NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Ternyata Mereka Bersaudara...


__ADS_3

Singgih menatap Ning dengan penuh harap, menunggu jawaban atas permintaannya. Namun Ning tak kuasa melanjutkan perkataannya. Hatinya dipenuhi kebimbangan, hingga membuatnya tak berani menatap balik Singgih. Padahal sebelumnya ia sudah sangat yakin memantapkan hatinya pada Athar seorang.


“Ning… aku mohon, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua… Kita mulai semuanya dari awal … Aku akan belajar mencintai mu, Ning….” Singgih yang masih berlutut, kembali memohon. Namun Ning yang terlihat bingung tak kunjung buka suara.


“Nana pasti akan sangat sedih jika kamu tidak menjadi ibunya….” Singgih pun mengeluarkan senjata pamungkas nya. Ia tahu betul Ning sangat menyayangi putrinya.


Ning semakin bimbang. Apalagi mengingat Nana yang begitu berharap besar agar ia menjadi ibu sambungnya. Bahkan setiap sakit, pastilah Ning orang pertama yang dicarinya.


Hal itu membawanya tenggelam dalam pikiran yang berkecamuk. Hatinya nampak mulai goyah. Ada rasa sesak di dada, karena ia dihadapkan pada hal yang membuatnya terjebak dalam dilema.


Di satu sisi ia ingin meraih kebahagiaanya bersama pria yang ia cintai, di sisi lain ia ingin membahagiakan anak malang yang tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu sejak lahir.


Ting ting …


Tiba- tiba terdengar suara dari ponsel Ning yang berada di dalam tas nya. Seketika membuat Ning membuyarkan lamunannya.


Pandangannya mengarah pada tas yang berada di sebelahnya, yang kebetulan resletingnya sudah terbuka. Nampaknya ia belum sempat menutupnya kembali setelah mengambil cincin tadi.


Terlihat jelas di layar ponselnya, ada notifikasi bahwa ia mendapat pesan singkat dari My Beloved “ [‘I love U’]. Kemudian layar ponselnya kembali meredup. Raut wajahnya pun berubah seketika. Bibirnya mengulas senyum. Ia memberanikan diri menatap Singgih.


“Maaf, Mas… Aku gak bisa….” ucapnya dengan nada lembut namun menunjukan sebuah ketegasan. Seolah ia baru saja mendapat kekuatan hingga membuatnya tak tergoyahkan, setelah membaca sepintas pesan dari Athar.


“Ning____”


“Maaf Mas… Aku tidak mau terluka lebih dalam lagi… Aku gak bisa menanti hal yang belum pasti….” Ucapnya menghela nafas sejenak. “Belum tentu Mas bisa melupakan Diandra dengan begitu cepat… Meski pun itu terjadi, artinya Mas hanya menjadikan ku sebagai pelarian saja, bukan?… Aku gak bisa, Mas… Maaf….”


“Tapi Na____”


“Kalau soal Nana, Mas Igih tidak perlu khawatir. Tanpa aku menjadi ibu sambung nya pun, aku akan tetap memberikan kasih sayang dan perhatian ku padanya… Toh selama ini ia sangat dekat dengan ku sebelum Mas Igih melamar ku, kan? Tapi… Itu pun jika Mas Igih masih mengizinkan ku untuk bertemu dengan Nana….”


Mendengar penuturan Ning, nampaknya membuat Singgih kehabisan kata untuk membujuk Ning. Pupus sudah harapan Singgih untuk memperbaiki hubungan mereka yang sudah retak. Ia sudah tak bisa meraih hati Ning lagi.


Tak bisa dipungkiri, itu karena kesalahannya yang bersikap egois serta kekanak-kanakan. Namun sayang, saat ia menyadari kesalahannya, semua itu sudah sangat terlambat. Ditambah Ning sudah mendapatkan cintanya yang lama menghilang. Sudah tentu tak ada tempat lagi bagi Singgih di hati Ning.


