri kecil bobok ya, besok pulang sekolah kita jalan- jalan sambil beli es krim ….” ucapnya sembari mengusap lembut kepala Nana.
Nana yang masih sesenggukan pun mengangguk menuruti semua perkataan Athar. Ia lalu membaringkan Nana di tempat tidur dan memberinya boneka yang selalu menemaninya tidur.
“Peri kecil ditemani Kakak Peri ya bobok nya … Dady mau keluar sebentar, muahhh ….” Athar lalu mencium kening Nana.
“Ning, titip Nana ya ….”
“Iy iya ….”
Athar pun beranjak pergi keluar. Sementara Ning yang masih terlihat kebingungan menemani Nana, mengusap- usapnya dengan lembut hingga anak itu tertidur. Ia pun malah berbaring dan ikut tidur di sebelah Nana. Keduanya kini tidur dengan lelapnya.
**
“Papa … papa … Nana sayang Papa ….” Nana mengigau hingga beberapa kali.
Ceklek ….
Athar yang mendengar suara Nana, segera masuk ke kamar dan menhampiri ranjang tempat Nana dan Ning tidur.
“Ssssstttt ... “ Athar mengusap- usap kepala Nana untuk menenangkannya hingga ia berhenti mengigau.
“Ya ampun, wanita ini benar- benar kebo … Nana dari tadi mengigau dia sampai tidak dengar,” ucapnya pelan sembari menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum melihat wajah polos yang tengah tidur lelap itu.
“Emh ….” Ning yang tiba- tiba membuka matanya, langsung terperanjat melihat wajah Athar yang menatap dirinya.
Gedebruk ….
Ning pun jatuh tersungkur karena ia tidur terlalu menyisi, tentunya karena ukuran kasur Nana yang kecil.
“Awww ….” Ning meringis kesakitan.
“Ning ….” Athar segera menghampiri Ning. “Kau tidak apa- apa?” tanyanya khawatir.
“Apa kau tidak lihat aku jatuh sampai nyium lantai gini?!” Ning malah bicara ketus.
Athar lalu membantu Ning bangun. Ning menepis tangan Athar setelah ia berdiri.
“Tuan Om ngapain di sini?” tanyanya heran.
“Tadi Nana mengigau sampai berkali- kali, apa kau tidak dengar?”
“Apa? Aku pikir aku sedang bermimpi ….”
“Dasar kebo !!” ejek Athar.
“Dasar kudanil mesum!!” Ning tak mau kalah mengejek.
“Apa? Kau bilang apa?” Athar tercengang dengan julukan baru Ning padadirinya.
“Eng enggak kok ….” ucap Ning gelagapan.
Athar melangkah maju mendekat pada Ning. “Bilang apa tadi?” Athar mengulang pertanyaannya.
“Eng enggak .... enggak bilang apa- apa….” Ning semakin gelagapan dan melangkah mundur.
Semakin ia mundur semakin Athar melangkah maju, hingga Ning berhenti karena tubuh bagian belakangnya mentok di dinding tembok.
“Masih tidak mau ngaku bilang apa tadi?” Athar seolah berniat mengerjai Ning lagi.
“Tu tuan Om mau apa?” Ning mulai ketakutan.
“Melakukan apa yang kau julukan pada ku ….” ucapnya tersenyum licik.
“Ap apa …ma maksudnya apa?”Ning semakin ketakutan dan Athar malah sengaja mendekatkan wajahnya pada wajah Ning. Ia memejamkan matanya antara takut dan menyerah pasrah. Hembusan nafas Athar yang terdengar begitu dekat membuat jantung Ning berdebar kencang.
Duut … durut dut dut …
Krukk krukk krukk ….
Seketika Ning membuka matanya dan Athar pun membelakan matanya mendengar suara gemuruh bersamaan dengan suara cacing berdemo.
Sontak Athar pun langsung menjauh sembari menutup hidungnya. Ia segera pergi keluar dari kamar Nana sebelum dirinya pingsan menghirup gas beracun mahakarya Ning.
“Hahahaha … Rasakan kau!!! Jangan coba- coba berbuat mesum pada ku … Dasar kudanil mesum!!” Ning tertawa penuh kemenangan.
------------- TBC-----------
*******************
__ADS_1
Happy Reading ….