
“Kau !! Dasar wanita jorok!!” makinya kesal, karena setelah menolong Ning, ia malah mendapat imbalan gas beracun. Ia mundur dan menjauh dari Ning masih dengan menutup hidungnya.
“Sorry, tuan Dinosaurus … Aku keceplosan, hehehe ….” ucapnya cengengesan.
“Lagian salah siapa ngagetin orang, gini kan jadinya ….”Ning malah menyalahkan Dino.
“Loh, kok Tuan muda Dinosaurus bisa ada di sini? bukannya____” Ning merasa heran dengan keberadaan Dino di sana, karena yang ia ketahui jika Dino dilarang keras keluar rumah.
“Dasar kau ini!!” maki Dino kesal, ia berbalik dan hendak beranjak pergi.
“Hei, Tuan Dinosaurus kau mau kemana?” tanya Ning sembari melihat kesana- kemari, karena takut si brewok masih mengejarnya.
“Kau sudah aman, kan? Tentu saja aku mau pergi ….” ucapnya masih menutup hidung.
“Aduh, please .. jangan pergi dong … Nanti kalau si brewok itu menangkap ku bagaimana?” ucapnya meminta perlindungan.
“Bukan urusan ku!! Aku tidak mau mendapat serangan bau busuk lebih dari ini lagi!!” Dino kemudian pergi meninggalkan Ning begitu saja, tanpa memperdulikan Ning yang masih dilanda ketakutan.
“Yah … kok dia pergi sih? Jangan- jangan dia kabur lagi dari rumah,” ucap Ning mengkhawatirkan Dino.
Ia hendak melangkah mengikuti Dino, namun saat melihat dua orang bodyguard memakai pakaian hitam- hitam menghampiri Dino, ia mengurungkan niatnya dan membiarkan Dino pergi bersama mereka.
“Syukurlah, si Dinosaurus sudah bersama pengawalnya,” ucapnya bernafas lega.
Ning melihat situasi di sekitar parkiran tersebut. Dan setelah tak melihat keberadaan pria yang dipanggilnya si brewok itu, ia pun keluar dari persembunyiannya dan melangkah pergi dengan hati- hati serta berwaspada.
Grepp
“Kena lo sekarang!!” si brewok ternyata berhasil menangkap Ning dan mencengkram tangannya.
“Lepasin tangan gue!!” Ning berontak, namun orang itu mencengkram semakin kuat.
“Gak akan!!"
“Ada urusan apa sih lo sama gue? Kenal juga enggak!!” bentak Ning.
“Lo lupa apa pura- pura lupa, hah? Lo belum bayar ganti rugi cedera kepala gue … Sekarang lo harus bayar!!”
“Gue gak punya duit … mau bayar pakai apaan? lepasin!!” teriak Ning terus berontak.
“Oh, jadi gak punya duit? Lo bisa bayar pakai yang lain ….” ucapnya tersenyum licik. Ia memandangi Ning dari atas hingga bawah.
“Lepasin gue brengs*k!!” Ning mulai geram bercampur takut melihat tatapan si brewok bagai buaya yang hendak menelan mangsa.
“Tolong … enghhh,” baru saja berteriak, pria itu membungkam mulut Ning dengan telapak tangannya.
Tiba- tiba ada yang menepuk pundak si brewok dari belakang. Ia pun menoleh ke arah belakangnya.
Bugh …
Satu pukulan mendarat di pipi kanan si brewok yang membuatnya secara reflex melepaskan Ning.
“Siapa lo? Jangan ikut campur urusan gue!!” bentaknya sembari mengusap pipi kanannya yang terasa sakit.
“Hanya seorang pengecut yang beraninya cuma sama perempuan ….” ucap pria itu dengan tatapan tajam.
“Argh, gak usah banyak bacot lo!!” Si brewok merasa geram, kemudian balik menyerang orang itu sampai terjadi perkelahian.
Namun nahas, si brewok justru kalah telak dan babak belur dihajar habis- habisan oleh orang itu hingga jatuh terkapar di atas tanah.
“Ini uang untuk pengobatan luka- luka anda,” ucapnya sembari melemparkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan. Ia lalu menghampiri Ning yang masih nampak shock.
“Mbak Ning gak apa- apa?” tanyanya khawatir.
