
Ning yang berada dalam gendongan Athar, menelusupkan wajahnya di dada sang kekasih dengan tangan yang masih mengalung di tengkuk Athar.
Senyuman bahagia terpancar dari bibir manisnya. Rasa sakit dan kecewa yang dirasakannya tadi pun luruh seketika.
“Katanya tadi mau nunggu terus di depan pintu samai aku mau dengerin penjelasan mu… Kok malah pergi? Pembohong!!” gerutu Ning.
“Tadi aku kepanasan dan haus… Makanya aku pergi ke warung buat beli minum….” ucapnya memberi penjelasan.
“Ning, ayok turun… Kita sudah sampai,” ucapnya lagi saat ia sudah berdiri di depan pintu rumah Ning.
“Gak mau!!” tolak Ning dengan nada manja.
“Loh kenapa? Kita sudah sampai, Ning….”
“Kenapa panggilannya berubah lagi?” protesnya masih dengan nada rengek- rengek manja gimana gitu.
“Setengah jam yang lalu, kau bilang jijik mendengar aku memanggil mu sayang….”
“Aaaahhhh, itu kan tadi… Sekarang aku mau dipanggil sayang lagi….”
“Iya, sayang… kamu turun ya, sayang… Di luar panas banget nih, sayang… Dan ini_____”
“Ini apa?” tanya Ning nyamber.
“Dada kita begitu menempel, sayang…. Makin gerah rasanya….”
Ning langsung melotot, sedangkan Athar tersenyum lebar.
Tanganku juga tak bisa membuka pintu….” Ucapnya lagi yang menggerak- gerakan tangannya dibawah sana.
“Bagaimana bisa membuka pintu, orang dari tadi megangin bokong aku,” ketus Ning.
“Nah itu tahu…” Athar nyengir kuda.
Ning melepaskan tangannya yang sejak tadi melingkar, kemudian turun dari gendongan Athar.
“Kau tahu sayang?” ucap Athar saat Ning sudah berdiri di hadapannya.
“Apa?” tanya Ning heran.
“Meskipun tubuh kurus, tapi bokong mu cukup bahenol dan empuk… Squisi kembar mu juga____”
Bugh
Ning memukul lengan Athar. “Dasar mesum!! Suka curi- curi kesempatan!!” sentak Ning yang kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
“Hei… Apa kamu sudah lupa, siapa yang minta digendong dan tiba- tiba mendaplok begitu saja….” Athar mengikuti langkah Ning ke dalam tanpa menutup pintunya kembali.
Keduanya duduk di kursi yang sama yakni kursi paling panjang diantara tiga kursi yang ada di sana.
“Itu hukuman, karena kau sudah berbohong!!” pekik Ning.
Athar tertegun, ia kembali teringat akan kesalahannya. “Aku benar- benar minta maaf, sayang… Aku_____” Athar tak melanjutkan ucapannya saat Ning mendekat dan duduk menyender dengan memeluk lengan Athar.
“Aku sudah memaafkan mu… Karena aku sudah tahu semuanya….” Ning bergelayut di lengan Athar.
“Tahu semuanya? Maksud mu?” Athar membelalak.
“Aku tahu kalau kamu dijodohkan dengan perempuan yang bernama Nadira itu… Dan kamu menuruti perintah ibumu, karena tak mau beliau menyakiti ku atau menganggu kehidupan ku….”
Deg
“Sayang, kamu____” Athar masih tak percaya jika Ning mengetahui hal yang selama ini dirahasiakannya.
“Terimakasih… Karena sudah melakukan segalanya untuk ku… Aku ku gak tahu, apa aku pantas menerima semua kebaikan mu… Sementara aku malah salah paham dan marah pada mu… Aku memang tidak tahu diri….” ucap Ning menunduk yang kembali menitikkan air mata.
Perlahan Athar melepaskan lengannya dari pelukan Ning. Ia duduk tegak, menghadap ke sampingnya. “Hei, sayang… Jangan menangis lagi… Mata mu sudah sembab gitu,” ucapnya dengan jemari yang menghapus jejak air mata Ning. Ia menarik Ning ke dalam pelukannya.
“Aku minta maaf… Gara- gara aku, kamu sampai menentang ibu mu, hiks hiks….” sesal Ning.
