
“Hei, apa kau tidak punya sopan santun main masuk ruangan tanpa mengetuk pintu?” bentak Rosmala pada Ning yang masuk main selonong saja.
“Ma maaf, Nyonya ….” ucap gelagapan dengan menundukkan kepalanya. Ia bukan takut pada Rosmala, justru ia takut pada orang yang sedang bersama Rosmala.
“Sa saya permisi, Bu,”ucap Ning lalu membalikan tubuhnya hendak kembali keluar ruangan itu.
“Tunggu !!” seru orang yang bersama Rosmala di dalam ruangan itu, dan Ning pun menghentikan langkahnya.
“Mampoos … dia pasti ingat sama wajah gue … Aduh, gimana ini? Bisa- bisa hari ini gue langsung dipecat. Gimana nasib rumah bapak kalau gue dipecat,” jerit Ning dalam hati.
“Siapa dia?” tanya orang itu pada Rosmala.
“Pelayan baru Dino ….” ucap Rosmala.
“Apa? Hahaha … bayi besar mu itu masih saja dicarikan pengasuh.” Pria itu tertawa dengan renyahnya.
“Bayi besar ?” tanya Ning dalam hati.
“Tuh kan bener dugaan gue, kalau si tuan muda itu yang bernama Dino … Sial sial sial, ngapain pria dewasa musti menggunakan jasa pengasuh segala sih ....” Ning yang menghadap pintu terus menggerutu dalam hati sembari menundukkan kepalanya.
Terdengar suara derap langkah yang mendekat pada Ning yang masih berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Membuat Ning semakin menundukkan kepalanya.
Orang itu berhenti tepat di belakang Ning.
“Hei ….” Panggil orang itu.
Deg ….
“Astaga naga …. Kenapa suara orang itu begitu dekat? Jangan- jangan dia ada di belakang gue lagi,” Ning menebak nebak dalam hatinya.
“Hei … saya bicara pada anda? Lihat kemari!” ucap orang itu ketus pada Ning yang masih berdiri membelakanginya.
“Aduh … ngapain juga gue musti menghadap ke orang ini?” Ning hanya bisa berdialog dalam hati.
“Apa kau tuli !!” bentak orang itu.
“Iy iya….” Ning terperanjat dan segera mematuhi perintahnya.
Perlahan ia membalikan tubuhnya dan menghadap pada orang yang sebelumnya berdiri di belakangnya, dengan posisi Ning masih menundukkan kepalanya.
“Hahahahahaha ….” Orang itu kembali tertawa dengan renyahnya.
“Dasar sinting! Sepertinya penghuni rumah ini tidak ada yang beres ….” Ning masih menggerutu dalam hatinya.
“Hahahaha … lihatlah, bayi besar mu itu sangat nakal … pengasuh barunya saja sampai dipenuhi tepung begini.” orang itu mengejek Ning sekaligus Rosmala, kemudian ia beranjak pergi begitu saja meninggalkan ruangan tersebut.
“Fiuhh ….” Ning akhirnya bisa bernafas lega, karena pria itu tidak mengenali dirinya.
“Baru inget gue, kalau tadi habis keramas tepung. Syukurlah dia tidak mengenali wajahku.” Gumamnya dalam hati.
“Hei, sedang apa kau berdiri di situ? Apa kau tidak membaca buku peraturan di rumah ini yang sudah diberikan olehkepala pelayan?” Rosmala kini bisa memarahi Ning.
“Be belum, Nyonya… abis bukunya tebal banget sih, kayak peraturan pemerintah sepuluh negara aja, ” ucap Ning beralasan.
“Lalu untuk apa kau datang kemari? Main selonong aja lagi masuknya … Dasar udik!” cerca Rosmala.
Ning mendengus kesal, karena lagi- lagi ia mendengar hinaan yang dilontarkan majikannya itu. Sepertinya ia memang harus bermental kebal sekuat bajra dan jangan beper-an jika ingin tetap tinggal di rumah itu. Ning lalu berjalan mendekat ke meja kerja Rosmala.
“Maksud Nyonya apa menjadikan saya pengasuh dari pria yang sepertinya seumuran dengan saya itu? yang benar saja ….” ucap Ning melayangkan protesnya.
“Salah siapa tidak menanyakan umur anak saya, kamu main terima saja pekerjaan ini.” Rosmala berdalih dan malah menyalahkan Ning yang kurang cermat.
“Tadinya saya pikir tuan Dino itu hanya beda beberapa tahun gitu sama Sheril. Tapi kok jauh banget kayaknya umur mereka ….”
“Lalu ?”
“Pokoknya saya tidak mau jadi pengasuh si tuan muda itu!” Ning mengutarakan tujuan kedatangannya pada majikannya itu.
“Tidak bisa … kamu harus tetap melanjutkan pekerjaan mu yang belum dimulai itu!” Rosmala menolak keras.
