NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Oops Sorry ....


__ADS_3

“Dasar menyebalkan … kudanil menyebalkan … kau benar- benar menyebalkan!!” maki Ning tiada henti, dengan tangan yang terus menyerang Athar.


Athar yang kewalahan menahan serangan Ning, mencengkram kedua tangan Ning. Entah apa yang merasukinya, tiba- tiba ia mendekat dan mendaratkan bibir nya pada bibir Ning.


Seketika Ning pun menghentikan aksinya, dan tentunya mulutnya yang sedang memaki pun berhenti karena terbungkam oleh bibir Athar.


Ning terkejut luar biasa dengan apa yang Athar lakukan. Ia hanya diam terpaku dengan mata yang membulat sempurna.


Ingin rasanya menjerit, namun tak kuasa dilakukannya. Kedua tangannya di cengkram kuat oleh satu tangan Athar, sementara satu tangannya di tengkuk leher Ning. Ia hanya punya dua pilihan, melepaskan bibirnya atau membalas kecupan itu.


Athar yang melihat tidak ada perlawanan lagi dari Ning, mulai menggerakkan bibirnya disana. Saat ada gelenyar aneh yang berdesir di dalam dada Ning, secara reflex ia memejamkan matanya dengan perasaan takut dan ragu.


Awalnya hanya sebuah kecupan, kini Athar mulai m*lum*t bibir atas dan bawah Ning secara bergantian dengan mesra serta penuh kelembutan. Panas segera menjalari tubuh keduanya. Darah mengalir lebih deras dan jantung pun berdetak lebih kuat.


Dag dig dug dag dig dug


Begitulah kiranya bunyi irama jantung Ning. Rasa terkejut membuatnya tak bisa berbuat apa- apa. Bahkan rasanya, ia seolah berhenti bernafas detik itu juga. Hingga beberapa saat Athar pun melepaskan pagutan bibirnya dengan perlahan.


“Bernafaslah, Ning ….” bisik nya di telinga Ning.


Di saat itu juga Ning langsung membuka mata dan mengambil nafas sebanyak- banyaknya.


Kepalanya pening dan berkunang- kunang. Bahkan wajah tampan Athar yang begitu dekat dengan wajahnya pun nampak tidak jelas.


Namun ciuman itu, bahkan jejaknya masih terasa nyata, seolah bibir mereka masih menempel satu sama lain.


“Ning ….” Suara Athar terdengar seperti begitu mengalun bagai des*han yang begitu menggoda. Namun Ning tak kuasa menjawab. Pandangannya semakin kabur, sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran.


Gedukkk


Tubuh Ning terkulai lemas. Punggung juga kepalanya pun beradu pada kaca jendela mobil dengan cukup keras, hingga ia tak sadarkan diri dengan bersandar pada pintu mobil.


“Ning … Ning ….” Suara itu bahkan sudah tak bisa di dengarnya.


“Oh, ya ampun … Baru dicium saja sudah pingsan … Bagaimana nanti saat dia melakukan malam pertama … Baru buka celana saja sudah mati duluan ….” Athar menggelengkan kepalanya lalu terkekeh sembari tersenyum dengan wajah tanpa dosa. Ia membenarkan posisi tubuh Ning yang disandarkan pada jok mobil yang sedikit diturunkan sandarannya.


Ia mengusap bibirnya sendiri, kemudian tersenyum sumringah sembari memandangi Ning yang tak sadarkan diri.


Senyumannya pudar saat ia mencium bau sesuatu.


“Bau apa ini?” ucapnya berdialog sendiri. Ia pun mengendus- endus mencari asal bau tersebut, termasuk mengendus tubuhnya sendiri.


Saat pandangannya tak sengaja melihat jari tangan kanan Ning, ia baru menyadari akan sesuatu.


“Astaga … wanita ini jorok sekali … Apa setiap selesai makan ia tak pernah cuci tangan ….” ucapnya menggerutu kesal. Ia lalu mengusap- usap wajahnya yang sempat diserang mengunakan tangan Ning.


“Ya ampun, pantas saja bau amis dan sambal begini,” gerutunya saat melihat wajahnya pada pantulan cermin spion depan.


Ia segera mengambil tisu basah yang ada di dalam dashboard depan Ning untuk membersihkan wajahnya. Tak lupa ia pun membersihan tangan Ning yang masih kotor. Ia lalu menyalakan mesin mobil dan segera melajukannya.


**


“Emhhhh ….” Ning terbangun dengan perlahan ia membuka matanya saat ia mendengar suara azan.


