NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Cie... Ada Yang Rindu


__ADS_3

Usai meneguk ramuan cinta si kudaniel sampai habis, Ning menatap balik Athar yang sedari tadi terus memperhatikannya.


“Kenapa kamu menatap ku seperti itu, Ning? Apa ramuannya sudah bereaksi ….” goda Athar.


Ning tersenyum semanis mungkin, bahkan terlihat genit. “Hehe, iya … sepertinya aku sudah mulai jatuh cinta pada tuan om…. Unchh, ganteng banget sih tuan om ….” Ning balik menggoda Athar.


“Tuan om cinta gak sama aku?” ucapnya mengedipkan sebelah mata dan mencolek pipi Athar yang terbelalak melihat kelakuan Ning.


“Ning … kau kesurupan?” Athar nampak tak percaya dengan apa yang Ning lakukan.


"Sepertinya iya, aku kesurupan setan cinta tuan om….” Ning membungkuk mendekatkan wajahnya pada wajah Athar, kemudian memonyongkan bibirnya seolah minta dicium.


“Ning… Kau!!”


“Uhhh, apa? Kok bibir aku dianggurin sih?” Ning kembali memonyongkan bibirnya dengan nada menggoda.


Glek


Athar menelan air liurnya sendiri dengan mata membulat sempurna. Bibir Ning yang terlihat sexy di matanya, membuatnya benar- benar tergoda. Jika saja Siti tidak sedang berada di ruangan itu, mungkin Athar sudah melahap bibir Ning yang sudah berserah pasrah seperti itu dan menerkamnya saat itu juga.


Namun beruntung akal sehatnya masih bisa dikendalikan. Ia memundurkan kursi yang sedang di duduki nya, karena wajahnya terlalu dekat dengan wajah Ning. Tapi sayang, sepertinya ia terlalu kuat mendorong. Sehingga kursi yang terbuat dari material plastik itu oleng dan membuat Athar jatuh terjungkir ke belakang.


Gedebuk …


“Aduh ….” Athar mengaduh kesakitan.


“Tuan om gak apa-apa?” Ning terkejut melihat Athar jatuh.


“Pak Daniel gak apa-apa? Siti yang sejak tadi berdiri di dekat sofa, segera menghampiri.


“Gak apa- apa ….” ucapnya kemudian bangun. Ia pun mengambil kursi dan meletakkannya ke tempat semula. “Sepertinya kamu sudah baik- baik saja … Kalau begitu aku pergi dulu,” ucapnya nampak menahan sakit entah menahan rasa malu.


“Tapi… tuan om beneran gak apa-apa?” Ning nampak khawatir.


“Enggak,” ucapnya dengan yakin, namun tangannya mengusap- usap lengan yang sepertinya terasa sakit.


Athar pun beranjak pergi meninggalkan Ning bersama Siti di dalam kamar. Jika berama- lama didalam sana, ia tak akan bisa menyembunyikan rasa malu nya lagi. Meski sebenarnya ia merasa lega melihat kondisi Ning yang berangsur membaik, sehingga tak merasa berat lagi meninggalkannya di sana.


“Sial … kenapa kursinya malah jatuh segala sih … Lengan ku rasanya sakit lagi….” umpatnya kesal dalam hati sembari berjalan menuju lift.


Niatnya ingin menggoda Ning, tapi malah dia justru yang terjerat, ditambah jatuh dari kursi. Beruntung lantainya terbuat dari keramik, jika di sana tanah, mungkin Athar akan langsung membuat lubang untuk bersembunyi.


Sementara Ning yang merasa menang telah mengerjai Athar, tak hentinya menertawakan kekonyolan Athar. Meski ia sempat kesal, namun kini sudah terobati melihat wajah malu Athar sebelum ia pergi tadi.


Tawanya terhenti, saat ia teringat dengan apa yang dikatakan Athar, meskipun si om tamvan sudah bilang jika itu hanya gurauan nya saja.


