
“Dok, bagaimana keadaan kak Ros?” tanya Singgih saat dokter baru saja selesai memeriksa keadaan Rosmala di Ruang UGD.
“Tensi nya cukup tinggi, 160/90… Apa pasien memiliki riwayat darah tinggi? Atau mengalami shock?” tanya dokter.
“Tadi Nyonya Ros menangis histeris karena teringat pada putranya yang sudah meninggal, Dok….” Ucap Ning menjawab pertanyaan dokter.
“Setahu saya Kak Rosmala tidak punya riwayat darah tinggi, Dok… Malah biasanya tekanan darahnya rendah cenderung normal….” Singgih pun ikut menjawab.
“Oh begitu ya… Setelah pasien sadar, suter akan memberikan obat penurun tekanan darah… Dan setelah keadaan pasien membaik, baru boleh pulang….”
“Terimakasih, Dok….” ucap Singgih yang kemudian masuk ke balik tirai pembatas di ruang UGD untuk menghampiri Rosmala yang terbaring masih tak sadarkan diri. Ning pun ikut masuk.
“Dino… Dino….” Rosmala mengigau dengan mata masih terpejam.
“Kak, Kak Rosmala….” Singgih mengajaknya bicara untuk membangunkan Rosmala.
Rosmala tersadar dan perlahan membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya. “Em, dimana ini, Gih?” ucapnya nampak terlihat lemas dengan suara parau.
“Di Rumah sakit… Tadi kak Ros pingsan….” ucap Singgih.
“Engh, saya mau pulang, Gih….” Ucapnya hendak bangun.
“Kak Ros kalau masih pusing, berbaring saja dulu… Sebentar lagi juga Bang Aufar datang… Tadi saya sudah mengabarinya….” ucap Singgih.
“Saya gak apa- apa, kok…. Tas saya mana?” tanyanya memaksakan bangun, kemudian duduk.
“Ini tasnya, Nyonya Ros….” ucap Ning memberikan tas Rosmala, kemudian mengambil air mineral dari kantong kresek yang di letakan di atas kursi. Ia membuka tutup botolnya lalu menyodorkannya pada Rosmala. “Sebaiknya nyonya minum dulu….”
“Terimaksih Ning….” ia lalu meminumnya.
“Sebentar, aku ke perawat dulu mengambil obat….” ucap Singgih, lalu beranjak pergi.
Rosmala yang masih terlihat pusing, memijat kepalanya. Ia lalu membuka tas dan mengambil sesuatu dari dalamnya.
“Ning… sebelum Dino meninggal, ia menitipkan ini untuk mu… Maaf, saya baru bisa memberikannya, saya kelupaan dan baru ingat kemarin saat membersihkan barang- barang di kamar Dino….” Ucapnya memberikan sebuah amplop coklat bertuliskan nama Ning.
“Apa ini?” Ning menerimanya walau merasa bingung.
“Sepertinya surat….” Ucap Rosmala.
“Tapi______”
“Singgih, dimana Ros? Bagaimana keadaanya?” terdengar suara seseorang tak jauh dari balik tirai. Ning tak melanjutkan ucapannya, ia segera memasukan amplop tersebut ke dalam tas nya.
“Sayang… kamu kenapa? Singgih bilang kamu pingsan di tempat pemakaman keluarga….” Ucapnya yang tiba tiba masuk menghampiri Rosmala dan terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan Ros. Ning melangkah perlahan untuk keluar.
“Mama gak apa- apa, Pa… Cuma inget Dino aja, kok….” Ucapnya dengan tersenyum.
“Gak apa- apa gimana? Mata mu sembab begitu, sampai pingsan dan di bawa ke sini….”
“Mama benaran gak apa-apa, cuman inget Dino aja….”
“Lain kali kalau mau makam Dino, kita barengan ke sana… Jangan pergi sendiri lagi seperti tadi….”
“Pah, mama mau pulang ya....” pintanya pada sang suami.
