
Ning hanya bisa pasrah mengikuti kemana langkah orang yang menyeretnya, karena baginya orang itu adalah orang baik. Meski sudah seminggu berusaha menghindarinya, namun apalah daya, orang itu sendiri yang tiba- tiba datang dan membawanya pergi.
“Tuan Om … Kita ini mau kemana? Aku masih dalam jam kerja ini ….” tanya Ning pada Athar yang menyeret tangannya begitu saja tanpa permisi atau pun basa- basi.
“Sudah, ikut saja … saya tidak akan macam- macam kok.” Athar sama sekali tak menghentikan langkahnya.
“Mau dibawa kemana saja saya bersedia, tuan Om tamvan … Apa lagi kalau mau langsung dibawa ke KUA, unchh ….” gumam Ning dalam hati sembari senyam senyum sendiri.
Langkah keduanya terhenti di depan pintu sebuah kamar yang hanya berjarak dua meter saja dari tempat mereka berdiri. Athar pun melepaskan tangan Ning.
“Alamak … masa iya aku mau dibawa ke dalam kamar … Cuma berdua begini lagi… aduhhh … nanti ada si setan jadi makhluk ketiganya, gimana ini??” jerit Ning dalam hati yang mulai was-was.
“Sudah seminggu aku berusaha menghindarinya, sekalinya bertemu malah dibawa ke kamar … aduh Gustii … tolong hamba-Mu ini. Walau pun si Tuan Om tamvan nya luar biasa menggoda iman, tapi kalau begini caranya aku pun tak mau .…” Ning hanya bisa berdialog dalam hati.
“Aku pikir si tuan om ini orang baik, ternyata sama saja tidak waras … Dia bahkan lebih mesum dari pada si dinosaurus ….”
“Dengar, saya butuh bantuan mu ….” ucapnya berbisik di telinga Ning, dan itu membuat Ning terperanjat dan membuyarkan lamunannya. Hembusan suara Athar begitu menggelitik di telinganya.
“Ba bantuan apa Tuan Om?” tanya Ning dengan gelagapan.
“Ssstt … pelankan suara mu ….” Bisiknya lagi. “Ada seorang wanita di dalam sana … Dia selalu mengejar- ngejar saya.” Athar masih dalam acara berbisik- bisik.
“Lalu?” Ning pun bicara dengan suara pelan.
“Apa kamu bisa bantu saya untuk mengusirnya?”
“Ma maksudnya?” Ning menggeliat karena Athar begitu dekat dengannya, hingga ia tak berani menolehkan wajahnya ke arah sampingnya. Ia bahkan malah menundukan kepalanya.
“Ya Allah, ini jantung ku rasanya mau copot … kenapa si tuan Om terus berbisik di telinga ku seperti ini … Aaaahh, apa dia gak tahu jantungku terus berdebar kencang ….” Jerit Ning dalam hati.
“Kamu berpura- pura jadi pacar saya?”
“Apa?” ucap Ning terkejut.
Jedukk...
“Awww…. “
Ning menolehkan wajahnya ke samping dengan cepat sehingga, kepalanya menyundul bibir Athar.
“Ya ampun, maaf Tuan Om, maaf … Aku gak sengaja,” ucap Ning yang kembali memelankan suaranya.
“Kau ini ingin membuat bibir ku jontor, hah?”
“Bukan gitu maksudnya Tuan Om … saya kaget mendengar ucapan Tuan Om …”
Athar mengusap- usap bibirnya yang terasa sakit.
“Jadi bagaimana? Apa kau siap membantu ku?”
“Maaf Tuan Om, apa saya salah dengar atau Tuan Om yang sudah gila?”
“Maksud mu?” tanyanya heran.
“Mana mungkin Tuan Om pacaran dengan pelayan seperti saya?”
“Ssssttt… Pelankan suara mu ….” Athar menempelkan jari telunjuknya pada bibir Ning, sementara bibirnya sendiri di dekatkan pada telinga Ning.
“Saya bilang pura- pura, bukan beneran, ngerti gak sih?”
“Astagfirullah, ini jarinya minta digigit apa ya? baru jarinya aja yang nempel udah bikin degdegan luar biasa, apalagi kalau bibirnya yan menempel di bibirku ….” Ning menggerutu dalam hati.
