
Suasana mendadak hening. Baik Athar atau pun Ning masih tenggelam dalam pikiran masing- masing. Sementara Riko yang berdiri di belakang tak jauh dari sofa, hanya bisa menonton kebersamaan Athar dan Ning.
“Apa kau mencintai Singgih?” tanya Athar dengan pandangan lurus ke depan. Ucapannya mampu memecah keheningan.
Ning yang masih bersender di bahu Athar menggelengkan kepala tanpa bersuara. Athar pun bisa merasakan gerakannya tanpa menoleh ke arah Ning.
“Kau tidak mencintainya, begitu juga dia… Berarti kita gak selingkuh, karena kita saling mencintai….”
Ning menegakkan tubuhnya, lalu menoleh ke samping menatap Athar. “Benarkah?”
“Ya… anggaplah seperti itu… Makanya cepat kembalikan cincin itu pada Singgih dan akhiri status kalian….” Athar menoleh, melempar senyum pada Ning.
“Tapi____”
“Tapi apa? Kau terlihat berat melepaskannya… Jangan- jangan kau beneran mencintainya….” Ucapnya dengan tatapan tak suka.
“Enggak… Aku gak ada rasa cinta sama sekali pada nya….” Ning segera menepis tuduhan Athar.
“Terus kenapa lamarannya diterima?”
“Ya sebenarnya aku juga gak tahu dengan apa yang ku rasakan saat itu… Yang terbesit di kepala ku hanya Nana yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu… Dan lagi, selama ini dia baik dan perhatian pada ku… Lagi pula aku sudah sangat dekat dan sayang sama Nana, ku pikir apa salahnya menerima lamarannya….”
“Berarti alasan mu karena Nana?” Athar menyimpulkan dari pengakuan Ning.
“Sepertinya begitu….” Ucap Ning tak yakin.
“Berarti tidak sulit bagi mu untuk mengakhirinya….”
“Tapi… bagaimana caranya? Aku harus bilang apa sama Bu Asri?” Ning terlihat bingung.
“Ya bilang aja gak cinta, apa susahnya?” ucap Athar dengan gampangnya.
“Ish… alasan macam apa itu?”
“Lantas, apa kau akan bilang jika kau mencintai ku, hem?”
“Itu apalagi… gila namanya….”
“Hahaha… Ya aku memang gila, sampai aku menjadi kekasih gelap mu, Ning….”
“Tuan om sih, kenapa baru datang sekarang… Gak dari dulu- dulu….”
Athar berhenti tertawa. Ia menghela nafas panjang. Digenggamnya tangan kanan Ning yang duduk disebelahnya.
“Maafkan aku Ning… karena sudah meninggalkan mu saat itu… Aku melakukannya demi kesembuhan mu, dan aku juga ingin sembuh….” ucapnya lirih.
Ning hanya terdiam dengan terus menatap Athar yang menundukkan kepalanya.
“Tadinya aku pikir kamu bahagia bersama Singgih dan kalian saling mencintai… Tapi setelah mendengar Singgih marah pada mu gara- gara kita pergi sampai malam bahkan tak memberi mu kesempatan menjelaskan, di tambah kejadian kemarin malam saat kau dipermalukan tapi di malah pergi dan membiarkan mu begitu saja, itu membuat ku tak bisa mempercayainya… Apalagi aku tahu jika kau memiliki perasaan yang sama dengan ku….”
“Mungkin aku egois, tak memikirkan orang- orang yang kecewa jika kau batal menikah dengan Singgih, terutama perasaan Nana… Bahkan aku tak memikirkan bagaimana perasaan mu yang terlihat begitu bimbang dan takut… Tapi aku akan lebih merasa bersalah, jika membiarkan mu menjalani pernikahan tanpa cinta, karena aku tahu Singgih masih belum bisa melupakan mendiang adikku, Diandra…”
“Bagaimana tuan om bisa tahu? Bukankah Dindara sudah lama meninggal?”
Athar kembali menghela nafas panjang. “Suatu saat kau juga pasti akan tahu Ning… Dia membutuhkan mu hanya sebagai ibunya Nana, bukan menjadi pasangan seutuhnya… Dan seperti hari ini, Nana sampai sakit pun dia tidak akan datang….”
