NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Ada Apa Dengan Nya?


__ADS_3

Ning yang masih terlihat syok, tiba- tiba menitikkan air mata dengan ponsel yang masih di tempelkan di telinga nya. Entah apa yang dikatakan si penelpon pada Ning hingga membuatnya seperti itu.


Tut tut tut


Si penelpon pun menutup panggilan telponnya, namun Ning masih menempelkan ponsel di telinganya dengan tatapan kosong.


“Nona … Nona….” Siti memanggil pun, Ning sama sekali tidak menyahut.


“Nona Ning ….” Siti menepuk bahu Ning.


“Iy iya….” Ning terperanjat membuyarkan lamunannya, hingga tanpa sengaja ia menjatuhkan ponsel dari tangannya. Ia pun menghapus jejak air matanya.


“Ada apa, Siti?” tanya Ning yang tak menghiraukan ponselnya lagi.


“Suster sudah datang untuk membawa Nona ke ruang cuci darah….” ucap Siti menunjuk ke arah suster yang sudah membawa kursi roda.


“Iy iya ….”ucapnya lalu turun dari ranjang dengan suster yang mengambil infusan dari gantungannya. Ning pun dibawa ke ruang Hemodialisa dengan menggunakan kursi roda.


Usai melakukan prosedur pemeriksaan, Ning duduk selonjoran di atas ranjang dengan dua selang tertancap di tangan serta paha nya. Ia terlihat melamun, entah memikirkan sesuatu atau Athar yang tak menemaninya kali ini. Dan hal itu berlangsung sampai proses cuci darahnya selesai.


*


Baru saja perawat selesai melepaskan selang dari tubuh Ning, tiba- tiba Ning mengalami sesak nafas. Perawat memeriksa keadaannya dan perawat yang lainnya memanggil dokter. Namun keadaanya nampaknya memburuk.


Ning kejang- kejang hingga ia tak sadarkan diri. Ia segera dilarikan ke ruang ICU. Siti pun segera menghubungi Riko yang kebetulan sedang tidak berada di sana, untuk memberitahukan kondisi Ning.


Tak lama Athar datang bersama Riko. Mereka langsung menuju ruang ICU.


“Bagaimana keadaaan Ning?” tanya Athar cemas.


“Dokter masih memeriksa nona, Pak ….” ucap Siti.


“Kenapa ini bisa sampai terjadi? Bukannya kemarin kondisinya sudah membaik?”


“Saya juga tidak tahu, Pak … Tadi setelah selesai cuci darah, nona sesak nafas, kejang- kejang terus pingsan.”Siti menceritakan kronologi nya.


Athar yang sejak datang sudah terlihat kacau, kini tambah frustasi mendengar apa yang terjadi pada Ning. Ia berusaha masuk ke ruang ICU, namun perawat menahannya dengan alasan dokter masih melakukan pemeriksaan pada pasien secara intensif.


Ia yang begitu mencemaskan keadaan Ning, terus mondar- mandir di depan pintu, menunggu dokter keluar. Waktu pun seolah berjalan dengan sangat lambat. Perasaannya sudah mulai tak karuan. Ia begitu takut terjadi sesuatu hal buruk pada Ning.


Penyesalan mendalam kini dirasakannya. Ia tak hentinya menyalahkan diri dirinya sendiri, karena sejak kemarin ia tak menemani Ning seperti yang ia janjikan sebelumnya. Ia merasa tak berdaya dan hanya bisa menunggu tanpa bisa melakukan apa pun.


“Argh… kenapa sih dokter lama sekali memeriksa, Ning!!” Athar begitu frustasi hingga ia memukul dinding tembok.


“Sabar, Pak … Nona pasti baik- baik saja….” Riko berusaha menenangkan Athar.


“Kalau baik- baik saja tidak mungkin dokter memeriksa sampai selama ini, bodoh!!” maki Athar geram.


Ceklek …


Saat mendengar pintu terbuka, Athar bergegas menghampiri.


“Om, bagaimana keadaan Ning?” tanyanya nampak tak sabaran.


Dokter menghela nafas panjang. “Dia masih belum siuman?” ucap dokter.


“Apa?” Athar terkejut mendengarnya.


“Jika tak kunjung sadar, dia bisa mengalami koma….” Dokter memberitahukan kemungkinan buruk yang akan dialami Ning.


“Apa?” Athar terkejut luar biasa hingga ia menjatuhkan dirinya ke lantai. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga lagi. Ia pun terduduk di lantai.


“Daniel….”

__ADS_1


“Pak Daniel ….”