“Aku sangat mencintai mu… Aku akan melakukan apa pun untuk menjaga dan melindungi mu….” Athar mengecup pucuk kepala Ning. Perlahan ia melepaskan pelukannya.
"Apa yang sudah mami katakan pada mu? Apa Mami menyakiti mu?” ucapnya menatap Ning.
“Apa kau mencintainya?” Ning malah balik bertanya.
“Siapa?”
“Apa kau mencintai Nadira?” Ning memperjelas orang yang dimaksud.
“Tidak… Aku hanya mencintai mu….” jawabnya tegas.
“Tapi, kalian sebentar lagi akan menikah… Dan kalian pulang untuk bertunangan ‘kan?” Ning menunduk.
“Itu semua keinginan Mami dan orang tua Nadira….”
“Jadi, kalian benar- benar akan menikah?” Ning kembali menatap nanar mata Athar.
“Ya… Aku memang akan menikah… Tapi hanya dengan mu, bukan dengan wanita lain….” jawabnya yakin.
“Tapi kalian______”
“Kami hanya bersandiwara menerima perjodohan itu, untuk kelancaran bisnis yang kami rintis di London… Dan kedatangan kami ke Indonesia untuk membatalkan perjodohan kami….”
“Apa? Kenapa bisa begitu?” tanya Ning nampak terkejut.
Athar tersenyum simpul. “Tentu saja bisa… Karena aku mencintai mu, hanya mencintai mu….” ucapnya dengan penuh keyakinan.
“Kalau mencintai ku kenapa kamu sama Nadira di London? Apa… kalian tinggal bersama di sana?”
“Tentu saja tidak….”
“Kalau gak tinggal bersama, kenapa waktu itu subuh- subuh dia sudah ada di apartment mu?”
Athar terkekeh geli melihat Ning yang cemberut. “Malam itu Nadira mabuk berat… Beruntung Riko melihatnya saat Nadira berjalan di depan gerbang club malam… Karena Riko tidak tahu tempat tinggal Nadira, akhirnya dia membawa Nadira ke apartemen ku….”
“Terus dia ngiep dan tidur di kamar mu?” Ning masih penasaran.
“Hahaha… Tentu saja tidak… Kamar itu ruang privasi ku dan aku tak suka ada yang masuk apalagi tidur di kamar ku….”
“Waktu aku pingsan, kau membawa ku ke kamar mu….”
“Itu hanya berlaku untuk mu, wanita yang aku cintai… Baik ART atau orang asing, dilarang masuk ke kamar ku….” Athar menghela nafas sejenak. “Apa kau ingat bertapa marahnya aku saat mendapati kau tidur bersama Nana di kamar ku tanpa seizin ku?”
“Hmmm….” Ning mengangguk.
“Berarti sekarang kamu paham….”
Ning kembali mengangguk. Namun sepertinya ada yang masih mengganggu pikirannya. “Gak mungkin kan Nadira kamu suruh tidur di sofa?”
“Tentu saja tidak….”
“Lalu?” Ning menunggu kejelasan.
“Karena Riko yang membawanya, jadi Nadira tidur di kamar Riko….”
__ADS_1
“Dan Pak Riko tidur di sofa?” tebak Ning.
“Mau bagaimana lagi, di apartemen ku hanya ada tiga kamar… Satu kamar ku, kamar Riko dan sisanya dipakai ruang kerjaku….”
“Kejam….” Ning mengerucutkan bibirnya.
“Salah siapa membawa orang tanpa izin ke apartment ku….” ucapnya dengan santainya.
“Hehehehe… Tapi… aku masih belum yakin ….” ucap Ning.
“Yakin soal apa?” Athar mengerutkan kening.
“Kalian kan di sana sering bertemu. Gak mungkin kan kalau sampai gak da perasaan apa-apa….”
“Hahahaha… Aku sudah bilang aku hanya mencintai mu, dan dia pun sudah punya pacar….”
“Hah?”
“Katanya sudah tahu semuanya? kok masih banyak tanya?” Athar nampak heran.
“Aku kan mana tahu perasaan mu padanya….”
“Apa kamu masih ingat, sayang… Saat aku menawarkan mu kerja sama jadi pacar pura- pura ku?”
