
Rosmala yang merasakan pusing lua biasa setelah memuntahkan isi perutnya, tidak mau masuk ke dalam mobilnya lagi. Ia memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taksi, sementara Ning tetap bersama sopir di mobilnya.
“Bawa dia ke kamar pelayan!” titah Rosmala pada salah satu pelayan yang membukakan pintu mobil agara ia mengantarkan Ning yang baru turun dengan barang bawaan di tanganya. Sementara ia yang terlihat pucat langsung masuk dan pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
“Wah, rumah ini besar sekali.” Ning merasa takjub melihat rumah tersebut.
“Mari ikut saya,” ajak pelayan tadi.
“Iy iya ….”
Ning pun mengikuti langkah pelayan itu dan saat ia hendak melewati pintu, Ning membuka sandal jepit yang ia pakai. Ia pun masuk bersama pelayan tersebut.
Ning terus saja melihat- lihat isi rumah itu sembari mengikuti sang pelayan. Ia merasa semakin takjub dengan kemewahan yang ada di dalam rumah tersebut. Hingga tak terasa ia sampai di suatu tempat yang ternyata adalah sebuah kamar yang sudah dibukakan pintunya oleh pelayan itu.
“Silahkan masuk, mulai sekarang ini adalah kamar anda,” ucap pelayan itu.
“Apa? Kamar ku?” tanya Ning kaget dan heran.
“Iya, tadi nyonya meminta saya mengantarkan anda kemari,” ucapnya lagi memperjelas. Ia memperhatikan Ning dari atas hingga ke bawah. “Loh, kok anda tidak memakai alas kaki?”
“Tadi sebelum masuk saya membuka sandal saya di depan pintu.”
“Apa? Anda tidak perlu melepas sandal atau sepatu. Semua orang dirumah ini selalu memakai alas kaki sampai ke kamar pun.”
“Tapi, di rumah saya biasanya gitu. Kalau pakai sandal ke rumah nanti lantainya bisa kotor.”
“Aduh, orang ini sepertinya kampungan sekali,” gumam sang pelayan dalam hati sembari menggelengkan kepalanya.
“Hei, kenapa melamun.” Ning menepk pundan pelayan itu.
“Eh, tidak apa- apa. Saya permisi ….” Pelayan itu meninggalkan Ning sendirian di kamar.
“Wah, kamarnya lumayan besar dibanding kamar di rumah ku. Ada kamar mandi di dalam juga.” Ning mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tersebut.
Ning meletakan tas, kantong berisi pakaian dan boneknya di depan sebuah lemari. Ia membereskan pakaian dan menatanya di dalam lemari beserta tas dan kantong yang sudah kosongnya. Ia lalu duduk di atas tepat tidur dengan memeluk boneka kesayangannya.
”Wah, kasurnya empuk sekali.” Ning menggoyang- goyangkan tubuhnya menikmati empuknya tempat tidur tersebut.
“Eh tunggu … Jadi sebenarnya aku mau dijadikan apa disini? Kenapa aku diberi kamar nyaman begini? Terus itu juga ada AC nya … Jangan- jangan ______” Ning mulai berpikiran aneh.
“Argh … benar kan dugaan gue …. Eh tunggu, aduh sandal mana sandal?” Ning melihat ke arah kedua kakinya yang tak menenakan alas kaki.
"Aduh gimana ini… gue kan gak bawa sandal lagi. Gue musti keluar.” Ning bangkit dan bergegas keluar dari kamarnya. Namun saat melihat ruangan seperti lorong itu, ia merasa bingung harus pergi kemana.
“Aduh, kenapa tadi gue gak memperhatikan jalan saat dibawa ke sini sih. Gimana caranya bisa keluar inih. Mana rumahnya gede banget lagi kayak istana, bisa- bisa nyasab gue.”
Kakinya melangkah menyusuri lorong koridor yang kiri kananya hanya terdapat kamar- kamar seperti kos- kosan berjejer. Ia berjalan nampak kebingungan dengan melihat kesana- kemari.
Ingin bertanya, tapi tak nampak satu orang pun di sana. Pastinya jam- jam seperti ini semua orang tengah bekerja.
Ning pun terus melangkah sembari mengingat- ingat tempat yang ia lewati sebelumnya. Namun karena ketakjubannya pada isi rumah itu, ia sama sekali tak mengingatnya.
