
Hari berganti sore, matahari pun sudah mulai turun untuk menenggelamkan dirinya. Singgih yang sudah pulang kerja, kembali datang ke rumah Ning untuk menjemput putrinya. Namun kali ini ada yang berbeda, Nana yang biasanya selalu membuat drama karena susah diajak pulang, mendadak begitu penurut.
Ia memeluk Ning, kemudian berpamitan untuk pulang bersama papa dan pengasuhnya.
“Ning….” Ocha menghampiri Ning yang kembali masuk ke kamar nya.
“Iya, Cha….” Ning berbalik dan kini ia berdiri berhadapan dengan sahabatnya.
“Lo beneran jatuh cinta sama pacar kontrak lo itu?” tanya Ocha yang nampak masih penasaran.
Ning tak menjawab, ia malah menundukkan kepalanya.
“Ning, lo pernah janji sama gue, kalau lo bakal ceritain semuanya… Gue masih nunggu janji lo itu….” ucap Ocha yang seolah mendesak Ning.
Ning menghela nafas panjang berkali- kali. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Ocha. Ning pun menceritakan semua tentang dia dan Athar pada Ocha, sejak ia bertemu dengan pria itu sampai terakhir ia melihat Athar saat ia dirawat di rumah sakit. Ia kembali tak bisa menahan air matanya yan berjatuhan.
Ocha mendekat dan segera memeluk sahabatnya itu.
“Ya ampun Ning … lo ngalamin semua hal ini dan malah lo pendam sendiri….” Ucapnya punggung Ning. “Lo juga sih, udah tahu pacar kontrak, tapi malah beneran jatuh cinta sama tuh cowok … Giliran kontrak nya berakhir, gini kan jadinya….”
“Gue juga gak tahu Cha, kenapa gue bisa sampai jatuh cinta sama dia, hiks hiks….”
Ocha melepaskan pelukannya, ia menatap Ning dengan kedua tangan yang memegang lengan Ning.
“Lo bilang sama gue… Lo udah diapain aja sama tuh cowok, sampai lo terus- terusan nangis? lo juga tadi nangis bareng Nana, pasti karena cowok itu kan?” tanya nya menyelidik.
Ning menggelengkan kepalanya. “Gue gak pernah diapa- apain, Cha… Gue cuman sedih banget, gue ditinggalin gitu aja saat gue bener- bener membutuhkan kehadirannya, hiks hiks….”
“Oke… cukup… Lo jangan nangisin dia lagi… Toh orangnya juga udah pergi ke luar negeri dan tak akan kembali lagi kan? Lo lupain dia … Lo harus bangkit untuk mulai lembaran baru, hidup tanpa ada cowok itu di kepala lo, di ingatan lo, bahkan di hati lo… Sekarang yang lo pikirin adalah kesembuhan lo dan masa depan lo… Dan inget, lo masih punya cita- cita kan buat banggain mendiang orang tua lo?” ucapnya panjang lebar.
Perlahan Ning pun menghentikan tangisannya. Perkataan Ocha membuat dirinya sadar, jika ia hanya menyia- nyiakan air mata untuk orang yang tak tahu juntrungannya. Ning menghapus jejak air mata dengan telapak tangannya.
“Lo bener, Cha… Gue harus ngelupain orang itu… Masa depan gue masih panjang, dan gue harus bisa mecapai cita- cita buat bapak bangga sama gue….” ucap Ning yang nampak berusaha bangkit kembali.
“Ya… Semangat…” Ocha mengangkat tangannya yang dikepalkan untuk menyemangati Ning.
“Hehehehe… Makasih banyak Cha.. lo emang sahabat terbaik gue….” Ning kembali memeluk Ocha, namun kali ini dengan tersenyum bukan sembari menangis.
“Iya iya… tapi lo jangan kelamaan meluk gue gini, ntar dikira Siti lo sama gue jeruk makan jeruk….”
Seketika Ning pun melepaskan pelukannya.
“Eng, lo besok anterin gue ke rumah orang itu ya .…” ucap Ning dengan sesenggukansisa sisa menangis.
“Orang itu siapa maksud lo?” tanya Ocha heran.
“Daniel Athar Sahulekha….” ucap Ning Ning kemudian berjalan, lalu duduk di atas tempat tidurnya.
“Hah? Mau ngapain lagi sih? Tadi gue ngoceh segitu banyak nya masih gak ngepek juga sama lo? Lagian di dalam surat dia bilang sudah ada di London dan menetap di sana, berarti dia sudah gak ada di rumahnya dong….” cerocos Ocha kesal menghampiri Ning.
