
Semua orang hanya bisa melihat Ning yang terus menangis tanpa mengetahui alasan pastinya. Siti saja yang terakhir kali bicara dengan Ning masih terlihat bingung. Ia yang berjongkok di seberang Ning dan Ocha yang terhalang oleh makam itu, merasa penasaran.
Dilihatnya batu nisan yang ada di ujung sisi makam itu, kemudian Siti membaca dari mulai tulisan arab innalilahi, hingga tanggal wafat almarhum.
“Non… memangnya Nona kenal sama orang yang ada di dalam kuburan ini?” tanya Siti terheran- heran usai mengetahui nama yang sangat asing baginya.
“Iya, Ning… Jujur gue juga bertanya- tanya dari tadi, kenapa lo sampai nangis kayak gitu di sini….” Ocha pun ikut menanyakan.
“Lo baca aja nama yang tertera di batu nisannya, Cha... huhuhuhuhu.” ucap Ning yang masih menangis di pelukan Ocha.
Ocha lalu melihat ke arah batu Nisan, ia pun membaca nama yang tertera disana.
“Dyangga Ferdino Sahulekha….” Ocha menyebutkan nama lengkap almarhum. “Lo kenal sama dia Ning?” Ocha kembali melontarkan pertanyaan.
“Apa? Hiks hiks….” Ning yang nampak terkejut, menghentikan tangisannya. Ia melepaskan diri dari pelukan Ocha, kemudian melihat ke arah batu nisan dan membacanya dengan seksama.
"Dyangga? Siapa Dyangga?” ucapnya penuh tanda tanya.
“Ya tentu saja orang yang meninggal dan ada di dalam kuburan ini, Ning… Gue pikir lo kenal, sampai nangis kayak gitu….” ucap Ocha heran.
Ning mengucek matanya berkali- kali. Ia kembali membaca nama yang tertera di batu nisan tersebut. Ia lalu menatap ke arah penjaga yang berdiri di sebelah Singgih.
“Pak, tadi bapak bilang hari ini peringatan meninggalnya putranya Nyonya? Dimana makam nya? Hiks hiks,” tanya Ning masih terisak.
“Tentu saja makam yang ini….” Ucap penjaga itu dengan yakin.
“Bapak yakin? Hiks hiks….” Ning kembali bertanya.
“Iya, saya sangat yakin… Memangnya mbak tidak melihat di sini banyak bunga yang baru diletakan tadi oleh para anggota keluarga?” ucap Penjaga itu melihat ke arah bunga- bunga.
“Ini makam anaknya Nyonya besar, kan? Hiks hiks,” Ning kembali bertanya untuk memastikan.
“Bukan … ini makam anaknya Nyonya Rosmala….” Penjaga itu memperjelas.
“Apa? Anaknya Nyonya Rosmala?” Ning kembali dikejutkan dengan apa yang baru didengarnya.
“Iya, Ning… Ini makam nya almarhum Dino, anaknya Kak Ros….” Singgih yang sejak tadi diam, ikut membenarkan penuturan penjaga.
“Apa? Dino meninggal? Jadi ini makam nya Dino? Bukan makam dia….” gumam Ning dengan suara pelan. Meski ia kembali terkejut, namun ada rasa lega di hatinya. Karena kini ia tahu jika yang di dalam kuburan itu bukanlah Athar.
“Jadi ini makam nya Dino… Berarti, dia … dia belum meninggal….” ucap Ning dengan memijat kepalanya yang nampak masih terasa pusing. Ia pun terlihat bingung.
“Lo ngomong apa sih Ning? Ini makamnya Dino, berarti dia udah meninggal, oon….” Ocha nampak kesal pada Ning yang menurutnya bicara tidak jelas.
“Maksud gue, bukan gitu Cha… ini tuh bukan dia, jadi Ini Dino?” Ning bicara semakin tidak jelas.
“Argh pusing gue dengernya… Jadi sebenernya lo kenal gak sih sama yang namanya Dino itu?” Ocha makin kesal.
“Gue kenal, Cha… Dia mantan anak asuh gue… Tapi gue gak nyangka ternyata kalau dia udah meninggal… Dan dia meninggal di hari yang sama dengan tanggal operasi gue… Gue kira ini makam____” Ning yang masih sesenggukan tak melanjutkan ucapannya.
