
“Dady kenapa matanya merah? Suaranya juga kayak Donald bebek… Dady habis nangis, ya?” tanya Nana sambil mengusap pipi Athar.
“Abisnya Dady kangen sih sama peri kecil….”
“Kalau kangen sama Nana, kenapa Dady malah ke rumah Mommy bukan ke rumah Nana?” rengeknya manja.
“Soalnya Dady kangen juga sama Mommy….” Athar terkekeh melihat Nana cemberut karena telah dinomor duakan.
“Ih, Dady sakit tahu!!” protes Nana saat Athar mencubit kedua pipi chubi-nya.
“Salah siapa, peri kecil gemesin banget kalau lagi cemberut….”
Saking asyiknya Athar ngobrol sambil bercanda dengan Nana, hingga ia tak menyadari jika Ning sudah tidak ada di tempat duduk sebelumnya.
“Loh, mommy kemana ya?” tanya Athar heran. Nana mengedikkan bahunya tanda tak mengetahui kemana menghilangnya Ning.
Athar mengedarkan pandangannya, ternyata orang yang dicarinya ada di luar. Terlihat dari balik kaca jendela rumah Ning.
“Ck… ngapain sih dia nyamperin Singgih segala!!” batinnya dalam hati merasa kesal.
“Peri kecil, Dady keluar sebentar ya… Kamu tunggu dulu disini….” Ucapnya lalu menurunkan Nana dari pangkuannya setelah diangguki anak tersebut.
Athar bangkit, lalu beranjak menuju keluar untuk menghampiri Ning yang masih berdiri di teras.
“Ngapain disini? Mau nemuin mantan?” tanyanya ketus.
Ning langsung menoleh pada Athar yang kini berdiri di sebelahnya. “Biasa aja kali, gak usah pakai soda gitu ngomongnya….”ucapnya terkekeh.
“Lagian kamu, orang aku lagi ada di dalam malah keluar nemuin sang mantan….” cibirnya kesal
“Ya aku gak enak aja, masa iya tamu dibiarkan diluar….” Ning berdalih.
“Terus mana orangnya?” tanya Athar.
“Kayaknya udah pulang deh… Tadi aku dengar suara mobil, dan pas aku keluar udah gak ada siapa- siapa….”
“Bagus deh… Berarti dia tahu diri… Dan aku yakin, setelah dia melihat kita sedang bersama apalagi sambil kissing, dia gak akan ngejar- ngejar kamu lagi….”
Ning hanya mendengus mendengar ucapan Athar. Ia melangkahkan kakinya dan kembali masuk kedalam.
“Mommy….” Panggil Nan saat Ning baru duduk kembali.
“Iya, kenapa peri kecil?”
“Papa mana?”
“Kayaknya udah pulang….”
“Kok Nana ditinggalin?” ucapnya protes.
“Gak apa- apa… Kan peri kecil udah beberapa hari gak main ke sini… Nanti mommy antar pulang, ya….”
“Tapi sama Dady juga ya….” pinta Nana.
“Tentu saja… Mommy kan gak bisa nyetir mobil….” Athar yang baru duduk langsung nimbrung.
“Lupa ya? bukannya kesini gak bawa mobil?” sindir Ning.
“Riko sedang on the way menuju kesini… Aku sudah mengirimnya pesan tadi….”
“Oh… “
“Em, gimana kalau kita makan diluar? Dady lapar….” Ajak Athar.
“Bukannya tadi udah makan siang bareng keluarga dan juga Nadira?” Ning kembali menyindir.
“Kamu pikir, setelah melihat kamu marah dan nangis gitu aku masih bisa makan, hem?”
“Maybe….” Ning mengedikkan bahu.
“Ck, tentu saja tidak!! Yang ada aku pengen makan orang….”
“Ih, Dady kok makan orang, seremm….” Nana ikutan nimbrung.
“Hahaha, bukan sayang… Dady hanya bercanda… Kamu mau kan kalau kita jalan ke mall sekalian makan juga….”
“Tapi Nana mau makan es krim sama main di playground….” pintanya.
“Em, boleh gak ya? bentar deh, Dady pikir- pikir dulu….” Athar pura- pura.
