NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Kau Bisulan, Sayang?


__ADS_3

Riko langsung masuk ke dalam kamar rawat inap tempat Athar berada sesaat setelah Ning berlalu meninggalkannya. Seperti biasa pintunya tidak ditutup rapat dan sedikit dibuka.


Perlahan ia melangkah mendekati sang atasan, lebih tepatnya calon mantan atasannya. Ya, karena Athar sudah tak memiliki jabatan apa pun di perusahaan milik keluarganya.


“Ning mana?” tanya Athar.


“Nona pergi sebentar katanya untuk menerima telepon dari temannya, Pak….”


“Kau yakin yang menelponnya itu Ocha, temannya Ning?” tanyanya nampak menaruh curiga pada Ning.


“Kenapa Bapak bertanya seperti itu?” Riko nampak heran.


“Kalau itu dari Ocha, kenapa dia harus menjauh dari ku segala untuk menerima teleponnya… Dia kan bisa bicara di sofa sana atau dekat jendela….”


“Huf dasar, posesif… Kemarin saja, dicuekin pakai diusir – usir segala… Eh, sekarang malah takut ditinggal sebentar saja,” batin Riko dalam hati.


“Hei… kau pasti sedang mengejekku dalam hati mu, ya!” tebak Athar.


“Ti tidak kok Pak….” Sangkalnya gelagapan.


“Terus kenapa malah diam?”


“Terus saya harus apa, Pak?” Riko malah balik bertanya seolah mengejek Athar.


“Sana cari tahu siapa yang sedang ditelpon oleh Ning-ku !!”ucapnya memberi perintah.


“Ta tapi, Pak____”


“Sudah sana pergi!” hardiknya mengusir.


Riko pun terpaksa melaksanakan perintah Athar yang sedang terkena virus bucin posesif itu. Ia bergegas keluar, kemudian berjalan menyusuri lorong hingga mendengar suara Ning.


Riko tak menghampiri Ning yang tengah asyik berbicara di sambungan telpon. Ia hanya mengintip dari balik tikungan tembok, memperhatikan Ning yang tengah berdiri di depan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan keluar.


“Makasih banget ya, Cha… Berkat ide gila lo, sekarang Daniel-ku sudah kembali seperti dulu lagi… Dia takut banget lihat gue mau loncat dari jendela… Padahal gue senyam senyum sendiri sembari melihat pemandangan ke bawah…Hahaha….”


Ning tertawa riang, tak lama kemudian terlihat ia terdiam sebentar. Sepertinya ia sedang mendengarkan lawan bicaranya di telpon.


“Bener banget lo… beruntung gue gak fobia ketinggian, di kampung aja gue sering manjat pohon kelapa… hahaha… Untung juga nih ya, gak ada setan yang merasuki gue dan bikin gue loncat beneran… Lo tahu sendiri kan kalau di rumah sakit tuh biasanya banyak hantu bergentayangan…Hahahaha….”


“Ck ck ck, ternyata Nona Ning tadi hanya bersandiwara,” ucap Riko menggelengkan kepala sembari terkekeh. Ia kemudian balik kanan untuk kembali ke ruang rawat inap Athar, karena tak mungkin ia mendengarkan sampai Ning selesai berbicara.


**


“Bagaimana? Kau sudah menyelidikinya?” Athar langsung melempar pertanyaan pada Riko yang baru saja kembali masuk dan berjalan menghampirinya.


“Iya, Pak….” Riko menganggukkan kepala, kemudian ia berdiri di samping brankar menghadap pada Athar yang tengah duduk berselonjor.


“Terus?”


“Terus saya langsung kembali ke sini, Pak.”


“Ck… Maksud ku, hasil penyelidikannya bagaimana, Riko!?” ucapnya geram.


“Saya hanya mengintip, Pak….”


“Mengintip? Maksud mu kau mengintip apa?”


“Maksudnya, saya memperhatikan secara sembunyi- sembunyi….”


Athar mendengus kesal. Sungguh asisten pribadinya itu bisa membuat Athar mengalami tekanan darah tinggi. “Lalu hasilnya?”


“Nona Ning sedang bertelepon dengan Nona Ocha sahabatnya, Pak….”


“Lalu, mereka membicarakan apa?”


Riko tertegun, tak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya ia dengar tadi. Ia lalu memikirkan cara agar tak membuat Athar marah.


“Riko!!” bentak Athar yang sudah tak sabar dan mendadak kepo dengan urusan kekasihnya.


