
Ning menghapus jejak air matanya, ia lalu bangkit dan berdiri.
“Tinggalin gue sendiri, Cha….” Ucapnya lalu beranjak pergi, masuk ke dalam kamarnya. Ia mengunci pintu dan kembali melanjutkan tangisannya di dalam sana.
Sementara Ocha yang nampak sedih, mengambil tas milik Ning. Ia kemudian mencharger ponsel Ning yang masih dalam keadaan mati.
*
Keesokan harinya, Ning kembali tak masuk kerja. Bahkan ia tak mengantarkan Nana ke sekolah yang sudah biasa ia lakukan selama beberapa hari ke belakang. Ia hanya berdiam diri di kamarnya.
Nampaknya ia masih memikirkan masalah kemarin. Entah karena ia merasa bersalah karena telah pergi bersama Athar tanpa seizin Singgih, entah ia merenungkan perkataan Singgih saat dalam keadaan marah kemarin.
Ocha yang mengkhawatirkan keadaan Ning, masuk ke dalam kamar yang kebetulan pintunya sudah tak dikunci. Ia menghampiri Ning yang sedang duduk di atas ranjang dengan memeluk kedua kakinya yang ditekuk, menghadap ke jendela kaca.
“Ning… Dari tadi lo belum makan… Nih gue bawain sarapan buat lo….” Ucapnya yang membawa nampan yang berisi dua buah sandwich diatas piring dan segelas susu.
“Gue gak lapar, Cha….” ucap Ning dengan suara serak, karena habis menangis lama.
“Ning, lo jangan kayak gini dong… Nanti lo bisa sakit… Mana kemarin lo gak minum obat, kan?” bujuknya lalu duduk di atas tempat tidur di sebelah Ning.
“Mas Igih marah banget sama gue, Cha…. Gue musti gimana?” ucapnya dengan terus menatap jendela kaca.
“Emangnya kemarin lo pergi kemana dan sama siapa? Dokter Singgih tuh khawatir banget sama lo dan Nana….”
Ning menceritakan kejadian kemarin yang berawal dari kedatangan Athar, kemudian Athar membawanya berserta Nana pergi ke mall, hingga kemarahan Singgih. Namun ia tak menceritakan insiden kissing yang hampir terjadi.
“Apa? Jadi kemarin si ganteng datang ke sini? Terus kenapa lo gak bilang sama dokter Singgih?” Ocha terkejut mendengar cerita Ning.
“Gimana gue mau bilang… Orang gue gak dikasih kesempatan buat ngejelasin….”
“Terus, dia dapat foto- foto kalian darimana?” tanya Ocha.
Ning menggelengkan kepala. “Gue juga gak tahu, Cha… Dan anehnya orang itu memberikan foto yang tak memperlihatkan wajahnya Daniel… Padahal saat itu gue lagi bercanda sama Nana yang lagi digendong Dady-nya….”
“Berarti dokter Singgih gak tahu wajah cowok itu yang ternyata si ganteng?” tanya Ocha menyimpulkan.
“Iya… Karena dari keempat foto yang gue lihat, gak ada satu pun yang menampakan wajah Daniel….”
“Apa jangan- jangan itu orang suruhan si ganteng buat ngerusak hubungan lo sama dokter Singgih…. Coba lo pikir, dia tiba- tiba datang dan ngajak kalian pergi… Apa itu hanya sebuah kebetulan?” Ocha berasumsi.
“Gak mungkin, Cha… Tadi kan gue udah bilang kalau dia ke sini buat ngambil hape nya… Karena hape itu ada dalam tas gue yang kebawa sama lo, jadi gue gak bisa balikin kemarin… Kalau soal dia ngajak pergi juga itu karena dia gak tega melihat Nana sedih meratapi mainannya yang rusak… Gue udah nolak ajakan Nana, tapi dia terus maksa sampe nangis…. Jadi di sini yang salah itu gue, Cha….”