“Dimana ini?” ucapnya dengan suara serak sembari mengedarkan pandangan pada ruangan tersebut.


“Eh, ini bukannya kamar Mbak Kinanti ya?” Ning mulai menyadari tempat keberadaannya.


“Bukannya semalam aku______” Ning mengusap bibirnya.


“Gak … gak mungkin … semalam itu pasti aku bermimpi,” Ning menggelengkan kepalanya, kemudian bergidik ngeri saat teringat bibirnya dicium oleh Athar.


“Ihh, amit- amit dicium sama si kudanil … dalam mimi pun ogah,” ucapnya menggosok gosok bibirnya seolah ingin menghapus bekas ciuman yang ia kira terjadi dalam mimpinya itu.


Ning bangkit dan segera pergi ke kamar mandi. Ia membasuh wajah dan mencuci bibirnya dengan air berkali- kali. Ia lalu berwudhu untuk melakukan ritual subuh nya.


Selepas itu, Ning membereskan tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar tersebut. Ia teringat pada Nana yang menurutnya sendirian di rumah itu. Ia pun pergi ke kamar Nana


Perlahan Ning membuka pintu kamar. Betapa terkejutnya ia mendapati Nana masih tertidur di pelukan Singgih, ayahnya. Ia merasa tak percaya sekaligus senang dan lega, karena akhirnya Singgih bisa mulai dekat dengan putrinya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan kembali menutup pintunya.


“Sebaiknya aku tidak mengganggu mereka ….” ucapnya tersenyum bahagia.


Ning membereskan dan membersihkan rumah Bu Asri, walau sebenarnya itu bukanlah bagian dari tugasnya sebagai pengasuh. Namun, ia sudah terbiasa melakukan hal itu di rumahnya dan di sana tak ada siapa pun yang bisa melakukan hal itu.


Tak lupa ia pun memasakkan makanan di dapur yang kemudian disajikannya di meja makan.


Berhubung cacing di perutnya sudah berdemo, ia makan terlebih dahulu di dapur dan dilanjutkan mencuci peralatan bekas masak dan makannya.


Baru saja Ning menyimpan piring kosong serta gelas di atas meja makan, terdengar derap langkah seseorang dari arah belakang Ning berdiri. Ia pun berbalik melihat ke arah orang tersebut.


“Selamat pagi, Pak Dokter ….” sapa Ning dengan ramah.


“Pagi … Mbak yang memasak semua ini?” tanyanya heran.


“Iy iya, Pak Dokter … Maaf saya tidak meminta izin dulu, soalnya takut menggangu tidurnya ….”


“Em, apa Pak Dokter mau makan sekarang?” ucap Ning menawarkan.


“Tidak, nanti saja bareng Nana … Dia masih tidur ….”


“Pak Dokter mau saya buatkan teh atau kopi?”


“Tidak usah, saya tidak mau merepotkan … Mbak kan pengasuh Nana bukan pelayan di rumah ini ….”


“Gak apa- apa kok Pak Dokter … Mumpung Nana belum bangun … Lagi pula Mbak Kinanti dan Bu Asri kan masih di rumah sakit, jadi sekalian saja saya mengerjakan apa yang bisa saya kerjakan."


“Baiklah kalau begitu, tolong buatkan saya teh hijau tanpa gula ….” ucapnya tersenyum, kemudian mengambil ponsel dari dalam saku celananya.


“Baik, Pak Dokter ….” angguk Ning masih dengan mode ramah tamah.


“Ternyata Pak Singgih orangnya ramah dan baik ya … Gak dingin dan keras hati seperti kemarin … Hmmm … Seandanya si kudanil bisa seramah ini … Ademm rasanya,” gumam Ning dalam hati sembari tersenyum memandangi wajah Singgih yang tengah memainkan ponselnya.


“Ih, apaan sih .. Ngapain aku mikirin orang menyebalkan itu,” gerutu Ning dalam hati seketika saat teringat perlakuan Athar padanya.


Ning menghela nafas panjang, lalu beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan teh. Dan tak lama ia pun kembali membawa nampan berisi secangkir teh hangat dan segera disajikan pada Singgih.


“Terimakasih,” ucap Singgih.


“Sama- sama, Pak Dokter ….”


“Terimakasih banyak," ucap ya lagi.


“Saya kan cuman bikin teh aja … ucapannya gak usah pakai banyak kali, Pak Dokter … hehehe,” Ning tersenyum canggung.


