
080077111927 : [“Sudah terima paketnya?”]
“Hah? Paket?” gumam Ning mengerutkan dahinya saat membaca SMS dari nomor yang tak dikenal. “Oh iya, mungkin yang dimaksud paket amplop coklat tadi,” lanjutnya yang baru teringat. Ia lalu membalas SMS tersebut.
Ning : [“Sudah, terimakasih. ”]
080077111927: [“Berarti sudah paham kan?”]
Ning : [“Iya.”]
080077111927 :[“Bagus.”]
“Ini maksudnya apa ya? kok kayak ada yang aneh….” ucapnya terheran- heran. “Ah sudahlah, kan sudah diurus ini sama Ocha….” Nampaknya ia tak mau ambil pusing. Ia membuka laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
----------------
Sementara di London, Athar tengah duduk termenung di ruang kerjanya dengan tangan kanan yang menopang dagunya setelah kepergian Edward.
“Rik….”panggil Athar dengan tatapan kosong.
“Iya, Pak….”
“Apa aku ini terlihat tua?” tanyanya tanpa melirik sang asisten yang berdiri di depan meja kerjanya.
Riko mengerutkan dahinya. “Memangnya kenapa, Pak?”
“Kau itu ditanya malah balik tanya!!” sentaknya dengan tatapan tak suka.
“Eng, tidak kok, Pak… Anda masih terlihat segar….” ucapnya tersenyum.
“Aku tanya apa aku terlihat tua, bukan terlihat layu!!” sentaknya lagi, lalu mendengus kesal.
“Eng, anda masih terlihat muda kok, Pak….”
“Tapi kenapa Ning-ku bilang kalau aku ini sudah tuir… Dia bahkan memanggil ku Om… Memangnya aku setua itu apa, Rik?” ucapannya kembali terdengar aneh. Mungkin dia sedang tersinggung atau sedih.
Glek
Riko menelan ludahnya sendiri.
“Tentu saja jika di bandingkan dengan Nona Ning, anda terlihat tua, Pak… Wong Nona masih di bawah 20 tahun….” Riko hanya bisa berdialog dalam hati.
“Riko!!” sentak Athar karena tak kunjung mendapat jawaban.
“Iy iya, Pak….”
“Kenapa malah bengong?!” Athar menatap kesal.
“Kenapa, Pak? Maaf tadi saya lagi mikirin sesuatu….”
“Pasti kau mengejek ku dalam hati mu ya?” tebaknya mendelik tajam.
“Eng enggak, Pak… Mana berani saya, hehehe….”
“Terus kenapa Ning-ku menyebut ku ABG tuir?”
“Mana saya tahu, Pak… Itu kan urusan percintaan kalian,”Riko kembali menjawab dalam hati.
“Riko!!” Athar kembali menyentak.
“Ekhem… Eng, mungkin Nona segan jika hanya memanggil langsung nama anda, Pak… Bukankah jarak usia anda dengan Nona terpaut cukup jauh… Mungkin dengan memanggil begitu, sebagai rasa hormat pada anda, Pak….”
“Iya tapi kan dia tidak perlu memanggil ku dengan sebutan ‘OM’ juga kali….”
“Apa Nona harus memanggil anda dengan sebutan Bapak?” entah mengapa tiba- tiba tercetus pertanyaan yang seharunya hanya dipendam dalam hati Riko.
“Apa? Memangnya aku setua itu?!” sewot Athar.
Riko tersentak, baru menyadari ucapannya yang pasti menyinggung bos nya itu. “Tidak, Pak… Anda masih muda kok….”
“Cinta memang bisa membuat Pak Daniel berperilaku bodoh dan lebay... Hufh, menjengkelkan!!” gumam Riko dalam hati.
Cekelek
Tiba- tiba pintu terbuka dan seseorang langsung nyelonong masuk begitu saja. “Hai, Daniel….” Sapa orang itu yang menghampiri Athar di meja kerjanya dan langsung duduk di kursi depan meja tersebut.
“Kalau bertamu itu yang sopan!! Main selonong aja!!” sindir Athar.
“Yaelah, galak amat Pak Tua!!” orang itu malah mengejeknya dan membuat Athar membulatkan matanya, termasuk Riko. Padahal baru saja mereka membahas soal tua tua, dan Riko berusaha kerasa agar tak menyinggung bos nya, ini malah denagn lantang menyebut Pak Tua.
Athar menatap tak suka dengan panggilan orang itu padanya. Di sebut om saja oleh pujaan hatinya sedih, apalagi ini disebut pak tua.
“Hahahaha… biasa aja kali itu tatapannya kayak mau bunuh gue aja, lo!!” orang itu malah tertawa.
