
Ning yang masih terkejut melihat ruangan yang disinyalir kamar Singgih, hanya diam memaku di ambang pintu. Sementara Athar melangkah masuk ke dalam kamar yang terdapat lilin dijajarkan memanjang saling berhadapan dengan berkarpetkan taburan bunga mawar kuning ditengahnya yang terlihat sampai ke dekat ranjang. Namun lilin- lilin itu belum disulut api.
Tak hanya itu, tempat tidur yang menggunakan sprei lilac sebagian tertutup bedcover warna senada dipenuhi taburan bunga mawar kuning pula, dan ditengahnya dibentuk gambar love menggunakan bunga mawar berkelopak utuh.
Di kedua sisi ranjang tempat lampu tidur pun terpampang vas bunga penuh dengan beberapa tangkai bunga mawar kuning.
Terlihat ada foto besar terpasang di dinding atas sandaran ranjang. Seorang wanita cantik mengenakan gaun putih dengan riasan mahkota di kepala bak tuan puteri, mengalungkan kedua tangannya pada lelaki yang memakai kemeja putih berjas hitam dengan tuksedo di leher kerahnya. Senyum bahagia jelas terpancar dari keduanya. Siapa lagi, tentunya itu adalah foto pernikahan Singgih dan Diandra.
Di bagian bawahnya berjejer foto- foto lebih kecil yang dikaitkan pada benang mengalungi foto besar tersebut.
Cekelek
Suara pintu terbuka membuat Ning tersentak, membuyarkan lamunannya. Ia melihat Athar memasuki sebuah ruangan di dalam sana, sepertinya itu kamar mandi. Ning memberanikan diri melangkah masuk ke kamar yang didekorasi seperti kamar pengantin baru.
Dan ternyata, lantai seluruh ruangan itu bertaburan bunga mawar kuning. Ia berjalan menyusuri karpet bunga mawar yang nampak sengaja dibuat sebagai jalan menuju ranjang. Di atas bantal terdapat satu buket bunga mawar kuning, bersebelahan dengan sebuah kotak sepertinya hadiah atau kado.
Ia kembali dikejutkan saat melihat rangkaian tulisan di atas bunga di dalam lingkaran bentuk love itu.
‘Happy Anniversary 8th’
Ning kembali membekap mulutnya, karena masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengambil sebuah kartu ucapan dari atas kado, kemudian membuka dan membaca isinya.
“Dia tidak ada di sini….” Ucap Athar membuat Ning kembali tersentak, ia menutup kartu ucapan dan meletakkannya kembali di tempatnya.
“Tuan om, ini____” Ning tak melanjutkan ucapannya.
“Ya, hari ini ulang tahun pernikahan Singgih dan almarhum Diandra… Aku tak menyangka ia masih melakukan hal bodoh seperti ini… Apa sih sebenarnya yang ada di otaknya? Dia itu seorang dokter, tapi seperti terkena gangguan jiwa… Apa dia tidak berpikir jika semua lilin ini menyala, terus ia ketiduran bisa terjadi kebakaran itu….” cerocos Athar nampak geram dengan apa yang dilakukan oleh Singgih.
Ia beranjak keluar kamar dan membiarkan pintu kamar yang sudah rusak itu terbuka. Ning yang masih tidak percaya, ikut mengekor dari belakang.
“Hoaaam….” Athar terlihat menguap. Ia mengambil ponsel, kemudian melakukan panggilan telpon.
Sementara Ning mendaratkan bokongnya di salah satu dari tiga kursi yang ada di ruang tamu. Ia memperhatikan Athar yang terlihat menelpon beberapa kali di ambang pintu rumah, dengan terus menguap hingga beberapa kali.
Athar menghampiri Ning. Ia menghembuskan nafas kasar.
“Kenapa?” tanya Ning penasaran, yang kemudian berdiri.
“Aku sudah menghubungi rumah sakit dan klinik tempatnya praktek, katanya Singgih mengambil cuti dua hari,” ucapnya kembali menguap.
“Apa mungkin dia ke makam Diandra?” tebak Ning mengira- ngira.
Athar menggelengkan kepala. “Tidak, penjaga di sana bilang Singgih tidak datang ke sana….” Ucapnya kembali menguap entah kesekian kalinya, hingga matanya pun terlihat agak merah dan berair.
“Tuan om ngantuk?”
“Hmmm….” ucapnya mengangguk. “Aku baru tidur satu jam lebih, terbangun karena mendengar teriakan mu, sayang….”