“Nanti setelah dokter memperbolehkannya….” Ucap Aufar.
Smentara di luar tirai Singgih menghampiri Ning.
“Tunggu sebentar, aku ngasih obat ini dulu sekalian pamit ke Bang Aufar dan kak Ros….” Ucap Singgih pada Ning yang berdiri di luar tirai.
“Kalau gitu, aku nunggu di luar ya, Mas….”
“Iya….”
Singgih kemudian masuk untuk memberikan obat, dan tak lama ia pun keluar lagi. Ia menghampiri Ning yang sudah berada di luar ruang UGD.
“Kamu tunggu di sini saja, aku ke parkiran dulu ngambil mobil….”
“Iya. Mas….”
“Papa….” Tiba- tiba terdengar teriakan anak kecil yang berlari menuju ke arah Ning dan Singgih.
“Loh, kamu siapa ke sini, sayang?” tanya Singgih heran yang mendapati putrinya tiba- tiba muncul seorang diri.
“Sama Oma sama Om Ofar… tuh oma nya….” Nana menunjuk ke arah wanita yang tengah berjalan menghampirinya.
“Nana sayang, jangan suka lari- larian gitu, dong… Oma kan sudah tua, tidak bisa mengejar mu….” ucap Oma nya yang Ning kenal sebagai Nyonya besar Sahulekha.
“Loh, Mami datang ke sini juga?” tanya Singgih heran, Ning terlihat lebih heran lagi.
“Hah? Sejak kapan Nyonya besar menganggap Nana cucunya… Bukannya dulu dia tak pernah memperdulikan keberadaan Nana? Gumam Ning dalam hati penuh tanda tanya.
“Tentu saja Mami datang ke sini… Mami mengkhawatirkan keadaan Ros….” Ucapnya lalu menoleh ke arah Ning. “Gih, kamu datang bersama dia?” tanyanya menatap heran.
“Iy iya, Mami….” ucap Singgih gelagapan.
__ADS_1
“Selamat siang, Nyonya besar….” Sapa Ning.
“Hmm, siang… Sudah lama ya kita tidak bertemu….” Ucapnya lalu tersenyum ketir.
“Iy iya, Nyonya… eng, maaf saya arus segera pergi, permisi….” Ning yang masih terkejut memilih pamit pergi, sebelum ia mendengarkan ucapan Nyonya besar yang akan menyakiti perasaannya, terlebih lagi ia takut jika beliau akan mengungkit soal Athar dan dirinya.
“Ning, tunggu….” Singgih yang merasa serba salah antara tetap di sana dan mengantarkan mantan mertuanya, atau mengejar Ning yang berlalu begitu saja.
“Kamu kejar dia saja, Gih… Mami mau masuk melihat keadaan Ros….” Ucap Nyonya besar seolah paham apa yang ingin dilakukan Singgih.
“Oma, Nana mau ikut sama Papa….” Pinta Nana.
“Iya sayang…. Sini peluk cium oma dulu….” Ucapnya berjongkok dan merentangkan tangan. Nana pun dengan segera memeluk serta mencium pipi oma nya itu.
“Kami pulang dulu Mami … Saya minta maaf tidak bisa mengantarkan mami ke dalam….” Singgih nampak merasa tak enak hati.
“Tidak masalah… sepertinya ada hal yang lebih penting yang harus kamu urus,” ucapnya tersenyum.
“Assalamualaikum, Oma….” Ucap Nana usai mencium tangan oma nya.
“Wa’alaikumsalam… Hati- hati ya, sayang….”
Singgih menggendong Nana dan segera mengejar Ning yang terlihat berjalan menuju pintu gerbang rumah sakit. Singgih berteriak memanggil Ning agar menghentikan langkahnya, begitu pun dengan Nana. Ia pun berhenti.
“Ning, kamu tunggu dulu di sini sama Nana… Aku ambil mobil dulu….” Ucapnya lalu menurunkan Nana, agar Ning tidak nekad pulang sendiri. Ia pun menuruti perkataan Singgih, karena tak tega melihat Nana yang memeluknya.
