NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Disambut CoGanSe


__ADS_3

Ning hendak bangkit, namun ia masih terlihat lemas.


“Jangan bangun dulu, Ning… udah berbaring saja,” cegah Ocha yang kemudian menaikan ranjang bagian atasnya menggunakan remot, agar Ning bisa berbaring semu duduk.


“Kirain mang Asep yang donorin ginjalnya buat gue….” ucap Ning.


“Kenapa lo bisa berpikiran seperti itu? Padahal lo tahu sendiri paman durjana lo itu gak akan mungkin berkorban buat lo sampai segitu besarnya….” Ocha merasa tak habis pikir.


“Waktu itu, sebelum gue cuci darah ada yang nelpon gue … Lalu_____”


Flashback


“Hallo….” sapa Ning.


“Heh, dasar ya lo … sekalinya pembawa sial, sampai kapan pun akan tetap jadi pembawa sial !!” maki orang di seberang sana.


“Re… Renita….” ucap Ning yang mengenali suara orang itu terbata- bata karena terkejut.


“Iya, ini gue…. Puas lo sekarang udah bikin ibu nangis terus!!” Renita yang merupakan adik sepupu Ning, kembali membentak Ning.


“Ma maksudnya?” Ning sama sekali tak paham.


“Gue gak perduli ya, lo mau jual diri sama siapa... Tapi lo jangan nyusahin bapak gue dong!!” cerocos Renita terdengar semakin geram.


“Nyusahin? Apa gak salah ngomong?” Ning teringat dengan perbuatan Renita dan orang tuanya pada Ning selama ini.


“Heh, kemarin bapak gue dibawa sama anak buah cowok lo entah yang beli lo gue gak perduli… Dia bilang bapak mau diambil ginjalnya buat didonorkan sama lo…. Kenapa harus bapak gue? Lo bisa kan cari pendonor lain!! Mana sampe sekarang bapak gak bisa dihubungin lagi….Tuh ibu nangis terus karena takut bapa kenapa- kenapa….”cercos Renita membeberkan alasan kemarahannya.


“Apa?” Ning terkejut luar biasa.


“Gak usah pura- pura bego!! Pasti lo kan yang minta cowok lo yang dipanggil bos itu nyari bapak gue ke kampung buat dijadikan tumbal lo… Dasar pembawa sial lo… Awas aja kalau bapak gue sampai kenapa- kenapa… gue gak segan laporin lo sama cowok lo itu ke kantor polisi!!” Renita yang tak hentinya mencerca pun mengeluarkan ancaman.


Ning yang begitu terkejut mendengar ucapan Renita, tak mampu berkata apa pun lagi.


“Asal lo tahu aja ya, Nyai sudah tahu soal hal ini, dia sangat marah sampai jatuh sakit… Dan Nyai gak mau ketemu sama Lo, bahkan gak mau mengakui lo sebagai cucu nya lagi… Nyai bilang lo itu cucu durhaka dan pembawa sial….”


“Satu hal lagi… Cowok lo itu menjanjikan satu milyar buat ginjal yang sudah bapak kasih ke lo… Awas aja kalau sampai nipu kita dan uang nya gak cair, gue akan benar- benar laporin kalian ke kantor polisi!!”


Tut tut tut …


Renita langsung memutuskan sambungan telponnya. Sementara Ning masih menempelkan ponsel di telinganya, dengan diam termenung.


“Jadi karena itu, tuan om mencari tahu keberadaan mang Asep agar mendonorkan ginjalnya untuk ku? Bahkan dia mai membayar mang asep dengan bayaran satu milyar??” gumam Ning dalam hati.


“Bahkan sekarang, Nyai pun sampai marah dan tidak mau mengakui ku sebagai cucunya lagi….” batin Ning semakin sedih.


Pikirannya mulai berkecamuk. Ia yang ingin berjuang sendiri tanpa memberitahukan sakitnya pada keluarganya, justru malah mendapat kejutan yang tak menyenangkan. Ia takut terjadi hal buruk pada pamannya, karena menolongnya. Di sisi lain, ia juga memikirkan keadaan neneknya yang jatuh sakit karena dirinya pula.


“Aku memang pembawa sial… Aku memang pembawa sial untuk semua orang … Aku hanya bisa menyusahkan orang lain, hiks hiks….” lirihnya dalam hati, dan tak terasa air mata pun mulai berjatuhan. Raganya berada di sana, namun pikirannya berhamburan entah kemana. Ponselnya pun masih ditempelkan di telinga nya.