“Gue mau balikin uang nya….”
“Bukannya itu bayaran Lo dari kerja sama kalian?” Ocha ingat betul dengan isi surat yang dibacanya.
“Bukan, Cha… waktu gue dirawat dan dioperasi, dia bilang itu menggunakan upah kerja sama kita … Berarti uang yang dia transfer ke gue itu bukan hak gue, Cha….”
“Hah? Bukannya lo berobat pakai asuransi?” tanya Ocha terheran- heran.
“Lo pikir asuransi itu gak dibayar? Yang ada sekarang gue jadi hutang banyak sama dia….” Ucap Ning yang masih sesenggukan.
“Tapi Ning, kalau orangnya gak ada… Lo mau ngasih duit itu ke siapa?” tanya Ocha heran.
“Ke ibunya mungkin….” ucap Ning merasa tak yakin.
“Emang ibunya tahu soal kerja sama lo dengan cowok itu?”
Ning menggelengkan kepala. “Enggak… Justru kita pura- pura pacaran karena ibunya terus menjodohkannya dengan anak sahabat- sahabat ibunya itu….”
“Kalau lo datang ke ibunya, yang ada lo bakalan dituntut karena udah nipu dia, boloning….” Ocha nampak kesal.
“Apa gue datang ke kantornya aja?” Ning mendapat pemikiran pilihan lain.
“Mau dikasih ke siapa? Bukannya Pak Riko juga udah gak ada?” Ocha semakin heran.
“Ke karyawannya mungkin ….”
“Yang ada itu duit di embat sama karyawan itu… Secara, siapa yang gak akan tergiur dengan duit seratus juta… Gue aja pengen ….” Cerocos Ocha.
“Terus gue musti kemana? Gue juga mau sekalian balikin kartu asuransi ….”
__ADS_1
“Jangan gila lo Ning … Lo masih harus bolak- balik ke rumah sakit untuk kontrol kesehatan ginjal lo… Kalau gak pakai kartu asuransi, mahal tahu gak bayarnya…. Terus, itu duit kalau mau dibalikin, ntar lo berobat mau bayar pakai apa? Pakai kentut beliung lo, hah?” cerocos Ocha ngegas.
“Gue bisa cari kerja, Cha… Yang penting gue udah gak ada urusan lagi sama tuh orang….”
“Ning… kondisi kesehatan lo aja belum stabil dan lo dilarang untuk melakukan pekerjaan yang berat- berat… Gimana lo bisa kerja? Lo juga tahu sendiri kalau cari kerja di Jakarta ini susah nya minta ampun… Gue aja masih nganggur ampe sekarang ….”
“Terus gue musti gimana, Cha? Gue gak mau ada sangkut pahut lagi sama orang itu….” Ning semakin bingung dibuatnya. “Apa gue cari dia ke London?” tiba- tiba terlintas di pikiran Ning.
“Emang lo tahu alamat tempat tinggal tuh cowok di London?” tanya Ocha.
Ning menggelengkan kepala nya.
“Gila lo ya … Lo pikir itu negara London segede kamar lo ini apa? London itu luas Ning, luas … Gimana lo bisa menemukan cowok itu? Yang ada duit itu bakalan habis sebelum sampai ke orangnya….” Ocha nampak semakin kesal pada sahabatnya itu.
“Terus, gue musti gimana, Cha?”
“Kalau menurut gue, lo pakai aja uangnya buat modal usaha, biar bisa menghasilkan … Ya anggap aja itu sebagai modal pinjaman gitu, yang nanatinya bakal lo balikin lagi ke yang punya… Itu cowok kan suatu saat pasti bakalan balik, gak mungkin tinggal di London sampai mati... Nah nanti pas dia pulang ke indo, lo bisa balikin deh tuh duit langsung ke orangnya….”
Ning terdiam sejenak. Nampaknya ia memikirkan gagasan dari sahabatnya itu.
“Gimana Ning?” Ocha menunggu jawaban.
“Eng, boleh juga sih… Tapi, masalahnya usaha apa?” tanya Ning bingung.
“Ya kita coba aja usaha kecil- kecilan… Sekarang kan segala macam jualan bisa serba online, nah kita coba aja itu… Jadi lo gak harus banyak gerak, cukup mainin ponsel aja… Nanti yang packing dan kirim- kirim barang gue sama Siti….”
“Em, boleh juga ide lo….” Ning nampaknya setuju dengan usulan Ocha.
“Kalau gitu kita cari info yang lagi booming apa? Barang yang banyak diminati orang apa dan yang lainnya deh….”