“Terimakasih banyak, karena berkat Mbak, saya bisa menyadari kesalahan saya yang selama ini sudah mengabaikan putri saya ….”


“Itu bukan karena saya Pak Dokter … hati nurani anda yang menggerakkan anda ….”


“Tapi Mbak sebagai perantara yang bisa membuat hati saya tergerak … Selama ini saya terus terhanyut dalam kesedihan karena kehilangan istri saya, dan selalu menganggap Nana sebagai penyebab kematian Diandra." Singgih menghela nafas sejenak.


“Semua perkataan Mbak, membuat saya sadar sebelum semuanya terlambat… Dan benar saja, saat melihat Nana begitu dekat dengan Daniel yang bahkan dipanggil Dady olehnya, sakit rasanya hati saya ….”

__ADS_1


“Syukurlah … saya sangat senang Pak Dokter bisa mulai dekat dengan Nana. Dengan begitu Nana bisa mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya yang selama ini selalu dirindukannya.”


“Sekali lagi terimakasih ….”


“Sama- sama Pak Dokter ….”


“Jangan panggil saya Pak Dokter … Ini kan bukan di klinik atau rumah sakit, panggil Singgih saja ….”


“Baik Pak dok, eh Pak Singgih ….”


“Semalam Daniel bilang Mbak akan menjadi pengasuh sementara untuk Nana sampai saya mendapatkan pengasuh tetap … Tapi saya harus mengetahui identitas Mbak untuk keamanan anak saya …”


“Oh iya, Pak … Kebetulan saya sudah pernah membuat beberapa surat lamaran beserta dokumen kelengkapannya dan itu masih ada di dalam tas saya ….”


“Maaf sebelumnya, bukannya saya tidak percaya dengan Mbak … Walaupun Mbak kenalannya Daniel dan pernah bekerja untuk Kak Rosmala, namun Mbak tetaplah orang asing bagi Nana dan keluarga saya … Dan semalam saya sudah mengatakan hal ini pada Daniel ….”


“Iya, Pak … Saya mengerti … Apa dokumennya harus saya serahkan sekarang?”


Singgih mengangguk sambil tersenyum.


“Boleh ….”


“Kalau begitu saya permisi ke kamar Mbak Kinanti dulu untuk mengambil dokumen nya ….”


“Iya ….”


Ning hendak melangkah, namun ia menghentikannya karena teringat sesuatu.


“Ehh, tunggu … Pak Singgih bilang semalam si Kudanil ke sini? Kenapa aku bisa gak inget apa yang terjadi semalam, tahu- tahu pas bangun udah di sini?” gumam Ning dalam hati.


“Emm, Maaf Pak … apa semalam Pak Daniel yang membawa saya ke sini?” tanyanya dengan hati-hati.


“Iya, benar … Dan semalam Daniel mem____”


“Huaaaaaaaa … huaaaa,” belum selesai Singgih berbicara, terdengar suara tangisan yang cukup kencang.


“Nana ….” ucap Ning dan Singgih bersamaan. Ia langsung bangkit dan bergegas pergi ke kamar Nana diikuti oleh Ning. Keduanya nampak mencemaskan Nana, takut terjadi sesuatu dengan anak itu.


Ceklek


Singgih membuka pintu dan bergegas masuk menghampiri putrinya.


“Nana … sayang ….” ucapnya langsung duduk di ranjang Nana dengan sang anak yang masih menangis dengan posisi duduk di atas tempat tidur sembari memeluk boneka. Ia lalu memeluk putrinya untuk menenangkannya.


“Sssstttt … Nana kenapa nangis, sayang?”


“Papa kenapa gak ada? Papa jangan pergi lagi … huaaaaaaaa ….”


“Enggak … Papa gak kemana- mana … Papa hanya pergi ke dapur untuk minum teh … sudah sudah ya, jangan nangis lagi ….”


“Peri kecil yang cantik … Ayok mandi dulu ya, nanti sarapan sama Papa," ajak Ning.


“Gak mau … Mau mandi sama Papa ….” tolak Nana.


“Ehh, kan peri kecil ini anak perempuan … Malu kalau dimandiin sama Papa … Ayok sama Mbak Ning aja ya mandi nya ….” bujuk Ning.


“Gak apa- apa, Mbak … Biar saya saja yang memandikan Nana ….”


“Tapi, Pak____”


“Gak apa- apa … lagi pula sejak dia lahir saya belum pernah memandikannya … Tolong siapkan air hangatnya saja ya ….”


Tak lama ia menyiapkan air hangat ke dalam sebuah ember dan membawanya ke kamar mandi.


