NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Sudah Tak Layak Untuk-mu


__ADS_3

Ocha yang terkejut mendengar suara barang yang pecah di ruang makan itu, segera keluar dari kamar dan menghampiri Ning yang tengah berdiri di sebelah kursi nampak dengan raut wajah bingung.


“Astaga Ning… Lo kenapa mecahin gelas gitu?” kaget Ocha melihat pecahan gelas berserakan di lantai.


“Hah… jadi barusan suara gelas pecah?” Ning yang mengerjapkan matanya beberapa kali. Sepertinya ia baru tersadar dari lamunannya.


“Ya ampuun… lo itu kenapa sih? Udah sana temuin cowok lo… Ngelamun aja lo tiap hari… Noh ayam tetangga ngelamun mulu, besoknya ko’id….” Cerocos Ocha.


“Asem, lo… Malah nyumpahin gue mati!!” ketus Ning yang kemudian berjongkok untuk membersihkan pecahan gelas di lantai. “Awww… Hssss….” Ning meringis kesakitan saat jari tengahnya terkena salah satu pecahan beling. Darah segar pun mengalir dari lukanya.


“Ya ampun… Udah sana lo obatin dulu lukanya… Biar ini gue yang beresin…” Ocha bergegas mengambil sapu dan pengki. Tak lupa ia pun membawa kotak P3K dan memberikannya pada Ning yang kembali duduk di kursi meja makan.


---------------------


Malam semakin larut, Ocha yang menemani Ning tidur di kamarnya sudah tenggelam dalam dunia mimpi. Sementara Ning, entah mengapa rasa kantuk tak juga menghampiri dirinya. Ia berusaha memejamkan matanya untuk tidur, bahkan sudah berkali- kali ia berganti posisi, namun tetap saja ia tak bisa tidur.


Krasak krusuk krasak krusuk


Ning yang terus bergerak, membuat tidur Ocha terusik.


“Ya ampun… Gue pikir ada gempa bumi… Lo ngapain sih pakai nungging sambil goyang- goyangin bhokong lo? Lagi mikir jorok ya, lo?” sewot Ocha dengan suara serak khas bagun tidur.


“Gue gak bisa tidur, Cha….” Ucapnya yang masih nungging.


“Perasaan tadi lo udah minum obat deh… Tumben gak langsung tidur?” ucapnya lalu duduk dengan mata yang nampak masih berat untuk dibuka. Ning pun ikut merubah posisi. Ia duduk di sebelah ocha yang bersandar pada sandaran ranjang.


“Gue juga gak tahu, Cha… Kenapa gue tiba- tiba gelisah gini….” ucapnya kebingungan sendiri.


“Lo belum siap kali….”


“Belum siapa apaan?” tanya Ning heran.


“Dijadikan hewan qurban yang akan disembelih pas lebaran haji….”


“Sialan, lo… Mana ada yang mau nyembelih gue yang kurus kerempeng gini!!”


“Ck… terserah lo dah… gue ngantuk banget….” Ocha kembali berbaring.


“Gue bagi dong ngantuk nya….” Rengek Ning.


“Sini gue ludahin mata lo….” Ocha membuka sedikit mulutnya bersiap menyembur.


Bukh


“Dasar jorok....” Ning memukul Ocha dengan guling.


“Lagian lo, mana ada ngantuk ditularin… Hadeuh, udah cepetan sana video call sama cowok lo… siapa tahu bisa bikin lo ngantuk….” Ucapnya memperbaiki posisi tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.


“Gue udah nelpon dia berkali- kali… Tapi gak diangkat- angkat… WA juga centang satu doang….” Keluh Ning.


“Mungkin dia udah tidur kali, Ning… Udah mending lo juga tidur gih, besok samperin dia kalau lo udah gak tahan… Lihat tuh udah jam satu pagi!!” Tunjuk Ocha pada jam dinding yang ada di kamar Ning. Ia lalu tidur menyamping membelakangi Ning, kepalanya ditutup oleh bantal, karena lampu kamarnya menyala.