“Terserah lo deh Cha… Gue capek, pengen istirahat….” ucap Ning lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Oke … Tapi awas ya, jangan nangis lagi ya… Lo itu ratu kentut, bukan ratu mewek….”
Ning terkekeh mendengar ucapan Ocha yang memang selalu bicara ngasal dan semaunya. Tapi hal itulah yang membuat Ning sangat menyayangi sahabatnya itu. Ocha pun meninggalkan kamar Ning dan ia mulai mencari informasi tentang bisnis online yang akan mereka jalankan itu.
*
Keesokan harinya, pagi- pagi Nana bersama papa nya sudah datang berkunjung ke rumah Ning, karena kebetulan hari ini adalah hari minggu. Namun kali ini mereka mengajak Ning untuk pergi jalan ke taman kota, agar ia tidak merasa bosan tinggal di rumah terus.
Awalnya Ning menolak, namun Nana terus merengek dan Ocha pun membujuk Ning agar mengikuti ajakan Singgih dan Nana. Akhirnya Ning pun ikut ditemani Siti, karena Ocha sedang mengurus untuk usaha online yang akan mereka jalankan.
Sesampainya di taman kota, Siti menemani Nana bermain karena Maya sedang sakit dan tak masuk kerja. Sementara Ning ditemani Singgih duduk di kursi panjang mengawasi Nana dari kejauhan.
“Iy iya, Pak… terimakasih sudah mengajak saya ke sini….” ucap Ning nampak canggung.
“Jangan panggil saya Pak… saya ini kan sudah bukan majikan kamu lagi….”pinta Singgih.
“Tapi, Pak … Kalau saya manggil nama bapak aja, kesannya gak sopan… Kan Pak Singgih lebih tua dari saya….”
“Ya gak panggil nama juga … Mungkin kamu bisa panggil saya dengan sebutan Mas, abang, atau apa gitu... Asalkan jangan panggil saya pak, om atau kakek ….”
“Hehehe … menolak tua ya, Pak….” ucap Ning yang mulai tak canggung lagi.
“Saya ini kan belum tua- tua amat ….”
“Iya belum tua, tapi sudah bapak- bapak beranak pinak … hahahaha….” Ledek Ning tertawa.
“Nah gitu dong, tertawa… Jangan sedih terus… Kamu terlihat cantik kalau sedang tertawa gitu….” Ucapnya tersenyum dengan mata yang terus menatap Ning yang duduk di sebelahnya itu.
Seketika Ning menghentikan tawanya. Ia nampak gugup dan salah tingkah mendengar ucapan Singgih yang terdengar seperti gombalan mukidi itu.
“Loh, kok jadi diam? Saya salah bicara ya?” tanya Singgih heran.
“Eng enggak, Pak… kalau saya ketawa terus, nanti saya disangka orang gila, hehehe….” Ucap Ning nampak kembali canggung.
“Ya enggak lah, kamu kan sedang ngobrol sama saya… Kalau kamu lagi sendirian terus tertawa gak jelas, baru disangka gila… Apalagi kalau tertawa nya sampai guling- guling di pasir sana, hehehe….” Singgih terus mencoba mengakrabkan diri.
“Itu sih jelas namanya gila, hehehe… Em, Pak____”
“Loh kok masih panggil pak?” protes Singgih.
“Hehe, saya bingung harus manggil apa?"
“Yasudah, panggil saya Mas Igih aja….”
“Iy iya, Pak… Eh, Mas Igih….” Ning mengucapkannya dengan canggung.
“Nah kalau gitu kan lebih akrab…. “
__ADS_1
“Hehehe ….” l
“Ning ….” ucap Singgih.
“Iy iya Pak, eh Mas Igih … “ Ning nampak masih kagok dengan panggilan baru itu.
“Saya boleh mengatakan sesuatu sama kamu?” tanyanya nampak serius.
“Ya bicara aja, Mas… Kan dari tadi juga kita emang lagi ngobrol, hehehe….”
Singgih menghela nafas sejenak.
“Ning, saya tahu bagaimana rasanya kehilangan orang- orang yang kita sayangi… Saya harap kamu tidak terus- terusan tenggelam dalam kesedihan… Kamu masih sangat muda Ning, jalan hidup mu masih panjang… Jika kamu merasa sendirian, kamu bisa menjadikan saya teman berbagi cerita… Kamu bisa menganggap saya, ibu, Nana, Kinanti sebagai keluarga mu sendiri….”
