
Ning yang awalnya terkesima pun membalas pelukan anak itu. Ia mengusap dengan lembut kepala anak itu dengan penuh kehangatan layaknya seorang ibu pada anaknya. Kini suara tangisannya sudah tak terdengar lagi dan hanya tinggal suara sesenggukannya saja.
“Kasihan sekali anak ini … Pasti dia sangat sedih karena tak kunjung ada yang menjemputnya … Sampai- sampai aku yang dikenalinya pun dipeluk seenaknya begini … Apa dia tidak takut kalau aku akan menculik lalu menjualnya ….” gumam Ning dalam hati sembari mengusap- usap kepala anak perempuan yang memeluknya dengan begitu erat.
“Siapa kamu?” seru seseorang dari arah belakang Ning dan anak itu.
Deg …
"Aduh … ada orang … Jangan- jangan itu yang mau menjemput anak ini … Bisa- bisa aku disangka komplotan penculik lagi….” gumam Ning dalam hati.
Perlahan ia melepaskan pelukan anak itu, kemudian menoleh ke arah belakangnya. Ning tersenyum kaku melihat seorang wanita yang memakai pakaian rapi dengan rambut di cepol rapi pula. Wanita itu menatap heran pada Ning dan melangkah semakin mendekat.
“Dia pasti gurunya anak ini….” Ning kembali bergumam dalam hati.
“Maaf … anda siapa ya? Sepertinya saya belum pernah melihat anda sebelumnya?” Wanita itu pun bertanya menggunakan bahasa formal. Ia kini berdiri tepat di hadapan Ning dan anak itu duduk.
Ning lalu bangkit dan berdiri.
“Sa saya____”
“Kakak Peri ini temannya Papa, Bu Guru ….” Anak itu yang menjawabnya.
“Apa? Jadi anda teman Papa-nya Nana?” wanita itu memperhatikan penampilan Ning dari atas hingga ke bawah dengan tehern- heran dan tak percaya.
“Bu bukan, Bu … saya ini pengasuh anaknya Bu Rosmala yang sekolah di seberang sana.” Ning menunjuk ke arah sekolah Sheryl.
“Oh, jadi mbak ini pengasuh anaknya Bu Rosmala ….”
“Iy iya, Bu …”
“Apa Bu Rosmala meminta Mbak ini untuk menjemput Nana?”
“Hah?” Ning malah bengong.
“Jadi kakak peri mau jemput Nana?” ucap anak itu dengan mata berbinar.
“Bu bukan … Eng, saya sedang menunggu anaknya Bu Rosmala yang sedang latihan drama di sekolahnya.” Ning menyangkalnya, karena memang ia tak berniat dan tak diperintahkan untuk memnjemput anak itu.
“Oh, saya pikir Mbak ini mau menjemput Nana. Soalnya barusan saya menghubungi ke rumahnya, katanya neneknya Nana masuk rumah sakit, dan saya tidak bisa menghubungi Pak Athar ataupun Pak Singgih."
“Nana mau pulang sama kakak peri,” ucap anak itu pada gurunya.
“Aduh .. gimana ini? Apa aku bawa pulang ke rumah Nyonya besar saja ya … Toh anak ini juga kan cucu beliau.” gumam Ning dalam hati.
“Boleh ya kakak peri … boleh ya ….” Anak itu pun merengek sembari menggenggam erat tangan kanan Ning.
“Emm, kalau begitu biar Nana pulang bersama saya saja.” Ning pun akhirnya memutuskan sendiri tanpa bertanya dahulu pada majikannya.
“Hore hore … Nana pulang sama kakak peri ….” Anak itu pun bersorak kegirangan.
“Kalau begitu saya permisi, Bu …”ucap Ning pamit.
“Iya, Mbak ….”
Ning pun akhirnya membawa serta anak yang bernama Nana pergi bersamanya kembali ke sekolahan Sheryl. Karena latihannya masih belum selesai, Ning menemani Nana bermain di area permainan anak- anak di halaman TK tersebut sembari menunggu Sheryl.
