
Ning yang mendengar semua cerita Athar, tak kuasa menahan air matanya yang mengalir deras. Athar menarik tubuh Ning yang duduk di sebelahnya dan membawa kedalam pelukannya.
“Hei, kenapa malah nangis, sayang?” ucapnya mengusap punggung Ning, kemudian mengecup pucuk kepala sang pujaan hatinya itu.
“Kenapa kamu melakukan semua itu untuk ku? Bahkan sampai menentang ibu mu…Hiks hiks….”
“Aku akan melakukan apa pun untuk wanita yang sangat ku cintai….” ucapnya kembali mengecup pucuk kepala Ning.
“Terimakasih… terimakasih, hiks hiks… Aku gak tahu gimana jadinya hidupku jika gak bertemu kalian, hiks hiks…. Aku gak nyangka akan bertemu orang baik yang begitu peduli padaku selain Ocha, hhuhuhuhu….” Tangisnya semakin pecah.
“Ssssttt… Kamu orang baik, sayang… Tentu saja kamu akan dikelilingi orang baik juga….”
“Tapi banyak orang jahat juga… apa aku juga punya sisi jahat, hiks hiks….”
Athar terkekeh mendengarnya.”Kalau gitu jangan anggap mereka orang, anggap aja hantu… Atau anggap saja kentut, yang tak terlihat hanya berbau busuk dan akan sirna dengan sendirinya tanpa kamu membalas kejahatan mereka… Jangan pedulikan….” ucapnya yang tahu pasti orang jahat dimaksud Ning.
Bugh
“Awww… Kamu suka sekali memukul dada ku, sayang… Dielus lebih enak loh, rela abang….” Goda Athar pura- pura kesakitan.
“Abisnya kamu malah nyindir- nyindir kentut… Kamu kan tahu aku ini ratu kentut….” Sewot Ning disela isak tangisnya.
“Hahahahaha… ah iya iya aku lupa….” Athar tak kuat menahan tawanya, yang tentunya membuat Ning mengerucutkan bibirnya.
Cup
Athar mengecup kening Ning yang masih anteng menempel di pelukannya. Ning pun tersipu malu semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Athar.
“Kau berhutang pada ku, sayang….” bisiknya yang membuat Ning terperangah dan tangisannya pun berhenti seketika.
“Hutang apa?” tanya nya heran dan bingung.
“Tadi pagi bilangnya gak sabar pengen digigit….” Ucapnya kembali terkekeh. “Awww….hhhsssttt… Sakit, sayang….” Athar menjerit kesakitan. Ning pun melepaskan diri dari pelukannya.
“Tadi katanya minta digigit….” cibir Ning.
“Ya bukan dada juga yang digigitnya, sayang… Hssssttt….” Ucapnya meringis kesakitan.
“Terus dimana?” tanya Ning pura-pura polos.
Athar memonyongkan bibirnya.
Cup
Bukannya menggigit, Ning malah mengecup sekilas bibir Athar.
“Ko Cuma dikecup aja? udah kering nih….” protes Athar manja.
“Dasar mesum!!”
“Tapi suka ‘kan? Cinta ‘kan?” godanya menjawil hidung Ning, hingga membuat gadisnya itu kembali memberingsut. Athar kembali mendekap Ning ke dalam pelukannya.
“Ih, lepasin!! Jangan peluk- peluk!!”
“Diamlah, sayang… Biarkan seperti ini… Aku tidak tahu apakah nanti bisa memeluk mu lagi atau tidak….”
Deg
Ning terdiam seketika, ia tertegun mendengar ucapan Athar.
“Kenapa?” tanyanya lirih.
“Kenapa apanya?” Athar malah balik bertanya.
“Kenapa ngomong gitu? Apa kamu berniat meninggalkan ku lagi?” ucap Ning kembali sedih hingga meneteskan air mata.
Athar menarik nafas dalam- dalam, perlahan ia melepaskan pelukannya hingga keduanya duduk tegap. Athar menatap Ning yang duduk di sebelahnya. Ia menghapus jejak air mata Ning dengan jemarinya.
“Apa yang sudah Mami katakan pada mu?” ucapnya dengan nada lembut.
Bukannya menjawab, Ning malah kembali terdiam. Ia menundukkan pandangannya, tak berani menatap mata Athar.