Ning tak menjawab dengan perkataan, ia hanya menggeleng kepalanya dengan raut wajah takut.
“Ayok kita pergi dari sini,” ajaknya dengan menggenggam tangan kanan Ning. Ia pun manut dan ikut pergi bersamanya meninggalkan si brewok yang masih terkapar di tanah.
Keduanya berjalan kembali memasuki area taman dengan tangannya yang tak melepaskan tangan Ning.
“Pak, Pak Singgih kenapa bisa tahu kalau saya sedang di parkiran?” tanya Ning terbata- bata sembari berjalan.
Singgih menoleh sekilas, kemudian pandangannya kembali lurus ke depan.
“Tadi dari kejauhan saya melihat Mbak dikejar orang itu, makanya saya ikuti sampai parkiran.”
“Terus, Nana sama siapa, Pak?” tanya Ning mengkhawatirkan Nana yang dikiranya ditinggal sendirian.
“Nana ada yang nemenin kok ….” ucapnya yang hampir sampai ke tempat bermain anak.
“Te terimakasih banyak, Pak ….” ucap Ning menundukkan kepalanya.
“Sama- sama ….” sahut Singgih, namun Ning tiba- tiba menghentikan langkahnya.
“Loh kenapa berhenti?” tanya Singgih menoleh.
“Ta tangan saya, Pak….” ucap Ning yang masih menunduk dan melihat ke arah tangannya yang masih di genggam oleh Singgih.
“Eh, maaf ….” ucapnya lalu melepaskan tangan Ning. “Maaf, sa saya tidak bermaksud___”
“Papa … Di sini ada kak Dino juga ….” teriak Nana sambil melambai- lambaikan tangan. Singgih pun balas melambaikan tangannya.
Ning menegakkan kepalanya dan melihat ke arah tempat bermain anak.
“Hah? Kenapa si dinosaurus ada di sini?” gumam Ning dalam hati.
“Hai, Ning … apa kabar?” sapa seorang wanita dari arah samping Ning. Ia pun langsung menoleh ke asal suara.
“Nyo nyonya Rosmala … ke kenapa Nyonya ada di sini?” Ning kembali terkejut dengan keberadaan mantan majikannya.
“Loh, di sini kan tempat umum, jadi siapa aja boleh ke sini, kan?” ucap Rosmala.
“Ma maksud saya____” Ning gelagapan.
“Sheryl terus merengek minta ditemani Dino main ke taman kota … Tentu saja saya tak akan membiarkan mereka pergi berdua saja ….”
__ADS_1
“Hah? Apa? Tuan muda sudah boleh pergi keluar rumah?” Ning terkejut mendengarnya.
“Tentu saja ….” angguk Rosmala.
“Itu berarti tuan muda sudah sembuh?” tanya Ning menebak.
Rosmala hanya tersenyum tanpa mengiyakan atau pun menyanggahnya.
“Dia sudah banyak berubah dan lebih penurut … Dan sebagai imbalannya kami mengizinkan dia pergi keluar rumah, tapi tidak boleh pergi sendiri … Jadi harus tetap dikawal ….”
“Oh, gitu ya ….” Ning sudah paham sekarang.
“Emm, maaf Nyonya … Dari yang saya amati selama menjadi pelayan pribadinya, Tuan muda hanya membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari Nyonya dan Tuan Aufar. Dia merasa diasingkan oleh keluarganya sendiri, jadi ia selalu berontak.” Ning mengutarakan pendapatnya setelah menjadi pengasuh Dino selama dua bulan.
“Kau benar, dia sudah mengatakannya pada kami … Itu semua kesalahan kami, walau sebenarnya kami mengurung dan mengekangnya demi kebaikannya sendiri … Tapi kami tak memikirkan imbas pada perasaannya dan dampak psikologisnya … Terimakasih, sudah membuatnya berubah menjadi lebih baik,” ucap Rosmala tersenyum.
“Hehehe ….” Ning nampak canggung dan malu, karena biasanya jika ia berbicara dengan Rosmala tak pernah seramah ini.
“Oh ya, apa benar dengan apa yang dikatakan Mami?” tanya Rosmala nampak penasaran.
“Maksud Nyonya??” Ning tak paham arah pembicaraan Rosmala.
