NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Jangan Mengelabui Ku Lagi !!


__ADS_3

Tok tok tok


Suara ketukan pada kaca jendela mobil membuat ku membuyarkan lamunan. Terlihat pria gendut dengan kepala plontos di luar sana. Mami yang sejak tadi berkutat dengan ponsel pun, berhenti sejenak dan melihat pada orang yang berdiri di luar sana.


“Bukakan pintunya!” titah Mami yang masih sibuk dengan ponselnya, dan sopir pun membukakan pengunci pintu serta menurunkan kaca mobil pintu depan.


“Masuk!!” seru sopir. Pria itu masuk dan duduk di jok sebelah sopir, ia menoleh ke arah kami yang duduk di jok penumpang. Tatapannya mengarah pada Mami yang duduk di belakang sopir.


“Semuanya sudah beres Nyonya… Saya sudah katakan sesuai instruksi dari Nyonya….”


“Mereka tidak curiga pada mu?” tanya Mami tanpa melirik.


“Awalnya mereka ragu, tapi saya sudah meyakinkan mereka sampai keduanya percaya….”


“Bagus… Indro, berikan sisa upahnya….”


“Baik, Nyonya….” Sopir pun memberikan amplop coklat pada pria itu. ku yakin itu isinya uang.


“Terimakasih banyak Nyonya… senang bekerja sama dengan anda….” pria itu tersenyum sumringah. Ingin sekali rasanya menghajar orang itu.


“Hmm… Jangan pernah tunjukan batang hidung mu di depan mereka….”


“Baik, Nyonya… saya permisi….” Pria itu pun keluar dari mobil.


“Kau sudah puas, Athar?” tanya Mami.


Aku hanya diam tak menyahuti ucapan Mami. Tatapanku tertuju pada pintu rumah itu dengan berharap Ning akan keluar dari sana dan menampakan senyum bahagia, karena rumah itu sudah kembali lagi padanya.


“Jalan!!” seru Mami dan sopir pun melajukan mobil meninggalkan tempat itu.


Heh, Mami benar- benar sudah tak memperdulikan perasaan ku. Entah hatinya terbuat dari apa. Padahal sejak kecil aku adalah anak kesayangannya. Kedua kakak-ku saja bebas memilih pasangan mereka yang notabene-nya bukan dari kalangan kelas atas. Kak Ros anak dari ajudan mendiang Papi, Annelise anak seorang petani di Belanda. Tapi, kenapa aku_____ Arghh sudahlah, aku akan bersabar selama setahun ini.


“Lihat saja nanti apa yang akan terjadi, Nyonya Andini yang terhormat….” gumamku dalam hati.


Sepanjang perjalanan, aku tak hentinya memikirkan Ning. Entah mengapa perasaanku mendadak tak enak. Ku tepis hal itu, mungkin ini karena rasa bersalah ku yang meninggalkannya begitu saja dengan menghilang tanpa kabar. Pikirku.


__________


“Hai, sayang… sudah siap?”


Mataku terbelalak melihat Mami menyapa Nadira saat kami sudah masuk ke bandara. Yang lebih mengejutkan lagi, Nadira sedang bersama Riko. Tak ku sangka ternyata Mami mengatur keberangkatan kami agar pergi bersama.


“Cih, Gesit juga usaha si Nyonya besar ini,” decih ku dalam hati.


“Maaf, Pak… Nyonya besar tadi menyuruh saya unyuk menjemput Nona Nadira agar____ “


“Take off jam berapa?”sambarku.


“Satu jam lagi, Pak… saya sudah urus semuanya….”


“Hmmm ….”


Kami pun duduk di kursi tunggu. Aku merasa kesal mendengar Mami tak hentinya berceloteh dengan Nadira.


Ku buka galeri di ponsel, dan kulihat foto- foto Ning di sana. Beruntung saat aku di luar kota sering memintanya mengirimkan foto di setiap aktifitas sehari- harinya, hingga galeri ku dipenuhi foto gadis itu.


Akhirnya Mami pulang sesaat sebelum kami ke pintu masuk. Kami pun saling berpelukan. Langkah ku terasa sangat berat, berbeda dari biasanya.


Baru saja duduk lima menit, ponsel ku berdering.


