NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Si Akung Duda Perfecto


__ADS_3

“Kakak Dinosour, hiks hiks ….” sapa Nana dengan terisak, meski awalnya ia sempat tersenyum di sela tangisannya.


“Pegang ini ….” Dino memberikan boneka beruang besar itu pada Ning dengan melemparkannya. Ning yang terlihat kecewa langsung menangkapnya.


“Kenapa bukan dia?” lirih Ning dalam hati.


“Dari tadi juga gak ada pesan ku yang dibalasnya,” batinnya .


Walau merasa kecewa, namun Ning tetap tersenyum, karena Nana sudah berhenti menangis dan terlihat begitu senang dengan kehadiran Dino. Nana yang kini berada di pangkuan Dino, mulai makan permen kapas yang sudah dibuka oleh Dino.


“Nana sayang … Papa minta maaf karena datang terlambat ….” Tiba- tiba Singgih datang menghampiri dengan nafas ngos- ngosan. Namun Nana mengacuhkannya dan malah menyuapi permen kapas pada Dino.


“Wah, ada Kak Dino ternyata, " ucap Singgih yang merasa heran, namun Nana masih tak memperdulikan nya. Dino pun hanya tersenyum simpul.


“Pak Singgih gak telat kok … Acara perlombaannya belum di mulai … Sebaiknya Pak Singgih minum dulu, kayaknya abis lari maraton ya ….” ucap Ning memberikan sebotol air mineral yang masih utuh.


“Terimakasih … Tadi saya lari dari parkiran, soalnya agak jauh parkirnya karena penuh ….” Ucap Singgih yang kemudian meneguk air mineral yang diberikan Ning.


Baru saja Singgih selesai minum, ada pengumuman untuk para murid dan ayahnya agar berkumpul di area yang sudah ditentukan.


“Ayok, sayang … Kita pergi ke sana … Bu Guru nya sudah memanggil semua peserta … Nanti setelah selesai perlombaannya, Nana bisa main lagi sama kak Dino ….” ajaknya mengulurkan tangannya.


“Gak mau … Nana mau di sini saja sama Kakak Dinosour dan Kaka Peri ….” tolak Nana dengan jutek.


“Loh, Kok Nana bicara gitu … sejak kemarin kemarin Nana kan sudah menantikan hari ini karena mau ikutan lomba sama Papa ….” Ning turut membujuk Nana.


“Papa jahat!! Papa gak sayang Nana!!” protes Nana yang masih kesal pada papa-nya.


“Oh … jadi Nana gak mau ikutan lomba nih ceritanya … Nanti temen Nana yang suka jahil itu menang dong dan bakal ngetawain Nana karena gak ikutan ….” Ning kembali membujuk Nana.


Nana terdiam, ia nampak berpikir dengan membelakan matanya.


"Gak boleh … Nana mau ikut lomba….” Nana pun berhasil dibujuk.


“Anak pintar … Ayok, kita segera berkumpul dengan yang lainnya … Nanti kalau terlambat gak bisa ikutan lomba nya …” Singgih mengangkat Nana dan menggendongnya, meski putrinya itu masih terlihat ngambek padanya.


“Kami ke sana dulu ya, Dino … terimakasih sudah datang dan menemani Nana,” ucapnya berterimakasih.


“Sama- sama, Om ….”


“Kakak, boneka besar itu untuk kakak peri?” tanya Nana pada Dino.


“Bukan, itu hadiah untuk Nana dong … Supaya Nana semangat ikut lombanya ….” ucap Dino.


“Hore hore hore ….” Nana bersorak kegirangan.


“Kalau dikasih sesuatu sama orang, Nana harus bilang apa coba?” Singgih mengingatkan sang putri.


“Terimakasih kakak Dino….” ucap Nana.


“Sama- sama, peri cantik ….”


“Sekali lagi terimakasih Dino … kami pergi dulu, ya, " ucap Singgih.


“Iya, Om ….”


Singgih membawa Nana pergi menuju tempat berkumpulnya para murid dan orang tua mereka. Tapi Nana masih menampakkan wajah kesal nya dan terus cemberut.


“Udah dong sayang … Jangan ngambek gitu … Papa minta maaf karena gak bisa datang bareng Nana ke sini … Tapi sekarang papa sudah datang dan belum terlambat,kan?” bujuk Singgih sembari berjalan, namun Nana tetap cemberut dan tak merespon.