Singgih benar- benar memandikan putrinya. Walaupun itu merupakan kali pertama baginya, namun ia nampak telaten memandikan Nana, dan sang putri pun terlihat begitu senang. Ia seolah tak mau jauh dari papa nya.


Bukan hanya itu, Singgih pun memakaikan pakaian Nana. Tentunya dengan pengarahan dari Ning, karena anak kecil biasanya selalu dibalur minyak telon ke seluruh badannya sebelum dipakaikan baju. Namun untuk menyisir dan mengikat rambut serta membedaki wajah Nana, dilakukan oleh Ning.


Setelah selesai, Nana dibawa ke meja makan untuk sarapan bersama papa nya. Nana yang biasanya sudah bisa makan sendiri, kini minta disuapi oleh papanya. Singgih pun mengabulkan permintaan sang putri.


Sementara Ning pergi ke kamar Kinanti untuk membawa dokumen data dirinya sekalian mandi dan berganti pakaian. Ia tak ingin mengganggu kebersamaan ayah dan anak yang baru saja terjalin itu.


“Papa, kita jalan- jalan yuk ….” Pinta Nana dengan nada manja pada Singgih yang sedang menyuapinya.


“Iya, tapi Nana harus menghabiskan makannya dulu ya ….”


“Iya ….” angguk Nana dengan semangat.


Nana yang sudah selesai makan, dibawa Ning untuk bersiap ke kamarnya, sembari menunggu Singgih yang sedang makan sarapannya.


“Nana sudah siap? Ayok kita pergi ….” ajak Singgih dari ambang pintu kamar Nana.


“Maaf, Pak … ini dokumen yang tadi Bapak minta ….” Ning menyerahkan lembaran data diri beserta fotokopi kartu identitasnya.


“Ayok kakak peri … kita pergi jalan- jalan sama papa ….” Nana menarik tangan Ning.


“Nana pergi berdua saja sama Papa ya … Kakak nunggu di rumah saja ….” tolak Ning yang tak ingin mengganggu kebersamaan ayah dan anak itu.


“Aaaaahh, kakak peri harus ikut … ayok ayok ….” rengek Nana.


“Ikut saja Mbak … kan Mbak sekarang ini pengasuhnya Nana. Siapa tahu Nana membutuhkan sesuatu saat jalan nanti," ucap Singgih.


“Baik, Pak ….” Ning pun tak bisa menolak perintah majikan barunya itu. Ketiganya beranjak keluar dari rumah dengan Nana yang digendong oleh Singgih dan Ning mengikuti dari belakang.


“Maaf, Pak … anda mau pergi keluar?” tanya sopir Athar.


“Iya, Kami akan pergi jalan- jalan," ucap Singgih.


“Mari saya antar," sopir itu menawarkan diri.


“Tidak perlu, kami akan menggunakan mobil saya ….”


“Baik kalau begitu ….”


Singgih bersama Ning dan Nana naik ke dalam mobil. Nana duduk di jok depan sebelah Singgih yang akan mengemudikan mobil. Sementara Ning duduk di jok belakang.


“Mau jalan kemana kita, nona cantik?” tanya Singgih pada sang putri.


“Ke taman bermain yang waktu itu, Papa ….”


“Yang mana?” Singgih nampak bingung.


“Yang ada penjual eskrim asap itu, Papa ….”


“Baiklah ….” Singgih pun melajukan mobilnya menuju tempat yang disebutkan oleh Nana.


Dikarenakan ini hari minggu, maka tak asing jika jalanan kota macet. Untuk sampai ke taman bermain biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, kini setelah satu jam mereka baru sampai di tempat tujuan.


“Hah, ini kan taman kota ….” gumam Ning dalam hati saat Singgih menghentikan mobilnya di parkiran taman tersebut.


“Kakak peri ayok kita main di sana ….” ajak Nana menunjuk ke tempat bermain anak yang kebetula hari itu nampak agak ramai.

__ADS_1


“Iya ….” ucap Ning dan segera keluar dari mobil, begitu pun dengan Singgih.


Nana dengan semangat mengajak keduanya pergi ke tempat bermain itu. Tangan kirinya memegang tangan Ning, sementara tangan kanannya memegang tangan Singgih. Mereka bertiga berjalan menuju tempat tersebut.


Nana langsung bergabung bermain dengan anak- anak lain di sana. Sementara Ning dan Singgih duduk di kursi panjang yang masih kosong untuk mengawasi Nana.