“Ya ampun, Dino… kenapa lagi anak itu,” gumam ku menggelengkan kepala. Sepertinya keponakan tersayang ku itu masih sangat berat berpisah dengan ku. Anak- anak Bang Aufar memang lebih dekat dengan ku ketimbang dengan orang tua mereka.


“Hal___”


“Om, Ning pingsan….” belum selesai aku menyapa, Dino mengatakan hal yang mengejutkan ku.


“Apa? Ning Pingsan? Dimana? Pingsan kenapa?” tanya ku khawatir. Bagaimana tidak, tadi saat aku melihatnya dia masih baik- baik saja.


“Aku gak tahu Om… Tadi saat kami sedang bicara di taman kota, tiba- tiba dia pingsan… Wajahnya pucat banget Om… Ini lagi diperjalanan ke rumah sakit… Dia gak sadar- sadar, Om”


“Rumah sakit mana?”


Pip


Sambungan telpon pun langsung ku matikan, setelah mendapat alamat rumah sakit yang Dino katakan. Aku bangkit dan bergegas pergi.


“Pak, anda mau kemana? Setengah jam lagi pesawatnya____” Riko mengejar dan menghampiri ku.


“Persetan dengan pesawat, aku harus pergi….” bentak ku berlari keluar.


‘Ning pingsan, dan tak sadar- sadar, wajahnya pucat.’ Ucapan itu terus terngiang. Aku benar- benar takut terjadi sesuatu dengan Ning. Apa ini jawaban perasaanku yang tak enak sejak tadi.


“Enggak- enggak, dia pasti akan baik- baik saja,” ku tepis segala pemikiran negatif tentang keadaannya.


Tapi,bagaimana bisa dia ada di taman? Bersama Dino? Bukankah tadi dia di rumahnya? Arghhh sudah lah, yang penting aku harus segera ke rumah sakit. Beruntung saat keluar pintu bandara ada sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya. Aku pun langsung menaikinya.


“Jalan, Pak!!” seru ku pada sopir taksi tersebut. Ia melajukan mobilnya menuju alamat rumah sakit yang ku berikan.


Sepanjang perjalanan aku tak bisa tenang. Ku hubungi Dino, tak satu pun panggilan yang menyahut. Sungguh itu membuat ku sangat cemas dan frustasi. Hingga beberapa kali ku bentak sopir taksi dan menyuruhnya menaikan kecepatan. Rasanya ingin sekali ku ambil alih kemudi.


_______


Akhirnya setelah setengah jam, aku pun tiba di rumah sakit dan langsung menuju UGD.


“Dino… bagaimana keadaan Ning?” tanyaku cemas pada Dino yang berdiri di depan tirai pembatas pasien UGD yang tengah diperiksa.


“Ning_____”


“Kenapa dia?” bentak ku berteriak, raut wajah Dino seolah mengisyaratkan jika keadaan Ning tak baik- baik saja. Hingga membuat orang- orang di sana melihat ke arah ku.


“Tolong jangan berisik, Pak!! Ini rumah sakit, anda bisa mengganggu pasien!” tegur salah seorang perawat. Dino pun menarik tangan ku hingga aku berdiri dekat di sampingnya.


“Ning belum sadar, Om… Masih ditangani dokter….” Ucap Dino setengah berbisik.


“Bagaimana ini bisa terjadi?”


“Aku … aku mengajaknya bertemu di taman kota… Aku ingin memberitahukan tentang kepergian, Om…..”


“Apa? Untuk apa kau melakukan itu!?”


“Om cinta sama dia kan? Dia juga sama, Om… Jadi Om tidak perlu menunggu satu tahun dengan rencana konyol itu….”


“Dino_____”

__ADS_1


“Ning membutuhkan Om… Di dia dia … Dia sakit parah, Om….” Dino bicara nampak gugup.


“Apa maksud mu?” tanyaku semakin panik.


“Tadi, perawat yang memeriksa Ning bilang jika dilihat dari pembengkakan di beberapa anggota tubuh Ning dan dia sering garuk- garuk gak jelas… Kemungkinan HB-nya kurang atau ginjal Ning bermasalah….”


“Apa?” Aku terkejut bukan main.


