
Ning yang merasa malu luar biasa, hanya bisa diam mematung sembari menggerutuki dirinya sendiri, karena kecerobohannya.
Mau masuk ke dalam rumah lagi, gak bisa karena harus melewati teras rumah tempat korban kentut beliung nya sedang duduk. Atau ia ingin keluar melewati pintu gerbang untuk pergi sejauh mungkin saat itu juga. Namun kakinya terasa berat untuk diajak melangkah.
“Alamak … malu banget sih gue … kenapa sampai gak nyadar kalau di teras sana ada yang lagi duduk … bego bego bego …..” Ning menggerutki dirinya sendiri dalam hati.
Beruntung malam ini semilir angin berhembus lumayan kencang dan mampu menyeret bau gas beracun hingga mengembangkannya pergi.
“Ya ampun, Ning … kamu itu anak gadis, kok jorok banget sih...." ucap orang itu menggerutu.
Ning memberanikan diri berbalik menghadap ke orang tersebut. Meski rasa malu tak bisa disembunyikan di wajahnya.
“Ma maaf, Mbak Kinanti … saya pikir gak ada orang di sini ... saya lagi gak enak perut, hehehe ….” ucapnya tersenyum kaku.
Kinanti mendengus. “ Lain kali kalau mau buang gas lihat- lihat dulu di sekeliling mu, ada orang atau tidak … Untung cuma saya yang ada di sini, gimana kalau ibu dan Kak Singgih ada di sini juga? Kamu bisa malu banget ….”
“Ini saja saya sudah sangat malu … sekali lagi saya minta maaf, Mbak Kinan ….” ucap Ning.
“Iya, gak apa- apa … Lagipula kentut itu mahal tahu ….” ucap Kinanti yang bangkit dari duduknya.
“Hah? Maksudnya?” tanya Ning tak paham.
“Ya kalau kamu gak bisa buang gas dalam sehari, bisa bahaya itu ….” ucap Kinanti.
“Oh ya? berarti kalau sering kentut sehat dong, Mbak?” Ning menyimpulkan sendiri.
“Sehat sih sehat, tapi jangan kentut sembarangan juga kali … Lagi pula kalau terlalu sering, itu gak baik juga... Bisa saja itu karena indikasi masuk angin atau sakit perut. Jadi jangan terlalu senang kalau sering kentut….” Kinanti memberi penjelasan.
“Iy iyaa, Mbak … Yang penting dalam sehari ada lah ya,” ucap Ning nyengir.
“Ya, seperti itu lah… Eh, apaan sih … Kok kita jadi bahas kentut?” ucapnya terkekeh.
“Hehehe, iya ya … Emm, Mbak Kinan sedang apa malam- malam gini duduk di luar sendirian?” tanya Ning mengalihkan topik.
“Tadi saya habis telponan sama calon suami saya … Sekalian pengen ngadem aja di luar ….”
“Oh gitu ya, Mbak ….” angguk Ning sembari menggaruk lengannya.
“Tangan mu kenapa cemong gitu Ning?” tanya Kinanti saat melihat tangan Ning penuh dengan bubuk putih.
“Oh, anu Mbak … Dari siang tadi saya merasa gatal- gatal, tapi gak ada bekas gigitan nyamuk atau semut … Dan tadi dibaluri bedak tabur sama Ibu ….”
“Oh, gitu … Apa kamu punya alergi terhadap sesuatu?” tanya Kinanti.
“Enggak, Mbak Kinan … Saya gak alergi sama makanan atau apa pun,” ucap Ning yang kembali menggaruk lengannya.
“Jangan digaruk- garuk gitu, Ning… nanti kulit mu bisa iritasi….”
“Pengennya sih gitu Mbak, tapi gatel ….” Ning terus menggaruk.
“Yasudah, ayok kita masuk … saya ada obat anti alergi supaya kamu gak merasa gatal lagi,” ucapnya mengajak Ning masuk.
“Iya, Mbak Kinan … terimakasih banyak ….”
Keduanya pun masuk ke dalam rumah. Kinanti mengambil obat dan memberikannya pada Ning.