“Ihh… Dady jelek!!” pekik Nana kesal.
“Hahahaha… Iya iya boleh dong peri kecilku sayang….”
“Hore hore… Ayok mommy….” teriak Nana girang.
“Oke… Tapi Mommy cuci muka sama ganti baju dulu, ya….”
Setelah beberapa saat, Riko pun datang yang kemudian menyerahkan kunci mobil pada Athar. Sementara ia pulang dengan menaiki taksi online. Ning, Athar dan Nana pun langsung berangkat menuju sebuah mall untuk makan siang yang sudah kesorean sekalian mengajak Nana jalan- jalan.
___________
“Sayang, aku ada disini loh, di sebelah kamu… Kok malah melamun? Mikirin mantan ya?” tanya Athar yang kini sedang duduk menunggui Nana yang tengah bermain di playground. Ya, karena setelah mereka selesai makan, Nana langsung merengek menagih janji minta ke playground.
“Iya nih, aku lagi mikirin mantan… Kok dia tambah ganteng ya….” Ning malah dengan sengaja mengatakan hal yang dituduhkan Athar padanya.
Athar langsung melotot. “Heii!! Memangnya aku kurang apalagi? Udah ganteng, kaya, romantis, yang pasti cinta banget sama kamu… Malah mikirin si Singgih sialan itu!!”
“Hahaha… sellow dong sellow, Bang… Salah siapa main tuduh- tuduh, wle….” Ning menjulurkan lidahnya meledek Athar.
“Aku nanya, sayang… Bukannya nuduh….”bralat Athar meluruskan.
“Huft… ya ya ya… Asal kamu tahu ya, dari aku kenal Mas Igih sampai dia melamarku lalu putus, aku gak pernah punya perasaan apa-apa sama dia… Harus berapa kali sih bilang hal ini, ihhh…” cerocos Ning kesal.
“Terus, kamu ngelamunin apa tadi?” Athar nampak masih penasaran.
“Eng… aku pengen ziarah ke makam nya Dino, untuk berterimakasih dan minta maaf sama dia…Tapi, ini kan udah sore, gak mungkin juga bisa hari ini….”
Athar menghela nafas sejenak. “Aku juga sebenarnya ingin ke sana….”
Ning menatap Athar dengan keheranan. “Emangnya udah siap?”
“Hummm,” Athar mengangguk. “Sekarang aku sudah siap, karena aku sudah memenuhi permintaan terakhirnya….”
“Permintaan apa? Wasiatnya ‘kan mendonorkan ginjalnya pada ku?” tanya Ning heran.
“Ada hal lain lagi….”
“Apa itu?”
“Sebelum ia masuk ke ruang operasi, kami sempat bicara sebentar… Dan dia_______ “ ucapannya terhenti sejenak. Sementara Ning menunggu nampak penasaran dengan apa yang diminta Dino pada Athar.
“Dino memintaku agar selalu menjaga mu, melindungi mu, mencintaimu dan membahagiakan mu….” ucapnya lirih dengan mata berkaca- kaca. Ia membuang pandangannya, mengerjapkan matanya berkali- kali, menahan agar air matanya tak menetes.
Ning terenyuh mendengar hal itu.
Ternyata Dinosaurus yang selalu bersikap menyebalkan, justru malah begitu memikirkan kebahagiaanya dikala pria itu sedang berjuang antara hidup dan mati. Pria luar biasa, itulah julukan yang pantas bagi Dino. Ia rela berkorban, demi kebahagian dua orang yang amat disayanginya. Ai mata pun lolos begitu saja membasahi pipi Ning.
“Dady!! Mommy!!” teriakan Nana yang melengking membuat keduanya mengarahkan pandangan pada gadis kecil yang berdadahria dari area playground. Dengan segera Ning pun menghapus jejak air matanya. Ia dan Athar melambaikan tangan pada Nana.
Tiba- tiba terdengar deringan ponsel dari saku jas Athar. Ia beranjak sedikit menjauh dari Ning, lalu segera menerima panggilan telpon dari kakaknya, Dandy.
__ADS_1
“Sayang….” Panggil Athar yang kembali mendaratkan bokongnya di kursi tepat sebelah Ning duduk.
