
“Ya … ada apa?” tanya pria itu.
“Ma maaf, Pak… saya salah orang….” ucap Ning yang merasa malu, karena sudah beranggapan jika pria itu adalah Athar. Pria itu pun terheran- heran dibuatnya.
“Ini momy nya Nana, Om….” ucap Nana memberitahukan pria itu.
“Oh ya? Momy nya Nana?” tanya nya terkejut, kemudian ia menurunkan kedua anak perempuan itu dari gendongannya.
“Iya, Om… Dia ini calon istrinya Om Singgih,” ucap Diasri yang datang menghampiri.
“Oh… Jadi Singgih sudah menemukan pengganti Dindra?”
“Iya Om….” angguk Diasri. Sementara Ning hanya tersenyum kaku, nampaknya ia masih merasa malu. “Om dicariin Oma tuh….” ucapnya memberitahukan.
“Oke… Ayok gadis- gadis, ikut sama Om… Ada banyak oleh- oleh untuk kalian….” Ajaknya yang kemudian menuntun kedua keponakannya.
“Hore… Hore….” Sheryl dan Nana bersorak kegirangan.
“Momy… Nana pergi dulu ya….” Nana pamit pada Ning.
“Iy iya….” Angguk Ning.
“Permisi….”ucap pria itu, kemudian beranjak pergi dengan menuntun kedua keponakannya.
“Hai, Ning… Sudah lama ya kita tidak bertemu….” Diasri baru menyapa Ning.
“Iy iya, Nona Diasri….”
“Jangan panggil Nona… Pangil saja Dias… Nanti kan aku harus memanggil mu tante….”
“Hehehe… Eng, yang tadi itu siapa ya?” Ning memberanikan diri menanyakan pria yang sejak tadi dipanggil om oleh Diasri, Sheryl dan Nana.
“Oh… Itu Om Dandy, adiknya Papa yang baru pulang dari Australia... Emang gak lihat ya, kalau wajahnya mirip sama Papa? Ya, walaupun postur tubuhnya lebih mirip Om Athar sih….” ucap Diasri.
“Hehehe….” Ning hanya tersenyum.
“Memang benar, dari belakang pun mirip sekali dengan Dia… Aku kira itu benar benar dia….” gumam Ning dalam hati.
“Aku ke sana dulu, ya….” Diasri pamit pergi.
“Iy iya….”
“Oh ya… Jaga baik- baik ginjal baru mu ya… Jangan sia- siakan kebaikan orang yang sudah memberikan satu ginjalnya pada mu….” ucapnya kemudian beranjak pergi.
“Hah? Maksudnya apa bicara seperti itu?” gumam Ning dalam hati yang terkejut mendengar perkataan Diasri. “Apa jangan- jangan dia tahu siapa pendonor itu?” batinnya lagi.
Ning hendak mengejar Diasri, namun langkahnya terhenti saat Singgih menghampiri nya.
“Ning… ayok kita pulang….”
“Hah? Pulang? Bukannya kita belum lama di sini?” tanya Ning heran.
“Tadi aku mendapat telpon dari rumah sakit, diminta untuk menangani operasi, karena dokter bedah lainnya sedang berhalangan….”
“Iy iya, baiklah… Tapi Nana___”
“Kita ajak dia pulang juga… Kak Ros bilang Nana sedang bersama Mas Dandy juga Bu Andini di sebelah sana….”
“Iy iya, Mas….”
Ning terpaksa mengurungkan niatnya untuk mencari informasi dari Diasri. Ia dan Singgih mengajak Nana pulang sekaligus berpamitan pada Andini.
*
“Wah peri kecil dapat hadiah banyak sekali dari Om nya ya….” ucap Ning saat mobil yang dikendarai oleh Singgih sudah melaju menyusuri jalanan kota.
“Iya, Momy….”
“Momy? Kok peri kecil sekarang jadi panggil Momy?” akhirnya Ning bisa menanyakan perihal itu.
“Papa bilang kakak peri mau jadi mama nya Nana… Tapi kan Nana udah punya mama peri, jadi Nana manggil kakak peri, Momy….”
“Kenapa Momy?” tanya Ning.
“Kan Papa bilang kalau mama itu sama papa, mami sama papi, momy sama dady… Eng… Bunda sama ayah … Terus... ibu sama bapak… Eng eng… umi sama ubi….” Ucap Nana mengingat- ingat perkataan papa nya.
“Umi sama Abi, bukan ubi…” Ning mengoreksi.