“Jadi yang di tas lo ada dua hape, itu yang satu punya si ganteng?” Ocha baru teringat pada temuan ponselnya.
“Iya….” angguk Ning.
“Pantesan, gue pikir hape siapa yang bagus dan mahal gitu… ternyata hape si ganteng… Sorry ya Ning, gara- gara gue salah ngambil tas, lo jadi kena maslah gini… Kemarin subuh tuh gue kayak masih setengah sadar pas mau pulang ke rumah….”
“Gak apa- apa, Cha… mungkin emang harus kayak gini….”
“Gue juga nyadar pas tadi siang lagi nginput barang, ada yang kirim email pesan barang skala besar… Pas gue mau nelpon orangnya, eh di dalam tas malah ada dua hape dan pada mati semua lagi… Tadinya mau minta tolong sama Siti, anaknya malah menghilang setelah pamit mau ke sini… Yaudah gue ke rumah ini buat nuker tas kita, kebetulan dalam tas lo ada kunci rumah….”
“Ada kunci rumah dalam tas gue? Terus yang kemarin ngegantung, kunci punya siapa?” tanya Ning merasa aneh.
“Mana gue tahu… Setelah ngambil tas, gue langsung pergi nganter barang ke Bekasi bareng kurir… Pas gue balik ke sini, ada dokter Singgih sama Maya lagi nungguin lo… Cuman kok ada yang aneh, ya… kemarin gue jelas- jelas nyimpen tas lo di kamar ini, tapi kenapa semalam ada di tangan dokter Singgih? Masa iya dia ngobrak ngabrik kamar lo, Ning….”
“Enggak mungkin, Cha… Dia gak mungkin ngelakuin hal itu,” ucap Ning. “Cha… Eng, berati semalam lo denger semuanya?”
“Iya… gue lagi di kamar Siti, ngobrol sama dia… Gue gak nyangka dokter Singgih bisa semarah itu sampai ngatain lo______” Ocha tak kuasa melanjutkan perkataannya, saat ia melihat Ning menundukkan kepala. Ia paham betul, tuduhan itu sangat menyakiti hati sahabatnya.
Ocha terdiam sejenak. Ia menghela nafas berat. “Ning… kalau menurut gue, lo mending datengin dokter Singgih buat meluruskan kesalahpahaman ini… Gue yakin dia gak akan marah, kalau tahu cowok itu adalah si ganteng… Lagian kan dia juga pasti paham kalau si ganteng itu kangen sama Nana, jadi wajar aja si ganteng ngajakin Nana pergi jalan….”
“Daniel… si ganteng si ganteng mulu dari tadi, lo!!” protes Ning.
“Astaga, boloning … Lo lagi sedih gini masih aja sempet- sempetnya cemburu….” Ocha menggerutu kesal. Ia yang baru menyadari hal itu, menatap Ning dengan penuh tanda tanya.“Tunggu… jangan bilang kalau lo masih cinta sama si ganteng?”
“Lo ngomong apa sih, Cha?” Ning menyanggah lalu memalingkan wajahnya.
“Ning… Jujur sama gue, lo masih cinta kan sama si Daniel yang ganteng itu?” tanya Ocha menyelidik.
“Lo apaan sih, Cha.. Nanya kayak gitu… Lo kan tahu kalau gue udah nerima lamaran Mas Igih dan bakalan nikah sama dia….”
“Jadi sekarang cinta lo cuma buat dokter Singih?”
“It itu….” Ning malah gelagapan dan terlihat kebingungan sendiri.
“Lo gak bisa jawab, kan? Dari gerak gerik lo aja gue tahu kalau lo masih cinta sama si kudaniel… Cara menatap lo aja ke si Kudaniel beda sama ke dokter Singgih… Bahkan lo perhatian banget sama si kudaniel saat kita nemuin di mabuk di jalan, sampai lo sekhawatir itu dan gak mau ninggalin dia sendiri di apartemen nya….” Ocha mengutarakan pendapatnya.
