NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Orang Baik Pertama


__ADS_3

“Athar … sedang apa kau di sini dengan seorang pelayan?” terdengar suara baritone dari arah belakang pia yang tengah menggendong Ning.


Gedebruk …


Pria bernama Athar itu melepaskan Ning dari gendongannya dengan begitu saja, hingga membuat Ning jatuh ke tanah.


“Aduh … bokongku …” Ning meringis kesakitan.


Athar pun menjatuhkan dirinya ke tanah.


“Uhuk uhuk uhuk ….” Athar batuk- batuk dengan telapak tangan yang memegang dada nya.


“Athar kau kenapa?” Rosmala yang datang bersama suaminya segera menghampiri Athar yang tergeletak di atas rerumputan. Ia dan suaminya membantu Athar berdiri, lalu memapah dan membawa nya duduk di kursi.


“Mampoos … ini pasti gara- gara bau kentut gue … Kenapa bisa lupa sih, kalau si tuan om itu alergi sama bau kentut … Bego bego bego ...." Ning menggerutuki dirinya sendiri dalam hati.


“Uhuk uhuk uhuk ….” Athar terus batuk- batuk hingga ia merasakan sesak nafas.


“Ning cepat panggil bantuan!!” titah Rosamala setengah berteriak.


“Baik, Nyonya ….” Ning berusaha bangkit sembari memegang bokongnya yang masih terasa sakit. Ia baru tahu ternyata hewan yang merayap di kakinya bukanlah ular, melainkan seekor kaki seribu. Ia pun menginjak kaki seribu itu hingga mati.


“Tunggu apalagi? Cepat cari bantuan!!” Rosmala kembali meneriaki Ning.


“Iya iya Nyonya.” Ia pun beranjak pergi kembali masuk ke dalam rumah untuk mencari bantuan.


Beruntung ia bertemu dengan kepala pelayan dan langsung meminta bantuannya.


Athar pun segera dibawa ke kamarnya oleh dua orang penjaga keamanan. Ia pun langsung mendapatkan penanganan medis dari perawat yang dipekerjakan di rumah itu


Tak lama dokter pun datang dan segera masuk ke kamar Athar.


Ning terlihat begitu mencemaskan Athar. Ia turut bergabung dengan kepala pelayan bersama dua orang penjaga keamanan yang menunggu di luar kamar Athar. Sementara Rosmala dan suaminya di dalam kamar.


Setelah beberapa saat Tini datang dan segera menghampiri Ning.


“Ning, Tuan muda mencari mu,” bisik Tini.


Ning mengangguk, lalu ia pergi setelah mendapat izin dari kepala pelayan. Namun ia seolah berat melangkah untuk pergi. Sepertinya ia merasa sangat bersalah, karena untuk yang kedua kalinya ia menjadi penyebab kambuhnya penyakit si tuan om yang ternyata adalah direktur tempat ia pernah bekerja beberapa hari yang lalu.


Sepanjang perjalanan menuju kamar Dino yang berada di lantai dua, Ning tak hentinya mengkhawatirkan keadaan Athar.


“Kenapa dokter mengobatinya lama sekali … Apa efek dari alergi nya itu sangat parah?” gumam Ning dalam hati saat sudah berada di dalam kamar Dino.


“Hei, bodoh … apa kau benar- benar tuli?!” bentak Dino.


Ning terperanjat mendengar teriakan Dino.


“Hei, biasa aja dong … gak usah teriak- teriak gitu … Saya ini tidak tuli!” Ning balik membentak.


“Lalu kenapa dari tadi aku memanggil mu, kau tidak menyahut sama sekali. Apa namanya kalau bukan tuli?”


Ning mendengus kesal. “Iya iya … ada apa sih, bawel?”


“Kau itu benar- benar tidak ada sopan- sopan nya pada majikan ….”


“Hello!! apa kabar? Memangnya kau bersikap sopan pada saya?” Ning malah membalikan perkataan Dino.


“Dan satu hal yang harus kau ingat … Saya ini pengasuh bukan babu … Jadi kau yang harus mengikuti aturan saya, bukan sebaliknya.” Ning memperjelas status pekerjaannya.