“Huft… Nyebelin banget sih… Kenapa mendadak insom gini sih!!” gerutu Ning mengacak-acak rambutnya sendiri, seolah frustasi.


Setelah beberapa saat mencoba memejamkan mata, akhirnya Ning bisa tidur saat waktu menunjukan pukul tiga dini hari.


****


“Ning… Boloning… cepetan bangun… ini udah setengah enam pagi!!” Ocha menggoyangkan tubuh Ning untuk membangunkannya.


“Gue masih ngantuk, Cha….” Ning bicara dengan mata yang masih terpejam rapat.


“Cepetan bangun!! Ntar subuhnya kesiangan!!” Ocha menggoyangkan tubuh Ning.


Ning yang masih merasa sangat ngantuk, akhirnya bangun dengan kepala yang terasa berat, serta enggan membuka matanya. Ia duduk di bibir ranjang dengan menguap beberapa kali. Ini sudah hari ketiga, Ning mengalami susah tidur dan berakhir tidur dini hari bahkan hampir menjelang subuh.


“Lo cepetan ke kamar mandi sana!! Di depan udah ada tamu yang nungguin….” Ocha berlalu begitu saja keluar dari kamar Ning.


“Oh, ya ampun… kenapa gue bisa sampai lupa… Kepala pelayan pasti udah nungguin gue….” Seketika Ning membuka matanya, kesadarannya pun seolah telah kembali sepenuhnya. Ia bergegas ke kamar mandi, kemudian melakukan ritual subuhnya.


Ia lalu mandi dan setelah berpakaian rapi, ia menemui tamu yang sudah menunggunya di kursi teras depan.


“Loh… Kok Pak Riko? Bukannya kepala pelayan?” gumam Ning dalam hati dengan memperlihatkan raut wajah kaget juga heran.


“Selamat pagi, Nona… Mohon maaf sudah mengganggu anda dengan bertamu sepagi ini….” Sapa Riko dengan ramah.


“Oh, gak apa- apa kok… Kebetulan sekali ada Pak Riko… saya mau menanyakan sesuatu….”


“Maaf… Menanyakan soal apa, nona?”


“Eng… Sudah tiga hari ini, kok nomornya Daniel gak aktif ya… Apa dia sudah balik ke London?”


“Belum, nona….” Riki menggeleng.


“Apa dia ganti nomor lagi?”


“Tidak, Nona….” Riko kembali menggeleng.


“Terus kenapa dong hapenya gak aktif?”

__ADS_1


“Ponsel Pak Daniel rusak, Nona….”


“Memangnya dia sudah miskin sampai tak mampu beli hape yang baru apa?” gerutu Ning dengan suara pelan.


“Maaf, kenapa Nona?” tanya Riko yang mendengar celotehan Ning.


“Gak apa- apa, kok… Oh iya, Pak Riko tumben datang kemari? Biasanya ‘kan kepala pelayan….” Ning mengalihkan pembicaraan.


“Nyonya Ros meminta saya untuk menjemput anda ….”


“Menjemput saya?” tanya Ning memastikan ucapan Riko.


“Iya, Nona….” angguk Riko.


“Memangnya ada apa?” tanyanya lagi merasa aneh dan heran.


“Nanti Nyonya Ros sendiri yang akan menjelaskannya… Mari Nona ikut dengan saya….”


“Waduh, ada apa ya ini? Kok sampai harus menjemput ku segala…. Apa ini ada hubungannya soal kejadian kepergok di kamar waktu itu?” Gumam Ning dalam hati.


“Oh ya ampun… jangan – jangan sudah ketahuan sama Nyonya Besar, kalau aku selama beberapa hari ini yang membuatkan sup untuknya….” Batinnya lagi dengan raut wajah takut.


“Nona... Nona… Nona Ning….” Riko kembali memanggil Ning beberapa kali, karena tak kunjung mendapat sahutan.


“Iy iya… kenapa?” tanya Ning gelagapan, ia baru saja tersadar dari lamunannya.


“Nyoya Rosmala sudah menunggu….”


