NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Kau Berbohong...


__ADS_3

“Ning!”


“Bu!!!”


“Bu Bos!!


Teriakan itu terdengar dari Ocha dan ketiga pegawai yang kebetulan hari itu kerja lembur. Ocha segera menghampiri Ning, kemudian ia pun duduk di lantai di sebelah Ning.


“Ini____ Ini… kenapa ini ada di sini, Cha?” ucapnya terbata- bata dengan tatapan yang tertuju pada lembaran- lembaran foto di atas amplop coklat di tangannya. Saking terkejut dan tak percaya akan hal yang dilihatnya.


Ocha tak langsung menjawab, ia melihat ke arah Ardi dan ketiga rekan kerja lainnya. “Udah, kalian antar barang aja sana... Biar aku dan Ning yang akan menyelesaikan masalah ini….”


“Tapi, Cha….” sergah Ardi yang enggan meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini.


“Gue gak akan ngamuk kayak tadi lagi, kok… udah sana!!” sentak Ocha.


Ardi dan ketiga rekannya pun pamit. Mereka bergegas pergi dengan membawa barang yang sudah dipacking, meninggalkan ketiga orang yang sama- sama masih duduk di lantai.


“Apa ini amplop yang sama dengan amplop yang dulu dari kurir itu, Cha?” ucap Ning menatap tajam Ocha.


“Iya, Ning….” angguk Ocha.


“Kenapa lo gak pernah bilang soal ini, Cha?”


“Sorry, Ning… Waktu itu gue mau bilang… Tapi gue gak tega merusak kebahagiaan lo… Dan gue berniat mencari tahu siapa yang sudah mengirim, bahkan mengambil rekaman video serta foto- foto itu, Ning….”


“Video?” tanya Ning.


“Iya, di dalam amplop itu ada beberapa foto dan juga sebuah flashdisk yang isinya adegan video sama seperti yang ada di foto itu….”


“Apa?” Ning kembali terkejut, sekaligus malu luar biasa.


Ocha menghela nafas berat, matanya kemudian tertuju pada irang yang masih menangis tergugu tak jauh dari mereka. “Dan wanita ular itu pelakunya?” Ocha menunjuk ke arah Siti yang masih duduk menundukkan kepalanya.


“Siti? Maksud lo, Siti______ “ Ning tak percaya mendengarnya.


“Iya… Dia pelakunya Ning,” ucapnya menatap tajam penuh kemarahan pada Siti.


Flashback


“Loh, Ning mana? kok lo datang sendirian ke sini, Siti?” tanya Ocha heran saat melihat kedatangan Siti.


“Nona tadi pergi sama sekretarisnya Pak Daniel….”


“Hah? Sekertaris Pak Daniel?” Ocha mengerutkan dahinya.


“Iya, Pak Daniel yang waktu itu membiayai operasi Nona dan asistennya yang mempekerjakan aku itu loh….”


“Oh, iya iya….” Ocha mengangguk paham.


Ia pun kembali mengecek barang yang akan dikirim. Kali ini ia tak ikut serta, karena barang- barangnya dikirim oleh kurir yang mengendarai sepeda motor, yakni oleh Ardi, Hasan dan Wisnu. Setelah semuanya beres, ia mengambil alih pekerjaan Ning di ruangan Ning.


Ia membuat laporan pemasukan dan pengeluaran, serta setoran barang dari tempat produksi serta dari para tetangga yang ikut menjahit barang. Tak lupa ia pun mengecek email, siapa tahu ada pesanan lagi.


**


Tak terasa hari sudah mulai sore. Tepat jam empat, pekerjaan pun telah Ocha selesaikan. Ia meregangkan , serta menggerak- gerakan kepalanya yang terasa pegal, karena kelamaan bejibaku dengan laptop.


Ting


Terdengar suara ponsel Ocha yang diletakan di samping laptop. Ia segera mengambil ponsel itu dan membuka pesannya.


Bu Tari Bekasi : [Mbak Ocha, pesanan saya jadi dikirim besok kan?”]


Ocha menepok jidatnya. “Oh, ya ampun… Gue kok bisa sampai lupa nyipain pesanan Bu Tari… Mana banyak lagi, kayaknya stok barang di sini masih kurang deh….” ucapnya lalu membalas pesan masuk itu.


Ocha : [“ Siap, Bu… Besok diantar agak siangan ya.”]


Bu Tari Bekasi : [Oke”]


Ocha kemudian mencari nomor kontak untuk menghubungi seseorang. Namun sayang, ponselnya tiba- tiba mati karena kehabisan baterai diiringi mati lampu.


