
“Mbak Ning Nong !!!” Sheryl tak hentinya berteriak memanggil Ning sembari berdiri di atas tempat tidurnya.
“Iya iya Non … Jangan teriak- teriak atuh Non … Masa cantik- cantik seperti Tarzin ….” ucap Ning yang baru masuk ke kamar Sheryl dengan nafas ngos- ngosan, karena ia berlari dari kamarnya agar segera sampai di kamar Sheryl.
“Hah? Tasin siapa?” tanya Sheryl heran mendengar nama asing itu.
“Tarzin bukan tasin ….” Ucap Ning mengoreksi.
“Iya, dia itu siapa?” tanyanya lagi sembari bekecak pinggang.
“Itu loh Tarzan betina ….”ucap Ning menjelaskan.
“Hah?” Sheryl semakin bingung.
“Udah- udah lupakan saja … Jangan dipikirkan nanti Non bisa terkena Typus.” Ning malah bicara kemana- mana.
“Hah? Mbak Ning Nong ngomong apa sih?” Sheryl tak mengerti maksud ucapan Ning yang menganggap nya seolah orang dewasa seperti Dino yang bisa mencerna setiap ucapan anehnya.
“Hahahahahhaa ….”Ning malah tertawa renyah.
“Iiiihh, dasar aneh.” Sheryl mencebikan bibirnya.
“Non ada apa teriak- teriak manggil Mbak Ning?” tanya Ning kembali ke bahasan awal.
“Tadi aku mimpi buruk,” ucap Sheryl yang kemudian kembali duduk.
“Mimpi apa?” tanya Ning penasaran.
“Mimpi dikejar pocong tapi pakai baju pink," ucap Sheryl dengan raut wajah takut.
“Hahahaha … mana ada pocong warna pink … hadeuh .. Non ini kebanyakan halu.” Ning kembali menertawakannya.
“Iiiiihhh beneran, makanya aku takut … Aku kan gak suka warna pink.”
“Sudahlah tidak usah dipikirkan … mending Non mandi dulu yuk … udah bau acem.” Ning mengendus- endus aroma tubuh Sheryl.
“Gak mau!!” Sheryl langsung menolak.
“Ya ampun Non, cantik- cantik jangan jorok kenapa....”
“Gak mau mandi!” Sheryl kekeuh menolak.
“Nanti bau loh kayak Pig warna pink .…”
“Ihhhh ….” Sheryl bergidik ngeri.
“Non tahu gak kenapa babi bau?” Ning kembali mengatakan hal aneh.
“Dia kan hewan jadi bau," ucap Sheryl menjawab polos.
“Salah ….” ucap Ning.
“Emang kenapa bau?” Sheryl malah balik bertanya.
“Karena ketek nya ada empat, gak pernah mandi lagi ….”
“Hahh?” Sheryl terlihat bingung.
“Non aja yang ketek nya ada dua kalau gak mandi bau … Emang mau baunya kayak babi warna pink itu?”
“Gak mau!” tolak Sheryl yang kemudian turun dari tempat tidurnya.
“Kalau gitu kita mandi yuk.” Ning kembali mengajaknya mandi.
“Iiihhh … iya iya.” Sheryl dengan terpaksa mengikuti ajakan Ning untuk mandi. Ia menghentakkan kakinya, karena kesal sudah ditakut- takuti. Ia pun memonyongkan bibirnya.
“Ya ampun, itu bibir kayak monchong babi pink tahu gak ... Ngok ngok ngok....” Ning malah mengejek Sheryl dengan menirukan suara babi.
“Iiiiiihhh !!!” Sheryl kembali menghentakkan kakinya dengan bekecak pinggang, serta menatap kesal pada Ning.
“Hahahahahaha ….” Ning malah menertawakannya. Ia lalu membawa Sheryl ke kamar mandi dan memandikannya. Setelahnya ia memakaikan pakaian pada Sheryl.
“Ternyata anak ini memang tidak suka warna pink … bajunya berbagai warna, kecuali warna pink … Anak perempuan aneh …”gumam Ning dalam hati setelah tadi melihat seluruh isi lemari pakaian Sheryl.
“Sheryl … mulai besok kamu latihan taekwondo. Mama sudah mendaftarkan nya tadi sesuai kemauan mu,” ucap Rosmala yang baru saja masuk dan menghampiri Sheryl.
