NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
KuDaniel Merangkak Main Kuda- Kudaan


__ADS_3

“Sial … Dasar pengganggu!!” umpatnya kesal, ia menghampiri si pembuka pintu dengan raut wajah kesal.


Sementara Ning yang terlihat salah tingkah karena kepergok sedang berpelukan dengan Athar, mengambil map serta goodie bag yang sempat dijatuhkannya ke lantai saat ia mendengar suara petir tadi. Ia menaruh kedua benda itu di atas meja.


“Lancang sekali kau!! masuk tanpa mengetuk pintu ….” hardik Athar pada sopirnya.


“Sa saya minta maaf, Pak … Saya pikir bapak sedang mandi ….” Sang sopir nampak takut dan menjawab dengan gelagapan.


“Alasan saja kau!!” bentaknya kesal.


“Sekali lagi saya minta maaf, Pak … Dan ini minuman pesanan Bapak ….” Sopirnya Athar memberikan kantong kresek dan Athar pun mengambil kantong kresek tersebut dengan kasar.


“Sudah sana pergi!!” Athar langsung mengusirnya.


“Baik, Pak … saya permisi ….” ucap sopir lalu hendak pergi.


“Pak sopir, tunggu!!” cegah Ning, ia menghampiri Athar dan sopir yang sedang bicara di ambang pintu.


“Iya kenapa, Ning?” sahut sopir itu.


“Kau panggil dia apa barusan? Apa kau tidak tahu siapa dia?” Athar langsung protes dengan tatapan tidak suka.


“Ma maaf, Pak … Saya lupa kalau nona Ning itu pacar Pak Daniel….”


“Panggil yang benar!!” titahnya dengan nada tegas.


“Iya nona Ning ada apa?” sopir itu kembali bicara pada Ning.


“Pak sopir di sini saja, di luar kan hujan … Biar saya buatkan teh panas atau kopi?” ucap Ning dengan ramah. Athar langsung mendelik tajam pada Ning.


“Ba___” sopir itu hendak menjawab, namun langsung disambar oleh Athar.


“Gak usah, dia lagi ngopi di warung dekat sini … iya kan?” Athar melotot memberi kode pada sopirnya.


“Iy iya, benar saya sedang ngopi di sana… Kalau begitu saya permisi, Pak, Non….” Sang sopir pun memilih pamit pergi secepatnya, sebelum Athar murka padanya karena telah mengganggu acara majikannya itu.


“Jangan kembali sebelum aku memanggil mu!!” Athar seolah memberi peringatan.


“Baik, Pak ….” ucapnya bergegas pergi.


“Tuan om … kenapa diusir sih? Kasihan kan di luar masih hujan ….” protes Ning yang merasa tak tega pada sopirnya Athar yang selalu standby di rumah itu.


Athar menutup pintu dan menguncinya. Sepertinya ia tak ingin ada orang yang mengganggunya lagi, gara- gara ia lupa mengunci pintu. Ia pun berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Ning tanpa menjawab pertanyaan Ning.


“Tuan om .…” panggil Ning sembari berjalan mengikutinya dari belakang.


“Hmm ….” Athar tak menoleh atau pun menghentikan langkahnya, hingga keduanya sampai di ruang tengah.


“Tuan om mau kemana?” Ning kembali bertanya.


Athar berhenti dan berbalik. “Mau ke kamar mandi ….”


“Mau ngapain?” tanya Ning heran.


“Kan tadi disuruh ganti baju, sekalian aku mau mandi … Apa aku harus ganti baju di depan mu, hem?” ucap Athar yang malah menggoda Ning.


“Ish … aku tidak mau menodai mata ku ….” Ning mencebikkan bibirnya.


“Yasudah ….” Athar tersenyum kemudian berbalik lagi untuk melanjutkan langkahnya.


“Tunggu sebentar ….” Ning kembali menghentikan Athar.


“Apa lagi nona galak? Aku sudah kedinginan ini ….” Athar sepertinya mulai jengah.


“Aku akan memasak air untuk mandi tuan om ….” ucap Ning dengan ragu dan malu.


“Tidak usah … aku mandi pakai air dingin saja ….”


“Nanti bisa masuk angin ….” Ning semakin memperlihatkan perhatiannya. Tentunya hal itu membuat Athar sangat senang, meski ia nampak menyembunyikan perasaan itu. Ia hanya tersenyum simpul.