“Oops, iya Nana lupa….”
“Terus Nana kenapa jadi pilih Momy? Kan bisa manggil mama, bunda, Mami, ibu atau Umi….” tanya Ning heran.
“Kan kata Papa, Nana gak boleh panggil mama… Jadi Nana panggil momy aja deh… Nana kan udah punya papa, mama peri, sama dady…. Tapi belum punya momy….”
“Eng… Maaf Ning, maksudnya bukan aku melarang Nana memanggil kamu mama… Eng, hanya saja… aku tidak mau Nana merasa kebingungan, kalau dia memanggil Diandra juga kamu dengan sebutan mama….” Singgih memberi penjelasan.
“Iya, gak apa- apa kok, Mas… hehehe….” Ucapya tersenyum kaku.
Ting ting ….
Terdengar suara ponsel yang berbunyi. Ning lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia melihat layar ponsel tersebut yang ternyata ada pesan masuk. Ia pun membukanya.
Ocha
“Ning… Gue lagi nongkrong di kafe biasa sama Siti dan Ardi… lo bawa kunci rumah kan?”
Ning
“Iya, gue bawa kok”
__ADS_1
Ocha
“Oke”
Ning memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia melihat ke depan, dan ternyata ia mengenali daerah itu.
“Eng … Mas, aku turun di depan sana ya….” ucap Ning menunjuk sebuah tempat yang tak asing baginya.
“Loh kenapa? Rumah kamu kan masih jauh… Aku akan antar kamu pulang sampai rumah….”
“Ini Ocha wa aku… Katanya dia lagi di kafe depan sana… Lagipula kalau Mas nganter aku pulang, terus ke rumah Bu Asri, nanti bisa telat sampai rumah sakitnya…”
“Oh, ya ampun… Aku minta maaf, Ning… Kamu belum makan apa-apa ya tadi?” Singgih baru sadar.
“Berhenti di sini aja ya, Mas….” Pinta Ning. Singgih menghentikan mobilnya di pinggir jalan, di depan sebuah kafe.
“Sekali lagi aku minta maaf, Ning….” ucapnya menyesal.
“Gak apa- apa kok, Mas… Nyantei aja….” ucap Ning yang kemudian turun dari mobil.
"Kenapa momy turun di sini?" tanya Nana heran.
"Eng, momy mau ketemu sama kak Ocha dulu ya...." ucap Ning dari luar pintu mobil yang kacanya diturunkan.
"Nana mau ikut...." pintanya.
" Jangan sayang... ini kan sudah malam... besok kita ketemu main, ya... Besok kan peri kecil libur sekolah...."
“Iya... dadah momy….” Nana melambaikan tangannya.
“Dadah peri kecil… hati- hati ya, Mas….”
“Iya…” ucapnya yang kemudian melajukan kembali mobilnya.
Ning menghubungi Ocha, sembari berjalan memasuki area kafe tersebut, keduanya bertemu di dalam kafe.
“Cha pesenin gue makanan… Laper banget gue….” Ucapnya saat baru duduk bergabung dengan Ocha dan dua karyawan lainnya.
“Loh, bukannya abis makan malam sama calon laki lo?” tanya Ocha heran.
“Enggak jadi, keburu ada telpon dari rumah sakit….”
“Hahahaha…. Gak kebayang gue … Kalau lo udah nikah nanti, lagi tanggung- tanggung nya eh laki lo ada panggilan darurat dari rumah sakit….” Ocha malah meledek Ning.
“Hahahaha….” Siti dan Ardi pun ikut tertawa.
“Diam kalian semua… gue potong gaji baru tahu rasa….” Ancam Ning yang nampak kesal.
“Ampun … ampun, Bu Bos… Jangan dipotong atuh….” Ucap Ardi yang kemudian berhenti tertawa.
“Tapi ntar abis makan, kita ke tempat karaoke ya… Lo masih punya utang janji sama gue….” Ocha menagih janji.
“Yesss….”
Ning kemudian makan bersama ketiga pegawainya tersebut. Setelah selesai, Ardi dan Siti pulang lebih dulu, sementara Ning dan Ocha pergi ke tempat karaoke dengan menaiki sepeda motor yang dikendarai oleh Ocha.
Mereka berdua menyanyi sesuka hati, bahkan sampai berteriak- teriak tidak jelas. Untung saja mereka berada di dalam ruangan kedap suara, jika tidak maka orang- orang akan menganggap mereka tidak waras.
