NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Pengakuan Mengejutkan


__ADS_3

“Maaf, Pak Da____”


“Sssstttt….” Ia menempelkan jari telunjuk pada bibirnya agar orang itu tidak berisik. Ia memberi isyarat dengan menggunakan matanya, kemudian menyuruh orang itu pergi.


Orang itu pun mengangguk dan beranjak pergi meninggalkan mereka beserta mobil yang tadi dikendarainya.


“Huhuhuhuu… huhuhuhu ….” Ning masih menangis tersedu- sedu.


“Hei, apa kau menangis sampai satu ember? Kenapa bajuku serasa basah begini?” ucapnya mengejek Ning.


Seketika Ning menghentikan tangisannya. Ia melepaskan diri dari pelukan orang itu. Ia baru teringat jika orang itu tak suka melihat wanita cengeng.


“Loh, kenapa jadi menjauh? Aku kan kedinginan?” ucapnya dengan nada manja untuk menggoda Ning.


Bugh


“Awwww… dada ku sakit sekali….” Ia pura- pura meringis sembari memegang dada yang dipukul Ning. “Setelah dipakai tempat menangis, eh malah dipukul… bukannya dicium…..” Ia tak hentinya menggoda Ning.


“Dasar mesum!!” bentak Ning sembari sesenggukan.


“Hahhaha….”


“Malah ketawa lagi….” Ning makin kesal.


“Uwww… akhirnya Gadis galak ku sudah kembali waras….” godanya.


“Memangnya aku gila?”


“Orang waras mana yang akan kentut di sebuah pesta di depan semua orang, hem?” ucapnya mengejek Ning.


“Huaaaaaaaaa….” Ning kembali menangis dengan kencang.


“Ehh, kok malah nangis lagi… Cup cup cup cup, sini ayok peluk lagi….”Athar menggenggam tangan Ning dan menariknya kembali ke pelukannya. Namun Ning berontak dan melepaskan diri.


“Huhuhuhuhu….”


“Ehh, udah dong jangan nangis… Malu dilihatin orang… Nanti dikira kamu diapa- apakan oleh ku….”


“Jangan bahas kejadian di pesta tadi… Sakit tahu hati aku, huhuhuhu….”ucapnya disela tangisannya.


“Iya… maaf maaf… Tapi jangan nangis lagi ya gadis galak…..” ia masih berusaha meredakan tangisan Ning.


Ning kembali berhenti menangis. Ia menghapus jejak air matanya dengan menggunakan lengan jas milik Athar. Bahkan ia melap serta membuang ingusnya pada lengan jas tersebut.


Shrekk….


“Ih, jorok banget sih… Kenapa melap ingus mu menggunakan jas ku?”protes Athar.


Ning malah dengan sengaja kembali membuang ingusnya menggunakan lengan jas yang satu nya lagi.


“Oh astaga… Itu menjijikan, Ning….” Athar menepok jidatnya. Sedangkan Ning malah tersenyum lebar sengaja mengejek Athar.


“Argh sudahlah terserah apa mau mu…. Ayok kita pergi dari sini!!” ajak Athar menarik tangan Ning.


“Ihh... mau kemana sih?”tanya Ning menghempaskan tangan Athar.


“Ayok cepat naik ke mobil ku, sebelum ada busway datang… Lihatlah, si Riko malah parkir sembarangan di jalur busway….” Athar kembali menarik tangan Ning.


“Aku gak mau ikut… Aku mau pulang….” Ning berusaha melepaskan tangannya, namun pegangan Athar begitu kuat. Dengan terpaksa Ning pun melangkah mengikuti Athar, hingga keduanya berdiri di depan pintu mobil.


“Sudah cepat masuk!!” Athar membukakan pintu mobil, kemudian menyuruh Ning segera masuk. Ia pun dengan terpaksa masuk. Athar juga masuk kemudian mengemudikan mobilnya.


“Tuan om….”


“Ya….” sahut Athar.


“Kenapa tuan om bisa ada di halte?” tanya Ning penasaran dengan keberadaan Athar yang tiba- tiba. Namun Athar tak menghiraukan pertanyaan Ning dan malah konsentrasi menyetir.


“Tuan om….” Ning yang menunggu jawaban kembali memanggil Athar.


“Apa?” sahutnya dengan pandangan yang masih lurus ke depan.


“Kok gak jawab sih?” protes Ning nampak kesal.


“Tadi katanya gak mau bahas soal pesta….”


“Tapi kan aku Cuma nanya alasan kenapa tiba- tiba tuan om bisa ada di halte?”