“Jiah, kok mati? Ini lampu kenapa lagi ikutan mati? Apa belum isi token?” gumamnya berdialog sendiri. Ia lalu keluar dari ruang kerja Ning dan menemui Siti.


“Kok lampunya pada mati?” tanya Ocha.


“Ada pemadaman, Mbak Ocha…” ucap Siti.


“Oh, pantesan… Siti gue pinjam hape lo sebentar, hape gue mati… Gue mau nelpon Ardi, nyuruh ngambilin barang untuk dikirim besok….”


“Oh, iya… Ini mbak….” Siti memberikan ponsel yang sudah ia buka kunci layarnya. “Aku ke kamar mandi dulu ya, Mbak… Perut ku mules….” Siti bergegas ke belakang.


Ocha mencari kontak nama Ardi di ponsel Siti, lalu ia menghubunginya. Setelah dua kali memanggil, tak kunjung mendapat jawaban. Di luar terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah. Ocha pun melihat keluar.


“Pantesan gak diangkat- angkat…. ” ucap Ocha.


“Ada apa Cha? Kangen yah?” goda Ardi yang baru turun dri motor.


“Cih, kepedean lo… Ambilin barang gih, buat pesanan besok yang akan diantar ke Bekasi….”


“Bentar istirahat dulu ya, baru juga nyampe nih Abang….” ucap Ardi mengedipkan sebelah tanya


“Ck… iya deh,” ucapnya berdesak sebal. Ia kembali masuk, kemudian ke ruangan kerja Ning.


Bersamaan dengan itu kedua rekan Ardi yang baru selesai mengantar barang pun datang dengan mengendarai motor yang berbeda, juga kurir yang membawa mobil yang diparkir di garasi.


“Akhirnya, listriknya nyala lagi….” ucapnya saat merasakan hembusan dinginnya AC di ruangan tersebut. Ocha segera mencharger ponselnya.


Ting

__ADS_1


Baru saja Ocha mendaratkan bokongnya di atas kursi. Terdengar suara dari ponsel yang ada di genggaman Ocha. Reflex ia membuka pesan tersebut.


“Eh, kok gue lupa? Ini kan hape si Siti,” ucapnya baru menyadari. Namun ia kepalang sudah membuka pesan tersebut.


Nyonya Andini : [Jika putraku datang kesana, segera lapor pada ku!”]


“Hah? Nyonya Andini?” ucapnya terkejut. Ia mengingat- ingat nama itu.


“Ya ampun, kalau gak salah______ itu kan nama ibunya si ganteng?” ia membulatkan matanya. “Kenapa Siti bisa chatingan sama Nyonya besar itu?” gumamnya bertanya- tanya.


Karena penasaran, ia menscrol ke atas melihat riwayat chatingan Siti dan Andini. Betapa terkejutnya ia membaca percakapan mereka. Tangannya bergetar, saat ia membuka video serta melihat- foto yang dikirimkan oleh Siti pada Nyoya Andini. Bukan terkejut lagi, kini ia pun geram dibuatnya.


Diambilnya sebuah amplop dari dalam tas nya. Kemudian ia mengeluarkan beberapa lembar foto yang kemudian dibandingkan dengan foto dalam pesan itu. Amarahnya kini sudah memuncak.


Ia segera bangkit dan beranjak untuk keluar dari ruangan itu dengan membawa amarah yang memuncak di kepalanya. Bertepatan dengan itu, Siti baru saja memasuki pintu rumah setelah memberikan barang untuk dikirimkan oleh Wisnu.


Plak


Satu tamparan cukup keras mendarat di pipi kanan Siti. Ia terkejut bukan main.


“Mbak Ocha kenapa nampar Siti? Aku salah apa?” bentaknya tak terima tiba- tiba ditampar.


Bukannya menjawab, Ocha melemparkan amplop coklat dengan kasar tepat pada wajah Siti.


“Apa ini, Mbak?” tanya Siti bingung.


“Buka sendiri!!” bentaknya dengan sorot mata tajam, dan raut wajah geram.


Siti yang masih terkejut sekaligus bingung pun, membuka dan mengambil isian amplop coklat itu. “In ini….” Siti kembali terkejut melihat lembaran foto di tangannya. Wajahnya memucat, keringat pun mulai bercucuran saking takutnya.


“Dan ini….” Ocha memperlihatkan pesan yang tadi ia baca di layar ponsel dan menunjukkannya tepat di depan wajah Siti.


“It itu____” belum selesai Siti bicara, Ocha kembali melayangkan tamparan yang lebih keras dari sebelumnya, hingga membuat Siti hilang keseimbangan dan tubuhnya mendarat ke lantai. Ia memasukan ponsel ke dalam saku celananya.


