NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Siapa Pendonor-nya?


__ADS_3

“Tuan om… tuan om ….” ucap Ning dengan suara yang terdengar lemas dan pelan. Namun matanya masih terpejam.


Suster yang melihat hal itu, segera memanggil dokter. Ning pun langsung diperiksa.


“Tuan om … tuan om….” Ning kembali mengigau memanggil Athar.


“Nona … Apa nona Ning bisa mendengar saya?” ucap dokter yang mengajaknya berbicara, agar Ning bisa tersadar sepenuhnya.


“Emh….” Perlahan Ning mulai membuka matanya. “Dimana ini?” tanya Ning yang masih nampak lemas.


“Syukur lah Nona sudah sadar … Nona sedang berada di ruang ICU, karena sudah lima jam Nona tak sadarkan diri….” ucap dokter.


“Tuan om … tuan om mana?” Ning dalam keadaan lemah pun terus menanyakan Athar.


“Maaf … siapa itu tuan om?” tanya dokter.


“Da… Daniel….” ucap Ning terbata- bata.


“Oh, Daniel … dia belum kembali ….” ucap dokter.


“Air… air….” Ning nampaknya merasa haus.


“Suster, beri dia minum ….” titah dokter.


“Baik, Dok …. “ Suster segera mengambil air minum dari luar ruangan. Tak lama ia pun kembali dengan membawa satu botol air mineral lengkap dengan sedotannya. Ia lalu membantu Ning meminumnya.


“Pantau terus keadaanya, saya akan segera menghubungi Daniel ….” ucap dokter.


“Baik, Dok ….”


Dokter beranjak pergi dan segera menghubungi Athar. Namun setelah berkali- kali menelpon, Athar tak kunjung menjawab. Bahkan nomornya sampai tidak bisa dihubungi.


“Kemana anak itu? Tadi setelah pergi mengirim ku pesan agar segera memberitahukannya jiga Ning sudah sadar….” gumamnya bertanya- tanya.


Akhirnya dokter berhenti menghubungi Athar, beliau pergi keluar dan memberitahukan Riko juga Siti tentang kondisi terbaru Ning.


Riko segera menghubungi Athar.


“Kenapa Pak Daniel tak menjawab telpon ku? Apakah beliau sangat sibuk?” gumam Riko yang sudah berkali- kali menghubungi Athar, namun tak kunjung mendapat jawaban.


“Sudahlah, sebaiknya aku mengirim pesan saja, pasti beliau membacanya ….” Riko pun berhenti menelpon, lalu mengirimkan pesan pada Athar tentang kondisi terbaru Ning.


Meski Ning sudah sadar, namun ia masih diharuskan dirawat di ruang ICU. Riko dan Siti hanya bisa menunggu di luar saja.


“Suster, berapa lama lagi saya harus di sini?” tanya Ning yang sepertinya sudah mulai bosan berada di ruang ICU, dengan hanya berbaring saja. Namun saat ia hendak bangun, memang tubuhnya masih terasa sangat lemas.


“Nanti setelah kondisi Mbak Ningrat benar- benar membaik….” ucap Suster.


“Lalu, dimana tuan om?” Ning mempertanyakan keberadaan Athar.


“Maaf, tuan om siapa?” Suster malah balik bertanya.


“Pak Daniel … tolong panggilkan dia, saya ingin bicara dengannya ….” pinta Ning.


“Tunggu sebentar, saya keluar dulu….” Suster pun bangkit dan ia beranjak pergi keluar ruangan.


“Maaf, apa ada yang bernama Pak Daniel?” tanya suster pada Riko dan Siti yang duduk di luar ruang ICU. Keduanya pun berdiri dan menghampiri suster yang berada di ambang pintu.


“Ada apa, Sus?” tanya Riko.


“Pasien meminta untuk bertemu dengan orang yang bernama Pak Daniel….” ucap suster.


“Beliau belum kembali, Suster… Bisakah diwakilkan oleh saya? Kebetulan saya asisten pribadinya Pak Daniel … Mungkin saja Nona Ning membutuhkan sesuatu….”ucap Riko.