“Karena tadi aku melihat mu memborbardir pesta pertunangan temanku….” ucapnya melirik sekilas, seolah ingin melihat ekspresi Ning.


“Hah? Teman tuan om? Jadi tuan om ada di pesta itu?” Ning teringat pada orang yang dilihatnya sebelum ia menuruni tangga sat di pesta.


“Iya….”


“Berarti tuan om temannya calon tunangan Ranti?”


“Iya… Dia yang bertemu dengan kita waktu di mall kemarin….”


“Bukannya yang kemarin itu lalu gak salah namanya Richard… Tapi calon tunangan Ranti namanya Edwin, kan?” tanya Ning merasa aneh.


“Iya, namanya Edwin Richard Nugroho….”


“Oh….” Ucapnya ber-oh ria. Ia kembali terdiam, tak mengajak Athar bicara lagi. Namun setelah ia merasa ada yang aneh, ia pun kembali bersuara. “Tuan om….”


“Hmmm….”


“Kenapa AC nya dimatikan?” tanya Ning heran.


“Gak apa-apa… biar anget, hehehe… Kamu kan suka yang hot hot….” Ucapnya terkekeh.


“Ih… dasar … Kalau gitu aku turunkan kaca pintu mobilnya aja ya….”


“Jangan!!” cegah Athar, ia lalu menekan kunci otomatis agar Ning tak bisa menurunkan kaca pintunya.


“Kenapa? Gerah tau…!! Tuh tuan om juga keringetan gitu…” protes Ning.


“Kalau AC nyala atau kacanya diturunkan, nanti kamu bisa masuk angin… Gaun mu itu kan basah… Bahaya kalau sampai terkena angin duduk….”


Ning tertegun dengan mata yang tertuju pada Athar. Ia tak menyangka jika Athar sebegitu perhatian padanya. Ia tak hentinya memandangi pria yang tengah menyetir itu. Namun saat Athar menoleh padanya, dengan segera ia memalingkan wajahnya.


“Liatin aja Ning sampai puas... Kapan lagi bisa memandangi ketampanan ku secara langsung begini….” Ucapnya terkekeh dengan pandangan lurus ke depan.


Ning yang merasa malu terciduk, akhirnya melihat ke samping. Ia tak ingin ketahuan memperhatikan si om tamvan nya itu.


“Loh, kok berhenti di sini?” tanya Ning heran saat Athar menghentikan laju mobilnya.


“Karena ke sini hanya membutuhkan waktu sepuluh menit… Kalau langsung pulang ke rumah mu, butuh waktu setengah jam lebih....” ucap Athar mematikan mesin mobilnya.


“Hah? Maksudnya?” tanya Ning yang nampak bingung.

__ADS_1


“Ck… sudahlah jangan banyak tanya… Ayok turun….” Ajaknya lalu melepas seatbelt.


“Gak mau… aku gak mau belanja… Orang aku mau pulang… Lagian di dalam sana pasti bajunya mahal- malah….” tolak Ning.


“Oh astaga… Kau itu datang ke sini bersama Daniel Athar Sahulekha… Jangankan membeli sebuah baju, butik ini saja bisa ku beli….” Athar menyombongkan dirinya.


“Dasar sombong… sudah sana pergi sendiri saja!!”


Athar menghela nafas, kemudian menatap mata Ning. “Mau turun atau aku akan mencium mu dan orang- orang di luar sana akan melihat kita….” Athar memberi Ning ancaman.


“Ihhh… iya iya, aku turun….” gerutu Ning menatap kesal pada Athar. Dengan terpaksa ia ikut turun.


Athar keluar dari mobil dengan menahan tawa, karena ancamannya berhasil membuat Ning menurut padanya.


“Ayok….” Athar mengulurkan tangan mengajak Ning untuk masuk.


“Mau ngapain sih ke sini? Aku mau pulang ih….” Ning yang sudah berdiri di samping mobil, masih merasa enggan masuk ke dalam butik tersebut.


“Kalau masih merengek minta pulang, aku benar-benar akan mencium mu sekarang juga….” Ucapnya berbisik di telinga Ning.


“Ih… dasar brengsek!!” umpat Ning dengan suara pelan.


“Aku dengar itu... Sudah cepat kita masuk!! Di luar dingin….” Athar menggenggam tangan Ning, lalu membawa Ning berjalan bersamanya memasuki butik yang merupakan langganan keluarganya.


“Hai… ganteng… kok sudah dateng lagi? Tadi siang baru ke sini… kangen ya sama Stevany?” sang pemilik butik yang sudah kenal dengan Athar pun langsung menyambut kedatangannya.