“Maaf….” Ning nampaknya merasa bersalah.
“Hehehe, kamu itu kalau lagi sedih dan marah sama- sama menggemaskan, ya….” ucapnya mencubit pipi Ning. “Ayok." Athar menarik tangan untuk Ning mengajaknya pergi.
“Tuan om mau kemana?” tanya Ning nampak enggan pergi.
“Melanjutkan pencarian Singgih….”
“Mending tidur aja, bukannya tuan om ngantuk?”
“Kau ingin menemani ku tidur, hem?” goda Athar.
“Ish… dasar mesum!!” Ning menarik tangannya dan melepaskan dari genggaman Athar.
“Aku tidak tega mendengar Ibu sangat khawatir, sebaiknya aku cari si brengsek itu sampai ketemu… Dia masih saja tidak berubah….” ucapnya menguap lagi.
“Mending tuan om tidur aja dulu sebentar, bahaya kan kalau nyetir dalam keadaan ngantuk….”
“Tapi_____”
“Tidur dulu!!” sentak Ning balik menarik tangan Athar. Akhirnya ia menuruti perintah Ning, karena memang kepalanya terasa pusing akibat kantuk. Ia lalu berbaring di kursi yang paling besar diantara tiga kursi di sana, yang membelakangi arah pintu utama rumah itu.
“Kenapa gak di kamar aja?” protes Ning.
“Gak ah, gak enak… Yang punya rumah lagi gak ada,” ucapnya lalu memejamkan mata.
Drt drt drt ….
Ponsel Ning bergetar. Ia merogoh tas dan segera mengambil ponsel dari dalamnya.
“Ocha… oh ya ampun, aku lupa mengabarinya semalam….” gumamnya lalu berdiri dan beranjak keluar untuk menerima panggilan telponnya, agar tak mengganggu Athar yang sudah tertidur pulas.
Hampir satu jam lamanya ia berbicara di sambungan telpon dengan Ocha. Ning menceritakan kejadian di pesta hingga ia menginap di rumah Bu Asri sembari duduk di kursi teras.
Namun ia belum menceritakan tentang dirinya dan Athar, hanya sebatas mengantarkan pulang dan mengantar ke rumah Bu Asri. Mungkin akan lebih baik diceritakan langsung di rumahnya nanti, pikirnya.
Ning yang sudah mengakhiri sambungan teleponnya, kembali masuk ke dalam rumah. Ia merasa bingung sendiri harus melakukan apa, karena sang pujaan hati masih tidur lelap, terdengar dari suara dengkuran halusnya.
Saat matanya tertuju pada pintu kamar yang terbuka, Ning melangkah mendekati ruangan yang merupakan kamar Singgih. Rasa penasaran mendorongnya memasuki kamar tersebut.
Ia kembali memperhatikan kamar yang bernuansa romantis dan seperti diperuntukan untuk pasangan yang akan bulan madu.
“Ternyata Mas Igih bisa romantis juga,” gumamnya tersenyum sungging sembari menggelengkan kepala. Ia sadar hal romantis itu bukan diperuntukan bagi dirinya, melainkan untuk mendiang istri pria yang masih berstatus calon suaminya itu.
__ADS_1
Ia mendekati meja rias yang terdapat jejeran bingkai foto Singgih dan Diandra, juga satu vas bunga mawar kuning. Yang menarik perhatiannya, di dekat cermin besar meja rias itu terdapat alat kosmetik lengkap tertata dengan rapi.
Mata Ning beralih pada satu dari empat pintu lemari sedikit terbuka. Entah mendapat dorongan dari mana, Ning mendekati lemari tersebut dengan lancang ia membukanya.
Matanya terbelalak melihat isi lemari tersebut. Ia pun membuka pintu lemari lainnya yang kebetulan kuncinya masih menggantung di tempatnya.
Ia kembali dikejutkan dengan sebuah benda yang terdapat di lemari itu. Ia memperhatikannya dengan seksama. Ning menghela nafas berat, lalu menggelengkan kepala.
“Sebaiknya aku keluar dari sini,” gumamnya nampak ada raut kekecewaan dan tak percaya. Ia kembali ke ruang tamu dan mendapati Athar sudah terbangun dalam posisi duduk.
“Dia masih belum datang juga?” tanya Athar dengan suara serak khas bangun tidur.
“Belum….” Ning menggelengkan kepala.
“Ayok ku antar kamu pulang….” Ucapnya lalu berdiri.
