NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Menemukan Ning...


__ADS_3

Matahari mulai tenggelam yang menandakan tugasnya telah usai sebagai penerang bumi alam dari pagi hingga petang. Langit pun berubah gelap, namun masih terlihat indah dengan cahaya rembulan yang membulat sempurna. Titik- titik cahaya bintang mulai bertebaran menemani rembulan menghiasi malam.


Lampu- lampu sebagai tanda adanya kehidupan di bumi ini pun turut menyala. Baik itu lampu di rumah- rumah, di gedung- gedung, di luaran, di pinggir jalan, lampu kendaraan yang masih hilir mudik berhamburan di setiap jalan. Mobil yang dikendarai Athar pun termasuk dalam deretan kendaraan itu.


Ia menghentikan kendaraannya untuk menepi di pinggir jalan. Terlihat jelas wajah lesu dan nampak sangat lelah. Bagaimana tidak, ia mengendara sedari siang mengelilingi ibu kota untuk mencari keberadaan Ning. Rasa bersalah semakin bertambah, karena ia tak kunjung menemukan orang yang dicarinya itu.


“Dimana kau, Ning??” Lirihnya sedih, ia lalu mengusap kasar rambutnya.


“Maafkan aku … semua yang ku katakan malam itu pasti membuat mu sangat terluka… Bahkan aku tak memberi mu kesempatan untuk menjelaskan ….” ucapnya dengan perasaan sesal yang mendalam kala mengingat kejadian malam itu.


Amarahnya malam itu membuatnya mengabaikan tatapan kesedihan Ning. Meski mulut gadis itu membisu, tapi Athar bisa melihat jelas apa yang dirasakan Ning dari ekspresi wajah serta mata Ning yang berkaca- kaca. Raut wajah Ning saat itu, kini terbayang- bayang di benak Athar.


Ia kembali dengan perkataan Rosmala tentang Ning yang sudah tak punya siapa- siapa lagi, tak punya tempat tinggal, bahkan tak memiliki uang. Ia semakin merasa bersalah dan begitu mengkhawatirkan Ning.


“Dia tidur dimana selama seminggu ini? Apa dia masih bisa makan? Apa dia masih hidup?” rentetan pertanyaan itu terus memenuhi kepalanya.


Kini di pikirannya hanya ada Ning, bahkan ia tak memperdulikan dirinya sendiri yang sedari siang belum makan apa- apa karena terus mencari Ning. Ia pun tak menghiraukan ponselnya yang terus berdering dari beberapa orang yang menghubunginya.


Namun saat ia kembali mendengar suara deringan telpon dan melihat nama si pemanggil. Ia pun segera mengangkat telponnya. Berharap ia mendapat berita baik.


“Hallo, Kak .. Apa Kakak sudah____”


“Athar, kamu dimana? Kenapa susah sekali dihubungi? Asisten pribadi mu juga dari siang mencari mu …” Rosmala langsung memotong ucapan Athar, saking khawatirnya.


“Aku di jalan, Kak?” Athar yang saat menerima telpon terlihat semangat, kini menjadi lesu kembali.


“Di jalan kemana? Pulang ke rumah atau ke apartment?” Rosmala tak hentinya bertanya.


“Aku di jalan mencari Ning,” ucap Athar berterus terang.


“Apa? Jadi kau meninggalkan rapat penting dan pekerjaan mu untuk mencari Ning?” Rosmala terdengar terkejut.


“Iya, Kak …”


“Ya Ampun Athar, biar itu menjadi urusan Kakak … Kamu urus saja pekerjaan mu .. Abang mu sedang tidak ada di sini dan tanggung jawab perusahaan ada di tangan mu ….” cercos Rosmala.


“Tapi Kak … Ning pergi karena kesalahan ku.”


Rosmala terdengar menghela nafas kasar.


“Lalu, apa kamu sudah menemukannya?”