Setelah beberapa lama, Sheryl bersama teman sekelasnya berhamburan keluar. Ning segera menghampirinya bersama Nana.
“Akhirnya Non selesai latihan juga … Mbak Ning sampai pegal nungguin Non….”
“Mbak Ning Nong sama siapa?” ucapnya ketus dan menatap tidak suka pada Nana yang berdiri di sebelah Ning.
“Hah? Kenapa Non Sheryl tidak mengenali sepupunya sendiri?” gumam Ning dalam hati.
“Mbak Ning Nong!!” bentak Sheryl karena melihat Ning bengong bukannya menjawab pertanyaannya.
“Astagfirullah, Non … Mbak Ning sampai kaget ….”Ning pun terperanjat dan hal itu membuat Nana takut, sehingga ia memeluk Ning dari samping.
“Kenapa gak jawab sih?” Sheryl kembali bicara ketus.
“Non beneran gak kenal sama anak ini?” Ning malah balik bertanya.
Sheryl memperhatikan wajah Nana yang nampak takut. “Enggak ….”
“Non jangan galak- galak dong … Jadinya kan dia takut sama Non Sheryl.”
“Hmmmmm”
“Eng … kalau begitu kalian kenalan dulu … Ini namanya Non Nana, dia ini kan____”
“Heh, siapa kamu? Kenapa dekat- dekat gitu sama Mbak Ning Nong? Pakai peluk- peluk segala lagi … Dia ini kan pengasuh aku!!” Sheryl bicara dengan juteknya sembari bekecak pinggang.
“Etdah, Non Sheryl kok malah tambah galak … Jangan gitu Non, itu gak baik loh … Nanti Non Sheryl gak punya teman kalau galak- galak gitu …”
“Hmmm … Ayok kita pulang, aku lapar ….” Sheryl mencebikkan bibirnya.
“Siap 86 ….” ucap Ning.
“Ayok Non Nana ….” ajaknya pada Nana.
“Iiiih, kenapa dia ikut juga sih?” protes Sheryl.
“Enggak apa- apa atuh Non, kasihan Non Nana ... Orang tuanya gak bisa jemput … Jadi sekalian aja pulang sama kita … Dan nanti Non Nana akan dijemput sama Papa nya ….”
“Gak boleh!!” Sheryl kekeuh melarang.
“Aduh … gimana ini? Masa iya Non Nana aku tinggal sendiri di sekolahnya … Mana di sana guru- gurunya sudah pada pulang…”gumam Ning dalam hati.
“Ayok Mbak Ning Nong !!” ajak Sheryl.
“Non, ajak sekalian Non Nana ya … Kasihan masa dia sendirian di sini … Emm, nanti kan Non Nana bisa menemani Non Sheryl bermain masak- masakan sama main boneka di rumah … Emang gak boesen main sama Mbak Ning terus? Boleh ya??” Ning terus membujuk.
“Emm, boleh deh ….” Sheryl pun setuju.
“Nah gitu dong …." ucap Ning merasa lega.
“Ayok Non Nana, ikut sama kita ya ….” ajak Ning.
Nana pun mengangguk dan ikut pergi bersama Ning dan Sheryl. Nana terus berpegangan erat pada tangan Ning, dan saat naik mobil pun ia tak mau lepas dari Ning. Akhirnya Nana duduk di jok depan di pangkuan Ning.
“Ning … anak siapa yang kamu bawa itu?” tanya sopir.
“Hah, sopir ini pun tidak tahu siapa anak ini? Aneh banget … Apa si tuan Om tidak pernah membawa anak ini ke rumah nyonya besar? Tapi kenapa ya?” Ning bertanya- tanya dalam hatinya.
“Hei … Ditanya kok malah bengong ….”
“Oh, ini teman mainnya Non Sheryl … Papa-nya tidak bisa jemput, jadi nanti dia akan menjemputnya ke rumah.” ucap Ning.