“Apa ucapannya tadi benar- benar hanya sebatas bercanda …. Atau memang dia mengharapkan aku jatuh cinta padanya?” gumam Ning dalam hati.


“Arhhh… sudahlah Ning … Dia baik padamu hanya karena kasihan saja, jangan ge er, jangan terbuai….” Ning memperingatkan dirinya sendiri, ia lalu kembali berbaring.


*


Athar yang sudah berada di parkiran, kembali berbicara dengan Riko yang baru saja selesai menelpon anak buahnya


“Bagaimana? Apa anak buah mu berhasil membawa paman Ning?” tanyanya dari dalam mobil pada Riko yang berdiri di luar depan pintu mobil.


“Belum, Pak … Pak Asep menolak ikut, meski anak buah saya sudah memberitahukan kondisi Nona Ning dan jumlah imbalan yang akan diberikan,” ucap Riko melapor.


“Bren*gsek!!” umpat Athar kesal. “Bawa paksa saja dia!!” titahnya tegas.


“Di sana sedang ada polisi katanya, Pak … Jadi mereka tidak bisa membawa paksa Pak Asep….”ucapnya membaca pesan yang dikirim anak buahnya yang sedang berada di kediaman Asep.


“Orang itu memanggil polisi?” tanya Athar heran.


“Bukan, tetangganya ada yang baru saja meninggal karena hanyut di sungai, jadi di sana ada polisi… Dan anak buah saya bilang___” Riko menghentikan kalimatnya dan kembali membaca pesan yang baru saja diterima di layar ponselnya.


“Bilang apa?” tanya Athar tak sabaran mendengar informasi yang terpotong.


“Pak Asep meminta penawaran dua kali lipat untuk imbalannya… Jika tidak, ia tak bersedia mendonorkan ginjalnya, katanya Pak….”


“Dasar keparat!! Masih saja mencari keuntungan dari keponakannya yang sakit parah….” hardiknya kesal.


“Lalu bagiamana, Pak?” Riko menanyakan langkah yang harus diambilnya.


“Berikan ponsel mu pada ku!!” ucapnya meminta ponsel milik Riko, ia pun menyerahkannya. Athar segera menghubungi orang yang sedang berkirim pesan dengan Riko.


“Hallo, Bos….” Sapa orang diseberang sana.


“Berikan ponsel mu pada bajingan itu!! Aku ingin bicara dengannya,” ucap Athar dengan nada tegas.


“Baik bos,” orang itu pun segera melaksanakan perintah Athar.


“Hallo,” sapa Asep yang merupakan paman dari Ning.


“Nama anda Asep Rustandi bukan?” Athar bersikap formal.


“Iya, betul….”


“Sebaiknya anda ikut dengan anak buah saya, dan sesegera mungkin datang kemari … Keponakan kesayangan anda sangat membutuhkan pertolongan anda….” Athar masih bisa bicara dengan sopan.


“Sa saya teh tidak bisa ke sana atuh, Pak ….” ucap Asep menolak.


“Oh, tidak bisa ya … Jadi anda tidak mau menolong keponakan yang selama ini mengalami kesusahan karena ulah anda beserta istri dan anak anda?” Athar mulai kesal, namun nampak masih menahan amarah.


“Saya mah mau mau saja menolong Ning … Tapi, saya teh tidak mau membahayakan nyawa saya atuh, Pak….”


“Anda tidak akan mati jika hanya kehilangan satu ginjal saja… lagi pula anda dibayar mahal untuk itu, bukan?” Athar bicara dengan entengnya.


“Tapi saya mah tidak mau kalau hanya dibayar satu milyar….”


“Lalu?” tanya Athar menunggu penawaran Asep..


“Saya minta dua milyar… ehh, sepuluh milyar wae atuh Pak, nyak….” ucap Asep yang benar- benar melunjak.


