NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Siapa Dia ??


__ADS_3

Ning yang begitu syok memerosotkan dirinya di pojokan ruang VVIP yang ditempatinya, dengan air mata yang mengalir deras. Segala pikiran buruk berkecamuk di kepalanya. Masih terdengar jelas kalimat terakhir yang dikatakan dokter pada Athar di ruangan sana.


“Penyakitnya akan bertambah parah jika tidak segera dilakukan operasi, bahkan kemungkinan terburuknya bisa menyebabkan kematian ….”


“Aku akan mati … Aku akan mati …huhuhuhuhuu….” Ning menangis sejadi- jadinya.


“Kenapa semua ini harus terjadi pada ku, huhuhuhuhu ….” Ning menangis meratapi nasibnya yang begitu malang. Sudah tak memiliki orang tua, keluarganya pun meninggalkannya, dan kini ia mengidap penyakit parah.


Tubuhnya terasa semkin lemas, tangannya tak mampu bertumpu lagi. Hingga membuatnya tergeletak menyamping dengan membungkukkan tubuhnya seperti udang di atas lantai. Air matanya terus mengalir, ia tak mampu berkata apa pun lagi. Hanya suara isak tangis yang keluar dari mulutnya.


Ceklek


Athar yang baru saja masuk, terkejut melihat Ning tergeletak di lantai. Ia langsung berlari menghampirinya.


“Ning … kamu kenapa? Kenapa tiduran dilantai seperti ini? Apa kamu jatuh?” tanya nya yang begitu mengkhawatirkan Ning. Ia duduk di lantai tepat di depan Ning tergeletak. Ia pun dengan segera mengangkat tubuh Ning, kemudian menggendong dan membaringkannya di atas ranjang dengan posisi duduk.


“Kamu kenapa Ning… kenapa kamu nangis?”Athar semakin cemas.


“Aku mau pulang… aku mau pulang, huhuhuhuhu ….” ucap Ning berderai air mata.


“Kita sudah membahas hal ini kemarin … kamu masih harus dirawat, Ning….” Athar menolak permintaan Ning.


“Aku gak mau … aku mau pulang… aku mau ketemu sama mama sama bapak, aku mau kumpul sama mereka, huhuhuhuu ….” Ning bersikeras minta pulang.


Deg


Athar tertegun mendengar ucapan Ning, karena setahunya orang tua Ning sudah meninggal.


“Ning … kamu ngomong apa? Jangan bicara ngawur seperti ini….”


“Aku mau pulang … huhuuhuhuu....” Ning hendak turun dari ranjang, namun Athar mencegahnya.


“Ning … kamu masih harus di rawat … tolong jangan terus merengek seperti ini ….” pinta Athar.


Ning menghapus jejak air matanya dan berhenti menangis.


“Aku aku baik- baik saja… aku baik- baik saja tuan Om … lihat aku gak kenapa- napa kan? Jadi gak usah dirawat lagi di sini … Aku bisa pulang kan?” Ning mengoceh seolah tak terjadi apa-apa.


“Ning….” lirih Athar.


“Aku mau pulang, tuan om … Aku mau pulang ….” Ning menatap mata Athar dengan penuh harap.


“Ning ... Please….”


“Aku mau pulang… huhuhuhuu … Untuk apa aku berlama- lama dirawat? Sebentar lagi juga aku akan mati… huhuhuhu ….” Ning kembali menangis.


“Ning jangan bicara seperti itu….hentikan ocehan mu!!” Athar kini mulai takut.


“Itu kan yang dikatakan dokter pada tuan om… hiks hiks ….” ucapnya terisak.


“Ning….” lirihnya yang tercengang mendengar ucapan Ning.


“Aku mengalami gagal ginjal kronis stadium empat… Dan ginjal ku sudah tidak berfungsi lagi…aku akan mati aku akan mati, huhuhuhuhu…..”


Athar langsung memeluk Ning yang terlihat begitu sedih dan terpukul. Ia tak menyangka jika Ning bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya. Athar mengusap lembut punggung Ning untuk menenangkannya.


“Cukup Ning …. Jangan bicara seperti itu lagi … Kamu akan baik- baik saja, Ning … kamu akan baik baik saja … Aku janji, kamu akan segera sembuh….” ucapnya lirih. Hatinya merasa terenyuh, membuatnya merasa sangat sedih melihat Ning seperti itu.


