
Selang beberapa saat mobil ambulan datang yang kemudian mengangkut Dino yang sudah tak sadarkan diri untuk dibawa ke rumah sakit.
Ning yang tak bisa menyetir pun akhirnya ikut naik mobil ambulan tersebut dan duduk di depan samping kemudi bersama Sheryl yang tak berhenti menangis.
Setibanya di rumah sakit, Dino segera dibawa masuk ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan. Sementara Ning hanya bisa menunggu di luar, karena membawa anak kecil sehingga tidak bisa masuk. Ning duduk di kursi yang tersedia di sana.
Tak lama Rosmala dan suaminya datang dan keduanya langsung turun dari mobil menghampiri Ning yang duduk di luar ruang UGD bersama Sheryl yang sudah tertidur di pangkuannya.
“Bagaimana bisa Dino keluar rumah? Bukankah saya dan kepala pelayan sudah menegaskan pada mu agar jangan pernah membawanya keluar rumah?” cerca Rosmala yang terlihat begitu marah pada Ning.
“Sa saya juga tidak tahu kalau sopir yang membawa kami itu ternyata Tuan Muda, karena dia memakai topi, kacamata hitam juga masker, Nyonya," ucap Ning merasa takut.
“Ayok kita lihat keadaan Dino, nanti pelayan itu kita urus belakangan,” ucap Aufar yang nampak begitu mencemaskan keadaan Dino.
“Bawa Sheryl pulang. Sopir akan mengantarkan kalian,” ucapnya lalu masuk ke ruang UGD mengikuti suaminya.
Ning bangkit dan berjalan menuju mobil yang sebelumnya dinaiki oleh Rosmala dan suaminya. Ia pun masuk dan duduk di dalamnya dengan Sheryl yang masih tertidur lelap dipangkuan nya. Sang sopir pun segera melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Ning terus memikirkan Dino. Tak bisa dipungkiri ia sangat mengkhawatirkan keadaan Dino. Apalagi ia yang sudah menantang Dino untuk menaiki kereta mini coaster saat di mall tadi. Ia menghela nafas panjang berkali- kali untuk menenangkan dirinya sendiri.
Setibanya di rumah majikannya, Ning langsung masuk ke kamar Sheryl dan membaringkannya di tempat tidur. Ia lalu keluar dengan melangkah gontai dan wajah lesu juga sedih.
“Ning … Bagaimana bisa kau membawa Tuan Muda keluar rumah? Kau menggemparkan semua orang di rumah ini, tahu gak ….” tanya Utari yang menghampiri Ning.
Ning hanya menggelengkan kepala, tanpa menjawab dengan perkataan apa pun. Pikirannya masih tertuju pada kondisi Dino. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan Utari yang terus bertanya pada nya.
Langkahnya terhenti saat ia melihat Nyonya besar baru selesai menuruni tangga bersama kepala pelayan beserta perawat pribadinya. Ning dan Utari menundukkan kepalanya memberi hormat pada pemilik rumah tersebut.
Plak …
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Ning. Ia semakin menundukkan kepalanya. Ia hanya bisa pasrah menerima kemarahan si Nyonya besar tanpa melawan seperti biasanya. Mungkin karena ia merasa bersalah menyebabkan Dino sampai masuk rumah sakit.
“Berani sekali kau membawa cucu ku keluar rumah!!! Apa Rosmala tidak memberitahukan mu jika Dino dilarang keluar rumah, hah?” bentak si nyonya besar.
“Ma- maaf Nyonya … Saya juga tidak tahu kenapa tuan muda bisa ada di dalam mobil bersama saya dan non Sheryl.” Ning memberanikan diri bicara.
“Alasan saja kau!! Jika terjadi sesuatu dengan Dino. Saya akan pastikan kau menerima balasan yang setimpal!!” bentaknya dengan nafas terengah- engah saking emosi.
“Berani sekali kau menyalahkan cucu ku!!” bentaknya semakin marah.
Plakkk
Satu tamparan kembali mendarat di pipi kanan Ning. Ingin rasanya ia menangis saat itu juga, namun ia menahannya sekuat tenaga.
“Mami ….” Teriak Athar yang baru masuk ke rumah, ia kemudian menghampiri.