“Tumben Non Sheryl bawa teman ke rumah?”
“Pak Sopir ayok jalan!! Aku mau main masak- masakan sama Nana!” titah Sheryl.
“Iya, Siap Non ….” Sopir pun segera melajukan mobilnya.
Sepenjang perjalanan Sheryl terus mengoceh tiada henti menceritakan drama yang akan ia lakoni. Ning bersama sang sopir menjadi pendengar setia yang hanya bilang ‘oh iya Non’. Sementara Nana malah tertidur di pangkuan Ning dan memeluknya bagaikan anak koala yang nemplok pada induknya.
“Anak yang malang ….” Lirih Ning dalam hati sembari mengusap-usap kepala Nana. Ia bisa merasakan kesedihan anak itu yang diketahuinya sudah tak memiliki ibu lagi seperti dirinya.
Sesampainya di rumah, Ning menggendong Nana yang masih tidur dan membawanya masuk bersama Sheryl ke kamarnya. Beruntung saat ia masuk sedang sepi.
Ning membaringkan Nana di atas tempat tidur. Ia lalu menggantikan pakaian Sheryl.
“Kakak peri, ini dimana?” Nana pun terbangun .
__ADS_1
Ning segera menghampiri Nana lalu duduk di sisi tempat tidur.
“Ini di kamar Non Sheryl …” ucap Ning tersenyum.
“Hei, kamu kok tidur terus sih? Ayok kita main!” ucap Sheryl dengan nada ketus, hal itu membuat Nana kembali takut dan ia bangkit lalu memeluk Ning.
“Aduh, Non … bicaranya jangan galak- galak atuh … Non Nana kan baru bangun, tuh jadi takut lagi …”
“Iiihhhh ….” Sheryl menghentakkan kakinya karena kesal.
“Non Nana, kita main masak- masak sama main boneka yuk sama Non Sheryl …” ajak Ning.
Nana menggelengkan kepalanya.
“Loh kenapa ? Nana gak suka main masak- masak?” tanya Ning heran.
Nana kembali menggelengkan kepalanya.
“Aku mau main sama kakak peri ….” ucapnya.
“Hhahahahaha … Ini namanya Mbak Ning Nong, bukan kakak peri … hahahaha ….” Sheryl tertawa terbahak bahak mendengar panggilan Nana pada Ning.
“Non Sheryl sirik aja … bebas dong mau manggil Mbak Ning apa saja, asalkan jangan kayak si dinosaurus itu ….” ucap Ning kesal.
“Memangnya kak dinosaur manggil apa?” tanya Sheryl yang berhenti tertawa.
“Ah sudah lah, ayok kita pergi ke tempat main …” Ning mengalihkan pembicaraan.
“Nana mau jalan atau di gendong?” ucapnya pada Nana.
“Gak boleh?!! Aku aja gak suka digendong …” bentak Sheryl.
“Kata siapa? Sering juga digendong kalau ketiduran dimana aja, yeee…” Ning mengejek Sheryl.
“Pokoknya gak boleh!!” Sheryl terus melarang.
“Iya iya … ayok kita jalan kaki saja, sini Mbak Ning tuntun dua- duanya ….” Ning akhirnya mengambil jalan tengah. Ia nampaknya menyadari kecemburuan Sheryl.
Ketiganya pun keluar dari kamar dan berjalan menuju ruangan tempat bermain Sheryl. Nana yang awalnya merasa takut pada Sheryl, akhirnya bisa berbaur dengan bantuan Ning. Mereka pun bermain dengan senangnya, dan Ning terus berusaha adil memberi perhatian pada keduanya.
Setelah beberapa saat, Sheryl dan Nana selesai bermain karena sudah waktunya makan siang. Ning mengajak keduanya membereskan bekas bermain mereka, kemudian membawa mereka keluar.
Baru saja Ning menutup pintu ruangan tersebut, terdengar suara nyonya besar dari atas tangga. Bersamaan dengan itu Rosmala baru datang memasuki rumah.