Ocha berjongkok, lalu menjambak rambut Siti dan menariknya hingga membuat Siti menjerit kesakitan. Amplop dan beberapa lembar foto yang sejak tadi dipegangnya pun dibiarkan di lantai.


“Aaaaakk, ampun Mbak Ocha! Sakit ….” jerit Siti.


“Dasar ular berkepala dua!! Tidak tahu diri !! tidak tahu diuntung!! Begini cara lo berterima kasih sama orang yang udah ngasih lo makan dan tempat tinggal juga kepercayaan, hah!!” Ocha terus menjambak Siti hingga membuat gadis itu terseret.


Siti pun berusaha bangkit dan melawan amukan Ocha. Ia menarik lengan Ocha, yang membuat Ocha pun hilang keseimbangan. Ocha kembali menyerang dan Siti pun membalas serangannya.


“Dasar brengsek, lo!! Wanita ular!!” cacian dan makian terus diteriakan Ocha. Hingga membuat Ardi dan ketiga kurir yang mendengar teriakan Ocha juga Siti, masuk ke dalam.


Mereka memisahkan kedua wanita yang sedang berguling di lantai saling menjambak dan menampar.


Flashback off


“Ning… kalau lo gak percaya, nih lo lihat sendiri….” Ocha yang sudah menceritakan kejadiannya, menyodorkan ponsel Siti yang diambilnya dari lantai yang sempat terlempar akibat pergulatan tadi. Di layar itu sudah terpampang chatingan Siti dan Nyonya Andini.


Ning yang masih tak percaya, kembali terkejut melihat chat terbaru di sana.


Siti : [“Mereka sudah berangkat”]


Nyonya Andini : [Jika putraku datang kesana, segera lapor pada ku!”]


Ia lalu mensrcol ke atas dan membaca setiap percakapan mereka. Air mata pun jatuh bercucuran, kala ia melihat foto- foto serta video yang dikirimkan oleh Siti. Foto yang pernah ia lihat di ponsel Singgih, serta di amplop yang tadi ia pegangi.


“Jadi… selama ini kamu tinggal bersama saya hanya untuk menjadi mata- matanya Nyonya Andini, Siti?” ucapnya lirih menatap Siti yang masih menundukkan kepala sambil menangis.


“Maafkan saya, Non… hiks hiks….”


“Kenapa kamu ngelakuin ini semua Siti? Salah saya apa sama kamu? Apa saya pernah menyakiti kamu?” ucapnya terisak. Ia benar- benar kecewa pada Siti, orang yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri, justru malah melakukan hal ini padanya.


“Saya benar- benar minta maaf, Non… Saat itu saya benar- benar butuh uang untuk operasi ibu saya… Makanya saya menerima pekerjaan dari Nyonya Andini….” ucapnya berderai air mata.


“Dasar tidak tahu malu!! Sudah numpang hidup, dikasih kerjaan… Inikah balasan lo, sialan!!” Ocha yang melihat Ning menangis, membuatnya kembali geram dan memaki Siti.


“Saya benar- benar minta maaf… Sebenarnya setelah Pak Daniel ke London, saya sudah berhenti bekerja sama dengan Nyonya Andini… Tapi saat Pak Daniel kembali dari London, Nyonya Andini memaksa saya untuk melakukan itu…. Maafkan saya, Non….”


Kecewa, marah, dan sedih bercampur menjadi satu. Dadanya serasa terhimpit benda berat dan menyakitkan. Ning yang masih terisak, menghela nafas dalam- dalam. Sesungguhnya ia pun ingin marah, tapi ia tak tega melihat kondisi Siti yang sudah diberi pelajaran oleh Ocha.


“Kemasi barang- barang mu, Siti… Aku tidak ingin melihat mu ada di rumah ku atau pun di sini….” ucapnya tanpa menoleh atau pun melirik Siti yang masih menangis tergugu.


“Cha, berikan gajinya tiga kali lipat….” Ning meletakan ponsel di atas foto- foto yang tadi dilihatnya. Ia bangkit lalu berjalan memasuki ruangannya dengan langkah gontai meninggalkan Siti dan Ocha di ruangan itu.


Ocha memasukan kembali foto- foto itu ke dalam amplop coklat, serta mengambil ponsel Siti. Ia pun bangkit dan berjalan menghampiri Siti.


“Bangun… Lo udah denger kan apa yang dikatakan Ning tadi? Segera kemasi barang- barang lo!!” ucapnya dengan nada penuh penekanan.