“Ning, sebaiknya kamu ke tempat yang teduh... Di sini sangat panas….” ucap Singgih yang memperhatikan Ning yang terlihat terus memijat kepalanya dan bicara seperti orang bingung.
“Iya, Ning…. atau kita pulang aja ya….” Ocha yang baru paham arah pembicaraan Ning tertuju pada siapa, malah mengajak Ning pulang. Nampaknya ia tak ingin Singgih mengetahui soal kisah cinta Ning dengan Athar yang menurutnya bertepuk sebelah tangan.
Ning tak menjawab, ia terlihat seperti orang bingung dan ling lung dengan mata yang terus memandangi kuburan itu. Ia pun berkali- kali membaca nama yang tertulis di bat nisan.
“Dinosaurus… gue gak nyangka ternyata lo udah tiada….” ucapnya lirih, air mata pun kembali jatuh membasahi pipinya.
“Ning… udah pulang yuk… Lo terlihat kacau tahu gak... Ntar lo bisa kesurupan kalau terus begini… Dino, dia, Dinosaurus, omongan lo makin ngelantur….” cerocos Ocha kembali mengajak Ning pergi, ia lalu membantu Ning berdiri. Ning pun menurut tak berontak.
“Ocha, kita bawa Ning ke sana dulu.” Singgih menunjuk ke arah kursi besi panjang yang terletak di bawah pohon beringin dan letaknya tak jauh dari makam tersebut. Ocha pun memapah Ning yang masih terlihat bingung berjalan menuju tempat itu.
“Pak Dokter, saya titip Ning sebentar, mau beli minum dulu ya….” Ucap Ocha yang baru selesai mendudukan Ning di atas kursi panjang itu.
__ADS_1
“Iya….” angguk Singgih yang kemudian duduk di sebelah Ning. Ocha pun beranjak pergi bersama Siti.
“Ning….” Singgih mengajak Ning bicara.
“Mas… Itu beneran Dino yang sudah meninggal?” tanya Ning yang masih tak percaya dengan suara sesenggukan dan mata yang menatap ke arah kuburan Dino.
“Iya, Ning… Dino sudah meninggal… Aku juga mendapat kabarnya saat sedang mengisi seminar di luar kota, makanya langsung pulang….”
“Aku belum sempat berterimakasih sama dia, karena sudah menolong ku dan membawa ku ke rumah sakit saat itu, hiks hiks… Biarpun dia sering jahil, semena- mena dan kami sering bertengkar, tapi dia orang yang baik, hiks hiks….” Ning kembali terisak saat teringat kebersamaanya dengan Dino.
“Apa kamu sangat dekat dengannya?” Singgih nampak penasaran.
Ning menghapus jejak air matanya. “Dulu, saat pertama kali aku masuk ke rumah itu… Aku dipekerjakan sebagai pengasuh tuan muda Dino… Tapi setelah dua bulan, ia masuk rumah sakit karena pergi keluar bersama aku dan Non Sheryl, akhirnya aku dipindahkan jadi pengasuh non Sheryl, hiks hiks….” ucap Ning terisak.
“Pengasuh Dino?” Singgih terheran- heran.
“Iya….” Angguk Ning. “Awalnya juga aku merasa aneh, ternyata anak asuh ku adalah orang yang seusia dengan ku… Tapi aku diberitahu kalau ia sedang sakit, jadi butuh orang yang menjaga serta menjadi pelayan khusus untuk menyiapkan segala kebutuhannya….”
“Pantas saja kamu terlihat akrab dengan Dino saat dulu bertemu di taman kota….” Singgih baru paham.
“Iya… Sebenarnya saat menjadi pengasuhnya, kami sudah seperti kucing dan anjing yang selalu bertengkar… Tapi akhirnya aku tahu, jika ia hanya membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua nya, serta ingin hidup normal seperti orang lain yang bebas pergi kemana saja setiap saat. Karena selama tiga tahun ia terkurung di rumah terus- terusan seperti seorang tahanan, hiks hiks.…”
“Ya… aku juga pernah dengar jika Dino tak diperbolehkan keluar rumah….”
Ning kembali menghapus air matanya. Ia melihat ke arah Singgih dan menatap matanya. “Mas… sebenarnya Dino itu sakit apa?”
