
Masih Flashback
“Sayangku … muach muach muach….” Ucapku menciumi tiang listrik dengan posisi tubuh yang membelakangi mereka. Aku ingin tahu, apakah Ning mengenaliku atau tidak.
Aku terus merancau hingga tertawa seperti orang gila, namun ia tak kunjung menghampiri ku. Malah melewati ku begitu saja. Sepertinya mereka takut menghampiri orang mabuk, pikirku.
“Ning sayang… jangan tinggalkan aku….” ucapku dengan nada sedikit keras agar Ning menyadari jika aku adalah pria yang selalu dipanggilnya tuan om. Namun kulihat ia tetap berjalan pergi.
“Ning gadis galak ku, sayang … Muach muach….” Aku kembali memanggil namanya dengan suara lebih keras.
Gedebuk
Aku menjatuhkan diriku hingga duduk di atas trotoar dan bersandar pada dinding tembok untuk mencari perhatian Ning, dan itu berhasil menghentikan langkahnya bahkan ia berbalik dan sepertinya hendak menghampiri ku.
Kulihat jelas, ia benar- benar berjalan ke arah ku dengan raut wajah syock. Hingga ia berdiri di hadapanku dan berjongkok. Dan tak ku sangka ia langsung memeluk ku.
“Tuan Om….” Ucapnya lirih diiringi isak tangis.
“Dia memeluk ku… Dia memeluk ku… ini bukan mimpi, aku benar- benar bisa menyentuhnya….” Gumam ku dalam hati, dengan perasaan bahagia tak terhingga.
Pelukan yang sangat ku rindukan, kini kembali ku rasakan. Ingin rasanya aku membalas pelukannya dan mengatakan jika aku sangat merindukannya, tapi sandiwara ku akan ketahuan. Dan ku yakin jika aku dalam keadaan sadar, dia tak akan mau memelukku bahkan sekedar bertemu dengan ku.
Perkiraan ku tak meleset, ia sangat memperdulikan ku dan bahkan ingin membawa ku pulang ke rumahnya. Sahabatnya yang tak setuju pun tak dihiraukannya, hingga ia menghubungi Riko setelah menggeledah ku dan menemukan ponsel dari saku celana ku. Beruntung asisten ku selalu bisa diandalkan. Hingga Ning mengantarkan ku ke apartment ku.
Ia begitu perhatian hingga menggantikan pakaian ku yang basah tersiram minuman. Aku sampai pura- pura tidur hanya demi agar ia berlama- lama berada di dekat ku. Sungguh aku ingin memeluknya, mencium nya dan mengatakan betapa aku sangat mencintainya dan merindukannya.
Namun nyali ku begitu kecil. Apalagi mengingat ia sudah dilamar oleh Singgih. Hingga aku hanya berani menyatakan cinta dalam keadaan pura- pura tidur. Dan tak disangka, ia membalas pernyataan cinta ku.
“Aku juga mencintai mu … Aku juga sangat merindukan mu, tuan om….” Ucapnya terdengar dengan penuh keyakinan.
Aku tak kuasa menahan rasa bahagia, meski hanya seulas senyum yang bisa ku tampakkan dengan mata terpejam.
Ya tuhan… ingin rasanya aku membuka mata dan segera memeluknya. Namun aku lebih memilih masih bersandiwara lalu mendengkur. Karena takut ia akan pergi.
Saat merasakan ada pergerakan darinya, ku buka sedikit mata hingga menyipit. Benar saja ia hendak berdiri. Ku tarik tangannya agar tak pergi.
“Jangan pergi… jangan tinggalkan aku….” aku kembali pura- pura mengigau.
“Kau yang meninggalkan ku… Bukan aku….” ucapnya dengan nada lirih.
Hatiku terenyuh mendengarnya. Aku bisa merasakan ucapannya itu menggambarkan jika ia terluka dengan perkataan ku. Aku pun sama halnya. Luka, karena telah meninggalkan mu dan menghilang tanpa kabar, hingga membuat mu bersedih.