“Belum Kak …. Bagaimana kalau kita lapor polisi saja, Kak.”


“Jangan Athar, hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Belum lagi nama besar keluarga dan perusahaan kita bisa terseret nanti … Kalau tak memikirkan keluarga, sejak seminggu lalu mungkin kakak sudah melapor kehilangan pada polisi.”


“Tapi, Kak_____”


“Sebaiknya kamu pulang … Biar anak buah kakak yang mencari Ning.”


“Untuk apa kakak mengandalkan mereka yang tidak becus itu … Aku akan tetap mencarinya, kalau perlu aku akan menyewa detektif.” Athar tetap bersikeras.


“Baiklah, terserah kamu saja … Yang penting sekarang kamu pulang dulu dan istirahat …”


“Tapi Kak____”


“Satu hal lagi … tadi siang Kinanti menghubungi ku … Dia bilang Nana sakit … Kakak tidak bisa ke sana karena mengurus kekacauan di kantor berkat ulah mu.”


“Apa? Aku akan segera ke sana.”


“Athar Nana juga______”


Tut tut tut ….


Athar langsung memutus sambungan telponnya. Ia kembali menyalakan mesin mobil dan segera melajukannya menuju tempat tinggal Nana.


Kegelisahannya semakin bertambah, selain mengkhawatrkan Ning, kini ia pun mengkhawatirkan keadaan Nana yang tiba- tiba sakit.


Selang beberapa saat ia pun tiba di depan sebuah rumah yang terlihat sederhana. Athar memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah tersebut, ia lalu segera turun dari mobilnya.


Ceklek …


Athar masuk tanpa mengetuk pintu rumah tersebut, karena memang sudah biasa.


“Kinan, dimana Nana?” tanya Athar yang bertemu Kinanti yang hendak masuk ke kamarnya.


“Di kamarnya, Kak … Nana sedang tidur …Tadi siang demam nya tinggi, tapi setelah diberi obat penurun panas sekarang sudah reda.”


“Nana mau minum obat?” tanya Athar heran. Ia pun berjalan menuju kamar Nana diikuti oleh Kinanti.


“Iya, itu pun dengan bujukan yang sangat sulit. Tapi sejak sore dia gak mau makan ….”


Ceklek …


Athar pun masuk ke kamar Nana. Ia langsung menghampiri peri kecilnya yang sedang tidur di atas ranjang dengan berselimut gambar princess.


Ia duduk di sisi ranjang menatap anak perempuan berparas cantik dan lucu itu. Tangan kanannya menyentuh dahi Nana.


“Kakak peri … Kakak peri … Kakak peri ….”Nana mengigau, sepertinya tidurnya terusik dengan gerakan tangan Athar, atau entah ia sedang bermimpi bertemu kakak peri-nya.


“Peri kecil ….” Athar mengusap lembut kepala Nana. Ia yang mendengar suara Athar perlahan membuka matanya.

__ADS_1


“Dady ….”panggilnya dengan suara lemas.


“Peri kecil-ku ….” ucap Athar tersenyum lebar.


Nana bangun dengan perlahan dan ia pun duduk.


“Kakak peri mana?” Nana mengedarkan pandangannya berharap Athar datang bersama kakak peri-nya.


“Kakak peri? Siapa itu sayang?” tanya Athar heran.


“Huaaaaaaaa ….”


“Loh kok malah nangis … sini Dady peluk ya.” Athar menggendong Nana dan meletakan anak itu di pangkuannya. Athar memeluk Nana untuk menenangkannya.


“Kenapa kakak peri gak datang? Huhuhuhu….”


“Oh, jadi jadi sekarang Dady sudah gak disayang lagi sama peri kecil, hem?” Athar berusaha mengalihkan perhatian Nana.


Nana menggelengkan kepalanya.


“Terus kenapa peri kecil malah nangis saat ada Dady di sini, hem?”