“Riko bilang Vina membawa mu bertemu Mami di apartemen ku… Apa Mami menyakiti mu?” ucapnya dengan tatapan sendu.
“Apa kau akan meninggalkan ku seperti keinginan Nyonya besar?” ucap Ning masih menunduk.
“Aku yang akan bertanya seperti itu… Aku yakin Mami meminta mu menjauhi ku… Iya ‘kan?” Athar menghela nafas sejenak.
“Jika kau ingin meninggalkan ku dan mengakhiri hubungan kita, aku tak akan mencegah mu… Aku tak akan memaksa mu untuk tetap bersama ku, karena aku tahu Mami tak akan berhenti mengganggu mu... Kamu berhak bahagia dengan pria yang jauh lebih baik dari ku, bahkan yang orang tuanya tak akan menyakiti mu seperti______”
Ning menempelkan telunjuknya pada bibir Athar yang membuat pria itu menghentikan ucapannya. Ia pun menatap mata Athar.
“Hei Tuan Om… Aku akan menjadi orang yang paling bodoh dan hidup penuh penyesalan jika aku meninggalkan pria yang sudah melakukan banyak hal untuk ku agar aku tetap hidup….” Ucap Ning yang teringat akan apa pengorbanan Athar untuknya.
Hal itu membuatnya mendapat kekuatan untuk terus bersama pria yang sangat dicintainya itu, bertahan demi apa pun. Walau ia sadar dirinya akan berhadapan dengan Nyonya Andini yang menentang hubungan mereka.
“Kau pikir aku tidak tahu, di sana kamu sering mabuk karena harus meninggalkan ku dan hidup jauh dariku… Bahkan kamu sampai berobat ke beberapa dokter di London dan negara lain agar penyakit aneh mu sembuh, dan itu kau lakukan agar aku tak takut menyakiti mu dengan kebiasaan aneh ku… Supaya kita bisa bersama….” lanjutnya yang membuat Athar terperangah sejenak. Padahal ia tak menceritakan apa tentang hal itu.
“Tapi aku lebih takut jika mami akan menyakiti mu….” Ucapnya menundukkan pandangan.
“Tidak… Nyonya Andini tidak menyakitiku… Kemarin itu sikap wajar bagi orang tua yang ingin melindungi anaknya dari bahaya yang akan mengancamnya….” Ucap Ning dengan yakin, agar tak melukai perasaan Athar. Karena memang Nyonya Andini tak melukai fisiknya, melainkan hatinya. Namun ia tak ingin Athar mengetahui hal itu.
“Tapi____”
“Apa pengobatan mu membuahkan hasil?” Ning mengalihkan topik.
Athar mengangguk. Ning pun tersenyum sumringah.
“Jika Nyonya Andini tahu kamu sudah sembuh, pasti beliau tak akan menentang hubungan kita lagi….” ucap Ning yakin.
Athar kembali menatap Ning. “Kamu tidak mengenal Mami… Dia bisa_____”
“Aku kenal kok… Dia Nyonya Andini wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan lelaki yang sangat aku cintai… Dan aku sangat berterimakasih pada beliau yang sudah membuat mu ada di dunia ini….”
“Bukan itu, tapi Mami_____”
__ADS_1
“Dia tidak akan membiarkan putra kesayangannya yang bandel ini kembali patah hati ditinggalkan wanita yang sangat dicintainya….”
“Itu berlaku hanya untuk orang tua lain, tidak dengan Mami… Dia bisa melakukan apa pun yang tak terduga… Jika kamu tidak menuruti perintahnya maka____”
“Maka aku tidak akan menurut….” Ucap Ning dengan yakin.
“Sayang____”
“Daniel- ku… Selama ini kamu sudah berjuang sendirian… Dan sekarang giliran kita berjuang bersama… Aku tak akan menyerah setelah semua yang sudah kamu lakukan dan korbankan untukku….”
“Tapi_____”
Ning menggenggam kedua tangan Athar. “Aku sangat mencintai mu… Aku tidak ingin jauh dari mu, apalagi kehilangan mu… Itu akan sangat menyiksa ku….”
