
Ruangan tempat Ning dan Rosmala berada tampak hening sepeninggalnya Sheril. Rosmala sedang membaca sesuatu di layar laptopnya, sementara Ning yang terlihat jenuh hanya memainkan jemarinya saja. Suara printer yang mencetak tulisan pada kertas mampu memecah keheningan.
“Ini … silahkan tanda tangani ….” Rosmala memberikan Ning selembar kertas.
“Apa ini?” tanya Ning heran.
“Kau bisa baca kan?”
“Tentu saja … saya miskin bukan berarti saya buta huruf, Bu.” Ning menjawab ketus.
“Yasudah kalau begitu silahkan baca.”
“Iya tapi ini apa?”
“Astaga tinggal baca apa susahnya? Apa kamu benar- benar buta huruf, hah...." Rosmala kembali merasa kesal.
Ning mendengus kesal lalu mencebikan bibirnya. Awalnya Ning membaca kata demi kata dalam untaian kalimat di dalam kertas itu. Entah karena teliti, entah karena kurang paham.
Namun saat ia melihat deretan angka, matanya pun langsung terbelak dan hanya tertuju pada jumlah nominal itu. Ia pun tak menyelesaikan membacanya.
“Hah, ini beneran,Bu ? saya digaji lima juta setiap bulannya?” tanya Ning memastikan.
“Iya.” Rosmala menjawab dengan singkat.
“Itu berarti dalam enam bulan saja saya sudah bisa melunasi hutang paman saya?” tanya Ning lagi.
“Hmm.”
“Gila … bener- bener gila … kalau tahu jadi pengasuh sebesar ini gajinya, gue gak usah jadi OB. Mantap betul, bisa cepat kaya kalau begini …hihihihi.” Ning cekikikan saking senangnya.
“Heh, dasar kampungan! Mana mungkin dengan uang segitu bisa jadi kaya ….”
“Maksud ibu apa ngatain saya kayak gitu? Sepertinya penghuni rumah ini tukang menghina orang ya. Tadi yang dipanggil tuan muda menyebutku gembel, sekarang Ibu bilang saya kampungan. Dasar orang kaya memang selalu merendahkan orang lain!” Ning menggerutu kesal.
“Apa? Siapa tadi? Tuan muda?” Rosmala nampak terkejut mendengar nama tuan muda disebut oleh Ning.
“Iya tuan muda … Anda pasti tidak tuli kan ….” Ning akhirnya mendapatkan celah untuk membalas ejekan Rosmala.
“Kau sudah bertemu dengan nya?” Rosmala malah lebih fokus pada si tuan muda.
“Iya.”
“Omong kosong!” Rosmala tak mempercayai ucapan Ning.
“Beneran kok, orang tadi dia lari terus nabrak saya sampai saya terjatuh dan bokong saya sakit,” ucap Ning menceritakan apa yang dialaminya.
“Jangan bohong kamu! Tidak mungkin dia keluar dari kamarnya.” Rosmala tetap tak percaya.
“Terserah kalau tidak percaya, silahkan tanyakan sendiri pada kepala pelayan yang anda suruh memanggil saya tadi.” Ning memutar jengah bola matanya.
Rosmala yang masih tak percaya dengan yang Ning katakan padanya, mengambil ponselnya lalu menghubungi kepala pelayan untuk memastikannya sendiri. Dan ternyata kepala pelayan itu mengatakan hal yang sama dengan yang Ning katakan.
“Bagaimana bisa hal mustahil ini bisa terjadi?” desis nya pelan.
“Memangnya kenapa sih, Bu?” tanya Ning penasaran, namun Rosmala tak menjawabnya. Ia seolah terhanyut dalam pemikiran dan lamunannya sendiri.
“Bu …” bentak Ning yang mampu membuat Rosmala tersentak membuyarkan lamunannya.
“Bu, jadi gimana ini kertasnya harus saya apakan?” Ning kembali ke pembahasan awal.
“Hal seperti itu saja kau tidak tahu. Tentu saja harus kau tanda tangani tuh di paling bawah sebelah kanan. Nih bolpoin nya.” Rosamala melempar bolpoin pada Ning.
Ning yang sudah benar- benar muak dengan sikap Rosmala, mengambil bolpoin itu dengan ekpresi wajah kesal. Ia lalu menandatangani surat kontrak kerja tersebut tanpa membacanya sampai selesai.
“Kalau bukan demi rumah bapak, ogah banget gue kerja di rumah ini … Ini semua gara- gara paman dan bibi durhaka itu. Awas saja, gue gak akan melepaskan kalian.” Ning menggerutu dalam hati.
“Nih, sudah saya tanda tangani.” Ning menyerahkan lembar kertas tersebut.