Perlahan Siti pun bangkit, masih dengan air mata yang mengalir deras. Sepertinya ia sangat menyesali perbuatanya selama ini.


“Ayo cepat jalan!!” titah Ocha ketus. Ia pun pergi bersama Siti menuju ke rumah Ning. Ia tak menghampiri sahabatnya, karena ia tahu jika Ning membutuhkan waktu untuk menyendiri, menenangkan dirinya sendiri.


Sementara Ning yang sudah berada di ruang kerja, mendaratkan bokongnya di atas kursi. Ia duduk menunduk dengan kedua telapak tangan mengusap kepalanya, menopangkan kedua sikunya di atas meja. Bulir bening terus berjatuhan membasahi meja yang terbuat dari material kayu jati itu.


Menangis… Hanya itulah yang biasa ia lakukan. Kekecewaan dan kesedihan yang amat dalam nampak dirasakannya. Raut wajahnya memperlihatkan betapa sedang kacaunya hati dan pikiran si Ratu kentut. Sepertinya bukan hanya persoalan Siti saja yang membuatnya sesedih itu, karena sedari pulang dari pertemuan ajakan Vina, matanya sudah sembab.


Hampir satu jam lamanya ia menangis, hingga ia berhenti karena merasa sudah tenang. Terdengar Azan magrib berkumandang, ia pun bangkit dan bergegas pergi ke kamar mandi di luar ruangannya untuk mengambil wudhu. Tak lupa ia pun menutup jendela serta gorden, juga menyalakan lampu.


Setelah ia selesai menunaikan shalat. Ia melipat mukena dan sajadahnya, yang kemudian disimpan kembali ke dalam lemari kecil yang ada disana.


Tak lama Ocha datang dengan membawa rantang susun di tangannya.


”Ning… lo makan dulu, ya… Lo kan harus minum obat….” ucapnya yang nampak biasa saja, seolah tak terjadi apa- apa. Ia bersikap sepeti itu, agar sahabatnya tak terlarut dalam kesedihan.


“Hmm….” Ia berjalan, lalu duduk kembali di kursi meja kerjanya, dan Ocha duduk di kursi yang berhadapan dengan Ning. Ia membuka tutup ketiga rantang yang dibawanya. Keduanya pun makan, meski nampak tak berselera.


Ning meminum obatnya, sementara Ocha membereskan bekas makan mereka.

__ADS_1


“Dia udah pergi, setengah jam yang lalu….” ucapnya tanpa Ning bertanya.


“Gue gak nyangka, Cha... Dia bohong sama gue, bilang dipekerjakan oleh Pak Riko buat ngejaga dan merawat gue... Ternyata dia kerja buat Nyonya Andini untuk mata- matain gue…. “Ning menghela nafas panjang.


“Dan ternyata dia yang udah ngambil foto gue sama Daniel di mall saat pergi sama Nana dulu…” lanjutnya


“Bahkan dia merekam adegan ciuman lo sama si ganteng… Emang dia gak malu apa lihat orang lagi ciuman gitu? Gue aja malu pas lihat video itu dari flashdisk yang gue dapet dari amplop itu… Ternyata lo agresif juga….” ucapnya terkekeh, mencoba mencairkan suasana.


“Diam lo… gue lagi gak pengen bercanda….” ketus Ning kesal, sekaligus malu.


“Ayolah, Ning … Lo jangan sedih berkepanjangan gini… Satu jam lebih kayaknya cukup buat lo meluapkan kesedihan lo… Ya walaupun gue juga sangat marah dan kecewa sama si Siti… Tapi, harusnya lo bersyukur, semua ini segera terungkap… Kalau enggak, Siti bisa menyebabkan kehancuran hubungan lo sama si ganteng….”


Ning kembali menghela nafas panjang, kali ini dengusannya terdengar berat. “Tanpa Siti pun hubungan gue sama dia gak akan bisa lanjut, Cha….” ucapnya lirih.


“Kenapa? Karena nyonya Andini akan menentang hubungan kalian? Apa gara- gara perbedaan kasta kalian?”


Ning menggeleng. “Bukan hanya itu, Cha… Lo tahu sendiri kan kalau dia alergi sama bau kentut….”


“Ya gampang aja kali, Ning… Lo tinggal menjauh dari dia saat lo mau kentut… sembunyi ke kamar mandi kek, ke dapur, ke post satpam, atau keluar rumah sekalian… Gitu aja ribet!!” seperti biasa, Ocha selalu nyerocos.