“Belum dimulai bagaimana? Nyonya pikir saya cemong seperti mochi dakochan ini karena siapa? Baru masuk ke kemarnya saja saya sudah dikerjai habis-habisan, apalagi jadi pengasuhnya … Bahkan, dia juga bilang akan memutilasi saya.” Ning menguungkapkan alasan dan mengadukan perbuatan calon anak asuhnya itu.
__ADS_1
“Jangan hiraukan ancamannya … dia tidak akan berani membunuh mu di rumah ini,” ucap Rosmala meyakinkan Ning.
“Pokoknya saya tidak mau jadi pengasuhnya tuan Dino, titik!” Ning bersikeras menolak.
“Apa kau lupa sudah menandatangani kontrak kerja dengan ku?”
“Tentu saja saya ingat … orang baru dua jam yang lalu saya menandatangani nya… Memangnya anda, baru beberapa detik sudah lupaan,” cerocos Ning dengan percaya diri.
“Kalau begitu, tentunya kau ingat di barisan paling bawah. Jika kau melanggar kesepakatan sebelum habis kontrak, maka kau harus membayar 10 kali lipat dari gaji bulanan yang saya berikan.”
“Apa?” Ning terkejut bukan main, ia tak menyangka jika dalam surat kontrak yang sudah ia tanda tangani ada kalimat semacam itu.
“Sial, kenapa gue tadi gak baca isi surat terkutuk itu sampai selesai sih?” gerutu Ning dalam hati dengan mulut ternganga.
“Bagaimana? Apa kau sudah mengingatnya, Nona Ningrat yang tidak pelupa?” Rosmala seolah mengejek Ning.
“Darimana gue dapat uang sebanyak itu coba? Bayar utang Mang Asep saja musti kerja enam bulan dulu sama nenek sihir sialan ini tanpa digaji … Argh … sial banget sih hidup gue ….” Ning hanya bisa menggerutu dalam hati.
“Baiklah, diam mu itu berarti kau setuju tetap menjadi pengasuh putraku.” Rosmala menyimpulkan sendiri.
“Yang benar saja, masa pria dewasa masih menggunakan jasa pengasuh. Mungkin lebih tepatnya asisten pribadi.” Ning mengoreksi profesi dirinya.
“Bukankah kepala pelayan sudah menjelaskan tentang pekerjaan mu dan apa yang harus serta jangan kau lakukan?” Rosmala kembali bertanya.
“Iya.” Ning mencebikkan bibirnya.
“Jadi lakukan apa yang kepala pelayan katakan pada mu, mengerti?”
Ning mendengus kesal, karena ia tak memiliki pilihan lain. Bak makan buah simalakama, mundur kena, maju apalagi ngejongkeng.
“Iya.” Jawab Ning ketus.
“Kalau begitu, tunggu apalagi … kerjakan tugas mu … dan jangan lupa bersihkan dulu dirimu yang penuh tepung itu!!"
"Heh, ternyata selain nama mu yang aneh, kau itu jorok sekali.” Rosmala terseyum ketir dan mengelengkan kepalanya.
“Hei, saya tidak jorok … anda jangan lupa ya kalau ini adalah ulah putra anda yang mengerjai saya.” Ning tak terima kembali menerima hinaan Rosmala.
“Apa kau bilang?”
“Tidak, aku tidak bilang apa-apa.” Ning berdalih, ia lalu membalikan tubuhnya dan beranjak pergi.
“Tunggu!!” teriak Rosmala.
“Ya ampun aplagi sih?” tanya Ning kesal dengan menghentakan kakinya.
“Satu hal lagi … putraku mengikuti home schooling dan tahun ini tidak lulus ujian akhir sekolah. Jika kau bisa membujuknya belajar dan dia bisa lulus tahun depan agar bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, saya akan memberikan kamu bonus seratus juta,” ucap Rosmala memberi pekerjaan tambahan pada Ning.
“Apa?” Ning yang terkejut langsung membelakkan matanya. Ia kemudian membalikan tubuhnya menghadap ke arah Rosmala.
“Ciusss? Miapah? 100 juta?” Ning mempertanyakan kembali ucapan majikannya itu dengan ekspresi tidak percaya.
“Bicara apa kau ini?”
“Ya ampun, gak ngerti banget sih bahasa gaul anak muda zaman now.” Ning malah mengejek Rosmala.
"Itu artinya serius? Demi apa?” Ning mengulang kembali perkataannya dengan bahasa normal.
“Itu bukan bahasa gaul namanya, tapi bahasa alay,” hardik Rosmala kesal.
“Ck, terserah Nyonya lah mau bilang apa.” Ning berdecak kesal. “Eh, tapi itu beneran apa jebakan batman lagi sih? Nanti kalau saya nolak, nyonya bakalan nyuruh saya ganti 10 kali lipat lagi,” ucap Ning seolah menyindir.
“Tentu saja saya serius … Dan jangan lupa, jangan biarkan Dino keluar dari rumah ini.”
“Baiklah, kalau begitu … saya akan melaksanakan tugasnya sekarang juga. Dadah babay ….” Ning beranjak pergi begitu saja dengan perasaan berbinar- binar membayangkan ia mendapat kan uang seratus juta.