“Bagaimana bisa aku sembuh? Ginjal ku sudah rusak dan tidak berfungsi, hiks hiks….” Ucap Ning seolah putus harapan.


Athar melepaskan pelukannya. Ia menatap Ning yang tertunduk dengan menggenggam kedua tangannya.


“Ning, kamu akan sembuh … Aku janji…. Aku akan melakukan apa pun untuk kesembuhan mu.” Athar meyakinkan Ning.


Ning menggelengkan kepalanya dengan berlinang air mata.


“Jangan, hiks hiks … Biarkan saja aku mati, agar tidak menyusahkan siapa pun lagi … hiks hiks… Aku hanya bisa membawa kesialan pada orang -orang yang berada di sekelilingku, hiks hiks ….”


“Jangan bicara seperti itu, Ning…” Athar menyentuh dagu Ning dan menanggahkan wajahnya, hingga keduanya saling bertatapan.


“Dengar, percayalah pada ku, kamu akan sembuh, dan itu pasti … Aku sudah mengerahkan orang untuk mencari pendonor ginjal untuk mu… Kamu akan sembuh, Ning … Kamu akan sembuh setelah menjalani operasi pencangkokan ginjal….” ucapnya penuh keyakinan.


“Sudah… jangan menangis lagi … Kamu akan baik- baik saja ….” ucap Athar dengan mengusapkan jemari pada kedua pipi Ning untuk menghapus jejak air matanya. ia kembali memeluk Ning.


Perlahan tangisan Ning pun mulai mereda. Nampaknya ia sudah mulai tenang dan rasa takutnya sedikit berkurang. Meski masih ada yang mengganggu pikirannya.


“Hk … hk ….” Ning kembali merasakan mual. Ia menutup mulut dengan telapak tangannya, menahan agar tak muntah dipelukan Athar. Ning melepaskan pelukannya, ia segera turun dan bergegas ke kamar mandi.


“hoek hoek hoek ….” Ning pun muntah- muntah di dalam sana. Athar bergegas menghampiri Ning, namun ia hanya bisa menunggu dengan berdiri di depan pintu kamar mandi.


Tak lama, Ning pun keluar dengan wajah pucat dan nampak lemas. Namun wajahnya terlihat basah, sepertinya ia sudah mencuci muka di dalam sana.


“Ning, kamu__________” Athar tak melanjutkan perkataannya, karena tiba- tiba tubuh Ning oleng dan pingsan. Beruntung ia masih bisa menahan tubuh Ning, sehingga tak jatuh ke lantai.


Athar menggendong dan kembali membaringkan Ning di atas ranjang. Ia menekan tombol untuk memanggil perawat, kemudian menelpon seseorang.


Tok tok tok


“Masuk!!” seru Athar.


“Permisi, maaf ada yang bisa saya bantu?” tanya suster menghampiri.


“Tolong segera periksa dia … tadi setelah muntah- muntah dia langsung pingsan ….” ucap Athar yang terlihat begitu mencemaskan Ning. Suster pun segera memeriksa keadaan Ning.


“Biar saya periksa, sust….” Dokter yang tiba- tiba datang, langsung mengambil alih pemeriksan Ning.


“Bagaimana Om?” tanya Athar.


Dokter yang ternyata masih ada hubungan kekerabatan dengan Athar itu, menghela nafas sejenak usai memeriksa keadaan Ning.


“Daniel, sepertinya tidak bisa ditunda lagi … Selagi menunggu pendonor ginjal, sebaiknya hari ini ia menjalani cuci darah,” ucap sang dokter.


“Lakukan saja yang terbaik, Om ….” ucap Athar dengan pandangan yang tertuju pad Ning yang masih tak sadarkan diri.


“Daniel, kamu persiapkan saja mental Ning, kondisinya harus tetap stabil… Om akan menjadwalkan untuk tindakan cuci darah nya, dan nanti ada bagian administrasi datang ke sini untuk persetujuan….”


“Iya, Om ….”


Dokter menepuk bahu Athar. “Jangan cemas, dia akan baik- baik saja….”


“Terimakasih, Om ….” ucapnya yang diangguki sang dokter. Beliau pun beranjak keluar diikuti suster.


Athar yang nampak frustasi mengkhawatirkan kondisi Ning, mengusap kasar rambutnya. Ia duduk di atas kursi yang berada di sebelah ranjang tempat Ning berbaring. Ia memandangi Ning dengan tatapan sendu.


“Kamu akan baik- baik saja, Ning … Aku akan melakukan apa pun untuk kesembuhan mu,” ucapnya lirih dengan mata yang berkaca- kaca.


