
“Lo pikir kepala gue gak sakit apa? Mikirin lo yang tiba- tiba menghilang entah kemana, gak pernah ada kabarnya, nomor lo juga susah dihubungi. Sekalinya bisa dihubungi gak pernah balas chat gue, gak pernah ngangkat telpon gue… Gue pikir lo udah mati tahu gak!!”
“Ditambah gue denger lo dibawa pergi dijadikan penebus hutang si mang Asep… Terus rumah lo disita sama rentenir sampai lo dicari- cariin orang … Gimana gue gak khawatir sama pusing kepala mikirin lo!! ” cerocos Ocha tanpa henti yang merupakan sahabat Ning.
“Selow selow Ocha … Ayok duduk dulu sini ….” ucap Ning dengan memegang tangan Ocha yang terlihat marah padanya, namun sahabatnya itu langsung menepisnya.
“Selaw selow aja lo … Pusing tahu gak kepala gue!!” hardiknya, lalu ia duduk di kursi sebelah Ning bekas tempat duduk Nana.
Grepp
Ning langsung memeluk sahabat yang sangat dirindukannya itu.
“Uummmmm … Lo emang sahabat terbaik gue, Ocha … Gue kangen banget sama lo….” ucap Ning dengan nada manja.
“Lepasin … Jangan peluk peluk gue!!” Ocha yang sebenarnya juga merindukan Ning, tetap bersikap jutek. Ia nampaknya masih sangat kesal pada sahabatnya itu.
“Gak mau … gue masih kangen sama lo ….” Ning semakin mengeratkan pelukannya.
“Ih … najiis tralala di kangenin sama lo!! Lepasin!!” Ocha masih berusaha melepaskan diri dari Ning. Akhirnya Ning melepaskan pelukannya dan tersenyum sumringah.
“Apaan lo senyam senyum kayak gitu? Gak mempan!!” hardik Ocha kesal.
“Hehehehe … Sorry, Cha … Gue gak bermaksud bikin lo khawatir … Gue cuma gak mau kalau lo terlibat sama masalah pelik yang sedang gue hadapi,” ucap Ning memberi penjelasan.
“Diam lo!! Biasanya juga kalau lagi ada masalah, lo larinya ke gue ….” Ocha masih bersikap jutek.
“Gue bener- bener minta maaf, Ocha … Kejadiannya begitu tiba- tiba, dan gue malu kalau terus- terusan ngerepotin lo, Cha ….”
“Lantas, selama ini lo kemana aja? Jangan bilang kalau lo dinikahkan sama aki- aki kaya yang udah sekarat….” tanya Ocha penasaran.
“Ya enggak lah … gak ada aki- aki di rumah itu … Pokonya ceritanya panjang, Ocha ….”
“Lo tinggal cerita intinya aja kenapa sih? Gue ini bukan anak TK yang minta dibacain cerita panjang lebar ….” Ocha nampak tak tak sabaran ingin mengetahui apa yang terjadi pada sahabatnya itu selama beberapa bulan kebelakang.
“Oke oke ... Jadi intinya gue tuh dibawa sama orang yang dihutangin Mang Asep … Gue pikir mau diapa- apain, tapi ternyata di rumahnya itu gue malah dijadikan pengasuh anaknya ….”
“Hah? Jadi pengasuh? Terus lo gak digaji?” tanya Ocha.
“Digaji lah … Malahan gak dipotong sama sekali gaji gue,” ucap Ning.
“Kok bisa? Bukannya lo dijadikan penebus hutang? Berarti lo dipekerjakan tanpa digaji dong?” Ocha merasa heran dan aneh.
“Enggak … gue tetep digaji karena udah berhasil ngerubah anaknya jadi anak yang baik," ucap Ning.
“Hah? Sejak kapan lo bisa ngurus anak kecil? Bukannya lo ogah banget kerja jadi pengasuh?” Ocha nampaknya tak percaya jika sahabatnya bisa jadi pengasuh.