“Itu kalau lagi dalam keadaan sadar, Cha … Gimana kalau gue sampai nikah sama dia, dan tiba- tiba saat kita berdua tidur lelap gue ngeluarin gas beracun… Itu akan sangat berakibat fatal, Cha… Yang ada pas gue bangun, dia udah mati di sebelah gue… Gue gak mau kalau sampai itu terjadi, Cha….” ucapnya kemudian raut wajahnya kembali sedih.


Ocha terdiam sejenak. Ia melihat Ning dengan tatapan nanar.


“Yaudah, nanti aja lo mikirin itu… Sekarang udah mau malam, sebaiknya kita pulang….”


Ocha tak tega jika melihat sahabatnya sedih berkepanjangan. Ia takut akan mempengaruhi kesehatan Ning. Ia lalu bangkit.


Ning pun tak menolak ajakan Ocha. Mereka mengunci seluruh pintu di sana, kemudian beranjak pergi menuju rumah Ning.


“Cha, apa gue keterlaluan ya udah ngusir Siti? Dia kan gak punya siapa- siapa di kota ini?” Ning nampak menyesal juga mengkhawatirkan Siti, walau bagaimana pun selama ini Siti selalu berbuat baik padanya. Kini keduanya sudah berada dalam rumah.


“Katanya dia mau pulang kampung ke Sukabumi naik bis… Jadi lo gak usah khawatir….” ucapnya menepis kekhawatiran Ning.


Meski ia masih sangat marah pada Siti, tapi tetap ada rasa tak tega juga mengusirnya sore tadi. Ia masih sempat bertanya kemana akan perginya Siti.


Ning masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk bersandar di atas tempat tidur. Kemudian mengambil ponsel dan menghubungi sang pujaan hatinya. Namun sayang nomor itu sedang tidak aktif. Hal itu semakin menambah kesedihannya.


***


Keesokan harinya, setelah shalat subuh Ning kembali menghubungi Athar. Beruntung, kali ini nomornya sudah aktif.


“Halo… selamat pagi, sayangku….” Sapa orang di seberang sana, saat menerima panggilan dari Ning.


“Loh, kok pagi sih? Disana kan masih malam?” ucap Ning yang merasa heran, karena biasanya Athar akan menyapanya sesuai dengan waktu disana.


“Iy iya, kan di sana sudah pagi, kan?” Athar terdengar menjawab dengan gelagapan.


“Video call, ya Omshay….” pinta Ning degan nada manja.


“Eng, nanti saja lah….” tolak Athar, tak biasanya.


“Aaaahh, aku kangen….” rengek Ning masih dalam mode manja.


“Aku lagi gak pakai baju, sayang….”


“Ih, emang lagi ngapain?” tanya Ning sewot.


“Baru abis mandi, ada telpon dari kamu langsung diangkat… Belum sempat pakai baju, pakai daleman aja enggak….”


“Wow… aku pengen lihat….”


“Hahaha… Jangan sayang, belum waktunya… Nanti aku bisa ternoda, hahaha….”


“Cihh, mana ada laki- laki ternoda gara- gara dilihat telanjang… Yang ada mata ku ternoda….” Ning berdecih sebal.


“Nah, jadi gak usah video call dulu ya sayang….”


“Kapan pulang?” Ning tak hentinya bicara dengan nada manja.


“Kapan ya? udah kangen banget ya?” Athar malah menggodanya.


“Hu um….”


“Nanti kalau urusan ku sudah selesai, kita akan segera bertemu, sayangku….”


“Tapi aku maunya sekarang….” Ning kembali merengek bagai anak kecil.


“Sudah mulai manja ya sekarang… Gak sabar pengen gigit kamu, deh….” ucap Athar gemas.


“Yaudah sini gigit?” Ning malah meladeni.


“Jangan menggoda ku, sayang… Kau itu bisanya main virtual… Awas saja kalau kita bertemu, aku akan benar- benar menggigit mu….”


“Jadi kapan pulangnya? Aku gak sabar pengen digigit….” Ning nampak senang meladeni kemesuman sang kekasih.


“Nantilah beberapa hari lagi… Sudah dulu ya sayang… Aku kedinginan nih, I love u… Muachh….” Athar mengakhiri percakapan mereka dengan sebuah kecupan di udara.


“Love u too….” Balasnya nampak dengan suara lesu. Senyumnya pun sirna. Ia mematikan sambungan telponnya.


“Kau berbohong, Tuan Om….” ucapnya lirih dengan raut wajah kecewa bercampur sedih. Ia menempelkan ponsel di dadanya, tanpa terasa bulir bening pun jatuh membasahi pipinya.


-


-


---------------- TBC-------------


************************

__ADS_1


Happy Reading….


__ADS_2