Ning yang mulai siuman, perlahan ia membuka matanya.

__ADS_1


“Kamu sudah sadar, Ning….” Athar bangkit dari duduknya.


“Tuan om….” Ning berusaha bangun.


“Iya … kamu jangan bangun dulu, berbaring saja ….” cegah Athar.


Tok tok tok….


“Masuk ….” seru Athar.


Seorang perawat masuk bersama seorang pria yang berpakaian rapi seperti pegawai kantoran pada umumnya.


“Selamat pagi, saya dari bagian administrasi… Apa benar pasien atas nama Ibu Ningrat Atisaya dijadwalkan untuk tindakan cuci darah?” tanyanya memastikan.


“Iya, benar ….” Athar membenarkan.


“Kami membutuhkan persetujuan pasien dan juga keluarga sebelum melakukan tindakan cuci darah tersebut….” ucapnya dengan membawa papan klip yang berisi dua lembar kertas di tangannya.


“Hah? Cuci darah?” Ning yang masih mengumpulkan kesadarannya langsung membelakan mata saat mendengar ucapan pria itu.


“Iya, betul ….” Angguk pria itu.


Ning melihat ke arah Athar dengan tatapan bingung dan syock.


“Kamu akan melakukan cuci darah, Ning … Agar kondisi mu membaik….” ucap Athar. Ia beralih pada staff administrasi dan menghampirinya.


“Mana surat persetujuannya? Saya yang akan tanda tangan….” Athar meminta surat tersebut.


“Maaf, apa bapak suami dari pasien?” tanya pria itu.


“Bukan.” Jawab Athar terus terang. Dia tidak ngaku- ngaku seperti pada kedua teman Ning dulu.


“Apa bapak ada hubungan keluarga dengan pasien?” pria itu kembali mempertanyakan hubungan Athar dengan Ning.


“Tidak.” Athar menjawab dengan ketus.


“Saya mohon maaf, Pak … Yang menandatangani surat persetujuan ini harus ada hubungan keluarga dengan pasien, Pak ….”


“Dia itu anak yatim piatu, memangnya anda akan meminta tanda tangan ke kuburan orang tuanya apa? Sini saya yang tanda tangan… gitu aja ribet!!” Athar merebut papan klip berisi kertas dari tangan petugas administrasi tersebut.


Athar nampak kesal pada staf administrasi tersebut yang membahas soal hubungan keluarga. Ia sendiri saja tak tahu jenis hubungan apa yang terjadi padanya dan Ning.


“Dimana saya harus tanda tangan?” tanyanya ketus.


“Di sebelah kanan bawah yang ada materainya, tapi harus diisi dulu data diri anda … Dan lembar yang satunya ditandatangani oleh pasien,” ucapnya menjelaskan.


“Hmmm.” Athar yang sudah paham pun melakukan apa yang disebutkan staf administrasi tadi. Ning juga menandatanganinya.


Setelah suster memeriksa keadaan Ning dan memasang kembali infusan, kedua petugas rumah sakit itu pun keluar ruangan. Dan kini tinggallah Ning dan Athar berdua di ruang VVIP tersebut. Ning duduk di ranjang, sementara Athar duduk di kursi sebelah ranjang tersebut.


“Tuan om….”


“Hmmmm ….”


“Kenapa aku harus cuci darah segala?” tanya Ning yang terlihat gelisah dan takut.


Athar menghela nafas sejenak. “ Ning… seperti yang sudah kamu ketahui kalau kamu mengalami gagal ginjal kronis stadium empat … Dokter bilang kedua ginjal mu tidak berfungsi dengan baik, terutama yang sebelah kanan itu sudah tidak berfungsi. Sehingga harus dilakukan pencangkokan ginjal… Tapi, karena pendonornya belum ada, kamu harus melakukan cuci darah dulu … Jika tidak, limbah metabolisme dan racun dalam darah akan menumpuk … Dan itu akan sangat berbahaya….” Athar memberi penjelasan pada Ning.


“Separah itu kah penyakit ku?” lirih Ning sedih.


Athar mengusap lembut punggung tangan Ning. “Kamu jangan takut … Kamu pasti bisa sembuh … Aku janji, akan menemukan pendonor ginjal untuk mu secepatnya ….”


“Ning, jangan pikirkan tentang hal itu … Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan mu ….”