Athar yang melihat ekspresi wajah Ning, lalu menyingkirkan jemarinya dari bibir Ning.
“Tuan Om, bisik- bisiknya jangan terlalu dekat dengan telinga saya. Geli tahu, saya masih bisa dengar kok walaupun tidak di dekatkan ke telinga.” Ning memberanikan diri protes.
Athar menjauhkan bibirnya dari telinga Ning. Nampak ada rasa malu, seolah baru menyadari bahwa ia begitu dekat dengan Ning.
“Ja jadi gimana?” kini Athar yang bicara gelagapan.
“Maaf Tuan Om … Memangnya tidak ada wanita lain yang apa, sampai Tuan Om meminta pelayan seperti saya untuk jadi pacar pura- pura?” Ning nampaknya menolak secara tidak langsung.
“Justru karena kamu seorang pelayan di rumah ini, makanya saya minta tolong sama kamu.”
“Apa gak bisa yang lain? Seperti Tini atau Utari gitu.” Ning malah mengusulkan pelayan lain yang ia ketahui namanya.
“Mereka itu pelayan lama, Falesha pastinya tidak akan percaya. Kamu kan pelayan baru di sini .…”
“Saya gak mau Tuan Om … Nanti Nyonya Rosmala bisa memecat saya, bahkan menggantung saya.” Ning pun berterus terang menolaknya.
__ADS_1
“Saya nanti yang akan menjelaskan pada Kak Ros … kamu tenang saja … Dan satu hal lagi, kalau Falesha menjauh dari saya, nanti saya akan memberikan kamu bonus 100 juta.” Athar memberi penawaran.
“Wadidaw … 100 jitu? Pura- pura jadi pacar doang? O em ji … ini sungguh- sunguh menggiurkan. Dan aku bisa secepatnya terbebas dari Nyonya Rosmala kalau dapat uang sebanyak itu … Hutang Mang Asep lunas, rumah bapak selamat, dan aku tidak perlu menjadi pengasuh si dinosaurus yang menyebalkan itu lama- lama ….” gumam Ning dalam hati.
“Hei, bagaimana? Kenapa kau malah melamun?” Athar menyenggol lengan Ning.
“Iy iya tuan Om, saya bersedia ….” Ning pun tergiur dengan jumlah bonus yang disebutkan Athar. Akhirnya ia menerima pekerjaan baru itu.
“Bagus kalau begitu … ayok kita masuk,” ajaknya.
“Tapi Tuan Om, saya bisa mengajukan syarat, kan?” ucap Ning.
“Syarat apa?” tanya Athar.
“Tuan Om gak boleh megang- megang seenaknya, gak boleh peluk- peluk apalagi sampai mencium segala. Pokoknya hanya sebatas bergandengan tangan.”
“Oke.” Athar pun langsung menyetujuinya.
“Satu lagi … Tuan Om juga harus memastikan kalau saya aman dari amukan Nyonya Rosmala.”
“Oke saya setuju … Dan saya juga punya syarat.”
“Apa itu?” tanya Ning was- was.
“Jangan memanggil saya dengan sebutan tuan om saat hanya sedang bersama saya, apalagi di depan Falesha nanti.”
Ning bernafas lega. "Lalu panggil apa?” tanya Ning bingung.
“Terserah, panggilan sayang aja pokoknya.”
“Panggilan sayang? Maksudnya saya memanggil Tuan Om dengan Tuan Sayang gitu?”
“Oh astaga … tidak perlu memakai embel- embel Tuan bisa gak sih?” protes Athar.
“Ma maksudnya manggil sayang?” tanya Ning memastikan.
“Emmm, itu kedengarannya tidak buruk.”
“Apa itu tidak terlalu ekstrim?” tanya Ning lagi.
“Kita memang pura- pura pacaran, tapi di depan orang kita harus terlihat seperti sepasang kekasih pada umumnya … Lagi pula panggilan sayang itu kan sudah biasa dalam sebuah hubungan percintaan. Kalau kau memanggilku suamiku, baru itu ekstrim.”
“Terserah ….”
“Oh em ji … ini gue yang gampangan apa dia yang pasrahan?” gumam Ning dalam hati.