Ocha nampaknya sangat memahami sahabatnya itu yang terlihat memiliki beban pikiran. Ia lebih memilih mengajak Ning pergi ke karaoke ketimbang menanyakan hal yang mengganggu pikiran sahabatnya itu.
“Hahahaha… lo happy kan, Ning….” ucap Ocha saat keduanya berjalan di parkiran untuk pulang.
“Yuhuuu….” Ning nampak terlihat senang.
“Baguslah... seenggaknya hati lo bisa plong setelah teriak- teriak tadi….”
“Ya ya ya… Lo emang paling mengerti gue, Cha….”
“Anjrit…” Ocha terkejut melihat kondisi motornya.
“Kenapa Cha?”
“Ini kok ban motor bisa bocor dua- duanya?” ucapnya yang kemudian melihat ban motor sambil berjongkok. “Kampret… ini kenapa bisa kena paku begini? Gede banget lagi?!!” gerutu Ocha.
“Yah… terus gimana dong, Cha?”
“Yaudah kita pulang naik taksi aja… Besok gue nyuruh Ardi aja jemput motor ini….”
“Yaudah, yuk….” Ning dan Ocha berjalan meninggalkan parkiran tersebut. Keduanya kembali menaiki lift dan keluar dari pintu utama tempat karaoke tersebut.
“Ning… lo pesan taksi, gih… hape gue lowbatt….” titah Ocha yang melihat ponselnya sudah dalam keadaan innalilahi.
“Oke….” Ning mengambil ponsel dari dalam tas nya.
Nut nut… tririring….
“Yah… hape gue juga mati, Cha….”
“Haduh… tanggal berapa sih nih? Apes banget kita….” Ocha nampak semakin kesal.
“Udah yuk ah, kita jalan ke depan buat nyegat taksi….” Ajak Ning yang kemudian berjalan bersama Ocha menuju pintu gerbang untuk keluar dari area tempat karaoke tersebut.
“Ini udah jam 11 malam coy… Bisa- bisa kita disangka perempuan gak bener, keluar dari tempat karaoke terus jalan di pinggir jalan kayak gini….” Ucap Ocha usai melihat jam tangannya.
“Hahaha… Kita kan gak pakai baju bikini, Cha… By the way, kok gak ada taksi lewat ya? Dari tadi mobil pribadi sama motor mulu yang lewat….” Ucap Ning terheran- heran saat keduanya berjalan menyusuri trotoar.
“Gak tahu tuh… mungkin udah pada molor sopir taksinya….” Ocha menebak- nebak.
“Eh, bukannya itu tukang martabak yang enak itu kan? Beli yuk….” Ucap Ning menunjuk ke arah tersebut.
__ADS_1
“Lo masih lapar? Perasaan tiga jam yang lalu lo baru makan? Tadi di tempat karaoke kita makan cemilan….” tanya Ocha heran.
“Lo pikir setelah kita teriak- teriak tadi, gue gak ngeluarin energi apa?” ucap Ning ketus.
“Hahaha… oke oke… kita beli martabak sembari nunggu taksi lewat….”
Keduanya pun berjalan menghampiri tukang martabak yang berjualan di pinggir jalan. Ning memesan satu porsi martabak telur dan satu porsi martabak pisang keju.
Sambil menunggu martabak matang, keduanya tak henti melihat ke arah jalan untuk mencegat taksi. Selama mereka duduk di sana tak ada satu pun taksi yang melewati jalan itu.
“Bang, kok gak ada taksi lewat ya ke jalan ini?” tanya Ocha pada penjual martabak.
“Disini emang jarang taksi lewat… Mbak pesan taksi online saja….”
“Hape kita pada lowbat, Bang….”
“Paling Mbak jalan lagi aja ke depan, sekitar 200 meter an lagi juga ada jalan raya … Di sana suka banyak taksi lewat….”
“Oh iya, makasih ya Bang….” Ucap Ocha. “Lo udah selesai makannya?” tanyanya pada Ning.
“Udah… bentar gue minum dulu….” Ucap Ning yang sudah makan empat potong martabak keju pisang nya. “Yuk….” Ajak Ning yang kemudian berdiri dengan membawa kantong kresek berisi martabak jajanannya tadi.
Keduanya melanjutkan perjalanan menyusuri trotoar menuju ke jalan raya yang ditunjukan tukang martabak tadi.