“Hore … hore … terimakasih Mama….” Sheryl merasa senang dan melompat- lompat di atas kasur.
“Hah? Anak TK masuk taekwondo … Apa nyonya gak salah? Biasanya anak seumuran Sheryl ikutan balet gitu kalau di tivi tivi,” ucap Ning merasa aneh dan heran.
“Aku gak suka menari seperti itu!” ucap Sheryl sewot.
“Oh … hehehehe.”
“Putri bungsu ku ini berbeda dengan kakaknya yang feminim … Sheryl lebih menyukai olahraga anak laki- laki," ucap Rosmala memberitahukan.
“Tapi mainannya banyak mainan anak perempuan," ucap Ning.
“Kamu pikir saya ingin merubah anak saya jadi laki- laki apa? Cukup olahraga saja mengikuti laki- laki, kalau untuk mainan dan pakaian saya tetap memilihkan gaya anak perempuan pada umumnya. Namun tetap menghindari warna pink, karena Sheryl tidak menyukainya. Dan kau harus tahu itu....” cerocos Rosmala.
“Ya ya ya … Itu semakin membuktikan jika keluarga ini memang aneh semua, termasuk makhluk kecil ini,” gumam Ning dalam hati.
__ADS_1
“Sebaiknya kalian siap- siap … kita akan membeli perlengkapan untuk besok latihan, sekalian memesan kostum untuk pementasan drama di sekolah mu, sayang ….” ucap Rosmala lalu mencolek pipi putri bungsunya karena gemas.
“Baik, Nyonya...." angguk Ning.
“Hore … hore ….” Sheryl kembali melompat- lompat.
“Non, udah lompat- lompat nya dong … Nanti keringetan, bau acem lagi kaya babi pink,” ucap Ning dan Sheryl pun menghentikannya.
Ning mengambil pakaian Sheryl dan menggantinya dengan pakaian untuk bepergian.
“Non, emangnya bener Non Sheryl mau ikut pementasan drama di sekolah?” tanya Ning setelah selesai menggantikan pakaian Sheryl.
“Iya.” angguk Sheryl.
“Drama apa?” tanya Ning lagi.
“Harimau Pemakan Anak Nakal.”
“Non Sheryl pasti jadi harimau nya ya?”ucap Ning menebak- nebak.
“Bukan.” Sheryl menggelengkan kepalanya.
“Atau jadi anak nakal nya?” Ning kembali menebak.
“Bukan.”
“Terus jadi apa nya dong?” tanya Ning bingung.
“Jadi pohon nya.”
“Hahahahaha.” Ning menertawakan Sheryl.
“Kenapa ketawa?” tanya Sheryl kesal.
“Kirain peran penting sampai semangat untuk cari kostumnya.”
“Mama bilang kalau di hutan pohon itu penting.”
“Oh, iya iya …. Hahahaha.”
“Iiiiihhh….” Sheryl melotot dan menghentakkan kakinya.
“Iya iya, ayok kita keluar … Non udah cantik banget ….”
Setelah siap, mereka pun berangkat ke sebuah mall besar untuk membeli peralatan yang Sherly butuhkan. Tak lupa Rosmala pun membelikan Sheryl banyak pakaian yang sudah dipilih sendiri oleh Sheryl.
“Mbak, tolong semua pakaiannya double ya … Tapi ukurannya lebih kecil satu nomor dan warnanya pink … Jangan lupa tas nya juga dipisah.” ucap Rosmala pada pelayan toko baju tersebut.
“Hah? Nyonya membeli pakaian yang sama tapi nomornya lebih kecil? Kok aneh sih? Biasanya emak- emak kalau beli baju untuk anaknya suka nyari yang lebih besar biar kepakai lama … Ini kok malah jauh lebih kecil dan warnanya pink pula? Perasaan di rumah itu anak kecil cuma Non Sheryl doang, deh, dan dia gak suka warna pink ….” gumam Ning dalam hati dengan penuh tanda tanya.
“Mbak Ning Nong aku mau mandi bola.” Sheryl menarik-narik tangan Ning.
“Iy iya Non.”