“Eng, baiklah… Saya ambil tas sama ponsel dulu ya….” ucapnya lalu masuk ke dalam rumah.


Tak Iama Ning keluar dengan menenteng sebuah tas. Ia lalu pergi bersama Riko setelah pamit pada Ocha yang mengantarkan Ning sampai teras.


Sepanjang perjalanan Ning terus memikirkan hal apa yang membuat Rosmala tiba- tiba mengutus Riko untuk menjemput dirinya secara tiba- tiba. Dan yang lebih mengherankan lagi, kenapa harus Riko yang diutus Rosmala, sedangkan pria itu adalah asisten pribadinya Athar. Nama Rosmala, Nyonya Andini, dan Athar seolah memenuhi isi kepalanya.


Saking tengelam dalam pikirannya, Ning sampai tak menyadari jika kini mobil yang dikendarai oleh Riko tengah berhenti di gedung parkiran sebuah tempat.


“Nona… Nona Ning….” panggil Riko yang sudah berdiri di depan pintu mobil yang sudah ia bukakan untuk Ning.


“Iy iya… Kenapa Pak Riko?”


“Kita sudah sampai… Mari silahkan turun….” Riko mempersilahkan Ning.


“Iya…” ucapnya lalu turun dari mobil tersebut. Ning mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru yang ternyata hanya terdapat barisan mobil di sana. “Ini dimana?” tanya Ning merasa heran.


“Di parkiran, Nona….”


“Saya tahu ini parkiran… Maksudnya ini mall, hotel atau kantor, apa gitu?” ucap Ning mulai kesal.


Ning menghela mendengus kesal, kemudian ia pun melangkahkan kakinya menuju arah yang tadi ditunjukan oleh Riko. Pria itu pun mengikuti Ning dari belakang.


-------------


Ting


Lift yang membawa Ning dan Riko menuju lantai lima kini sudah terbuka. Keduanya pun melangkah keluar dari lift tersebut. Ning mengedarkan pandangannya.


“Loh, ini kan_____” Ning baru menyadari tempat apa itu.


“Mari Nona… lewat sini….” Riko kembali menunjukan arah.


“Siapa yang sakit, Pak Riko?” tanya Ning heran sembari berjalan.


“Ke sebelah sini, Nona….” Lagi- lagi Riko tak menghiraukan pertanyaan Ning.


“Ih, dia ini kenapa sih dari tadi dia menjawab pertanyaan ku gak jelas banget!!” gerutu Ning dalam hati. Nampaknya ia mulai merasa kesal pada Riko.


“Berhenti di sini, Nona….” Ucap Riko yang menghentikan langkah Ning tepat di depan pintu sebuah ruangan.


Tok Tok Tok …


“Saya Riko, Nyonya….” Serunya setelah mengetuk pintu.


“Masuk!!” terdengar jelas suara wanita yang dari dalam sana. Nampaknya Ning merasa taka sing dengan suara itu.


Ceklek


Riko membukakan pintu tersebut. “Silahkan masuk, Nona….” Ia mempersilahkan Ning masuk.


Ning yang nampak bingung dengan kepala yang dipenuhi tanda tanya pun, akhirnya melangkah memasuki ruangan itu. Terlihat Rosmala tengah duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan serba putih tersebut. Ia berdiri lalu menghampiri Ning yang terlihat melangkah lambat.


“Akhirnya kau datang… “ sapa-nya yang membuat Ning yang nampak heran sekaligus bingung melihat wanita yang pernah menjadi majikannya itu tersenyum padanya.


“Dia sudah menunggu mu, Ning…” ucapnya menoleh pada sebuah ranjang pasien yang salah satu sisinya terdapat tirai penghalang. Di sana ada seseorang yang terbaring lemah. Ning pun mengikuti arah pandangan wanita itu.


Betapa terkejutnya ia melihat wajah orang . Dadanya terasa sesak seolah detak jantung nya berhenti saat itu juga. Lututnya terasa lemas, yang membuatnya hampir kehilangan keseimbangannya. Ia membekap mulutnya yang ternganga.