“Dino itu_____” ucapan Singgih menggantung.
“Dino tidak sakit, Ning….” Tiba- tiba terdengar suara seorang wanita yang datang menghampiri mereka. Keduanya melihat ke asal suara.
“Nyonya Rosmala….”
“Kak Ros….”
Ucap Ning dan Singgih bersamaan.
“Iya, Kak… silahkan….” Singgih yang terkejut sekaligus heran, memenuhi permintaan Rosmala. Ia beranjak pergi meninggalkan Ning dan Rosmala.
“Apa kabar, Ning? lama tidak bertemu….” ucapnya menyapa Ning. ia lalu duduk di kursi panjang itu, tepat di sebelah Ning yang hanya berjarak 30 cm.
“Alhamdulillah baik… Nyonya sendiri bagaimana kabarnya?” Ning memaksakan tersenyum, meski hatinya merasa sedih.
“Ya, seperti yang kamu lihat….”
“Saya turut berduka cita atas meninggalnya tuan muda Dino… Saya benar- benar tidak tahu kalau tuan muda sudah_____”
“Gak apa- apa Ning… Lagi pula saat itu kamu juga sedang sakit… Saya minta maaf, karena belum bisa menjenguk mu lagi setelah tahu kamu sudah bangun dari koma….”
“Hehehe….” Ning nampak merasa canggung.
“Bagaimana kondisi kesehatan mu sekarang?” tanya Rosmala yang menatap Ning.
“Alhamdulillah baik… Walaupun masih harus rutin kontrol….”
“Baguslah kalau begitu….” Ucapnya tersenyum ia menghela nafas sejenak. “ Tadi kamu menanyakan penyakit Dino, kan?”
“Iy iya, Nyonya….”
“Dino tidak sakit, Ning….” ucapnya dengan menatap ke arah makam putranya.
“Lantas, kenapa tuan muda harus minum obat dan dilarang keluar rumah?” tanya Ning penasaran.
Rosmala terdiam sejenak. Ia tak hentinya menatap kuburan putranya.
__ADS_1
“Dyangga Ferdino Sahulekha itu anak pertama saya dan Bang Aufar… Dia cucu pertama di keluarga Sahulekha… Sejak ia lahir, kami sangat menyayangi dan selalu memanjakannya… Walaupun begitu, ia tumbuh menjadi anak yang baik dan penurut… Tapi saat ia berusia 10 tahun, dia berubah menjadi anak yang bandel dan susah diatur, karena saya dan Bang Aufar selalu disibukan dengan pekerjaan… Mungkin itu sebagai aksi protesnya terhadap kami….”
Rosmala menghela nafas panjang. Tatapannya masih tertuju pada makam mendiang putranya itu.
“Empat tahun yang lalu, saat Dino baru saja lulus SMP dia ikut kompoy pelulusan bersama teman- temannya… Tanpa sengaja mereka melewati tempat yan sedang terjadi tawuran… Dan saat itu Dino terkena peluru nyasar tepat di kepalanya….” Rosmala berhenti sejenak, ia nampak menguatkan dirinya.
“Bruntung saat itu ada keajaiban… Setelah dioperasi, Dino masih bisa bertahan hidup walaupun ada peluru di dalam kepalanya … Dokter bilang letaknya begitu dalam dan terlalu beresiko jika dipaksakan diambil saat operasi pertama itu….” Ucapnya mengusap dada yang terasa menyesakkan. Matanya pun terlihat berkaca- kaca.
“Apa? Jadi itu yang menyebabkan tuan muda Dino sering merasakan sakit kepala?” ucap Ning yang terkejut mengetahui hal itu.
“Iya Ning… Saat itu dokter menyarankan melakukan operasi ulang untuk mengambil peluru itu, tapi tingkat keberhasilannya hanya 50%... Saya takut Ning, saya takut kehilangan Dino… Makanya saya lebih memilih agar peluru itu tidak diambil, asalkan anak saya masih bisa hidup,,, hiks hiks….” Ucapnya menghela nafas disertai air mata yang jatuh membasahi pipinya.
“Nyonya Ros….” Ning nampak tak tega melihat Rosmala bersedih. Ada rasa bersalah dirasakannya, karena telah menanyakan hal yang membangkitkan kepedihan Rosmala yang telah kehilangan putranya.