“Apa ini gak terlalu gila? Argh … sial, gara- gara seratus jitu otak ku kenapa mendadak tidak waras … Ternyata aku salah mengira, si tuan Om pun sama tidak warasnya dengan orang- orang yang ada di dalam rumah ini.” Ning kembali bicara dalam hati.
“Hei, kau itu hobi sekali melamun ya … kalau kita terus berdiri di luar kamar seperti ini, kapan bisa mengusir Falesha?” Athar kembali berbisik di telinga Ning.
“Iy iya, maaf tuan Om …”
“Jadi gimana? Deal ya ….” Athar mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ning sebagai tanda keduanya menyetujui kesepakatan mereka.
Ning menghela nafas panjang, ia pun membalas jabatan tangan Athar. “Baiklah, deal ….”
“Good job ….”
“Seratus jitu oh seratus jitu … Dari si tuan om ini aku bisa mendapatkannya lebih cepat, dari pada dari Nyonya Ros yang memberi ku waktu satu tahun … Ternyata duit itu kalau dipanggil datang sendiri ya … duit duit duit….hihihihi.” Ning kembali bergumam dalam hatinya.
“Hei, kenapa kau terus melamun? Ayok kita masuk!”
“Maaf tuan Om,” ucapnya menunduk.
“Apa kau tahu? Kemarin ayam tetangga kebanyakan melamun, besoknya dia mati," ucap Athar karena melihat Ning beberapa kaki melamun.
Ning menanggahkan kepalanya dan menatap Athar.
“Hah? Emang di komplek perumahan elit seperti ini ada yang pelihara ayam?” tanyanya heran.
“Apa? Ah sudahlah tidak perlu dibahas. Ayok kita masuk!” Athar kembali menarik tangan Ning.
“Tapi Tuan Om, sebenarnya ini kamar siapa?”
“Nanti juga tahu sendiri.”
“Tuan Om, kasih tahu dulu … kalau saya terkejut bisa bahaya.”
“Maksud mu??”
__ADS_1
“Pokoknya kalau saya terkejut atau ketakutan berlebih, akan berakibat fatal pada tuan Om ….”
“Maksud mu apa? Apa kau bisa mengatakannya dengan lebih jelas?”
“Sepertinya aku harus memberitahukan yang sebenarnya, agar Tuan Om bisa lebihh waspada saat berada di dekat ku.” gumamnya dalam hati.
Ning menghela nafas panjang. “Begini Tuan Om, kalau saya panik atau ketakutan berlebih saya akan____”
Ceklek …
Belum selesai Ning berbicara, tiba- tiba ada seseorang yang membuka pintu dari dalam kamar tersebut.
“Athar … kamu lama banget sih ngangkat telponnya?” ucap seorang wanita dengan nada manja.
Athar dengan segera merangkul Ning dan menarik tubuhnya. Ia memegang bibirnya yang masih terasa sakit setelah disundul kepala Ning.
“Sayang, kenapa kau menggigit bibirku, hem? Sakit tahu …” ucapnya menoleh pada Ning dengan wajah berseri- seri.
Ning yang terkejut pun membuka matanya lebar- lebar.
“Bi bibir apa maksudnya? Sa saya ____”
Athar mengedipkan mata kanannya sebagai tanda ia memberi kode.
“Sayang, kamu gak usah malu, dia itu cuman tamu nya Mami … Usai menemui Mami nanti, kita lanjutkan lagi yang tadi ya … “ Athar mendekatkan mulutnya ke telinga Ning. “Jangan menggigit ku lagi, sayang,” bisiknya dengan suara yang masih bisa didengar oleh Falesha.
“Astoge … apa-apaan ini, kenapa adegannya jadi seperti ini? Ucapan tuan om benar- benar mesum … Kalau bukan adiknya majikan ku, sudah ku tampar pipinya dengan menggunakan sandal jepit ku,” gumam Ning dalam hati.
Ning menggerakan bahunya sebagai kode jika dia ingin melepaskan diri dari rangkulan Athar. Si Tuan Om pun seolah paham dan melepaskan rangkulannya. Namun bukannya menjauh, ia malah menggenggam erat tangan Ning.
“O em ji … ini jantungku rasanya benar- benar ingin meloncat keluar … Kenapa tadi aku bodoh sekali memperbolehkannya bergandengan tangan dengan ku. Seharusnya aku memberi syarat agar ia tak menyentuh ku sama sekali.” Ning menggerutuki dirinya sendiri dalam hati.