“Berikan dia pakaian baru….” Ucapnya melirik pada Ning yang berdiri di sebelahnya.


Orang itu pun memperhatikan Ning dari atas hingga bawah. “Woah… Yang gadis gaunya basah, eh si ganteng kayak abis mandi keringat gitu… Kalian abis basah- basahan enak ya… hihihihihi….” Pria gemulai itu malah menggoda Ning dan Athar.


“Cepat berikan dia pakaian ganti… Jangan banyak bacot, Septian!!” bentak Athar dengan menyebutkan nama asli si pemilik butik.


“Oke bosque…. Mari nona ….” Ucapnya mengajak Ning pergi bersamanya dengan menarik tangan Ning.


“Hei... mau kemana kau?” tanya Athar mendelik tajam.


“Tentu saja membawa nona ini untuk memilih pakaian baru, dan memakaikannya padanya… Kan tadi disuruh gitu sama ganteng, ih… lupita ya….” ucap Stevany.


“Suruh karyawan wanita yang melakukannya!!” titah Athar.


“Yey gimana sih… Ini kan tamu VIP… jadi harus Stevy yang turun tangan langsung….”


“Aku bilang suruh karyawan wanita yang melakukannya!!” Athar bicara dengan tegas.


“Ihh, kenapa sih… Tenang aja kali, eykeu kan gak gak suka ciwi- ciwi… Sukanya lekong kayak yey….”


“Kau itu memang banci, tapi casing mu itu masih laki- laki… cepat lakukan apa yang ku perintahkan!!” Athar kembali menegaskan.


“Ih… sama eykeu aja cembokur… hiihihi….”


Athar menatap tidak suka pada pemilik butik tersebut. “Lepaskan tangan mu darinya!! Apa kau ingin aku membakar butik ini bersama mu, hah?”


“Slow down, baby… Iya iya iya…” ucapnya lalu melepaskan tangan Ning. “Arini…. Antar nona ini memilih pakaian terbaik kita ya….”titahnya pada salah satu karyawannya.


“Siap madam….” Ucapnya lalu menghampiri Ning. “Mari Nona….” Ajaknya dengan ramah. Ning pun ikut pergi bersama Arini.


“Aku butuh kemeja baru… kemeja ini basah….” ucap Athar.


“Ok… Mari ke sana, ganteng…" ucap ya menunjuk ke arah pakaian khusus pria. " Udah basah- basahan aja ke sini, gak berani dibawa pulang ya takut di RT kan...hahaha, ” ejek Stevy.


"Diam kau!!" hardik Athar.


"iya iya..." ucap sang pemilik butik dan mengajak Athar untuk pergi ke tepat pakaian pria.


Sepanjang perjalanan tak ada percakapan diantara mereka. Baik Ning atau pun Athar hanya main lirik- lirikan mata secara diam- diam. Lama kelamaan, Ning pun tertidur.


*


“Emh… “ Ning terbangun dan perlahan membuka matanya. “Loh, kita udah sampai….” Tanyanya melihat ke luar mobil yang ternyata sudah berada di depan rumahnya.


“Ya… lima belas menit yang lalu….” ucap Athar.


“Kok aku gak dibangunin?” tanya Ning heran.


“Udah kok… kamu nya aja tidur kayak kebo….”


Ning meregangkan tangan, kemudian menggerakkan kepalanya. “Terimakasih ya… Maaf sudah merepotkan tuan om….”


“Hmmm ….”


Ning melepas seatbelt nya, kemudian turun dari mobil. Bukannya melajukan mobilnya, Athar malah ikut turun. Ia mengikuti Ning dari belakang hingga keduanya sampai di depan pintu rumah Ning.


“Loh, tuan om kok malah ke sini? bukannya pulang?”tanya Ning heran sekaligus kaget melihat keberadaan Athar di belakangnya. Sepertinya Ning masih mengantuk.


Bukanya menjawab, Athar malah mengulurkan tangannya seolah sedang meminta sesuatu.


“Apa?” tanya Ning heran. “Minta ongkos?”


“Sembarangan… memangnya aku tukang ojek apa?”


“Terus ngapain itu tangan kayak gitu?” tanya Ning.


“Handphone ku mana?” ucap Athar menagih.


“Handphone?” tanya Ning heran.


“Iya… handphone… Kemarin kamu bilang ada di dalam tas mu….” Ucap Athar mengingatkan.


“Oh… ya ampun… Iya aku lupa… Hape- nya ada di dalam…. Sebentar aku ambil….” ucapnya lalu merogoh tas nya untuk mengambil kunci.