“Dasar brengsek!! Kau masih saja mencari keuntungan saat Ning sedang menderita… Aku akan menemui mu sekarang juga ke sana….” bentak Athar yang sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.


“Wah, Bapak teh mau datang ke sini untuk membayar saya 10 milyar?” Asep malah salah menanggapi ucapan Athar.


“Oh, tentu … dengan harga 10 milyar, berarti seluruh organ tubuh beserta nyawa anda akan menjadi milik saya….” ucap Athar tegas.


“Eh, maksudnya teh gimana ini teh?” Asep terdengar bingung.


“Haruskah saya memperjelas, bahwa saya akan datang ke sana sebagai malaikat maut untuk menghabisi anda dengan tangan saya sendiri….” Ucapnya yang secara tidak langsung memberi ancaman.


“Apa? Jadi bapak teh mau membunuh saya?” Asep terdengar kaget sekaligus takut.


“Tentu saja, dengan begitu saya bisa mengambil ginjal yang Ning butuhkan dari dalam tubuh anda dengan mudah… Dan saya bisa dengan mudah pula menemukan anda dimana saja, meski anda bersembunyi di lubang tikus sekali pun!!” ancam Athar yang terus menakut- nakuti Asep.

__ADS_1


“Ja jangan atuh, Pak … Jangan bunuh saya … Kasihan atuh anak sama istri saya ….” Asep terdengar semakin ketakutan.


“Kalau begitu, ikut dengan anak buah saya sekarang juga!!” titah Athar dengan nada tegas.


“Tapi saya teh akan aman dan baik- baik saja kan? Gak akan dibunuh?” Asep memastikan keselamatan dirinya.


“Tentu, selama anda menurut….”


“Bayarannya kumaha atuh? Sapuluh miliyar nya?” Asep yang terdengar ketakutan, masih berani tawar menawar.


Athar mendengus kesal.


"Satu milyar atau tidak sama sekali … Atau anda lebih memilih nyawa melayang?” Athar kembali menegaskan dengan pilihan yang tentunya membuat Asep ketakutan.


“Iya iya pak iya atuh pak, saya teh mau….”


“Bagus … Jangan coba ingkar, karena saya tak pernah main- main dengan ucapan saya….”


“Iy iya atuh Pak ….”


Athar langsung memutuskan sambungan telponnya dan mengembalikan ponsel itu pada Riko.


“Suruh anak buah mu secepatnya kembali kemari!!” titahnya pada Riko.


“Baik, Pak ….”


Riko masuk ke dalam mobil, dan keduanya pergi meninggalkan parkiran rumah sakit.


**


Siang nya, Asep selaku paman Ning sudah berada di rumah sakit. Setelah istirahat beberapa saat, Ia yang nampak ketakutan kemudian melakukan pemeriksaan. Namun Athar tak memperbolehkannya bertemu dengan Ning, bahkan ia pun tak sudi bertemu dengan orang yang sudah membuat hidup Ning menderita.


Riko dan anak buahnya yang mengurus segalanya. Ia menghubungi Athar untuk melapor


.


“Halo, Pak …Pemeriksaanya sudah selesai. Kemana saya harus membawa Pak Asep?” tanya Riko


“Bawa saja dia ke hotel dan berikan dia makanan yang enak- enak. Tapi, jangan sampai dia tahu kalau rumah Ning sudah dikembalikan oleh rentenir yang berurusan dengannya itu.”


“Baik, Pak ….”


“Satu hal lagi, jangan sampai Ning mengetahui tentang hal ini ….” ucap Athar mengingatkan.


“Baik, Pak … Kami sudah menyita ponselnya agar dia tidak bisa menghubungi Nona Ning.”


“Bagus … Bawa dia pergi sekarang … Jangan biarkan aku melihatnya, karena aku tak akan bisa menahan diri untuk tidak menghajar bajingan itu!!”


“Baik, Pak….”