“Iya….” Sahut Ning.
“Eng, aku antar kamu dan Nana pulang ya… “
“Kenapa? Apa ada sesuatu?” tanya Ning heran.
“Bang Dandy bilang, Mami tidak mau makan dan minum obat sejak tadi siang… Dia memintaku_____”
“Memangnya mereka tadi gak jadi makan siang?” tanya Ning nyamber.
“Enggak jadi….” Athar menggeleng.
“Kenapa?”
“Karena aku ngamuk….”
“Hah? Kamu ngamuk sama Nyonya Andini?” Ning terkejut mendengarnya.
“Gimana aku gak marah? Mami mengajak makan siang bersama keluarga juga Nadira, dan aku pulang dari London tanpa bilang sama kamu. Tapi tiba- tiba kamu ada hotel itu… Aku yakin mami yang sudah memberi tahu mu, pastinya dia juga sudah mengatakan hal yang tidak- tidak sama kamu… Dan kamu tahu, Mami dengan santainya minta aku makan sedangkan aku tak bisa berhenti memikirkan kamu yang pasti marah dan sakit hati menyangka aku mengkhianati kamu….”
Ning menghembuskan nafas kasar. “Pantas saja Nyonya Andini gak mau makan dan minum obat… Hei Tuan, semarah- marahnya kamu, jangan pernah membentak atau memarahi ibu mu… Kamu gak tahu apa bagaimana perjuangan seorang ibu sejak ia mengandung lalu melahirkan mu dan mengurus, membesarkan mu, mendidik mu hingga kamu bisa jadi orang sukses seperti ini? Kamu tuh beruntung masih punya Ibu, jangan sampai kamu menyesal suatu hari nanti setelah kedua orang tua mu udah gak ada….” cerocos Ning yang nampak marah mendengar apa yang sudah dilakukan Athar.
“Maaf… Aku tadi gak bisa mengendalikan diriku… Pikiranku benar- benar kacau….” Ucapnya sesal.
“Jangan minta maaf sama aku… Minta maaf sana sama Nyonya Andini!!”ketus Ning masih kesal.
“Iya, sayang… Tapi akau akan mengantar kamu dan Nana pulang dulu….”
“Enggak… Aku mau ikut sama mu…”
“Apa? Kamu jangan gila, sayang….” tolak Athar.
“Aku sudah bilang ‘kan, kalau kita akan berjuang bersama untuk mendapatkan restu Nyonya Andini… Jadi aku akan ikut sama kamu untuk bertemu beliau….”
“Jangan sekarang, sayang…. Nanti saja, aku gak mau kalau Mami malah menyakiti mu….”
“Apa di sana masih ada Nadira?”
“Eng… Iy … iya, Bang Dandy bilang dia masih ada di sana….” ucapnya nampak ragu menjawab
ia 6akut Ning cemburu.
“Pokoknya aku mau ikut ke sana, titik!!”kekeuh Ning.
Baru saja Athar membuka mulut untuk bicara, Ning langsung nyamber.
“Gak ada tapi- tapian!! Ayok, kita ajak Nana juga sekalian, kalau nganter dia dulu nanti kelamaan… Jangan biarkan calon mertua ku itu menunggu kita terlalu lama….” Ceroconya lagi lalu bangkit dan berjalan menuju area playground.
Athar mengusap kasar kepalanya. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan mami-nya lakukan jika melihat Ning di sana. Namun ia sudah tak bisa membujuk kekasihnya yang mendadak keras kepala itu. Daripada terus berdu mulut, akhirnya dengan terpaksa ia pun membawa Ning dan Nana ke rumahnya.
------------------------
Kini keduanya tengah dalam perjalanan menuju rumah Nyonya Andini. Karena tak lama setelah kepergian Athar dari hotel, mereka pun bergegas membawa Nyonya Andini pulang ke rumah sesuai permintaan beliau yang ingin beristirahat di rumah.
“Sayang, kamu yakin?” tanya Athar berharap Ning berubah pikiran.
“Tentu….” ucap Ning yakin.
“Sayang, aku gak mau kalau nanti Mami akan menyakiti mu dengan ucapannya… Apalagi di sana ada Nadira….”