Usai membuka pintu, Ning dengan segera masuk ke dalam tanpa menutup kembali pintunya. Tentu saja Athar pun ikut masuk, walau ia tak dipersilahkan oleh sang tuan rumah. Namun ia menunggu di ruang tamu dan duduk di sana.


Sementara Ning, setelah menaruh tas diatas meja ruang tamu tanpa menoleh ke belakang, bergegas pergi ke kamarnya.


Tak lama Ning kembali dengan membawa ponsel di tangannya. Ia yang kembali terkejut melihat keberadaan Athar di dalam rumahnya, menghampiri pria itu.


“Nih….” Ning memberikan ponsel pada Athar.


Athar berdiri, lalu menerima ponsel itu . "Terimakasih….” Ucapnya lalu kembali duduk.


“Kok malah duduk lagi sih?” protes Ning heran.


“Lantas, aku harus apa? Pergi ke kamar mu dan tidur di sana begitu?”


“Ishhh… apa- apaan itu!?” gerutu Ning sebal


“Hahahahahhaa….” Athar malah tertawa, kemudian memainkan ponsel yang baru dinyalakannya.


“Tuan om kan sudah mendapatkan ponselnya… Jadi silahkan pulang… Ini sudah jam sepuluh malam, gak enak sama tetangga….” Ning mengusir Athar halus.

__ADS_1


“Apa kau tidak akan memberi ku minum dulu gitu? Aku belum makan atau minum apa-apa sejak di pesta tadi….” ucapnya tanpa menoleh dengan pandangan yang fokus pada layar ponselnya.


Ning tertegun mendengar perkataan Athar. Seketika ia diam termenung, menundukkan pandangannya. Nampaknya ada rasa bersalah menghampiri dirinya.


Ia sadar betul jika Athar pergi meninggalkan pesta itu untuk menolongnya, bahkan sampai membelikannya pakaian ganti dan mengantarkannya pulang dengan selamat. Tapi ia bersikap seolah tak tahu berterima kasih.


Athar yang tak mendengar sahutan dari Ning, menoleh ke arah gadis yang berdiri di depannya yang hanya terhalang oleh meja.


“Ya ampun… kenapa aku bisa lupa… Tadi kan dia minta untuk tidak membahas soal pesta… Jangan- jangan dia sedih lagi mengingat kejadian di pesta tadi….” gumam Athar dalam hati, ia lalau bangkit dan berdiri.


“Ekhem… baiklah, kalau begitu aku permisi pulang….” ucapnya lalu melangkahkan kakinya.


“Tunggu….” Cegah Ning. “Duduklah dulu, aku akan membuatkan minum….”


Athar menoleh pada Ning. “Hehe… Tidak usah Ning… Tadi aku hanya bercanda… Aku pulang dulu….” Ucapnya hendak melanjutkan langkahnya, namun dengan segera Ning menghalangi Athar dengan berdiri di hadapannya.


“Gak… gak boleh… Pokoknya tuan om duduk dulu, aku akan buatkan minum… Atau kalau perlu, tuan om mau makan? Aku akan buatkan sekalian….” Ning melarang Athar pulang.


“Tidak usah, Ning… kamu istirahat saja… Ini kan sudah malam….” Athar nampaknya tak tega jika harus merepotkan Ning yang sudah terlihat lelah.


“Tapi… Tuan om kan sudah menolong ku… Masa iya aku gak ngasih apa-apa untuk berterimakasih….” Ucapnya merasa tak enak hati.


“Memangnya mau ngasih apa, hem?” Athar malah terkesan menggoda Ning.


“Eng … It itu… Mau ngasih makanan sama minuman lah… Memangnya apa lagi?” ucap Ning gelagapan sendiri.


“Kalau aku minta yang lain bagaimana?” Athar jadi melunjak, saat mendapat celah.


“Ap apa?” Ning terkejut mendengarnya.


“Iya… Aku minta sesuatu yang lain sebagai tanda terimakasih dari mu….”Athar bicara dengan santainya.


“Maksudnya?” tanya Ning nampak bingung. “Tuan om jangan berani macam- macam ya!!”


“Kalau mau macam- macam, dari tadi aja kali aku langsung membawa mu ke kamar hotel… Kau pikir aku sebejat itu apa?” Athar mendengus kesal. Sepertinya Ning memang sudah menge-cap nya sebagai seorang pria termesum.


“Lalu, tuan om mau apa?”


“Sebelum aku mengajukan permintaan… Aku ingin kau menjawab pertanyaan ku dulu….” Athar memberi syarat.


“Pertanyaan apa?” tanya Ning.


“Kau harus berjanji akan menjawabnya dengan jujur….”


“Tapi pertanyaannya apa dulu?”