*
Ketiganya kini sedang dalam perjalanan menyusuri jalanan perkotaan yang ramai lancar.
“Loh, Mas… kita mau kemana?” tanya Ning saat mobil yang dikemudikan oleh Singgih berbeluk ke sebuah restoran.
“Ini sudah jam setengah tiga, dan kamu belum makan, kan? Jadi sebelum pulang, kita makan dulu….”
“Eh, iya ya… Pantesan perutku terasa lapar, hehehe….”
Ketiganya pun turun dari mobil yang sudah diparkirkan, lalu masuk ke dalam restoran tersebut dan makan di sana.
Usai makan bersama, mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang. Ning duduk di depan, sebelah jok pengemudi, sementara Nana duduk di jok belakang.
Saat baru menempuh setengah perjalanan, Nana berdiri di tengah belakang dashboard yang terdapat rem tangan mobil, karena melihat sesuatu dari kejauhan yang menarik hatinya.
“Papa… papa… kita ke sana yuk… Nana mau main dulu,” ucap Nana menunjuk ke sebuah benda bundar yang berputar naik ke atas yang terlihat dari kejauhan itu.
“Baiklah tuan putri… tapi kamu harus tanya dulu sama orang yang duduk di sebelah sana….” Ucap Singgih melirik pada Ning.
Ning yang terlihat sibuk dengan ponsel nya, menoleh pada Nana dan hanya mengangguk juga tersenyum sebagai tanda setuju. Ia kembali fokus ke layar ponselnya dan membalas beberapa chat yang masuk. Karena sejak beberapa jam lalu ia terpaksa meninggalkan pekerjaannya.
“Hore hore hore….” Nana bersorak gembira, Singgih pun melajukan mobil ke tempat tersebut.
“Papa… Nana mau naik biang lala, sama kuda, sama, kapal, sama kereta, sama beli permen kapas….” Nana yang begitu senang, tak berhenti mengoceh pada papa nya yang sedang menyetir.
Deg…
Ning yang mendengar ocehan Nana, segera menghentikan jemarinya yang masih mengetik pesan. Dadanya mulai bedegup kencang. Ia mengarahkan pandangannya ke depan, dan ternyata mobilnya sudah di mendekati area pasar malam yang baru buka.
Singgih mengentikan mobil sejenak di pinggir jalan, ia melihat- lihat sekeliling untuk mencari tempat parkir.
“Aaaaaaakkkkkk…. Aaaakkkk….” Ning tiba- tiba berteriak. Kedua tangannya menutup telinga dan ia memejamkan matanya. “Aaaaaakkk…. Aaaaakkkk….” Ning terus berteriak histeris.
“Ning… Ning kamu kenapa?” Singgih terkejut melihat Ning histeris seperti itu. “Ning… Ning kamu kenapa?” Singgih kembali bertanya, ia menyentuh bahu Ning.
“Jangan… Jangan kesini… Bawa aku pulang… Aku gak mau di sini….aaaaakkkk… huaaaaa…..” Ning semakin histeris, hingga ia menangis ketakutan.
“Kakak peri kenapa? Huaaaaaa….” Nana yang terkejut pun tiba- tiba menangis, ia nampak ketakutan melihat Ning histeris seperti itu.
“Sayang, kamu jangan nangis ya….” Singgih yang terlihat panik melihat Ning yang histeris serta putrinya ikut menangis. Ia menggendong Nana dan mendudukannya di pangkuannya dengan posisi memeluk tubuhnya.
“Huaaaa…. Aku mau pulang… jangan di sini…. huaaaa….” Ning yang masih memejamkan mata serta menutup telinganya kembali berteriak sambil menangis histeris.
“Iya iya, Ning… Tolong tenangkan diri mu … Lihatlah, Nana jadi jadi ketakutan seperti ini, Ning….” ucap Singgih yang semakin panik.
“Aku mau pulang…. Aku mau pulang, hhuhuhuhu….” Ning tak mengubris perkataan Singgih dan terus beteriak.