Athar kembali membawa Ning kedalam pelukannya. “Aku juga sangat mencintai mu lebih dari apa pun…”
“Berjanjilah, kamu tak akan menyerah begitu saja….” pinta Ning penuh harap
“Aku janji… walaupun Mami tak merestui hubungan kita, aku akan tetap menikahi mu….”
Ning melepaskan pelukannya. “Tidak… aku tidak mau menikah dengan mu tanpa restu Nyonya Andini….”
“Sayang… itu mustahil….”
“Gak ada yang mustahil jika kita mau berusaha ‘kan?”
“Tapi______”
“Soal alergi mu, sudah tak jadi masalah bukan? Aku akan berusaha mengambil hati Nyonya Andini agar merestui hubungan kita….”
“Sayang____”
“Tadi ‘kan sudah janji gak akan menyerah….”
“Mami itu hatinya sekeras batu, aku saja yang anaknya sulit meluluhkannya… Apalagi kamu ….”
“Jangan menyerah sebelum kita mencobanya….” Ucap Ning gigih.
Athar mendengus pasrah. “Baiklah… Tapi, apa kamu yakin?”
“Demi kamu, apa pun itu….”
“Gombal….” Athar terkekeh gemas, lalu menjawil hidung Ning.
“Hehehehe … sekali- kali boleh dong… Emang kamu doang yang bisa gombal….” Ejek Ning.
“Ya ya ya….” Athar terkekeh gemas.
“I love you, Daniel-ku….” ucap Ning.
“I love you more, Ning-ku….” balas Athar.
“I love you most, Daniel- ku….”
“I love you to the moon and back, Ning-ku”
Sebelum Ning memulai, Athar lebih dulu mengecup bibir Ning. Awalnya hanya kecupan hangat dan lembut, berubah menjadi ******* bibir yang saling berbalas dan berlangsung beberapa saat.
Keduanya saling melepaskan pagutan bibir mereka yang nampak kehabisan nafas. Mereka berlomba- lomba berburu oksigen.
Athar membawa Ning kembali kedalam pelukannya. Ia mengusap lembut rambut Ning yang panjang terurai. Ning menyembunyikan wajah meronanya di dada bidang Athar.
“Omshay….”
“Hmmm….”
“Aku masih gak nyangka, kalau Dino yang mendonorkan ginjalnya untuk ku….” Ucap Ning memainkan kancing kemeja Athar.
Athar menghela nafas sejenak. “Aku saja gak percaya dia bisa melakukan hal itu untuk mu….”
“Aku pikir kamu yang donor ginjal….” ucap Ning.
“Kenapa berpikir begitu?” Athar mengerutkan keningnya.
“Karena setelah aku operasi, kamu menghilang… Dan setahun kemudian Siti bilang terakhir lihat kamu masuk ruang persiapan operasi… Jadi ku pikir kamu donorin ginjal terus____”
“Terus apa?” potong Athar.
“Aku kira kamu menghilang karena meninggal….” ucap Ning dengan suara pelan.
“Hehehe… kamu sampai mikir kayak gitu…” Athar malah terkekeh.
“Soalnya aku pernah nganter barang dan lewat tempat pemakaman keluarga… Di sana ku lihat ada Nyonya Andini sama Nyonya Ros… Kata penjaganya hari itu peringatan satu tahun meninggalnya anak Nyonya… Aku kira anak Nyonya Andini, lalu aku pulang dengan penuh tanda tanya… Eh setelah aku ngobrol sama Siti, aku balik lagi ke tempat pemakaman itu…Aku sampai nangis mohon- mohon ke penjaga gerbangnya agar bisa masuk ke tempat makam itu….”
“Apa mereka mengizinkan mu masuk?” tanya Athar penasaran. Ia tahu betul yang diperbolehkan masuk hanya keluarga saja.
Ning mengangguk. “Ya, karena ada Mas Igih yang datang dan bilang kenal dengan ku… Setelah masuk, aku berjalan menuju salah satu makam yang sebelumnya terlihat Nyonya Andini dan Nyonya Ros disana… Tanpa membaca nama yang ada di batu nisan, aku memeluk batu nisan itu dan nangis histeris... Dan tangis ku terhenti setalah Ocha menyebutkan nama Dyangga Fedino Sahulekha yang tertulis di batu nisan itu…. ”
“Sebesar itu cinta mu pada ku, hem?” Athar membayangkan betapa sedihnya Ning kala itu.