“Kau saja mandi pakai air dingin tidak apa-apa, kan?” Athar mendekat dan memberikan kantong kresek yang dipegangnya.


“Oh ya … tolong masukan ini ke dalam lemari pendingin ….”


“Apa ini?” tanya Ning heran sembari menerima kantong kresek itu.


“Kopi ….” Athar menjawab singkat.


“Kopi dimasukan ke dalam kulkas?” tanya Ning memastikan.


“Ya.” angguk Athar.


“Bukannya kopi itu enaknya diminum saat masih panas?” ucap Ning terheran- heran.


“Aku lebih suka kopi dingin … lagi pula itu kan kopi kemasan dalam botol, enaknya diminum dingin dong,” ucap Athar dengan santainya.


“Tapi____”


“Sudah sana masukan ke dalam kulkas … aku mandi dulu ….” Athar beranjak pergi dengan membawa tas ranselnya. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Dasar orang aneh!!” umpat Ning lalu mencebikkan bibirnya.


“Ck, sudahlah … terserah apa maunya saja,” Ning pergi ke dapur untuk menyimpan minuman ke dalam lemari es sesuai titah Athar.


Tak lama Athar pun selesai mandi dan berganti pakaian. Ia pergi ke ruang tamu sembari mengeringkan rambut dengan handuknya. Ning menghampiri dengan membawa nampan berisi secangkir minuman untuk Athar.


“Apa itu?” tanya Athar heran, karena ia tak merasa minta dibuatkan apa pun.


“Teh jahe panas ….” ucap Ning menaruh minuman di atas meja tepat di depan Athar.


“Buat siapa? Jangan bilang untuk sopir lancang itu!” tanyanya curiga dengan tatapan tajam.


“Tentu saja ini untuk tuan om … pak sopir tadi kan sudah diusir sama tuan om ….”


“Oh … tolong cuci ini, sekalian pakaian bekas ku di dalam kamar mandi …. ” ucapnya memberikan handuk bekasnya. Ning pun menerimanya.


“Baiklah tuan om … Dan itu teh jahe nya harus segera di minum, supaya badannya terasa hangat ….”

__ADS_1


“Nanti saja ….” Athar malah mengambil ponselnya kemudian memainkannya.


“Ck … malah main hanphone ….” protes Ning.


“Ada beberapa email yang harus ku buka ….” ucap Athar sembari menggeak- gerakkan jemari pada layar ponselnya.


“Minum dulu teh nya, kalau minumnya nanti keburu dingin ….” Ning kembali menyuruh Athar minum.


“Gak apa- apa … Aku tidak suka minuman panas ….” ucapnya napak serius memperhatikan pesan di layar ponselnya.


“Ini kan hari minggu, masih aja kerja ….” sindir Ning yang sudah seperti istrinya saja.


“Ya begitulah aku … Hari libur pun selalu saja diganggu dengan pekerjaan … Semalam saja setelah mengantarkan mu, aku langsung pergi keluar kota karena ada masalah dengan projec di sana … Dan sepertinya besok aku harus kesana lagi ….” Athar malah curhat.


"Astaga … apa saja sih kerja mereka, mengatasi masalah sekecil itu saja tidak becus!!!”


Athar menggerutu kesal usai membaca beberapa pesan dan email di ponselnya. Ia pun bangkit dan keluar menjauh dari Ning untuk menelpon seseorang. Namun Ning masih bisa melihatnya, karena pintunya dibiarkan terbuka.


Ning terus memperhatikan Athar yang sedang bicara di luar sana. Wajahnya begitu serius, dan semakin diperhatikan pria itu terlihat kesal dan marah. Hal itu terdengar dari intonasi suara nya. Hingga setelah beberapa saat, Athar terlihat mengakhiri panggilan teleponnya. Ia pun kembali masuk dan duduk di kursi tamu dengan raut wajah kesal.


“Tuan om kenapa?” tanya Ning dengan hati- hati dan sedikit was- was.


Athar tak menjawab. Ia memejamkan mata dan menghela nafas panjang berkali- kali untuk menenangkan dirinya. Ia tak ingin jika ia akan hilang kendali dan takut melimpahkan kemarahannya pada Ning yang sedang bersama nya, padahal gadis itu tak tahu apa- apa.