“Ya mau gimana lagi, Cha … Gue gak punya pilihan … Daripada rumah gue diambil untuk bayar hutang, mending gue yang dibawa pergi ….”
“Apa? kejam banget tuh orang sampai mau ngambil rumah lo!!”
“Awalnya juga gue kira orang itu kejam, tapi ternyata lama kelamaan gue tahu kalau nyonya Ros itu orang yang baik … Yaudah, gue jalanin aja sambil belajar sedikit- sedikit … Nantinya juga kalau gue nikah dan punya anak harus bisa ngurus anak gue ….”
“Ya bagus deh, sekarang lo ada perubahan … Oh iya, apa anak asuh lo itu anak yang tadi duduk sama lo di sini?” tanya Ocha menebak.
“Bukan … gue udah ganti majikan, dan yang tadi itu anaknya majikan gue yang baru ….”
"Hah? Ganti majikan? Lo dijual sama majikan lain gitu maksudnya?”
“Bukan gitu, Ocha … Gue kerja di rumah nyonya Ros cuma sampai dua bulanan lah … terus gue minta berhenti, terus kerja sama orang lain deh ….”
“Terus hutang nya Mang Asep gimana? Bukannya lo jadi penebus hutang?” Ocha nampak semakin bingung.
“Justru karena itu gue bilang Nyonya Ros orang yang baik … Udah ngasih gue gaji penuh ditambah bonus, terus gue gak perlu bayar hutang Mang Asep ….”
“Kok bisa gitu ya?” Ocha terheran- heran.
Ning mengedikan bahunya.
“Mungkin karena kasihan sama gue, udah mah yatim piatu sekarang tuna wisma pula … Oh ya, Cha … Lo tahu gak siapa majikan baru gue?”
“Siapa emang?” tanya Ocha.
“Lo inget gak sama cowok yang pernah gue ceritain, saat gue dikejar preman gara- gara nimpuk kepalanya pakai kaleng bekas minuman?”
“Yang mana? kapan lo cerita ke gue?” Ocha terlihat bingung.
“Itu yang waktu gue dipecat gara- gara kentut gue bikin pingsan direktur tempat kue kerja yang baru dua jam itu loh …" ucap Ning memperjelas.
“Yang mana?” Ocha berusaha mengingat- ingat.
“Oh, hahaha … gue inget gue inget … Yang cowok alergi bau kentut itu, kan?” tanya Ocha sambil tertawa.
“Nah iya itu….” angguk Ning.
“Jadi bapaknya anak itu, cowok yang alergi bau kentut?” tanya Ocha memastikan.
“Bukan … Dia itu pria yang gue bilang ganteng, jangkung, tapi jutek dan yang nyangka gue copet,” ucap Ning menjelaskan.
“Oh, iya iya … yang gue bilang si Akung kalau gak salah ya?”
“Betul … Noh orangnya lagi gendong anak asuh gue ….” Ning mengarahkan pandangannya pada Singgih untuk menunjukkan pada Ocha.
“Busyet, ganteng banget euy … Gue juga mau kali punya majikan ganteng kayak gitu … Tiap hari bisa cuci mata ….” ucapnya takjub.
“Hahahaha, dasar lo.” Ning menggelengkan kepala.
“Eh, lo belum jawab pertanyaan gue tadi ….”
“Pertanyaan yang mana?” tanya Ocha bingung.
“Lo lagi ngapain di sini?” tanya Ning.
“Gue lagi jalan- jalan aja bosen di rumah … Oh iya, tadi gue lewat depan rumah lo, ada beberapa tukang gitu… Kayaknya lagi direnovasi deh ….”
“Hah? Direnovasi?” Ning kembali terkejut.
“Iya … kayaknya udah mau ditinggalin kali sama____ Eh sorry Ning, rumah lo itu bener- bener udah disita rentenir?” tanya Ocha memastikan kabar burung yang ia terima.
“Iya, Cha … Makanya gue pengen kerja keras buat nebus rumah itu … Lo tahu sendiri kan, rumah itu peninggalan satu- satunya dari almarhum bapak gue….”