“Ck… Memangnya kamu pikir ucapan ku tadi hanya bualan?” Ning berdecak kesal.
Athar terdiam dan tak membalas ucapan Ning. Hingga beberapa saat, keduanya pun terdiam dan hanya hembusan nafas saja yang terdengar.
“Omshay…”
“Hmm…”
“Ko diam?”
“Kamu juga diam….”
“Ikut- ikutan aja, hehhe…”
“Hehehe….”
__ADS_1
“Lagi mikirin apa?” tanya Ning.
“Apa kamu mencintai Dino?”
“Hah?” Ning melepaskan diri dari pelukan Athar. Ia duduk tegak menatap Athar dengan penuh tanda tanya dan heran. “Maksudnya?”
“Dino cinta sama kamu….”
Deg
Ning membulatkan matanya. “Darimana dia tahu?” gumam Ning dalam hati.
“Dino sampai rela mendonorkan ginjalnya, kamu pikir hanya karena dia ingin berterimakasih pada pengasuhnya yang sudah merubahnya jadi anak baik dan penurut?”
“Ma maksud kamu?”
“Dia mencintai mu, Ning….” ucapnya lirih.
Ning tertegun mendengar apa yang dikatakan Athar dan melihat ekspresinya yang kembali sedih.
Athar menarik nafas dalam- dalam. “Dino lahir saat aku baru tiba di London untuk kuliah… Dia cucu pertama Mami, dan semua orang sangat memanjakannya, termasuk aku… Dia anak yang lucu, aktif dan menggemaskan… Setiap tahun aku pulang, pasti akan membawakan banyak mainan untuknya… Setelah selesai kuliah, aku bekerja di kantor Papi… Teryata, Kak Ros juga ikut bekerja hingga membuat Dino suka bikin masalah, karena kurang perhatian dari orang tuanya….”
“Dan kamu tahu, sayang… setiap Dino bermasalah di sekolah, akulah yang akan datang ke sekolah menjadi walinya… Hingga di rumah pun dia lebih dekat dengan ku juga lebih patuh pada ku, begitu juga Diasri yang berselisih tiga tahun dengannya… Mereka sudah seperti anak- anakku sendiri…”
Athar menghela nafas panjang. “Tapi, dia menjadi pendiam dan banyak berubah setelah kecelakaan itu yang menyebabkan peluru bersarang dikepalanya… Itu wajar, karena kebebasannya sudah direnggut. Ia sudah seperti seekor burung yang terkurung di dalam sankar emas dan tak boleh bergaul dengan siapa pun… Bahkan ia harus menahan rasa sakit sendirian. Meski ia sering menyembunyikannya, tapi aku tahu itu….” Tak terasa bulir bening pun jatuh begitu saja membasahi pipi Athar.
“Sayang….” Ning mengusap punggung tangan Athar, lalu menggenggamnya dengan lembut.
“Sampai saat ini aku belum berani mengunjungi makam Dino… Bahkan saat pemakamannya pun, aku tak ikut kesana….”
“Kenapa?”
“Aku sudah bersalah padanya, Ning… Aku sudah bersalah….” Lirihnya dengan penuh penyesalan.
“Aku tidak tahu jika dia mencintai wanita yang sama dengan wanita yang kucintai… Dia selalu takut jika akan dioperasi, Ning… Dia tak mau meninggal di ruang operasi, itu yang selalu ia katakan padaku saat aku tak tega melihatnya kesakitan dan membujuknya untuk melakukan operasi saja… Tapi, saat dia tahu kau membutuhkan pendonor, diam- diam dia sudah mengikuti tes kecocokan dan hasilnya cocok… Dia begitu bersemangat untuk operasi, bahkan ia tak takut sedikit pun jika dia______”
Athar tak kuasa melanjutkan ucapannya. Ia menunduk dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya. Ia menumpahkan air matanya.
“Sayang….” Ning mengusap bahu lelaki itu, untuk menenangkannya. Ia bisa merasakan kesedihan Athar yang begitu dalam, karena ia pun pernah kehilangan orang yang sangat disayanginya.