“Hal itu hanya berlaku untuk bayi atau anak kecil, tidak untuk ku … Jadi tetap kau yang harus mengikuti perintah ku!!” ucap Dino tak mau kalah.


“Tapi sayang nya kau itu lebih parah dari bayi,” ejek Ning.


“Apa kau bilang?” Dino kembali naik pitam.


“Kau lebih kebayi- bayian dari bayi … Makan saja harus diantarkan ke kamar, minta ini minta itu, yang ini tidak dimakan yang itu baru mau dimakan, yang ini harus dihabiskan orang sedangkan yang itu tidak mau keu habiskan. Ribet banget sih jadi orang!”


“Seharusnya kau itu bersyukur, mau makan tinggal makan, mau minum tinggal minum tidak perlu repot- repot membuatnya sendiri. Tidak perlu bekerja keras banting tulang demi sesuap nasi … Ini minta makanan yang super aneh, dimakan enggak … malah nyuruh orang memakannya … kan mubazir jadinya!”


Ning nyerocos tiada henti meluapkan kekesalannya pada Dino. Sementara Dino hanya diam mematung sembari memberi tatapan tajam pada Ning.


“Keluar kau dari kamar ku!” teriak Dino menunjuk ke arah pintu.


“Apa?” Ning terheran- heran.


“Keluar !!!” Dino kembali mengusir Ning.


“Dasar aneh … Tadi menyuruhku kemari, sekarang menyuruhku keluar … Menyusahkan orang lain saja!!” Ning menggerutu kesal lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Dino.


Jebredd …

__ADS_1


Ning terperanjat mendengar suara keras pintu yang ditutup dengan kencang.


“Astaghfirullahalaziim … si Dinosaurus itu memang tidak waras ….” ucapnya mengelus dada, lalu beranjak pergi.


“Mau kemana Ning?” tanya seseorang saat Ning hendak menuruni anak tangga.


Ning pun menghentikan langkahnya dan berbalik. “Mau ke bawah Pak kepel ….”


“Pak Kepel?” tanya orang itu heran.


“Maksudnya Pak Kepala pelayan disingkat manggilnya jadi Pak Kepel biar gak kepanjangan gitu loh ….”


“Apa kau lupa dengan tugas yang sudah kukatakan pada mu?” tanya beliau dengan nada tegas.


“Tentu saja saya ingat syekali, Pak ….”


“Lalu kenapa kau sepertinya akan pergi meninggalkan kamar tuan muda?”


“Saya sudah diusir keluar … Masa iya harus masuk lagi? Mana tadi tuan muda membanting pintunya dengan keras … Saya takut dia ngamuk, Pak.”


“Tidak perlu masuk … cukup berdiri di luar kamarnya saja.”


“Apa? Yang benar saja? Dia itu bukan bayi, Pak … Lagian kan saya ini pengasuh bukan penjaga keamanan.”


“Kau harus tetap di sini … Jika tuan muda butuh apa- apa tidak perlu mencari mu … Tadi saja Tuan muda membutuhkan mu, tapi kau malah keluyuran.”


“Tapi, Pak saya_____”


“Lakukan tugas mu dengan baik dan benar. Semua pegawai di sini harus disiplin. Jangan seenaknya sendiri!” ucapnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Ning.


“Baik Pak Kepel.”


“Huft … yang benar saja aku disuruh berdiri seharian di depan pintu kamar bayi besar sialan itu … Memangnya dia masih merangkak apa harus diawasi segala!!” keluhnya lalu ia berdiri di depan pintu kamar Dino sesuai perintah kepala pelayan. Ning berdiri menyandarkan punggungnya pada pintu kamar tersebut.


“Si tuan Om tamvan gimana keadaanya ya? Apa dia sudah baikan?” gumam Ning yang kembali teringat pada Athar.


“Ingin rasanya melihat keadaanya … Tapi gimana caranya, kalau harus stand by di sini … Argh sial banget sih … Gini amat jadi pengasuh dinosaurus,” ucapnya mendengus kesal.


Ceklek …


“Aaaaak ….”


Ning yang menanggahkan wajahnya, membuat matanya saling bertatapan dengan mata Dino. Ia membelakan matanya lalu dengan segera ia menegakkan tubuhnya dan melepskan dirinya dari Dino.