Ucap Dokter, Riko dan Siti bersamaan. Keduanya menghampiri Athar yang terduduk di lantai dengan wajah syock juga takut.


“Ning ….” Ucapnya lirih.


“Pak Daniel tidak apa- apa?” tanya Riko berjongkok.


“Daniel, kau tidak apa-apa?” dokter yang nampak khawatir pun menanyakan hal yang sama.


Athar tak menjawab satu pun pertanyaan dari mereka. Pikirannya hanya tertuju pada Ning.


“Koma? Dia koma? Ning koma?” batin Athar syok.


“Enggak … dia tidak akan koma … dia tidak akan koma seperti Alexa …” batinnya dengan bayangan masa lalu di kepalnya yang seolah terulang kembali saat ia mengingat apa yang pernah dialami mendiang Alexa dulu.


“Enggak … enggak … dia gak boleh koma … Ning tidak oleh koma….” ucapnya dan raut wajah ketakutan. Ia kembali berusaha bangkit untuk berdiri dengan tangan yang meraba- raba dinding tembok. Riko pun membantunya berdiri.


“Daniel, kau baik- baik saja….” dokter kembali bertanya.


“Aku ingin menemuinya, Om … Aku ingin melihat Ning ….”ucapnya tak menghiraukan pertanyaan dokter.


“Iya, baiklah … mari kita ke dalam ….” Dokter mengajak Athar masuk ke ruangan ICU, namun ia diharuskan memakai pakaian steril serta penutup kepala dan masker medis sebelum menemui Ning.


Baru saja ia melangkah masuk, hatinya merasa teriris melihat Ning yang dipasang beberapa alat penunjang medis di beberapa anggota tubuhnya.


Ia melangkah perlahan, hingga ia tiba di sebelah ranjang tempat dimana Ning terbaring lemah. Ia duduk di kursi yang diberikan perawat padanya.


“Ning….” lirihnya sedih dengan mengusap lembut punggung tangan kiri Ning. Ditatapnya wajah pucat dengan mata yang masih terpejam itu. Sungguh membuat hatinya terenyuh.


“Kenapa jadi seperti ini?” ia menggenggam tangan Ning.


“Hei, gadis galak … ayok buka mata mu… kalau tidak, aku akan mencium mu sekarang juga….” ucapnya memberi ancaman seperti yang biasa ia lakukan agar Ning menuruti apa yang diperintahkan nya. Namun sama sekali tak ada respon.


“Buka mata mu, Ning… Kamu hanya pingsan seperti biasa, kan? Bukan koma bukan… kamu pasti bisa mendengar ku kan? ” ucapnya dengan mata berkaca- kaca.


“Maafkan aku… maafkan aku tidak bisa menjaga mu, Ning….” Athar tak kuasa menahan yang air mata yang jatuh begitu saja membasahi pipi nya. Ia menciumi punggung tangan Ning.


“Kau boleh menghukum ku dengan cara apa pun, kau boleh mengerjai ku sesuka hati mu… kau juga boleh memukul ku, Ning … Bahkan jika kau kentut sekarang juga, aku tak akan menghindar… Tapi jangan seperti ini… jangan seperti ini, Ning … Aku tidak akan sanggup…..” ucapnya terisak.


Ia terlihat begitu kacau dan rapuh melihat gadis yang dicintainya terbaring lemah. Sepertinya trauma kehilangan di masa lalu, membuatnya begitu takut kehilangan wanita yang ia cintai untuk yang kedua kalinya.


Tiba- tiba jari telunjuk Ning bergerak. Athar yang melihat hal itu, segera menghapus jejak air matanya. Ia tak ingin memperlihatkan betapa rapuh dan lemah dirinya di hadapan Ning.


“Ning … kamu bisa mendengar ku?” ucapnya dengan mata berbinar.


“Dokter… dokter….”Athar langsung berteriak memanggil dokter.


Dokter bersama perawat yang melihat dari balik dinding kaca pun segera masuk.


“Ada apa Daniel?” tanya dokter.


“Tadi tangannya bergerak… apa dia akan segera sadar?” ucapnya penuh harap.


Dokter segera memeriksa keadaan Ning. Beliau kemudian menggelengkan kepala nya. “Dia masih belum sadar, Daniel ….” ucapnya menyesalkan.


“Tapi tadi_____”


“Daniel, mari kita bicara di luar….” Dokter mengajak Athar keluar dari ruangan tersebut. Dengan berat hati Athar pun pergi meninggalkan Ning yang dijaga oleh dua orang perawat di sana.