“Iya iya kita akan pulang….” Ucapnya lalu dengan mengusap- usap kepala putrinya. “Sayang, kamu jangan nangis ya… kita pulang saja ya, nanti lagi mainnya….” Ucap Singgih menenangkan putrinya.
Ia melajukan kembali mobilnya meninggalkan pasar malam tersebut dan segera mengantarkan Nong pulang.
Saat Ning mengetahui mobilnya melaju, seketika ia berhenti berteriak. Nafasnya terdengar berat, ngos- ngosan seperti habis lari maraton. Wajahnya terlihat pucat dan keringat pun bercucuran membasahi wajahnya bercampur dengan air mata.
Ia menatap kaca pintu mobil dengan tatapan kosong. Wajah orang tuanya terbayang jelas di kepalanya, hingga membuatnya tak bisa menghentikan air mata yang terus bercucuran. Ia tak sanggup untuk berucap. Ia pum memejamkan matanya.
“Menangislah, jika itu akan membuat mu tenang… Aku janji akan selalu berada di dekat mu untuk melindungi mu….” Ucapan itu terngiang di kepala Ning, seolah Athar sedang berbisik di telinganya. Karena itulah yang pernah diucapkan oleh Athar saat Ning merasa ketakutan.
Ning membuka matanya dan meletakan telapak tangan di dadanya dengan air mata masih bercucuran. Kini yang terbayang hanyalah wajah Athar yang begitu dirindukannya, seolah ia sedang berada seorang diri di sana. Bahkan suara isak tangis Nana pun tak masuk ke telinganya.
Perlahan ia mulai tenang dan saat kembali tersadar ia melihat halaman rumahnya.
__ADS_1
Ning langsung membuka pintu saat mobil itu baru berhenti. Dengan segera ia keluar dan berlari memasuki rumahnya tanpa bicara sepatah kata pun. Sementara Singgih yang terlihat bingung dan cemas, terus menenangkan putrinya yang masih terisak.
“Sudah sayang… kita sudah sampai rumah kak Ning… Kita turun ya….” ucapnya mengusap- usap pucuk kepala putrinya yang membenamkan wajah di dadanya.
“Gak mau… Nana takut… hiks hiks,” ucapnya tersedu- sedu sembari menggelengkan kepala.
“Gak apa-apa sayang… Mungkin kakak Ning takut sama badut yang ada di pasar malam tadi, makanya dia nangis… Udah ya sayang ya, kita turun dulu ….” Singgih kembali membujuk.
“Gak mau… hiks …”Nana tetap tak mau turun.
“Oh, jadi Nana udah gak sayang lagi sama kak Ning nih ceritanya?” ucap Singgih yang masih membujuk.
“Sa- yang, hiks hiks….”
“Kalau sayang, Nana berhenti nangis ya… Papa mau periksa keadaannya kak Ning, Papa kan dokter….”
Nana mengangguk dan menghentikan tangisannya. Singgih pun turun dengan hati- hati untuk menghindari agar kepala putrinya tak terbentur, karena Nana tak mau lepas dari pelukan papa nya itu.
Ia berjalan dengan menggendong putrinya masuk ke pekarangan rumah Ning. Baru saja sampai di depan pintu rumah yang terbuka, Ocha datang menghampirinya.
“Ning kenapa lagi, Pak Dokter?” tanya Ocha memperlihatkan raut wajah tak senang yang berdiri di gawang pintu. Bagaimana tidak, setelah tadi siang melihat Ning menangis histeris di tempat pemakaman, kini ia melihat wajah sahabatnya sembab dan pucat.
“Saya juga tidak tahu… Ning tiba- tiba berteriak histeris dan menangis….”
“Hah? Masa iya Ning nangis tanpa sebab? Apa Pak Dokter sudah menyakitinya?” tanya Ocha menyelidik.