“Hubungan mu dengan Athar ….” Rosmala memperjelas maksud perkataannya.
“Hah? It itu ... itu … emm anu ….” Ning malah gelagapan dan terlihat bingung.
“Asiall … aku harus jawab apa ini? Nyonya Ros sangat teliti sekali kalau nginterogasi, bisa- bisa ketahuan kalau kami hanya pura- pura pacaran … Seratus jitu melayang kalau begini … Pupus sudah harapan ku untuk menebus rumah Bapak ….” jerit Ning dalam hati.
“Pantas saja saat kau menghilang Athar begitu mengkhawatirkan mu … Dia mencari mu sampai menyewa detektif segala … Saya pikir, saat itu Athar hanya merasa bersalah pada mu … Tapi ternyata ada perasaan lain toh ….”
“Apa aku tidak salah dengar? Dia mengkhawatirkan ku sampai mencari ku dengan menyewa detektif?”
“Mana mungkin dia benar- benar ada perasaan pada ku … Kami kan hanya pacar bohongan ….”
“Argh, sudahlah … saat itu dia hanya merasa bersalah pada ku karena sudah menuduhku yang tidak- tidak ….” Ning berdialog dalam hati.
“Ning … Ning ….” Rosmala menepuk lengannya beberapa kali.
“Iy iya, Nyonya ….” Ning terperanjat tersadar dari lamunannya.
“Kenapa malah bengong?” tanya Rosmala heran.
“Ma maaf, Nyonya … tadi Nyonya bicara apa?”
“Tadi saya tanya soal paman dan bibi mu, juga tentang rumah orang tua mu yang____”
“Mbak Ning Nong !!” seru Sheryl yang berlari menghampiri.
“Hai, Nona Sheryl ….” sapa Ning dengan mengulas senyum.
“Mbak Ning Nong kemana aja sih? Kok gak ada di rumah lagi?” tanya Sheryl sembari bekecak pinggang.
“Mbak Ning sekarang kerja di tempat lain,” ucapnya terus terang.
“Jadi Kak Dinosour gak punya pengasuh lagi dong? Kan kasihan ….”
“Ayok kita main di sana sama Nana dan Kakak ….”ajak Sheryl menunjuk ke area bermain.
“Pas banget nih anak datengnya … Jadi aku bisa menghindari obrolan dengan Nyonya Ros,” gumam Ning dalam hati.
“Ayok ayok ….” Sheryl menarik tangan Ning.
“Iya, Non ….” angguk Ning.
“Maaf, Nyonya Ros, Pak Singgih, saya permisi ....” ucapnya pamit.
Sheryl yang masih menarik tangan Ning, membawanya ke area bermain. Di sana ada Dino yang sedang mengayunkan ayunan yang dinaiki oleh Nana.
“Kakak, stop!! Aku juga mau naik ayunan nya,” titah Sheryl, dan Dino menghentikan ayunan besi yang seperti sarang burung dan di dalamnya terdapat tempat duduk yang berhadapan. Sheryl pun naik ke dalamnya duduk bersama Nana.
“Tarik, Mang!!” seru Sheryl pada sang kakak.
“Hahahaha, Mang Dinosaurus ….” ejek Ning yang kemudian menghampirinya.
“Diam kau!!” pekik Dino, namun ia tetap mengayunkan ayunan sesuai permintaan sang adik.
“Punya profesi baru, Mang? Hahaha ….” Ning masih saja mengejeknya.
Dino hanya mendengus kesal, sepertinya ia sedang malas meladeni candaan Ning.
“Oh ya, soal tadi terimakasih sudah sempat menyelamatkan ku … Ya walau pun setelah kau pergi si brewok berhasil menangkap ku ….” ucapnya yang sudah berhenti mengejek.
“Tapi orang itu sudah dihajar oleh Om Singgih, kan ….” ucap Dino.
“Ya.” angguk Ning.
“Kau itu sebenarnya ada urusan apa dengan orang menyeramkan itu? Apa dia itu pacar mu?” tanya Dino penasaran.
“Sembarangan!! Amit- amit punya pacar serem kayak gitu ….”Ning bergidik ngeri.
“Terus kenapa? Apa kau berhutang pada orang itu?” Dino masih penasaran, hingga tangannya berhenti megayunkan ayunan.