“Baiklah kalau begitu … Mari masuk berama saya ….” Suster mengajak Riko masuk.


Seperti biasa, sebelum memasuki ruangan tempat Ning dirawat, Riko diperkenankan untuk memakai pakaian steril, masker, serta penutup kepala. Ia pun dipersilahkan masuk.


“Selamat sore, Nona Ning ….” Sapa Riko yang sudah berdiri di sebelah ranjang Ning.


“Pak Riko? Dimana pak Daniel?” tanya Ning melihat ke arah belakang Riko.


“Eng… beliau sedang ada pekerjaan penting dan belum kembali… Jika nona membutuhkan sesuatu, nona bisa mengatakannya pada saya ….” ucapnya.


“Aku pikir dia tadi ada di sini? ternyata aku hanya bermimpi….” gumam Ning dalam hati.


“Saya ingin menanyakan sesuatu… Saya yakin Pak Riko juga tahu tentang hal ini….” Ucap Ning nampak serius.


“Maaf, tenang apa ya, Nona?” Riko terlihat berhati- hati dalam bicara.


“Tentang… hk hk hk ….” Ning yang hendak bicara, merasa mual- mual.


“Nona, anda baik- baik saja?” tanya Riko nampak cemas.


“Hk hk hk ….” Ning yang mersa mual tak menjawab pertanyaan Riko. Ia nampak menahan dirinya agar tak muntah saat itu juga.


“Suster… suster ….” Riko berteriak minta pertolongan suster.


“Ada apa, Pak?” tanya suster menghampiri. Namun saat ia melihat Ning yang mual- mual, ia segera mengambil tempolong dari kamar mandi.


“Maaf, Pak… sebaiknya anda menunggu di luar….” Pinta suster yang kemudian mendekat pada Ning yang sudah nampak tak tahan ingin muntah. Riko pun bergegas pergi.


Tak lama, Riko melihat dokter yang terburu- buru masuk ke ruang ICU.


“Pak Riko … Nona Ning kenapa?” tanya Siti.


“Saya juga tidak tahu, sepertinya tadi dia muntah- muntah ….”


“Semoga nona baik- baik saja .…” ucap Siti nampak khawatir. Meski ia tahu jika Ning sudah biasa mual muntah, tapi karena keadaanya yang sampai dirawat di ruang ICU, membuatnya mencemaskan Ning.


“Iya….” Sahut Riko.


Ceklek …


“Riko ….” Dokter yang baru keluar memanggil Riko.


“Iya, dok ….” Riko segera menghampiri.


“Barusan saya sudah menghubungi Daniel dan membicarakan tentang kondisi Ning….” ucapnya.


Dokter menghela nafas panjang. Ia nampak berat untuk berucap kembali, terlihat jelas dari raut wajahnya.


“Nanti malam Ning akan dijadwalkan untuk tindakan operasi pencangkokan ginjal… Daniel menyuruh kamu untuk mengantarkan surat persetujuan yang harus ditandatanganinya … Karena dia baru bisa datang ke sini nanti malam katanya….”


“Baik, Dok ….”


“Suster, bawa Riko ke bagian administrasi….” Titahnya pada suster yang keluar mengikuti dirinya dari belakang.


“Baik, Dok ….”


Riko pun pergi bersama suster sesuai titah dokter, meninggalkan Siti yang duduk sendiri dan nampak masih terkejut mendengar Ning akan dioperasi.


“Bukannya tadi Nona sudah sadar… kok jadi dioperasi?” gumam Siti bertanya- tanya.


Selang beberapa saat, Ning dibawa ke ruang rawat inap yang sebelumnya. Suster pun menjelaskan bahwasannya ia harus bersiap- siap untuk melakukan operasi malam ini. Ning diperkenankan untuk berpuasa dan hanya tinggal melanjutkan sisa setelah ia pingsan tadi, karena sempat minum pun, sudah kembali dimuntahkannya.