**
Keesokan harinya seperti biasa Ning mengantar Sheryl ke sekolah. Dan saat menunggu ia kembali menyebrang untuk membeli jajanan di depan TK seberang.
Penjual jus, siomay dan kue balok nampaknya masih mengenali Ning yang sempat memborbardir mereka dengan kentut beliung nya. Mereka pun terlihat waspada.
“Bu, Jus belimbing nya satu," ucap Ning memesan minuman.
“Iya.” Penjual jus itu menjawab dengan jutek.
“Yaelah, Bu … judes bener... Padahal kan saya mau beli jus nya bukan mau minta.”
“Iya, saya tahu … tapi jangan duduk disini lagi ya … Nanti pelanggan saya pada kabur karena bau kentutnya si mbak seperti kemarin … Mana baunya susah hilang lagi.”
“Gak usah ngarang deh Bu … pastinya kebawa angin juga hilang seketika.”
“Iya kebawa angin .. jadi baunya nyebar ke sini.” si tukang kue balok ikut berkomentar pedas.
“Astaga nih orang- orang mulutnya tajam bener … harusnya mulut mereka disekolahin bareng anak TK,” gerutu Ning dalam hati.
“Nih jus nya.” Penjual jus tersebut memberikan kantong kresek yang berisi satu cup jus yang dipesan Ning.
Ning mengambil jus tersebut, Ia lalu memberikan uang pecahan lima puluh ribu.
“Ambil aja kembaliannya, Bu … itung- itung ganti rugi kemarin kena polusi kentut saya,” ucap Ning lalu beranjak pergi.
“Loh, Neng … Kok saya gak dikasih ganti rugi?” tanya si tukang kue balok yang ingin kecipratan juga.
Ning menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
“Bu, kipasin aja tuh uang nya ke si Mang kue balok … kan kemarin juga kena polusi karena kebawa angin.” Ning lalu melengos begitu saja.
Tukang jus dan tukang kue balok itu tercengang mendengar ucapan Ning. Sementara tukang siomay menertawakan kedua orang tersebut, karena secara tidak langsung Ning sudah mengejek mereka berdua.
“Dasar tukang kue sialan!! Kena kentut doang minta ganti rugi … Kaya dia gak pernah kentut aja … Gue sumpahin lo kagak bisa kentut tujuh hari tujuh malam ….” Ning menggerutu kesal dan mengucap sumpah serapah. Ia lalu kembali menyebrang dan berjalan menuju halaman sekolah Sheryl.
**
__ADS_1
Jam pulang sekolah sudah tiba, namun Sheryl bersama teman sekelasnya tak langsung pulang karena akan melakukan latihan untuk pementasan drama nanti.
“Astoge… ini berarti durasi menunggu bakalan lebih lama lagi … bosen banget sihh, hufhh” Ning mendengus kesal. Ia lalu keluar dari lingkungan sekolah dan berjalan- jalan di trotoar sekitar sekolah.
Ning melihat ke arah sekolah taman kanak- kanak yang berada di seberang. Dimana anak- anak yang menggunakan pakaian seragam yang sama berhamburan keluar dari kelas dan disambut oleh orang yang menjemput mereka di halaman sekolah.
Mata Ning tertuju pada seorang anak kecil yang duduk sendirian di kursi area permainan TK tersebut. Anak itu melihat kesana- kemari, sepertinya sedang mencari keberadaan orang yang menjemputnya.
“Bukannya itu anak yang kemarin? Anaknya si om tamvan, kan?” ucap Ning bertanya- tanya dengan terus memperhatikan anak tersebut.
Entah mengapa Ning begitu betah berdiri hingga beberapa saat, bahkan sampai semua murid di TK seberang itu sudah pergi bersama orang yang menjemput masing- masing. Ia masih terus memperhatikan anak itu.
Namun sayang, hingga semua anak pergi, tidak ada satu pun orang yang menjemput anak tersebut.
“Kenapa si om tamvan tidak menjemput anaknya lagi? Apa dia sedang sibuk?” gumam Ning terheran- heran.
“Apa dia tidak punya pengasuh seperti Non Sheryl?”
Dari kejauhan pun terlihat jelas raut wajah sedih anak itu. Perlahan ia menundukkan kepalanya.
“Kasihan sekali anak itu ….” Lirih Ning.