“Iya, tentu saja aku ingat… Kau akan membayar ku seratus juta….”
“Itu hanya alasan ku agar bisa selalu bersama mu… Karena saat itu aku sudah jatuh cinta padamu….” aku Athar.
“Hahh?” Ning kembali terkejut.
“Aku tahu, itu mungkin hal konyol… Tapi dengan begitu aku bisa lebih dekat dengan mu, bisa sering ngobrol dengan mu, setiap hari telponan dan video call dengan mu… Aku berharap dengan begitu kau juga bisa membalas perasaan ku….”
Athar menghela nafas sejenak. “Makanya saat kamu bilang Bu Asri akan menjodohkan mu dengan Singgih, aku sangat marah… Aku takut, aku takut kehilangan mu… Aku takut kau memilih Singgih yang pastinya bersikap baik dan lembut pada mu… Dan malam itu aku langsung pulang dari luar kota… Tapi_____” ucapan Athar terhenti sejenak.
“Nyoya besar menyuruh mu menjauhi ku dan mengancam akan mengacaukan hidup ku, jika kamu tetap bersama ku… Dan karena itulah saat itu kamu tiba- tiba menghilang dan tak pernah membalas chat atau telepon dari ku lagi ‘kan?”
“Maaf….” ucapnya lirih.
“Tapi aku senang, saat aku sakit kamu selalu bersama ku... Kalau bukan karena kamu, mungkin sekarang aku sudah_______”
Athar menempelkan jari telunjuk pada bibir Ning. “Sssssttttt… Jangan pernah katakan hal itu….” Athar kembali membawa Ning ke dalam pelukannya. Ia mengusap lembut rambut Ning yang panjang terurai.
Ada rasa lega dalam hatinya setelah ia mengungkapkan hal yang selama ini ia sembunyikan dari Ning. Meski sebenarnya ia masih penasaran dari mana Ning bisa mengetahui hal itu. Dari Mami nya kah, atau dari Riko, atau dari anggota keluarga nya yang lain. Kepalanya masih dipenuhi tanda tanya.
“Ceritakan pada ku….” pinta Ning.
“Apa? Cerita apa?” tanya Athar heran.
“Semua yang kau rahasiakan pada ku, yang menyebabkan mu meninggalkan ku dan menghilang tanpa kabar….”ucap Ning yang masih betah dalam pelukan Athar.
Athar mengambil nafas dalam-dalam.
“Saat aku pulang, Mami langsung meminta ku menjauhi mu dan segera pergi ke London untuk mengurus bisnis baru di sana… Awalnya aku menolak keras, akau marah, tak terima… Tapi aku tak sanggup jika Mami mengganggu kehidupan mu… Aku tahu seperti apa beliau jika sudah bertindak… Dengan terpaksa aku menerimanya… Dan malam itu______”
*
Flashback
Athar POV
“Bagaimana keputusan mu?”
“Baik… Aku bersedia….” ucapku menyerah.
“Baguslah, Mami akan mengurus keberangkatan mu beberapa hari lagi…”
“Tentu… itu hal yang mudah… Dan malam ini Mami sudah mengatur pertemuan kita dengan Pak Hutama bersama istri dan putri sulungnya….”
“Terserah….” Ucapku dengan dingin. Aku pun pergi keluar dari kamar Mami.
Pagi ini aku pergi ke kantor untuk mengurusi beberapa hal termasuk pengunduran diri ku, karena aku sudah memutuskan akan pindah ke London.
Berat rasanya, sangat berat. Tapi aku tak akan sanggup jika Mami mengganggu kehidupannya lagi. Selama ini dia sudah sangat menderita. Lebih baik aku menjauh, agar tak membuat hidupnya makin susah. Ponsel ku pun dimatikan, untuk menghindarinya.
______
Seharian di kantor membuat ku muak. Ingin rasanya aku menghancurkan, bahkan membakar perusahan milik keluarga ku itu, agar meluruhkan sikap angkuh Mami. Tapi aku tak bisa segila itu, karena banyak karyawan yang bergantung hidup di sana. Sial memang kisah percintaan ku tak pernah mulus atau berakhir bahagia.