”Mami, kendalikan diri Mami … Ingat dengan kondisi kesehatan Mami.” Athar menenangkan ibunya.
“Bagaimana Mami bisa tenang, jika cucu kesayangan Mami masuk rumah sakit … Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya dan dia sampai_____” belum selesai Nyonya bear berbicara, Athar langsung memotong.
“Mami … Dino sudah mendapatkan penanganan dan sekarang kondisi nya baik- baik saja … Dokter bilang dia hanya perlu banyak istirahat.”
“Semua ini gara- gara pelayan lancang ini !!” Nyonya besar menunjuk ke arah Ning.
“Bukan, Mami …." nampaknya Athar berusaha memberi pembelaan pada Ning.
“Sebelumnya Dino tidak pernah melanggar dan baru kali ini ia berani keluar … Itu pasti karena pelayan kurang ajar ini!!” Nyonya besar masih murka dan tak hentinya menyalahkan Ning.
“Mami … Tadi di rumah sakit, Dino sudah mengakui kesalahannya sesaat setelah ia siuman….”
“Kesalahan? Kesalahan apa maksud mu?” tanya beliau heran.
“Dino yang meminta Sheryl untuk bekerja sama agar dia bisa pergi keluar bersama Sheryl … Bahkan Dino yang mengurung sopir pribadinya Sheryl di gudang dengan menyuruhnya membawa barang dari sana.” Athar menjelaskan kejadian yang sebenarnya menurut pengakuan Dino.
“Apa?” nyonya besar pun terkejut mendengarnya.
“Iya, Mami ….” angguk Athar.
“Antar Mami ke rumah sakit … Mami ingin melihat keadaannya.”
“Gak usah Mami … sebaiknya Mami juga istirahat, jangan terlalu mengkhawatirkan Dino … Dia baik- baik saja … Lagi pula di sana kan ada Kak Ros dan Bang Aufar," cegah Athar.
“Ayok, Athar antar Mami ke kamar … Athar janji hari ini akan menginap di sini," bujuknya.
Ia mendekat lalu merangkul ibunya. Matanya menoleh sekejap pada Ning yang terus menundukkan kepalanya, kemudian ia pun beranjak pergi.
__ADS_1
“Ning, kau pergi saja ke kamar mu … Biar aku yang menjaga Non Sheryl" ucap Utari yang merasa iba pada Ning.
“Terimakasih, Utari ….” ucapnya lalu pergi dengan melangkah gontai sembari mengusap pipi kanannya yang terasa lebih sakit dari pipi kiri yang mendapat tamparan pertama.
Ning masuk ke dalam kamar nya. Ia duduk di lantai sebelah tempat tidurnya dengan memeluk boneka pemberian mendiang bapak-nya.
Ia benar- benar menumpahkan air mata yang sejak tadi di tahannya. Ning tak ingin memperlihatkan bahwa dirinya lemah di depan orang lain.
Dia hanya terlihat kuat di luar, padahal di balik semua itu ia menyembunyikan kerapuhannya.
“Kenapa aku terus saja memberi kesialan pada orang- orang yang ada di dekat ku? Hiks hiks hiks … Apa aku memang ditakdirkan seperti ini … menjadi anak pembawa sial, hiks hiks ….”
“Bapak … Ibu … bawa aku pergi bersama kalian … hiks hiks hiks … aku tidak sanggup … aku tidak sanggup jika terus seperti ini, hiks hiks hiks … Huhuhuhuu ….”
Ning tak hentinya menangis sembari memeluk boneka kesayangannya. Hanya benda itu yang bisa menemaninya dalam situasi apa pun. Walau benda mati, namun sangat berarti baginya. Karena itu adalah boneka pemberian pertama dan terakhir dari mendiang bapaknya.
Tanpa disadari, ada orang yang mendengar tangisan dan jerit kesedihan Ning dari balik pintu kamar nya.
**
Empat hari telah berlalu, Dino yang dirawat di rumah sakit pun kini sudah bisa pulang. Selama itu pula Ning terus mengkhawatirkan keadaan anak asuhnya itu.
Ia sering mencari tahu dari Utari, kepala pelayan, atau pun dari pelayan lainnya. Namun semua orang mengatakan Dino baik- baik saja dan tak ada satu pun dari mereka yang memberitahukan Ning tentang penyakit yang di derita Dino.