“Oh iya … tadi di mobil saya sempat baca sepintas, Mbak ini namanya Ningrat Atisaya dan baru berusia 18 tahun, ya?” ucap Singgih membuka percakapan.


“Hehehe, iya … Tapi panggil saja Ning, Pak … Jangan panggil nama lengkap saya."


“Loh kenapa?” tanyanya heran.


“Malu, Pak … Soalnya orang- orang sering mengejek nama saya, karena nama dan nasib saya berbanding terbalik ….”


Singgih terkekeh. “Kenapa harus malu? Itu pasti nama pemberian orang tua Mbak, kan? Ada yang mengatakan jika nama itu seperti sebuah doa bagi pemiliknya.”


“Iya, sih Pak ….”


“Diandra percaya akan hal itu … Ia mencari nama yang baik untuk calon bayi kami saat kandungannya menginjak 7 bulan. Dia memilih nama Dayana Amarinda untuk putri kami, yang artinya bayi perempuan yang akan menerangi kehidupan layaknya di surga … Tapi sayang, dia tak sempat melihat wajah bayi yang sudah dilahirkannya ….”


“Maaf, Pak … ucapan saya jadi mengingatkan Bapak pada mendiang istri Bapak ….” Ning merasa tak enak hati.


Singgih menghela nafas panjang. Ia menundukkan kepalanya dengan raut wajah sedih.


“Emm, Pak Singgih jangan bersedih … Bu Diandra pasti akan sangat sedih di sana jika melihat hal ini … Saya juga selalu berusaha kuat dan tegar … Sebesar apa pun masalah yang menerpa, saya harus tetap tersenyum meski dalam hati ingin menangis histeris… Karena saya tak mau membuat mendiang orang tua saya bersedih di alam sana … Walau terkadang saya suka tak kuat juga samapi menangis, hehehe.”


Singgih mengangkat kepalanya dan kembali duduk tegak. Ia menolah ke arah Ning.


“Mendiang orang tua? Jadi kedua orang tua mbak sudah meninggal?” tanyanya heran.


“Iya … Mama saya meninggal setelah melahirkan saya, seperti yang kemarin saya bilang sampai saya disebut anak pembawa sial … Sedangkan Bapak dan ibu sambung saya meninggal saat saya kelas 5 SD … Dan sejak saat itu saya harus berjuang untuk bertahan hidup, meski saya tinggal bersama paman dan bibi saya … Tapi, saya diharuskan hidup mandiri.”


Singgih menatap lekat wajah Ning. Rasa tak menyangka sekaligus kagum bercampur menjadi satu.


"Bagaimana bisa, gadis ini berjuang sendiri sejak usia anak- anak setelah kehilangan kedua orang tuanya … Sedangkan aku yang orang dewasa begitu sulit menerima kepergian istriku, dan malah bersikap kekanak- kanakan,” gumamnya dalam hati dengan menggerutuki dirinya karena merasa malu.


“Saya minta maaf sebelumnya sudah bicara lancang pada Pak Singgih … Saya hanya tidak ingin jika Nana mengalami hal yang sama dengan saya, seumur hidup mendapat predikat pembawa sial,” ucap Ning.


“Tidak apa, justru saya sangat berterimakasih … Jika Mbak tidak berkata demikian, mungkin saya akan seterusnya menjauhi anak saya sendiri … Dan berkat hal itu, untuk pertama kalinya tadi malam Diandra hadir dalam mimpi saya … Dia tersenyum bahagia melihat saya bersama Dayana …” Singgih menghela nafas sejenak.


“Mbak benar, sepertinya Diandra sedih dan marah pada saya yang menolak putri yang sudah payah diperjuangkannya agar tetap hidup dan lahir ke dunia … Makanya semenjak kepergiannya, dia tak pernah sekali pun muncul di mimpi saya, walau saya begitu merindukannya," ucapnya lirih.


“Saya harap Pak Singgih akan seterusnya menyayangi Nana, sehingga Nana bisa tumbuh dengan kasih sayang orang tua kandungnya,” ucap Ning penuh harap.


“Iya, sekali lagi terimakasih ….” ucapnya tersenyum merekah. “Oh ya, sepertinya saya pernah melihat Mbak sebelumnya ….” Singgih nampak mengingat- ingat.


“Kan kemarin di rumah Bu Asri," ucap Ning.


“Bukan, sebelum Mbak dibawa ke rumah Ibu dalam keadaan pingsan kemarin ….”