“Mama Onty ….” Seru Nana, Rosmala pun mengarahkan pandangannya pada Nana. Betapa terkejutnya ia melihat Nana bersama Ning dan Sheryl.
Rosmala yang melihat mertuanya hendak menuruni tangga bersama kepala pelayan nampak sedang membicarakan sesuatu, bergegas menghampiri Ning dan mengajaknya bersama kedua anak itu pergi ke kamar Sheryl.
“Nana … kenapa kamu bisa ada di sini, sayang?” tanya Rosmala heran.
“Nana ke sini sama Kak Selil dan Kakak peri ….” ucapnya menunjuk Sheryl dan Ning.
“Apa?” Rosmala kembali terkejut dan menampakkan raut wajah panik. Rosmala menarik tangan Ning dan membawanya ke dekat pintu kamar mandi Sheryl.
“Ning … berani sekali kau membawa Nana ke rumah ini?? Apa kau ingin membuat Mamy kena serangan jantung, hah?” bentaknya dengan suara berbisik- bisik karena tak ingin terdengar oleh kedua anak kecil itu.
“Hah? Memang apa salahnya, Nyonya Ros … Non Nana juga kan cucu nya Nyonya besar?” tanya Ning heran.
“Diam kau!! Pelankan suara mu!! Kalau tidak tahu apa- apa jangan so tahu!!” Rosmala menggerutu kesal.
“Ma maaf, Nyonya … saya pikir karena dia anaknya tuan Om .. eh maksudnya Tuan Athar, jadi tidak masalah jika membawanya pulang ke rumah ini … Tadi juga kata gurunya gak ada yang menjempuntnya karena neneknya masuk rumah sakit, dan Tuan Athar tidak bisa dihubungi ….” Ning memberi penjelasan.
“Apa?” Rosmala terkejut mendengarnya.
“Iy iya, Nyonya.”
“Bagaimana ini? Mami ada di luar … Bagaimana kalau sampai melihat Nana di sini? Kalau dibawa keluar, pasti Mami akan melihatnya dan kepala pelayan juga ….” Rosmala mengerutu dalam hati dengan perasaan panik dan was- was.
“Ya ampun … ada apa sebenarnya ini? Masa iya ketemu sama cucu sendiri aja sampai kena serangan jantung … Apa Non Nana ini cucu yang tidak diharapkan??” gumam Ning dalam hati.
“Nana, sayang … kamu ikut sama Mbak Ning ya ke kamar nya … Nanti setelah makan, kamu akan diantar pulang.” ucapnya dengan lemah lembut.
Nana pun langsung menuruti perkataan Rosmala tanpa ngeyel. Ning lalu membawanya keluar lewat jendela kamar Sheril sesuai perintah Rosmala.
“Mama, kenapa mereka keluar lewat jendela?” tanya Sheryl heran.
“Soalnya Oma gak suka melihat ada orang asing masuk ke sini tanpa seizin nya … Lain kali kalau Sheryl mau ajak teman, bilang dulu ya sama Mama …”
“Tapi, kenapa dia memanggil Mama dengan sebutan Mama Onty?” Sheryl merasa bingung.
“Emm … Entahlah … tadi dia juga manggil Ning dengan kakak peri, kan?” ucap Rosmala mencari alasan.
“Iya ya, aneh ….”
“Sayang, dengerin Mama … Nanti di meja makan atau di depan Oma jangan bahas- bahas soal anak yang bernama Nana tadi ya.” pintanya pada sang putri.
“Tapi kenapa?”
“Oma akan marah kalau kita membawa orang asing tanpa seizin nya … Emm .. dan sebagai gantinya Mama janji hari ini akan menemani kamu latihan taekwondo.”
“Horeee ….”
“Janji dulu ….”
“Iya aku janji ….” Sheryl mengangguk.
“Ayok kita makan siang ….” Rosmala pun membawa Sheryl pergi ke ruang makan untuk makan siang bersama dengan nyonya besar juga Dino.