“Tapi … aku____”


“Apa kamu lupa? Bukankan kamu ada honor jadi pacar pura- pura ku? Jadi kamu tidak usah khawatir lagi tentang biaya rumah sakit ….”


Ning tertegun, ia sama sekali tidak ingat dengan honor yang sempat dinantikannya untuk menebus rumah orang tuanya.


“Benar juga … Aku bisa menggunakan uang itu untuk pengobatan ku … Rumah bapak juga kan sudah kembali,” gumam Ning dalam hati.


“Hei, kenapa bengong gitu?” Athar menggoyangkan tangan Ning.


“Eng, apa uang itu cukup?” tanya Ning nampak belum tenang.


“Tentu saja ….” Athar menjawab dengan entengnya.


“Baiklah kalau gitu, berarti aku tidak punya hutang ya sama tuan om?” tanya Ning memastikan.


“Iya … jadi tak usah pikirkan soal biaya lagi.” Athar mengiyakan.


“Ya sudah kalau gitu … untung aja rumah bapak udah balik lagi, jadi uangnya masih bisa dipakai berobat,” ucap Ning yang terlihat lega.


“Apa? Rumah mu sudah kembali? Bukannya disita rentenir?” tanya Athar heran.


“Iya, tapi ternyata rentenir itu menipu mang Asep … Setelah meminjamkan uang, dia sendiri merampok uang itu dari mang Asep … Dan kemarin dia menghubungi ku untuk mengembalikan rumah bapak … Katanya dia sering mimpi buruk dan dihantui gitu….”


“Baguslah kalau begitu… lalu dimana paman dan bibi mu?” tanya Athar.


“Mungkin mereka pulang kampung….” ucap Ning tak yakin.


“Kemana?” tanya Athar nampak penasaran.


“Ke Tasikmalaya….” jawab Ning.


“Dimana itu?” Athar seolah baru mendengar nama daerah yang disebutkan Ning.


“Di Benua Afrika….” jawab Ning menahan tawa.


“Apa?” Athar terkejut mendengarnya.


“Tentu saja masih di Indonesia, tuan om … hahaha.” Ning malah menrtawakan Athar.


“Kau itu, aku nanya serius malah bercanda….” ucap Athar kesal.


“Ngapain sih tuan om nanya- nanya segala?” Ning merasa heran.


“Ya … mereka itu kan keluarga mu yang tersisa … Siapa tahu kamu ingin memberitahu mereka kalau kamu sakit….”


“Gak usah, tuan om … Gak ngaruh ….” Raut wajah Ning tiba- iba berubah sedih.


“Sudahlah, lupakan saja … anggap aku tidak pernah menanyakan hal itu … Berarti kamu sekarang bisa fokus sama pengobatan mu ya.” Athar mengalihkan topik.


“Iya … tapi___”


“Tapi apa lagi?” tanya Athar.

__ADS_1


“Ak aku … aku takut ….” ucap Ning terbata- bata.


“Jangan takut … kamu akan baik- baik saja … Aku akan selalu berada di sisi mu ….”


“Bagaimana kalau aku meninggal saat cuci darah.” Ning berpikir terlalu jauh.


“Ning, bisa tidak kamu jangan bahas hal seperti itu lagi… Aku tidak akan membiarkan mu mati … Kalau perlu, aku akan mencegat malaikat maut yang akan mencabut nyawa mu agar dia mengurungkan niatnya ….” cerocosnya mulai muak dengan kata- kata mati.


“Mana bisa ….”


“Ya makanya jangan ngomong mati mati terus, kalau beneran mati baru tahu rasa kamu!!”


“Siapa yang gak takut mati, apalagi nanti darahku diambil terus dicuci baru dimasukan lagi … kalau aku kehabisan darah gimana?” Ning masih berpikiran kemungkinan buruk.


“Oh astaga Ning … Jangan samakan cuci darah dengan mencuci pakaian … Mana mungkin dokter mengeluarkan darah mu seember, lalu direndam pakai detergen baru setelah itu dimasukan lagi!!” cerocos Athar kesal.


“Memangnya prosesnya seperti apa?” tanya Ning penasaran.


“Kamu nanti akan dipasang kateter vena dan ada dua selang, yang satu jalan keluar darah yang kemudian melewati alat cuci darah … Dan selang yang satu lagi untuk jalan masuk darah yang sudah bersih… jadi biasa aja ngalir seperti dalam tubuh, tidak ditimbun dulu ….” ucap Athar menjelaskan.