“Baiklah, hari ini kau akan mulai bekerja. Kepala pelayan nanti akan menjelaskan apa yang harus kau kerjakan dan memberi tahu mu tentang peraturan di rumah ini.” ucapnya lalu menyimpan surat kontrak kerja Ning yang sudah dimasukan ke dalam sebuah map.
Rosmala kembali memeriksa file- file pada laptopnya. Setelah beberapa saat ia melirikkan matanya pada Ning yang masih duduk di hadapannya itu.
“Untuk apa kau masih disini? Keluar sana! urusan kita sudah selesai,” ucapnya dengan ketus.
“Sa saya harus kemana?” tanya Ning bingung.
"Tentu saja melakukan pekerjaan mu ... keluar sana!!”
“A anu Bu, sa saya kan belum tahu seluk beluk rumah yang sebesar istana ini. Tadi saja saya mau keluar malah nyasab. Hehehe."
“Lalu?” tanya Rosmala.
“Apa Ibu bisa mengantarkan saya kembali ke kamar? hehehe.”
“Apa kau sudah tidak waras? Kamu itu setara dengan pelayan di rumah ini, bukan tamu kehormatan. Enak saja minta diantar oleh saya.” bentak Rosmala.
“Maksud saya bukan gitu, Bu ... Ibu kan bisa menyuruh orang mengantarkan saya. Gimana sih, gitu aja gak paham.” Ning menggerutu kesal.
Rosmala yang merasa muak menghadapi Ning, menghubungi pelayan lewat intercom yang terhubung ke dapur.
Tak lama seorang pelayan datang, Rosmala menyuruhnya menujukan tempat- tempat yang ada di rumah ini dan mengatakan nahwa Ning akan menjadi pengasuh baru nya Dino, putra sulungnya.
Pelayan itu menjukkan beberapa tempat dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, serta uangan khusus para pelayan. Ia lalu mengantarkan Ning kembali ke kamarnya.
Meski Ning masih bingung dan susah menghafal satu persatu, setidaknya ia tahu jalan menuju kamarnya dan menuju dapur.
Krukkk krukkk …
__ADS_1
Terdengar suara perut keroncongan yang ternyata itu berasal dari perut Ning. Pelayan yang mengantarkan Ning mendelik padanya.
“Kakak, bolehkah aku meminta makanan? Dari pagi aku belum makan apa pun, hehehe," ucap Ning malu- malu.
“Kamu bisa ke ruangan khusus pelayan, tadi sudah saya beritahukan tempatnya kan. Jadi bisa pergi sendiri, saya masih banyak pekerjaan. Permisi ….” ucap pelayan yang terlihat jutek itu yang kemudian pergi begitu saja meningalkan Ning.
Ning mendengus kesal. “Ternyata di rumah ini bukan hanya majikan, pelayan pun sama menyebalaknnya, huft,” keluh Ning lalu beranjak pergi menuju ruang pelayan yang sudah didatanginya tadi.
Beruntung ia masih mengingat jalannya karena saat pelayan tadi mengajaknya berkeliling, ia benar- benar memperhatikan semua jalan yang di lewatinya, meski masih rada- rada bingung.
Saat tiba di ruang tersebut, Ning tak melihat satu orang pun disana. Ia masuk dan ternyata ia berjalan menuju dapur di yang bersebelahan dengan ruangan itu. Disana ada dua orang wanita berpakaian seragam pelayan sedang memasak.
“Permisi, em … saya pegawai baru disini dan baru saja datang hari ini. Tapi, saya belum sempat makan sejak pagi, bolehkah saya meminta sedikit makanan?” ucap Ning.
“Apa kamu tidak tahu peraturan pelayan di rumah ini?” tanya salah satu pelayan ketus.
“Tadi kan saya bilang, baru datang hari ini. Jadi belum ada yang memberitahukan saya.”
“Semua pelayan di rumah ini harus disiplin waktu. Dan sudah ada jam- jam tertentu untuk makan. Sekarang ini baru pukul sepuluh lebih seperempat, jadi belum waktunya untuk makan. Tunggu satu setengah jam lagi.”
“Apa? Tapi Bu___”
“Tidak ada tapi- tapian … pergi sana jangan mengganggu pekerjaan kami.”
Ning mengehela nafas panjang. Ia harus menahan lapar hingga jam makan siang. Akhirnya ia hanya mengambil air minum saja untuk mengganjal perutnya. Ia pun keluar setelah meminum dua gelas air.
“Hei, kamu pegawai baru ya?” tanya seseorang yang menghampiri Ning.
“Iya.”
“Bekerja di bagian apa?” tanya pelayan itu.
“Pengasuh anaknya Bu Rosmala," ucap Ning.
“Pengasuh Non Sheril?” tanya pelayan yang bernama Tini itu.