Sementara Ning kini sudah berada di kamarnya bersama Nana.
“Non Nana duduk dulu ya di sini.” Ia mendudukkan Nana diatas tempat tidur.
“Ini kamar siapa?” tanya Nana.
“Ini kamar Mbak Ning.”
“Ini boneka Kaka peri?” tanya nya saat melihat boneka di dekat bantal.
“Iya.” angguk Ning.
“Boleh Nana pinjam.”
“Boleh kok … Boneka ini namanya si Unta.” Ning memberitahukan.
“Hah? Tapi ini kan boneka monkey.” Nana merasa heran.
“Iya, boneka monkey tapi namanya si Unta.” ucap Ning.
“Nana juga punya boneka,” ucapnya lalu mengambil boneka miliknya dari dalam tas sekolahnya.
Keduanya pun asyik bermain boneka.
“Ternyata anak ini menyenangkan dan penurut … Mending jadi pengasuh anak ini deh daripada jadi pengasuh Non Sheryl atau pun si Dinosaurus,” gumam Ning dalam hati.
Ting ting ….
Terdengar suara dari ponsel Ning. Ia mengambil ponsel tersebut dari dalam saku celananya.
Nyonya Lampir
“Saya sudah menyuruh Utari mengantarkan makan siang ke kamar mu”
“Bilang padanya kamu kurang enak badan”
__ADS_1
“Dan kantong kresek hitam itu isinya pakaian ganti untuk Nana”
“Jangan sampai Utari melihat Nana.”
Ning
“Baik, Nyonya.”
Ning kembali memsaukan ponsel ke dalam saku celananya.
Tok Tok Tok ….
“Ning, ini makanan mu!” seru Utari dari balik pintu.
“Iy iya, Utari sebentar.” sahut Ning.
“Non Nana, kita main petak umpet yuk,” ucapnya pelan.
“Hah?”
“Iya, Non Nana ngumpet dulu di dalam kamar mandi ya … Nanti kalau orang itu sudah pergi, kakak peri keluarin Non Nana dari kamar mandi," ucap Ning memperjelas.
“Iya.” angguk Nana.
“Ayok ….” Ning pun mengajak Nana masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya dari luar.
“Hufh .. merepotkan sekali si Nyonya Lampir… kenapa coba Non Nana musti disembunyikan segala ….” gumamnya pelan.
Ning lalu beranjak membukakan pintu yang sudah diketuk beberapa kali oleh Utari.
Ceklek ....
“Lama banget sih, bukanya ….” Utari menggerutu kesal.
“Maaf Utari, aku sedang kurang enak badan … terima kasih ya makanannya.” Ning dengan segera mengambil nampan dari tangan Utari.
“Iya iya, semoga cepat sembuh … Itu makanannya banyak banget yang diminta Nyonya Ros … seperti untuk kuli panggul saja… Dan ini katanya pakaian mu ketinggalan di kamar Non Sheryl …” Utari memberikan kantong kresek hitam yang ditalikan bagian atasnya.
“Hehehe, mungkin supaya aku cepat sembuh … Terimakasih ya Utari ….” Ning lalu kembali menutup pintu dan menguncinya. Tak lupa ia pun menutup jendela kamar dan menutup gorden-nya. Dinyalkanlah lampu kamar tersebut.
Ning membawa Nana keluar dari kamar mandi, kemudian menyuapinya makan. Setelah itu memandikannya dan menggantikan pakaian Nana.
“Hmmm … pantesan kemarin beli pakaian yang lebih kecil dari ukurn Non Sheril … ternyata untuk Non Nana toh,” gumam Ning dalam hati saat melihat pakaian yang baru dikeluarkannya dari dalam kantong kresek.
“Eh tunggu … Nana kemarin memanggil tuan om dengan sebuatan Dady … dan tadi dia memanggil Nyonya Ros dengan sebutan Mama Onty … Kalau dilihat- lihat Non Nana lebih kecil dari Non Sheryl … Apa jangan- jangan dia anak hasil perselingkuhan tuan om dan Nyonya Ros …” Ning kembali bergumam dalam hati menebak nebak semberi bergidik ngeri.