“Gue____” Ning menghela nafas panjang. “Jujur gue juga bingung sama perasaan gue sendiri, Cha… Tapi gue udah mutusin buat nikah sama Mas Igih dan menjadi ibunya Nana… Mungkin ini hanya cobaan untuk hubungan kami, Cha….”
“Ning… Coba lo pikir matang- matang… Siapa yang benar- benar lo cintai, sebelum semuanya terlambat….” Ucapnya memberi saran.
“Maksud lo apa sih, Cha… Gue udah milih Mas Igih untuk jadi pendamping hidup gue, dan lo juga sangat mendukung hal itu kan?”
“Iya, memang gue mendukung hubungan lo sama dokter Singgih seratus persen, bahkan sampai seribu persen… Tapi, kalau itu gak bisa membuat lo bahagia, gue akan merasa sangat bersalah karena gak ngingetin lo…Dan apa lo mau ngejalanin hubungan, apalagi ini hubungan pernikahan yang akan seumur hidup lo jalani sama orang yang gak lo cintai?”
“Gue_____”Ning menundukkan kepala.
“Sebaiknya lo pikirin lagi matang- matang, Ning… Dan ikutin kata hati lo… Jangan sampai lo salah memilih….” ucapnya menepuk bahu Ning.
“Kenapa lo ngomong gitu, Cha? Apa lo ragu sama Mas Igih gara- gara kejadian semalam? Pertengkaran dalam suatu hubungan kan wajar- wajar aja… Lagian di sini emang gue yang salah kok, Cha….”
Ocha tertegun, ia lalu membuang nafas kasar.
__ADS_1
“Sorry, Ning… harusnya gue gak ikut campur sama urusan pribadi lo….” Ucapnya nampak tak enak hati.
“Bukan gitu Cha maksud gue_____”
“Oh ya, gue jadi lupa tujuan gue datang ke sini… Kemarin ada si Ranti temen SMA kita dulu, datang ke sini nyariin lo… Dia ngasih undangan pesta pertunangan yang acaranya nanti malam….”Ocha memberikan kartu undangan tersebut dan Ning menerima lalu membukanya.
“Bukannya ini tempatnya di____”
“Iya… si Ranti dapat cowok tajir melintir… Jadi pertunangannya diadain pesta besar- besaran… Lo mau datang gak?”
“Gue mau sih… Dia kan temen sebangku gue selama tiga tahun… Tapi_____”
“Lo selesaikan aja dulu masalah lo sama dokter Singgih… Nanti lo mau datang eggaknya kabarin gue ya… Temen yang lain juga mau pada dateng, lo lihat aja di grup WA….”
“Iya, Cha... Makasih ya…”
“Lo kayak sama siapa aja sih… Eh iya, hape lo ada di dekat TV tuh, semalam udah gue charger sama punya si ganteng juga…” ucapnya lalu berdiri. “Gue cabut dulu ya, masih banyak kerjaan… Lo istirahat aja… Dan itu makan sarapan Lo... Nanti kabar- kabari ya soal undangan pertunangan Ranti….”
“Iya, Cha….”
Ocha beranjak pergi keluar dari kamar. Ning pun menyusul dari belakang, ia hendak mengambil ponselnya di ruang tengah. Ia memberanikan diri menghubungi Singgih, namun sayang ternyata nomornya tidak aktif.
**
Malamnya, Ning bersama Ocha akhirnya pergi ke pesta pertunangan teman SMA mereka.
“Lo yakin mau peri ke sana Ning?” tanya Ocha memastikan saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju tempat acara temannya dengan menaiki sebuah taksi online.
“Iya, Cha… Bentar lagi juga kita nyampe, kan? Lo masih aja nanya gitu….”
“Ya siapa tahu lo mau berubah pikiran gitu….”