“Apa benar- benar sudah tidak ada maaf bagi ku?” ucapnya lirih, berharap ada secercah harapan baginya.


“Aku sudah memaafkan Mas… Tapi maaf, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita… Maaf Mas….” ucapnya lirih.


“Apa hubungan kita sudah benar- benar berakhir? Bagaimana aku menjelaskan ini pada Ibu?” Singgih rupanya masih tak menyerah.


Setelah Nana, kini ibunya yang ia jadikan alat. Ia seolah memanfaatkan kelemahan Ning yang tak tega menyakiti siap pun, apalagi Bu Asri yang begitu menyayangi Ning dan sudah Ning anggap seperti ibunya sendiri.


“Maaf, Mas… Mungkin ini yang terbaik untuk kita… Dan untuk masalah Ibu, nanti aku akan memberi pemahaman pada beliau… Aku yakin ibu akan mengerti, karena kami sama- sama perempuan….” ucap Ning yang sudah tidak tergoyahkan lagi.


Singgih mendesah pasrah. Bahunya meluruh, ia menundukkan kepalanya.


“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mu,” ucapnya hanya bisa pasrah, karena tak mungkin ia terus memaksakan kehendaknya pada Ning yang terus memberinya penolakan.


Meski Ning merasa senang akhirnya Singgih menerima keputusannya, namun ada rasa sedih lebih tepatnya merasa iba atau tak tega melihat Singgih yang terlihat sedih dan kecewa. Meski lelaki itu menundukkan kepala, tapi Ning bisa merasakan hal itu. Namun kali ini, ia ingin menjadi orang egois yang memperjuangkan kebahagiannya sendiri.


“Maafkan aku Mas Igih… maafkan aku….” batin Ning lirih. Ia menghela nafas panjang.


“Mas, tolong jangan seperti ini… Berdirilah….” ucap Ning yang tak nyaman melihat Singgih yang masih berlutut di depannya. Perlahan lelaki itu pun bangkit.


Ning kembali menghela nafas dalam- dalam. Ia pun bangkit dan berdiri, sehingga keduanya berdiri saling berhadapan dengan jarak satu meter. Singgih masih menunduk.


“Aku tahu, melupakan orang yang sangat kita cintai itu hal yang sangat sulit dilakukan… Sampai kapan pun Diandra dan kenangannya akan tetap selalu ada di hati Mas Igih, tapi Mas harus bangkit dan membuka hati untuk memulai lembaran baru… Aku yakin lambat laun Mas bisa melabuhkan hati Mas pada orang yang tepat, tanpa harus ada bayang- bayang mendiang istri Mas…”


Singgih hanya mendengarkan, tanpa membalas ucapan Ning. Sepertinya ia masih belum percaya dengan kandasnya hubungan mereka yang baru terjalin beberapa hari.


“Meski wanita itu bukan aku, tapi aku yakin Mas akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku… Karena Mas juga orang yang baik… Dan, terimakasih atas semua kebaikan yang selama ini Mas berikan pada ku… Maaf, aku belum bisa membalas nya….” lanjut Ning.


Singgih menghela nafas berat beberapa kali. “Maaf untuk semua yang terjadi, aku memang salah… Dan aku terlambat menyadarinya....” ucapnya lalu mengangkat kepala dan memberi Ning tatapan sendu, dan hal itu membuat Ning gugup tak berani menatap balik, karena merasa tak enak hati. Ia sadar telah menyakiti perasaan pria yang kini sudah resmi menjadi mantan tunangannya.


“Eng, maaf Mas… Aku masih banyak kerjaan… Soalnya sudah beberapa hari ini aku gak masuk kerja….” Ucapnya seolah mengusir Singgih dengan cara halus.


Nampaknya ia tak mau berlama- lama lagi berhadapan dengan pria itu. Jika ada beberapa orang yang beranggapan duda lebih menggoda, memang benar. Lebih tepatnya menggoda dengan segala akal bulusnya.