Karena sedang ada Singgih, Ning yang beberapa hari ini biasa tidur bersama Nana kini kembali tidur di kamar Kinanti. Sementara Kinanti tidur di kamar Singgih.
Baru saja selesai minum obat yang diberikan oleh Kinanti, ponsel Ning berdering menandakan ada panggilan masuk. Ia tersenyum sumringah melihat nama si pemanggil di layar ponselnya. Namun ia tak langsung mengangkat telponnya, walau sebenarnya ia sangat merindukan si penelpon itu.
Ning sengaja mengerjai Athar, hingga panggilan ke lima barulah ia menerima panggilan itu.
“Hallo …” sapa Athar dengan nada agak ketus. Namun bukannya menjawab, Ning malah diam saja.
“Hallo … Hallo, Ning ….” Athar kembali memanggil Ning, namun ia masih tak menyahut.
“Hei, Nona galak … kau ini bisu atau tuli sih?” Athar mulai kesal dibuatnya.
Ning masih tak menjawab, ia membekap mulutnya sendiri menahan tawa mendengar Athar yang sudah mulai kesal.
“Heh … kau itu benar- benar ya .. Ngangkat telpon lama, sekarang malah gak ngomong- ngomong .. Lihat saja nanti kalau bertemu dengan mu, aku akan menghukum mu tanpa ampun!!” cerocos Athar yang berujung memberi ancaman.
Ning cekikikan tanpa mengeluarkan suara. Nampaknya ia masih ingin mengerjai si om tamvan-nya itu.
“Ngrookk….” Ning mengeluarkan suara seperti sedang mengorok saat tidur.
“Jangan pura- pura tidur!!” bentak Athar kesal, namun Ning tak menghiraukannya dan malah terus mengorok.
“Oh, apa kau sudah tidak sabar ingin aku tiduri ya… Aku tahu loh, kalau di dekat pusar mu ada sebuah tanda lahir … Apa itu bentuknya aneh dan jelek sekali,” ucapnya memancing Ning.
“Dasar kudaniel mesum kurang ajar … Berani sekali kau melihat bagian itu!!” Ning langsung nyamber.
__ADS_1
“Siapa suruh sering pingsan di depan ku … Ya, lumayan kan itung- itung upah menggendong mu yang berat itu ….” ucap Athar menggoda Ning.
“Kau benar- benar mesum menyebalkan!!” Ning semakin kesal.
Tuut tuut tuut ….
Ning yang benar- benar merasa kesal, langsung memutuskan sambungan telponnya.
“Ih … kudaniel mesum brengs*k!!! berani sekali dia membuka- buka baju ku, saat aku tak sadarkan diri ….” Ning tak hentinya menggerutu kesal, ia lalu membekap mulutnya sendiri.
“Oh, ya ampun … jangan- jangan____”
“Argh … jangan- jangan dia udah ngapa- ngapain aku!?” Ning mulai cemas akan apa yang telah Athar lakukan padanya saat dirinya dalam keadaan tak sadarkan diri tempo hari.
Ponsel Ning kembali berdering, namun ia tak mengangkatnya hingga beberapa kali Athar menghubunginya.
Ting ting drrtt drrt …
Athar mengirim pesan dan Ning pun membukanya.
KuDaniel Mesum
“Angkat telponnya!!”
Ning
“Jangan harap!!”
KuDaniel Mesum
“Baiklah ….”
“Jangan salahkan aku, jika aku membangunkan Kinanti atau Bu Asri untuk menyuruh mu mengangkat telpon ku….”
“Ihhhhhh … Kudaniel licik menyebalkan!!” Ning semakin kesal. Dengan terpaksa ia mengangkat telpon saat Athar kembali menghubunginya.
“Nah, gitu dong sayang … Ngangkat telpon aja susah amat ….” ucap Athar dengan nada lembut.
“Kamu lagi apa?” tanya Athar.
“Hmm….” jawab Ning.
“Udah makan?” Athar kembali bertanya.
“Udah tidur?” Athar tak hentinya bertanya.
“Hmmm.”
“Kalau udah tidur kok bisa ngomong, sih sayaang?” goda Athar.