“Enggak lah … biarpun miskin, aku gak pernah ngutang sana- sini kali … Hidup sekemampunya aku aja ….”
“Terus, kenapa?” Dino masih menunggu jawaban.
“Kepo banget sih … Tuan Dinosaurus ternyata perhatian ya sama aku, hahaha ….” Ning malah menggodanya.
“Ck … menjijikan ….” Dino berdecik kesal.
“Selalu begitu ….” sindir Ning yang sudah mengenal tabiat Dino.
“Heran … kenapa Om Athar bisa menyukai orang seperti mu … Menjengkelkan, jorok lagi!!”
Ning menatap tidak suka pada mantan anak asuhnya itu.
__ADS_1
“Brengs*k nih orang … Mana?? Kata emaknya sudah banyak berubah … Tetap aja omongannya itu bikin nyesek,” gerutu Ning dalam hati.
“Hei, tuan muda … Kalau masalah hati, ya mau gimana lagi,” ucapnya seolah ia benar-benar ada perasaan terhadap Athar.
“Gak pernah jatuh cinta ya ….” ejeknya.
“Kakak peri … Nana sama Kak Sheryl mau main di sana ….” ucap Nana yang sudah turun dari ayunan bersama Sheryl dan menunjuk ke arah prosotan.
“Iya, peri kecil … hati- hati ya,” ucapnya memberi izin.
“Iya,” angguk Nana dan ia pun pergi bersama Sheryl meninggalkan Dino dan Ning.
“Apa? Nana bilang apa tadi? Kakak peri? Hahahaha,” ucapnya tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Nenek Sihir iya kali, hahaha.” Dino tertawa dengan renyahnya.
“Sirik aja jadi orang!! Huh.…” Ning mendengus kesal.
“Sebenarnya kau itu pakai pelet apa? Sampai Om Athar berani menentang Oma untuk berpacaran dengan mu?” tanaya Dino heran.
“Pelet? Pelet umpan ikan maksudnya?” ucap Ning memplesetkan.
“Pelet ilmu sihir!! Perdukunan …. ” Dino memperjelas maksud ucapannya.
“O em ji, hello … Apa kau itu manusia yang berasal dari zaman purba? Masih aja percaya sama yang kayak begituan ….”
“Lalu, bagaimana bisa Om Athar jatuh cinta pada orang seperti mu? Tidak mungkin seleranya bisa menurun drastis dari seorang yang anggun dan cantik seperti tante Alexa, kecuali kau menggunakan pelet ….” Dino kekeuh dengan prasangkanya.
“Oh iya iya bener … aku pakai pelet … Bahkan bukan cuma itu, aku juga bisa nyantet orang loh….” Ning yang mulai kesal, malah meladeni tuduhan Dino.
“Apa?” Dino sepertinya tak percaya dengan pengakuan Ning.
“Ya, aku bisa nyantet orang, termasuk nyantet kau, tuan muda Dinosaurus ….” Ning bicara semakin ngelantur.
“Hahahaha … No way !!” Dino makin tak percaya.
“Whatever … Kalau tidak percaya, jangan salahkan aku jika nanti malam, tiba- tiba dari mata dan hidung mu mengeluarkan darah hitam … Dari mulut mu akan keluar kelabang yang banyak … Perut mu juga akan merasakan sakit yang luar biasa, karena di dalamnya terdapat pecahan beling dan kaca, juga paku- paku yang sudah karatan. Dan itu aku yang mengirim nya….” ucapnya seolah ia memang seorang dukun ahli santet.
“Tidak perlu menakut- nakuti ku!! Aku ini bukan anak kecil yang bisa kau bodohi ….”
“Salah siapa menantang ku … Lumayan kan hasil bertapa dan berguru ilmu di Banten bisa dipraktekan pada mu sebagai kelinci percobaan jurus santet ku, ha-ha- ha-ha-ha….” Ning tertawa jahat.
“Dasar wanita tidak waras!!” hardik Dino.
“Kau yang tidak waras, menyamakan ku dengan seorang dukun, nuduh pakai pelet segala lagi!!”
“Hei … Asal kau tahu ya, dengan kentut ku saja, bisa membuat Om Athar mu itu klepek- klepek .. Gak usah main dukun segala ….” cerocos Ning geram.