Ning pun berjalan menuju kamar nya untuk membersihkan diri. Ia lupa dengan dua orang yang akan menjadi sasaran amukannya lagi, yakni kepala pelayan dan Tini, pelayan yang sudah menguncinya di dalam kamar anak asuhnya itu.
Usai membersihkan diri, Ning pun pergi ke dapur untuk menjalankan tugas pertamanya yakni mengantarkan makan siang untuk anak asuh yang merupakan bayi besar itu.
“Bu, makanan yang mana yang harus saya antarkan ke kamar Tuan Dino?” tanya Ning pada sang koki.
__ADS_1
“Memangnya Tuan muda minta dibuatkan apa? Belum ada yang bilang pada saya apa yang ingin dimakan oleh tuan muda," ucap sang koki.
Ning membekap mulutnya sendiri.
“Astaga naga … gue lupa … tadi kan belum nanyain si dinosaurus mau makan apa ….” Ning bergumam dalam hati.
“Hei … kenapa malah diam? Jadi tuan muda memesan makanan apa?” tanya sang koki lagi.
“Eng … sa saya gak tahu, Bu,” ucap Ning berterus terang.
“Ya ampun bagaimana bisa tidak tahu? Ini sudah hampir jam 12 siang dan belum ada yang memberitahukan saya tuan muda mau dimasakan apa? Bagaimana ini? Nyonya bisa marah besar kalau tuan muda tidak mau makan,” cerocos sang koki.
“Apa?” Ning kembali terkejut.
“Iya … Cepat kau tanyakan lagi, tuan muda mau makan apa!” titah sang koki.
“Yang bisanya saja lah, Bu … mana sempat kalau membuat makanan dalam dua puluh menit saja.” Ning malah melakukan tawar menawar.
“Tuan muda tidak akan makan kalau tidak sesuai dengan keinginannya … Cepat tanyakan sekarang juga!!” bentak si koki yang merasa kesal pada Ning yang terus ngeyel.
“Iy iya ….” Ning segera beranjak pergi, meski ada rasa takut dan ragu. Namun saat nominal seratus juta melintas dipikirannya, rasa takut dan ragu pun hilang.
Apalagi mengingat ucapan Rosmala, jika Dino tidak akan berani membunuh orang, itu membuat Ning melangkah dengan penuh keyakinan. Hingga ia tiba di depan pintu kamar yang sudah memberinya jebakan betman itu.
Tok tok tok …
Ning kembali mengetuk pintu kamar Dino.
“Tuan muda, ibu koki bilang anda mau makan apa untuk makan siang hari ini?” teriak Ning dari balik pintu. Ia tak mau masuk lagi, karena takut terkena jebakan betman lagi. Namun ia tak mendapatkan sahutan dari orang yang berada di dalam kamar sana.
Tok tok tok …
“Hallo tuan muda yang tampan dan baik hati dan tidak sombong, saya yakin anda tidak tuli atau tuna rungu. Pastinya bisa mendengar suara saya yang merdu ini … uhu syalalala ….”
Ning berteriak sesuka hati sembari memuji dan mengejek anak asuhnya itu. Sesungguhnya ia ingin muntah saat itu juga.
Namun sayang, ia tetap tak kunjung mendapatkan jwaban.
“Baiklah, aku akan memesan makanan sesuka hatiku dan kau yang akan memakannya. Babhay ….” Ning pun membalikan tubuhnya dan beranjak pergi.
Ceklek …
Suara pintu terbuka membuat Ning menghentikan langkahnya, ia kembai membalikan tubuhnya.
“Jadi mau makan apa, tuan muda?” ucap Ning dengan ekspresi wajah semanis mungkin.
“Buatkan aku ramen sangat pedas, jus cabe dan salad buah.” Dino menyebutkan makanan yang ia inginkan. Ia lalu kembali menutup pintunya.
Blam …
"Iyuwww, gak sopan banget sih jadi orang. Bisa ae emaknya ngatain gue gak punya sopan santun... Lah itu anaknya apa bisa dikatakan berakhlak mulia, cihhh, " cerocos Ning sembari melanjutkan kembali langkahnya.
“Eh tunggu.... " Ning menghentikan langkahnya.
"Apa? Dia bilang apa tadi?” Ning yang terkejut mengingat makanan yang dipesan oleh Dino, ia merasa tidak percaya entah.
“Ramen dan salad buah sih aku ngerti, tapi …jus cabe?” Ning kembali bertanya- tanya.
“Argh sial … pasti dia berniat mengerjai ku lagi. Lihat saja nanti, dinosaurus. Ningrat Atisaya tidak akan jatuh ke ranjau buatan mu untuk yang kedua kalinya,” ucap Ning dengan mengerutkan dahi dan menyipitkan matanya.
" Tunggu pembalasan Nyai, hei kau dinosaurus... ", ucapnya lalu tersenyum ketir.
Ia pun beranjak pergi sembari memikirkan rencana untuk mengerjai balik anak asuh yang kini suka disebut dinosaurus itu.
-
------------------ TBC -------------
*********************
Happy Redaing ….
__ADS_1