Setelah Dino pulang ke rumah, Nyonya besar mengultimatum Ning agar tidak mendekatinya. Beliau beranggapan tak ingin jika Ning membawa pengaruh buruk lagi bagi Dino. Ning pun hanya bisa melihat Dino dari kejauhan, itu pun saat mengantarkan Sheryl yang memaksa ingin menemui kakak nya seperti hari ini.
“Oh jadi sekarang kau beralih profesi jadi si tukang ngintip ….”
Ning terperanjat mendengar suara orang dibelakangnya. Ia membalikan tubuhnya sembari cengengesan.
“Eh, Tuan Om bikin kaget saja, hehe ….”
“Kenapa tidak masuk saja?” tanya heran.
“A aku … Aku cuma nganter Non Sheryl saja kok, gak ada niat nyamperin Tuan Muda, beneran deh cius … suerrr ….” Ning sepertinya takut jika Athar akan mengadukannya pada Nyonya besar.
“Bilang saja kau merindukan mantan anak asuh mu itu … iya kan?” goda Athar.
“Eng … enggak … siapa yang merindukannya?” ucap Ning gelagapan, seolah ia merasa malu ketahuan merindukan si dinosaurus nya itu.
“Eh, ma maaf Tuan Om … Tadi saya reflex, hehehe ….” Ning baru tersadar akan kelakuannya yang so akrab.
“Mbak Ning Nong … ayok kita ke sekolah ….” Sheryl yang baru saja keluar, langsung menarik tangan Ning untuk segera berangkat ke sekolah.
“Eh ada Om tampan ….” sapa Sheryl pada Athar.
“Apa? Kau memanggil ku apa peri kecil?” tanya Athar heran.
“Om Tampan ….” Sheryl mengulang panggilannya pada Om nya.
“Sejak kapan panggilan mu berubah, hem? Bukannya biasanya peri kecil ini suka memanggil Om Thar Thar ….”
“Mbak Ning Nong bilang om itu Om Tampan, aku jadi ikutan manggil gitu,” ucap Sheryl dengan polosnya. Athar pun beralih menatap Ning.
Deg …
“Mampoos … ini anak polosnya kebangetan, pakai ngadu segala lagi … mau di taruh di mana muka gue?” jerit Ning dalam hati yang kemudian menundukkan kepalanya, karena Athar terus menatapnya.
“Oh, jadi kau yang mengajari keponakan ku memanggil ku seperti itu ….” ucap Athar yang membuat Ning semakin malu.
Ning menghela nafas panjang.
"Tenangkan diri mu Ning … Jangan sampai kentut di depan si Om tamvan ini, ehh … aduh … alamak oey … kebiasaan banget sih ini bibir nyebut dia Om Tamvan …” gumam Ning dalam hati.
“Hei, kau itu hobi sekali melamun ya ….”
“Eh … He- he- he ….” Ning tersenyum kikuk. Ia mengalihkan pandangannya pada Sheryl.
“Non salah dengar kali, saya kan bilangnya tuan Om … Udah yuk ah kita berangkat, nanti Non bisa kesiangan loh ....”Ning mengalihkan pembicaraan untuk menghindari Athar yang masih terus menatapnya.
“Permisi Tuan Om ….”Ning lalu menuntun dan membawa pergi Sheryl.
“Dadah Om tampan ….” ucap Sheryl sembari berjalan dituntun oleh Ning.
“Dadah peri kecil dan penjaga peri cantik ….” ucap Athar entah dengan sadar atau keceplosan entah kesurupan karena pernah keracunan oleh kentut beliung Ning.
__ADS_1
Ning yang sedang berjalan membelakan matanya mendengar ucapan Athar.
“Apa ? Dia bilang apa tadi? Penjaga peri cantik? Apa yang dia maksud itu aku,” gumam Ning dalam hati. Ia tersipu malu dan wajahnya pun mulai berseri- seri.
“Mbak Ning Nong … kok senyum sendiri sih?” tanya Sheryl heran.
“Eng … enggak Non … ayok kita turun ….” ucap Ning gelagapan.
Selama di perjalanan Ning tak hentinya mengulas senyum dengan kepala melihat ke arah pengemudi, tetapi pikirannya entah kemana. Ucapan Athar seolah terngiang- ngiang di telinganya.