Itulah yang dilakukan duda tampan yang ada di hadapan Ning itu. Ia memohon, tapi seolah memberi paksaan, mempermainkan emosional Ning yang tak akan tega menyakiti perasaan orang yang ia sayangi nya, yakni Nana dan Bu Asri.


Jika terus dibiarkan, takutnya Ning akan kembali goyah. Apalagi si tuan om tamvan kesayangannya berada nan jauh disana. Kucing aja dikasih ikan asin langsung disamber, apalagi ini ikan salmon.


“Maaf, sudah mengganggu waktu kerja mu….” Singgih pun mengerti akan pengusiran Ning.


“Hehehe… gak apa-apa kok Mas….” Ning tersenyum kaku.


“Tapi, kita masih bisa berteman kan?” ucapnya mengulurkan tangan.


“Iya, Mas….” Ning pun menjabat tangan Singgih yang kemudian berpamitan pulang. Tak lupa Ning mengambil cincin dan mengembalikannya pada Singgih. Dengan berat hati pria itu pun menerimanya.


“Fiuh….” Ning akhirnya bisa bernafas lega, karena urusannya dengan Singgih sudah selesai. Kini ia bisa melanjutkan hubungannya dengan Athar tanpa ada rasa takut ketahuan lagi oleh Singgih. Ia meminum orange jus, kemudian membawa kedua gelas itu ke dapur dan mencucinya.


Singgih yang sudah berada di dalam mobil, terus memandangi cincin yang dipegangnya. “Aku akan berusaha lebih keras agar bisa meluluhkan hati mu dan mendapatkan cinta mu, Ning….” gumamnya berdialog sendiri dengan menanamkan tekad yang kuat di hatinya. Ia menoleh sekejap ke arah rumah Ning yang pintunya sudah tertutup, lalu melajukan mobilnya untuk pulang.


Sementara Ning kembali ke tempat kerja dengan berjalan kaki. Ia masuk ke ruangannya dan mendapati Ocha sudah ada di sana dan hendak keluar.


“Darimana Ning, gue cariin gak ada?” tanya Ocha yang sudah ada di ruangan Ning.


“Tadi ada Mas Igih, terus kita ngobrol di rumah….” ucapnya melewati Ocha berjalan menuju meja kerjanya, kemudian duduk.


“Terus?” tanya Ocha penasaran yang kemudian ikut duduk di kursi depan meja kerja Ning, hingga keduanya duduk saling berhadapan dan hanya terhalang oleh meja kerja Ning.


Ning menghela nafas panjang, kemudian ia menceritakan apa yang terjadi di rumahnya pada sang sahabat. Terlihat jelas perasaan lega dan bahagia yang dirasakan Ning.


Ocha pun turut bahagia mendengarnya. Kini ia berubah haluan, yang awalnya mendukung Ning dengan Singgih, sekarang ia mendukung sahabatnya itu menjalin cinta dengan pria yang selalu disebutnya ‘si ganteng’ saat ia dan Ning membicarakan Athar.


“Selamat ya… Gue senang, akhirnya lo bisa bahagia sama orang yang selama ini lo cintai….” ucap Ocha yang turut bahagia dengan kebahagiaan Ning.


“Thanks, Cha….” ucapnya tersenyum lebar. Seketika senyumnya luntur saat ia melihat ke arah meja. "Loh, amplop coklat tadi kemana ya? Perasaan sebelum gue pulang, tuh amplop ditaruh di sini deh?” ucapnya mencari- cari amplop coklat itu di atas meja tak ditemukannya. Bahkan ia cari ke kolong dan ke laci- laci yang ada di bawah meja tersebut.


“Lo lihat amplop coklat besar di sini gak Cha?” tanya Ning.


“Eng… Oh, it itu… Tadi udah gue ambil….” Ocha menjawab dengan terlihat gugup.


“Hufh, bilang kek dari tadi….” Ning mendengus kesal.