“Klepek- klepek apa maksud mu? Mencium bau kentut mu saja, Om Athar akan batuk- batuk terus sesak nafas dan pingsan ….” Dino tak kalah geram.
“Lah itu, klepek- klepek namanya, bego!!” bentak Ning.
“Iya, klepek- klepek yang bisa menyebabkan kematian, tolol !!” maki Dino.
“Astagfirullah … Gak sopan banget sih, nyumpahin pacar aku cepat mati …"
"Jangan- jangan tuan muda juga naksir sama aku ya??” goda Ning menebak- nebak.
“Ap apa maksud mu? Percaya diri sekali kau ini!!” Dino gelagapan dibuatnya.
“Oh iya, aku baru ingat … Tuan muda kan pernah terkena serangan kentut beliung ku … Pasti peletnya udah nempel juga kan … Jadi suka keinget terus sama aku ya … Ngaku hayooo…..” Ning semakin menggoda Dino, hingga membuatnya nampak salah tingkah.
“Kau!! Mimpi saja sana!!” Dino menunjuk wajah Ning.
“Jangan salah loh, pelet kentut ku itu lebih dahysat dari pelet mbah dukun mana pun ….”
“Dasar orang gila!!” hardik Dino.
“Susah loh menghapus efek pelet kentut ku itu … Apalagi kentut yang tadi tuh, beuh … bakalan nempel sampai tujuh bulan purnama ….”
“Diam kau!! Lama- lama aku bisa gila jika terus bicara dengan mu!! ” Dino semakin kesal, ia pun beranjak pergi meninggalkan Ning.
“Pergi saja sana … jangan salahkan aku jika terus terbayang- bayang wajah cantik ku ini … hahahaha.” Ning tertawa penuh kemenangan, karena berhasil membuat Dino kesal.
“Kesel sendiri kan lo … Siapa suruh, ngatain gue macem- macem … Ningrat Atisaya dilawan, hahahaha ….”
“Oh ya ampun ... bilang apa gue tadi ? Pelet kentut? Mana ada yang namanya pelet kentut … adanya juga kentut beracun, hihihihihihi ….” Ning cekikikan sendiri merasa senang melihat Dino yang kalah telak darinya.
“Neng, emang ada gitu pelet kentut?” tiba- tiba ada seorang lelaki bertanya pada Ning.
“Hah? Apa? Maksudnya gimana?” tanya Ning heran.
“Jadi kalau saya kentut depan orang yang saya sukai, dia bakalan klepek- klepek sama saya, gitu?” Orang itu malah berasumsi sendiri.
“Ih, mana ada yang seperti itu, Bang … Yang ada Abang bakalan ditolak mentah- mentah dan diusir detik itu juga sama cewek yang bang kentuti itu," ucap Ning.
“Lah, tadi katanya Neng dapat pacar gara- gara pelet kentut,” ucap orang itu yang menangkap ucapan Ning.
“Astaga naga … rupanya nih orang dari tadi nguping pembicaraan absurd gue sama si Dinosaurus ….” gumam Ning dalam hati.
“Aduh, Bang … Tadi itu saya sama si tuan muda cuma bercanda .…”
“Jadi yang tadi itu tuan- tuan kaya raya gitu? Bagi resepnya dong Neng, gimana caranya supaya kentut saya bisa mengandung pelet ….” orang itu tetap kekeuh soal khasiat pelet kentut.
“Ih, Abang ini ngaco. Mana ada di dunia ini yang seperti itu… Saya permisi ya, Bang ….” Ning segera beranjak pergi. Nampaknya ia kapok berurusan dengan pria asing aneh yang nantinya berujung seperti si brewok.
“Sial- sial- sial … Gara- gara semalam mimpi ciuman sama si Kudanil, hari ini jadi ketemu orang- orang aneh dan menyebalkan ….” gerutu Ning sembari berjalan menuju tempat duduk Rosmala dan Singgih.
“Eh, si Neng malah kabur … Pelit amat sih gak mau berbagi ilmu pelet kentut, mentang- mentang udah berguru di Banten ….” pria itu malah menggerutu kesal.
------------- TBC------------
******************
Happy Reading ….😉
__ADS_1
Tilimikicih selalu setia menantikan kisah Ning si Ratu kentut…😍🥰
Aylapyu All …😘😘😘