“Iy iya, Pak… Sepertinya Nona sedang membicarakan masalah pekerjaannya….” terpaksa Riko mengarang cerita.


“Kau yakin?” Athar nampak tak percaya.


“Ya, Pak… ‘kan Pak Daniel tahu sendiri, jika Nona selama beberapa hari ini di sering datang kesini dari pagi sampai sore… Berarti Nona sudah meninggalkan pekerjaannya, dan tentunya Nona Ocha- lah yang mengurus pekerjaan Nona Ning….”


“Kau benar…. Yasudah, kalau begitu lebih baik aku istirahat….” ucapnya lalu berbaring menyamping membelakangi Riko yang tengah berdiri di sisi kanan brankar.


Riko pun beranjak menuju sofa, lalu mendaratkan bokongnya di sana. Ia mengeluarkan ponsel, kemudian memeriksa email yang tentunya berhubungan dengan pekerjaannya di London.


Beberapa saat kemudian, Athar nampak gelisah. Ia terus mengubah posisi, miring kanan miring kiri serta berbaring terlentang. Riko yang melihat hal itu, bergegas menghampiri Athar.


“Apa anda membutuhkan sesuatu, Pak?”


“Kenapa Ning lama sekali sih?” gerutu Athar yang kemudian bangun dan kembali duduk.


“Namanya juga perempuan, Pak… Kalau ngobrol sama temannya, pasti bercerita kesana kemari…. Atau, mungkin sedang ada masalah dengan kerjaan mereka….” ucap Riko yang berusaha membuat Athar tenang. Pria itu terlihat gelisah dan begitu mencemaskan Ning.


“Mana ponsel ku?” pinta Athar


“Ponsel Pak Daniel ‘kan hancur saat kecelakaan….”


“Biasanya kau selalu mengatasi dengan cepat, membelikan ku ponsel baru gitu….”


“Saya minta maaf, Pak…. Saya belum sempat… Karena beberapa hari ini saya sibuk mengurusi pekerjaan dari perusaan yang di London, Pak….”


“Ya ya ya… Untung kau tidak membelikan ku ponsel baru… Aku tak punya uang untuk menggantinya…” ucapnya tersenyum miris. “Kalau begitu mana sini ponsel mu….” Athar mengulurkan tangannya meminta ponsel Riko.


“Maaf, untuk apa, Pak?”


“Tentu saja untuk menghubungi kekasih ku, kau pikir apa? Mengecek pekerjaan? Apa kau lupa kalau aku ini sudah jadi pengangguran yang tak punya apa-apa? Untung saja aku masih punya asuransi sampai bisa dirawat di sini….” cerocos Athar dengan nada kesal, kemudian membuang nafas kasar.


Riko yang merasa iba, segera merogoh ponselnya dari dalam saku celananya dan segera memberikan ponsel tersebut pada Athar. Ia sudah tahu jika seluruh asset Athar telah dibekukan oleh Nyonya Andini, karena menolak menikah dengan Nadira.


“Siapa nama Ning disini?” tanya Athar saat mengotak- atik layar ponsel tersebut.


“Nona Ning…”


Athar kemudian mengetik nama kekasihnya di pencarian kontak telepon. Setelah menemukannya, ia mengklik nama tersebut dan berniat menelponnya.


Tap tap tap


Terdengar suara derap langkah kaki seseorang yang memasuki kamar tersebut. Tak terdengar suara pintu dibuka, karena Riko sudah terbiasa tak menutup rapat pintu tersebut.


Athar dan Riko melihat ke arah orang yang kini tengah berdiri di dekat ujung brankar dengan membawa parsel buah di tangannya, dan satu tangan lagi menenteng tas branded.


“Mau apa lo ke sini? belum puas bikin gue kayak gini?” tanya Athar dengan raut wajah dingin.


“Tentu saja buat jenguk lo, sekalian meminta maaf,” Nadira mengulas senyum semanis mungkin.


“Percuma!!” hardik Athar ketus.


“Oh, ayolah… Gue udah bilang sama Onty, supaya gak maksa lo nikahin gue… Dan gue juga udah jelasin semuanya ke orang tua gue… Mereka sudah berjanji gak akan mengusik keluarga lo dan perusahaan kalian….”


“Memangnya ngaruh? Mami tetap saja maksa ‘kan.” Athar tersenyum menyeringai.