“Oh, gitu ya … Sakit gak?” tanya Ning.


“Enggak.”


“Tuan Om tahu darimana? Emangnya pernah?” tanya Ning heran.


“Ya ampun Ning … apakah setiap aku menjawab pertanyaan mu itu berarti aku sudah mengalami nya… Yang benar saja … Kalau aku bilang melahirkan itu sakit, apa kau akan mengira aku sudah pernah merasakan melahirkan?” Athar nampaknya semakin kesal dengan pertanyaan Ning.


“Aku kan cuma nanya, gak usah ngegas gitu kali ….” Protes Ning mengeluh.


Athar mendengus kesal. “Sudahlah, sebaiknya kamu istirahat, dan tenangkan dirimu… Jangan berpikir macam- macam, supaya kondisi mu tetap stabil,” ucapnya lalu bangkit.


“Tuan om mau kemana?” tanya Ning yang melihat Athar hendak melangkah.


“Mau ngambil kopi di kulkas, mau ikut?”


“Ihh, orang kulkas nya aja di situ….” Ning melirik ke arah kulkas.


Athar melengos begitu saja, ia mengambil kopi dingin kesukaannya dari dalam kulkas yang ada di ruangan tersebut dan meminumnya sembari duduk di atas sofa.


Usai menghabiskan satu botol kopi, ia mendapat panggilan telpon. Kemudian ia pamit pada Ning untuk keluar sebentar.


“Bagaimana?” tanya Athar.


“Sudah ada, Pak….” Ucap Riko, sang asisten pribadi.


“Pendonornya?” Athar kembali bertanya.


“Ada enam orang yang bersedia menjadi pendonor ….”


“Dimana mereka?”


“Sudah di lab, Pak … sedang melakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel darah untuk tes kecocokan....”


“Baguslah … Semoga dari keenam orang itu ada yang cocok ….” Athar bisa sedikit merasa lega, meski belum sepenuhnya.


“Iya, Pak ….” Riko mengangguk.


“Cari tahu alamat paman dan bibi nya Ning. Dia bilang kemungkinan mereka pulang kampung ke Tasikmalaya … Jika dari keenam orang itu tidak ada yang cocok, setidaknya masih ada paman nya yang merupakan adik kandung dari bapak nya Ning ….”


“Baik, Pak ….”


Athar meninggalkan Riko dan kembali masuk ke ruangan Ning.


Tak lama suster datang untuk membawa Ning ke ruang hemodialisa, yakni ruangan khusus untuk cuci darah. Ia sudah terlihat tenang dan tidak takut lagi, karena Athar terus menemaninya.


Setelah ditimbang berat badan, kemudian dipasang kateter dan selang yang terhubung pada alat cuci darah, prosesnya pun mulai berjalan.


Ning diminta duduk santai seperti biasanya. Athar yang menemaninya pun mengajak Ning membicarakan banyak hal, agar Ning tak merasa bosan.


“Gak sakit kan?” tanya Athar yang berdiri di sebelah ranjang.


“Enggak ….” Ning menggelengkan kepala.


“Apa ku bilang ….”


“Tuan om akan tetap di sini kan?” tanya Ning nampak takut ditinggalkan.


“Tentu saja … Asalkan kamu gak kentut, aku bisa berlama- lama di sini….”


“Enggak lah …”


“Kamu itu semalam saja lagi tidur nyenyak, sempet- sempetnya kentut … Untung aku pas lagi keluar ….”


“Kok bisa tahu aku kentut?” tanya nya heran.


“Riko yang bilang…. Aku menyuruhnya menjaga mu saat aku pulang dulu sebentar … Jadi dia yang apes ….”


“Hahahahaha ….” Ning tak kuasa menahan tawa.


“Jangan ketawa … Nanti selangnya bisa lepas!!” Athar memperingatkan.


“Tuan om jangan ngelawak dong, biar aku gak ketawa ….”


Tok tok


Terdengar suara ketukan pintu.


“Masuk!!” seru Athar.


Ceklek


Munculah seorang wanita cantik nan anggun dari balik pintu yang terbuka. Ia berjalan menghampiri Athar yang masih berdiri di sebelah ranjang Ning. Ia tersenyum ramah pada Athar. Sementara Ning yang melihatnya, nampak kesal dan menatap sinis orang tersebut.


“Siapa dia?” gumam Ning dalam hati.


-


-


-------------TBC-------------


*******************


-


-

__ADS_1


Happy Reading....


__ADS_2