**


Waktu terasa cepat berlalu, hari pun berganti malam. Ning yang sejak sore hanya ditemani Siti di ruang rawat inap, nampak terlihat gelisah bercampur takut. Ia kembali berbaring menunggu suster membawanya ke ruang operasi. Perasaan tegang dan gelisah semakin dirasakannya.


Ditambah ia sama sekali belum bertemu dengan sang pujaan hati yang sudah sangat dirindukannya. Ia pun berbaring menyamping dengan wajah nampak termenung melamunkan suatu hal.


“Nona lagi mikirin apa?” tanya Siti menghampiri.


“Eng … enggak Siti….” Ning membuyarkan lamunannya.


“Jangan tegang Non… Saya doa-kan semoga operasinya berjalan lancar dan Nona segera sembuh ….”


“Amiin .. terimakasih Siti ….” ucapnya tersenyum.


“Non lagi mikirin Pak Daniel ya?” tebak Siti menggoda Ning.


“Eh, kata siapa?” Ning langsung menyangkal.


“Soalnya dari kemarin kan Non belum ketemu sama Pak Daniel….” Siti ternyata sangat memperhatikan Ning dan Athar.


“Kamu ngomong apa sih….” Ning nampak malu.

__ADS_1


“Gak apa-apa kali … Itu hal biasa kalau merindukan pacarnya….”


“Hehehe ….” Ning tersenyum malu, namun sepertinya ia malu karena ketahuan merindukan pacar pura- pura nya.


“Tadi juga____”


Drtt drtt drttt …


Belum selesai Siti bicara, terdengar suara getaran ponsel yang diletakan di atas meja, karena sedang dicharger. Mata Ning langsung tertuju pada ponsel miliknya itu. Ning langsung bangun dan hendak berdiri untuk mengambil ponsel itu, namun Siti mencegahnya. Ia kemudian mengambilkannya.


Ning terlihat was- was, seolah takut yang menelponnya itu orang yang tak diharapkannya.


“Ini ada telpon, Non… hah, kudaniel mesum….” ucapnya heran melihat nama si pemanggil.


Ning segera merebut ponsel dari tangan Siti. “Terimakasih Siti….” ucap Ning tersenyum. Ia nampak lega melihat nama si pemanggil di layar ponselnya. Ia lalu menerima panggilan tersebut dengan tersenyum sumringah.


“Ha____” belum selesai Ning mengatakan kata sapaan, Athar langsung memotongnya.


“Hei gadis galak … lama sekali sih ngangkat telponnya ….” protesnya terdengar kesal.


“Hape-nya disimpan di meja…. Tuan om kemana aja sih?” ucap Ning yang ikutan protes.


“Kenapa? Apa kau merindukan ku, hem?” goda Athar.


“Enggak tuh ….” sanggah Ning sambil tersipu malu. Ternyata ia tak mau Athar mengetahui, betapa ia merindukan lelaki itu.


“Hahaha… jangan bohong….” kekeh Athar.


“Siapa juga yang bohong… jangan ge- er deh….” Ning masih tetap malu mengakuinya. “Eng, tuan om lagi sakit?” tanya Ning.


“Enggak … memangnya kenapa?”


“Suaranya kok kayak yang lagi flu gitu….”


“Iya, kena flu rindu…. Hahaha.”


“Ish, mana ada flu rindu … Yang ada flu batuk, flu burung dan flu babi….”


“Kalau begitu, mulai hari ini terciptalah yang namanya flu rindu, hahaha….” Gurauan Athar membuat Ning tertawa. Ia nampak tak setegang sebelumnya.


“Kalau gak flu, berarti habis nangis ya? Hayo ngaku… Tuan om nangis karena kangen sama aku ya??” Ning kini yang menggoda Athar.


“Gegabah … mana ada seorang Daniel Athar Sahuekha menangis… gak ada dalam kamus….” Athar menepis sangkaan Ning.


“Tapi, tadi aku kok mimpi tuan om nangis di dekat aku sih? Kayak nyata banget tahu gak….” Ning nampaknya menyadari yang terjadi di ruang ICU.