“Terus Mas Igih gimana?” tanya Ning.
Athar mengambil ponsel, lalu menghubungi Singgih sampai berkali- kali. “Masih gak aktif."
“Eng, gimana kalau kita tinggalkan pesan saja….” Ning memberi saran.
“Nomornya gak aktif, ngapain ngirim pesan? Kita gak tahu kan kapan ia akan mengaktifkan nomornya lagi….” ucap Athar.
“Bukan gitu, pesan di kertas….”
“Terserahlah….” ucap Athar dengan malas.
Ning merogoh tas nya dan mengambil buku memo serta bolpoin dari dalamnya. Ia sudah terbiasa membawa benda itu di dalam tas nya. Ia pun menulis sesuatu kemudian kertas itu diletakan di atas meja yang sebagian kertasnya dihimpit oleh vas bunga.
Keduanya pun pergi meninggalkan rumah Singgih. Dan ternyata mereka kembali ke rumah Bu Asri dengan menempuh perjalanan selama satu jam.
*
Sesampainya di komplek perumahan tempat tinggal Bu Asri, Ning turun di depan sebuah toko tempat ia membeli telur tadi pagi.
Sementara Athar melanjutkan perjalanannya. Sepertinya mereka tak ingin Bu Asri curiga jika mereka datang bersamaan. Tentunya Ning terus mewanti- wanti agar jangan dekat- dekat dengan Maya yang kecentilan.
Ning membeli roti, selai coklat, dan beberapa makanan ringan serta minum. Setelah 15 menit berada di toko itu yang kebetulan banyak pembeli, ia beranjak pergi menuju rumah Bu Asri dengan berjalan kaki.
Usai mengucap salam dan dipersilahkan masuk, Ning diajak Bu Asri menghampiri Nana yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
“Loh, peri kecil kenapa? Tanyanya heran melihat anak itu duduk membelakangi Athar yang duduk di sebelahnya dengan wajah murung. Ia pun tak menjawab Ning.
“Dia sedang merajuk Ning, karena Daniel bilang akan pergi ke London lagi….” ucap Bu Asri.
“Jangan ngambek ya peri kecil… Dady janji nanti akan sering nelpon sama video call….” Athar masih berusaha membujuk Nana.
“Nanti Dady belikan lagi mainan yang lebih bagus dari boneka princess dan kotak musik yang kemarin… Peri kecil tinggal bilang saja mau apa….” Athar masih tak menyerah.
“Emang enak dicuekin,” batin Ning tersenyum kecut, walau sebenarnya ia ingin sekali menertawakan Maya yang terlihat malu sekaligus kesal karena diacuhkan oleh Athar. Maya pun bergegas pergi ke belakang.
Mata Nana nampak berbinar, ia berbalik dan menghadap ke arah Athar. “Boleh apa saja?” tanyanya antusias.
“Tentu….” Athar mengangguk yakin
“Boneka pinokio, super mario, tedy bear, barbie keluaran terbaru, sama boneka boba….” Nana menyebutkan boneka yang diinginkannya.
“Baiklah, asal kan peri kecil ku ini bahagia dan gak marah lagi sama Dady….”
“Pinky promise?” Nana mengacungkan jari kelingking sebagai pengikat janji. Tentu hal membuat Athar terkekeh sembari melirikkan mata pada Ning yang masih berdiri di samping sofa dekat Nana duduk.
“Promise,” Athar pun mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Nana. Akhirnya anak itu pun luluh dan memeluk Athar meskipun ia tetap merasa berat harus kembali ditinggalkan oleh Dady yang amat disayangi nya.
“Jadi sekarang sudah bisa makan dan minum obat ya,” ucap Bu Asri yang kemudian dianggukki oleh Nana.
“Tapi mau disuapin sama Dady….” rengek nya dengan nada manja.
“Tentu peri kecilku….” Athar mengambil mangkuk di atas meja yang berisi bubur dengan toping abon dan telur rebus yang dibelah dua. Ia pun menyuapi Nana.
“Ibu ke belakang dulu ya, mau mandi… Nana dari tadi gak mau lepas….” pamit Bu Asri.
“Iya, Bu….” angguk Ning.
Ning duduk di ujung Sofa tepat di sebelah Nana duduk, setelah Bu Asri pergi. Diletakannya kantong kresek berisi belanjaannya di atas meja. Ia terus memperhatikan Nana yang makan lahap dan Athar yang telaten menyuapinya, sesekali memberikan Nana minum.
