
“Daniel !!” teriakan Ning begitu menggema memenuhi ruang tengah. Sang pria yang dipanggil namanya dengan lantang itu pun terperanjat dan langsung membuka matanya yang terlihat merah. Ia melihat ke asal suara, yang mendapati Ning berdiri dengan raut wajah murka.
“Ning… kamu kok di situ?” tanya Athar yang nampak bingung. Ia lalu mengarahkan pandangan pada tangan kanannya yang memeluk sesuatu di dekat bantalnya. Betapa terkejutnya ternyata yang ia peluk adalah pahanya Maya.
Sontak Athar pun menjauhkan tangannya dan langsung bangkit. Bukannya menjawab Athar, Ning hanya menatap Athar dengan penuh amarah.
“Apa yang kau lakukan di sini?” bentak Athar pada Maya.
Maya yang tersentak menjawab dengan gelagapan. “Ma maf Pak… Ta tadi tadi saat saya sedang mengepel lantai, saya merasa capek dan duduk sebentar di sini… Tapi Pak Daniel malah________”
“Ada apa, Ning? kenapa kamu berteriak?” ucapan Maya terpotong oleh pertanyaan Bu Asri yang datang bersama Bi Sumi dari arah dapur terlihat kaget dan cemas. Beruntung mereka tak melihat pemandangan tadi saat Athar tidur dengan memeluk paha Maya yang sedang duduk.
Ning yang menampakkan raut wajah murka dengan deru nafas kasar menahan amarah, mencoba menyembunyikan hal itu dari Bu Asri dan yang lainnya. Walau sesungguhnya ia ingin melampiaskan kemarahannya yang terbakar api cemburu pada Athar. Terutama ia ingin sekali mencakar bahkan menjambak rambut Maya yang kegenitan mendekati lelaki yang dicintainya.
Namun ia tak mungkin melakukan hal itu, karena akan menimbulkan banyak pertanyaan akan hubungannya dengan Athar. Apalagi ia masih berstatus calon istrinya Singgih.
“Gak ada apa- apa, Bu… Tadi Ocha menelpon ku akan datang barang pagi ini, aku pamit pulang….” Ucapnya berdusta, ia lalu beranjak pergi meninggalkan rumah Bu Asri dengan tegesa- gesa membawa marah bergemuruh di dada.
“Ning !!” seru Athar lalu melangkahkan kaki untuk mengejarnya.
“Huaaaaa…..”
Baru saja maju dua langkah, terdengar suara tangisan Nana membuatnya mengurungkan niatnya mengejar Ning. Ia bergegas pergi ke kamar Nana, takut terjadi sesuatu dengan peri kecilnya itu.
Athar segera menghampiri Nana yang menangis dalam keadaan duduk di atas tempat tidurnya, kemudian ia menggendong didekap dalam pangkuannya. Sepertinya ia terbangun karena mendengar teriakan Ning
“Sssssttt… sayang, jangan nangis … Dady ada di sini….” Athar menenangkan Nana hingga anak itu berhenti menangis.
Sesungguhnya ia ingin sekali mengejar Ning dan sangat mengkhawatirkannya karena salah paham tadi. Namun Nana nampaknya lebih membutuhkan nya.
Saat matanya tertuju pada tas Ning yang terletak di atas meja belajar Nana, ia merasa sedikit tenang. Dengan begitu ia yakin Ning tak akan bisa pergi jauh tanpa membawa uang.
Bu Asri datang membawakan bubur yang ditaburi abon sapi serta telur rebus yang dibelah dua diatasnya.
Athar dengan segera menyuapi Nana yang makan dengan lahapnya. Athar kemudian memberinya obat, dan langsung berpamitan pulang dengan alasan akan mengurus keberangkatannya ke London. Ia berjanji akan segera kembali menemui Nana, jika urusannya sudah selesai.
Ia pun bergegas pergi, tak lupa membawa tas milik Ning. Dengan segera ia menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
Tak bisa dipungkiri ia diliputi kekhawatiran, meski tahu Ning tak akan bisa pergi jauh karena tak membawa uang atau pun ponsel.
“Aku yakin kamu masih belum jauh, Ning….” gumamnya melaju pelan sembari mengedarkan pandangannya mencari Ning.
Dan benar saja, ia mendapati Ning berjalan di trotoar pinggir jalan raya yang berjarak sekitar 700 meter dari kediaman Bu Asri. Athar pun segera menepikan mobilnya beberapa meter di depan Ning.
Ning yang menyadari hal itu, segera berlari untuk menghindari Athar.