“Hehe, sorry gue lupa….” ucapnya cengengesan.


“Itu isinya apa, Cha?” tanya Ning penasaran.


“Apanya?” Ocha yang terlihat bingung, malah balik bertanya.


“Tentu saja isi yang ada dalam amplop coklat itu? Emangnya apa lagi? Isi otak lo?”


“Eng… it itu biasalah, pesanan dari pelanggan baru….” Ocha yang masih terlihat gugup, berusaha menutupi hal itu dari sahabatnya.

__ADS_1


“Masa sih? Biasanya datang langsung, by phone atau email?” tanya Ning heran.


“Ck, lo kayak baru tahu aja deh… Pelanggan kita kan banyak, dan punya cara berbeda- beda dalam pemesanan barang atau pun pembayarannya….” ucap Ocha untuk menghilangkan kecurigaan Ning.


“Eh, iya ya….” Ning mangut- mangut.


“Lo tenang aja, udah gue urus kok….” ucapnya tersenyum.


“Emang pesan berapa banyak? kapan pengiriman pesanannya?” tanya Ning.


“It itu_____”


Belum selesai Ocha bicara, terdengar suara deringan ponsel dari dalam tas Ning. Ia segera merogoh tas dan mengambil ponsel itu. dan ternyata itu panggilan video call dari Athar. Ning pun langsung menerima panggilan tersebut. Dan Ocha pamit undur diri.


“Hall____” Ning yang akan menyapa, langsung disamber sama si ABG tua yang menampakkan wajah kesal.


“Kok chat ku gak ada yang dibalas sih?”


“Oops, maaf… Tadi lagi ada urusan penting…. Hehehe.”


“Jadi aku gak penting?” ucapnya seolah merajuk.


“Ya penting dong... Penting banget malah….”


“Kalau penting kenapa chat ku yang banyak itu tak ada yang kamu balas? Bahkan gak dibaca….”


“Abis di chat nya gak ada keterangan harus dibalas….”


“Ish, kau itu ya!!”


“Hahahaha… Tuan om lucu banget sih kalau lagi marah gitu….” Ning malah menggodanya.


“Aku gak marah….” Athar menyangkal.


“Terus kenapa?”


“Jengkel!!”


“Jangan jengkel- jengkel dong… Nanti cepet tuir….”


“Bukannya sekarang juga udah tuir?”


“Masa?” Ning tak hentinya menggoda Athar.


“Bukannya kamu sendiri yang mengatai ku ABG tuir….” sindir Athar.


“Hhaahahaha… masih dendam nih yee….”


“Seneng ya, bikin aku kesal… Awas kamu!!”


“Awas ada sule!!! Hahahaha….” Ning tertawa renyah.


“Sudah berani ya sekarang, sebut- sebut nama lelaki lain di depan ku?”


“Itu kan nama judul sinetron komedi, Tuan om….”


“Berhentilah memanggil ku tuan om… Aku ini kekasih mu, bukan majikan mu, sayang….”


“Terus panggil apa dong?” tanya Ning.


“Eng… gimana kalau Omsay?”


“Apaan tuh?” tanya Athar merasa aneh.


“Om sayang, hahaha….”


“Gak!!” tolak Athar.


“Eng… kalau Mas Om gimana?”


“Gak!!” Athar terus menolak.


“Eng… Om tamvan??”


“Enggak!!”


“Eng, kalau Babang Om gimana?”


“Enggak!!!”


“Ayang om?”


“Enggak!!”


“Om gadun deh….” Ning asal jeplak.


“No No No !! Apa- apaan itu kau memangil ku om gadun??” Athar malah kesal dibuatnya.


“Abisnya sebel… Tadi katanya terserah mau manggil apa… Eh, giliran aku kasih pilihan pada gak boleh semua, gimana sih?” gerutu Ning. Athar terlihat menghela nafas, agar tak terlihat kesal lagi. Sepertinya ia takut jika beneran cepat tuir.