__ADS_1
“Iya, Ning gue tahu … Kenapa Mang Asep sama bibi lo kejam banget sih sampai menjadikan rumah lo jaminan hutang mereka? Belum puas apa lo dijadikan penebus hutang dan bahkan rumah mereka sendiri disita rentenir ….” cerocos Ocha tak habis pikir.
Ning menghela nafas panjang.
“Gue juga gak ngerti, mereka pinjam duit mulu … Padahal tiap hari dua- duanya dagang ….”
“Mungkin karena si Renita terlalu banyak gaya dan banyak maunya … Gak nyadar sama kondisi keuangan orang tua,” ucap Ocha.
“Bisa jadi sih ….”
“Tapi mereka kan udah dapat karma nya,” ucap Ocha.
“Karma? Maksud lo mereka kehilangan rumah bapak gue gitu? Itu mah sama aja lo ngatain gue yang kena karma, Ocha!!” cerocos Ning.
“Bukan gitu, boloning … Gue denger setelah dua apa tiga hari Mang Asep nerima uang dari rentenir itu, katanya dia kerampokan….”
“Hah? Kerampokan? Kok bisa?” tanya Ning terkejut.
“Kan kata gue juga karma, Ning …. Makanya mereka sampai kabur entah kemana … Jangankan untuk bayar utang ke rentenir itu, uang yang didapatnya aja ludes duluan dirampok sebelum dipakai ….”
“Ya ampun, kasihan banget mereka,” ucap Ning menyayangkan nasib apes yang terjadi pada paman dan bibinya.
“Yang kasihan tuh elo, Ning … Orang tua lo udah gak ada, sekarang lo kehilangan rumah orang tua lo ….”
Ning terdiam, ia kembali menghela nafas panjang. Ia lalu menundukkan wajahnya yang terlihat sedih.
“Ning….” Ocha mengusap bahu Ning, ia bisa merasakan betapa sedihnya hati sahabatnya itu.
“Mbak Ning, ayok kita pulang … Kayaknya sebentar lagi akan turun hujan….” ucap Singgih yang kini berdiri di depan Ning dan Ocha dengan menggendong Nana. Ning langsung menegakkan pandangannya.
“Eh, iy iya Pak … Memangnya sudah selesai beli jajanannya?” ucap Ning gelagapan menyembunyikan raut sedihnya.
“Sudah nih ….” Singgih memperlihat kan kantong resek yang dibawanya.
“Ocha, sorry ya gue balik dulu … Nanti kita telponan ya ….” ucap Ning lalu bangkit dari duduknya.
“Iya, Ning … Eh tapi nomor lo yang mana?” Ocha bicara pada Ning tapi tatapannya tertuju pada pria tampan yang terpampang nyata di hadapannya.
“Nomor lama gue udah aktif lagi kok … Gue puang dulu ya, bye ….” Dengan berat hati Ning berpamitan pada Ocha. Padahal sebenarnya ia masih ingin berbagi cerita dengan sahabatnya itu. Ia beranjak pergi mengikuti Singgih dari belakangnya.
Sepanjang perjalanan, Nana menceritakan tentang perlombaan yang sudah ia lakoni bersama sang papa pada Ning dengan antusias. Ning hanya mendengarkan dan sesekali memuji Nana. Hingga tak terasa mereka pun sampai di rumah Bu Asri.
*
Malam minggu biasanya dimanfaatkan para kaula muda untuk pergi bersama pasangannya ke suatu tempat, istilahnya dikenal dengan ngedate. Ada yang pergi makan berdua, nonton, sekedar jalan atau nongkrong. Namun, tak sedikit pula bagi kaum jomblo yang juga tak mau ketinggalan eksis, walau hanya pergi nongkrong bersama teman- temannya.
Berbeda dengan Ning yang justru hanya bisa tiduran saja di atas ranjang sembari berkirim pesan dengan sahabatnya, Ocha. Sesekali ia membuka riwayat chating dirinya dan Athar, namun tak ada satu pun balasan dari Athar sejak tadi pagi. Padahal biasanya ia selalu cerewet dan over protektif.