“Benar- benar ayah yang sempurna,” gumam Ning dalam hati sembari tersenyum melihat interaksi mereka.
Tak lama Maya datang setelah Nana menghabiskan makan serta meminum obat nya.
“Ini Pak Daniel, silahkan diminum kopi nya….” ucapnya meletakan secangkir kopi panas di atas meja depan Athar duduk.
Ning yang melihat hal itu, mengambil sesuatu dari dalam kantong kresek dan meletakkannya di atas meja tepat di sebelah cangkir kopi. Nampaknya ia tak mau kalah.
“Thanks,” ucap Athar mengambil kopi dingin kemasan botol yang diberikan oleh Ning, lalu membuka tutupnya dan meminum kopi tersebut. Ia seolah tak menganggap keberadaan Maya, apalagi kopi yang dibawakannya.
“May, tolong bawakan bekas makan Nana, sekalian kopi nya bawa lagi ke belakang… Pak Daniel tidak minum kopi panas….” ucap Ning menahan tawa melihat raut wajah Maya.
“Iya.” Jawabnya singkat dan jutek, ia langsung melaksanakan perintah Ning. Ia bergegas ke belakang dengan membawa rasa kesal bercampur malu, karena terus diacuhkan oleh Athar.
“Nakal….” cibir Athar menatap gemas pada Ning tanpa mengeluarkan suara. Ning mengerlingkan matanya dengan tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
“Momy, apa itu?” tanya Nana menunjuk kantong kresek besar di atas meja.
“Oh ini, Momy beli roti tawar, selai coklat hazelnut sama makanan kesukaan peri kecil….”
“Es krim juga?” tanya Nana penuh harap.
“No!! Jangan makan es krim dulu… Kalau sudah sembuh baru boleh,” Athar langsung nyamber, dan membuat Nana mengerucutkan bibirnya. Ia lalu menggendong Nana dan membawanya ke kamar. Ning mengekor dari belakang.
Bukannya tidur, Nana malah asik bercanda gurau dengan Ning dan Athar. tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan mereka dari dinding sebelah pintu yang terbuka lebar.
Tak lama Ning dan Athar keluar dari kamar karena Nana sudah tertidur.
“Terimakasih sudah menjaga dan merawat putriku,” ucap Singgih yang duduk di sofa ruang tengah dengan memberi tatapan dingin pada Ning dan Athar yang baru saja menutup pintu kamar Nana.
“Mas Igih….” Lirih Ning terkejut. Lain halnya dengan Athar yang menampakkan raut wajah tak suka. Ia berjalan menghampiri Singgih dengan mengepalkan kedua tangannya. Singgih pun bangkit dan berdiri.
Bugh
Satu pukulan mendarat di pipi kanan Singgih, hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah. Sudah pasti pukulan itu cukup keras.
“Daniel !!” teriak Ning bersamaan dengan Bu Asri. Mereka segera menghampiri Athar dan Singgih yang sudah tersungkur di atas sofa.
“Kenapa kamu memukulnya, Daniel?” bentak Bu Asri tak terima putranya dipukul oleh Athar. Beliau duduk di sebelah Singgih.
“Sekali lagi kau lalai menjaga Nana, aku pastikan akan mengambilnya dari mu dan tak akan pernah membiarkan mu menemuinya lagi!!” bentak Athar menunjuk ke arah wajah Singgih, tanpa menjawab Bu Asri.
Singgih bangkit dan kembali berdiri. “Dayana putri kandungku, kau tidak punya hak memisahkan kami!!”
“Apa kau lupa jika Mami juga neneknya Dayana?!” ucapnya tersenyum menyeringai. “Dan kau tahu pasti, Mami bisa melakukan apa pun untuk mengambil hak asuh Dayana… Kami tinggal melaporkan mu pada KPAI jika kau menelantarkan Dayana selama lima tahun lebih… Hanya perkara mudah bagi ku dan Mami untuk mengambil Dayana!!”
“Kalian tidak akan bisa melakukannya!! Aku ayah kandungnya Dayana, dan hanya aku yang berhak atas dirinya, tidak kau atau pun Nyonya Andini….”
“Maka dari itu, kau harus penuhi janji yang pernah kau katakan pada ku dan jangan pernah menelantarkan Dayana lagi….” Athar yang masih geram, hendak melayangkan pukulan kembali pada Singgih. Namun saat melihat Bu Asri nampak ketakutan, ia hanya mendorong Singgih dengan kasar hingga kembali duduk di sofa.