“Aku akan beristirahat di apartemen… Kau dan anak buah mu berjaga di sana….” titah Athar.


“Baik, Pak ….”


Athar memutuskan sambungan telponnya. Ia nampak merasa lega, setidaknya ada peluang besar mendapatkan donor ginjal untuk Ning dari orang yang masih ada hubungan darah dengan Ning. Namun tetap belum merasa sepenuhnya tenang.


Ia lebih memilih berdiam diri di apartement, untuk menenangkan dirinya. Ia meneguk segelas whisky agar sedikit menghilangkan penat akibat banyak hal yang menumpuk di kepala nya.


Ia tak kembali ke rumah sakit untuk menemui Ning lagi, sepertinya insiden tadi pagi membuatnya merasa malu dan lebih memilih menghindari bertemu dengan Ning.


**


Keesokan harinya.


Athar dan Riko bertemu dengan Dokter yang baru saja selesai visit dari pasien ruangan VVIP. Ia langsung menghampiri dokter yang sedang berdiri di depan meja tempat perawat berjaga.


“Bagaimana, Om?”tanya Athar penuh harap.


Dokter menggelengkan kepala. “Maaf, Athar … dari delapan orang yang melakukan pemeriksaan tidak ada yang cocok,” ucapnya menyesalkan.


“Lalu, bagaimana dengan Asep?”


“Tidak ada kecocokan, hanya golongan darahnya saja yang sama dengan Nona Ning….” ucap dokter.


“Oh astaga… kenapa sulit sekali menemukan ginjal yang cocok untuk nya….” Athar mengusap kasar kepalanya. Ia benar- benar merasa frustasi.


“Sabar, Daniel… Hasil pemeriksaan dari tiga orang yang tadi pagi dibawa anak buah Riko belum keluar, kita masih ada harapan….” ucap dokter.


“Harapan harapan harapan terus … Memangnya dengan harapan saja bisa menyembuhkan Ning? …. Yang ada hanya harapan palsu!! Sementara Ning sangat membutuhkan donor ginjal, Om….” Athar terlihat begitu frustasi.


“Pak Daniel harus tenang dan bersabar.” Riko berusaha menenangkan Athar.


“Baiklah … kalau begitu, aku juga kan ikut melakukan pemeriksaan,” ucap Athar nampak putus asa.


“Apa?” Dokter dan Riko terkejut mendengarnya.


“Jangan gila kamu, Daniel!!” Dokter menolak keinginan Athar.


“Iya, Pak … Bapak jangan sampai berbuat hal gila yang akan membahayakan nyawa Bapak….” Riko pun sependapat dengan Dokter.


“Apa kalian tidak lihat? Sekarang saja aku sudah seperti orang gila!!” ucap Athar menunjuk kepalanya sendiri. “Jadi, aku akan tetap melakukan test itu, titik….” ucapnya ngotot.


“Daniel, jangan lakukan hal itu!!” Dokter kekeuh melarang.


“Aku akan melakukan apa pun untuk kesembuhan Ning, Om.” tegasnya dengan yakin.


“Walau pun itu bisa membahayakan nyawa mu sendiri?” tanya Dokter.


“Tentu … Kenapa tidak?” angguk Athar yakin.


“Tidak, Daniel … Kau tidak boleh melakukan hal itu!! Aku tak akan mau melakukan tindakan operasi itu jika kau pendonornya!!” Dokter mengeluarkan ultimatum.


“Om, tindakan operasi itu sudah menjadi tugas mu sebagai seorang dokter di rumah sakit ini, bukan… Sebaiknya Om lakukan tugas dengan baik yang sesuai peraturan serta sumpah profesi Om….” ucap Athar mengingatkan.


“Jika kau tetap bersikeras, maka jangan salahkan aku jika aku memberitahukan Andini tentang hal ini!” Akhirnya dokter mengeluarkan ancaman lainnya.