“Kapan? It itu kan cuma dalam mimpi… kalau dalam kenyataan, mustahil lah ….”Athar tetap menyangkal, ternyata ia terlalu gengsi mengakui hal itu.


“Oh, gitu ya…. gak percaya, tuan om gak pernah nangis….”


“Tanya aja sama kak Ros, atau tanya ke Mami kalau berani….” Athar malah menantang Ning.


“Emang waktu lahir gak nangis?” tanya Ning.


“Kalau itu beda lagi … semua bayi yang baru lagir pasti nangis… soalnya kaget….”


“Kaget kenapa?” tanya Ning heran.


“Pada saat di dalam ia sering melihat yang botak, eh pas keluar dia keluar dari rawa- rawa…. Hahahaha.” Athar tak hentinya terus bergurau, mungkin itu cara dia mengurangi rasa takut Ning.


“Ish, apanya yang lucu sih ….”


“Sudahlah lupakan saja … Kalau dipikirin, nanti kamu bisa typus….” Athar nampaknya tak ingin menjelaskan celotehan anehnya.


Ning mendengus kesal. Ia lalu teringat akan operasi yang akan dijalaninya sebentar lagi.


“Tuan om ….”


“Ya… kenapa?”


“Aku takut….”


“Jangan takut … gak akan sakit kok….”


“Kata siapa?”


“Tapi ____”


“Hei, kamu jangan takut… Ingatlah tentang kesembuhan mu…. Kamu pengen cepet sembuh kan? Katanya gak mau ngerepotin siapa- siapa lagi … Jadi kamu harus semangat untuk sembuh….” Ucapnya menyemangati.


“Apa tuan om akan menemani ku?” tanya Ning penuh harap.


“Tentu saja tidak….” ucap Athar yakin.


“Kenapa?” Ning nampak kecewa.


“Oh astaga Ning … Di ruang operasi itu hanya ada kamu, dokter dan para perawat saja… Orang lain tidak boleh masuk…..”


“Maksudnya, apa tuan om tidak akan menemui ku dulu sebelum aku operasi?”


“Kenapa memangnya? Pengen dicium dulu ya?”


“Ish, itu mulu deh di otak nya….”


“Hahahaa… iya iya, ini aku lagi di jalan menuju rumah sakit kok….”


“Beneran?” Ning nampak berbinar.


“Iya… makanya kamu jangan takut … Nanti gas beracun mu bisa meledak…. Bahaya itu….”


“Hahahaha… iya sih ….” Ning membayangkan sambil tertawa.


“Gak kebayang kan, dokter yang baru saja mulai membedah, eh kamu kentut… Nanti semua orang di ruang operasi pada kabur, atau pingsan mungkin ….”


“Dih, itu mah tuan om aja kali yang pingsan mah….”


“Hhahahaha….” Athar malah tertawa.


“Eng, oh iya… Ada yang ingin aku tanyakan….” ucap Ning.


“Tanya apa lagi? Jangan bilang kau akan menyatakan cinta pada ku….” Athar tak hentinya menggoda Ning.


“Ish, bisa serius gak sih? Dari tadi bercanda mulu ….” Ning nampak mulai kesal.


“Kan biar kamu gak tegang dan takut lagi… hahaha….”


“Serius nih….” Ning semakin kesal.


“Oke oke , mau tanya apa, nona galak?” Athar nampak siap mendengar pertanyaan Ning.


“Eng … aku mau tanya soal_____”


Ceklek …


“Permisi… dengan pasien atas nama Mbak Ningrat Atisaya?” tiba- tiba ada dua orang perawat masuk.


“Iya, benar….” angguk Ning.


“Setengah jam lagi akan dilakukan operasi … Untuk itu, kami akan membawa Mbak Ningrat ke ruang persiapan ….” Perawat itu menjelaskan.


“Iy iya suster ….” ucap Ning. ia kebali bicara pada Athar. “Tuan om … aku mau dibawa ke ruang persiapan operasi ….”