“Athar… apa maksud semua ini? Aku sengaja pulang dari Amerika demi dirimu. Tapi kenapa kamu terus menghindari ku? Dan apa ini, kamu malah bermesraan dengan pelayan kampungan ini?” cerocos Falesha kesal.
“Aku tidak pernah meminta mu untuk datang … Jadi kita tidak ada urusan, bukan?” Athar bicara dengan santainya.
Falesha yang merasa kesal dan cemburu, menghampiri Ning lalu menunjuk wajahnya.
“Hei kau! Dasar pelayan kampungan! Berani sekali kau menggoda calon tunanganku, hah …”
“Jangan membentaknya seperti itu!" Bentak Athar dengan menepis tangan Falesha.
"Dan maaf, tidak perlu kau mengaku- ngaku sebagai calon tunangan ku. Karena hanya dia satu- satunya wanita yang aku cintai,” ucapnya kembali menatap Ning dengan tersenyum manis. Ia lalu mencium punggung tangan Ning.
“Bapak … emaak … aku mau pingsan ….” Ning kembali menjerit dalam hati.
Falesha ternganga melihat kelakuan Athar. “Kau!! Kau benar- benar keterlaluan Athar!”
“Ayo sayang, kita temui Mami … Tidak usah menghiraukan wanita yang kebanyakan halu ini.” Athar lalu membawa Ning masuk ke dalam kamar. Mereka melewati Falesha begitu saja yang masih terlihat shock.
“Tunggu … dia bilang apa tadi? Mami? Ini kamar Mami nya si Tuan Om? Itu berarti … Ini kamar nyonya besar … Matilah aku … Oh Yamete Kudasai, Tuan Om….” Ning hanya bisa berdialog dalam hatinya dengan terus melangkah mengikuti arah Athar menuntunnya.
Panik, takut, dag dig dug jer, nervous, itulah yang dirasakan Ning saat ini. Seolah ia akan benar- benar dipertemukan dengan calon mertuanya.
Keringat dingin mulai bercucuran, wajahnya pun mulai pucat. Satu tangannya memegang perutnya, menahan sesuatu yang bisa menggemparkan kamar Nyonya besar tersebut.
Wajah pucatnya mulai memerah dan tak mampu menahannya lagi. Ia pun menundukkan kepalanya saat Athar menghentika langkahnya dan ia pun ikut berhenti. Keduanya berdiri di samping tempat tidur Nyonya Besar.
“Mami ….” teriak Falesha berlari menghampiri Nyonya besar. Ia lalu duduk di atas tempat tidur, tepat di sebelah Nyonya Besar.
“Ada apa Falesha?” tanya nyonya besar yang duduk berselonjor di atas tempat tidur.
“Lihat Mami … Athar benar- benar tidak menghargai ku … Masa aku datang ke sini, dia malah berselingkuh dengan pelayan rendahan seperti wanita itu.” Falesha mengadu.
“Mampoos ini mah mampoos … Pastinya gue langsung dipecat saat ini juga … Nyonya besar pasti lebih berkuasa dari Nyonya Rosmala … Nyesel gue nyesel banget nerima tawaran seratus jitu itu …. Mana ini kentut kayaknya sudah mau keluar … Bagaimana ini?” gumamnya dalam hati. Ia melirikkan matanya pada Athar.
Ning benar- benar tehanyut dalam pemikirannya sendiri, hingga ia tak mendengarkan ocehan Falesha yang berkeluh kesah meminta pembelaan dari Nyonya Besar.
Ia berpikir keras sekaligus menahan kentut agar tidak berbunyi nyaring, walau itu terasa sangat menyiksa dirinya. Sepertinya ia berusaha tidak mengeluarkan kentut dengan suara menggelegar seperti biasanya, hanya hembusan angin saja bisa membuat perutnya lega, pikirnya.
“Maaf, Tuan Om ….” lirihnya seperti sudah tak bisa menahan lagi.
Brukk …
Terdengar suara tubuh yang terjatuh ke lantai, membuat mata semua oran tertuju pada orang yang tergeletak di lantai.
-------------- TBC-------------
*********************
__ADS_1
Happy Reading ….