“Ya ampun, kenapa rumah ini besar sekali sih? Kan jadi bingung harus kemana?” Ning tak hentinya menggerutu.
“Tuan tunggu tuan …” teriak beberapa orang.
Ning menghentikan langkahnya dan melihat ke asal suara.
Gebruk …
Terdengar suara orang jatuh terpental ke lantai.
“Eugh ….”
“Aduh, bokong ku sakit .…” Ning meringis kesakitan, ia mengarahkan pandangan pada orang yang sudah menabraknya.
"Hei, kalau jalan tuh lihat- lihat, jangan asal tubruk aja. Lo pikir ini jalanan nenek moyang lo apa?” bentak Ning pada orang yang sudah menabraknya itu.
“Siapa kamu? Berani- beraninya membentak saya!!” orang itu tak kalah galaknya.
“Eh, kok lo malah sewot sih? Lo yang lari kencang sampe nabrak gue juga.” tanya Ning heran.
“Tuan … tuan tidak apa-apa?” dua orang pelayan wanita dan seorang lelaki berhenti di depan pria yang masih dalam keadaan duduk di lantai. Mereka membantu pria itu untuk bangun.
“Siapa dia? Kenapa di rumah ini bisa ada gembel berkeliaran?” tanya pria itu ketus sembari menunjuk ke arah Ning.
Ning langsung ternganga mendengar orang itu malah menghinanya. Ia pun segera bangkit walau bokongnya masih terasa sakit.
”Sembarangan lo ngatain gue gembel … gue kesini dibawa sama orang yang punya rumah ini. Tahu gak lo?” bentaknya sewot.
“Kalau bukan gembel, untuk apa kau berkeliaran di rumah ini? gak pakai alas kaki lagi!” pria it uterus mengejek Ning.
“Gue juga ini mau keluar, ngambil sandal gue.”
“Oh, jadi sandal jepit yang mengotori teras rumah di depan itu milik mu?”
“Iy iya ….” Ning mau tidak mau harus mengakui jika sandal jepit itu memang miliknya.
“Nah, benar kan kalau kau itu gembel.” Pria itu semakin yakin karena ada barang bukti.
“Cih, terserah lo mau bilang apa. Terus mana sandal gue?” Ning berkecak pinggang.
__ADS_1
“Aku sudah menyuruh pelayan untuk membuang sandal jelek itu ke tong sampah.”
“Apa? Elo ….” Ning menunjuk wajah pria itu.
“Nona, sudah cukup … jangan membentak tuan seperti itu. Nanti anda bisa dimarahi oleh nyonya besar.” Salah satu pelayan yang menyaksikan perdebatan soal gembel, akhirnya melerai.
“Ada apa ini?” seorang pria datang menghampiri mereka.
“Ini kepala pelayan, kami tadi mengejar Tuan muda saat hendak keluar.” salah seorang pelayan menjawab.
“Minah, Riki bawa Tuan muda kembali ke kamarnya!!“ titah kepala pelayan itu. Mereka berdua pun memegang lengan pria yang dipanggil tuan muda itu.
“Lepaskan ! jangan pegang- pegang ! aku bisa pergi sendiri ….” bentaknya sembari melepaskan lengan dari kedua pelayan itu. ia pun pergi begitu saja.
“Huhh …. dasar orang kaya sombong yang menyebalkan!! Bukannya minta maaf, malah pergi begitu saja ….” Ning menggerutu kesal.
“Anda Nona Ning, kan?” tanya kepala pelayan.
“Iya, mau apa lo?” jawab Ning sewot dan membuat kepala pelayan itu tercengang.
“Nyonya Ros meminta saya untuk membawa anda ke ruangannya.”
“Apa? Nyonya Ros? Rosmala maksudnya?” tanya Ning memastikan.
“Iya, betul.” Kepala pelayan itu mengangguk.
“Tapi sandal ku____”
“Tini, berikan dia sandal dan antarkan dia ke ruangan kerja. Disana Nyonya Ros sudah menunggu.”
“Baik, kepala pelayan.” Ia pun menuntun Ning untuk membawanya kembali ke kamarnya.
Tak lama pelayan tadi kembali datang dengan membawa sepasang sandal di tangannya. Ia memberikannya pada Ning dan langsung dipakainya.
“Kepala pelayan bilang sekalian bawa kartu identitas anda,” ucapnya pada Ning.