Hening


Tiba- tiba suasana mendadak hening. Tak ada satu pun yang berucap di antara keduanya. Athar masih berusaha menenangkan dirinya, sementara Ning merasa bingung harus berbuat apa. Ia harus meninggalkan Athar atau tetap duduk di sana menemani pria yang nampak ingin meledak itu.


Baru kali ini Ning melihat raut kemarahan di wajah Athar. Ia tak berani lagi bertanya, dan hanya bisa menunggu pria itu yang memulai bicara lagi.


Athar membuka matanya, nampaknya ia sudah merasa sedikit tenang. Namun bukannya kembali bicara dengan Ning, ia malah bangkit dan pergi masuk ke arah dalam.


Ning yang merasa takut, tak berniat mengikutinya. Saat melihat goodie bag di atas meja, ia baru teringat akan ponsel dan juga dompetnya. Ia pun membuka godie bag tersebut dan mengambil ponselnya.


“Lebih baik aku main games, dari pada kena semprot.” ucapnya memainkan ponsel.


Selang beberapa saat, Ning yang sedang asyik main games mencium bau sesuatu. Ia pun bangkit dan memasukan ponselnya ke dalam saku piama nya. Ia juga meletakan handuk Athar di atas sandaran kursi dan bergegas pergi ke dapur.


Dan ternyata, di sana Athar baru selesai memasak juga sudah menyajikannya hasil masakannya ke dalam dua piring yang berbeda lengkap dengan sendok dan garpu nya.


“Apa aku tidak salah lihat? Si kudanil mesum itu bisa masak?” gumam Ning dalam hati. “Sepertinya dia sudah tidak marah lagi,” batinya lagi.


“Tuan om masak apa?” tanya Ning menghampiri.


“Wah, pas sekali ya … Aku sudah selesai plating, nona galak langsung datang … Pasti wangi dari kelezatan masakan ku sampai juga ke indra penciuman mu….” ucapnya tersenyum. Hal itu menandakan jika kemarahannya memang sudah mereda.


“Yaelah, masak telur dadar aja belagu ….” ejek Ning.


“Sembarangan … ini omelette namanya bukan telur dadar ….” Athar meralat ucapan Ning.


“Sama aja ah ….” ucap Ning kekeuh.


“Beda lah ….” Athar pun tetap kekeuh.


“Sama- sama dibuat dengan cara mengocok telurnya lalu di goreng, kan?” ucap Ning.


“Beda, nona galak … Dari bahan- bahannya aja lebih lengkap, yang sama cuma telur nya aja ….”


“Memangnya untuk siapa lagi?” Athar secara tak langsung mengiya kan jika omelette itu untuk Ning.


“Baiklah, terimakasih ….” Ning mengambil salah satu piring yang berisi omelette buatan Athar. Ia mengambil nasi dari mejikom dan meletakannya di atas piring hingga mengubur omelette telur miliknya.


“Hei, apa aku tidak salah lihat? Kau mau makan omelette pakai nasi?” tanya Athar heran.


“Stop!! Jangan protes, aku sedang benar- benar lapar,” ucap Ning mengacungkan jari telunjuk di depan wajah Athar.


“Loh… Kita mau makan dimana ini? Meja makannya kan masih di luar?” tanya Ning bingung.


“Sudahlah, kita makan sambil berdiri saja … Anggap saja standing party,” ucap Athar tak mau ribet.


“Tuan Om itu lebih tua dariku, gak mungkin kan tidak mengetahui jika makan itu harus sambil duduk ….” Ning lalu duduk di lantai yang biasanya terdapat meja makan di sana.


“Hei, apa yang kau lakukan?” protes Athar.


“Tentu saja duduk, apa tuan om buta?”


“Kenapa duduk di lantai seperti itu?” Athar kembali protes.


“Biarin aja, lebih nikmat tahu makan lesehan seperti ini ….” Ning duduk bersila seperti laki- laki. Ia meletakan piring di depannya.


“Ih, dasar jorok!!”


“Sudah sini, makan bareng sama aku … Tinggal duduk aja, apa susahnya … Lagi pula lantainya bersih kok, tadi pagi kan aku sudah menyapu dan mengepel nya,” ucapnya lalu mulai makan.


Athar pun dengan terpaksa ikut duduk di lantai tepat di sebelah Ning. Bukannya makan, ia malah memperhatikan Ning yang sedang melahap makanannya. Sebelum disuapkan, Ning meniup makanan yang sudah disendoknya karena masih panas. Hal itu membuat Athar tersenyum gemas melihatnya.