“Emang, gue pengen bunuh lo dengan mulut tersumpal kain pel….” ucap Athar geram.
“Hahaha… lagi PMS lo, sensi amat?”
“Gimana gue gak sensi… Mana hasilnya? Semua dokter rekomendasi dari lo gak ada yang bener!!" ternyata kekesalan nya karena hal lain.
“Gak bener gimana?” tanya orang itu heran.
“Kemarin gue masih kejang- kejang tuh mencium bau kentut orang!!” ucap Athar.
“Hah? Kok bisa? Bukannya di sini lo gak apa- apa setelah dilakukan beberapa kali tes?” tanyanya kembali heran dan kaget.
“Gue juga gak paham… kenapa pas di Indo, gue kejang- kejang lagi….” Athar pun merasa tak habis pikir.
“Oh mungkin bau kentut orang Inggris sama orang Indo beda kali,” ucap orang itu dengan entengnya.
__ADS_1
“Ngawur lo!!” sentak Athar.
“Hahahaha… tapi kalau lo sendiri yang buang gas, gak pingsan atau kejang lagi kan?”
“Enggak…” Athar menggeleng.
“Eng … kenapa ya? apa lo cuma alergi sama orang tertentu aja kali ya?” orang itu semakin heran
“Masa iya, sih? Mana mungkin aku alergi sama Ning saja,” gumamnya dalam hati. Ia ingat betul jika penyakit anehnya itu kambuh saat mencium bau kentut Ning di toilet hotel waktu itu.
“Woy, kok lo malah bengong?” ucapnya menggebrak meja.
“Apa?” sahut Athar sewot.
“Emangnya siapa yang buang gas depan lo sampai bikin lo kambuh lagi?” tanya orang itu penasaran.
Athar hanya mengedikan bahu. Entah ia malas atau malu menyebutkan sang pujaan hatinya lah pelakunya.
“Oh ya, by the way… Tante Andini gak marah kan gue gak datang di ulang tahunnya?” tanya orang itu.
“Bukannya kalian suka telponan?” Athar malah balik bertanya.
“Iya sih, hehehe… Siapa tahu aja di depan lo, beliau marah gitu sama gue….”
“Enggak.”
“Siap- siap aja lo, dua bulan lagi kita bertunangan….” ucap orang itu yang ternyata seorang perempuan.
“Emang lo mau nikah sama gue?”tanya Athar.
“Eng, kalau diperhatikan lo gak buruk- buruk amat sih… Lo kaya dan harta lo juga banyak, gak bakalan habis sampe tujuh turunan… Nanti setelah kita nikah, gue bakalan bunuh lo, supaya harta kekayaan lo jatuh ke tangan gue….”
“Dasar matre… Gak segampang itu kalau lo mau bunuh gue!!” pekik Athar.
“Gampanglah, tinggal kentutin terus dikurung dan dikunci dalam kamar biar gak ada yang nolongin lo, mati deh…” ucapnya dengan entengnya. “Eh tapi, kalau ukuran lo kurang dari 25, gak jadi deh gue nikah sama lo!!”
“Sialan lo!!” maki Athar melotot.
“Hahahaha… ukuran kecil mana bisa puasain gue….” ejek wanita itu.
“Sembarangan, lo!! Dasar perempuan mesum!!” Athar makin kesal
“Hahahahaha….” Wanita yang menjadi lawan bicara Athar pun tertawa puas melihat ekspresi Athar.
“Cih, biasanya juga dia bicara mesum pada Nona Ning… Giliran dimesumin orang, malah marah….” batin Riko dalam hati dengan tersenyum miring. Walau sesungguhnya ia ingin tertawa seperti wanita yang bersama Athar itu.
*******
Pagi- pagi sekali Ning kembali datang ke rumah Bu Asri untuk mengantarkan Nana ke sekolah, karena hari ini ia sudah mulai masuk lagi.
Jujur ia sangat merindukan anak yang sudah dua hari ini tak ditemuinya. Hal itu dilakukannya, karena ia tahu jika saat weekend Singgih akan menginap di rumah Bu Asri. Jadi demi menghindarinya, ia rela menahan rindunya pada Nana.
“Momy!!!” teriak Nana dari dalam yang kemudian menghampiri Ning yang baru menginjak teras depan. Anak itu langsung memeluk Ning dengan wajah gembira. “Nana kangen momy….”
“Sama… Momy juga kangen….” Ning membalas pelukan Nana.
“Loh, kamu kapan datang Ning?” Bu Asri menghampiri Ning.