“Ning… Tunggu!! Jangan lari… Aku bisa jelaskan semuanya… Ini hanya salah paham…” ucap Athar berteriak sembari berlari mengejar Ning. Beruntung ia berhasil mendekat dan dengan segera meraih tangan Ning hingga ia berhenti.
“Lepaskan, hiks hiks… Dasar pembohong!! Hiks hiks….” Ning yang ternyata sudah menangis, berontak minta dilepaskan.
“Enggak… aku gak akan melepaskan mu… Kita harus meluruskan kesalahpahaman ini….”
“Salah paham apanya? Jelas- jelas kamu tadi tidur sambil memeluk paha Maya…Dasar pembohong!! Kau bilang mencintai ku, tapi malah peluk peluk wanita lain, hiks hiks…”
“Oh astaga, Ning… Tadi itu salah paham… Dan lagi, aku pikir yang duduk di sana itu kamu...."
“Lepaskan aku!!” Ning terus berontak, namun Athar malah menarik tubuh Ning mendekapnya dalam pelukan.
“Ayolah sayang, jangan seperti ini….” Ucapnya memeluk erat. “Aku hanya mencintai mu, hanya kamu yang ada di hati ku… Gak ada yang lain.” ternyata ucapannya mampu membuat Ning terdiam dan tak berontak lagi.
“Ayok kita masuk ke mobil, malu dilihat orang….” bujuknya pada Ning yang masih terisak. Akhirnya Ning pun menurut. Keduanya masuk ke dalam mobil. Athar pun kembali melajukkan mobilnya.
Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan diantara mereka. Ning menatap jendela pintu, sementara Athar fokus menyetir dan sesekali ia melirik Ning yang masih nampak marah padanya. Namun tak bisa dipungkiri ia merasa sangat senang, gadisnya itu marah karena cemburu.
“Kita sudah sampai….” ucapnya menghentikan mobil di depan teras pintu utama lobi.
“Kenapa ke sini? Aku mau pulang!!” protes Ning kesal.
“Abisnya dari tadi gak ngomong- ngomong pengen kemana… Yasudah aku bawa ke sini… Ayok kita turun….” Ajaknya kemudian membuka seat belt.
“Gak, aku gak mau pulang!!”
“Ayok turun, sayangku….” Ajaknya dengan suara mesra.
“Enggak!!” bentak Ning menolak.
“Ayolah… nanti setelah aku mandi dan ganti pakaian, aku akan mengantarkan mu pulang….” Ucapnya membujuk.
“Aku bisa pulang sendiri….”
“Mau naik apa?” tanyanya lalu menoleh ke jok belakang untuk meraih sesuatu.
“Mau naik taksi kek, ojek kek, itu terserah aku….”
“Bayar nya mau pakai apa?”
“Ya pakai____” Ning tak melanjutkan ucapannya saat melihat Athar memegang tas miliknya. “Itu kan___” Ning menunjuk tas tersebut.
“Yuhu, ini tas milik mu, sayang….” Ucapnya tersenyum penuh kemenangan. Ia lalu turun dari mobil.
“Kau… kembalikan tas ku!!” pekik Ning kesal, namun Athar tak mengindahkannya. Ia malah sengaja memasuki pintu utama lobi gedung tersebut setelah melemparkan kunci mobil pada penjaga keamanan.
Dengan terpaksa Ning turun dari mobil, karena tak mungkin ia pulang dengan berjalan kaki ke rumahnya. Ia pun mengejar Athar hingga tiba di depan sebuah lift. Ia mencoba mengambil tas yang berada di tangan Athar.
“Kembalikan tas ku!!” bentaknya mencoba menarik tas itu, namun malah tangannya yang ditarik oleh Athar hingga keduanya masuk ke dalam lift. Akhirnya mau tidak mau Ning ikut bersama Athar pergi ke unit apartment nya.
“Kembalikan tas ku, ihh….” Ning masih mencoba merebut tas miliknya, namun Athar tak membiarkannya.
“Sudah, ayok kita masuk dulu….” Athar yang masih mencengkram tangan Ning, menariknya membawa masuk ke dalam apartment yang pintunya sudah dibuka.
Ning menghentakkan kaki. Kekesalannya semakin bertambah pada om tamvan yang memaksanya ikut masuk. Tangannya pun dilepaskan usai Athar kembali menutup pintu, karena tak mungkin Ning bisa kabur.
“Kembalikan tas ku!!” hardiknya semakin kesal, padahal tangannya sudah dilepaskan oleh Athar. Pria itu tak menjawab malah terus melangkah, dan Ning pun membuntutinya.