Flashback off


“Apa? Dasar kuntilini kampret!! Bapak, anak, sama emaknya sama- sama dedemit terkutuk!!” Ocha sangat geram setelah mendengar cerita Ning. “Kalau gue tahu, waktu gue ke kampung nyamperin mereka, udah gue mutilasi satu persatu tuh keluarga jahanam!!”


Ocha menghela nafas kasar beberapa kali untuk meredam kemarahannya. Walau bagaimana pun, ia tak tega melihat Ning yang masih lemah nampak begitu sedih.


“Ning, udahlah … lo gak usah mikirin mereka lagi… Lo masih punya gue, sahabat yang sayang dan perduli sama lo….” ucapnya menguatkan Ning.


“Yang bikin gue sedih tuh soal Nyai… Dia satu- satunya keluarga yang masih sayang sama gue, Cha… Tapi sekarang, Nyai pasti benci banget sama gue….” lirihnya sedih.


“Lo gak usah nganggap serius omongan si Renita kutilini sundel borokokok itu… Dia cuman pengen bikin lo sedih doang… Lo kayak gak tahu aja sifat nya dia… Beuh, apalagi kalau dia tahu lo udah punya pacar yang tajir melintir….”


“Tapi____”


“Udah cukup … Jangan mikirin yang aneh- aneh lagi, lo fokus aja sama kesembuhan lo… Kalau perlu, nanti kalau lo udah bener- bener sehat, kita akan pergi ke Tasik buat ngejelasin yang sebenarnya sama Nyai….”


“Iya, Cha … thanks banget….” Sedikitnya Ning bisa merasa lega.


Ocha tersenyum, lalu mengusap punggung tangan Ning. “Eh tunggu… Siti bilang yang biayain pengobatan lo ini, pacar lo? Beneran?” tanya nya penasaran.


“Eng….” Ning nampak bingung untuk menjawabnya.


“Elo punya pacar gak bilang juga ke gue… Astaga naga… Lo bener- bener ya….” Ocha kembali kesal.


“Sorry Cha… Nanti gue ceritain deh soal itu… Oh iya, omong- ngomong Siti dimana?” Ning baru menyadari ketidak beradan Siti.


Ocha mendengus kesal. Nampaknya ia tak tega terus meminta penjelasan dari Ning yang baru bangun dan terlihat masih lemas itu.

__ADS_1


“Tadi pas gue datang, dia pamit keluar dulu mau beli makan katanya….”


“Eng… Selain lo dan Siti, apa ada orang lain lagi?” tanya Ning.


“Ada donk… Anjrit, cowok ganteng datang silih berganti buat ngelihat keadaan lo yang gak sadar- sadar… Lumayan, gue nungguin orang koma sambil cuci mata, hehe….”


“Dasar lo….” Ning terkekeh. “Oh iya, apa lo ketemu sama yang namanya_____”


Ceklek


Belum selesai Ning berbicara, ada yang membukakan pintu.


“Ya Allah, Ning … akhirnya kamu sadar juga….” ucap Bu Asri yang baru masuk dan segera menghampiri Ning, diikuti Kinanti dari belakangnya.


“Ibu… kok ibu sama Mbak Kinanti bisa ada di sini?” Ning terkejut melihat keberadaan mereka.


“Kamu keterlaluan Ning… Kenapa kamu sakit sampai dioperasi gak ngasih tahu kami?” ucap Bu Asri yang sudah berdiri di sebelah ranjang Ning.


“Iya, kamu tega banget sih … Padahal kami sudah nganggap kamu seperti keluarga sendiri….” Kinanti pun ikut mengeluh.


“Maaf, Bu … Mbak Kinan … Saya cuma gak ma merepotkan kalian yang sudah sangat baik sama saya….” ucap Ning yang berusaha duduk.


“Kamu jangan bangun dulu... Pasti masih lemas ya….” Bu Asri langsung mencegah Ning. “Tapi ibu senang, akhirnya kamu sadar dari koma … Tadi juga Kinan sempat menanyakan kondisi kamu ke suster, katanya sudah mulai membaik….”


“Iya, Bu… Terimakasih….” ucap Ning.


“Nana juga nanyain kamu terus… Dia kangen banget sama kamu, Ning….” ucap Kinanti.