“Nana mau ketemu sama kakak peri, hiks hiks….”


Athar melepaskan pelukannya perlahan. Ia menatap wajah Nana yang sudah berlinang air mata.


“Kakak peri siapa, sayang? Kok Dady gak tahu ya ….”


“Kakak peri itu kakak baik yang sayang sama Nana … Kakak peri peluk Nana waktu Nana sedih … Dady bilang kalau Mama peri yang di surga juga baik dan sayang Nana … Kakak itu juga baik, hiks hiks,” ucapnya yang hanya mendeskripsikan kakak peri yang baik saja.


“Oh, ya … dimana peri kecil bertemu dengan kakak peri itu?” tanya Athar lagi.


“Di sekolah, hiks hiks ….”


“Kalau begitu peri kecil harus banyak makan dan minum obat supaya cepat sembuh … Supaya nanti bisa bertemu dengan kakak peri di sekolah ….” Ujuk Athar.


“Tapi kakak peri gak ada lagi ke sekolah, hiks hiks ….”


“Kalau peri kecil sudah sembuh, nanti Dady bantu mencari kakak peri nya ya ….” Athar pun memberi penawaran.


“Dady janji?” ucap Nana berhenti menangis. Ia mengacungkan jari kelingkingnya pada Athar.


“Iya Dady janji … tapi peri kecil juga harus janji akan makan dan minum obat supaya cepat sembuh ya.” Athar pun mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Nana.


“Iya ….” Nana mengangguk dengan tersenyum penuh semangat.


“Anak pintar … udah ya jangan nangis lagi ... Dady sedih loh kalau lihat peri kecil sedih ….”


“Onty Kinan … sekarang peri peri kecil sudah mau makan … Bisa tolong bawakan makanannya,” ucap Athar pada Kinan yang berdiri di belakangnya.


“Siap ….” Kinan pun bergegas keluar kamar dan pergi ke dapur untuk meniapkan makanan Nana.


Setelah beberapa saat, Kinanti datang membawa nampan berisi makan dan minum untuk Nana. Athar pun menyuapi Nana makan kemudian memberinya obat. Ia menemani Nana sampai kembali tidur.


“Kinan ….” ucap Athar setelah keduanya keluar dari kamar Nana.


“Iya, Kak ….” sahut Kinanti.


“Kakak peri itu siapa?” tanya Athar.


“Aku juga gak tahu Kak … Beberapa hari ini Nana selalu menanyakan kakak peri. Setiap pulang sekolah selalu sedih karena kakak peri- nya gak pernah datang lagi katanya.”


“Siapa ya orang itu?” Athar mulai penasaran pada orang tersebut.


“Entahlah … Nana selalu bilang ingin bertemu kakak peri dan si onta.”


“Apa? Si Onta?”


“Iya … aku pikir Nana hanya terpengaruh dengan film kartun yang suka ditontonnya saja. Di sini mana ada onta kan ….” Kinanti menduga-duga.


Athar tersenyum, ia lalu menghela nafas penjang. “Kinan, tolong jaga Nana ya … Aku pulang dulu.”


“Iya, Kak … hati- hati.”


Athar pun keluar dan kembali menaiki mobilnya untuk pulang. Dan selama di perjalanan ia kembali melihat- lihat dengan berharap menemukan Ning.


**


Selama tiga hari ini Athar disibukan dengan pekerjannya di kantor. Ia benar- benar menggunakan jasa detektif swasta untuk mencari Ning dengan memberikan foto Ning yang pernah diambilnya secara diam- diam. Namun sayang, ia masih belum menemukan Ning. Begitu pula dengan anak buah Rosmala yag belum menemukan Ning.


Selama itu pula, setiap pulang kerja Athar selalu mengunjungi Nana. Sama hal seperti malam ini, ia baru saja keluar dari kantornya dengan ditemani asisten pribadinya yang mengendarai mobil.