Ning yang merasa kesal terus menunggu, akhirnya memberanikan diri menelpon Athar.
‘Maaf, nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi ….’
Lima kali sudah Ning menelpon, namun yang terdengar hanya suara operator otomatis yang menandakan bahwa nomor yang dituju tidak aktif. Ditambah ia teringat dengan ucapan Athar yang mengatakan jika si om tamvan-nya itu akan lebih lama di luar kota, karena banyak gadis cantik dan sexy di sana.Tentunya hal itu membuatnya semakin kesal hingga ia uring- uringan tidak karuan.
Guling yang polos tak berdosa pun menjadi sasaran kemarahan Ning. Ia dipukul- pukul, dir**mas, dicakar, sampai dibanting ke lantai. Malang sekali nasib si guling.
Ning memutuskan keluar dari kamar Kinanti yang ditempatinya, sebelum ia benar- benar meledak. Ia duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
Akhirnya ia pergi keluar rumah, lalu duduk di kursi yang ada di teras depan. Ning memejamkan mata dan menghela nafas panjang beberapa kali untuk meredam kemarahannya. Semilir angin malam nampaknya bisa membuatnya sedikit tenang. Sedikit tenang ya, gak banyak tenangnya.
Perlahan ia membuka matanya, mengarahkan pandangan ke arah pintu pagar. Seolah ia berharap jika orang yang dirindukannya tiba- tiba datang. Dibawa om jin misalnya, tring sim salabim abracadabra eng ing eng … tiba- tiba muncul. Namun sayang, itu hanya dalam khayalannya saja. Karena pada kenyataannya, tak ada satu pun orang di sana.
“Ihhh, dasar nyebeli nyebelin nyebelin ….” gerutu Ning dengan menghentak- hentakan kakinya ke lantai dan mengacak- acak rambutnya sendiri. Air mata tiba- tiba mengalir begitu saja, sebagai luapan kekesalan yang menggondok di dada.
Jika ada cermin, ia pasti tak akan sudi melihat penampilannya saat ini yang begitu berantakan. Wajah kusut, mata sembab, rambutnya juga acak- acakan seperti rambut singa. Ia sudah seperti seorang istri yang menunggu kedatangan suaminya yang menghilang berhari- hari tanpa kabar, yang ternyata sedang berbulan madu dengan wanita lain ke Cappadocia.🤭
Ceklek …
Ning langsung diam saat mendengar ada suara pintu terbuka. Munculah seseorang dari dalam rumah. Ning segera menghapus jejak air matanya. Ia juga merapihkan rambut dan kembali mengikatnya.
“Loh, Mbak Ning sedang apa malam- malam duduk di luar sendirian?” tanyanya terheran- heran.
“Eh, Pak Singgih … Hehe ….” ucap Ning gelagapan, karena malu.
“Lagi ngadem aja, Pak … hehehe.”
“Bukannya di dalam juga ada AC? Apa kurang dingin?” tanya Singgih heran.
“Eng enggak … emm maksudnya cari angin gitu Pak,” ucap Ning mencari alasan.
“Apa sedang menunggu seseorang?” tanya Singgih menebak.
“Hah? Apa? Menunggu siapa?” Ning gelagapan, seolah dirinya sudah ketahuan sedang menunggu Athar.
“Menunggu teman Mbak Ning atau pacar mungkin,” ucap Singgih.
“Hahahaha … Pak Singgih bisa aja ….” Ning tertawa untuk menghilangkan kegugupannya.
“Ini kan malam minggu … memangnya Mbak Ning gak malam mingguan?” tanya Singgih.
“Saya kan di sini kerja ... Mana berani numpang pacaran di sini, Pak … hehehe.”
“Kalau Mbak Ning mau pergi sama pacarnya, silahkan … Ini kan baru jam 8 malam, asalkan jangan pulang larut … Lagi pula Nana sudah tidur kok ….”