“Silahkan duduk tamu kehormatan ku….” Athar sedikit membungkuk dengan tersenyum ramah mempersilahkan Ning duduk seperti seorang pelayan yang menyambut tamunya.
Ning mendengus kesal, kemudian menjatuhkan bokong ke atas sofa empuk di ruang tamu. Athar pun duduk di sebelahnya.
“Ngapain sih kita kesini? Awas jangan macam- macam !!” ucapnya dengan nada galak.
“Ya enggak lah, satu macam aja kamu langsung marah… Apalagi macam- macam….” Ucapnya lalu bersandar pada sofa tersebut.
“Ish… aku tidak mau bicara dengan mu….” Ning memalingkan wajahnya.
“Memangnya dari tadi aku sedang bicara dengan siapa, hem?” goda Athar dengan menahan tawa.
“Tau !!”
__ADS_1
“Hahaha… Ternyata kamu sangat menggemaskan kalau lagi ngambek… Apalagi tadi saat kamu cemburu, Uwouww….” Athar malah semakin menggoda Ning.
“Siapa juga yang cemburu? Ge- er !!” Ning menyangkalnya, padahal ia sudah terang- terangan menunjukkan rasa cemburu buta nya.
“Oh ya….” Athar kembali terkekeh. “Eng, kalau diperhatikan … Itu pengasuhnya Nana cantik juga….” Athar malah memancing kemarahan Ning dengan menahan tawa.
Bugh
Ning memukul dada Athar menggunakan bantal sofa. “Dasar mata keranjang!!”
“Hahahahahaha… tuh kan cemburu… Masih gak mau ngaku….” Athar tertawa dengan renyahnya.
“Enggak….” Ning tetap enggan mengakuinya. Ucapan dan tindakan sungguh bertolak belakang.
“Gak apa-apa, sayang… Aku senang kok kalau kamu cemburu, berarti kamu benar- benar mencintai ku yang tampan dan menawan ini… Meski pun cemburu gak jelas, hahaha….”
Ning mencebikkan bibir, dan kembali memalingkan wajah. Ia bergeser menjauh dari Athar, namun sang pria pun ikut bergeser agar terus dekat dengan Ning. Begitulah seterusnya sampai tak disadari Ning mentok di penghujung sofa dan ia hampir jatuh. Namun Athar segera menarik tangan dan membawa tubuhnya duduk di pangkuan Athar.
“Ih… lepasin….” Ning berontak saat kedua tangan Athar melingkar di pinggangnya.
“Udah dong ngambeknya, sayang… Memangnya gak capek, hem…”
“Ihhhh… ihh….” Ning memukul- mukul dada Athar untuk meluapkan kekesalannya hingga beberapa kali. Athar tak menghindar atau pun meringis, sampai Ning menghentikannya sendiri.
“Udah ngambeknya?” tanya Athar pada Ning yang sudah berhenti memukulinya.
“Tuan om jahat, hiks hiks….” ucapnya terisak.
“Hei… jangan nangis dong… Iya aku salah, aku minta maaf….” ucapnya menghapus jejak air mata Ning dengan jemarinya.
“Ning… ” ucapnya menatap mata Ning yang duduk di pangkuannya itu.
“Tadi saat aku sedang tidur, ada yang memegang tanganku. Samar- samar aku melihat ada yang duduk di sofa di samping bantal ku… Aku pikir itu kamu… Karena lenganku terasa pegal, ku luruskan untuk meregangkan tangan ku… Saat mendengar teriakan mu, aku terkejut dan tanpa sengaja kujatuhkan tangan ku sampai mengenai paha orang yang duduk itu….” Athar menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
“Tuan om gak bohong kan? hiks hiks….” Ning masih terisak.
“Apa kau melihat kebohongan di mata ku?”
Ning yang masih terisak menggelengkan kepalanya saat matanya saling bertatapan dengan Athar.
“Jadi tuan om gak berbuat mesum sama Maya?” tanya Ning memastikan.
“Tentu saja tidak… Aku sudah bilang kalau aku mencintai mu, hanya mencintai mu Ning… Untuk apa aku berbuat mesum pada pengasuhnya Nana…”
“Maksudnya tuan om mau berbuat mesum sama aku?”
“Apa itu tawaran atau ajakan?” sempat- sempatnya ia menggoda Ning dalam keadaan seperti itu.
Bugh
Ning kembali memukul dada Athar. “Dasar otak mesum !!” pekik Ning sebal.