“Inget loh sayang, kita kan harus kompak supaya bisa menang lombanya ya … Memangnya Nana anak papa yang paling cantik ini mau kalah sebelum bertanding, hem?” Singgih berbisik untuk kembali membujuk sang putri dan ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


“Tapi nanti pulangnya beli es krim asap dan kebab di taman,” ucap Nana mengajukan permintaan sebagai syarat.


“Oh tentu saja … apa pun akan papa lakukan supaya Nana senang. "


“Yess ….” Nana pun akhirnya luluh dan tak cemberut lagi.


“Sun dulu dong Papa nya, biar semangat ….”


“Muach.” Nana yang sudah mencair pun mencium pipi kanan Singgih.


“Aduh, pipi Papa kok berat sebelah … Satu lagi dong sun nya ….”


“Muach.” Nana kembali mencium pipi Singgih, dan kini giliran sebelah kiri. Keduanya pun tersenyum bahagia dan bergabung dengan yang lainnya.


Sementara Ning dan Dino masih duduk di bawah pohon rindang di bangku yang sama.


“Hei, Dinosaurus … kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Ning heran.


“Loh, ini kan tempat umum … apa salahnya aku ke sini?”


“Bukannya, Tuan Om, eh tuan Athar bilang kalau kamu abis di rawat di rumah sakit? Kenapa sekarang malah keluyuran? " tanya Ning semakin heran.

__ADS_1


“Ck, itu hal biasa … Ini aku baik- baik saja dan bisa datang ke sini untuk menghadiri acara dari sekolah adik sepupu ku ….”


“Oh, jadi karena itu kau datang ke sini, " ucap Ning.


“Ya sekalian cari udara segar dan suasana asri aja ….”


“Oh ya, om mu itu kapan pulang?” Ning malah mengalihkan topik.


“Kau kan pacarnya … kenapa tanya pada ku?” bukannya menjawab, Dino malah balik bertanya.


“Kau kan keponakannya, pasti tahu dong?”


“Keponakan dan pacar pasti lebih dekat dengan pacar kan? Tanya saja sendiri ….” ucap Dino ketus.


“Iiiihh, ribet banget sih jadi orang!” Ning malah jadi kesal.


“Hei, yang sejak tadi ribet itu kau!! Jangan bilang kau tidak punya nomor kontak Om Athar ….” tanya Dino nampak curiga.


“Siapa bilang? Punya lah, tiap hari juga chatting-an dan telponan ….” ucap Ning dengan tangan yang menggaruk pinggangnya.


“Lantas … Kenapa kau menanyakan kepulangannya om Athar pada ku? Dasar aneh ….”


“Ck … bicara dengan mu memang selalu membuat ku kesal … Kau dan Om mu itu sama- sama menyebalkan!!” Ning menggerutu kesal.


“Memangnya dirimu itu menyenangkan?” Dino malah mengejek.


“Ouhhh … tentu saja. Kalau aku tidak menyenangkan, mana mungkin kau terus mendatangi ku.” Ning balik mengejek.


“Hei, aku datang kesini untuk Dayana ya, bukan untuk bertemu dengan mu!!” ucap Dino tegas.


“Halah … ngaku saja kalau kau merindukan ku, kan? Menemui Nana itu hanya alasan mu saja agar bisa bertemu dengan ku … Iya kan? Ngaku aja deh ….” goda Ning yang masih menggaruk pinggangnya.


“Cih … jangan terlalu percaya diri jadi orang … Untuk apa aku jauh- jauh datang kesini hanya bertemu dengan orang jorok seperti mu … Jangan mimpi!!”


“Hei, aku ini bukan orang yang jorok!!” Ning tak terima diejek.


“Itu buktinya dari tadi garuk- garuk mulu … Pasti tadi pagi kau tidak mandi kan!?”


“Ish … bicara dengan mu, lama- lama tekanan darah ku bisa naik … Minggir!!” Ning bergegas pergi meninggalkan Dino dengan membawa boneka besar serta tas Nana. Ia menabrak lengan Dino saat melewati Dino.


“Hei, kau mau kemana?” tanya Dino setengah berteriak.