“Kenapa?”
“Kau temui saja dia, tanyakan sendiri pada orangnya langsung… Sekalian kembalikan cincin itu… supaya kita tak disebut pasangan selingkuh….”
“Berarti sekarang kita sedang selingkuh?”
“Ck… sudah cepat kau lepaskan cincin itu… Dengan begitu kita tidak merasa sedang berselingkuh….”
Meski terdengar aneh dan koyol, Ning pun menuruti perintah Athar. Ia melepas cincinnya dan menyimpannya ke dalam tas miliknya. Athar bangkit dan berdiri.
“Mau kemana?”
“Mau mandi, kamu makanlah dulu… Nanti setelah mandi akan ku antar pulang….”
“Gak usah, aku pulang naik taksi aja… Mending tuan om istirahat, semalaman gak tidur kan?”
Athar mengulum senyum. “Riko, jangan biarkan dia pergi sampai aku selesai mandi!!”
“Baik, Pak….”
Athar pergi begitu saja saat melihat Ning melotot padanya. Lebih cepat ia mandi lebih baik, sebelum Ning merengek ingin pulang atau marah lagi padanya.
Ning mendengus kesal, ia mengambil kedua godie bag dari atas meja kemudian beranjak ke dapur. Ia menyajikan makanan serta menuangkan jus yang diambilnya dari dalam lemari pendingin.
Tak lama Athar pun kembali dengan wajah segar, mengenakan pakaian santai. Wangi parfum nya yang maskulin membuat Ning makin kesem- sem pada om tamvan-nya itu.
“Hemmm… Yang udah ganteng dan wangi….” goda Ning menghirup dalam- dalam wangi pria yang berdiri di sebelahnya duduk.
Senyum merekah terukir di bibir manis Athar mendengar pujian dari sang pujaan hati. Ia menarik salah satu kursi, lalu didudukinya. Tak disangka Athar menarik Ning hingga ia duduk di pangkuannya.
“Ih, tuan om mau ngapain sih? Kayak naik angkot yang penuh aja, aku pakai dipangku segala….”
“Aku ingin terus dekat- dekat dengan mu, saying….”
“Lebay!!” ejek Ning kesal.
“Kau yang membuat ku seperti ini, sayang….”
“Udah ih lepasin, aku mau duduk di kursi itu….” Ning menunjuk kursi sebelah mereka.
“Duduk di sini… jangan membantah….” ucapannya lembut namun terdengar penuh ketegasan.
“Ih, gak enak ah duduk kayak gini… Gimana kalau dilihat sama Pak Riko? Tadi aja aku malu banget….”
“Riko sedang di ruang kerja… Lagi pula dia tidak suka usil….”
“Ahh, lepasin… Aku ini bau loh, belum mandi….”
“Maka dari itu kamu duduk dipangkuan ku saja, biar ketularan wangi dari ku…..”
“Ck….” Ning berdecik kesal, ia hanya bisa pasrah menuruti Athar.
“Ambilkan makanan nya dan____”
“Dan apa?” tanya Ning mendelik.
__ADS_1
“Suapi aku….” Athar tersenyum manis.
“Ih… apaan sih, udah tuir juga manja banget!!”
“Kamu yang membuat ku seperti ini, sayang….”
Ning mendengus pasrah. Jika ia terus mengajak debat, keburu pingsan karena kelaparan. Ia pun menuruti semua kemauan tambatan hatinya. Mereka pun makan sepiring berdua, satu sendok satu garpu.
Mungkin dari sana-nya ingin romantis, tapi malah Ning terlihat kerepotan. Bagaimana tidak, ia menyuapkan makan ke mulutnya, kemudian menyuapkan lagi untuk Athar. Sudah seperti seorang ibu yang sedang menyuapi anak balitanya. Meskipun awalnya kesal, namun Ning terlihat senang makan seperti itu.
“Aku numpang mandi ya….” ucap Ning yang baru selesai mencuci peralatan bekas makan mereka. Ia pun pergi dengan membawa pakaian ganti yang tadi dibawakan oleh Riko. Athar bangkit dan beranjak pergi meninggalkan meja makan.