“Hmmm.”
“Ya ampun … sepertinya kau sudah sangat merindukan ku dan ingin dicium oleh ku ya? hum hamm hem hem aja ….”
“Ge-er banget sih jadi orang!!” ucap Ning ketus.
“Tapi itu memang kenyataan, kan?” ucap Athar.
“Jangan mimpi!!” bentak Ning kesal.
“Baiklah, kalau gak mau ngaku … Aku sepertinya akan lebih lama di sini,” ucap Athar terus menggoda Ning.
“Kenapa?” tanya Ning penasaran dan nampak kecewa.
“Di sini banyak gadis- gadis cantik dan sexy … ughhh mantap pokonya ….”
“Yasudah … tinggal saja di sana!! sekalian saja mati di sana ….” bentak Ning.
“Ya ampun, kau menyumpahi ku mati .. Apa kau ingin menjadi calon janda sebelum menikah dengan ku, hem ….”
“Cih, siapa yang mau menikah dengan mu!! Mendingan nikah sama Dokter Singgih saja … Orangnya baik, ganteng, rajin shalat, penyayang, ramah dan gak pernah bikin kesal ….”
“Kau!! Berani sekali memuji- muji si singgih sialan itu di depan ku!!” Athar kembali kesal.
“Di depan? Mana? kau tidak ada di sini, wle …..” Ning malah mengejeknya.
“Awas saja kalau kau berani dekat- dekat dengannya!!” ancam Athar geram.
“Hei … aku tidak mendekatinya ya … Tadi Bu Asri sendiri yang melamar ku untuk anaknya …”
“Apa? Bu Asri melamar mu?” Athar terkejut mendengarnya
__ADS_1
“Iya ….” ucap Ning yakin
“Jangan bohong kamu!!” Athar tak percaya begitu saja, karena Ning sering mengerjainya.
“Untuk apa aku bohong … Orang tadi Bu Asri bilang Ning mau kah kamu menjadi ibunya Nana sekaligus istrinya Singgih … gitu."
“Lantas… Apa kau menerimanya ??" tanya Athar.
“Emm, gimana ya … aku lagi mikir dan mempertimbangkan ….”
“Bilang pada Bu Asri kalau kau itu pacar ku!!"
“Idih, gak mau ah … Aku gak mau bohong sama Bu Asri … Beliau sudah sangat baik pada ku ….”
“Baiklah … kalau begitu, aku sendiri yang akan bilang!!”
Tuut tuut tuut ….
Athar yang merasa kesal dan marah langsung memutuskan sambungan telpon begitu saja.
Sementara Ning tersenyum puas, karena telah berhasil membuat Athar kesal sebagai pembalasannya.
“Hahahhaa … kesal kan lo,” ucapnya bicara pada layar ponselnya. Ning mematikan ponsel, ia lalu berbaring untuk tidur.
“Hahahahaha ….” Ning tertawa dengan renyahnya sembari melihat layar ponselnya.
“Eh tunggu … Dia begitu marah saat mendengar aku dilamar orang … Apa dia benar- benar menyukai ku seperti yang dikatakan Nyonya Ros waktu itu??” Ning berdialog sendiri.
“Arhhhh … gak gak gak … Gak mungkin, gak mungkin dia beneran suka sama aku … Tadi saja dia bilang kalau dia betah di sana karena banyak cewek cantik dan sexy … Dasar Kudaniel mesum sialan, mata keranjang … iiihhhh … Awas saja kalau pulang nanti, aku jitak kepalanya!!” Ning menggerutu kesal. Ia memukul- mukul guling yang berada di sebelahnya, mencabik- cabik serta melemparnya ke lantai. Seolah- olah guling itu adalah Athar.
Ning tidur dengan membawa rasa kesal yang tanpa ia sadari saat ini ia sedang cemburu pada orang yang sangat dirindukannya itu. Beruntung ia terkena efek obat alergi yang diminumnya, jika tidak maka Ning tak akan bisa tidur karena memikirkan Athar yang dikelilingi wanita cantik dan sexy di sana.