“Hah? Kenapa Mas Igih ngomong kayak gitu? Apa dia tahu tentang permasalahan ku dengan si kudaniel mesum?” gumam Ning dalam hati. “Ah iya, Ocha bilang kan kemarin dokter Singgih yang menolongku saat pingsan… Jangan- jangan si Ocha ngomong lagi alasan gue sampai pingsan….”
“Eh tunggu, ini sebenarnya arah pembicaraannya kemana? Menganggap dia dan keluarganya seperti keluarga sendiri? Apa jangan- jangan_____” batin Ning menerka- nerka.
“Ning….” ucapnya mengusap punggung tangan Ning yang memegang kursi.
Ning terperanjat merasakan ada sesuatu yang menimpa tangan kanannya. “Iy iya, Mas….” Ucapnya gelagapan.
“Kamu kok malah ngelamun?” ucapnya tersenyum dengan tangan yang masih di atas tangan Ning.
“Eng… enggak, kok… emmmm …..” Ning terlihat gugup dan bingung.
“Aduh… itu kenapa tangannya di situ sih … Kan gue jadi deg degan nih, Mas Akung….” Jeritnya dalam hati.
“Ning….” ucapnya dengan nada lembut.
“Aduhh… itu manggil nama gue aja kayak suara ******* gitu… Beda emang ya kalau suara duda ganteng tuh kayak angin surga…” gumam Ning dalam hati.
“Ning….” Singgih kembali memanggil Ning dengan suara yang sama.
Ning menarik nafas panjang. Ia lalu melepaskan tangannya dari genggaman Singgih. “Iy iya, Mas Ak… Eh, Mas Igih, hehehe….”
“Kenapa malah melamun?”
“Eng, enggak kok… eng, cuacanya sudah mulai panas, gerah gitu he em… Sebaiknya kita pulang aja ya Mas….” Ucapnya gelagapan sembari mengibas- ngibaskan tangan seolah mengipasi dirinya yang kepanasan
“Eh iya iya, tadi kita kurang pagi datang ke sini nya ya… Ayok kita ajak Nana pulang….” ajaknya lalu berdiri.
“Kendalikan diri mu Ning… kendalikan …. Jangan gampangan jatuh cinta sama cowok… Lo harus belajar dari pengalaman sebelumnya….” gumam Ning dalam hati.
“Ayok … Katanya mau pulang….” Ucap Singgih yang sudah berdiri di hadapan Ning yang masih duduk.
“Iy iya, Mas….” Ning pun bangkit, ia berjalan duluan karena tak sanggup jika harus berdampingan. Hatinya sudah deg deg ser tidak karuan seperti itu. Keduanya hendak menghampiri Nana yang masih asyik bermain prosotan.
“Ning awas!!!” teriak Singgih yang melihat Ning hampir tertabrak sepeda yang dikendarai oleh seorang anak remaja.
“Aaaaakkk….” Ning yang melihat sepeda itu pun, malah berteriak. Beruntung Singgih segera menarik tangan Ning agar terhindar dari sepeda yang hampir menabraknya.
“Hufh… Hampir saja.” Singgih bernafas lega, sementara Ning yang sempat memejamkan mata, kini membuka matanya lebar- lebar. Betapa terkejutnya ia yang baru menyadari jika dirinya sedang berada dalam pelukan Singgih.
“Aduh, apalagi ini… kenapa jadi pelukan dini??” Jerit Ning dalam hati.
“Kamu gak apa-apa kan?” tanya Singgih.
Ning yang masih terkejut, tak menjawab pertanyaan Singgih yang menurut Ning suara pria itu bagaikan angin surga. Justru malah timbul suara yang sudah cukup lama tak menggemparkan orang.
Duuut durut dut dut dut….
Seketika Ning membulatkan matanya, begitu pun dengan Singgih yang terkejut mendengar suara kentut beliung Ning. ia segera melepaskan diri dari pelukan Singgih.
“Ma maaf, Mas… Sa saya mau ke toilet dulu….” Ning bergegas pergi dengan membawa rasa malu yang luar biasa, karena itu kali pertamanya ia kentut di hadapan Singgih.
Ia berjalan menuju toilet umum. Singgih yang menutup hidungnya karena mencium bau tak sedap pun bergegas meninggalkan tempat itu dan berjalan untuk menghampiri putrinya.
“Astaga… Kenapa si kentut selalu datang di saat yang tidak tepat… malu banget gue, sumpah… Kirain udah punya ginjal baru, kebiasaan aneh gue juga hilang….” Ning menggerutuki dirinya dalam hati.
-
-
-------------- TBC---------------
**************************
-
__ADS_1
-
Happy Reading …..