“KTP maksudnya?” tanya Ning memastikan.
“Iya.” Tini pun mengangguk.
Ning pergi bersama Tini dan diantarkan ke dalam sebuah ruangan yang disebutkan oleh kepala pelayan tadi. Dan kini Ning hanya berdua saja dengan Rosmala di dalam ruangan kerja milik suaminya.
“Duduk!!” Rosmala menyuruh Ning duduk di kursi depan meja kerjanya, sehingga keduanya duduk dengan saling berhadapan dan hanya terhalang oleh meja kerja.
“Mana?” Rosamala mengulurkan tangannya nampak meminta sesuatu.
“Apanya?” tanya Ning heran.
“Tentu saja kartu identitas mu! Kau pikir aku akan minta uang dari mu apa?”
Rosmala yang kepalanya masih merasa pusing, mendengus kesal. “Tentu saja untuk mengetahui identitas mu, bodoh!”
“Namaku Ning, bukan bodoh. Panggil yang benar! Anda juga pasti tidak akan suka kan kalau saya memanggil anda bodoh?” Ning tak terima Rosmala menghinanya.
Rosmala menatap tajam dengan mengertakan giginya, menahan amarah. Ia kembali mendengus kesal. “Sini berikan KTP mu!!” bentaknya.
“Untuk apa dulu?” Ning kekeuh tak mau memberikannya.
“Astaga … kau benar- benar menguji kesabaran ku ... Cepat berikan!! Semua orang yang bekerja disini harus diketahui dan jelas identitasnya." Rosmala mulai meninggikan intonasi suaranya.
“Baiklah ….” Ning pun mengambl KTP dari dalam saku celananya. “Nih …” Ning menyodorkan KTP tersebut dan Rosmala pun hendak mengambilnya.
“Eit … tunggu dulu!” Ning kembali menarik tangannya saat KTP nya baru saja menyentuh ujung jari Rosmala.
“Astaga, apa lagi sih?” Rosmala merasa jengah dengan kelakuan Ning.
“Bu, sebenarnya saya dibawa ke rumah ini tujuannya apa?” Akhirnya pertanyaan yang ia pendam sejak dibawa paksa oleh Rosmala dari rumahnya, bisa ia lontarkan juga.
“Bukannya kau sudah tahu sendiri, kalau paman dan bibi mu yang menyerahkan mu pada ku sebagai pengganti uang yang tak bisa mereka bayarkan padaku.”
“Apa? Jadi aku hanya seharga 30 juta.” Ning terkejut seakan dirinya dibanderol 30 juta untuk dijual.
“Apa? Apa kau pikir aku ini pelaku jual beli manusia?” Rosmala tak kalah sewotnya.
“Terus saya mau diapain dibawa kesini … Jangan bilang kalau saya akan dinikahkan dengan kakek- kakek tua atau mungkin saya akan dinikahkan dengan suami anda untuk jadi istri mudanya.”
Brakk …
Rosmala memukul meja kayu yang berada di hadapannya dengan cukup keras, hinga membuat Ning terperanjat.
“Jangan sembarangan bicara kau!! Sebelum aku menjadikan kau istri muda suamiku, sudah ku kubur hidup- hidup sebelum membawamu kesini!!” teriak Rosmala sangat marah.
“Selow swllow atuh, Bu … saya kan cuma nanya. Biasa aja keleus ….” Ning nampaknya merasa takut dengan kemarahan singa betina di hadapannya itu.
“Kamu itu, benar- benar tidak punya sopan santun!” bentaknya lagi.
“Jadi saya dibawa kesini sebenarnya mau diapain?” Ning menulang pertanyaannya kembali karena belum mendapat jawaban yang pasti.
“Kamu akan menjadi pengasuh.”
“Hah? Pengasuh?” Ning terkejut.
__ADS_1
“Iya.”
“Pengasuh apa, Bu?” tanya Ning lagi.
“Tentu saja pengasuh manusia … kamu pikir rumah ini taman marga satwa!!” Rosmala tak hentinya bicara ketus pada Ning yang membuatnya kesal.
“Saya juga tahu kalau rumah ini adalah istana. Maksud saya, jadi pengasuh siapa? Pengasuh bayi?” Ning memperjelas pertanyaannya lebih spesifik.
“Bukan.”
Ceklek …
“Mama …” teriak seorang anak kecil yang langsung masuk begitu saja. Ia berlari menghampiri Rosmala.