“Maafkan aku… maafkan aku Ning….” lirihku dalam hati. Ku lepaskan genggaman tanganku, karena merasakan ada penolakan darinya. Hingga ia pergi meninggalkan ku seorang diri di dalam kamar.
Ku buka mataku usai terdengar suara pintu ditutup. Aku pun bangkit dan duduk menatap nanar pada pintu yang menjadi pemisah diantara kami.
“Maafkan aku, Ning… Maafkan aku….” lirihku menahan sesak di dada.
Tak lama ku dengar ada suara Riko. Dan lagi- lagi dia pun melakukan tugasnya dengan sangat baik tanpa perlu ku suruh.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu setelah 15 menit tak kudengar ada suara siapa pun diluar sana.
“Masuk….” Ku yakin yang mengetuk adalah Riko, asisten ku.
“Nona sudah pulang diantar sopir, Pak….”
“Good job….”
“Bagiamana anda bisa yakin, Nona akan mengantarkan anada kemari?” nampaknya ia masih penasaran.
“Karena aku tahu dia memiliki perasaan sama dengan ku… Semarah apa pun dia pada ku, dia tak akan tega membiarkan ku terkapar di jalanan dalam keadaan mabuk….” Ucapku dengan percaya diri.
Riko hanya mengangguk dan tersenyum, ia tahu pasti perasaan ku pada Ning.
“Riko… dimana handphone ku?” tanya ku saat meraba saku celana dan tak menemukannya.
“Bukannya tadi digunakan Nona untuk menghubungi saya….” Ucapnya lalu mencari ke seluruh tempat di kamar ku, namun ia tak menemukannya.
“Maaf, Pak… Sepertinya handphone Pak Daniel ada pada Nona Ning….” ucap Riko mengira- ngira.
Aku tersenyum sumringah seolah mendapat alasan untuk bisa bertemu dengannya lagi. Dan kali ini aku akan menemuinya dalam keadaan sadar.
“Takdir pun berpihak pada ku….” gumam ku tersenyum.
-
__ADS_1
Flashback off
*
“Jadi… malam itu kau hanya bersandiwara?” ucapnya setelah mendengar semua cerita ku.
“Maaf… Ning…..” lirihku menyesal. Terlihat jelas raut kekecewaan di wajahnya.
Ia menghempaskan tangan ku. “Berarti semua perkataan mu malam itu hanya sebuah kebohongan ….”
“Tidak Ning… aku benar- benar mencintai mu… Itu ungkapan dari hati ku yang terdalam….” Aku mencoba meyakinkannya.
“Bohong!!” ia masih kekeuh tak percaya.
“Aku tidak bohong, Ning….” aku terus berusaha membuatnya percaya.
“Jika kau mencintai ku… Lalu kenapa kau meninggalkan ku saat aku benar- benar membutuhkan mu dan pergi tanpa sepatah kata pun? Apa kau tahu, betapa terlukanya hati ku saat itu….” ucapnya nampak menahan sesak di dada.
“Maafkan aku, Ning… Aku terpaksa harus pergi… Aku sudah menandatangani kontrak ke London… Aku juga pergi demi kebaikan dan kesembuhan mu….” Ku tundukan kepala ku, karena tak sanggup menatap matanya yang sudah berkaca- kaca.
“Berarti, sekarang kau kembali menandakan kau sudah tak peduli dengan kebaikan dan kesehatanku?”
“Ning….” lirihku kembali menatapnya dengan tatapan sendu.
“Lupakan aku!! Aku sudah memiliki pilihan….”ucapnya lalu memalingkan wajah menghindari tatapan ku.
“Aku tidak bisa Ning… Aku sudah mencoba melupakan mu… Tapi semakin berusaha keras, perasaan itu malah semakin kuat….”
“Percuma… kau sudah terlambat….” Ia membalikan tubuhnya dan membelakangi ku. Aku yakin karena ia tak ingin aku melihatnya meneteskan air mata.