“Enggak Cha, gue yakin kok mau pergi ke sana… Lagian kalau gue di rumah terus, yang ada gue bakalan sedih dan mewek… Kalau ke sana kan siapa tahu gue bisa happy- happy gitu….”
“Emang dokter Singgih masih belum bisa lo hubungin?” tanya Ocha penasaran.
Ning menggelengkan kepala. “Belum Cha… Tadi siang gue udah nanya ke Bu Asri juga dia gak ada di sana katanya.. Ya sekalian gue minta maaf karena gak bisa nganterin Nana….”
“Terus lo bilang apa alasannya?”
“Ya gue bilang gue gak enak badan… Dan Bu Asri nyuruh gue istirahat aja… Nanti beliau coba hubungi Mas Igih… Tapi sampai sekarang belum ada kabarnya….” Ucapnya lalu mendengus pasrah.
“Yaudah… lo lupain aja dulu masalah lo … Malam ini kita akan bersenang- senang….” Ocha menyemangati Ning yang terlihat kembali sedih.
Taksi online yang dinaiki Ning dan Ocha akhirnya sampai di depan gedung mewah tepat acara pertunangan teman mereka. Keduanya turun, lalu masuk ke dalam gedung tersebut.
Dan ternyata benar saja, di dalam sana Ning dan Ocha bukan hanya bertemu dengan Ranti tapi juga bertemu dengan teman- teman yang lainnya.
Keduanya bergabung dengan mereka dan ngobrol- ngobrol sekalian temu kangen di salah satu ruangan yang merupakan kamar tempat Ranti berias yang terletak di lantai dua.
“Jangan bilang lo mau kentut, hahaha….” ejek Ranti yang sudah hafal kebiasaan aneh Ning.
“Sialan lo… enggak lah… Orang kebelet pipis….”
“Kebelet pipis apa kebelet kentut lo, Ning….” salah satu temannya pun ikut mengejek Ning.
“Hadeuh, terserah kalian semua deh… Gue pergi dulu….” Ucapnya lalu beranjak pergi.
“Tapi lo jangan lama- lama ya… bentar lagi acaranya dimulai… Nanti gue sama calon tunangan gue bakalan menuruni tangga ala- ala pesta kerajaan gitu….” Ucap Ranti.
“Iya….” Ucap Ning terus berjalan menuju pintu keluar.
“Toilet nya di lantai bawah Ning….” teriak Ranti.
“Iya….” Teriak Ning tanpa menoleh. Ia pun keluar dari kamar tersebut dan berjalan menuju salah satu tangga untuk turun. Langkahnya tiba- tiba terhenti saat ia melirik ke arah kanannya.
“Orang itu kok kayak mirip dia ya….” gumam Ning dalam hati saat ia melihat seseorang yang sedang berbicara dengan yang lainnya, namun hanya terlihat tubuh bagian belakangnya saja.
"Arhh, pasti aku salah orang lagi… Sudahlah, lebih baik aku turun sekarang, sebelum acaranya dimulai….” Gumamnya lalu kembali melanjutkan langkahnya. Ia menuruni salah satu tangga yang lantainya sudah dipakaikan karpet merah.
Ia berjalan melewati para tamu yang sudah berdatangan dengan melihat kesana kemari. Hingga ia sampai di tempat stand makanan. Ia nampak kebingungan mencari toilet di gedung yang sudah di dekorasi mewah tersebut, dan akhirnya ia menghampiri salah seorang pelayan yang baru selesai menuangkan minuman kedalam gelas yang sudah di susun seperti pyramid.
“Permisi, Mas… Maaf, toiletnya sebelah mana ya?”
“Anda jalan lurus ke sebelah sana, nanti belok kiri mentok ada toilet….” ucapnya menunjukan arah.
“Terimakasih….” ucap Ning tersenyum.
“Sama- sama….”