“Iy, iya… Eng itu namanya kalau gak salah penyakit Gagal ginjal… Dokter juga tadi bilang begitu… Tapi, Ning harus melakukan serangkaian tes untuk memastikannya….”


“Gagal ginjal … gagal ginjal… Ning menderita gagal ginjal…. Tidak mungkin, itu tidak mungkin… Bagaimana bisa ini_____ gak ini gak mungkin… Dia masih sangat muda.” Batinku dalam hati.


Benar saja, dokter pun mengatakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan Dino. Tubuhku meluruh hingga aku duduk dilantai rumah sakit dengan bersandar pada dinding. Hal ini seolah de javu bagiku. Kenapa dia harus mengalami hal yang sama dengan Alexa.


Aku masih berharap itu tidak benar, semoga setelah pemeriksaan lanjutan Ning baik- baik saja. Aku pun menunggunya hingga ia sadar dan menyuruh Dino segera pulang.


Dengan segera ku hubungi Om Herman, dokter spesialis yang dulu menangani Alexa. Beliau adalah sepupunya Mami dan kebetulan juga praktek di rumah sakit yang sama.


Rasanya semakin berat meninggalkan Ning, saat ia sadar ia terus memelukku dan meminta ku untuk jangan pergi. Jujur aku pun tak ingin pergi, tapi aku sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan Pak Hutama. Dan yang paling ku takutkan Mami menganggu Ning lagi.


Hatiku benar- benar hancur setelah Ning melakukan tes dan hasilnya keluar. Benar saja dia mengalami gagal ginjal, bahkan salah satunya sudah parah.


“Ning harus melakukan cuci darah, bahkan bisa sampai seumur hidupnya… Atau jika ingin sembuh, Ning harus segera mendapatkan donor ginjal….”


Aku sangat frustasi, ingin rasanya marah, tapi pada siapa. Pada takdir? Pada Tuhan? Atau memang pada diriku sendiri yang membawa kesialan pada wanita yang ku cintai.


Tidak, aku tidak bisa tinggal diam. Aku tak ingin kehilangan lagi. Aku memerintahkan Riko dan Vina untuk mencari orang yang akan mendonorkan ginjal dengan imbalan 1milyar.


Riko menyebarkan berita itu di beberapa grup WhatsApp yang ia miliki, termasuk grup di perusahaan.


Aku juga memintanya mencari tahu keberadaan paman Ning yang merupakan keluarga kandung yang dimiliki Ning. Pria itu menolak dan malah minta imbalan lebih banyak. Ia lalu dibawa paksa ke Jakarta.


Namun sayang, dari semua itu tak ada satu pun yang memiliki kecocokan dengan ginjal Ning. Bahkan aku pun ikut melakukan tes, namun hasilnya tetap sama. Tidak ada yang cocok.


Masalah pendonor belum usai, datang musibah baru. Aku menerima telpon dari Bang Aufar jika Dino masuk rumah sakit. Aku pun bergegas ke sana.


_____


Setibanya di rumah sakit, aku langsung pergi menuju kamar tempat Dino dirawat sesuai informasi yang ku dapat dari bagian informasi. Ku dapati Kak Ros tengah menangis duduk di sebelah Bang Aufar. Ku hampiri mereka yang berada di luar kamar


“Bang… Dino_____”


“Dokter bilang sudah tak bisa ditunda lagi….” ucap Bang Aufar.


“Apa?” tanyaku bingung.


“Pelurunya harus segera diambil….”Bang Aufar memperjelas maksud ucapannya.


“Operasi?” tanyaku memastikan.


“Ya….”


“Enggak, Pah… Mama gak setuju, hiks hiks….” Kak Ros menolak, itulah yang selama ini ia lakukan setelah dokter mengatakan kemunginan terburuk jika mengambil paksa peluru yang bersarang di kepala Dino sejak tiga tahun yang lalu.


“Ros_____”


“Aku gak mau kalau sampai kehilangan anakku, hiks hiks…..”


“Dino anak yang kuat… Dia pasti bisa sembuh…..” Bang Aufar mencoba meyakinkan istrinya.


“Tapi dokter bilang kemungkinan berhasilnya hanya 50 persen, hiks hiks….” Itulah penyebab ketakutan terbesar Kak Ros, kehilangan Dino.