“Baru aja sampai, Bu….” Ucap Ning yang kemudian mencium tangan Bu Asri. “Bu sehat?”
“Alhamdulilah… Kamu gimana Ning?”
“Sehat, Bu… Maaf ya Bu, aku baru kesini lagi… Kemarin- kemarin lagi banyak kerjaan karena aku berapa hari gak masuk… Jadi gak bisa jagain Nana sampai sembuh….”
“Gak apa- apa… Ada Singgih ini yang urus, kok… Nana lagi manja- manja nya sama Igih….”
“Hehehe….” Ning tersenyum.
“Papa… ayo kita berangkat….” seru Nana saat melihat Singgih berdiri di ambang pintu dengan membawa tas sekolah juga kotak makan yang biaa Nana bawa ke sekolah.
Ning menampakan raut wajah terkejut. Bukan karena keberadaan Singgih, namun apa yang dikatakan Nana jika ia mengajak papa nya itu berangkat. Itu artinya, Ning akan mengantarkan Nana ke sekolah ditemani Singgih pula.
Maksud hati ingin menghindari, ini malah bertemu lagi. Apes, pikirnya.
“Peri kecil, biasanya kan kita diantar sopir? Papa kan harus kerja….” ucap Ning pada Nana.
“Mulai sekarang, aku yang akan mengantarkan Nana ke sekolah… Nanti pulangnya baru dijemput sopir….” malah Singgih yang menjawab.
“Memangnya Mas Igih gak berangkat kerja?” tanya Ning dengan hati- hati, sepertinya ia takut menyingung mantannya itu.
“Loh… kamu belum ngasih tahu Ning, Gih?” tanya Bu Asri pada putranya. Singgih menggeleng.
“Ngasih tahu apa Bu?” tanya Ning heran.
“Mulai sekarang sampai seterusnya, Singgih akan tinggal di sini, sama ibu dan Nana….”
“Apa?” Ning terkejut luar biasa.
“Iya… Singgih udah pindah ke sini lagi, Ning… Supaya dia bisa ngurus Nana dan jagain ibu… Ya, walaupun rumah sakit tempat dinasnya jauh dari sini… Tapi tempat prakteknya udah pindah kok ke daerah dekat sini…. Jadi kalian gak perlu jauh- jauhan lagi….”
Deg
Ning terdiam sejenak. Ia baru teringat jika ia belum memberitahukan Bu Asri perihal kandasnya hubungan dirinya dan Singgih. Dan melihat sikap Bu Asri, sepertinya Singgih pun belum memberitahukan beliau juga.
“Sepertinya Ibu belum tahu tentang putusnya hubungan kami… Bukannya mereka setiap hari sering telponan? Tapi, baguslah begini lebih baik,” gumam Singgih dalam hati dengan mengulas senyum di bibir manisnya.
“Papa ayok… Nanti Nana kesiangan….” rengekan Nana mampu membuyarkan lamunan Ning, begitu juga Singgih yang sejak tadi terus memandangi Ning.
“Iya, sayang….” Singgih berjalan menghampiri Nana dan Ning. “Bu, kami berangkat dulu….” Pamitnya ada Bu Asri.
__ADS_1
Ketiganya menyalami Bu Asri yang kemudian berjalan menuju mobil Singgih, dengan Nana yang menggandeng lengan Ning. Sementara Singgih mengikuti dari belakang. Ia menyimpan tas dan kotak bekal Nana di jok penumpang, kemudian berjalan ke depan untuk membukakan pintu gerbang.
“Peri kecil duduk di depan ya….” ucap Ning membukakan pintu mobil jok depan sebelah pengemudi.
“No, momy… Nana suka pusing kalau duduk di depan….” tolak Nana yang kemudian masuk dan duduk di jok penumpang yang tadi pintunya dibukakan oleh Singgih.
“Loh, Maya mana?” tanya Ning heran yang tak melihat keberadaan pengasuh Nana.
“Dua hari lalu Maya izin pulang, katanya ibunya sakit… Tapi dia bilang pagi ini akan nyusul ke sekolah….” ucap Singgih yang kemudian masuk ke dalam mobil.
“Haduh, gimana ini… Masa iya aku harus duduk di depan sama Mas Igih? Canggung bangat rasanya....” gumam Ning dalam hati. Ia masih berdiri di depan pintu mobil.
“Momy ayok!!” seru Nana dari dalam. Dengan terpaksa, Ning akhirnya duduk di depan tepat di sebelah Singgih sang pengemudi.
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan diantara mereka berdua, hanya terdengar celotehan Nana yang sesekali bernyanyi- nyanyi kecil. Ning pun lebih memilih berkirim pesan dengan Ocha.