“Hehehe, aku juga kangen sama Nana….” ucapnya tersenyum dengan mata tertuju ke arah belakang Kinanti. Nampaknya ia menunggu kedatangan seseorang, namun tak ada lagi orang yang masuk ke sana.


Bu Asri dan Kinanti berbincang beberapa saat, kemudian mereka pun pamit pulang karena tak ingin mengganggu Ning yang masih membutuhkan banyak istirahat.


Tak lama Siti pun kembali dengan membawa kantong kresek di tangannya. Ning kembali melihat ke arah belakang Siti berharap ada orang lain yang datang. Namun tetap, tak ada orang lagi yang masuk.


“Nona sudah bangun ….” ucap Siti yang berjalan menghampiri Ning dan Ocha.


“Siti… apa Pak Riko ada di luar?” tanya Ning yang sebenarnya ingin mengetahui dimana orang yang sejak tadi diharapkannya datang.


“Pak Riko sedang ada urusan dulu katanya … Eng, Nona makan dulu ya… Sebentar lagi harus minum obat….” Siti membuka plastik wrap yang menutupi makanan serta minuman yang sudah tersedia di nampan di atas meja.


“Sekarang waktunya lo istirahat….” titah Ocha.


“Istirahat apanya, Cha? Gue udah tidur lama, tadi juga abis makan pagi dan minum obat gue tidur….” Ning nampaknya bosan tiduran terus.


“Ya rebahan aja lah, gak usah merem kalau capek tidur mulu mah….” ucap Ocha.


“Eng, Siti … hape aku mana?” tanya Ning yang baru ingat pada ponselnya.


“Ada di laci….” ucapnya lalu mengambilkan ponsel Ning dan memberikannya. “Ini Non, setelah dicarger seminggu yang lalu, belum dinyalakan lagi.”


“Terimakasih….” Ning kemudian menekan tombol di sebelah sisi kanan atas untuk menyalakan ponselnya. Dan benar saja ada beberapa pesan masuk di sana. Ning langsung membuka aplikasi WhatsApp nya.


Di sana terdapat pesan dari Bu Asri, Mbak Kinanti, Ocha, Dokter Singgih, dan yang teratas dari Kudaniel mesum. Jemarinya langsung mengklik pesan dari Athar, yang ternyata dikirim tadi pagi. Senyuman pun terukir di bibir manis Ning.


Kudaniel Mesum


“Hai, Nona galak… Aku senang akhirnya kamu sadar dari koma.”


“Tapi, maaf… Aku belum bisa menemui mu, karena aku masih sedang melakukan perjalanan bisnis.”


“Jaga kesehatan mu, makan yang banyak dan minum obat yang rutin ya… Biar cepat sembuh.”


"😘"


Senyumnya seketika luntur setelah selesai membaca pesan dari Athar. Ia nampak kecewa, karena tak bisa bertemu dengan sang pujaan hatinya.


Ia meletakan ponselnya dan kembali berbaring, tanpa berniat membalas pesan dari Athar. Karena memang tangan kanannya diinfus, sehingga ia kesulitan untuk mengetik pesan.


“Ning, lo baik- baik aja kan?” tanya Ocha yang melihat Ning nampak sedih.


“Iya, Cha… gue mau istirahat aja….” ucapnya dengan senyum yang nampak dipaksakan agar terlihat baik- baik saja.


“Yasudah kalau gitu, lo istirahat aja….” Ocha bangkit, lalu duduk di sofa bersama Siti.


Begitulah yang terjadi setiap harinya, Ning hanya menerima pesan teks atau pesan suara dari Athar. Tak ada telpon atau pun video call. Ning juga lebih sering membalasnya dengan pesan suara, karena ia tak bisa mengetik teks. Karena saat Ning menelpon ke nomor Whatsapp atau pun kontak telpon Athar, pasti nomornya tidak aktif.


“Mungkin dia sangat sibuk,”pikir Ning.

__ADS_1


Ia sadar betul akan posisinya yang tak mungkin terus merepotkan Athar dan mengganggu pekerjannya. Ia hanya merasa tak habis pikir kenapa lelaki itu sering membuatnya tersiksa dalam kerinduan. Namun ia masih bisa bersyukur, setidaknya membaca pesan dan mendengar suara nya saja, bisa mengurangi rasa rindunya itu.