“Bukan urusan mu!!” jawab Ning dengan ketus tanpa menoleh sedikit pun pada Dino. Ia berjalan menuju area acara perlombaan yang sudah di mulai.


“Dia pasti sedang mengumpati ku, hehehe ….” ucapnya terkekeh. Ia lalu beranjak pergi untuk kembali pulang, karena ia tak diizinkan pergi keluar terlalu lama.


Sepanjang jalan Ning tak hentinya menggerutu kesal sembari menggaruk pinggangnya yang masih terasa gatal. Ia lalu bergabung bersama para ibu- ibu yang menonton dan bersorak memberi semangat pada anak- anak mereka yang sedang mengikuti perlombaan. Ia pun menyemangati Nana dan Singgih.


*


Hari sudah siang, acara pun berakhir tepat pukul satu siang. Setelah pembagian hadiah bagi para pemenang serta pembagian snack dan nasi kotak, para murid dan orang tua dipersilahkan istirahat. Ada yang jalan- jalan sembari menyuapi anaknya, ada pula yang makan sembari duduk di tempat yang tersedia di sana.


Sementara Singgih meminta izin untuk pulang duluan, karena Nana terus menagih janjinya. Setelah dari mushala, Singgih membawa Ning dan Nana pergi dari tempat rekreasi itu.


“Wahh, Nana hebat ya … Bisa menang juara dua ….” Ning memuji Nana sembari menyuapinya makan di dalam mobil.


“Iya, papa juga hebat ….” ucap Nana usai menelan makanannya.


“Lebih hebat lagi kalau Nana makan ini sampai habis … aakkk,” Ning kembali menyuapi Nana.


“Dino kemana, Mbak?” tanya Singgih sambil menyetir.


“Tuan muda sudah pergi … sepertinya saat acara sedang berlangsung,” ucap Ning tak yakin.


“Oh, gitu ya … Mbak Ning yang ngasih tahu Dino tentang acara sekolah Nana?” Singgih kembali bertanya.


“Enggak, Pak … Saya gak pernah kontekan malah sama tuan muda … Emm, mungkin tuan muda tahu dari Pak Daniel ….”


“Bisa jadi ….”


“Yah, kaka dinosour gak bisa makan es krim asap sama Nana dong, " ucap Nana ikut nimbrung.


“Es krim asap?” tanya Ning heran.


“Iya, eskrim asap yang ada di taman ….”


“Jadi kita bukan mau pulang?” Ning baru mengetahui tempat tujuan mereka.


“Nana minta jajan es krim asap sama kebab yang ada di taman kota ... Katanya sebagai ganti karena tadi saya datang terlambat dan membuatnya kesal ….” ucap Singgih menjelaskan.


“Oh, gitu toh ….” angguk Ning baru paham.


“Mbak Ning sudah makan?” tanya Singgih.

__ADS_1


“Tadi sudah jajan sih, Pak ….”


“Kalau lapar, Mbak Ning makan saja nasi kotak yang satu lagi ….”


“Gak usah, Pak … terimakasih ….”


Ning melanjutkan menyuapi Nana sampai makanannya habis. Sepertinya anak itu benar- benar lapar setelah lelah mengikuti perlombaan. Bahkan usai meneguk minumnya, ia berbaring menyamping dengan menjadikan paha Ning sebagai bantalan dan tidur di sana.


Diusapnya kepala Nana dengan lembut, yang tentunya membuatnya tidur semakin nyaman dan lelap.


“Dia pasti sangat lelah ….”gumam Ning dalam hati.


“Oh ya ampun … Aku belum melapor sama si kudaniel ….” Ning kembali berdialog dalam hati. Ia lalu mengambil ponsel dari dalam tas nya dan segera membuka aplikasi WhatsApp.


“Loh, kok pesan ku yang dari tadi pagi gak ada satu pun yang dibalas? Padahal semua pesannya udah dibaca sama dia,” batin Ning heran.


“Ih, memangnya pesan ku ini koran apa, di baca doang dan gak dibalas … Dasar menyebalkan …. Lihat saja, aku tidak akan mengirim pesan lagi,” Ning menggerutu kesal dalam hati. Ia kembali memasukan ponsel ke dalam tas nya.