“Salah siapa kenapa semua panggilannya ada embel- embel om nya segala… Apa aku setua itu sampai harus dipanggil om, hem?”


“Enggak tua kok…”


“Terus kenapa masih memanggil ku Om?”


“Soalnya kalau sebut nama aja kan kesannya gak sopan sama yang lebih tua….”


“Tuh kan aku dibilang tua lagi….” Athar kembali sensi.


“Hahaha… ya emang….”


“Tadi katanya aku gak tua… sekarang bilang tua….” Protesnya kembali kesal.


“Gini ya, umur tuan om berapa sekarang?” tanya Ning yang merasa geli melihat wajah kesal sang pujaan hati.


“Kau lupa ya? tahun lalu kita pernah bahas soal umur….”


“Oh iya iya aku ingat… Berarti sekarang Tuan om umurnya 34 lebih, kalau umur aku 19 tahun lebih… Tuh kan bedanya aja 15 tahun… Gak mungkin aku panggil Daniel atau Athar aja, kan….”


“Gak usah panggil nama juga kali… Kan bisa panggil Mas, Sayang, Babe, Honey, Kakak….”


“Iya Kakak Daniel… Hahahaha….” Ning tak hentinya mengejek Athar.


“Kau itu benar- benar ya… Minta dicium!!”

__ADS_1


“Mauuuuuu….” ucap Ning dengan nada manja, lalu memonyongkan bibirnya.


“Kau itu ya… Berani menggoda saat jauh aja… Lagi deket, so so an gak mau dicium….”


“Tapi sekarang mau kok….” Bibirnya semakin dimonyongkan dan mendekat ke kamera ponselnya.


“Mana enak ciuman virtual! Tuh tuh gak berasa tuh….” Athar juga ikut memonyongkan bibir di depan kamera ponselnya untuk membalas biir Ning.


“Hahahahaa….” Ning tertawa dengan renyahnya. Athar pun ikut tertawa akan kekonyolan yang mereka lakukan.


“Dari tadi aku perhatiin kayaknya kamu girang banget sih sayang… Abis ketiban durian runtuh ya?” tanyanya yang melihat raut wajah Ning yang begitu riang.


“Tahu aja kalau aku lagi senang….”


“Karena aku menelpon mu, ya?” tebaknya dengan percaya diri.


“Bukanlah….” Ning menyanggah.


“Terus?” Athar mengerutkan dahi.


“Karena abis ketemu sama seseorang….”


“Siapa? Jangan bilang ketemu sama cowok?!” wajahnya nampak serius.


“Kok tahu sih?” Ning terkekeh geli.


“Ketemu sama siapa kamu? Jangan mentang- mentang aku ada di London kamu bisa kecentilan di sana….” Athar mulai cemburu.


“Ya enggaklah… Aku centilnya cuma sama kamu… iya kamu, hehehe….”


“Terus tadi ketemu sama siapa?” Athar makin penasaran.


“Tadi itu ada Mas Igih ke sini….”


“Singgih? Ngapain?” tanyanya nampak tak suka mendengar nama itu.


“Minta maaf sama ngajak baikan,” ucap Ning terus terang.


“Terus? Kamu maafin dia?” Athar nampak mulai was- was.


“Iya lah, aku ini kan baik hati dan gak pendendam….” jawab Ning dengan entengnya.


“Kamu baikan sama dia?” Athar semakin was- was.


“Ya enggak lah… Aku sudah memutuskan hubungan dengannya….”


“Dia terima keputusan kamu?”


“Awalnya sih engak, tapi lama- lama dia nyerah juga….”


“Yakin dia sudah nyerah?”


“Maksudnya?” tanya Ning heran.


“Aku sangat mengenalnya, Sayang… Dia bukan tipikal orang yang mudah menyerah gitu saja….”


“Masa sih? Tapi tadi dia udah pasrah dan nerima keputusan aku....” ucap Ning yakin.