Ning masuk ke dalam kamar Athar, dan tak disangka Athar membuntutinya di belakang hingga Ning sampai di depan kamar mandi.
“Tuan om mau ngapain? Kok ngikutin aku?” ucap Ning yang baru menyadari keberadaan Athar saat ia hendak masuk ke kamar mandi.
“Nganterin kamu ke dalam….”
“Hei, jangan macam- macam ya!!”
“Aku hanya takut kamu kesembur air panas lagi seperti waktu itu, sayang….” Ia teringat saat dulu pertama kali membawa Ning ke apartment-nya.
“Ya gak akan lah, orang aku sudah tahu caranya… Kan kamar mandi di rumah ku juga ada water heater-nya….”
“Ok… Tapi ingat ya, di sini tidak ada gayung….”
“Iya.” Ning menatap kesal dan masuk.
“Handuknya ada di____”
“Aku tahu….”
Blam
Ning langsung menutup pintu kamar mandi dan mengunci nya. Athar pun beranjak pergi.
Selang beberapa saat, Ning yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, bersolek di depan cermin besar di kamar Athar. Raut kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. Sepertinya ia masih belum percaya jika dirinya dan Athar bisa sampai bersama seperti ini. Ia pun beranjak keluar dari kamar.
“Loh, kok gak ada siapa- siapa?” gumam Ning saat ia kembali ke ruang tamu. Ia tak menemukan Athar atau pun Riko, melainkan hanya sebuah koper yang berdiri di belakang sofa. “Kemana dia?” ucapnya bertanya- tanya.
Ia pergi ke dapur untuk mencari keberadaan pujaan hatinya, namun tak menemukannya. Saat ia berjalan, terdengar suara dari sebuah ruangan yang merupakan ruang kerja Athar.
“Hmm, ternyata mereka di sana,” Ning berdialog sendiri.
“Kenapa tidak bisa diwakilkan? Bukankah Edward juga bagian dalam projects dan mereka tahu jika Edward orang kepercayaan kita….” Terdengar suara Athar bicara dengan nada tinggi, sampai Ning bisa mendengar jelas dari balik pintu.
“Sir Rudolf meminta anda menangani langsung projects ini, Pak… Jika tidak, project- nya tidak akan dimulai, bahkan beliau mengatakan akan membatalkan kontrak dengan perusahaan kita secara sepihak,” itu suara Riko.
“Shit !! Damn it!!” Athar terdengar kesal dan marah.
“Anda tahu sendiri jika itu akan berakibat fatal bagi perusahaan, Pak….”
“Lantas?”
“Mau tidak mau anda harus kembali malam ini ke London?”
Deg
“Apa? Dia akan kembali ke London malam ini? Apa dia akan meninggalkan ku lagi seperti dulu?” gumamnya dalam hati, kegelisahan mulai melanda. Ia berdiri mematung dengan menundukkan kepala di depan pintu ruang kerja Athar.
Ceklek …
“Ning… sejak kapan kamu di sini?” tanya Athar yang terkejut melihat keberadaan Ning di saat ia baru membuka pintunya. Namun tak ada sahutan dari Ning. “Hei, kamu kenapa?” Athar menyentuh dagu Ning, mengangkatnya hingga ia bisa melihat wajah Ning. “Kenapa, hem?” tanyanya saat melihat raut sedih di wajah Ning.
“Jadi kau akan pergi meninggalkan ku lagi?”
Deg
“Kamu mendengar semuanya?” tanya Athar terkejut.
Ning memalingkan wajah menghindari tatapan Athar. “Pembohong!!” decihnya pelan.
Athar menghela nafas. Kedua tangannya diangkat, lalu memegang lengan bahu Ning. “Sayang… maafkan aku… Malam ini harus kembali ke London… Ada hal yang sangat penting yang harus ku urus, dan ini tidak bisa diwakilkan….”
Ning menghempaskan tangan Athar, ia berbalik melangkahkan kakinya. Athar yang melihat raut kekecewaan di wajah Ning, mengikutinya dari belakang.
“Sayang…” panggilnya, namun tak digubris oleh Ning. Ia mengambil tas dan berjalan menuju pintu. Athar mempercepat langkahnya, hingga ia sampai lebih dulu di depan pintu untuk menghalangi Ning.