“Bukan, katanya pengasuh anaknya Bu Ros yang bernama Dino.”
“Apa? Jadi kamu calon pengasuh barunya tuan Dino?” tanya ,Tini memastikan.
“Iya.” Ning mengangguk.
“Kamu harus berhati- hati. Soalnya banyak pengasuh nya yang tak tahan, bahkan baru satu jam saja langsung mengundurkan diri.” Tini memperingatkan.
“Apa? Memangnya kenapa?” tanya Ning penasaran.
“Tini … sedang apa kau disini?” kepala pelayan tiba-tiba datang menghampiri keuanya.
“Eh, kepala pelayan … sa saya disuruh nyonya besar mengambil benang woll ke gudang.” ucap Tini.
“Sa saya permisi kepala pelayan.” Tini segera pergi.
“Ning, mari ikut saya ke dalam,” ucapnya mengajak Ning kembali masuk ke ruangan khusus pelayan tadi. Ning pun mengikuti kepala pelayan hinggaa keduanya masuk kedalam sebuah ruangan agak kecil.
Ning duduk di depan meja yang berhadapan dengan kepala pelayan itu.
“Tugas mu mengantarkan makanan tepat waktu dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuan Dino. Kamu harus memastikan dia tidak boleh keluar dari rumah ini.”
“Memangnya kenapa Pak?”
“Tuan Dino sedang sakit dan ia tidak boleh keluar rumah. Jadi kamu harus benar- benar menjaganya dan menemaninya belajar.”
“Sakit? Sakit apa?”
“Tidak perlu tahu, cukup lakukan semua tugas mu dengan baik dan benar.”
“Iy, iya Pak.”
“Nanti saat makan siang, kamu antarkan makanan ke kamar Tuan Dino.”
“Baik Pak.”
Kepala pelayan memberitahukan beberapa peraturan di rumah itu dan memberikan beberapa lembar kertas berisi peraturan rumah yang harus di taati. Ia lalu mengambil seragam pelayan dari dalam lemari dan memberikannya pada Ning.
“Sekarang ganti pakaian mu dengan seragam pelayan di rumah ini.”
“Baik, Pak …”
Ning pamit undur diri. Ia kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian sesuai perintah kepala pelayan itu.
“Gila, panjang banget nih peraturan, udah kayak struk belanja setahun … Baru tahu kalau di rumah orang kaya sebegini ribetnya,” gerutu Ning yang melihat rentetan peraturan yang tertulis pada kertas- kertas yang ada di tangannya itu. ia pun masuk kedalam kamar dan duduk di atas tempat tidurnya.
“Hah? Apaan ini, dilarang kentut sembarangan …. Hahahaha. Gak usah ditulis juga udah pada tahu kali hahaha ….” Ning tertawa sendiri.
“Eh tunggu, apa jangan- jangan mereka membuat peraturan ini khusus buat gue doang yang punya hobi kentut. Mungkin aja gara- gara tadi Bu Rosmala keracunan kentut gue, hahahhaa. Lo emang ajaib Ning ….” Ucapnya dengan berbangga diri.
“Tapi … bodo amatlah, yang penting gue gak panik dan takut maka akan aman terkendali dari serangan kentut mendadak.”
Ning pergi mandi lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian seragam pelayan. Ia segera bergegas pergi ke ruangan pelayan tadi.
“Kamu Ning kan?” tanya Tini saat Ning baru masuk ke dalam ruang pelayan.
“Iya, kenapa?”
“Kenalkan, nama ku Tini.”
“Aku Ning ….”
__ADS_1
“Iya udah tahu … Tadi kepala pelayan menyuruhku mengantarkan mu ke kamar anak asuh mu.”
“Apa? Bukannya aku disuruh mrngantarkan makan siang ke sana? ini kan belum waktunya makan siang, masih ada waktu satu jam lagi.”
“Iya, tapi kamu harus menanyakan dulu Tuan mau makan apa. Soalnya kalau tidak sesuai keinginannya, Tuan tidak akan memakannya.”
“Apa? Anak macam apa dia? Udah sakit, banyak maunya … masa anak laki- laki manja banget" gumam Ning dalam hati.
“Hei, kenapa malah melamun? Ayok ikut dengan ku.”
“Iy iya …”
Ning mengikuti kemana Tini melangkah, tentunya kali ini ia memperhatikan jalan dengan teliti agar tidak tersesat lagi. Apalagi ini akan menjadi jalan yang akan ia lewati setiap waktu sebagai pengasuh baru.
Keduanya kini sudah berada di depan pintu sebuah kamar yang terletak di lantai dua rumah itu.
“Ini kamarnya, aku permisi ya," ucap Tini hendak pergi.