“Tuan Om….” Lirihnya yang diiringi bulir bening yang jatuh membasahi pipinya. Dengan langkah berat ia menghampiri ranjang pasien tersebut.


Air matanya terus berjatuhan kala melihat beberapa alat penunjang medis terpasang di beberapa anggota tubuh pria yang terbaring tak sadarkan diri itu. Salah satu kakinya dipasang gips, terlihat jelas karena tak di selimuti seperti kaki yang satunya lagi. Dahinya tertutup perban, yang pastinya melingkari kepalanya.

__ADS_1


Ning semakin mendekat, hingga ia berdiri di samping brankar tersebut. Tangannya meraba tangan Athar yang tertancap sebuah infusan pada punggung tangan itu. Ia lalu menyentuh pipi kekasih hatinya yang sudah hampir seminggu tak bertemu dengannya.


Pipi yang terlihat lebam, nampak beberapa luka pada wajah pucat Athar. Bibir Ning bergetar, tak mampu berkata apa pun lagi. Hanya air mata yang terus mengalir menandakan betapa sedih dan terpukulnya ia melihat kondisi Athar.


“Daniel-ku… kenapa jadi begini, huhuhuhuhu….” Tangisnya pecah seketika. Kini ia tahu penyebab kegelisahannya beberapa hari ini. Rasa bersalah pun menghinggapinya. Ia menangis sembari memeluk tubuh kekasihnya tanpa memperdulikan ada selang oksigen yang tergoyang olehya.


“Tiga hari yang lalu, dia mengalami kecelakaan setelah meninggalkan rumah usai berdebat dengan Mami... Alhamdulillah, sekarang ia sudah melewati masa kritisnya….” Rosmala memberitahukan alasan kenapa Athar dirawat di rumah sakit.


“Maafkan aku, huhuhuu… Maafkan aku, huhuhuhuhu….” Ning menumpahkan air matanya dengan rasa bersalah luar biasa. Ia tahu pasti penyebab perdebatan Athar dengan Nyonya Andini adalah dirinya. ia tak hentinya menangis dengan mengucap kata maaf.


“Hei, sayang… Aku belum mati… Jangan menangisi ku seperti ini….” Suara Athar yang terdengar serak dan lemah, membuat tangis Ning berhenti seketika. Ia melepaskan pelukannya, ia menegakkan tubuhnya dan berdiri tegak.


Rosmala menggeser sebuah kursi dan meletakkannya tepat di belakang tubuh Ning.


“Duduklah, Ning… saya tinggal dulu….” Ucapnya lalu pamit pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Ning menoleh, kemudian mengangguk. Ia mendaratkan bokongnya pada kursi tersebut dengan tanpa melepaskan tatapannya dari Athar yang tersenyum padanya, seolah ingin terlihat jika dirinya dalam keadaan baik- baik saja.


“Kenapa tidak ada yang mengabari ku? Hiks hiks….” Protesnya yang kembali meneteskan air mata.


“Karena aku tak ingin melihat mu sedih seperti ini… Tadinya, aku akan memberitahu mu setelah aku sembuh….” Suara Athar masih terdengar lemah.


“Kau memang jahat!!” pekik nya merasa kecewa bercampur sedih.


Athar kembali tersenyum gemas melihat Ning nampak marah “Mereka terus memaksa ingin memberitahukan mu saat menemuiku di UGD… Tapi aku melarang… Karena aku masih dalam masa hukuman mu, sayang… Apa kau lupa hem?”


“Kenapa kau masih memikirkan hukuman itu saat keadaan mu seperti ini? Hiks hiks…”


“Karena aku takut… Jika aku menemui mu sebelum seminggu, maka hubungan kita berakhir… Tapi __________”


“Tapi apa?” tanya Ning, karena Athar menggantung ucapannya.


“Setelah aku mengetahui kondisi ku, maka ku izinkan mereka memberitahu mu….” Raut wajah Athar berubah sedih.


“Maksudnya?” Ning yang masih sesenggukkan nampak bingung.