“Iya… Yang tenang ya… sebentar lagi juga aku sampai…. Jangan takut….”


“Iya, Tuan om juga hati- hati di jalannya….”


“Oke ….”


Keduanya pun mengakhiri pembicaraan mereka di telpon. Ning menghela nafas panjang berkali-kali untuk menenangkan dirinya sendiri. Setelah terlihat tenang, suster meminta Ning berbaring di atas ranjang yang kemudian didorongnya bersama rekan satu nya lagi, untuk membawa Ning ke ruang persiapan untuk operasi.


Setibanya di ruang persiapan, Ning melakukan beberapa pemeriksaan. Kemudian suster membantu Ning berganti pakaian dengan pakaian khusus untuk pasien yang akan dioperasi.


Ia kembali berbaring, menunggu giliran masuk ruang operasi. Ia tak hentinya berdoa untuk kemudahan dan kelancaran operasinya tersebut. Rasanya waktu berjalan begitu lambat, membuat Ning merasa ngantuk. Ya tentu saja, karena waktu menunjukan pukul 21.20. Hingga ia pun tertidur.


Sementara Athar yang baru saja sampai rumah sakit bersama Riko, langsung menghubungi dokter yang menangani operasi Ning. Mereka bertemu di depan ruang persiapan operasi.


“Bagiamana om? Aku belum terlambat kan? Tadi jalanan macet parah…..” ucap Athar dengan nafas terengah- engah menghampiri dokter. Sementara Riko duduk di dekat kursi yang diduduki oleh Siti.

__ADS_1


“Operasinya akan dilaksanakan satu setengah jam lagi, karena di dalam masih ada satu tindakan operasi… Tadi jadwalnya mundur ….” ucap dokter.


“Syukurlah ….” Athar bernafas lega, meski raut wajahnya terlihat sedih.


“Kamu sudah siap?” tanya dokter nampak ragu.


“Iya, Om ….” Athar mengangguk pasrah. “Tapi…. Aku ingin menemuinya dulu….”


“Silahkan … Suster bilang dia tertidur…. Mungkin karena terlalu lama menunggu … Mari kita masuk….” Dokter mengajak serta Athar masuk ke ruang persiapan. Ia menoleh sekilas pada Riko yang duduk di dekat Siti. Riko pun mengangguk.


“Siti….” ucap Riko.


“Iya, Pak….”


“Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan anda….”


“Pak Riko tinggal bicara saja….”


“Tapi tidak di sini….”


“Hah? Ma maksudnya?” Siti nampak bingung dan gugup.


“Anda tidak usah gugup seperti itu … Saya hanya ingin membicarakan tentang Nona Ning….” ucap Riko yang kemudian berdiri. “Mari ikut saya….”


“Iy iya, Pak ….” Siti pun berdiri, ia mengikuti dari belakang kemana arahnya Riko pergi, meski ada perasaan takut dan ragu.


**


“Tuan om… tuan om… jangan pergi… Tuan om…!!!” teriak Ning di alam bawah sadarnya. Seketika ia membuka matanya disertai dengan tarikan nafas berat.


“Ris, cepat beritahu dokter, pasien sudah sadar….”


“Iya baik….”


“Pasien sudah sadar?”


“Iya, dok….”


“Lakukan pemeriksaan!!”


“Baik, Dok ….”


“Denyut nadi nya normal….”


“Tensinya 110/90….”


Perawat nampak sibuk memeriksa keadaan Ning. Semua ucapan mereka terdengar, namun Ning seolah merasa sedang bermimpi. Ia mengedarkan pandangannya dengan perlahan nampak masih lemah. Ekspresi wajah nya pun nampak bingung.


“Dimanga ingi?” ucap Ning yang terdengar tak jelas, karena di mulutnya terdapat alat bantu selang.


“Nona bisa mendengar saya….” ucap dokter mengajak Ning bicara.


“Yha…” ia menjawab dengan nada lemas.


“Siapa nama anda?”