__ADS_1


“Gue jamin, Onty gak akan maksa lo lagi buat nikahin gue… Kemarin, gue udah ngomong kok sama beliau….” ucapnya meyakinkan. “Dan lo gak usah khawatir, gue juga bakalan gugurin kandungan ini….”


“Apa?” pekik Athar dan Riko serentak.


“Anda hamil, Nona?” tanya Riko dengan penuh keterkejutan.


“Ya… Memangnya bos kesayangan mu itu tidak memberi tahu mu mengenai gossip tentang ku?”


Riko menggeleng masih dengan raut wajah terkejut. Ia lalu beralih menatap Athar seolah meminta penjelasan.


“Dia pingsan saat nginep di rumah Mami… Dokter bilang Nadira hamil dua bulan… Dan kau tahu, Mami memaksa ku bertanggung jawab menikahinya, sampai aku harus kehilangan semua asset pribadi dan pekerjaan ku…” ucapnya menjelaskan masalah yang terjadi padanya dan Nadira.


“Kalian akan menikah?” tanya Riko sembari bergantian menatap Athar dan Nadira.


“Tentu saja tidak!!" sergah Athar.


"Apa kau amnesia? Kau tahu sendiri siapa wanita yang akan ku nikahi… Lagi pula, dia sendiri tidak tahu siapa pria yang menghamilinya….” cerocos Athar kesal melirik ke arah Nadira. Ia melanjutkan mendial nomor Ning, lalu menempelkan ponsel tersebut pada telinganya.


Sementara Nadira berjalan menuju meja, lalu meletakan buah tangannya di sana.


“Apa? Nadira hamil? Dua bulan? Dan dia tidak tahu siapa ayah anak yang dikandungnya?” batinnya masih dengan raut wajah penuh keterkejutan. Pertanyaan itu terus berputar- putar memenuhi isi kepala Riko, hingga membuatnya tenggelam dalam pikirannya.


“Ck… apaan sih dia, main nutup telpon gitu aja!!” gerutu Athar kesal. Padahal ia masih ingin bicara dengan sang kekasih, tapi malah ditutup secara sepihak.


“Riko… Riko… Riko!!” Athar sedikit berteriak karena Riko tak kunjung menyahut.


“Iy iya, Pak… saya akan bertanggung jawab.” Ucap Riko dengan lantang, karena tersentak dari lamunannya.


“Hah? Kau itu bicara apa, Riko?” Athar merasa heran dan aneh.


“A anu... I itu, Pak… Eng___” Riko kebingungan sendiri.


“Nih ponsel mu, terimakasih….” Ucapnya menyodorkan ponsel Riko.


“Iy iya, Pak.” Riko menerima ponsel itu dengan tangan yang sedikit bergetar.


“Gue pergi dulu ya, semoga cepat sembuh,” ucap Nadira berpamitan.


“Anda mau kemana Nona?” tanya Riko yang masih berdiri di samping Athar yang masih dalam posisi duduk di atas brankar.


“Aku sudah mengatur janji dengan dokter yang akan mengugurkan kandungan ku.”


“Jangan Nona… Saya mohon, jangan menggugurkannya… Saya akan bertanggung jawab dan menikahi anda, Nona….” Riko terlihat panik dan takut.


“Apa?” ucap Nadira dan Athar bersamaan, mereka terkejut dengan apa yang diutarakan Riko. Keduanya menatap tak percaya pada Riko.


“Hahhahaha....” seketika tawa Nadira pecah menggema di ruangan tersebut. Sementara Athar menatap Riko dengan tatapan sulit diartikan.


“Ya ampun, Riko… Kau tidak perlu berkorban sampai segitunya demi bos mu… Ck, sudahlah, lagi pula aku tidak menginginkan anak ini… Dengan menggugurkannya, maka semua akan aman terkendali,” ucapnya tanpa beban.


“Anak itu tidak bersalah, Nona… Kita yang salah, jangan membuat kesalahan lagi dengan melenyapkannya… “ ucapnya lirih.


“Maksud mu apa? Kita ? kita yang salah?” tanya Nadira nampak bingung dan terkejut.


“Iy iya, Nona… Kita sudah membuat kesalahan….”


“Apa?” Nadira dan Athar kembali terkejut.


“Jadi kau yang sudah menghamili Nadira?” Athar menatap tajam Riko dengan rahang mengeras. Ia mengambil kesimpulan sendiri setelah melihat gelagat dan ucapan Riko sebelumnya.


“Jika Nona hamil dua bulan, itu artinya Nona hamil setelah kejadian malam itu,” ucap Riko menundukkan pandangannya, karena merasa bersalah.