Kini keduanya berada di luar ruangan terpisah dari tempat Ning dirawat. Namun masih bisa melihatnya dari dinding kaca.


“Ada apa om?” tanya Athar dengan pandangan tertuju ada Ning.

__ADS_1


“Ning membutuhkan donor segera … Jika ia kembali melakukan cuci darah, takutnya hal seperti ini akan terjadi lagi … Banyak pasien yang tak mampu bertahan setelah melakukan beberapa kali cuci darah pun ….” ucap dokter memberi penjelasan.


“Apa?” Athar terlihat semakin frustasi. “Lalu bagaimana dengan hasil pemeriksaan kemarin? Apa ada yang cocok ….” tanya nya penuh harap.


“Tidak ada….” Dokter menggelengkan kepalanya dan kemudian menunduk, seolah menyembunyikan sesuatu dari Athar. Ia pun menyadari akan hal itu.


“Om yakin?” Athar nampak tak percaya dengan jawaban yang diberikan dokter.


“Ya….” ucap dokter dengan masih menundukkan kepala nya.


“Om!!” bentak Athar. “Jangan menyembunyikan apa pun dari ku!!” Athar menatap tajam.


Dokter memberanikan diri menatap Athar dan terlihat jelas raut wajahnya begitu menakutkan.


“Katakan yang sebenar nya!!” ucapnya dengan penuh penekanan.


“Daniel….” ucap Dokter berusaha menghindar.


“Katakan Om!!” Athar kembali membentak.


Dokter menarik nafas panjang. Ia tahu betul bagaimana sifat keponakannya itu. “Sebenarnya ada satu yang cocok….” ucapnya mulai berterus terang.


“Apa? Jadi kita sudah menemukan pendonor untuk Ning?” Athar terkejut sekaligus senang. Akhirnya menemukan penyelamat untuk kesembuhan Ning.


“Tapi itu tidak mungkin, Daniel….” ucap dokter.


“Maksud om apa? Aku sudah susah payah mencari orang untuk menjadi pendonor Ning … Dan sekarang, disaat sudah menemukan yang cocok, om malah bilang tidak mungkin? Bukankah om sendiri tadi yang bilang Ning membutuhkan segera donor ginjal untuknya? Kalau sudah cocok, lalu apalagi masalahnya?” cerocos Athar mulai emosi.


“Tapi ini mustahil….” ucap Dokter yang nampak berat mengatakan hal itu ada Athar.


“Mustahil kenapa?”Athar yang tak terima, kembali mempertanyakan. Ia lalu teringat akan sesuatu. “Om… ginjal siapa yang cocok dengan Ning?” ia kembali bertanya dengan penasaran.


Dokter tak menjawab, ia malah kembali menundukkan kepalanya.


“Om!!” bentak Athar. Ia mendekat kemudian kedua tangannya mencengkram kerah kemeja sang dokter. “Katakan pada ku ginjal siapa yang cocok dengan Ning?” tanya nya dengan penuh penekanan dan nampak menahan amarah. Dokter masih tak berani menatap mata Athar.


Kring drttt drrt…


Tiba- tiba ponsel Athar berdering disertai getaran. Athar yang masih menunggu jawaban dari dokter, tak menghiraukan panggilan telepon yang masuk.


“Om… katakan pada ku, siapa??!!” bentaknya mengulang pertanyaan dengan tatapan tajam.


“Daniel … angkat telpon mu dulu… siapa tahu itu penting….” Dokter malah mengalihkan pembicaraan, karena ponsel Athar tak berhenti berdering.


Athar yang seolah baru tersadar, melepaskan cengkeramannya. Ia mengambil ponsel dari saku celana nya. Dan saat melihat si pemanggil di layar ponselnya, Ahar pun segera menerima panggilan tersebut.


“Iya, hallo…” sapa nya. “Apa?” Athar nampak terkejut. Ia terus mendengarkan ucapan si penelpon dengan tatapan yang kembali tertuju pada Ning yang masih tak sadarkan diri.


“Baiklah, aku akan segera ke sana….” ia pun mengakhiri panggilan telponnya dan segera beranjak pergi meninggalkan ruang ICU tersebut dengan terburu- buru, tanpa berpamitan pada dokter yang merupakan om nya itu.


“Ada apa dengannya?” gumam dokter bertanya- tanya.


------------- TBC .--------------


*************************


-


-


Happy Reading.....😉


monmaaf part nya kepanjanga jdindibagili dua episo😉😘

__ADS_1


Tilimikicihhh....


Aylapu all


__ADS_2