“Ningat….” sahut Ning.


“Oh, syukurlah ….” ucap dokter merasa lega. “Suster, beritahu keluarga pasien….”


“Baik, Dok ….”


Setelah keadaan Ning berangsur membaik dengan perawatan dan pengawasan intensif di ruang ICU, keesokan harinya Ning dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP.


“Ning… Ning….” seseorang memanggil Ning untuk membangunkan nya.


Perlahan Ning membuka matanya, dan yang pertama ia lihat adalah wajah orang yang duduk di sebelah ranjang dan menghadap pada nya. Ning tersenyum sumringah, ia nampak senang.


“Ning … kau sudah bangun….” ucap orang itu lagi.


Senyum Ning seketika luntur, saat mendengar suara orang tersebut yang berbeda dengan orang yang dilihatnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk meyakinkan penglihatannya.


“Hah… kenapa kamu?” ucap Ning nampak begitu kecewa.


“Kenapa kamu kenapa kamu aja, lo….” cerocosnya nampak kesal.


“Cha, kenapa lo bisa ada di sini?” tanya Ning yang kesadarannya sudah terkumpul.


“Harusnya gue yang nanya, kenapa lo ada di sini, sakit parah, dioperasi sampai koma gak ada ngabarin gue sama sekali....” protesnya kesal.


“Maaf, Cha….” ucap Ning.


“Maaf maaf aja, lo … Gimana kalau seandainya lo metong? lo pengen gue nangis darah di depan kuburan lo, karena gue gak tahu menahu soal sakit lo dan tiba- tiba gue hanya bisa bertemu dengan batu nisan lo aja, hah?! Lo anggap gue apa, Ning tut!!” Ocha malah semakin kesal.


“Maaf, Cha… gue gak mau ngerepotin lo….”


“Lo bener- bener tega sama gue, Ning…. huhuhuhu….” Ocha yang begitu mengkhawatirkan Ning, akhirnya menumpahkan air matanya.


“Ocha … lo jangan nangis gini, gue baik- baik aja kok….”


“Gue sedih banget tahu gak… udah seminggu gue nungguin lo yang gak kunjung sadar… Gue takut banget kalau lo sampai meninggal, huhuhuhu….”


“Udah dong Cha, jangan nangis lagi… gue masih hidup kan nihh….”


“Jangan kayak gini lagi, lo… hiks hiks.”


“Iya… eh kok lo bisa tahu gue di sini?” tanya Ning heran.


“It itu… eng, gue dikasih tahu Pak Riko kalau lo sakit dan dioperasi….”


“Terus mang asep? Dia gimana?” Ning menanyakan pamannya.


Ocha berhenti menangis, dan raut wajahnya langsung berubah. “Lo gak usah nanyain dia lagi… Mau mati juga gue gak perduli!!” ucapnya geram.


“Hah? Mati? Maksud lo?” Ning terkejut mendengarnya.


“Udah lo gak usah bahas paman lo yang durhaka itu… Denger namanya aja bikin gue emosi jiwa!!”


“Kenapa? Bukannya Mang Asep yang donorin ginjalnya buat gue?” tanya Ning memastikan.


“Donor ginjal dari hongkong!! Gue ngasih tahu lo sakit parah, dioperasi sampai koma aja, dia gak perduli….” Ocha langsung nge-gas.


“Jadi bukan Mang Asep yang donor ginjal ke gue?” tanya Ning.


“Bukanlah….”


“Kalau bukan Mang Asep… Lalu siapa pendonornya?” Ning kali bertanya.


“Mana gue nyaho… Orang gue ke sini pas lo udah koma dua hari….” Ocha mengedikkan bahunya. “Yang pasti bukan paman lo yang durjana itu!!”


-


-


------------- TBC-----------


******************


-


-


Happy Reading….



permisi... Tuan Om Tamvan numpang lewat....



Ni g Ning neng tutt....🤭



Si Akung


itu imajinasi eceu..... 🤭😉🙏

__ADS_1


__ADS_2