“Hahahahaha… kau sangat mengemaskan, sayang….” Athar memajukan wajahnya. “Muach… Athar mencium pipi Ning dengan gemas.
“Ishh…” Ning menghapus jejak bibir Athar di pipinya dengan kasar. Tentunya hal itu membuat Athar tertawa geli.
“Kau tahu, sayang? Tadi teriakan mu sampai tembus ke dalam mimpi ku… Aku pikir ada tarzan masuk ke rumah… hahaha….” Ucapnya kembali tertawa melihat Ning cemberut. “Jangan cemberut gitu, nanti bibirnya aku lahap loh….”
“Ish….”
“Kalau tuan om gak salah, terus kenapa tadi gak mengejar ku saat aku keluar untuk memberi penjelasan?” tanya Ning yang sudah berhenti menangis.
“Jangan bilang kau menunggu ku di halaman rumah Bu Asri?” tebak Athar.
“Te tentu saja tidak….” Ning mengelak, menjawab dengan gelagapan.
“Dari gelagat mu sepertinya iya… Aku bisa membayangkan, kamu bersembunyi dibalik dinding pagar sembari menunggu ku datang… Sesekali kau mengintip dari balik dinding, ternyata tak kunjung muncul… Ka-si-han…. hahaha," ucapnya tak bisa menahan tawa sembari membayangkan hal itu.
Jangan ditanya, bibir Ning cemberutnya udah tak bisa dikondisikan.
“Pantas saja saat tadi ku kejar, kamu belum terlalu jauh… Padahal tadi aku membujuk Nana supaya berhenti menangis, menyuapinya makan, memberinya obat, sampai membujuknya agar mengizinkan ku pergi… Tahu gitu aku bisa tidur dulu deh tadi, hehehe” Lanjutnya kembali terkekeh.
“Dasar menyebalkan!!”
“Tapi kau begitu mencintai ku kan?” sepertinya menggoda Ning terasa menyenangkan bagi Athar.
“Enggak!!” Ning menyangkal.
“Enggak salah… hahaha….” Athar kembali tertawa.
“Iiiihhh….” Ning memalingkan wajahnya berdecih kesal.
“Kau makin menggemaskan kalau ngambek, gadis galak ku sayang….”
“Manggil apa tadi?” Ning ternyata baru menyadari Athar memiliki panggilan baru terhadapnya.
“Apa?” tanya Athar heran.
“Tuan om manggil aku apa?”
“Ning?”jawaban pertama.
“Bukan, yang barusan….”
“Gadis galak?” jawabn kedua.
“Bukan ih… yang barusan terakhir….”
“Bilang apa emang? Gadis galak ku?” jawaban ketiga, masih salah juga.
“Bukan iihh….”
“Terus apa dong?”
“Sayang!!” ucap Ning memberitahu jawabannya.
“Iya, kenapa sayang?” Athar malah menyahut seolah Ning yang memanggilnya sayang. Ternyata dari tadi ia sengaja mengerjai Ning.
“Ihhh, nyebelin banget….”
“Hahahaha….” Athar terus saja tertawa, seolah menggoda Ning menjadi hiburan tersendiri baginya. “Jadi udah clear ya masalah nya….” Ucapnya nampak serius.
“Iya…” jawab Ning singkat.
Ceklek
Tiba- tiba terdengar suara pintu terbuka. Ning hendak bangkit dari pangkuan Athar, namun langsung ditahan oleh Athar.
__ADS_1
“Tidak usah disambut, paling itu Riko….”
“Bukan mau menyambut, tapi gak enak aja masa duduk dengan posisi seperti ini….”
“Biarkan saja, Riko tidak suka usil…..”
“Tapi_____”
“Permisi Pak… ini pesanannya….” Riko yang menghampiri meletakan dua buah godie bag di atas meja.
“Oke, thanks….” Ucap Athar singkat, ia terlihat santai. Namun lain hal nya dengan Ning yang terlihat begitu malu karena duduk di pangkuan Athar, hingga ia menundukkan kepalanya. Beruntung Riko bergegas pergi ke belakang.
“Apa itu?” tanya Ning yang melihat goodie bag.
“Yang satu isinya pakaian untuk mu… Yang satu isinya makanan… Kita kan belum sarapan….”
“Oh… “ ucapnya ber oh ria. “ Tuan om masih belum jawab pertanyaan ku tadi," tagih Ning.
“Yang mana? pertanyaan mu banyak sekali, perasaan udah dijawab semua….”
“Kenapa tuan om tadi gak langsung ngejar aku tadi untuk memberi penjelasan?”