“Kau benar Ning… Seandainya malam itu penyakit ku tak kambuh setelah aku keluar dari toilet. Pasti aku bisa mencegah mu menerima lamaran Singgih....” ucapku sesal.
“Apa? Maksud mu?” ia kembali berbalik ke arah ku.
“Aku berada di hotel itu, bahkan di restoran tempat Singgih melamar mu, Ning….”
Ning kembali terlihat terkejut. “Apa? Jadi kau ada di sana?”
“Ya… aku sedang makan malam dengan keluarga ku di sana….”
Ia kembali menatap ku, seolah meminta penjelasan lagi dari ku.
Ning yang masih nampak terkejut, tak berucap apa pun.
“Aku bergegas pergi ke toilet, karena masih belum berani menampakan diriku di hadapan mu, Ning… Dan saat di dalam toilet, aku mendengar suara mu di balik dinding pembatas toilet… Aku terdiam, dan merasa sedang berhalusinasi, sampai aku tak sadar sudah mengirup bau gas dan segera keluar dari toilet….”
“Apa? Jadi orang itu benar- benar kamu, tuan om?” nampaknya ia pun menyadari keberadaan ku di sana.
“Iya….”
“Dan yang dibawa oleh mobil ambulan itu kamu?”Ning kembali bertanya.
“Iya, Ning….”
Ia membekap mulutnya. Matanya pun kembali berkaca- kaca. Ia membalikan tubuhnya dan membelakangi ku.
“Pergilah… ”ucapnya.
Deg
“Dia mengusirku?” batin ku kecewa sekaligus terkejut.
“Kenapa Ning… Bukankah kau juga mencintai ku?” ucapku mempertanyakan.
“Kita sudah berbeda… Pergilah, jangan pernah menemui ku lagi… Anggap saja hari ini tak pernah terjadi… ini juga sudah larut….” Ucapnya tanpa menoleh sedikit pun pada ku.
Ku kira dia akan membalas ungkapan perasaan ku seperti malam itu. Tapi ternyata, aku salah. Aku terlalu percaya diri. “Mungkinkah ia tak bisa memaafkan ku?” batinku lirih.
Suasana hening seketika. Tak ada lagi ucapan dari kami berdua yang masih berdiri di tempat yang sama. Mulut kami tiba- tiba diam membisu, namun pikiran ku berkecamuk. Sepertinya ia pun begitu.
Kutarik nafas dalam- dalam. Aku sadar tak bisa memaksakan kehendak ku padanya. Hari semakin malam, pasti ia tak merasa nyaman jika aku terus di sini.
“Baiklah, jika itu mau mu… Aku akan pergi… Setidaknya aku merasa lega karena sudah mengutarakan isi hati ku pada mu... Terimakasih sudah bersedia mendengarkan ku….” ucapku berusaha legowo, padahal sebenarnya berat untuk melakukan hal itu.
Drt drt drt…
Tiba- tiba handphone ku bergetar, diiringi nada dering yang menandakan ada panggilan masuk.
__ADS_1
“Iya, Riko… Ada apa?”
-----------------+
“Baiklah, kita akan kembali besok… Urus saja jadwal penerbangannya….” Ucapku mengakhiri panggilan telpon.
Ku lihat Ning masih berdiri membelakangi ku. Lebih baik aku segera pergi, karena aku yakin dia merasa lelah setelah kejadian di pesta tadi. semakin lama di sini, akan semakin menyakitkan bagi ku, juga baginya ku rasa.
“Aku permisi, Ning… selamat tinggal….” Ucapku lalu melangkah pergi dengan berat hati dan membawa rasa kecewa juga sedih yang mendalam.
“Mungkin dia memang tidak di takdir kan untukku… Mungkin memang sudah nasib ku tak bisa bersama dengan orang yang kucintai….” Lirih ku dalam hati dengan terus melangkahkan kaki ku, hingga tiba di depan pintu.
Grep
Tiba- tiba ada yang memeluk ku dari belakang.
“Jangan pergi… jangan tinggalkan aku lagi, hiks hiks….” Ucapnya diiringi isak tangis.