“Aku sangat mengenalnya, Sayang… Aku harap kamu gak akan berubah pikiran kalau dia masih ngejar kamu….”


“Ya enggak lah… hati aku kan cuman buat Om Ayang Daniel seorang…. Hehehe….”


“Baguslah kalau begitu….” Sepertinya fokusnya hanya pada urusan Ning dan Singgih hingga ia tak protes saat dipanggil om lagi.


“Eng… kok bisa kenal banget sama Mas Igih? Bukannya kalian hanya sebatas ipar?” Ning terheran- heran.


“Dulu itu kami bersahabat, dan dia masih sepupu ku….”


“Hah? Apa? Sepupu?” Ning kaget mendengarnya.


“Iya….” Athar mengangguk.


“Berarti Mas Igih juga sepupuan dengan Diandra?”


“Tentu saja… Diandra itu kan adik kandungku, sayang….”


“Kok bisa Mas Igih nikah sama Diandra?” Ning masih tak menyangka.


“Bisalah… Orang Mami sama Bu Asri itu saudara tiri… Tapi walaupun begitu, dulu Mami sangat dekat dan menyayangi Ibu seperti adik kandungnya sendiri… Hanya saja, setelah kejadian itu… Mereka seolah jadi orang asing….” ucapnya kemudian terlihat sedih.


“Kejadian apa?” Ning semakin penasaran.


“Maaf, Pak… Pak Edward sudah datang….” Terdengar suara seseorang di sana yang bicara pada Athar.


“Lihatlah sayang, Riko suka sekali menganggu kesenangan kita… Dasar jomblo….” Matanya melirik sinis ke arah samping ponsel. Sepertinya Riko berdiri di hadapannya.


“Hahaha… Gak nyadar ya dirimu juga sebelumnya jomblo….” Bukannya mendukung, Ning malah mengejek Athar.


“Tapi kan sekarang enggak… Udah punya kamu, sayang….” ucapnya tersenyum banga. Ia terlihat kembali menatap ke arah samping ponselnya. ”Udah dulu ya, sayang… Nanti ku telpon lagi… I love U….” ucapnya lalu mengakhiri video call mereka setelah mendapat balasan dari Ning.


Ning meletakan ponselnya di atas meja. Ia menghela nafas panjang, kemudian menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.


“Ternyata Mas Igih dan dia masih bersaudara….” gumam Ning bermonolog. “Apa- apaan ini? Masa iya aku terjerat dalam cinta segitiga antara pria yang masih bersaudara… Apa kata Mas Igih dan keluarganya nanti, jika sampai tahu aku putus dengannya lalu berhubungan dengan si kudaniel….”


“Belum lagi nanti tanggapan keluarga Sahulekha, merkea kan sudah tahu kalau aku calonnya Mas Igih… Dulu saja saat kami pura- pura pacaran, Nyonya besar menentang keras… Apalagi sekarang, kami pacaran beneran….” ucapnya bergidik ngeri memikirkan Nyonya besar yang dulu pernah menamparnya agar ia menjauhi Athar, bahkan menampar Athar saat memergoki sedang berpelukan dengannya di apartment dulu.


Ia memejamkan mata, kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Argh….”Ning mengerang frustasi, mengusap kelapanya dengan kasar. Ia lalu memijat pelipisnya.


Kini ia semakin dilanda kegelisahan dan ketakutan akan hubungan dirinya dengan Athar. Hal itu baru terpikir sekarang. Setelah terlanjur saling mengungkapkan perasaan dan memulai hubungan yang didasari saling cinta, tanpa memikirkan tanggapan orang, termasuk tanggapan keluarga.


Ting ting


Ponselnya kembali berbunyi, ia pun mengambilnya. Ia mengerutkan dahinya saat melihat ada pesan masuk di layar ponselnya.


“Nomor siapa ini?” ucapnya berdialog sendiri.


-


--------------- TBC-----------


-


**********************


-

__ADS_1


Happy Reading….


__ADS_2