Ceklek


“Om Athar….” sapa Diasri yang baru keluar dari kamar rawat inap Dino. Ia menghampiri ku.


"Syukurlah Om ada di sini, Kak Dino nanyain Om terus … Katanya mau bicara sama Om Athar….”


Aku pun bergegas masuk. Ku hampiri Dino yang tengah berbaring lemah dengan infus di tangannya.


“Om… Bagaimana kabar Ning?”


Aku menatap heran dan aneh. “Mengapa di saat ia sakit seperti ini, malah menanyakan keadaan Ning?” batinku dalam hati.


“Seperti dugaan awal, Ning menderita gagal ginjal dan harus mendapatkan donor secepatnya….” Jawabku yang baru mendaratkan bokong pada kursi yang ada di sebelah ranjang Dino.


“Om sudah dapat?”


“Belum… Dari puluhan orang tak ada satu pun yang cocok….”


“Om, jika terjadi sesuatu dengan ku… Tolong berikan ginjal ku pada Ning….”


“Apa?” aku terkejut bukan main.


“Aku tahu, tingkat keberhasilan operasi ku hanya 50 persen…. Jadi jika aku meninggal di meja operasi atau meninggal setelah operasi, aku ingin mendonorkan ginjalku pada Ning….”


“Jangan bicara ngelantur, Dino… Kau pasti sembuh, dan akan sehat seperti dulu lagi….” Sentak ku tak suka dengan apa yang dikatakannya. Aku memang sedang mencari pendonor, tapi bukan berarti keponakan ku yang aku korbankan.


“Tapi, Om____”


“Gak ada tapi- tapian… Jangan mikir yang aneh- aneh, fokus saja pada kesehatan mu… Kau harus tenang untuk menghadapi operasi nanti, dan harus optimis akan kesembuhan mu… Kami semua selalu mendoakan kesembuhan mu…” Ucapku menyemangati Dino.


“Tapi, Om____ “


“Masalah Ning dan pendonor, itu biar jadi urusan Om… Bayangkan saja betapa bahagianya diri mu dan orang tua serta keluarga mu, saat melihat mu sembuh tanpa harus merasa saki dan minum obat lagi… Kau bisa bebas main kemana pun sesuka hati mu tanpa pengawalan tanpa dikekang, dan kau juga bisa memiliki teman yang banyak di tempat kuliah mu nanti….”


“Semangat!!” ucapku lalu pamit pergi keluar, karena ponsel ku berdering.


________


Beberapa hari ini aku merasa sangat kacau, hingga tak sanggup menemui Ning dalam keadaan seperti ini. Aku harus bolak balik rumah sakit tempat Ning dirawat juga Dino. Akhirnya aku menyuruh Riko mencari orang yang terpercaya agara bisa membantu merawat ning saat aku tak ada di kamar rawat inapnya.


Apalagi saat Dino akan dioperasi, tentu saja aku harus berada di sana bersama keluarga ku. Ditambah amukan Mami karena aku tak jadi berangkat ke London. Aku pun menceritakan apa yang terjadi pad Ning. Aku meyakinkan Mami, jika aku akan berangkat setelah Ning sembuh, minimal mendapatkan pendonor.


Keesokan harinya Vina membawa orang yang ku minta, yang tak lain merupakan salah satu office girl di kantor, Siti namanya. Setidaknya aku bisa merasa tenang, menitipkan Ning pada Riko dan Siti yang menurut Vina gadis itu bisa dipercaya, dilihat dari kinerjanya selama dua tahun ini.


_____________


Kondisi Ning semakin buruk, ia harus melakukan cuci darah, ingin rasanya penyakit Ning dipindahkan saja pada ku. Bahkan ia sampai mengalami koma saat cuci darah yang kedua kalinya. Aku benar- benar frustasi dibuatnya. Belum lagi Dino yang masih belum sadar usai tindakan operasi kemarin.


“Sebenarnya ada satu yang cocok,”ucap Om – ku yang terdengar seperti sebuah pengakuan akan hal yang sebelumya disembunyikan. Aku senang mendengarnya, namun ada tanda tanya besar di kepala ku.