“Bukanya kalian mau ngaku, kalau hubungan kalian pura- pura?”
“Iya, tapi kalau ada kamu, nanti Mami akan menyalahkan mu…”
“Kamu gak usah takut… Aku aja gak takut… karena ada kamu yang akan melindungi aku… hehehe….”
Kelihatannya saja Ning tenang dan tak takut, padahal dalam hatinya ia merasa gugup luar biasa. Tangannya mendadak berkeringat dingin. Ia pun tak berhenti merapalkan doa agar ia bisa menghadapi Nyonya Andini yang dikenalnya keras dan angkuh.
Apalagi saat mobil yang dikendarai Athar memasuki pintu gerbang rumah kediaman yang besar bak istana itu.
Dag dig dug dag dig dug
Ning menghela nafas panjang berkali- kali agar membuatnya tenang.
“Sayang, kalau kamu belum siap dan berubah pikiran… Lebih baik aku antar kamu pulang….”
“Eng engak kok… Aku udah siap bertemu calon mertua….”
“Baiklah.. Di sana nanti jangan nakal..Jangan jauh-jauh dariku... Dan kalau kamu takut, genggam erat tanganku…”
“Iya… Eng, aku ada permintaan boleh?”
“Tentu, apa pun itu, sayang….”
“Nanti di dalam, apa pun yang akan dikatakan Nyonya Andini pada ku, kamu jangan sampai marah atau membentak beliau….” Ning mengutarakan keinginannya.
“Apa? Mana bisa aku membiarkan Mami menyakitimu!”
“Ihh, ikuti saja rencana ku….”
“Rencana macam apa?”
“Yang penting intinya ini bagian dari usaha kita untuk mendapatkan restu Mami kamu….”
“Eng, baiklah….”
“Janji….”
“Iya aku janji, sayang….” Ucap Athar yakin.
“Awas ya, kalau kamu sampai ingkar janji… Aku gak akan mau bicara atau ketemu sama kamu lagi….” Ancam Ning.
“Iya….”
"Satu lagi….” pinta Ning lagi.
“Jangan yang aneh- aneh!”
“Kalau perlu kamu baik- baikin Nyonya Andini, memijat kepala missal… Atau memijat kakinya, bicara yang manis- manis… Pokoknya kamu harus bersikap baik, ngerti….”
“Ck… Iya iya, terserah kamu saja….”
“Unchh… Anak manis….” puji Ning gemas.
“Aku bukan anak- anak!!” Athar tak terima.
“Eh iya, Om om manis….” Ning meralat
ucapannya yang kemudian mendapati pelototan Athar. “Hahaha… biasa aja dong itu matanya, ampir keluar gitu…” ejek Ning tertawa geli.
“Ck, sudah sudah, ayok kita turun….”
“Oke….”
“Satu hal yang harus kamu ingat, jangan perlihatkan kalau dirimu ketakutan di depan mami… Kamu bisa menjadi sasaran empuk baginya….”
“Hummm… aku ngerti….” Ucap Ning kembali menghela nafas, kemudian turun dari mobil.
Mereka masuk ke dalam rumah setelah pintunya dibukakan oleh seorang ART yang bekerja di sana. Athar menggandeng tangan Ning. Sementara Nana berada dalam gendongannya.
__ADS_1
“Bi, Mami dimana?” tanya Athar pada ART itu.
“Di kamar beliau, Tuan….”
“Peri kecil main dulu sama Sheryl ya, Dady sama Momy mau ketemu oma dulu….” Ucapnya lalu menurunkan Nana yang kemudian diantarakan oleh salah satu ART di sana menuju kamar Sheryl. Sedangkan Athar kembali menggandeng tangan Ning, menaiki tangga menuju kamar Nyonya Andini.
“Akhirnya lo datang juga, Daniel….”
Mereka mendapat sapaan dari Nadira yang baru saja keluar dari kamar Nyonya Andini, yang kemudian menghampiri Athar dan Ning yang menghentikan langkah mereka.
“Oh, jadi ini pacar mu? Cantik dan manis sekali….” Nadira tersenyum. Ia memperhatikan Ning dari atas hingga ke bawah. Sementara Athar nampak tak suka dengan cara Nadira melihat Ning.