“Tuan om tamvan … kau benar- benar meluluh lantahkan hati ku …” gumamnya senyam senyum sendiri.
“Kenapa ka melihat ku seperti itu, Ning? Apa kau mengagumi ku?” tanya si pengemudi mobil yang duduk di jok sebelah Ning.
“He eum ….” ucap Ning mengangguk sembari tersenyum, namun pikirannya melayang entah kemana. “Tamvan banget sih ….” ucapnya tanpa sadar sembari senyam- senyum.
“Baru tau ya kalau aku ini tampan dan gagah ….” ucap sang sopir dengan percaya diri.
Twewewew …
Ning membelakan matanya saat menyadari bahwa suara yang di dengarnya bukanlah suara Athar, melainkan suara sopir-nya Sheryl. Ia bergidik ngeri lalu membuang muka dan mengalihkan pandangannya pada kaca pintu mobil.
“Apa- apaan si sopir ini … kepedean banget bilang dirinya tampan, orang brewok sama hitam gitu .. iihhh … amit amit… amit amit ….” Ning menggerutu dalam hati. Ia pun kembali membayangkan wajah tamvan Athar.
Tak lama mereka sampai di sekolah, Ning mengantarkan Sheryl ke dalam kelas dan meninggalkannya saat jam pelajaran di mulai. Ia menunggu di luar kelas.
“Aduh … bosan banget sih nungguin anak sekolah gini tuh … Mendingan nungguin si dinosaurus belajar … Bisa memarahinya, mengejeknya, … Eh … kok jadi inget sama dia sih ….” gumam Ning dalam hati.
Ning melihat pada jam tangannya yang menunjukan pukul sembilan pagi.
"Masih satu jam lagi nungguin nya … Beli minum dulu ahh, haus ….” Ning bangkit dan beranjak pergi. Ia keluar dari kawasan sekolah Sheryl dan menyebrang jalan.
Ning membeli jus buah dan jajanan pinggir jalan yang ada di sana. Ia pun duduk di sebuah kursi panjang.
“Bu, bangunan ini sekolah apa?” tanya Ning melihat ke arah bangunan dengan halaman yang terdapat disana.
“Ini sekolah taman kanak- kanak, Mbak. Kan itu ada arena bermain nya."
“Oh, gitu ya … sama kayak di seberang sana?” tunjuk Ning ke sebrang.
“Iya .. bedanya kalau di seberang sana untuk orang- orang kaya … Kalau di sini mah untuk rakyat.”
“Ah … si ibu bisa aja ….”
“Emang bener, Mbak … Makanya saya bisa jualan di depan sekolah sini … Kalau di sana mana ada pedagang kali lima berani jualan.”
“Hehehehe ….” Ning tersenyum dan kembali menyeruput jus-nya.
Ning mengarahkan pandangannya ke halaman TK tersebut saat mendengar suara anak- anak yang baru keluar dari kelas. Mereka berlarian ke wahana permainan yang ada di halaman TK tersebut.
Namun ada seorang anak kecil yang nampak tak bergabung dengan yang lainnya. Ia duduk di sebuah kursi dan terlihat murung juga sedih.
“Peri kecil ….” terdengar suara seseorang yang memanggil anak itu. Dan ia pun menegakkan kepalanya, ia tersenyum sumringah melihat orang yang sedang berjalan menghampirinya dari arah pintu gerbang.
“Dady ….” Anak itu langsung berlari dan memeluk orang yang memanggilnya.
Ning membelakan matanya dan membekap mulutnya yang ternganga.
“Apa? Anak itu memanggilnya Dady??” gumamnya dalam hati dengan penuh tanda tanya.
“Ternyata dia sudah punya anak ….” gumamnya lagi masih dengan raut wajah shock.
---------------- TBC ---------------
************************
Happy Reading …😉
Monmaaf , eceu sedang rada- rada cibuk di dunia nyata,,, jadi dunia halunya terabaikan …🙏🙏
Jangan luva tinggalkan jejak mu … like, komen, rate bintang 5, hadiah vote seikhlasnya …😉😍
Tilimikicih ….😘
Aylapu all …😘😘
__ADS_1