Ning berjalan menuju arah yang sudah ditunjukan pelayan tersebut. Hingga ia tiba di depan pintu sebuah toilet. Kali ini ia benar- benar memperhatikan tulisan serta gambar di pintu, karena takut salah masuk lagi. Ia pun masuk ke dalam toilet wanita.
“Yah… penuh deh….” Batinnya saat ia berdiri di depan cermin besar wastafel, melihat ketiga pintu toilet tertutup disertai dua orang mengantri. Terpaksa ia pun menunggu.
Ceklek
Salah satu pintu akhirnya terbuka, namun langsung dimasuki orang yang antre tadi. Tak lama pintu lainnya terbuka, sama halnya dimasuki oleh pengantri nomor dua. Setelah beberapa saat, akhirnya pintu terakhir terbuka. Ning pun segera mendekat ke arah pintu tersebut.
“Loh… bukannya lo si lepetomane?” seseorang yang keluar dari toilet tersebut nampaknya mengenali Ning.
“Siska….” Ucap Ning terkejut bertemu dengan salah satu teman sekolahnya. Namun nampaknya ia tak begitu senang bertemu dengan orang yang bernama Siska itu.
“Iya, gue Siska… ngapain lo ada di sini, ratu kentut? Ini tuh pestanya orang kaya dan lo gak pantes ada di sini….”ucapnya dengan nada sombong.
__ADS_1
“Ya karena gue diundang lah… permisi….” ucap Ning yang nampak malas meladeni Siska, kemudian ia melewati Siska dan masuk ke dalam toilet.
Setelah beberapa saat, urusannya pun selesai. Ning kemudian keluar.
Byurr…
Baru saja ia membuka pintu, tiba- tiba ia disiram dengan air hingga mengenai wajah dan membasahi gaunnya.
“Lo apa- apaan sih, Siska? Kenapa lo nyiram gue? Lo ada masalah apa sama gue?” Ning yang tak terima dengan hal itu, langsung sewot.
“Itu pelajaran buat lo, karena saat SMA lo udah ngerebut cowo inceran gue!!”
Ning menghampiri Siska yang berdiri tepat di depan cermin besar. “Heh, gue gak pernah merebut si Rifat dari lo… Dia yang ngejar- ngejar gue!!”
“Halahh...Gak usah so kecantikan lo jadi orang… Miskin dan jorok aja belagu lo!!” ucapnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Ning dalam toilet.
“Arghh.. sial… gue jadi basah gini kan….” umpatnya merasa kesal. Ia lalu mengambil tisu untuk melap wajahnya yang basah serta gaunnya. Namun setelah menghabiskan beberapa lembar tisu, tak membuat gaunnya kering. Dengan perasan kesal ia pun keluar dari toilet wanita tersebut.
“Eh, apaan nih?” ucapnya yang merasa ada sesuatu menubruk kakinya saat ia baru saja menutup pintu. Ia pun melihat kebawah. “Aaaaaakkk… tikus….” Ning yang terkejut langsung berteriak ketakutan. Ia pun berlari ke arah stand makanan yang sebelumnya dilewati olehnya.
Bruk
Prang ….
Ning yang berlari ketakutan tiba- tiba kakinya tersandung. Tubuhnya menubruk meja yang diatasanya terdapat gelas yang disusun seperti pyramid, hingga beberapa gelas jatuh kelantai dan pecah.
Ning yang terkejut sekaligus panik, berdiri lalu membalikan tubuhnya. Dan ternyata semua mata tertuju padanya. Terutama Siska yang nampak tersenyum penuh kemenangan melihat apa yang dialami oleh Ning.
Ning mengedarkan pandangannya dengan perasaan malu dan takut, hingga matanya terhenti saat menatap seseorang diantara banyaknya tamu yang melihat ke arahnya. Keduanya pun saling bertatapan satu sama lain.
“Mas Igih….” Lirih Ning dengan suara pelan.