Selang beberapa saat, mobil yang dikendarai oleh Singgih sampai di parkiran taman kota. Nana yang baru bangun pun begitu bersemangat mengingat ia akan membeli makanan kesukaannya.


Ketiganya pun turun, dan Nana langsung mengajak Singgih ke tempat penjual es krim yang ia inginkan.


Singgih meninggalkan Nana dan Ning di tempat tersebut. Ia pergi menuju tempat penjual kebab yang hanya berjarak 10 meter dari penjual es krim, untuk mengantri di sana sebelum antriannya panjang.


“Kaka peri ayok kita ke Papa ….” ajak Nana menunjuk ke arah pedagang kebab kaki lima. Ning pun pergi ke sana bersama Nana dengan membawa dua cup eskrim yang sudah dibelinya.


Sembari menunggu antrian, Ning dan Nana duduk di kursi yang tersedia di sana, kebetulan tersisa dua kursi. Keduanya memperhatikan Singgih yang tengah mengantri bersama pembeli lainnya. Ning menyuapi es krim asap yang sudah dibeli oleh Nana.


“Sepertinya kakak pernah ke sini, deh ….” ucap Ning yang merasa tak asing dengan suasana antrean di sana.


“Kakak kan pernah sama papa di situ ….” Nana menunjuk ke arah antrian itu.


“Hah? Kapan kakak sama papa-nya Nana di situ?” tanya Ning terheran- heran.


“Emm, kemarin dulu ….” jawab Nana yang nampak bingung mengatakan perihal waktu.


“Hahaha … kemarin dulu itu kapan Nana?” Ning malah tertawa mendengar ucapan Nana.


“Emm, pokonya Kaka pernah sama papa di situ … Kaka peri tiba- tiba datang dan langsung berdiri di depan papa ….”ucap Nana dengan yakin.


“Oh ya … terus Nana dimana waktu itu?” tanya Ning.


“Nana di sini duduk sama nenek ….” Nana menunjuk kursi tempat duduknya. “Emm, waktu itu kakak peri pakai baju yellow ….”


“Baju yellow … baju kuning maksudnya?” tanya Ning memastikan.


“Iya ….” Nana mengangguk.


Ning mengingat- ingat sembari melihat ke arah antrian. Entah ia memandangi orang yang antri, atau hanya memandangi duda tampan yang menurutnya perfecto itu.


“Oh, iy iya … Kakak ingat sekarang … Dulu kakak pernah dikejar preman dan bersembunyi di balik antrian itu … Kalau gak salah kakak berdiri di depan pria jangkung yang gan____” Ning langsung ternganga, lalu membekap mulutnya sendiri.


“Ya ampun … jadi pria jangkung yang ganteng itu Pak Singgih???” gumam Ning dalam hati.


“Kok jauh banget sikapnya … perasaan dulu dia jutek banget ….”


“Eh tapi bener deh … pria ganteng yang tinggi dan Pak Singgih itu memang orang yang sama ….” gumam Ning dalam hati dengan terus memperhatikan Singgih.


“Pantesan aja, aku ngerasa pernah bertemu dengannya … Ternyata bertemu di sini toh sama si akung duda perfecto….” Batinnya lalu menganggukkan kepala dengan pelan.


“Ning … Ning …Ning ….” ucap seseorang lalu menepuk pundak Ning dan mampu membuyarkan lamunannya. Ia menoleh ke arah orang itu.


“Hah … Elo … Ngapain lo disini?” tanya Ning terkejut.


“Harusnya gue yang nanya sama lo … Ngapain lo ngelamun sendirian di sini?” tanyanya dengan nada ketus.


“Hah? Sendirian … enggak kok, gue bareng Na___” Ning melihat ke kursi sebelahnya yang ternyata sudah kosong.


“Loh Nana mana?” Ning baru menyadari ketidak beradaan Nana. Ia melihat kesana –kemari untuk mencarinya. Hingga pandanganya tertuju pada Singgih.


“Fiuhh ….” Ning bernafas lega saat mendapati Nana tengah digendong oleh Singgih yang masih mengantri.


Pletak ….


“Aww … sakit anjiir … Kenapa lo jitak kepala gue?” protes Ning sembari mengusap- usap kepalanya yang terasa sakit.


-


-----------------TBC----------------


***************************


Happy Reading ….

__ADS_1


__ADS_2