“Siapa, Om?” tanya aku dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Tapi… itu mustahil Daniel….”


“Om, katakan padaku, siapa pendonor yang cocok?”


Tiba- tiba ponselku berdering, belum sempat aku mendapat jawaban tentang si pendonor. Aku dikejutkan dengan kabar buruk lagi.


“Dino unfall….”


Deg


“Apa?” aku masih sangat mengkhawatirkan kondisi Ning, sekarang ditambah lagi Dino unfal. Tanpa pikir panjang, aku pun bergegas pergi ke rumah sakit tempat Dino dirawat.


Sesampainya di sana, aku mendengar jeritan tangis Kak Ros dari dalam ruang ICU tempat Dino dirawat pasca operasi. Hal itu membuat ku berpikiran buruk, karena sudah dua hari sejak operasi Dino masih belum sadarkan diri.


“Jangan- jangan Dino_____” Aku segera masuk ke ruangan itu.


“Dino…. Huhuhuhuhu… Dino jangan tingalkan Mama, sayang… Huhuhuhu….” Kak Ros menangis histeris duduk di lantai, dipeluk oleh Bang Aufar yang sama- sama menangis, namun ia berusaha menenangkan istrinya


“Kak Dino, huaaaaaaa…..” Diasri memeluk tubuh Dino yang terbaring di brankar.


Deg


Langkah ku melambat saat melihat Dino yang sudah tak memakai alat bantu medis lagi. Tubuhnya sudah diselimuti, hingga yang terlihat hanya wajah pucatnya saja. Sementara Mami menangis di pelukan Bang Dandy, kakak keduaku yang tadi malam baru pulang dari Belanda.


Dada ku seolah mendapat hantaman keras, sesak dan sakit. “ Dino meninggal,” lirihku diikuti jatuhnya air mata membasahi pipiku. Langkahku semakin mendekati brankar Dino. Wajahnya sangat pucat dengan mata terpejam, namun terlihat damai.


“Tidak, ini tidak mungkin… Dokter bilang operasinya berhasil, tapi____” aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, berharap ini adalah mimpi. Hingga teriakan Kak Ros dan Diasri menyadarkan ku jika ini memang nyata.


“Dino… Dino….” Lirih ku menatap keponakan ku yang sudah tak bernyawa itu. Ingin rasanya aku berteriak, namun tenggorokanku serasa tercekat.


“Om, Kak Dino udah gak ada Om… huhuhuhu….” Diasri menghambur memeluk ku. Aku masih diam mematung.


Ini duka terberat dalam keluarga kami, setelah kehilangan Papi dan Diandra, kini Dino. Isak tangis memenuhi ruang ICU.


“Ikhlaskanlah Dino… Kita semua menyayanginya… Biarkan dia pergi dengan tenang… Mulai sekarang ia tak akan pernah merasakan sakit lagi… Sebaiknya kita doakan, dan segera mengurusi jenazah serta pemakamannya….” setelah mendengar ucapan Bang Dandy, kami pun mulai tenang dan Kak Ros sudah tak histeris lagi.


Perawat pun menutupi wajah Dino dengan selimut yang sebelumnya hanya sampai leher. Saat perawat itu hendak membawa jenazah Dino, namun dokter yang masuk menghentikannya.


“Sebelumnya saya minta maaf… Ada suatu yang ingin saya sampaikan….” Ucap dokter itu mendekati Bang Aufar dan Kak Ros.


“Ada apa, dok?”


“Begini Pak, Bu… Saat pasien bernama Dino masuk ke ruang operasi, ia meminta kami untuk membuat rekaman video… Ini silahkan Bapak dan Ibu bisa lihat sendiri….” Ucapnya memberikan ponsel yang menunjukan sebuah video yang kemudian diterima dan diputar oleh Bang Aufar dengan volume full.


Bersamaan dengan itu, Om Herman menelpon ku. Namun aku langsung menolak panggilannya, kemudian mengirimkan pesan.


Aku : [“Dino meninggal.”]


Om Herman :[“Innalilahi wainaillahi rojiuun… Om turut berduka cita”]


Aku : [“terimakasih… Bagaimana kondisi Ning?”]


Om Herman: [“Dia sudah sadar, tapi kondisinya memburuk.”]