“Aku sudah memintanya agar ia optimis operasinya akan berhasil dan ia akan sembuh… Jika tidak demi keluarga setidaknya demi kamu, Ning… Bahkan aku berjanji padanya, jika ia sembuh aku akan merelakan mu untuk bersamanya dan aku akan menghilang dari kehidupan kalian… Tapi, tapi dia menolak… Dia malah ingin aku bahagia, karena dia tahu kalau kamu juga mencintaiku, Ning….”
Athar menangis tergugu dengan penuh penyesalan. Ning pun kembali berderai air mata, tanpa suara isakan. Ia memeluk Athar dari samping. Ia pun sangat sedih mengingat pengorbanan Dino yang begitu besar untuknya. Ia bisa membayangkan, pastilah itu sangat menyakitkan bagi Athar. Di satu sisi Athar ingin menyelamatkan Ning saat itu, di sisi lain ia ingin keponakannya juga sembuh dan tetap hidup. Meski takdir ternyata hanya membiarkan satu nyawa saja yang selamat.
“Terimakasih, Dino… terimakasih… Aku akan menjaga ginjal pemberian mu dengan baik… Begitu juga Om Athar kesayangan mu ini… Aku janji, akan membahagiakan nya… Aku janji….” batin Ning dalam hati.
“Dady!!!”
Teriakan Nana yang masuk begitu saja karena pintunya terbuka, membuat Ning melepaskan pelukannya, dan Athar pun berhenti menangis. Ia menghapus jejak air matanya dengan sapu tangan yang ia ambil dari dalam saku celana.
“Eh, kok ada peri kecil?” Athar tersenyum melihat Nana yang kini berdiri di depannya dengan berkecak pinggang dan bibir cemberut.
“Kenapa Dady pulang gak bilang- bilang?!”
“Waah, peri kecil sekarang kok jadi galak?Padahal Dady kangen banget… Sini dong peluk, dady….” Athar merentangkan kedua tangannya menyambut Nana, dana nak itu pun langung menghambur ke pelukan Athar.
Muach muach….
Athar menciumi wajah gadis kecil kesayangannya itu.
“Peri kecil sama siapa ke sini?” tanya Ning yang merasa heran dengan kedatangan Nana yang tiba- tiba, namun ia tak melihat siapa pun yang menemani gadis kecil itu masuk ke rumah.
“Sama Papa….”
“Sama Papa?” tanya Ning memastikan. Tentunya mendapat tatapan tak suka dari Athar yang nampak cemburu.
“Iya....” Angguk Nana. “Tadi Papa turun duluan, katanya mau lihat Momy ada di rumah enggak nya… Tapi papa lama berdiri di depan pintu, gak masuk- masuk lagi… Padahal kan pintunya terbuka… Yaudah Nana turun aja dari mobil dan langsung lari ke sini deh, eh ternyata ada Dady…”
Deg
Ning dan Athar saling berpandangan.
“Kalau Mas Igih dari tadi di depan pintu… Jangan- jangan, dia melihat ______” batin Ning yang tak melanjutkan perkataannya kaena merasa malu luar biasa.
“Tuh kan, ketahuan….” bisik Ning nampak kesal pada Athar. Bagaimana tidak, pria itu tak menutup pintu, padahal ia masuk belakangan setelah Ning.
"Ck... Ketahuan sama mantan kok takut..." cibir Athar.
"Bukan masalah takut, tapi malu nya itu loh...!!" ketus Ning.
Athar malah tersenyum lebar, membayangkan Singgih melihat adegan ciuman mereka tadi.
"Malah senyam senyum!!" sentak Ning masih dengan suara pelan, namun memelototi Athar.
sedangkan lelakinya itu malah mengerlingkan matanya lalu meladeni celotehan Nana.
"Memalukan!!!" jerit Ning dalam hati.
-
-
---------- TBC------------
-
-
Happy Reading…
-
-
Mon maaf Eceu baru bisa up lagi… seminggu kemaren sibuk di cekolah nyiapin acara perpisahan sama wisuda anak teko, ditambah sakit... jadi kepala eceu gak bisa dipakai berhalu ria… Mudah2 an libur cekolah bisa sering up deh…
__ADS_1
Love u pull… tilimikicih selalu setia menantikan kisah Ning Nong yang jarang up ini,,, terimaksih banyak banyak banyak…
Love sekebon buat kalian para reader kuh….😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