Nadira terkejut luar biasa, ia tak menyangka jika asisten pribadi Athar telah menghamilinya. Matanya membelalak dengan mulut ternganga.


“Jadi, kau akan bertanggung jawab?” ucapnya dengan tatapan tajam. Riko hanya mengangguk, dan tak berani menatap balik Nadira.


“Jadi kau mengakuinya dan akan bertanggung jawab dengan menikahi ku?” Nadira kembali melontarkan pertanyaan dengan wajah nampak meredam amarah dan tatapan tajam. Sampai ia tak menyadari, jika sudah ada Ning yang berdiri di sebelahnya.


Ning yang begitu terkejut mendengar ucapan Nadira, mengikuti arah sorot mata Nadira yang tertuju pada pria di depan mereka.


“Apa maksud semua ini? Jadi benar kau______” Ning tak kuasa melanjutkan ucapannya. Dada nya terasa sesak, hingga membuat bibirnya kaku seketika. Tatapannya tertuju pada Athar.


Si pria itu menggelengkan kepala dengan cepat, mengira jika Ning salah paham padanya. Padahal Nadira menatap Riko yang berdiri di sebelahnya.


Brukk


Terdengar suara yang cukup keras saat kedua lutut beradu dengan lantai. Bunyinya membuat Ning memutus pandanganya dari Athar dan beralih menatap Riko.


“Saya benar- benar minta maaf, Pak, Nona Nadira… Saya khilaf….” ucapnya bersimpuh sembari menundukkan kepala.


“Aku tidak menyangka, ternyata kau seorang bajingan Riko!!” bukan hanya Nadira, Athar pun nampak geram pada asisten pribadinya itu.


“Ja jadi… Pak Riko____” Ning yang masih terkejut, tak menyangka jika Riko yang selama ini dikenal sebagai orang yang baik, ternyata berbuat demikian.


“Saya benar- benar minta maaf… Saya akan menebus kesalahan yang telah saya perbuat… “ ucapnya dengan penuh penyesalan. “Saya mohon agar Nona tidak menggugurkan anak itu…” pintanya memohon.


“Kenapa kau begitu yakin jika kau ayah bayi ini? Aku tak merasa pernah tidur dengan mu?” ucap Nadira geram.


Riko sesaat terdiam. Ia nampak bingung sekaligus merasa malu mengakui perbuatannya. Ia menghela nafas sejenak, kemudian kembali membuka suara.


“Malam itu, saya diminta Pak Daniel memberikan beberapa botol minuman yang tersisa di apartment pada temannya yang merupakan pemilik sebuah club' ternama… Karena beliau sudah berjanji pada Nona Ning, tak akan menyentuh minuman itu lagi… Dan saat akan pulang, saya tidak sengaja melihat anda sedang minum bahkan sudah terlihat mabuk… Kemudian ada seorang pria yang memberi anda minuman, dan langsung anda teguk begitu saja….”


“Saya melihat dari gelagat pria itu sepertinya memiliki niat tak baik… Makanya, saya mengikuti anda saat dibawa oleh pria itu sampai di sebuah kamar di lantai empat club tersebut… Dan benar saja, orang itu berusaha melecehkan anda….” ucapannya tiba- tiba terhenti dan membuat semua orang tak sabar mendengar penjelasan Riko.


“Lalu, kau menyelamatkan ku dari pria itu… Tapi justru kau yang melecehkan ku, begitu maksud mu?” potong Nadira semakin geram yang sedari tadi masih menahan emosinya.


Riko segera menggelengkan kepalanya. “Tidak, Nona… Bukan seperti itu....” sangkal Riko.


“Lalu apa, hah?” bentak Nadira.


“Setelah saya membereskan orang itu dan dia dibawa oleh pihak keamanan… Saya menghampiri anda ke dalam kamar, tapi_______”


“Tapi apa?” Nadira kembali memotong ucapan Riko.


“Tapi saat itu anda sudah dalam keadaan… tak berpakaian….” Ucapnya memelankan suaranya.


“Oh, shitt… dan kau melecehkan ku begitu, hah?” Nadira yang sudah dibakar amarah, menghampiri Riko lalu memukulnya dengan tas branded miliknya.


“Dasar brengsek, kau!! Bajingan!! berani-beraninya kau menyentuhku di saat aku mabuk!!" Ia tak hentinya memukulkan tas nya pada Riko yang masih dalam posisi berlutut. Ia pun mencakar wajah Riko, menyerangnya dengan membabi buta.