“Om!!” bentak Athar emosi.


Kring …


Tiba tiba ponsel Athar berdering. Ia segera mengambil ponselnya dan menerima panggilan telepon tersebut.


“Iya, Hallo ….”


“Apa?”


“Iya, aku segera ke sana ….” Athar kemudian menutup panggilan teleponnya.

__ADS_1


“Maaf Om, aku harus pergi dulu … Kita akan bahas ini nanti ….” ucapnya pamit untuk pergi.


“Dan kau Riko, kerahkan orang- orang mu untuk mencari pendonor untuk Ning … Kalau perlu, naikan jumlah imbalannya,” ucapnya tegas.


Athar pergi dengan terburu- buru, tanpa menemui Ning terlebih dahulu. Ia meninggalkan Riko dan Dokter yang masih berdiri di sana. Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada yang menguping pembicaraan mereka di balik dinding belokan dekat ruangan dokter tersebut.


“Bagaimana ini, Riko? Jika Daniel terus bersikeras, maka____” ucap dokter.


“Lakukan saja sesuai keinginannya, Dok … Toh itu hanya pemeriksaan yang belum tentu hasil kecocokan Pak Daniel bisa mendonor atau tidak nya….” Riko yang sudah tahu betul sikap keras Athar jika sudah berkeinginan, mengutarakan pendapatnya.


“Kamu benar, Riko… Tapi, bagaimana kalau hasilnya cocok? Perlukah saya memanipulasi hasilnya?”


“Dokter tahu betul bagaimana sifat Pak Daniel … Jika dokter ketahuan melakukan hal itu, ia tak akan segan ada siapa pun….” ucap Riko.


“Lantas, apa yang harus saya lakukan? Jika Andini tahu tentang hal ini, ia akan sangat murka ….”


“Kita bicarakan hal ini lagi hal ini nanti, Dok ….” Riko nampaknya menyadari ada yang memperhatikan mereka berdua. Ia hendak melangkah, namun ponselnya berbunyi. Ia pun segera menerima panggilan telponnya dan berpamitan pada Dokter.


**


Ning yang baru selesai dari kamar mandi, kembali berbaring di tempat tidur dibantu oleh Siti yang baru saja kembali dari luar dengan membawa dua kantong kresek di tangannya.


“Nona kok pergi ke kamar mandi sendirian? Kalau nanti jatuh lagi gimana, Non?” ucap Siti yang terkejut melihat Ning keluar dari kamar mandi berjalan sendiri.


“Aku gak apa-apa kok, Mbak Siti … Tadi gak kuat kebelet pipis … Mbak Siti dari mana? kok lama? Aku cariin, keluar gak ada….” ucap Ning.


“Maaf Non, tadi saya abis beli makanan di kantin bawah, eh pas bayar ngantri ….hehehe,” ucapnya tersenyum nampak gugup.


“Oh, gitu ya ….”


“Non mual muntah lagi ya?” tanya Siti.


“Iya … tapi barusan aja kok, .”


“Ini tadi saya beli larutan gula merah … Diminum mumpung hangat, biar gak lemas … ” Siti memberikan gelas cup pada Ning.


“Makasih ya ….” Ning menerima gelas cup pemberian Siti. Ia meminumnya perlahan. “Mbak, uang gantinya ambil saja dari dalam tas saya ….”


“Gak usah, Non … Pak Daniel sudah memberi saya uang untuk pegangan, siapa tahu non butuh sesuatu, jadi gampang katanya….”


Tok tok tok ….


“Nona, ini saya Riko ….” seru Riko dari balik pintu.


“Silahkan masuk, Pak Riko ….” Sahut Ning.


Riko pun masuk ke dalam dan menghampiri Ning yang baru saja selesai minum dan menyerahkan gelas cup yang isinya tinggal setengah pada Siti. Kemudian Siti beranjak meninggalkan Ning dan Riko dengan berjalan menunduk.