________
Malam pertemuan pun tiba. Aku, Mami, Bang Aufar juga Kak Rosmala pergi bersama ke sebuah restoran mewah bergaya eropa. Dan ternyata, Pak Hutama bersama istri dan anak perempuannya sudah tiba lebih dulu di sana. Kami saling menyapa dan berjabat tangan.
“Perkenalkan, ini istri saya, Ayuni dan ini putri sulung kami, Nadira Louisa Brotoaji….” ucap Pak Hutama.
“Wah, cantik sekali ya Nadira ini….” puji Mami.
“Thank you, Aunty ….” Nadira tersenyum ramah.
“Perkenalkan yang itu putra sulung ku, Dhirgam Aufar bersama istrinya, Rosmala… Dan ini putra ke-tiga ku Daniel Athar Sahulekha….” mami pun memperkenalkan kami.
“Nadira….” ucapnya tersenyum ramah.
Kami pun bersalaman secara bergiliran untuk saling memperkenalkan diri.
Sepintas ku lirik Nadira. Cantik, ia terlihat anggun dan ramah. Tapi aku tak tertarik sama sekali. Di mata ku, Ning lah wanita paling cantik. Meski ia tak pernah berdandan menor, sering kali memakai makeup tipis memperlihatkan kecantikan alaminya. Kesederhanaanya, ceplas ceplosnya, dan sifat galaknya menjadikan daya tarik tersendiri.
Entahlah begitu banyak wanita cantik, sexy dan glamor di sekelilingku. Tapi tak pernah ada yang membuat ku tertarik. Mungkin mereka hanya enak dipandang saja bagiku. Setelah aku bertemu Alexa dulu, aku lebih suka wanita yang sederhana. Dan setelah tujuh tahun kehilangannya, kini sosok Ning mampu membuat ku kembali merasakan jatuh cinta.
Namun sayang, kejadian itu terulang kembali. Hubungan ku dengannya sama, tak direstui oleh Nyonya Andini yang terhormat.
“Mari silahkan duduk,” ucap Pak Hutama, dan kami pun duduk mengitari meja bundar di ruang VIP. Sialnya aku duduk bersebelahan dengan wanita yang bernama Nadira itu.
Seperti biasa, selagi menunggu makanan disajikan terjadi obrolan ringan diantara kami. Tentunya seputaran bisnis dan rencana kerja sama perusahan kami dengan perusahan beliau, di London nanti. Hingga makanan pun datang dan disajikan di atas meja. Kami pun mulai makan.
Sebenarnya aku tak berselera, hanya saja ini demi menghormati Pak Hutama yang akan menjadi partner bisnisku nantinya.
“Saya sangat senang dengan jalinan kerja sama ini… Saya akan tempatkan Nadira untuk menjadi partner Daniel di perusahaan baru nanti… Semoga putra putri kita bisa berjodoh, ya ….” ucap Pak Hutama.
Uhuk uhuk…
Wanita yang bernama Nadira itu batuk- batuk hingga air yang tadi diminumnya muncrat membasahi lengan jas ku.
Aku saja ingin muntah mendengarnya. Dijodohkan? Ini sudah zamannya Anya Geraldine, bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Macam aku lelaki tak laku saja. Padahal ku lihat Nadira itu cantik, pastilah banyak pria yang menyukainya, kecuali aku.
“Sorry sorry….” ucapnya meminta maaf
“Its oke….” Jawabku tanpa menoleh. Aku pun bangkit dari duduk.
“Saya minta Maaf, Daniel atas kecerobohan Nadira….” ucap Pak Hutama.
“Tidak apa… saya permisi ke toilet sebentar….” ucapku lalu pergi setelah Pak Hutama mengangguk.
“Pelan- pelan minum nya, sayang….” Mami mulai memberikan perhatian pada wanita itu. Masih terdengar oleh ku yang sedang berjalan menuju pintu keluar. Aku pun pergi ke toilet yang berada di ujung koridor.
Tak lama aku keluar setelah membersihkan lengan jas ku, meski masih agak basah.
__ADS_1
“Bisakah kita bicara?” suara wanita mengejutkan ku. Dan itu adalah Nadira.
“Bicara di sini? Di depan toilet pria?”