“Hai, gue Nadira….” ucapnya mengulurkan tangan untuk bersalaman dan memperkenalkan dirinya. Ning pun menerima uluran tangannya.
“Ning….” ucapnya dengan suara pelan, nampak malu- malu kucing. Entah malu atau merasa minder dengan penampilan Nadira yang begitu memukau, cantik, berkelas dan elegan, yang sangat berbanding terbalik dengan dirinya.
Nadira langsung mendekat hendak cipika- cipiki dengan Ning seperti yang suka dilakukan para wanita pada umumnya saat bertemu dan bertegur sapa. Namun Athar langsung menarik Ning ke dalam pelukannya dan melingkarkan lengannya di pinggang sang kekasih.
“Jangan deket- deket lo!!”
“Yaelah, posesif amat sih, lo…” cibir Nadira protes.
“Terserah gue dong… Cewek cewek gue!!”
“Ck… Ya yaa ya… Udah sana masuk, bujuk Aunty makan dan minum obat… Kasihan wajahnya udah pucat… Gak ada satu pun yang berhasil membujuk….” Cerocos Nadira.
Athar melangkahkan kakinya, begitu juga dengan Ning menuju pintu masuk. Namun Nadira menghentikannya. “Lo aja yang masuk… Ning biar di sini aja sama gue….”
“Enak aja, lo!!”
“Ck… Lo mau Aunty tambah marah terus saki t lagi? Cewek lo kayaknya kelihatan takut juga tuh….”
“Sayang, kamu mau tunggu disini atau ikut ke dalam?”
“Eng….” Ning tampak ragu.
“Udah disini aja sama gue….” Nadira langsung nyamber namun dengan tersenyum ramah pada Ning.
Athar menatap tak suka pada Nadira. Ada rasa takut jika ia meninggalkan Ning diluar bersama rekan kerjanya itu. Ia menggenggam tangan Ning. “Ayok kita masuk….” ucapnya dengan tatapan yang seolah memberi Ning kekuatan untuk menghadapi Nyonya Andini. Ning pun mengangguk yakin.
Ceklek
Athar membuka pintu, lalu masuk kedalam kamar bersama Ning. Rasa takut dan gugup mulai mendera Ning. Ia semakin mengeratkan tangannya pada tangan Athar.
Disana tidak hanya ada Nyonya Andini yang tengah duduk di tempat tidurnya, Rosmala dana Dandy pun da di sana. Nyonya Andini menatap tajam pada pasangan yang bergandengan tangan menghampirinya.
Dandy dan Rosmala pun memandangi mereka dengan raut wajah terkejut. Mereka tak menyangka jika Athar akan membawa Ning menemui Nyonya Andini.
“Jangan takut, sayang… Aku ada di sini….” bisik Athar dengan suara sangat pelan, namun Ning masih bisa mendengarnya. Ia pun berdiri tegak, memberanikan diri menatap balik Nyonya Andini. Ia tersenyum ramah dan tak memperlihatkan rasa takutnya.
“Kenapa kau membawa wanita itu kesini?” Nyonya Andini bertanya pada Athar, namun tatapannya tertuju pada Ning.
“Selamat sore, Nyonya….” Sapanya dengan tersenyum ramah.”Senang bertemu lagi dengan Anda….”
Nyonya Andini tak menjawab sapaan Ning, malah memberinya tatapan tajam. Namun Ning tak hentinya mengulas senyum.
“Apa kau sudah lupa? aku sudah bilang pada mu untuk____”
“Aku sudah berusaha menjauhi dan menghindari putra mu, Nyonya… Tapi mau bagaimana lagi? Dia datang ke rumah ku dan memohon- mohon di depan pintu… Bahkan sampai menangis dan bilang tak akan pergi sebelum aku membukakan pintunya… Aku tidak tega melihatnya seperti itu… Putramu ini sudah cinta mati padaku, Nyonya….” ucapnya dengan nada manja sembari bergelayut di lengan Athar.