Ting ting ..
Ponsel Ning kembali berbunyi. Ia segera membuka pesan di ayar ponselnya.
Nyonya Lampir
“Jangan bawa Nana keluar dulu!!”
“Mami tiba- tiba ingin bersantai di ruang tengah”
“Saya akan mengantar Sheryl pergi latihan”
Ning
“Baik, Nyonya.”
Ia pun bertahan di dalam kamarnya bersama Nana. Bukannya merasa bosan, Nana malah nampak senang bisa terus bersama Ning. Ia diajak main boneka, diajak shalat, dan dibacakan cerita.
**
Siang berganti malam, namun Ning masih belum menerima perintah untuk keluar. Nampaknya ia yang merasa bosan dan kesal, seolah menjadi seorang tahanan. Ia pun kembali megirim pesan pada Rosmala.
Ning
“Nyonya, bagaimana ini?”
“Non Nana sudah tidur”
“Kasihan kan Non Nana harus tidur di kasur saya yang sempit ini.”
Nyonya Lampir
“Astaga … saya lupa kalau Nana belum dibawa pulang.”
“Dasar Nyonya lampir sinting … Gue sudah jamuran nunggu perintahnya sampai malam mengurung diri di kamar, lah dia malah lupa ….” gerutu Ning dalam hati.
Ning
“Terus gimana?”
Nyonya Lampir
“Saya ada ide … sebentar lagi saya ke sana.”
**
“Akhirnya, Non Nana bisa tidur nyaman di sini,” ucap Ning tersenyum melihat Nana yang sudah tertidur lelap di sebelahnya. Ia pun mulai memejamkan matanya untuk tidur.
Tak lama terdengar suara nafas beraturan dari Ning yang ternyata mudah sekali tertidur setelah kepalanya nempel pada bantal.
Malam pun semakin larut, seluruh penghuni rumah besar itu nampak sudah tertidur pulas. Kecuali penjaga keamanan yang berjaga sif malam.
Ceklek …
Seseorang nampak membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi sebuah lampu tidur dengan cahaya redup. Rasa lelah membuatnya tak memperhatikan sekitar ruangan tersebut dan berjalan dengan menunduk.
Ia melempar jas dan dasinya ke sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Ia lalu berbaring di tempat tidur dan mulai memejamkan matanya.
Selang beberapa saat ia pun mengubah posisinya berbaring miring ke samping. Tangannya memeluk guling yang berada di tengah tempat tidurnya. Namun, saat tangannya meraba guling tersebut terasa berbeda, dan ada sesuatu yang membuat hidung nya terasa gatal.
Saat ia merasakan ada pergerakan dari guling yang dipeluknya tersebut, perlahan ia membuka matanya. Dan kini ia dan benda yang dianggap sebagai gulingnya saling bertatapan.
“Aaaaaaakkkkk ….” Keduanya saling berteriak karena terkejut.
Orang itu segera membekap mulut yang dikira guling tersebut dengan telapak tangannya.
“Sssttttt …. Kau bisa membangunkan semua orang!” ucapnya pelan.
“Kurang ajar … Dasar Tuan Om Mesum!!! Berani- beraninya meraba- raba dada ku!!” jeritnya dalam hati sembari melotot pada orang itu saking kesalnya.
Duuut durut duuutt ….
“Rasakan bom atom ku, hahh!!” gumam Ning dengan puasnya setelah mengeluarkan kentut beliungnya.
Ia pun membuka selimutnya sehingga gas beracunnya bisa menyebar.
----------- TBC-----------------
*****************************
Happy Reading …. 😉
Tilimikicih selalu menanti kisah Ning ….😘
Monmaaf baru up lagi … Eceu nya abis tatit …🙏
Jangan luva tinggalkan jejeak mu ….😉🤩😍
__ADS_1
Aylapyu All ……🥰😍😘