“Eng tuan, eh Pak Daniel nya mana?” tanya Ning melihat ke arah belakang Riko.


“Pak Daniel tidak bisa datang ke sini, dikarenakan sedang ada pekerjaan penting … Kalau Nona membutuhkan apa-apa, bilang saja pada saya ….”


“Oh, gitu ya … terimakasih ya Pak Riko, maaf sudah merepotkan ….” ucapnya sungkan.


“Tidak apa-apa, Nona … ini sudah menjadi bagian dari tugas saya … Kalau begitu saya permisi, saya akan menunggu di luar ….” Riko kembali keluar.


“Iya,” ucap Ning yang nampak kecewa, karena tak bisa bertemu dengan tuan om tamvannya sejak kejadian kemarin pagi.


“Kemana dia? Kok tumben? Dia juga tak menghubungiku sama sekali sejak kemarin… Jangan- jangan dia menghilang lagi seperti kemarin- kemarin …..” gumam Ning dalam hati.


Dan benar saja, selama seharian ini Athar tak datang atau pun menghubungi Ning. Hal itu membuat Ning sedih dan kecewa pada pria yang sudah berjanji akan selalu ada di sisinya selama ia berjuang untuk sembuh itu.


**


Keesokan harinya.


Pagi ini Ning dijadwalkan untuk kembali melakukan cuci darah. Meski kondisinya dari luar terlihat membaik, namun selama ia belum menerima donor ginjal, ia harus melakukan cuci darah sebagai pengganti fungsi ginjalnya yang sudah menurun.


Ning yang duduk di atas ranking dengan menggenggam ponsel di tangannya, terus menantikan kedatangan Athar.


“Apa dia tidak akan datang? Pesan ku saja dari semalam belum dibalas nya ….” gumam Ning dalam hati dengan raut wajah sedih menatap layar ponselnya.


Ingin rasanya ia menelpon Athar, namun ia takut mengganggu dan beranggapan ia sedang sibuk.


Ceklek


Terdengar suara pintu terbuka yang membuat Ning membuyarkan lamunannya. Ia tersenyum sumringah untuk menyambut orang yang datang dari balik pintu. Namun senyumnya luntur seketika, saat ia melihat ternyata yang datang itu Siti.


“Kamu Siti, kirain siapa….” ucap Ning nampak kecewa.


“Kenapa, Non? Nungguin Pak Daniel ya ….”Siti yang sudah terlihat akrab dengan Ning, malah menggoda Ning.


“Eng enggak kok … kata siapa? Orang aku pikir yang datang itu suster untuk menjemput ku….” sanggah Ning gelagapan. Nampaknya ia malu jika ketahuan dirinya memang sedang menunggu kedatangan Athar.


“Saya kira Pak Daniel habis dari sini….” ucap Siti.


“Maksudnya?” tanya Ning heran.


“Tadi waktu saya keluar dari lift, saya berpapasan dengan Pak Daniel yang akan masuk dalam lift….”


“Apa? Kamu beneran bertemu dengan Pak Daniel?” tanya Ning memastikan.


“Iya, Non… Itu beneran Pak Daniel, kok….” Ucap Siti yakin.


“Tapi kenapa dia tidak ke sini untuk menemui ku?” lirih Ning sedih.


"Cie, ada yang rindu...." goda Siti.


"Apaan sih kamu, Siti...." Ning malu mengakuinya.


Tiba- tiba ponsel di tangannya berdering yang menandakan ada panggilan masuk. Ning langsung menerima panggilan itu tanpa melihat nama si pemanggil, saking senangnya dan berharap jika itu adalah Athar.


“Halo tu_____”


Ning yang hendak menyapa, tak melanjutkan ucapannya saat mendengar suara orang yang menelponnya. Ia terdiam mematung dengan raut wajah yang terlihat syock.


-


-


------------- TBC--------------


**********************


-


-

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2