“Semua orang menentang keputusan saya, Ning… Tapi saya bersikeras dan mengancam akan bunuh diri jika operasi tetap dilakukan… hiks hiks…. Yang saya pikirkan saat itu, hanya ingin anak saya tetap hidup.., hiks hiks… Tapi justru saya sudah sangat jahat pada anak saya Ning, saya sangat kejam membiarkannya merasa kesakitan selama bertahun- tahun, huhuhuhuhu….” Air matanya sudah tak terbendung lagi.
“Nyonya, sudah jangan diteruskan lagi….” Ning tak tega melihat Rosmala semakin sedih. Ia bergeser hingga duduk begitu dekat dengan mantan majikannya itu.
Rosmala menghela nafas panjang berkali- kali. Ia menghapus jejak air mata dengan saputangannya dan tangisannya pun mereda.
“Hari itu, Dino merayu ku meminta izin untuk pergi ke taman kota tanpa didampingi oleh ku, dan dia berjanji itu terakhir kalinya ia pergi keluar… Dino memeluk ku, mencium ku, dan bergelayut manja seperti saat ia masih kecil dulu… Dan keesokan harinya ia dilarikan ke rumah sakit, hiks hiks… Dia bilang sakit Ma, kepala ku sakit… aku sudah tidak kuat lagi, huhuhuhuhu….” Tangisannya kembali pecah.
“Saya ibu yang kejam, Ning… saya ibu yang kejam….huhuhuhuhu….”
“Dino maafkan mama, Nak… maafkan mama, huhuhuhuuhu…..”
“Nyonya Ros sudah..” Ning merangkul dan membawa Rosmala ke pelukannya untuk menenangkan beliau. Ia pun turut menitikkan air mata, seolah merasakan kesedihan yang sama. Bagaimana pun ia pernah merasakan kehilangan orang yang sangat dicintainya, yakni orang tuanya.
“Dino maafkan Mama… Maafkan mama, Nak… huhuhuhuhuhu…..” Rosmala menumpahkan air matanya di pelukan Ning, hingga dadanya terasa sesak, penglihatannya mulai gelap dan akhirnya ia tak sadarkan diri.
“Nyonya Ros… Nyonya Ros….” Ning menepok pipi Rosmala yang pingsan di pelukannya. “Tolong…. Mas Igih.. Ocha… Siti.. tolong….!” Ning berteriak minta tolong saat melihat Rosmala terkulai lemas tak sadarkan diri.
Singgih dan penjaga pun segera menghampiri. Singgih memeriksa keadaan Rosmala, kemudian segera melarikan mantan kakak iparnya itu ke Rumah sakit dengan menggunakan mobilnya, karena ia tak membawa peralatan medis. Ning turut serta, sementara Siti dan Ocha disuruh pulang.
Sepanjang perjalanan, Ning yang duduk di kursi penumpang menjadikan pahanya sebagai bantalan untuk Rosmala yang dibaringkan di jok mobil, terus meneteskan air mata dengan mengarahkan pandangannya keluar dari kaca pintu mobil. Saat- saat kebersamaanya besama Dino terbayang- bayang di kepalanya.
Awal pertemuan mereka, kejadian demi kejadian setiap harinya, hingga saat pertemuan mereka di taman terbayang jelas di kepalanya.
“Dyangga Ferdino Sahulekha… ternyata hari itu adalah kali terakhir kita bertemu… Maafkan aku yang selalu bicara ketus pada mu… Maafkan aku yang selalu bertindak sesuka hati pada mu… Maafkan aku yang belum sempat berterimakasih atas semua kebaikan mu… Maafkan aku atas semua kesalahan ku pada mu, hiks hiks….” Batinnya terisak.
“Selamat jalan, Dinosaurus … Semoga kamu bahagia dan tenang di alam sana… kamu sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang….” Lirihnya dalam hati dengan berderai air mata. Ia lalu mengirimkan doa untuk mendiang anak asuhnya itu.
-
-
-----------------TBC---------------
********************
-
-
Happy Reding….😉
-
sellow sellow pemirsa... Tuan Om masih diumpetin sama eceu, takut dicolok ehh diculik sama kalian para reader yang kece badai....🤭🤩
-
Tilimikicih selalu menantikan kisah Ning nong...😘😘
__ADS_1
-
Aylapyu all...😘😘