Ia melangkahkan kakinya menyebrangi jalan. Entah ada bisikan dari mana, langkah kakinya membawa Ning menghampiri anak tersebut yang ternyata sedang menangis.
“Hah? Apa yang aku lakukan? Untuk apa aku mendatangi anak ini?” gumam Ning seolah ia baru tersadar.
“Huhuhuhuhu … hiks hiks hiks ….” Tangian anak itu terdengar begitu jelas.
“Aduh … mana ini anak nangis lagi ….” Ning kembali bergumam dalam hati. Ia mengedarkan pandanganya keana - kemari.
“Ini beneran gak ada yang menjemputnya? Gurunya kemana lagi, kok membiarkan muridnya sendirian di sini sih?” Ning menggerutu dalam hatinya.
“Huuhuhuhuhu … hiks hiks ….” Anak itu terus menangis.
“Aduh, gimana ini? Kasihan banget sih anak ini …” Ning menghela nafas panjang.
“Udahlah kepalang tanggung, mending nyemplung aja sekalian … Eh, tapi … gimana cara menghentikan anak ini menangis?” Ning hanya bisa brucap dalam hati, ia pun duduk di kursi panjang yang sama dengan anak tersebut.
“Emm____ “ Ning hendak mengatakan sesuatu, namun ia terlihat bingung.
“Aduh, aku manggil dia apa ya? Adi kecil, anak manis, anak cantik, princess, atau calon anak eh … Apaan sih Ning … maen asal nyebut aja dia calon anak tiri, eh … aduh ini bibir lebih meleber dari lambe nyinyir atau lambe turah … kepedean banget manggil dia calon anak tiri.” Ning berdialog dalam hati.
“Eng ______ “
“Ah, iya aku baru ingat nama panggilan anak ini.” Ning teringat sesuatu.
“Ekhem ….” Ning berdahem, nampaknya ia ingin anak itu menyadari keberadaannya. Namun ternyata sang anak malah terus menangis dan tak memperdulikan Ning.
“Huhuhuhuhuhu …. Hiks hiks hiks.”
“Emm … Peri kecil … kamu kenapa menangis?” Ning bicara dengan nada sehalus mungkin pada anak tersebut.
Anak itu tiba- tiba berhenti menangis. Ia menegakkan kepalanya dan perlahan mengarahkan pandangannya pada Ning yang duduk di sebelahnya itu.
“Kaka Peri ….” ucapnya sembari sesengukan.
Grep …
Anak itu langsung memeluk Ning dan menangis di pelukannya.
“Eh, aduh … kenapa anak ini tiba- tiba memeluk ku?” Ning terkejut dan membuatnya terkesima.
“Kakak Peri … terimakasih sudah datang … huhuhuhuhuhu.”
“Hah? Apa? Dia memanggil ku apa? Kakak peri? Peri dari mana Neng?” gumam Ning dalam hati.
“Huhuhuhuhu … hiks hiks ….” Anak itu tak hentinya menangis.
Tangan Ning tergerak untuk membalas pelukan anak itu. Entah mengapa hatinya merasa tersentuh dan perlahan tangan kanannya mengusap kepala anak itu.
“Eng … kalau begitu, peri kecil sekarang harus berhenti menangis … Kan kakak sudah ada di sini.” Ning mencoba menenangkan anak itu. Dan tak disangka, anak itu pun menghentkan tangisannya.
“Iy iya Kakak Peri,” ucapnya semari sesenggukan. Namun ia semakin erat memeluk Ning.
“Ya Alah, geli banget sumpah … aku dipanggil kakak peri begini … Kok bayangan di kepalaku wujud si Mimi peri ya,” gumam Ning dalam hati dengan menahan tawa.
“Siapa kamu?!!” seru seseorang dari arah belakang Ning dan anak itu.
----------------- TBC -----------------
****************************
Happy Reading ….,,😉
Jangan luva tinggalkan jejak mu para reader yang kece badai ….🤩🥰
Tilimikicih selalu setia menantikan kisah Nyi Nining …. 😘😘
Eceu usahakan Up Up, meski belum sanggup setiap hari … Mon maaf ... apalah daya belum bisa menyeimbangkan dunia nyata dan kehaluan ini …🙏🙏
Aylapyu All ….😘😘😘
__ADS_1