Athar menarik nafas sejenak. “Ini hari ke- enam masa hukuman ku… Dan aku melanggar perjanjian… Itu artinya hubungan kita berakhir….”


Ning menggeleng. “Enggak… aku gak mau, hiks hiks…” tolak Ning kembali terisak.


“Kamu yang membuat peraturannya, sayang… Dan aku sudah melanggarnya… Aku harus menerima konsekwensinya….” Ucapnya lirih.


“Aku membuat perjanjian itu gak serius, kok….” Ning menyesali perjanjian yang telah ia buat.


“Tapi aku serius….” Kekeuh Athar.


“Jadi… kamu mau kita putus? Hiks hiks… Apa itu karena Nadira?” ucap Ning berlinangan air mata.


Athar menggeleng pelan. “Bukan….”


“Apa karena Nyonya Andini?” tebak Ning lagi.


Athar terdiam, tak meng-iya kana tau pun membantah. Melihat hal itu, Ning pun ikut terdiam. Keduanya nampak terlarut dalam pikiran masing- masing.


Nyonya Andini yang menentang keras hubungan mereka sesuai apa yang diceritakan Athar dan Dino, kembali terbayang di kepala Ning. Betapa kerasnya usaha ibu kandung Athar untuk memisahkan mereka, hingga hal yang menimpa Athar ini sampai terjadi. Perasan bersalah pun semakin menghinggapinya.


Setelah beberapa saat, Ning menghela nafas panjang. Ia menundukkan kepala.


“Baiklah… Jika itu mau mu…” ucapnya lirih. Ia terpaksa hanya bisa pasrah jika itu demi kebaikan pria yang sangat dicintainya. Tangannya masih bergerak menghapus jejak air matanya yang tak kunjung surut.


“Aku sudah gagal mendapatkan restu ibu-mu… Mungkin memang kita tak akan bisa bersatu… Aku juga tidak ingin membuat hubungan mu dengan ibu mu semakin menjauh… Maaf… maafkan aku… gara- gara aku, kamu jadi seperti ini… Aku memang selalu membawa kesialan ada semua orang….” Bulir bening mengalir tanpa henti membasahi pipinya.


“Ning… bukan karena itu… Kamu gadis yang sangat baik dan unik… Kamu masih sangat muda dan pasti banyak lelaki baik di luaran sana yang lebih pantas untuk mu…” ucapnya menghela nafas sejenak. “Aku yang tidak layak untuk mu… Maaf, Ning….”ucapnya lirih, raut wajahnya pun semakin sedih.


“Semua ini bukan salah mu… kamu tidak perlu minta maaf… Mungkin sudah jalannya seperti ini….” Ning menghapus jejak air mata yang tak berhenti mengalir membasahi pipinya.


“Aku minta maaf sudah menyebabkan banyak masalah untuk mu… Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita berdua… Aku tidak akan memaksa mu untuk tetap bersama ku.. Apalagi dengan keadaan ku yang sekarang….” Ucapnya melirik ke bagian bawah anggota tubuhnya.


“Ma maksud mu?”


Athar memaksakan diri untuk tersenyum, meski sudut bibir dan pipinya yang lebam masih terasa sakit.


“Aku _________”Athar kembali menghela nafas berat. Dalam keadaan lemah seperti itu, nampaknya ia tak kuat jika terlalu banyak bicara. Tiba- tiba saja tenggorokannya seperti tercekat.


Sementara Ning, menatap was- was pada Athar dengan penuh tanda tanya. Ia menunggu apa yang ingin dikatakan oleh pria yang melihatnya dengan tatapan sendu.


-


-


------------- TBC ---------------


**************************


-


-


Monmaaf … monmaaf… baru up lagi yassalam… Abis meriweuh hajatan, anak sakit, giliran sembuh etdah malah eceu yang sakit…. curhat deh🤭🙏🙏🙏

__ADS_1


Terimakasih selalu menantikan kisah Ning nong neng jring….🥰


Alapyu all….😘😘


__ADS_2