“Eng enggak, Pak … Saya gak ada acara pergi- pergi ko … Lagian saya gak punya pacar alias masih jomblo, hehehe….” ucapnya seolah ingin Singgih mengetahui jika dirinya belum punya pacar.
“Oh, pantesan ….”
“Pantesan apa Pak?”
“Ya pantesan Mbak Ning hanya diam di rumah saat malam minggu gini, “ ucap Singgih yang terlihat memperhatikan Ning. “Apa Mbak Ning abis nangis?” tanyanya lagi.
“Eng enggak, Pak … kelilipan … iya mata saya kelilipan … bukan nangis bukan, hehehe.” Ning menjawab dengan gelagapan.
“Hehehe ….” Singgih terkekeh melihat Ning yang nampak salah tingkah.
“Boleh saya duduk di kursi itu?” tanyanya menunjuk kursi yang satunya lagi.
“Boleh lah, Pak … ini kan rumah orang tua Bapak, kenapa musti izin ke saya segala …. Hehehe.”
__ADS_1
Singgih berjalan melewati Ning. Ia duduk di kursi yang hanya terhalang oleh meja dari kursi tempat Ning duduk.
Ning nampak canggung duduk berduaan di luar dengan majikannya. Singgih pun terlihat begitu, karena dari keduanya tak ada obrolan lagi ataupun memulai obrolan dari salah seorang. Hingga beberapa saat keduanya hanya terdiam.
“Pak___”
“Mbak____”
Ucap keduanya bersamaan.
“Mbak duluan saja….” ucap Singgih mempersilahkan.
“Pak Singgih aja dulu ….” Ning malah melempar lagi.
“Eng, saya dengar sebelumnya Mbak Ning pernah bekerja jadi pengasuh anaknya Kak Rosmala … Kalau boleh tahu, berapa lama kerja di sana?” uapnya kembali membuka topik pembicaraan.
“Emm, sekitar dua bulanan lah,” jawab Ning.
“Kenapa berhenti?” tanya Singgih penasaran.
“Karena saya merasa gak nyaman aja kerja di sana ….”
“Apa Mbak Ning berencana akan kerja di sana lagi?”
“Ya engalah, Pak … Saya gak berniat sama sekali kembali bekerja di sana ….”
“Oh, gitu ya …. Apa Mbak Ning dan Daniel ada hubungan spesial?” Singgih yang awalnya bertanya soal pekerjaan, kini mulai menelusuri ranah pribadi.
“Apa?” tanya Ning terkejut.
“Apa Mbak Ning ada hubungan spesial dengan Daniel?” Singgih pun mengulang pertanyaannya.
“Kok Pak Singgih tanya gitu?” bukannya menjawab, Ning malah balik bertanya.
“Mbak Ning kan di sana jadi pengasuh Sheryl, tapi sepertinya terlihat akrab dengan Daniel. Bahkan dia beberapa kali mengingatkan saya kalau Mbak Ning hanya bekerja sementara di sini … Saya pikir Mbak berniat kembali bekerja untuk Kak Ros … Eng, setahu saya, Daniel bukan tipikal orang yang mudah dekat dengan seorang wanita … Apalagi setelah Alexa meninggal ….” ucapnya panjang lebar.
“Hah? Ma maksud Pak Singgih gimana ya?” tanya Ning yang sebenarnya bingung mau memberi jawaban apa. Nampaknya ia tak ingin Singgih mengetahui, jika ia dan Athar sedang bersandiwara pacaran.
“Eh tunggu … Pak Singgih nanya gini sama aku, berarti dia gak tahu kalau aku ini pacarnya si kudaniel … Eh, pacar bohongan maksudnya ….” gumam Ning dalam hati.
“Maaf, mungkin saya terdengar berniat mencampuri masalah pribadi Mbak Ning, ya … lupakan saja tidak perlu dibahas, hehe …” Singgih nampak tak enak hati dengan ucapannya sendiri.
“Oh ya, karena Daniel bilang kamu kerja di sini hanya untuk sementara, jadi saya akan mencari pengasuh tetap untuk Nana,” ucapnya mengalihkan topik.
“Iya, Pak,” angguk Ning.