“Minggir!! Aku mau pulang….” Bentaknya sembari menghapus jejak air mata. Entah sejak kapan bulir bening itu keluar dari bibir matanya.
“Aku tidak akan membiarkan mu pergi,”
“Untuk apa? Agar bisa lebih menyakitiku, hah?!”
“Sayang, dengarkan aku dulu____”
“Aku tidak mau mendengar omong kosong mu lagi!! Kalau kau ingin pergi, pergi saja sana… Gak usah pedulikan aku… Gak usah kembali sekalian!!” bentaknya terisak.
Grep
Athar langsung mendekap tubuh Ning dan membawa kekasih hatinya itu ke dalam pelukannya.
“Lepas!! Lepaskan aku!!” Ning berontak minta dilepaskan, namun Athar semakin mengeratkan pelukannya. “Lepaskan aku… Hiks hiks hiks….”
“Ssssttt… jangan menangis… Kenapa sekarang kamu jadi cengeng, hem?” ucapnya dengan nada lembut. Tangannya membelai rambut panjang Ning yang terurai.
Ning yang masih terisak tak menjawab Athar. Walau sebenarnya ia ingin Athar tahu, jika dirinya sangat takut kehilangan dia. Satu hal yang kini ia sadari, jika ia sangat mencintai Athar dan takut ditinggal pergi lagi.
Perlahan Athar melepaskan pelukannya saat Ning nampak sudah tenang. “Nona galak ku kenapa sekarang jadi cengeng? Gak capek dari kemarin nangis terus, hem?”
“Habisnya, tuan om udah janji gak akan pergi ninggalin aku… Tapi nyatanya, sekarang malah mau pergi….” Ucapnya yang sudah berhenti menangis, namun ia menundukkan kepalanya.
Athar menghela nafas panjang. Kedua tangannya mengusap lembut lengan bahu Ning.
“Dengar, sebelumnya aku memang sudah menjadwalkan keberangkatan ku malam ini ke London… Tapi setelah pembicaraan kita semalam, aku memutuskan untuk menunda keberangkatan ku agar bisa pergi membawa mu….” Ucapannya terjeda saat manik Ning menatap dirinya.
“Dan tadi Riko mendapat kabar dari orang kepercayaan ku di kantor, dia bilang ada urusan penting di perusahan yang tak bisa diwakilkan pada siapa pun… Jadi terpaksa aku harus pergi….”
Ning diam tak menjawab, ia menoleh kesamping menghindari tatapan Athar. Ia menarik lembut tangan Ning dan ditempelkannya telapak tangan itu di dadanya.
“Sayang, di sini hanya ada kamu… Hanya ada nama Ningrat Atisaya, tidak ada yang lain… Hanya kamu wanita satu- satunya yang bisa membuat ku jatuh cinta lagi setelah sekian lama hati ini membatu….”
__ADS_1
“Gombal….”
“Hehehe … Itu kenyataannya, sayang….”
“Kalau sayang sama aku, kenapa pergi meninggalkan ku? Nomor ku juga diblokir kan?”
“Kan aku sudah katakan alasan kepergian ku setahun yang lalu… Aku tak pernah memblokir nomor mu… Handphone lama ku jatuh ke laut saat aku minum… Aku tidak ingat alamat email dan password-nya, karena sudah lama….”
“Bohong!! Mustahil lupa alamat email, zaman sekarang kan kalau surat menyurat melalui email….”
“Di handphone itu ada dua alamat email, yang satu email pribadi dan yang satu untuk pekerjaan... karena sudah lama, jadi lupa… Kalau gak percaya tanya saja sama Riko….”
“Sama aja bohong!!”
“Hahaha… aku beneran tidak bohong, sayang… Aku pergi ke London hanya sebentar, dan akan kembali setelah urusan ku selesai untuk menjemput mu….”
“Janji?” Ning mengacungkan jari kelingking pada Athar untuk membuat janji.
“Hahaha… Kau seperti Nana saja pakai janji kelingking segala….” Athar tertawa dengan renyahnya.
“Janji dulu….” bentak Ning.
“Iya iya iya, aku janji….” Ia pun mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Ning.
“Jangan nakal di sana?” ucap Ning tegas.
“Iya.”