“Kenapa kau masih di sini? Bukan kah aku sudah menyuruh mu pergi?!” bentak Dino.


“Hei, tuan muda … kau itu menyuruh ku keluar dari kamar mu bukan dari rumah ini … Lagi pula aku ini kan pengasuh mu, jadi harus selalu stand by di dekat mu. Ya siapa tahu kau itu keseleo atau jatuh tersungkur gitu.”


“Lalu kalau aku jatuh tersungkur kau mau apa, hah?” tanya Dino seolah sedanng memberi tes.


“Tentu saja menyoraki mu sambil bergoyang- goyang syalala ….” ucap Ning menjawab disertai senyuman manis.


Dino mendengus kesal, lalu beranjak pergi. Ning pun mengikutinya dari belakang.


Dino yang menyadari diikuti oleh Ning, menghentikan langkahnya. Ia berbalik ke arah Ning.


“Kenapa kau mengikuti ku?” tannyanya ketus.


“Karena ini sudah menjadi tugas ku.” Ning menjawab dengan santainya.


Dino melangkah maju mendekati Ning. “Jadi kemana pun aku pergi kau akan mengikuti ku?” tanyanya dengan tatapan tajam.


“Iya.” Jawab Ning dengan yakin.


“Jika aku ke toilet pun kau akan mengikuti ku?” tanya nya lagi dengan terus melangkah maju, sedangkan Ning melangkah mundur.


“Te tentu saja … aku tinggal menunggu mu di depan pintu toiletnya,” jawab ing d engan gelagapan karena si anak asuh terus melangkahkan kakinya.


“Oh ya?”


“Iy iya.” Ning seamakin gelagapan karena kini punggungnya sudah mentok ke tembok.


“Jika aku meminta mu memandikan ku, apa kau akan melakukannya?” Dino kembali memberi pertanyaan.


“Tentu saja .…” Ning membelakan matanya seolah tak menyadari apa yang ia katakan. “Apa? Kau bilang apa tadi? Memandikan mu?” tanya Ning memastikan pendengarannya.


“Ya.” ucap Dino dengan menyeringai.


“Tentu saja aku tidak akan memandikan mu. Apa kau sudah tidak waras? Yang benar saja aku memandikan pria dewasa seperti mu … dasar gila!!” cerocos Ning kesal, ia lalu mendorong dada Dino dengan kedua tanganya agar menjauh darinya. Namun tubh Dino lebih kuat, hingga ia tak terdorong sama sekali.


Dino tersenyum ketir. “Heh, kalau begitu tidak usah menyebut dirimu sebagai pengasuh … Kau lebih pantas disebut kacung … kau dengar itu KACUNG,” ucapnya memperjelas. Ia kembali membalikan tubuhnya lalu berjalan menuruni tangga.

__ADS_1


“Iiihhh, dasar dinosaurus menyebalkan!!!” Ning menggerutu pelan dengan menggertakan giginya dan mengepalkan kedua tangannya. Ia menghentakan kaki, lalu kembali mengikuti Dino dan berjalan menuruni anak tangga.


“Dino … apa Mama tidak salah lihat?” sapa Rosmala.


“Hmmm ….” Dino hanya berdahem saja tanpa melihat ke arah ibunya.


“Mama senang akhirnya kamu bisa keluar kamar.” Rosmala menghampiri Dino.


“Aku ingin jalan- jalan ke taman kota,” ucapnya masih tak menoleh sedikit pun pada Rosmala yang berdiri di sebelahnya.


“Tidak!” Rosmala menegaskan.


“Ma___ ” Dino akhirnya menatap Rosmala.


“Sekali tidak tetap tidak, Dino.” Rosmala lembali mempertegas ucapannya.


Dino mendengus kesal dan membuang muka.


“Apa kamu tidak mau menjenguk Om mu?” Rosmala mengalihkan pembicaraan.


“Siapa? Om Athar maksud Mama?” Dino kembali menatap ibunya.


“Iya, siapa lagi? Om mu yang satu lagi kan tinggal di Australia.”


“Om Athar kenapa?” tanya Dino heran. karena sebelumnya Athar terlihat baik-baik saja.


“Mampoos … pasti tuan om itu bilang kalau dia pingsan gara- gara mencium kentut gue yang bau naga ….” Gumam Ning dalam hati.