Ning menoleh ke arah sampingnya. “Kok gak makan? Malah senyam senyum gitu?” tanya Ning heran.


“Aku mendadak kenyang … kalau kamu masih lapar, ambil saja milikku ….”


“Makanannya memang enak, tapi aku tidak seserakah itu kali ….”


Athar terkekeh mendengarnya. “ Syukurlah kalau kau suka makanannya ….”


“Ternyata selain membuat bubur yang enak, tuan om pandai memasak juga ….” Ning memuji Athar.


“Iya lah, aku ini kan orang yang multitalenta dan mandiri ….” Athar membanggakan dirinya.


“Prettt … mandiri dari hongkong … Butuh apa- apa aja suka nyuruh- nyuruh orang ….”


“Hahahah, itu sekarang … Dulu saat masih sekolah aku selalu melakukan sesuatu sendiri … Kalau sekarang tinggal mengelurkan perintah saja … Itulah enaknya jadi bos ….”


“Ya ya ya, bos yang suka berbuat seenak jidatnya,” ejek Ning.


“Terserahlah … Kau itu awalnya memuji, ujung- ujung nya tetap saja mengejek ku ….” Cicitnya kesal.


“Hahaahhaha ….” Ning malah tertawa.

__ADS_1


“Omong- ngomong apa makanan kesukaan mu?” tanya Athar kembali ke topik makanan.


“Aku makan apa yang ada aja sih, bukan apa yang aku suka … Ada makanan enak ya syukur, gak ada juga gak apa- apa … Asalkan masih ada yang bisa ngisi perutku, dan halal tentunya … hehehe.”


“Maksudnya?” Athar tak paham.


Ning menghela nafas.


“ Tuan om … jadi orang susah mah gak bisa banyak maunya. Kalau makan ya seadanya, semampunya … Kerja tuh bener- bener buat cari makan … Kalau hasilnya banyak, ahamdulillah bisa dibelikan barang kebutuhan lain, ya kalau cukup untuk makan aja tetep di syukuri juga. Yang penting masih bisa menyambung hidup ....” ucap Ning panjang lebar.


“Ceritakanlah semua tentang mu….” Pinta Athar.


“Apa? Semua tentangku? Maksudnya?” Ning terheran-heran.


“Eng … ya ceritakan saja tentang semua kehidupan mu, apa yang kau suka dan tidak suka, dan lain sebagainya ….”


“Untuk apa? Lagi pula hal itu tidak penting untuk diketahui oleh tuan om ….”


“Ya untuk jaga- jaga saja, kalau nanti mami bertanya tentang dirimu padaku … Kalau aku tidak bisa menjawab, nanti ketahuan dong sandiwara kita.” Athar memberi alasan.


“Oh ya ampun, kita sudah seperti pacaran beneran saja ….” Ning tersenyum menyeringai.


“Sudah cepat ceritakan!!” Athar nampak sudah tak sabaran.


“Apa yang ingin tuan om ketahui?”


“Ya tentang kehidupan mu, dari kau lahir sampai bisa bekerja di rumah mami ….”


Ning menghela nafas panjang, ia menyiapkan diri untuk menceritakan tentang kehidupannya.


“Namaku Ningrat Atisaya, aku lahir 18 tahun yang lalu di kampung dan mama meninggal beberapa saat setelah melahirkan ku … Aku diasuh oleh nenek dari mama-ku dan Nyai, adiknya nenek dari bapak, karena Bapak tidak mau menerima ku yang dikira sebagai penyebab kematian mama ….”


“Saat aku berusia 8 tahun, nenek meninggal dan Nyai sakit- sakitan … Akhirnya Bapak membawa ku ke kota. Aku dirawat olehnya dan ibu sambung ku … Tapi, tiga tahun kemudian bapak dan ibu meninggal ….”


“Aku dirawat oleh paman dan bibi ku, tapi untuk membiayai hidup ku aku harus bekerja keras. Aku berjualan makanan yang dibuat oleh bibi ku … Kadang aku ikut ngamen, kadang aku mengerjakan PR dan tugas teman- teman di sekolah untuk mendapatkan upah, pokonya yang penting halal.”


“Lalu, bagaimana kau bisa bekerja untuk Kak Ros?” tanya Athar penasaran.