“Eh, tunggu … kenapa kamu malah pergi?” tanya Ning heran.
“Aku masih punya pekerjaan, lagi pula tugas mu jadi pengasuh pemilik kamar ini kan. Jadi selamat bekerja … dan, hati- hati ya ….” Ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan Ning yang nampak kebingungan.
“Aduh, gue musti ngapain ini? Masa iya ngejanteng di depan pintu gini? Apa tadi katanya? Gue musti hati- hati?” gumamnya dengan suara pelan.
“Jangan bilang anak asuh gue ini benar- benar anak yang bermasalah … Brusan Tini bilang hati- hati ke gue, dan tadi dia juga bilang banyak pengasuh yang mengundurkan diri … Argh … kenapa bego banget sih gue? Pantas saja Bu Ros memberikan gue gaji besar, sepertinya anak ini memang bermasalah ….” Ning terus menggerutu dengan suara pelan.
Ning hanya berdiam diri di depan pintu dengan pikiran macam- macam. Ia seolah tak memiliki keberanian untuk mengetuk pintu kamar calon anak asuhnya itu. Sebelumya ia tak memikirkan ada kejanggalan di balik gaji besar yang diberikan Rosmala.
Kini ia hanya bisa meggerutuki dirinya sendiri, dan tak ada pilihan lain selain menjalankan tugasnya sebagai pengasuh.
“Alamak … ngapain gue parno sama anak kecil … Preman aja bisa gue kibulin, apalagi ini cuman anak kecil,” gumamnya dalam hati, ia pun mengangkat tangannya dan memberanikan diri unuk menghadapi apa pun yang akan dilakukan anak asuhnya itu.
Tok tok tok …
Ning mulai mengetuk pintu …
“Permisi, Tuan Dino … saya Ning pengasuh baru. Saya diminta kepala pelayan untk menanyakan menu makanan apa yang Tuan Dino inginkan untuk makan siang,” ucap Ning dari balik pintu.
.
Tok tok tok ….
Ning kembali memngetuk pintu karena tak kunjung mendapat sahutan dari sang pemilik kamar.
“Sebenarnya di dalam ada orang gak sih? Kok gak ada yang jawab sama sekali … Ah, aku pnya ide.”
Tok tok tok …
“Assalamu’alaikum warrohmatullohi wabarakaatuh….”
Ning masih tidak mendapat jawaban. “Gimana sih ini anak, salam itu kan wajib dibalas. Gak tahu apa dia?” geuru Ning pelan.
“Argh sudah lah lebih baik aku masuk saja.” Ning memegang pegangan pintu lalu menekannya ke bawah.
Ceklek ....
“Beuh, tahu gitu dari tadi gue buka aja… orang pintnya gak dikunci,” ucapnya lalu mendorong pintu itu ke dalam untuk membukanya agar ia bisa masuk ke dalam kamar tersebut.
Blukk ….
Tiba- tiba kepala Ning tertimpa sesuatu dari atas pintu.
“Uhuk uhuk uhuk ….” Ning terbatuk- batuk dan kepala serta wajahnya dipenuhi tepung.
“Argh … kurang ajar anak itu!! berani- beraninya dia nimpuk gue pakai tepung! Baru hari pertama saja sudah kena jebakan betman ... sialan!!!" jerit Ning dalam hati.
Ia membersihkan wajahnya dari tepung dengan kedua tangannya.
“Pantas saja Tini memperingatkan ku … ternyata anak asuh ku ini memang nakal,” gumamnya dalam hati.
Ning menghela nafas panjang beberapa kali untuk meredam emosinya.
“Perimisi … Tuan Dino ....” Ning memanggil sang pemilik kamar.
Ning melihat kesana kemari, seolah mewaspadai siapa tahu ada ranjau lagi. Setelah merasa aman, ia kembali melangkahkan kakinya perlahan untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
“Busyet dah ini kamar gede amat, segede rumah gue kali nih,” ucapnya melihat- lihat seluruh isi kamar tersebut dengan perasaan takjub, hingga ia tak melihat lantai tempat kakinya melangkah.
Serelek …
“Aaaaakk …”
Gedebuk …
Ning jatuh ke lantai dengan posisi tubuhnya terlentang.
“Aduh, pinggang gue …” Ning meringis kesakitan.
“Apa yang kau lakuan disini?” Tiba-tiba terdengar suara baritone seseorang yang berdiri tepat di atas kepala Ning yang berbaring terlentang itu.
Ning menanggahkan kepalanya untuk melihat wajah orang itu.
“Kau!!” Ning terkejut melihat orang itu, ia lalu berusaha bangun dengan susuah payah karena pinggangnya masih terasa sakit.
-------------- TBC ----------------
****************************
__ADS_1