“Tentu saja tidak… Lo ingin orang berpikir kalau gue ini penjaga toilet apa?” ucapnya ketus membuat ku tercengang. Tadi ia begitu sopan dan ramah, ternyata hanya kedok.
“Ikut gue!!” ucapnya berlalu begitu saja, dan bodohnya aku pun mau saja ikut dengannya. Hingga kami berada di balkon lantai tiga restoran ini.
“Lo udah tahu kan di balik kerja sama kedua orang kita, ada rencana terselubung.”
“Ya.”jawab ku singkat.
“Gue gak mau dijodohkan seperti ini… Dan gue tahu, lo juga pasti keberatan dijodohkan sama gue ‘kan.”
“Ya.”
“Oke, baiklah… Gue punya rencana, gimana kalau kita pura- pura menerima perjodohan ini, hingga kontrak kerja sama kita selesai… Setelah itu bebas deh….”
“Maksud mu?”
“Ck… Gue dengar seorang Daniel Athar Sahulekha itu pria yang cerdas dan pebisnis ulung… Masa tidak paham sama yang gue omongin barusan?”
Aku hanya mendengus kesal mendengar ocehan wanita ini. Bagaimana bisa aku bekerja sama dengan orang seperti ini.
“Mami bukan orang yang gampang ditipu!”
“Lo pikir orang tua gue gampang ditipu apa?”
“So?”
“Magister gue selesai dalam satu tahunan lebih lah… Nah itu bisa dijadikan alasan untuk mengulur waktu... Kita bilang aja sama mereka kalau kita butuh waktu untuk saling mengenal, ya minimal sampai gue Lulus S2… Jadi selama itu kerja sama kita aman, dan kita tidak akan didesak agar buru- buru menikah… gimana?”
Aku terdiam sejenak memikirkan tawaran tersebut. Sebenarnya aku tak yakin dengan ide konyol ini. Mungkin tak ada salahnya jika mencoba.
“Lalu bagaimana jika setelah satu tahun mereka menyuruh kita menikah?” tanyaku.
“Kita tinggal bilang jika selama ini kita tidak ada kecocokan… Kalau perlu bilang pada mereka kalau kita sama- sama selingkuh dibelakang… Atau lebih gila lagi, salah satu dari kita menikah diam- diam… Ck, banyak pilihan lah pokonya….”
“Boleh juga... Tapi kau harus menjamin tidak akan jatuh cinta padaku… Karena sudah ada wanita lain dalam hatiku….” ucapku.
“O my God… Lo tenang saja kali, gue jamin 1000% gak akan pernah jatuh cinta sama lo, karena gue juga udah punya pacar….” ucapnya dengan yakin.
“Fine….”
“Deal, ya… Selama satu tahun kita pura- pura mengikuti perjodohan mereka….”
“Deal….”
Kami pun berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan. Kini perasaaan ku bisa sedikit tenang, meski aku meninggalkan Ning disini. Aku akan memikirkan hal lainnya nanti.
“Yasudah sana lo balik duluan… kalau kita bareng, bisa- bisa mereka curiga….”
“Oke….” Aku pun masuk lebih dulu dan kembali ke VIP room tempat kami dinner.
“Maaf, menunggu lama….” ucapku lalu duduk.
“Oh tidak apa… Maaf ya atas kecerobohannya Nadira… Mungkin dia gugup….” ucap Pak Hutama yang hanya ku balas dengan senyuman. Tak lama Nadira pun kembali, dan ia duduk di sebelah ku di tempat sebelumnya.
Benar saja, usai makan malam mereka membahas tentang perjodohan kami. Nadira pun mengutarakan keinginannya agar kami diberi waktu satu tahun untuk saling mengenal hingga ia menyelesaikan Magister –nya.
Ku akui wanita itu pandai bicara hingga membuat Mami dan kedua orangtua nya menyetujui permintaannya tanpa banyak protes. Gaya bicaranya yang lugas dan sopan, tak akan bisa membuat siapa pun mencurigai rencana terselubungnya. Jika ia tak memberitahu ku sebelumnya, bisa- bisa aku pun terpedaya.
Malam sudah mulai larut, kami pun saling berpamitan untuk pulang. Dengan terpaksa aku mengantarkan Nadira pulang ke rumahnya. Di jalan pun kami membicarakan rencana kami untuk satu tahun ke depan.