“Jangan jelalatan sama bule cantik dan seksay.”
“Iya, sayang….”
“Jangan mabuk- mabukkan lagi,”
“Iya.”
“Jangan selingkuh!!”
“Hahahahaha… kamu sangat lucu dan menggemaskan, sayang….” Athar mencubit pipi Ning.
“Ish… malah ketawa…” decihnya sebal. "Udah punya niat selingkuh ya?” tanyanya curiga.
“Enggak… Aku kan sudah jadi selingkuhan mu…. Hahahaha….” Athar kembali tertawa.
“Ish….”
Tiba- tiba ponsel Athar berdering disertai getaran. “Bu Asri telpon… Sebentar aku angkat dulu….” ucapnya berjalan tiga langkah menjauh dari Ning, lalu menerima panggilan dari Bu Asri. Sementara Ning tetap berdiri di tempat yang sama memperhatikan Athar.
Ning menghampiri Athar saat melihat ia menyudahi panggilan teleponnya. “Nana kenapa?” tanya Ning Nampak cemas, karena ia meninggalkan Nana yang masih sakit dan belum bangun.
Athar menggeleng. “Bukan Nana tapi Singgih….” ucapnya lalu mendengus kesal.
“Mas Igih kenapa?” Ning terlihat cemas.
“Ibu bilang sampai sekarang nomornya masih tidak aktif… Ibu khawatir dan meminta bantuan ku untuk mencarinya ke rumah Singgih… Karena setiap tanggal ini, dia_____”
“Dia kenapa?” Ning yang penasaran memotong ucapan Athar.
“Sudahlah, aku pergi dulu sebentar….” Ucapnya lalu menyambar kunci mobil yang ia letakan di atas meja.
“Aku ikut….” pinta Ning.
“Untuk apa? Kau merindukannya?” Athar menatap tak suka.
“Bukankah tuan om sendiri yang meminta ku mengembalikan cincin pada pemiliknya?”
“Baiklah….” ucapnya tersenyum.
Keduanya pun beranjak pergi ke rumah Singgih. Dan setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mobil yang dikendarai Athar tiba di depan rumah Singgih.
“Jadi di sini rumahnya Mas Igih?” ucap Ning saat memperhatikan rumah tipe 45 yang baru diketahui alamatnya itu.
“Ya… Dia membeli rumah ini setelah menikah dengan adikku….”
“Kayaknya sepi, mungkin dia tidak ada di rumah,” ucap Ning saat keduanya sudah berada di teras dan beberapa kali mengetuk taka da sahutan dari dalam.
Athar mengangkat meja yang berada diantara kursi di teras, kemudian ia menemukan sesuatu di bawah meja tersebut. Ia menggeserkan nya menggunakan kaki, lalu mengambilnya setelah melepaskan tangannya dari meja bundar kecil tersebut.
“Apa itu?” tanya Ning heran.
“Kunci rumah ini lah….” Ucapnya lalu memasukan kunci itu pada lubang pintu.
“Kok bisa tahu ada di situ?” Ning semakin heran.
Ceklek
Pintu pun terbuka. “Ayok kita masuk….” Ajaknya tanpa menjawab pertanyaan Ning. Keduanya pun masuk ke dalam rumah yang terlihat bersih dan rapi itu.
“Gih… Singgih….” panggil Athar namun tak ada sahutan. Ia mencari keberadaan Singgih ke setiap sudut ruangan di rumah itu, kecuali kamar depan karena terkunci. Namun mereka masih tak menemukan keberadaan Singgih.
“Apa Mas Igih ada di dalam?” tanya Ning saat keduanya berdiri di depan sebuah pintu kamar yang masih terkunci. Athar mengetuk, hingga menggedor pun tak kunjung ada sahutan.
Karena keduanya merasa khawatir, akhirnya Athar mendobrak pintu kamar itu.
Satu
Dua
Tiga, dan brakkk … pintu pun terbuka. Ning membekap mulutnya sendiri, karena terkejut melihat pemandangan di dalam kamar itu.
“Kau benar- benar tidak waras, Singgih!!” Athar pun ikut terkejut melihatnya.
-------------- TBC--------------
*************************
-
-
Happy Reading….
__ADS_1