“Saya tidak merasa menyakitinya… Tadi dia baik- baik saja, saya juga bingung… Nana saja sampai menangis ketakutan melihat Ning berteriak histeris dalam mobil tadi….”
“Berteriak histeris? Memangnya Pak Dokter membawa Ning kemana?” tanya Ocha penasaran.
“Tadi di perjalanan, Nana melihat ada biang lala dari kejauhan… Nana ingin ke sana dan saya pun memenuhi permintaan Nana atas persetujuan Ning….”
“Apa? Bianglala? Berarti Pak Dokter membawa Ning ke pasar malam?” Ocha nampak terkejut.
“Iya, kebetulan pasar malam nya baru buka….”
“Ya ampun… pantesan aja dia kayak gitu….” Ocha kini tahu penyebab Ning menangis histeris.
“Sekarang Ning dimana? Saya mau lihat keadaanya….” Singgih melihat- lihat ke arah dalam rumah.
“Jangan… Jangan dulu, Pak … sebaiknya Pak dokter dan Nana pulang saja….” Ocha memberi saran.
“Loh, kenapa? Kami sangat mengkhawatirkan keadaan Ning….”
“Percuma Pak, mau gedor- gedor pintu sampai jungkir balik atau di bom juga, Ning kalau lagi kayak gitu gak akan mau ketemu sama siapa pun… Biarkan dia menyendiri di kamarnya … Nanti juga kalau sudah tenang dan sadar, bakalan keluar sendiri….”
“Hah? Memangnya kenapa?”
“Saya kasih tahu ya Pak… Pak Dokter jangan pernah sekali pun membawa Ning ke tempat yang namanya pasar malam….” Ucap Ocha memperjelas kata pasar malam.
“Kenapa memangnya?” tanya Singgih heran.
“Ning itu trauma sama yang namanya pasar malam dan kegelapan apalagi disertai hujan petir….”
“Trauma?” Singgih kembali bertanya.
“Iya… Dulu bapak dan ibu tirinya meninggal karena kecelakaan saat baru pulang bersama Ning dari pasar malam… Beruntung Ning masih selamat… Tapi karena ia mengalami hal itu dan melihat dengan mata kepalanya sendiri Bapaknya meninggal dengan penuh darah di kepalanya, hal itu meninggalkan trauma mendalam untuk Ning….” Ocha menjelaskan penyebab trauma Ning.
“Ya ampun… ternyata seperti itu… Saya minta maaf, karena saya benar- benar tidak tahu soal itu….” ucap Singgih menyesal.
“Iya gak apa- apa, sekarang kan sudah tahu… Jadi sebaiknya Pak Dokter pulang saja… Saya minta maaf, bukan maksud mengusir… Saya kenal betul dengan sahabat saya itu, dan lagi kasihan tuh Nana kayaknya masih takut juga ketemu sama Ning….”
“Baiklah, kalau begitu kami plang dulu … Tapi, kalau ada apa-apa tolong segera hubungi saya ya….” ucap Singgih.
“Iya, Pak… sekali lagi saya minta maaf… Kalau bisa dalam dua atau tiga hari jangan menghubungi atau menemui Ning dulu….”
“Baiklah, saya mengerti… Kal begitu saya permisi… Assalamualaikum….”
“Wa’alaikumsalam… hati- hati, pak….”
Dengan berat hati Singgih pun beranjak pergi. Ia dan putrinya kembali masuk ke dalam mobil, kemudian ia melajukan mobilnya itu.
Ocha menutup pintu, ia lalu menyalakan televisi dan duduk untuk menonton sembari menunggu Ning keluar dari kamarnya.
*
Sepanjang perjalanan Singgih terus memikirkan hal yang baru diketahuinya tentang Ning. Sesekali ia melirik putrinya yang tertidur lelap di jok sebelahnya.
“Ternyata Ning memiliki trauma mendalam dari masa lalu nya, seperti yang ku alami setelah kepergian Bapak dan Diandra….” gumamnya dalam hati.
-------------TBC------------
***********************
-
-
__ADS_1
Happy Reading….