Sesampainya di sekolah, Ning mengantarkan Nana sampai depan pintu kelas nya diikuti oleh Singgih. Ia lalu berpamitan untuk pulang. Nampaknya ia tak mau berlama- lama dengan mantannya itu.
“Ayok….”
“Ayok apa?” tanya Ning heran.
“Aku akan mengantarkan mu….”
“Eng, gak usah Mas… Aku naik ojol aja….”
“Gak apa- apa kok, Ning… Kan kita searah….”
“Tapi______”.
“Tenang saja… Aku tidak akan macam- macam kok… Masa kakak mu udah repot- repot nganterin anakku, aku biarin aja kamu pulang naik ojol….”
Ning menghela nafas. Dengan terpaksa ia pun menerima ajakan Singgih. Keduanya kembali menaiki mobil, yang kemudian dilajukan oleh Singgih.
“Loh, kok ini bukan jalan ke rumah ku?”
“Iya, benar….”
“Mas Igi bilang tadi_____”.
“Hari ini jadwal kamu checkup bulanan kan, Ning? Jadi aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit….”
“Tapi______”
“Gak ada tapi- tapian… Daripada kamu telat, karena jam praktek dokternya habis….”
Ning hanya bisa mendengus pasrah. Karena memang perkataan Singgih ada benarnya. Akhirnya hanya bisa menurut. Dan sama hal nya seperti tadi, tak ada percakapan diantara keduanya hingga mobil yang dikendarai Singgih sampai di depan pintu gerbang rumah sakit.
“Berhenti…. Aku turun di sini aja, Mas….” ucap Ning saat mobil masih mengantri, karena ada tiga mobil lain yang hendak memasuki gerbang rumah sakit tersebut.
“Enggak Ning… Aku akan antar kamu sampai ke dalam... Kalau perlu aku akan menunggu mu diperiksa dan mengantarkan mu pulang….”
“Mas Igih harus berangkat kerja… Nanti bisa telat, kan rumah sakit tempat dinas Mas Igih masih jauh….” Ning menolak secara halus.
“Tapi Ning, tidak mungkin aku membiarkan mu checkup sendirian….” Singgih masih berusaha untuk menemani Ning periksa.
“Gak apa- apa kok, Mas….”
“Salah siapa yang tiba- tiba mengantarku ke sini… Orang biasanya aku chekup ditemani Ocha atau Siti.” Batin Ning menggerutu dalam hati. Hingga tak terasa mobil Singgih sudah memasuki pintu gerbang.
“Behenti di depan pintu utama saja, Mas….”
“Aku akan perkir dulu….”
“Mas, tolong ya… Aku gak suka dipaksa- paksa kayak gini….” Ning mulai geram.
“Iy iya baiklah….” Akhirnya Singgih pun mengalah, daripada ia membuat Ning merasa tak nyaman.
“Terimakasih, ya Mas… Maaf aku buru- buru, takutnya terlambat,” ucap Ning membuka setbelt nya. Ia membuka pintu, kemudian turun dari mobil.
Ning bergegas masuk ke dalam rumah sakit, tanpa melihat lagi ke arah mobil Singgih. Ia tak ingin membuat pria itu mengikutinya ke dalam. Nampaknya ada rasa risih juga khawatir jika Singgih berusaha mendekatinya lagi.
“Benar kata si kudaniel… Kalau Mas Igih tidak akan menyerah begitu saja….” gumam Ning mendengus kesal. “Apalagi sekarang dia sudah pindah ke rumah Bu Asri… Bagaimana ini!!” Ning tak hentinya menggerutu memikirkan Singgih sambil berjalan, hingga ia tak memperhatikan sekitar.
Bruk
Tiba- tiba ning bertubrukan dengan seseorang yang membuat tubuhnya hilang keseimbangan dan jatuh ke lantai.
“Aduh….” Ning mengusap bokongnya yang terasa sakit karena beradu dengan lantai rumah sakit. Ia lalu mengarahkan pandanganya pada orang yang bertubrukan dengannya dan sama- sama jatuh terduduk di lantai.
“Kalau jalan tuh lihat- li______” Ning tak melanjutkan ucapannya saat bertatapan dengan orang tersebut. Ia membelakan matanya karena terkejut.
“Ning….” sapa orang itu yang sama- sama terkejut.
--------- TBC--------
********************
-
Happy Reading….😉🥰
-
Monmaaf baru up lagi… Eceunya lagi sibut di real life….🙏🙏🙏🙏
-
Terimaasih selalu menantikan kisah Ning Nong Neng Jring..
__ADS_1
Alapyu All…😍🥰😘😘