“Oh… yang itu… Tadi itu aku hendak mengejar mu, tapi Nana nangis… Aku takut dia jatuh atau ketakutan karena mendengar teriakan mu… Dan lagi, kalau aku langsung mengejar mu, Ibu dan yang lainnya akan curiga sama kita,” ucapnya lalu menghela nafas.
“Nasib, jadi kekasih gelap gini amat ya, harus sembunyi- sembunyi…." gumam Athar pura-pura meratapi status dalam percintaan nya.
Ning yang mendengar hal itu, memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Athar. Ia lalu memeluknya. Tentunya posisi Ning yang duduk di atas paha Athar menjadikannya lebih tinggi, hingga saat berpelukan wajah Athar bertemu dengan dua gunung kembar milik Ning.
“Sayang, jangan seperti ini….” Ucapnya lalu menjauhkan Ning hingga melepaskan pelukannya.
“Kenapa?” tanya Ning heran.
“Udah menghadap sana lagi, jangan ke sini….”
“Memang nya kenapa?” Ning semakin bingung.
Tak lama Riko kembali dengan membawa sebuah koper besar. Percakapan mereka pun terhenti. Ning bangkit dan duduk di sofa bersebelahan dengan Athar, karena ia merasa tak enak dilihat oleh Riko.
“Tuan om….” Panggilnya menoleh menatap mata Athar.
“Hmmm….”
“Kamu benaran mau berangkat ke London?” tanya Ning mulai was- was saat melihat koper yang dibawa Riko.
“Iya, sayang….” angguk Athar.
“Kapan?” tanya Ning.
“Kamu maunya kapan?”
“Kok nanya aku?” tanya Nig heran.
“Kan aku juga mau bawa kamu….”
“Tapi, mana mungkin kita pergi berdua sedangkan kita____”
“Kita apa?” tanya Athar.
“Hubungan ini____”
“Hubungan apa? Bicara yang jelas dong, sayang….”
“Mustahil aku ikut bersama mu… Apa kata orang nanti?” Ning terus berbelit- belit.
“Maksudnya? Kata orang gimana?” Athar semakin tak paham.
“Ya nanti gimana tanggapan orang kalau tuan om membawa ku ke London, sedangkan kita_____”
“Sayang, kalau bicara tuh yang jelas don, jangan berbelit- belit... Aku gak ngerti….”
“Maksudnya tuh, gak mungkin kita bisa pergi bersama dan tinggal di sana tanpa adanya ikatan di antara kita….”
“Jadi, maksud mu?” Athar menunggu penjelasan.
“Ya kalau mau pergi bersama dan tinggal bersama berarti kita harus menikah dulu,” akhirnya Ning memberanikan diri mengatakan hal yang mengganggu pikirannya.
“Apa kau sedang melamar ku, sayang?” goda Athar.
“Ish… Mana ada perempuan melamar laki- laki…”
“Lah ini ada, kamu loh sayang….”
“Eng enggak… aku gak melamar ihh….”
“Melamar itu apa memangnya?” tanya Athar.
“Mengajak menikah….”
“Tadi kamu bilang kita harus menikah, berarti kamu sedang melamar ku dong….” Athar tak mau kalah debat.
“Ihhh… nyebelin banget sih….”
“Hahahahahaha….” Athar tak hentinya tertawa gemas melihat Ning yang terus ngambek seperti anak kecil.
“Tertawa saja tertawa….” gerutu Ning kesal.
“Iya iya maaf, sayang….” Ucapnya berhenti tertawa, kemudian menghela nafas sejenak. Dipeganginya tangan kiri Ning yang kemudian diangkat. “Kembalikan cincin ini pada pemiliknya, baru setelah itu aku aku isa melamar mu,” ucapnya dengan mentap cincin yang melingkar di jari tengah Ning.
Seketika Ning tertegun, ia kembali teringat dengan statusnya yang masih bertunangan dengan Singgih. Ning memeluk lengan Athar dan bersender di bahunya.
“Tuan om….” panggil Nin dengan suara lirih.
“Hmmmm….”
“Apa kita ini sedang berselingkuh?” tanya Ning dengan perasaan bersalah.
Seketika Athar terdiam. Ia tak menjawab, dalam hatinya pun tak menampik. Karena memang disadari atau tidak, hubungan cinta mereka terjalin dalam ruang lingkup perselingkuhan. Keduanya pun terdiam, tenggelam dalam pikiran masing- masing.
-
-
---------------- TBC------------ >>>
**************************
Happy Reading…
__ADS_1