**


Dua minggu sudah Ning dirawat di rumah sakit untuk pemulihan pasca operasi dan pengawasan kondisi tubuh Ning terhadap ginjal baru nya.


Athar tak pernah mengunjunginya, meski Ning selalu menunggu kedatangannya. Ning hanya ditemani Ocha dan Siti setiap harinya. Riko pun hanya datang tiga kali untuk melihat kondisi Ning. Malah Bu Asri dan Kinanti yang sering menjenguk Ning.


“Kenapa dari semalam dia gak chat aku ya? bahkan tak membalas satu pun pesan suara yang ku kirim?” gumam Ning dalam hati dengan raut wajah sedih.


“Heh, lo lagi mikirin apa sih? Jangan sedih gitu dong… Lo harusnya senang, akhirnya bisa pulang dari rumah sakit ini….” Ocha menepuk pundak Ning.


“Hehehe, gak apa- apa kok, Cha… Gue udah kangen rumah….” ucapnya tersenyum kaku.


“Semua pakaian nona sudah dikemas… Apa ada hal lain lagi?” tanya Siti.


“Enggak, udah kok… Terimakasih banyak Siti….” ucap Ning.


Ceklek …


Terdengar suara pintu terbuka. Hal itu membuat Ning memandang ke arah sana dengan penuh harap. Namun ternyata yang datang bukanlah orang yang diharapkannya.


“Nona sudah siap?” tanya Riko yang datang bersama suster dengan mendorong kursi roda kosong.


“Iy iya, Pak Riko ….” angguk Ning.


Suster membantu Ning naik ke kursi roda, yang kemudian dibawa keluar dari kamar rawat inap tersebut menuju lobi. Dan saat keluar pintu utama, sopir sudah menunggu kedatangan mereka.


Keempat orang itu pun masuk ke dalam mobil yang kemudian dilajukan menuju rumah Ning.


Sepanjang jalan ia terus memikirkan Athar yang tak ada kabar sama sekali. Hingga ia tak menyadari jika mobil yang ditumpanginya sudah sampai di depan rumahnya.


“Ning… Ning … woyy….” teriak Ocha yangs udah turun dari mobil, karena Ning tak kunjung menjawabnya.


“Iy iya kenapa?” Ning terperanjat membuyarkan lamunannya.


“Ngelamun mulu… Kita sudah sampai nih, lo gak mau turun? Katanya kangen rumah….” Cerocos Ocha yang sudah membukakan pintu mobil untuk Ning.


“Iy iya… Oh udah sampai ya….” Ning pun turun dengan perlahan. Ia berjalan dengan di papah oleh Ocha. Diikuti oleh Riko dan Siti di belakangnya.


“Loh, kok pintu rumah nya terbuka gitu, Cha? Apa ada orang di dalam?” tanya Ning heran.


“Iya kali….” ucap Ocha yang nampak menahan senyum.


Ning berjalan dengan terus memandangi pintu rumah nya yang terbuka lebar itu dengan rasa penasaran dan bertanya-tanya.


“Apa mungkin Mang Asep dan Bi Marni ada disini?” gumam Ning dalam hati. “Arhh, gak mungkin kayaknya ….” Ning mengelengkan kepalanya. Mengingat mereka tak memperdulikan keadaan Ning, mustahil akan datang ke rumahnya.


“Atau … jangan- jangan rentenir itu berubah pikiran dan ingin mengambil rumah ini lagi,” batin Ning yang terus menebak- nebak siapa yang berada di dalam rumahnya.


Saat ia dan lainnya tiba di depan pintu, muncul sesosok orang dari balik pintu.


“Selamat datang kembali di rumah mu, Ning….” ucapnya dengan tersenyum sumringah.


Betapa terkejutnya Ning melihat orang yang berdiri di ambang pintu itu, yang tak terlintas di pikirannya sama sekali.


“Eh busyet dah… beruntung banget jadi lo, Ning… Pulang ke rumah disambut coganse….” bisik Ocha pada Ning yang diam mematung.


-


-


---------------TBC -------------


*********************


-


-


Happy Reading ….😉


Tilimikicih selalu menantikan kisah Ning Nong Neng Jring …😘😘


Jangan luva like, komen, rate bintang lima, vote dan hadiah seikhlasnya…😉🤩


Aylapyu All…😘😘

__ADS_1


__ADS_2