Dut durut dut dut…
Gas beracun pun tiba- tiba keluar begitu saja. Dan hal itu semakin membuat Ning merasa malu luar biasa, hingga ia menundukkan kepalanya.
Semua orang menutup hidungnya. Berapa orang sampai mengeluarkan kata- kata yang menghina Ning, karena buang angin sembarangan di depan semua orang, serta memecahkan gelas minuman di sana.
Ning terlihat kelimpungan dan bingung sendiri. Ia seolah tak mampu berbuat apa-apa, atau pun sekedar untuk bersembunyi. Kakinya seolah tertanam memaku di sana.
“Ih, bau banget sih….”
“Iya… jorok banget sih orang itu….”
“Cantik cantik kok jorok, buang angin sembarangan di depan umum….”
“Hei mbak… Kalau mau buang gas jangan di sini… Mencemari udara di pesta ini, tahu nggak…”
“Iya benar… mana bau lagi….”
Ning yang masih berdiri dengan menundukkan kepala, menoleh ke arah Singgih memberi tatapan sendu seolah ingin meminta pertolongan. Namun tak disangka, Singgih malah memalingkan wajah dan beranjak pergi bersama temannya.
Ning yang sudah tak kuat menahan malu dan mendengar gunjingan orang- orang, dengan segera beranjak pergi. Ia berlari sebisa mungkin untuk keluar dari gedung tersebut, melewati orang- orang. Air mata pun berjatuhan begitu saja. Malu, sedih sakit hati, itulah yang kini dirasakannya.
Ning yang sudah keluar gedung, berlari menyusuri jalan trotoar untuk menjauh dari gedung tersebut. Hingga ia sampai di depan sebuah halte bis dan berhenti di sana, karena kakinya sudah tak kuat lagi untuk berlari.
Ning duduk di bangku halte tersebut. Ia menundukkan kepala dengan tangan yang menghapus jejak air matanya yang tak berhenti mengalir. Ia terisak seorang diri di sana.
Semilir angin malam membuatnya kedinginan, ditambah gaun yang ia kenakan basah bagian depannya. Ia memeluk dadanya dengan kedua tangannya sendiri.
Tiba- tiba ada yang menutupi tubuhnya dengan sesuatu. Ning yang masih menunduk melihat ada seseorang berdiri di depannya. Ia lalu menanggahkan kepalanya.
Sepersekian detik ia terdiam, lalu bangkit dan memeluk orang itu tanpa aba- aba. Ia menumpahkan air matanya dipelukan orang yang telah menutupi tubuh Ning dengan jas miliknya.
“Huaaaaaa…. Huaaaaaaa….” Ia menangis sekencang mungkin, seolah mendapat tempat untuk meluapkan kesedihanya serta melepaskan rasa sakit yang menyesakkan dada yang sejak tadi nampak ditahannya.
Orang itu pun membalas pelukan Ning. “Menangislah, jika itu bisa membuat mu tenang dan lega,” ucapnya lirih. Tangannya mengusap-usap kepala Ning dengan lembut. Matanya pun terlihat berkaca- kaca, namun raut wajahnya nampak menahan amarah.
Hingga beberapa saat Ning menangis di pelukan orang itu. Ada mobil yang berhenti di pinggir jalan dekat mereka pun, tak disadari oleh keduanya.
Seseorang keluar dari mobil tersebut, menghampiri mereka berdua. Ia menepuk punggung pria yang sedang memeluk Ning. Pria itu pun menoleh ke arah belakangnya.
“Kau!!!” ucapnya terkejut.
-
-
----------- TBC-----------
************************
-
-
Happy Reading🤩😉
-
-
Mon maaf.. Monmaaf… Eceu basu bisa up kembali… Semingu kemarin disibukan dengan dunia nyata….🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Tilimikicih selalu menantikan kisah Ning Nong Neng Jring Tut….😘😘😘😘
Alapyu all….😘😘😘😘