“Hahahahahahaha….” Tiba- tiba terdengar suara seseorang tertawa, yang memeluk sebuah tiang listrik di jalan trotoar yang akan dilewati Ning dan Ocha. Keduanya pun berhenti saat jarak mereka hanya terpaut sekitar sepuluh meter dari orang tersebut, karena di sana nampak sepi pejalan kaki.
“Ning… itu kayaknya orang lagi mabok deh… Ih, serem banget, njir….” bisik Ocha.
“Masa sih? Orang gila kali…” tebak Ning.
“Sayang… muaahhhh muahh muahhh….” Orang yang hanya terlihat tubuh belakangnya itu, menciumi tiang listrik.
“Tuh, kan orang gila… Kalau orang waras mana mungkin bilang sayang dan menciumi tiang listrik begitu….” Ucap Ning yakin.
“Lah, itu di tangannya megang botol minuman, Ning… Apa dia hantu ya? pakai baju putih sama topi putih gitu….” ucap Ocha.
”Berarti lo yang gila… Mana ada hantu napak gitu kakinya ke trotoar… Lo pikir kita ini kayak si Roy Kimochi apa, bisa lihat penampakan….” cerocos Ning.
"Emang ya... orang Mabuk itu mirip- mirip orang gila...." ucap Ocha yang terus memperhatikan orang itu.
“Yaudah, yuk kita lari aja…. Mumpung dia lagi memeluk tiang listrik….” Ajak Ning yang nampak takut.
“Jalan cepat aja, ntar ginjal lo sakit lagi kalau lari….” Ucap Ocha. Keduanya pun berjalan cepat sembari bergandengan tangan untuk melewati orang mabuk tersebut.
“Ning sayang… jangan tinggalkan aku….” ucap orang itu saat Ning dan Ocha berjalan melewatinya.
Deg
Seketika Ning menghentikan langkahnya.
“Ning, kenapa lo berhenti?” bisik Ocha yang nampak takut jika disamperin sama orang mabuk itu.
“Cha… orang itu nyebut nama gue….”
“Salah dengar kali, lo… Lagian ya kalau dia menyebut nama Ning, bukan berarti dia manggil lo… Emangnya cuma lo doang di dunia ini yang bernama Ning?” udah yuk ah kita pergi….” Ocha menarik tangan Ning. Keduanya kembali berjalan.
“Ning… gadis galak ku, sayang... muahhh muahh....” Orang itu kembali menyebut nama Ning.
“Cha… kayaknya gue kenal suara itu….” Ning kembali menghentikan langkahnya.
Gedebuk
Terdengar suara benda jatuh.
Seketika Ning berbalik dan melihat ke arah orang tersebut. Ning membelakan mata dengan raut wajah terkejut, hingga ia menjatuhkan kantong kresek dari tangannya.
Ia berjalan perlahan untuk menghampiri orang yang sudah tergeletak dengan posisi duduk di atas trotoar dan bersandar pada dinding tembok. Ia membekap mulut dengan tangannya saking terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Ning, jangan gila lo… Jangan nyamperin orang mabok… bahaya ihh….” Ocha berusaha mencegah Ning, namun ia tak menggubris dan terus melangkah hingga sampai tepat di depan orang itu.
“Hahahahahaha… mana dia mana? hahahaha… uhh, mataharinya terang sekali… mataku sakit,,, hahaha” Orang mabuk itu kembali tertawa dengan merancau tak jelas.
“Tuan om… hiks….” Ucapnya disertai isak tangis.
Rasa bahagia sekaligus tak percaya, membuatnya tak bisa menahan air matanya. Ia berlutut, kemudian duduk untuk melihat lebih jelas dan memastikan penglihatannya tidak salah.
Orang itu yang ternyata adalah Athar, mengangkat tangan kanan yang memegang botol minuman dan hendak meminumnya lagi. Namun Ning yang melihat hal itu, dengan segera mencegahnya. Ia merebut botol minuman itu, lalu meletakan nya di belakang tubuh Ning. Akhirnya sebagian minumannya tumpah dan membasahi baju Athar.
“Hei, minuman ku mana? kenapa hilang?” protes Athar yang kemudian bertepuk tangan.
Grep
Ning mendekat dan langsung memeluk Athar tanpa aba- aba.
“Tuan Om… huhuhuhu….” Ia menumpahkan air matanya di pelukan pria yang selama satu tahun ini begitu dirindukannya.
-
-
-------------- TBC ------------
*******************
-
Happy Reding…
__ADS_1