Pria itu tak menghindar atau pun melawan. Ia hanya bisa pasrah menerima amukan Nadira.


“Nadira, berhenti!!” teriak Athar yang tak bisa berbuat apa- apa karena kondisinya, namun Nadira tak menghiraukan teriakan pria itu.


Ning yang tak tega melihatnya, bergegas mendekati Nadira untuk menghentikannya.


“Sudah, Mbak Nadira… Hentikan… Kasihan itu kening, pipi dan hidung Pak Riko berdarah….” ucapnya memeluk tubuh Nadira dari belakang, namun tetap saja wanita itu tak menghiraukannya.


“Arhhh…” Nadira tiba- tiba berhenti, saat ia merasakan sakit di bagian perutnya. Tangannya mengusap perutnya yang masih rata dengan posisi tubuh yang sedikit membungkuk.


“Nadira…”


“Mbak Nadira…”


“Nona… Anda kenapa?”

__ADS_1


“Aduh, perut ku sakit….” Ringisnya menahan sakit.


Riko segera berdiri, ia langsung menggendong Nadira ala bridal dan segera membawa Nadira keluar dari ruangan tersebut. Ning mengikuti Riko dari belakang, karena khawatir terjadi sesuatu dengan Nadira.


“Suster… Suster… tolong….” Riko yang panik, berteriak meminta pertolongan. Perawat yang berjaga pun menghampiri lalu membawakan kursi roda dan membantu membawa Nadira ke UGD.


***


“Sayang, kamu kok lama? Nadira gimana?” tanya Athar saat Ning baru saja tiba.


“Loh, Nadira memangnya kenapa?” tanya Rosmala yang berada di sana.


“Eng, tadi Mbak Nadira mengeluhkan sakit di perutnya, Kak… Tapi, Alhamdulillah Mbak Nadira dan kandungannya baik- baik saja… Dokter bilang itu hanya kram perut, dan hal itu biasa terjadi saat wanita hamil mengalami stress atau kecapek-an….”


“Syukurlah… Riko masih di sana?” tanya Athar yang tak melihat keberadaan Riko.


“Iya, tadi sempat diusir, tapi Pak Riko bersikeras menemani Mbak Nadira…”


“Memangnya apa yang terjadi?” Rosmala nampak bingung. Athar kemudian menceritakan apa yang terjadi tadi. Tentunya berita itu sangat mengejutkan Rosmala.


“Apa? Jadi Riko ayah dari bayi yang dikandung Nadira?” Rosmala terkejut luar biasa.


“Menurut pengakuannya sih begitu, Kak….”


“Oh, ya ampun… Kakak benar- benar gak nyangka, Riko bisa berbuat seperti itu… Kakak perhatikan selama ini dia orang yang baik dan jujur….”


“Aku juga tidak percaya jika Riko sampai melecehkan Nadira yang sedang mabuk….” ada raut kecewa di wajah Athar, atas apa yang telah dilakukan oleh orang kepercayaannya itu.


“Sebenarnya bukan Pak Riko yang melecehkan Mbak Nadira, tapi_____” ucap Ning nampak ragu mengatakannya.


“Tapi apa?” Athar begitu penasaran.


“Eng, ternyata Mbak Nadira yang melecehkan Pak Riko… Karena selain mabuk, dia dalam pengaruh obat perangsang katanya,” ucap Ning dengan hati- hati.


“Apa?” Athar dan Rosmala kembali terkejut. Seorang wanita memperkosa laki- laki, itulah yang membuat keduanya shock.


“Iya, tadi Pak Riko sudah menceritakan semuanya, sampai akhirnya Mbak Nadira juga percaya jika memang Pak Riko ayah dari bayi dalam kandungannya….”


“Lalu, apa Nadira masih berniat menggugurkannya?” tanya Rosmala yang mengetahui niatan itu dari cerita Athar tadi.


“Eng, kalau soal itu saya gak tahu, Kak… Setelah mendengar keseluruhan cerita Pak Riko dan melihat Mbak Nadira baik- baik saja, saya langsung ke sini… Karena teringat kalau gak ada orang di sini….”


Rosmala bernafas lega. Ia lalu merogoh ponselnya yang bergetar. “Kalau begitu, Kakak pergi dulu… Abang mu sudah sampai di lobi katanya,” ucapnya setelah membaca pesan di ponselnya.