“Langsung pulang, Pak?” tanya sang asisten yang baru saja memasang sabuk pengaman.


“Aku ingin menemui Nana dulu,” ucap Athar yang duduk di sebelah pengemudi.


“Ini sudah malam, Pak … sepertinya Nana sudah tidur.”


“Apa aku harus mengulang perkataan ku?” Athar mendelik tajam.


“Iya, baik Pak ….” Sang asisten pun segera melajukn mobil menuju tempat yang ingin dikunjungi Athar.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Athar hanya diam saja. Wajahnya nampak lesu dan kusut. Terlihat sekali jika ia sedang banyak pikiran. Sesekali ia memejamkan matanya karena sangat mengantuk.


“Hentikan mobilnya!!” titah Athar.


“Tapi, Pak … kita belum sampai.”


“Behenti!!” Athar kembali memberi perintah.


“Iya baik, Pak.” Ia pun menghentikan mobilnya menepi ke pingir jalan.


Athar keluar dari mobilnya tanpa bicara apa pun. Ia berjalan menusuri trotoar dan langkahnya terhenti di depan sebuah warung yang berjarak kira- kira 10 meter dari tempat mobilnya parkir sembarangan.


“Pasti di mau beli kopi dingin … memang orang yang aneh … Orang lain suka kopi panas, ini suka kopi dingin,” gerutu sang asisten. Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi kekasihnya dan tak memperhatikan bosnya yang sudah dewasa dan tak perlu diawasi itu.


“Bu, beli kopi botol yang dingin,” ucapnya pada penjual kopi.


“Ini Mas ….” Penjual itu pun memberikan kopi kemasan botol kecil pada Athar.


“Ambil saja kembaliannya ….” ucapnya memberikan uang pecahan seratus ribu yang diambil dari dompetnya.


“Terimakasih banyak, Mas ….” Ucap si ibu penjual itu tersenum sumringah.


“Sama- sama ….” Athar pun kembali melipat dompetnya dan hendak memasukannya ke dalam saku jas nya.


Grep ….


Tiba- tiba seseorang dengan secepat kilat merampas dompet itu dari tangan Athar. Orang itu berlari dengan kencangnya.


“Hei … Tunggu kau pencuri!!!” Athar pun dengan segera berlari untuk mengejar orang itu. nampaknya sang asisten sedang sibuk berpacaran di telpon hingga tak tahu apa yang terjadi pada bos nya.


Ia terus berlari mengikut sang pencuri hingga di banguanan ruko- ruko yang sudah tutup. Ia masuk ke gang ruko yang pencahayaannya nampak redup.


Langkahnya terhenti saat ia sudah kehilangan jejak si pencuri di pertigaan gang tersebut.


“Argh … sial!! Pencuri itu licin sekali, aku tidak bisa mengejarnya.” Athar mendengus kesal, kemudian ia memilih kembali dan merelakan dompetnya yang sudah dicuri.


Setelah ia keluar dari jalan gang, ia berjalan melewati beberapa ruko. Tiba- tiba ia mendengar suara orang yang baru keluar dari sebuah gang salah satu ruko yang sudah terlewati olehnya. Keduanya berbicara dengan suara pelan, namun Athar masih bisa mendengarnya.


“Wah, Bos … keliahatannya bos sangat menikmati perempuan itu,” ucap salah seorang pria yang bertubuh cungkring.


“Tentu saja … karena ternyata perempuan itu masih perawan ….” Pria yang bertubuh kekar dan penuh tato menyahuti perkataan anak buahnya.


“Tadi juga masih terasa sempit bos.” Si cungkring kembali berkomentar.


“Hahaha … kalau saja dia tidak pingsan, aku sudah melakukannya berkai- kali … Ahh, dasar payah baru dua kali saja sudah kelenger dia ….”


“Iya Bos, dia nikmat sekali … Walau pun tadi saat kita menangkapnya ia sempat kentut … Mana bau banget lagi,” ucap si cungkring.