“Hehehe, sebenarnya saya juga kayak pernah ketemu Pak Singgih … Tapi lupa dimana nya … Mungkin berpapasan di jalan kali ya … makanya gak inget,” ucap Ning terkekeh.


“Mungkin pernah menjadi pasien saya?” Singgih menebak.


“Gak mungkin, Pak … saya ini kalau sakit gak pernah ke klinik atau ke rumah sakit … Paling ke puskesmas, hehehe ….”


Nana tiba- tiba datang menghampiri mereka dengan nafas ngos- ngosan.


“Papa … Nana mau minum ….” rengeknya meminta minum.


“Ya ampun … Kakak lupa gak bawa minum nya Nana … Kalau gitu tunggu sebentar ya, Kakak beli minum dulu … Nana mau minum apa?” ucap Ning.


“Susu coklat ….”


“Bentar ya, kakak beli dulu ... Saya permisi, Pak ....” Ning bangkit dan bergegas pergi mencari pedagang yang menjual susu kemasan sesuai permintaan Nana. Ia berjalan sembari melihat kesana kemari. Namun tiba- tiba langkahnya terhenti.


“Astaga naga … Dompet ku kan disita sama si kudanil dan aku gak punya uang sepeser pun ….” gumamnya lalu menepok jidat.


“Aduh, gimana ini? Masa iya aku minta uang sama Pak Singgih, tengsin banget ….”


“Argh, bodo amatlah yang penting bisa beli minum buat Nana, kasihan dia pasti kehausan ….” Ning berbalik arah dengan terus menggerutu dalam hatinya mengutuk Athar yang sudah menyembunyikan dompet beserta ponselnya, hingga ia tak memperhatikan jalan.


Brukk …


Ning bertabrakan dengan seseoorang yang membuatnya hampir jatuh.


“Woy, kalau jalan tuh lihat- lihat!!” bentak Ning kesal.


“Lo, kalau jalan jangan sambil melamun!!!” orang itu balik membentak Ning samai menunjuk wajah Ning. “Hah? Lo …!?” orang itu nampak terkejut melihat wajah Ning.


“Dia ... O em ji … kenapa gue bisa ketemu lagi sama si brewok ini?!” jerit Ning dalam hati dengan raut wajah sama terkejutnya dengan orang itu. Ia pun mulai panik dan takut. Ning melangkah mundur dengan mata yang masih menatap orang itu.


Grepp ..


Dengan gerakan begitu cepat, tangan Ning dicengkram oleh orang itu.


Duut … duruttt … dut dut …


Gas beracun andalannya tiba- tiba keluar. Orang itu melepaskan cengkramannya dan menggunakan tangan untuk menutup hidungnya dari bau tak sedap dari si ratu kentut. Tanpa pikir panjang Ning segera meninggalkan orang itu dan berlari sekencang yang ia bisa.


“Woy tunggu!!! Jangan lari, Lo !!” teriak orang itu dan langsung mengejar Ning sembari menutup hidungnya.


Ning berlari keluar dari area taman hingga sampai ke parkiran mobil. Ia melihat kesana kemari mencari tempat untuk bersembunyi. Karena ia sudah merasa tak sanggup jika harus berlari lebih jauh lagi.


Grepp


Tiba- tiba ada yang mencengkram tangan Ning dari belakang dan menariknya. Sebelah tangannya membungkam mulut Ning, kemudian membawanya bersembunyi di belakang sebuah mobil.


“Matilah aku, si brewok berhasil menangkap ku,” jerit Ning dalam hati.


“Engh… engh … engh,” Ning berusaha berteriak dan berontak, namun orang itu begitu kuat dan membuatnya tak berdaya.


“Sssstttt … Diam!! Jangan berisik!!” bisik orang itu di telinga Ning.


Ning membelakan matanya dan berhenti berontak, karena ia kenal betul dengan suara itu. Ia pun bisa bernafas lega.


Dut durut dut ….


Namun sayang, ia tak bisa menahan gas kepanikannya yang keluar begitu saja. Orang itu pun segera melepaskan tangannya dari mulut Ning, juga dari cengkramannya. Ia menutup hidungnya dan sedikit menjauh dari Ning.


“Oops, Sorry …. Hehehe,” ucap Ning meminta maaf sembari nyengir kuda.


-------------------- TBC -------------


****************************


Happy Reading ….😉


Terimakasih banakk selalu menantikan kisah Ning Nong Neng Jring … Monmaaf baru up lagi, eceu nya baru cembuh ….🙏


Aylapyu all ….😘😘

__ADS_1


__ADS_2