“Pokoknya kau harus menjawab dengan jujur….” ucap Athar.


“Ck… baiklah….” Ning nampaknya malas berdebat lagi.


“Janji?” tanya Athar memastikan.


“Iya….” Ning menjawab dengan terpaksa.


Athar menghela nafas panjang. Ia lalu menatap mata Ning, yang membuat Ning salah tingkah sekaligus takut.


“Aduh… kok gue deg degan gini ya?” Gumam Ning dalam hati.


“Ning… apa kau bahagia bersama Singgih?” tanya Athar dengan nada serius yang tak hentinya menatap mata Ning.


Deg


Ning tertegun mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Athar. Ia menundukkan pandangannya dan terdiam membisu.


Mungkin jika Athar menanyakan hal itu beberapa hari yang lalu, Ning akan menjawabnya dengan mudah. Namun setelah melihat perlakuan Singgih padanya kemarin dan tadi saat di pesta, membuat Ning ragu untuk menjawab hal itu.


“Ning… Kenapa malah diam? Apa kau tidak bahagia?” Athar menebak jawaban Ning.


Ning mengangkat kepala lalu balas menatap Athar. “Te tentu saja aku bahagia,” ucapnya lalu memalingkan pandangan dari tatapan Athar.


“Apa kau mencintainya?” Athar kembali melempar pertanyaan.


“Ma maksudnya apa tuan om bertanya seperti itu?” Ning nampak keberatan dengan pertanyaan Athar.


“Jawab!!” ucap Athar dengan nada tegas.


“Te tentu saja aku mencintainya… Kalau tidak, mana mungkin aku menerima lamarannya….” Ning menjawab dengan menghindari tatapan mata Athar.


“Tinggalkan Dia!!!” ucapnya dengan nada tegas.


“Apa?” Ning terkejut mendengarnya.


“Ya… Aku minta akhiri hubungan kalian dan tinggalkan Singgih….” Athar memperjelas perkataannya.


“Ma maksud tuan om apa?” Ning mulai marah, karena tak terima dengan permintaan Athar.


“Kau berbohong Ning… Kau tidak mencintainya dan kau tidak bahagia bersamanya….Untuk apa kau melanjutkan hubungan tanpa ada perasaan cinta diantara kalian?”


Ning tercengang mendengar ucapan Athar. Ia menghela nafas berat, nampak menahan emosi.


“Maaf ya tuan om… Sebelumnya aku berterimakasih karena tuan om sudah menolong ku… Tapi bukan berarti tuan om berhak mencampuri urusan pribadi ku… Apalagi so tahu tentang perasaan ku….”


“Aku tidak so tahu… Tapi aku benar- benar tahu tentang perasaan mu… Kau tidak mencintai Singgih, tapi mencintai orang lain… Dan kau tidak akan bahagia jika menikah dengan orang yang sama sekali tidak kau cintai, Ning….”


“Apa maksud mu bicara seperti itu? Kau pikir kau itu cenayang apa? Kau pikir kau Tuhan yang bisa mengetahui isi hati seseorang, hah?” Ning semakin marah.


“Aku memang bukan cenayang apalagi Tuhan… Tapi aku tahu dari mulut mu sendiri….”


“Maksud mu?”


“Aku juga mencintai mu… Aku juga sangat merindukan mu, tuan om…. Itu yang kau katakan pada ku malam itu, Ning….”


Ning kembali tercengang. Ia mengingat-ingat kalimat itu yang memang pernah ia ucapkan pada Athar yang saat itu sedang mengigau menyatakan cinta karena mabuk berat.


“Apa? Tapi malam itu kau______” Ning tak melanjutkan ucapannya.


“Malam itu aku tidak mabuk, Ning….” ucap Athar memberi pengakuan.


“Apa?!”


“Ya… Malam itu aku tidak mabuk… Aku hanya minum sedikit dan pura- pura mabuk berat… Bahkan aku dalam keadaan sadar sesadar- sadarnya saat aku mengatakan jika aku mencintai mu, Ning… Aku sangat mencintai mu, Ning….” ucapnya dengan penuh keyakinan dan mata yang tak henti menatap mata Ning.


Ning terkejut luar biasa mendengar pengakuan Athar. Ia membekap mulutnya sendiri, karena merasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Tubuhnya serasa bergetar hebat, bibirnya tiba- tiba kelu tak mampu berkata. Kakinya pun terasa lemas, hingga tangan satunya menopang ke sandaran kursi untuk menahan tubuhnya.


-


-


----------------- TBC -----------------

__ADS_1


***************************


Happy Reading ….


__ADS_2