Deg
Dadaku berdesir hebat, aku tak menyangka dia menghentikan langkahku dan mencegah ku pergi. Seketika aku diam mematung, seolah tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Bagaimana bisa di berubah hanya dalam hitungan menit.
“Aku juga mencintai mu… Aku sangat mencintai mu… Jangan pergi lagi…. Aku tak akan sanggup…. Hiks hiks….”
Akhirnya, jawaban yang sejak tadi ku tunggu diucapkannya juga. Rasa bahagia begitu membuncah di hati.
Perlahan ku lepaskan kedua tangannya yang melingkar di perutku. Ku berbalik, dan ku pandangi dia yang berlinang air mata dengan menundukkan kepala.
Ku hapus air matanya dengan jemari tangan ku. Dagunya ku angkat sehingga mata kami saling bertatapan satu sama lain. “Kau bilang apa tadi, hem?” ucapku ingin mendengar lagi apa yang tadi ia katakan.
“Aku juga juga mencintai mu, aku sangat mencintai mu, tuan om….” Ucapnya dengan penuh keyakinan diiringi air mata berjatuhan.
Seketika aku langsung menarik dan membawanya ke dalam pelukan ku. Bahagia tak terkira, itulah yang sedang ku rasakan.
Ku kecup pucuk kepalanya berkali- kali, hingga air mata ku pun ikut menetes. Air mata bahagia.
“Kumohon jangan pergi lagi… Aku sangat tersiksa jauh dari mu… hiks hiks” ucapnya memohon.
Hatiku terenyuh mendengarnya. Ingin ku katakan jika aku pun sangat tersiksa harus meninggalkannya dalam kondisi saat itu. Jauh darinya tanpa mendengar suara atau pun melihatnya, membuat ku serasa ingin mati. Tapi aku tak ingin dia tahu aku selemah itu. Aku pengecut, aku pecundang yang hanya bisa mabuk untuk melupakan rasa rindu yang menyiksa ku tanpa berani menemui atau sekedar menghubunginya.
Perlahan ku lepaskan pelukan ku. Ia menanggahkan kepalanya dan menatapku.
“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan ku lagi… Kalau perlu, bawa aku pergi bersama mu….”
Aku tertegun mendengar ucapannya. Tak ku sangka ia begitu mencintai ku, sama seperti aku mencintainya. Aku tak mampu berkata apa pun lagi.
“Tentu….” Ucapku lalu tersenyum sumringah.
Ia berjinjit nampak ingin terlihat lebih tinggi. Entah apa yang akan dilakukannya.
Cup
Tak ku sangka, benar-benar di luar dugaan, ia mengecup bibirku. Mata ku terbelalak melihat aksinya itu. Tentu saja tak ku sia- siakan. Ku balas ci**mannya dan kul**hap bibirnya dengan penuh kelembutan, hingga bibir kami saling berpag**tan satu sama lain.
Tangannya yang mer**ba pinggangku, membuat ku semakin menggebu untuk lebih mel**hapnya. Ku pegang tengkuk lehernya agar ia tak bisa lepas dari ku. Ci**man pun semakin lama semakin mesra. Ternyata bibirnya begitu manis dan membuat ku gerah menahan ga**rah.
Perlahan ku lepaskan pag**tan bibir kami yang sudah sama- sama bas**ah, karena takut tak bisa mengendalikan diri. Nafas pun terasa menggebu, terengah-engah seakan kami saling berebut oksigen.
Terlihat si gadis galak ku yang mulai agresif menundukkan kepalanya. Ku yakin ia merasa malu, entah itu karena tiba- tiba mencium ku atau karena bibirnya terlihat merekah karena ulah ku.
Ku kecup keningnya dengan penuh perasaan. Lalu ku dekatkan bibir ku pada telinganya.
“Tumben gak pingsan,” ucapku terkekeh.
Bukkk…
“Aduh….”
-
------------------- TBC------------
**************************
-
Happy Reading…🤩😉
__ADS_1
-
Tilimikicih… alapyu all….😍😍😘😘😘