Tiba- tiba terlintas di benak ku meminta tolong pada Nadira mencarikan dokter untuk ku di London. Ia bilang banyak sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter, semoga bisa memudahkan ku untuk berobat di sana.
________
Selama beberapa hari aku sibuk terkait pengunduran diri ku serta keberangkatan ku. Beruntung di London sudah ada orang Mami yang mengurus tempat tinggal ku serta kendaraan ku di sana. Dan sesuai kesepakatan, hari ini adalah hari keberangkatan ku.
“Om yakin akan pergi?” tanya Dino yang ikut mengantar keberangkatan ku di teras dengan raut sedih. Disini ada pula Kak Ros dan Bang Aufar.
“Kita sudah bicarakan itu, Dino… Jangan Khawatir … Kita masih bisa berkomunikasi untuk bertukar kabar… Sekarang kan Kak Ros sudah tak sibuk lagi, jaga kesehatan mu… Jangan lupa minum obat dan ikuti perkataan orang tua mu….” ucap ku menepuk bahunya.
“Iya, Om… Tapi bukannya ini masih terlalu pagi, Om?”
“Om akan ke suatu tempat dulu sebentar….”
“Hati- hati Om….”
Aku pun mengangguk lalu memeluk Dino, Bang Aufar secara bergantian. Selepas itu aku masuk ke dalam mobil, karena Nyonya besar sudah menunggu di dalam sana.
“Jalan, Pak….”ucapku, dan sopir pun mulai melajukan mobil.
Selang setengah jam, mobil yang kami tumpangi melewati sebuah taman kota.
“Berhenti sebentar di sini….” titah ku pada sopir.
“Mau apa lagi….” tanya Mami.
“Aku hanya ingin ke taman itu sebentar… Behenti!!”
“Jangan lama- lama….”
“Hmmm….” Aku pun turun, berjalan memasuki kawasan taman kota. Tak lupa aku membeli kopi dingin kemasan botol. Aku duduk di sebuah kursi yang ada di sana. Entah mengapa, perasaan gelisah membuat ku ingin ke tempat ini.
Sejenak aku berdiam diri disini, menikmati udara pagi ditemani kopi dingin kesukaan ku. Setelah perasaan dan pikiran ku sedikit tenang, aku pu bangkit dan kembali ke tempat mobil terparkir. Ku Tinggalkan kopi yang baru ku minum setengahnya.
***
“Kenapa lama sekali sih?” gerutu Mami yang nampak sudah mulai kesal menunggu di dalam mobil.
“Orangnya bilang sebentar lagi juga pemilik rumah ini akan datang, Nyonya….” ucap sopir.
Deg
Jantungku rasanya berdebar kencang saat melihat wanita yang kucintai tengah berjalan bersama temannya di luar sana. Wanita yang sangat ku rindukan selama seminggu ini. Aku tak peduli jika Mami memperhatikan ku, yang jelas aku ingin berlama- lama melihatnya meski ia tak bisa melihat ku di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan depan rumahnya.
Hingga ia masuk kedalam rumah, aku tak bisa melihatnya.
“Sudah? Ayok kita pergi ke bandara!” tanya Mami.
“Aku tidak akan pergi sebelum rumah ini benar- benar dikembalikan padanya….”
“Kau benar- benar, Athar!! Kau pikir Mami akan ingkar? Bahkan Mami membiarkan mu merenovasi rumah itu… Nunggu apa lagi sih? Jangan bilang kau berniat menemuinya?”
“Aku hanya ingin memastikan sendiri….” ucapku tanpa menoleh, karena tatapan ku tertuju pada rumah itu.
“Ck, terserahlah!!” Mami berdecak kesal. Tapi aku sedikit senang melihat hal itu. Meski itu tak sebanding dengan perasaan ku yang sedih dan hancur karena dipaksa meninggalkan wanita yang sangat ku cintai.
“Lihat saja, satu tahun lagi aku akan kembali!! Dan saat itu aku tak perlu takut Ning akan menolak ku… Hanya satu tahun...” batinku dalam hati.
-
-
__ADS_1
------------- TBC------------
******************