“Satu hal lagi… Berhenti melakukan hal gila yang bisa membuat adikku tidak tenang di alam sana… Diandra sudah meninggal, tidak perlu bertingkah seolah- olah dia masih hidup dan ada di rumah mu!!” ucapnya menunjuk wajah Singgih, ia beralih pada Bu Asri yang masih duduk di sofa dekat Singgih menatapnya dengan ketakutan.
“Aku minta maaf, Bu… Tolong sadarkan putra mu ini… Aku pamit….” ucapnya lalu pergi begitu saja dengan membawa amarah yang masih belum tuntas. Sesungguhnya jika Ning dan Bu Asri tak menghentikannya, ia ingin sekali menghajar Singgih habis- habisan.
Ning yang melihat Bu Asri nampak syok, bergegas pergi ke dapur dan kembali membawa segelas air putih. Ia tak berniat mengejar Athar. Ia menghampiri Bu Asri lalu duduk di sebelahnya.
“Bu, diminum dulu….” Ucapnya menyodorkan air minum, dan Bu Asri pun menerima nya. Beliau minum dengan perlahan.
“Terimakasih, Ning….” ucap Bu Asri pada Ning. Beliau beralih pada Singgih yang duduk di sebelah satunya lagi.
“Gih, ibu pikir kamu sudah berubah… Tolong jangan seperti ini terus… Diandra sudah gak ada, biarkan dia tenang di alam sana… Sekarang yang harus kamu pikirkan masa depan mu dan Ning, juga masa depan putri mu….” ucapnya terisak.
Singgih hanya terdiam tak menjawab ucapan ibunya. Entah karena memikirkan ancaman Athar, atau ujung bibirnya masih teras sakit.
Sementara Ning, nampak tak memperdulikan Singgih. Sepertinya semua yang dilakukan Singgih akhir- akhir ini padanya dan Nana, ditambah ia sudah menjalin kasih dengan Athar, menjadi alasan Ning untuk tak peduli lagi pada lelaki yang masih berstatus sebagai calon suaminya itu.
“Ibu tidak mau jika sampai Nana diambil oleh Mbak Andini… Dia bisa melakukan apa pun, Gih… hiks hiks… Jangan pisahkan ibu dengan Nana….” lirih Bu Asri yang sudah berderai air mata.
“Udah Bu, jangan banyak pikiran, nanti ibu bisa sakit… Ibu juga kan tadi dengar sendiri, Pak Daniel akan mengambil Nana jika Mas Igih menelantarkan Nana… Aku yakin setelah ini Mas Igih tak akan menyia-nyiakan Nana lagi...." Ning berusaha menenangkan Bu Asri.
“Ayok Bu, aku antar ke kamar… Sebaiknya ibu istirahat….” ajak Ning yang kemudian memapah Bu Asri membawanya ke kamar beliau. Ia keluar beberapa saat setelah Bu Asri terlihat lebih tenang.
“Kenapa kamar Nana terbuka?” gumam Ning bertanya- tanya. Ia berjalan ke arah kamar tersebut. Dan ternyata Singgih tengah berbaring sembari memeluk Nana yang sedang tertidur pulas. Terdengar suara isak yang ia yakini itu isakan Singgih.
“Sepertinya sekarang bukan saat yang tepat untuk membicarakan soal hubungan kami … Semoga dia lebih memusatkan perhatiannya pada Nana,” batin Ning nampak tak tega mengakhiri hubungannya dengan Singgih dalam situasi seperti ini.
Ia memesan ojek online untuk pulang. Dan tak lama ojol nya pun datang. Ia pulang setelah berpamitan pada Bu Asri.
**
“Kemana aja, Bu… Ngilang sehari semalam….” sapa Ocha yang menyambut kedatangan Ning di rumahnya, sambil duduk di kursi ruang tamu.
“Lo ngapain di sini? Bukannya kerja….” bukannya menjawab, Ning malah balik bertanya.
“Gue nungguin lo, karena ada hal penting yang pengen gue lihatin ke elo….” ucapnya lalu berdiri.
“Hal penting apa?” tanya Ning penasaran.
Ocha menghampiri, lalu memperlihatkan sebuah video dari layar ponsel miliknya." Nih lihat...."
“Hah? Bukannya itu_____ . Kok bisa sih?” Ning terkejut melihat video tersebut.
“Ini karma yang dibalas tunai namanya….” ucap Ocap tersenyum puas.
-
-
--------------- TBC ------------------
-
-
-
Happy Reading….
__ADS_1