“Minggu depan saya akan pergi keluar kota untuk melaksanakan seminar selama dua minggu … Jika saya belum menemukan pengasuh yang cocok untuk Nana, saya titip Nana sama Mbak Ning dulu ya ….”
“Baik, Pak.” Ning kembali mengangguk.
“Eng … Nana bilang saya sebelumnya pernah bertemu dengan Mbak Ning saat antri di pedagang kebab … apa itu benar?” Singgih nampaknya mulai betah mengobrol dengan Ning.
“Iy iya, Pak … Waktu itu saya lagi dikejar preman yang minggu kemarin dihajar sama Pak Singgih itu… Saya sembunyi di antrian dan tepat di depan Pak Singgih … hehehe.”
“Oh iya, sekarang saya ingat … Kamu yang mepet- mepet itu kan?” tanya Singgih yang mengingat kejadian beberapa bulan lalu itu.
“Iya, Pak … Dan Pak Singgih mengira kalau saya itu copet, hehehe ….”
“Oh, ya ampun … saya minta maaf karena sudah menuduh Mbak seperti itu….”
“Gak apa- apa, Pak … Sudah lewat ini ko, hehehe ….” ucap Ning yang memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya.
“Dingin ya? Semakin malam udaranya semakin dingin … Sebaiknya kita masuk, daripada masuk angin, kan ….” ucap Singgih yang nampak memperhatikan Ning.
“Hehehe, iya Pak ….”
Keduanya pun bangkit dan masuk kedalam rumah. Nampaknya bercengkrama dengan Singgih, sedikitnya mampu menghibur Ning yang sedang terkena sindrom malarindu.
Tanpa mereka sadari, ternyata Bu Asri diam- diam memperhatikan mereka dari ruang tamu. Namun saat keduanya hendak masuk, beliau segera meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya.
“Syukurlah … sepertinya Ning dan Singgih mulai dekat ….” gumam Bu Asri tersenyum bahagia. Sepertinya beliau memang berharap mereka bisa menjadi pasangan.
*
Tak terasa satu minggu telah berlalu, dan semenjak hari itu Athar tak pernah menghubungi Ning lagi. Jangankan untuk menelpon, jika Ning mengirim pesan pun tak pernah dibalasnya. Hal itu membuat Ning merana setiap hari, bahkan sampai membuat nafsu makannya menurun. Ia yang biasanya tak suka menyia- nyiakan makanan, justru malah lebih sering makan sedikit bahkan tak menghabiskannya.
Bukan hanya itu, saking kesalnya ia sampai menghapus nomor kontak Athar dari kontak telepon di ponselnya.
“Aduh, kok badan ku rasanya pegal semua, mana pusing lagi … Mending tidur lagi aja ah, mumpung hari minggu ….” keluhnya yang kemudian kembali berbaring di tempat tidur.
Ting ting drrt drrt
Ponsel Ning berbunyi disertai getaran. Ia melihat layar ponsel yang sebelumnya diletakan di sebelah bantalnya.
“Hah? Nomor siapa ini? Kok gak ada namanya?” ucap Ning bertanya- tanya saat melihat daftar pesan teratas yang masuk di aplikasi WhatsApp nya.
“Oh ya ampun, jangan- jangan ini nomor si kudaniel,” ucap Ning yang kemudian membuka pesan tersebut.
080333111999
“Temui aku jam 10 pagi di taman kota”
“Jangan telat!!”
“Uuuuchhh, akhirnya kou datang juga kudaniel menyebalkan ….” ucap Ning yang membaca pesan itu berulang-ulang.
Ning terlihat begitu bahagia, hingga ia tak membuka pesan lain yang ada dibawahnya. Ia berguling- guling di atas tempat tidur saking bahagianya.
gedebruk
"Awww... " Ning terjatuh dari atas ranjang.
Meski badannya yang pegal- pegal terasa ringsek, ia langsung bangun dengan wajah berseri- seri dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
-
------------ TBC ------------
****************
__ADS_1
Happy Reading ….