**
Hari ini merupakan saat yang sangat ditunggu- tunggu oleh Nana. Ia akhirnya bisa mengikuti acara rekreasi sekolah yang bertemakan aku dan ayah itu bersama papa kandungnya, setelah beberapa kali latihan untuk mengikuti perlombaan yang ada dalam acara tersebut.
Namun, tiba- tiba Singgih ada panggilan darurat, dengan terpaksa ia pergi sejak pukul empat pagi ke rumah sakit tempatnya praktek. Ia menghubungi Ning untuk memintanya dan Nana pergi duluan, sedangkan ia akan menyusul.
Nana dan Ning ikut dalam rombongan bis yang membawa murid- murid ke tempat wisata alam tempat acara tersebut. Sebagian besar orang tua murid ikut serta, ada yang bersama ayahnya saja, dan ada juga yang bersama ayah juga ibunya. Namun hanya Nana yang pergi bersama pengasuhnya.
“Kakak peri … Papa mana? Papa teman- teman sudah ada semua, tapi Papa belum ada ….” tanya Nana yang sudah mulai gelisah, karena melihat teman- temannya sudah bersama papa mereka masing- masing. Sedangkan Singgih masih belum kelihatan batang hidungnya.
“Pasti sebentar lagi datang … Nana main saja dulu yuk sama kakak, atau mau makan cemilan yang ada di ransel ini….” bujuk Ning agar Nana tak merasa sedih lagi, dan hal itu berhasil mengalihkan Nana.
Ia lalu mengirimkan pesan pada Singgih. Dan tak lupa ia pun mengirimkan foto dirinya bersama Nana pada pacar pura- pura nya sebagai laporan kegiatannya hari ini.
Waktu terus berjalan, namun Singgih tak kunjung datang. Sementara guru sudah mengumumkan acara akan segera di mulai dalam 15 menit lagi. Nana terus menantikan kedatangan papa-nya dengan penuh harap. Ia pun mulai merasa sedih bercampur kesal, karena beberapa temannya mempertanyakan keberadaan papa nya yang belum hadir.
“Papa gak sayang Nana … Papa jahat … huaaaaaaa….”Nana yang duduk di atas bangku panjang akhirnya menangis.
“Loh … kok Nana malah nangis, nanti cantiknya hilang loh … cup cup cup, udah ya berhenti nangisnya, nanti kita beli eskrim ….” bujuk Ning.
“Gak mau … Nana mau Papa … huaaaaaaa ….” Nana malah menangis kencang dan tak bisa dibujuk lagi. Ning merasa bingung harus berbuat apa.
Tiba- tiba ada boneka beruang besar yang digerak- gerakkan oleh seseorang di belakangnya menghampiri Nana dan Ning.
“Hallo, peri kecil ….” Sapa beruang itu dengan suara seperti beruang dalam dongeng.
“Jangan nangis dong, cantik … Kalau berhenti menangis, peri kecil akan mendapatkan permen kapas yang besar ini,” ucapnya masih dengan suara gemuruh beruang. Ia memperlihatkan permen kapas dalam kemasan plastik cukup besar.
Namun sayang, Nana masih tak mau berhenti menangis. Sementara Ning berusaha melihat orang yang ada di balik boneka besar itu, dengan berharap jika orang itu adalah pria yang sangat dirindukannya.
“Ciluk … baaaa ….” Orang yang bersembunyi di balik beruang besar itu pun akhirnya menampakkan diri. Dan hal itu mengagetkan Nana juga Ning.
Nana terlihat senang. Ia tersenyum meski masih berlinang air mata juga sesenggukan. Lain halnya dengan Ning yang terdiam membisu dan ada raut kekecewaan di wajahnya. Ia menundukkan pandangannya untuk menyembunyikan hal itu.
“Kenapa bukan dia yang datang??” lirih Ning dalam hati.
_
_
--------------- TBC -------------
***********************
Happy Reading ….😉
Monmaaf baru up lagi … 🙏🙏
Tilimikicihh selalu setia menantikan kisah Ning Nong Tut ….😘😘
__ADS_1
Aylapyu all ….😘😘