“Hallo sayang, maaf ya Mama gak sempat menjemput mu ke sekolah,” ucapnya lalu mengendong anak itu dan mendudukannya di pangkuannya.
“Maaf Bu, apa saya akan menjadi pengasuh anak itu?” Ning kembali bertanya.
“Tentu saja bukan, Sheril sudah punya pengasuh sendiri.”
“Terus saya jadi pengasuh siapa? pengasuh lansia?”
“Bukan juga.”
“Jangan bilang saya akan jadi pengasuh suami anda.”
“Kau_____” Rosmala langsung melotot pada Ning.
“Lalu saya ini bakalan jadi pengasuh siapa sih sebenarnya?” Ning merasa kesal.
“Tentu saja menjadi pengasuh anak ku.”
“Yang ini?”Ning menunjuk ke arah Sheril.
“Sudah ku bilang bukan!” hardiknya.
“Terus yang mana?” Ning tak kalah sewot.
“Pengasuh kakak nya.”
“Oh ….” Ning bernafas lega.
“Syukurlah, ternyata aku bukan jadi pengasuh bayi atau pun lansia. Kalau pengasuh kakaknya anak ini, paling umurnya gak beda jauh lah, masih aman,” gumam Ning dalam hati.
“Heh, kenapa malah melamun. Sini berikan KTP mu!” Rosmala kembali meminta KTP Ning yang sejak tadi belumberhasildidapatkannya.
Ning pun memberikan KTP nya dan Rosmala segera menariknya seolah takut jika akan diambil lagi oleh Ning.
“Hahahahahahaha …” Rosmala tertawa terbahak- bahak setelah membaca kartu identitas Ning.
Ning hanya diam saja sembari mencebikkan bibirnya. Hal seperti ini sudah tak aneh baginya.
“Hahaha, yang benar saja. Apa ini benar- benar nama mu?”
“Iya.” Ning menjawab dengan ketus.
“Hahahahaha … bagaimana bisa nama dan nasib mu berbanding terbalik.”
Ning hanya mendengus kesal melihat Rosmala terus menertawakan dirinya.
“Ningrat Atisaya … hahaha nama macam apa itu?” Rosmala tak hentinya menertawakan nama Ning.
“Heh, Ibu jangan menghina. Walau bagaimana pun itu nama pemberian orang tua saya!”
“Nama mu Ningrat, tapi kok miskin?” tanya Rosmala heran.
“Memangnya kenapa? Toh nama itu adalah sebuah doa bagi pemiliknya. Mungkin orang tua saya menamai saya Ningrat supaya suatu saat saya bisa jadi seorang yang ningrat. Kalau nama saya Miskin, Melarat, Fakir yang ada tambah blangsak hidup saya,” cerocos Ning merasa kesal.
“Hahaha, percaya diri sekali kamu ya ingin jadi seorang yang ningrat.”
“Ya gak apa- apa kali Bu, nasib orang kan bisa saja berubah. Sekarang saja saya miskin, siapa tahu besok saya jadi orang kaya dan ibu jadi gembel. Nasib orang kan siapa yang tahu.”
“Kurang ajar kamu nyumpahin saya jadi gembel!!” kini Rosmala dibuat kembali kesal.
“Misalkan Bu .. Misalkan … Nama ibu aja Rosmala dipanggil Bu Ros, sama galaknya kayak Kak Ros di serial upin ipin.” Ning tak mau kalah telak.
“Apa?” Rosmala semakin kesal.
“Aahahaha … Mama jadi Kak Ros galak!” Sheril yang menjadi pendengar percakapan mereka berdua malah mengejek ibunya.
“Sayang, kamu ganti baju dulu ya sama Mbak Susi. Mama masih ada urusan dengan orang ini.” ucapnya pada sang anak.
“Jadi mbak itu pengasuhnya kak Dino ya? hihihihihi.” Sheril tertawa cekikikan.
“Susi, bawa Sheril ke kamarnya.”
“Baik, Bu …”
“Kenapa anak itu tertawa saat ibunya bilang aku akan menjadi pengasuh kakaknya. Apa jangan- jangan kakak nya punya keterbelakangan mental? Alamak … masa iya gue jadi pengasuh orang gila?!!” Ning menjerit dalam hati.
------------ TBC -------------
__ADS_1
*********************
Happy Reading ….