“Dia bilang sedang tidak enak perut, dan dia buang gas tanpa memakai masker oksigen … Jadi ia merasa sesak nafas sampai pingsan tadi.” Rosmala memberi tahukan keadaan Athar.


“Untunglah si Tuan Om tidak memberitahukan yang sebenarnya...." Ning kembali berdialog dalam hati.


“Dimana Om Athar? Apa dia di kamar nya?”


“Ya.” Rosmala mengangguk.


Dino lagsung beranjak pergi menuju ke kamar Athar yang kebetulan ada di lantai satu rumah itu. Ning pun hendak mengikutinya, namun Rosmala menarik tangan Ning dan menghentikan langkahnya.


“Saya peringatkan pada mu … Jangan coba- coba mendekati adik ku!!”ucapnya dengan nada tegas.


“Maksud nyonya?” tanya Ning heran.


“Tadi saya dan suami melihat mu bersama Athar di taman samping. Dan dia sampai menggendong mu, apa yang sedang kalian berdua lakukan di sana?” Rosmala menginterogasi Ning.


“Nyonya Rosmala yang terhormat … tidak diperingatkan pun saya sudah sadar diri. Saya tidak pernah berniat mendekati adik anda. Tuan Om, eh maksudnya Tuan Athar tiba- tiba datang saat saya sedang duduk di taman untuk mencari udara segar setelah dikerjai oleh putra anda.”


“Dan masalah Tuan Athar menggendong saya itu tidak sengaja, karena saya ketakutan saat ada hewan yang merayap di kaki saya ang saya pikir ular tapi ternyata hanya kaki seribu.” Ning menjelaskan kronologinya.


“Baguslah … kalau kau sadar diri … lakukan saja tugas mu dan tidak usah kecentilan di rumah ini, paham?”


“Baik, Nyonya … Apa sudah selesai? Bukankah saya harus mengawasi anak asuh saya supaya tidak pergi keluar rumah?”


“Sudah sana pergi!”


“Permisi, Nyonya ….” Ning pun beranjak pergi dengan menecbikan bibir dan memutar jengah bola matanya. Ia menggerutu pelan tanpa terdengar oleh siapa pun dan hanya terlihat bibirnya seperti sedang komat kamit menyerupai mbah dukun.


Langkah Ning terhenti di depan pintu sebuah kamar yang terbuka dan seorang suster baru saja keluar dari ruangan itu.


“Suster … bagaimana keadaan Tuan Om … eh maksud saya Tuan Athar?" tanya Ning.


“Beliau sudah membaik, untunglah dokter sudah menanganinya dengan cepat. Sekarang tinggal istrirahat saja, karena barusan sudah meminum obat. Saya permisi ….” ucapnya menjelaskan, lalu beranjak pergi.


“Iya, terimakasih Suster ….” ucapnya tersenyum.


“Ramah sekali suster itu, jauh banget sama penghuni rumah yang lain … Berarti dia orang kedua yang waras setelah diriku.” gumam Ning setelah kepergian suster.


Ning mendekati gawang pintu tersebut. Namun ia tak berniat untuk masuk, melainkan hanya mengintip saja. Di dalam sana terlihat Athar yang sedang duduk di tempat tidur dengan setengah tubuhnya diselimuti.


Dino duduk di sisi tempat tidur itu, sehingga Ning tak bisa melihat wajah Athar karena terhlang oleh punggung Dino. Namun setidaknya ia bisa bernafas lega, karena sakit Athar tidak parah.


“Syukurlah Tuan Om baik- baik saja … Kalau terjadi sesuatu padanya, aku bisa terkena masalah besar,” ucapnya pelan.


“Terimakasih Tuan Om tamvan, kau tidak mengatakan jika akulah yang menyebabkan mu seperti ini. Kau orang baik pertama yang ku temui di rumah ini,” gumamnya dalam hati.


“Aku janji mulai hari ini tidak akan dekat- dekat dengan mu atau pun menampakan diri di hadapan mu lagi,” lirihnya sedih. Ia pun mundur dan menjauh dari pintu tersebut.


--------------- TBC--------------


***********************


Happy Reading …..

__ADS_1


__ADS_2