Aku mengusap kasar rambutku. “Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini….” Jeritku dalam hati. Tiba- tiba aku teringat obrolan terakhir kami sebelum aku kesini.


Aku :[“Katakan siapa nama pendonor itu!! Aku akan mendatanginya langsung.”]


Om Herman :[“Dyangga Ferdino Sahulekha.”]


Mataku membulat sempurna membaca nama itu yang disertai suara Dino yang terdengar jelas dari rekaman video yang sedang dilihat oleh Kak Ros dan Bang Aufar.


“Jika terjadi sesuatu padaku, aku ingin mendonorkan ginjalku pada pengasuh ku yang bernama Ningrat Atisaya… Kalian sebagai saksi dari wasiat ku ini….”


Prak


Aku terkejut luar biasa, hingga ponsel ku pun jatuh ke lantai. Anak itu benar- benar serius dengan perkataannya. Tubuhku rasanya lemas, pikiran ku melayang entah kemana. “Tidak mungkin… Ini tidak mungkin….” Lirih ku dalam hati dengan menggelengkan kepala.


“TIDAK!! Itu tidak akan terjadi!”Suara Mami menggelegar. Aku pun tersadar dari lamunanku.


“Mami….” Lirihku dengan tatapan mengiba.


“Jangan harap aku akan memberikan organ cucuku pada wanita itu!!” ucap Mami dengan tegas.


Aku melangkah menghampiri Mami yang sedang duduk di kursi di temani Bang Dandy yang berdiri di sebelahnya. Aku berlutut dan bersimpuh di kakinya.


“Mami… tolong penuhi keinginan terakhir Dino… Ning juga sangat membutuhkan itu, kondisinya sudah memburuk,” pinta ku memohon.


“Apa kau sudah gila! Bagaimana bisa kau mengorbankan keponakan mu demi wanita itu!!”


“Dino sudah meninggal, Mi … Itu wasiatnya, Mi… Aku mohon….”


Gila memang, ya aku memang sudah gila. Tapi itu wasiat Dino, dia sendiri yang ingin menjadi pendonor. Sementara Ning di sana kondisinya semakin memburuk. Bukan aku senang atas kematiannya, tapi itulah keinginan terakhirnya.


“Aku mengizinkan….” Di luar dugaan, Kak Ros menyetujuinya.


“Tidak… Aku tidak izinkan….”Mami tetap pada pendiriannya.


“Dino anakku, Mi… Aku lebih berhak atas dirinya….”


“Aku tidak setuju!! Dino juga anakku….” Bang Aufar pun menolak.


“Pah… Dino juga mengutarakan keinginannya sebelum ia operasi kemarin padaku… Tolong penuhi keinginan terakhirnya, selama ini kita selalu mengekangnya dan membuatnya sedih… Tolong, aku hanya ingin agar Dino bisa tenang dan bahagia di alam sana… hiks hiks….”


Mami terdiam sejenak, sama halnya dengan kami semua yang ada di ruangan itu.


“Baiklah… aku setuju….” Lama menunggu akhirnya yang ku harapkan terucap juga. Senyum ku pun mengembang. “Tapi dengan syarat, kamu harus pergi ke London malam ini juga….”


“Tapi______”


“Pergi atau tak ku penuhi wasiat cucuku?!”


Aku tak punya pilihan lain, hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menyulitkan ini. Yang penting Ning sudah mendapatkan donor, pikirku. Meski itu dari keponakan yang begitu dekat dan ku sayangi. Mami membungkuk dan mendekatkan kepalanya pada ku.


“Jangan mengelabui ku lagi!! Siti adalah orang-ku … Jika kau mengkhianati perjanjian kita, maka kau sendiri tidak akan bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan Siti pada gadis yang dirawatnya itu….”


Deg


Mata ku membulat sempurna. Kesembuhan Ning harus dibayar dengan meninggalkannya. Dan... bagaimana bisa aku sampai kecolongan tentang Siti.


Aku tak bisa berkutik lagi dengan ancaman Mami. Terpaksa aku menurutinya, aku yakin Mami belum tahu tentang rencana ku bersama Nadira.


“Baiklah..." ucapku pasrah.

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2