“Paman dan bibi terjerat hutang pada Nyonya Rosmala, karena tanpa sengaja gerobak paman telah menabrak dan merusak mobilnya … Nyonya Ros datang menagih dan mengancam akan mengambil rumah bapak … Mereka kemudian menyerahkan ku pada Nyonya Rosmala untuk dipekerjakan dan untuk membayar hutang mereka … Tapi sayang, ternyata mereka malah menggadaikan rumah Bapak pada rentenir ….” ucapnya dengan menyeka air mata agar tak jatuh membasahi pipinya.


Athar tediam mendengar cerita Ning. Hatinya merasa terenyuh, mengetahui betapa sulitnya kehidupan yang dijalani Ning. Apalagi ia dihianati oleh keluarganya sendiri.


“Maafkan aku, Ning …” ucapnya lirih.


“Loh, kenapa tuan om minta maaf?” tanya Ning heran.


“Aku belum bisa menemukan rentenir itu … Tapi aku akan tetap berusaha untuk menemukannya.”


“Tidak usah, aku tidak ingin merepotkan … Tuan om sudah banyak membantu ku … Biar nanti saja aku menanyakan langsung pada paman ku ….”


“Memangnya kamu tahu dimana paman dan bibi mu sekarang?”


“Paling juga mereka pulang kampung untuk bersembunyi di sana …” Ning bangkit dan membawa piring bekas makannya ke wastafel untuk di cuci.


Sementara Athar yang menar- benar kehilangan selera makannya, menaruh kembali piring dengan omelette yang masih utuh di meja dekat kompor.


Keduanya kembali ke ruang tamu.


“Yah, sayang banget sih aku udah capek- capek bikin teh jahe panas, gak diminum," ucap Ning menyesalkan.


“Siapa bilang gak diminum? Aku akan meminum nya kok ….” Athar tak mau melihat Ning bersedih.


“Gak usah!!” cegah Ning.


“Loh, memangnya kenapa?” tanya Athar heran.


“Kalau sudah dingin tidak enak dan tidak akan menghangatkan tubuh mu ….”


Athar menatap Ning dengan tersenyum manis.


“Kalau begitu kau saja yang menghangatkan tubuhku,”godanya mengedipkan sebelah matanya.


“Cih… dasar kudanil mesum!” hardik Ning kesal.


“Kau itu suka sekali ya memanggil ku kudanil mesum … Bahkan nama kontak ku di poselmu juga kudanil mesum … Apa kau ingin bermain kuda- kudaan dengan ku, hem?” Athar semakin menggoda Ning.


“Hah? Bermain kuda- kudaan?” tanya Ning heran.


“Hmm,” angguk Athar tersenyum genit.


“Memangnya aku ini anak kecil apa? Diajak main kuda- kudaan ….”gerutu Ning.


“Oh ya … memangnya dalam pikiran mu main kuda- kudaan itu seperti apa?” Athar seolah mengetes.


“Yaelah, anak kecil juga tahu kali … Kalau tuan om adalah orang yang menjadi kudanya, tinggal membungkuk lalu merangkak di atas lantai dan seseorang menaiki punggung tuan om ….”


“Hahahaha … ternyata seperti itu … Tapi kuda- kudaan yang ku maksud bukan seperti yang ada di pikiran mu itu ….”


“Lantas, seperti apa?” tanya Ning ketus.


“Posisi yang menjadi kudanya sama … Tapi bedanya aku yang menjadi kuda justru akan merangkak di atas tubuh mu, bukan di atas lantai….”


Ning membelakan matanya, raut wajahnya berubah seketika. Ia mengambil handuk yang ada di atas sandaran kursi dekat tempat ia berdiri.


Bukk


Ning melempar handuk itu tepat ke wajah Athar dengan cukup keras.


“Dasar orang gila mesum!!” bentaknya kesal. Ia pun beranjak pergi meninggalkan Athar. ia masuk ke dalam kamar Kinanti dan menutup pintunya dengan cukup keras.


Blamm


“Hahahahahaha ….” Athar tertawa dengan renyahnya. Ia menggeleng- gelengkan kepalanya melihat tingkah Ning.


“Hai Nona galak, jangan lupa kunci pintu kamarnya, sebelum kudanil ini lepas kendali dan masuk untuk merangkak di sana,” teriaknya kemudian kembali tertawa.


------------------ TBC --------------

__ADS_1


***************************


Happy Reading....


__ADS_2