Bukan hanya Nyonya Andini yang tercengang mendengar ucapan Ning, bahkan Dandy, Rosmala dan Athar pun sama halnya. Tentu saja mereka tak percaya dengan apa yang dikatakan Ning. Mereka tahu pasti sikap Athar yang cuek dan dingin terhadap wanita, tidak mungkin akan melakukan hal yang akan merendahkan harga dirinya. mu
Mengemis cinta, mustahil. Tapi memang itulah kenyataannya, walau Ning sedikit melebih- lebihkan.
Athar menoleh ke arah Ning yang tersenyum lebar dengan memperlihatkan barisan giginya.
“Iya, kan sayang?” Athar terbelalak melihat tingkah Ning yang tak disangka akan bicara seperti itu di depan mami-nya.
“Jangan mengada- ada kamu!! Tidak mungkin Athar mengemis cinta pada mu!!” Nyonya Andini masih tak percaya.
Ning menggoyangkan lengan Athar dan mengedipkan sebelah matanya.
“Ekhem… iya itu benar... Aku ‘kan sudah bilang sama Mami, kalau aku mencintai Ning dan akan_____”
“Athar!!” bentak Nyonya Andini melotot pada putranya.
Sementara Athar nampak acuh. Ia menunjukkan wajah tenang, lalu duduk di bibir ranjang.
“Mami, ayok makan dulu… Bang Dandy bilang Mami belum makan sejak tadi siang… Ini sudah sore….” Athar hendak mengambil makanan yang tersedia di atas meja troli yang berisi makanan untuk mami-nya dan terletak di sebelah ranjang.
“Aku tidak mau makan kalau masih ada wanita itu di sini!” tolaknya masih dengan menatap sinis pada Ning.
“Oh ayolah Mami… Ini ‘kan makanan kesukaan Mami? Masa gak ngiler?” bujuk Athar.
“Makanan itu sudah dingin, aku tidak suka!!”
“Bagaimana tidak dingin, sudah satu jam lebih dianggurin sama Mami….” Dandy ikut berkomentar.
“Biar aku minta pelayan menyiapkan makanan yang baru….” Rosmala hendak melangkah menuju meja troli, namun langsung dihentikan Nyonya Andini.
“Gak usah, Ros… Kemarilah, tolong pijat kepala ku, rasanya pusing sekali… Biarkan wanita itu yang membawa makanannya ke dapur,” ucapnya melirik pada Ning.
“Mami….” ucap Dandy, Rosmala dan Athar berbarengan.
“Baiklah… Saya akan membawa makanannya ke dapur….” ucap Ning tersenyum ramah.
“Ning….” lirih Rosmala.
“Sayang….” Athar pun tak tega melihat Ning seolah dianggap seorang pelayan.
“Gak apa- apa kok….” Ning menganggukan kepala dan mengedipkan matanya pada Athar seolah ia memberikan kode. “Sepertinya Nyonya besar berniat mengetes saya sebagai calon menantunya….” ucap Ning tersenyum dengan percaya diri. Ia lalu melangkah mendekati meja troli untuk mengambil nampan makanan yang akan ia bawa ke dapur.
“Jangan mimpi kamu!!” sinis Nyonya Andini, namun Ning kembali melempar senyuman saat ia hendak melangkahkan kakinya.
“Permisi calon mami mertua….”
“Kau!!” tunjuk Nyonya Andini geram.
Athar terlihat menahan kekesalannya pada ibunya. Jika ia tak ingat akan janji-nya pada Ning, sudah pasti ia akan marah dan langsung membawa Ning pergi saat ini juga.
Sementara Dandy dan Rosmala nampak menahan tawa melihat kekesalan Nyonya Andini dan perilaku Ning yang seolah menantang sang Nyonya besar.
Ning yang sudah membuka pintu, menoleh sebentar ke arah Nyonya Andini. Ia kembali melempar senyuman.
“Ini baru permulaan, calon ibu mertua….” gumamnya dalam hati. Ia pun bergegas keluar dari kamar tersebut.
“Ning… sedang apa kamu di sini?” tanya seseorang yang berpapasan dengan Ning saat ia hendak menuruni tangga.
-
-
------------------- TBC-------------
**************************
-
-
Happy Reading….
__ADS_1