“Iya, kak… terimakasih.”ucap Athar yang dibalas senyuman tulus dari sang kakak ipar yang kemudian beranjak pergi.


“Sekarang kamu percaya padaku, sayang?”


“Hmmm…” angguk Ning yang kemudian mendekat dan duduk di brankar tepat di sebelah Athar yang sudah bergeser.


“Aku minta maaf, sempat menuduh mu dan tidak percaya pada mu….” ucap Ning menyesal.


Athar membawa Ning ke dalam pelukannya. Dikecuplah pucuk kepala wanita yang sangat dicintainya itu.


“Aku lega sekarang… Masalah kesalahpahaman ini akhirnya sudah selesai… Dengan begitu, tidak akan ada yang menganggu hubungan kita lagi….”


“Iya, aku juga merasa lega… Serasa bucat bisul kalau kata orang Sunda mah...."


"Kau bisulan, sayang?" tanya Athar.


"ihh, bukan gitu... Mana ada aku bisulan... itu cuma istilah yang menandakan perasaan lega setelah menuntaskan masalah atau sesuatu yang memberatkan hati dan pikiran...."


"Oh..gitu...."


" Hmmm...." angguk Ning yang merasa nyaman dalam pelukan sang kekasih.


Senyum bahagia terulas dari keduanya. Akhirnya masalah Nadira sudah clear. Perasaan lega dan senang dirasakan keduanya yang berpelukan hingga beberapa saat.


Ning mengurai pelukannya, kemudian menegakkan tubuhnya. Ia menatap lekat mata sang pujaan hati.


“Berarti, sekarang kamu dan Nyonya Andini sudah bisa berbaikan?”


Raut wajah Athar berubah seketika. Senyuman di bibirnya pun sirna. Ia tak menjawab ucapan Ning, dan malah membuang pandanganya dari sang kekasih.


Ning menggenggam kedua tangan Athar.


“Sayang____”


“Aku butuh waktu….”


“Aku tahu… Dan aku juga tahu, jika Nyonya Andini memang sangat menyayangi mu,” ucapnya menghela nafas sejenak.


“Nyonya Andini ingin memberi semua hal yang terbaik untuk mu, namun dengan versi dan cara pandangnya sendiri… Tapi aku yakin, setelah ini cara pandang kalian akan sejalan….”


Athar mengernyitkan keningnya, menatap heran sang kekasih. “Maksud mu?”


Cup


Ning mengecup bibir Athar sekilas.


“Tidak usah dipikirkan… Katanya butuh waktu….” ucapnya mengedipkan sebelah matanya.


“Dasar genit….” Athar menjawil hidung Ning.


“Tapi suka ‘kan?” goda Ning.


“Oh ya?” bisiknya mendekatkan wajahnya pada Ning.


“Ap apa?” Ning gelagapan, memundurkan kepalanya.


“Apanya?” Athar semakin mendekat.


"Ka kau mau apa?" Ning mulai merasa takut.


"Kau yang mulai, sayang..."


“Ak______ hmmmpt,” belum sempat Ning bicara, Athar langsung meraup bibir manisnya. Ning yang awalnya terkejut, kini membalas ciumannya, menikmati dengan memejamkan keuda matanya.


Athar meraba pinggang Ning, dan semakin memperdalam ciumannya, m*lum*t bibir kekasihnya itu dengan agresif.


“Awww hssst…” lirih Ning disela ciuman. Athar menggigit bibir bawah Ning dan menghisapnya dalam, kemudian m*lum*tnya kembali.


Pagutan mereka semakin panas, tangan Athar pun bergerilya mulai menyusup ke dalam pakaian Ning, hingga tak menyadari ada orang yang masuk.


“Ekhem…”


Seketika Ning dan Athar membuka matanya. Keduanya saling melepaskan pagutan mereka.


Ning mendorong dada Athar, bergegas turun dari brankar kemudian berdiri, merapikan keadaannya yang terlihat sedikit berantakan. Belum lagi bibirnya yang basah dan terasa kebas akibat kelamaan sedot menyedot.


Ia menundukkan kepala saking malunya dan tak berani menampakan wajah apalagi menatap kedua orang yang tengah berdiri di depan brankar.


“Memalukan!! Astaga… Ini yang kesekian kalinya kepergok lagi____ akhhhh… Ini benar- benar memalukan… Kenapa gue bisa sampai gak dengar kalau mereka datang….” Jeritnya dalam hati, menggerutuki dirinya sendiri.


------------- TBC ------------

__ADS_1


__ADS_2