“Namanya juga gelandangan … pasti jorok … Tapi yang penting masih bisa kita nikmati. Hahahaha ….” Si kekar tertawa dengan nikmatnya.


Deg …


Langkah Athar terhenti saat ia mendengat ucapan terakhir kedua pria yang berjalan di belakangnya itu. Ia tiba- tiba teringat pada wanita yang pernah beberapa kali kentut sembarangan di depannya.


“Ning ….” Lirihnya dengan ekspresi wajah terjekut.


“Tapi bos, memangnya tidak apa- apa kita meningalkannya di sana dengan keadaan seperti itu?” tanya si cungkring yang terlihat was- was.


“Sudahlah, tidak akan ada yang peduli dengan gelandangan … Tadi kau sudah menyelimuti tubuh setengah telanjangnya dengan kardus kan.”


“Iya, Bos ….” mereka pun terus berjalan.


Athar yang masih shock dengan segala pikiran buruk yang berkecamuk, segera menyadarkan dirinya sendiri. Ia berbalik arah lalu berlari menuju kembali ke gang yang merupakan tempat keluar kedua orang tadi.


Ia masuk gang tersebut, matanya melihat kesana kemari mencari keberadaan gelandangan perempuan yang dibicarakan kedua orang tadi dengan perasaan yang tak karuan. Ia terus menyusuri gang itu, namun tak menemukan siapa pun.


“Sepetinya aku salah masuk gang … mungkin bukan gang ini … Atau … perempuan yang dibicarakan orang itu sudah pergi ….” gumamnya menebak- nebak.


"Kasihan ... gelandangan yang malang," ucapnya turut sedih dengan apa yang terjadi pada wanita yang dibicarakan dua pria tadi.


Ia kembali ke jalur yang sebelumnya ia lewati. Langkahnya terhenti saat kakinya tak sengaja tersandung sesuatu tepat di depan teras sebuah ruko yang nampak gelap.


“Apa itu?” ucapnya dan mengarahkan pandangan ke bawah.


Tempat itu agak gelap dan Atat tak bisa melihat jelas apa yang membuatnya tersandung tadi. Ia mengambil ponsel dan menyalakan senter dari ponselnya dan menerangi benda tersebut.


Betapa terkejutnya ia melihat benda itu yang ternyata adalah kaki manusia. Ia mengarahkan senter ponselnya untuk melihat pemilik kaki tersebut. Ia kembali terkejut melihat kaki hingga tubuhnya di tutup dengan kardus bekas yang dibuka lipatannya.


Ia kembali teringat dengan ucapan kedua pria tadi. Athar pun mengarahkan senter pada wajah orang tersebut. Tubuhnya bergetar dan mendadak lemas, kakinya tak sanggup menopang tubuhnya lagi. Ia menjatuhkan dirinya dan bersimpuh di atas tanah tepat di depan kaki orang tersebut.


Matanya terus tertuju pada wajah yang disinari senter ponselnya. Wajah lebam dengan luka di tepian bibirnya yang mengeluarkan darah. Mata tepejam dengan rambut yang berantakan. Lehernya dipenuhi tanda merah yang terlihat jelas, karena orang itu memakai kaos lengan pendek. Sedangkan bagian perut hingga kaki diselimuti kardus.


“Tidak … ini tidak mungkin ….” Athar yang merasa shock luar biasa menggelegkan kepalanya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Tangannya yang bergetar menggapai wajah orang yang tak sadarkan diri itu. Ia meraba wajah itu, dan benar adanya itu adalah wajah orang yang dikenalinya.


“Ning … Ning ….” Lirihnya dengan bibir bergetar dengan perasaan luar biasa kacau dan terpukul, karena menemukannya dalam kondisi menyedihkan seperti itu.


--------------- TBC -----------------


******************************

__ADS_1


Happy Reading …..


__ADS_2