NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Kenapa Malah Dia??


__ADS_3

“Aku juga mencintai mu … Aku juga sangat merindukan mu, tuan om….” ucapnya yang kemudian terisak dengan bibir tersenyum merekah. Rasa haru dan tak percaya membuatnya tak bisa menahan air matanya. Kini ia tahu, jika selama ini ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


“Hehehe…hehehe….” Athar pun tersenyum, yang kemudian berubah menjadi suara dengkuran. "Nggrokk…"


Melihat hal itu, menyadarkan Ning jika Athar hanya sedang mengigau. Sama hal nya seperti yang dia katakan sejak di jalan tadi, hanya rancauan orang mabuk belaka.


“Enggak … ini gak nyata… Dia mengatakan hal itu hanya karena sedang mabuk….” Gumam Ning dalam hati. Ia lalu menghapus jejak air matanya dan hendak berdiri. Namun tak disangka tangannya tiba- tiba digenggam oleh Athar.


“Jangan pergi… jangan tinggalkan aku….” ucapnya masih dalam keadaan mata terpejam. Ning kembali menatap wajah Athar.


“Kau yang meninggalkan ku… Bukan aku….” ucapnya lirih, seolah kalimat itu menyayat hatinya.


Ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Athar. Jemarinya menyeka air mata yang hendak keluar, kemudian ia bangkit dan beranjak pergi keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Athar yang kembali mendengkur dan sudah tak berkicau lagi.


Ning mendengar suara dari arah dapur, ia pun pergi ke sana dan ternyata mendapati Ocha tengah membuka lemari es.


“Ngapain lo disini, Cha?” tanya Ning menghampiri.


“Gue haus, Ning… Eh ternyata banyak makanan juga buah- buahan di kulkas… Nih gue ambil minuman kaleng sama anggur, nyammm… segerr….” ucapnya memakan buah anggur tersebut, lalu duduk di kursi meja makan dengan membawa beberapa tangkai buah anggur serta minuman kaleng di tangannya. “Udah puas kangen- kangenan nya?” ucapnya lagi kemudian meneguk minuman kaleng tersebut.


“Lo ngomong apaan sih, Cha….”


“Ayok kita pulang… Ini udah hampir jam satu pagi… hoaaammm....” ucapnya yang kemudian menguap.


“Sorry, ya Cha… Gue jadi ngerepotin lo….” ucapnya merasa tak enak hati.


“Ya ya ya, baguslah kalau lo nyadar… Jadi, ayok kita pulang, hoaaaammm….”


“Tapi… Pak Riko belum datang… Eng, gimana kalau kita neginep di sini aja?” usul Ning.


“Apa? Jangan gila lo,Ning… inget ya, Lo itu calon istrinya Dokter Singgih … Gak pantes kalau lo nginep di sini, di rumah cowok lain… Ayok kita pulang!!” cerca Ocha.


Ning tertegun mendengar ucapan Ocha. Ia pun baru menyadari hal itu.


“Iy iya, Cha….” ucapnya menundukkan kepala. Keduanya lalu beranjak meninggalkan dapur dan berjalan menuju ruang utama.


Ceklek …


Ning dan Ocha mengarahkan pandangannya pada orang yang muncul dari balik pintu terbuka itu.


“Pak, Riko….” Ucap Ning dan Ocha bersamaan.


“Maaf, Nona… Tadi di jalan macet, jadi saya baru sampai….” Ucapnya yang baru masuk.


“Baguslah.. Akhirnya Pak Riko datang… tuh Pak Daniel sudah bobo ganteng di kamarnya… Jadi kami berdua mau pulang… Ayok Ning….“ ucap Ocha yang kemudian berjalan melewati Riko dan keluar dari unit apartment Athar.


“Terimakasih banyak sudah mengantarkan Pak Daniel ke sini… Sekali lagi saya benar- benar minta maaf, Nona….”


“Gak apa- apa kok, Pak Riko….”


“Nona mau pulang sekarang? Biar saya antarkan….”


“Gak usah, terimakasih… Biar kami naik taksi saja… Pak Riko kan baru sampai, pasti capek… Silahkan istirahat saja….”


“Ini sudah hampir pagi… Gak baik kalau kalian pergi berdua saja… Kalau begitu sopir yang akan mengantarkan kalian….” Ucapnya mengeluarkan ponsel lalu mengetik pesan.


“Tapi Pak Ri____”


“Pak Daniel akan sangat marah, jika tahu saya membiarkan kalian yang sudah membantunya pulang naik taksi….” Riko memberi alasan.


“Baiklah….” Ning hanya bisa pasrah, karena ia pernah tahu bagaimana kemarahan Athar.


“Sopir sebentar lagi akan ke depan pintu lobi… Mari saya antar….” Ucapnya setelah menerima pesan balasan dari sang sopir.


“Pak Riko….”


“Iya….”


“Kenapa Daniel sampai mabuk seperti itu?” tanya Ning yang nampak masih penasaran.


“Eng… Mungkin suasana hati Pak Daniel sedang kacau, Nona…”


“Maksudnya? Apa dia sering mabuk seperti itu?”


“Eng… Dulu setelah Nona Alexa meninggal, Pak Daniel sering minum… Mungkin kali ini beliau sudah kehilangan orang yang dicintainya lagi….” Ucap Riko menatap Ning, seolah ingin melihat responnya.


“Oh, gitu ya… Tolong jaga dia ya, jangan sampai seperti tadi… Mabuk di pinggir jalan seperti orang gila….” ucapnya dengan senyum yang dipaksakan. “Lagi pula terlalu sering minum gak baik untuk kesehatannya.”


“Iya Nona… sekali lagi terimakasih… Untung Pak Daniel bertemu dengan Nona, jika tidak… Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada beliau….”


“Kalau begitu saya permisi….” Ucapnya pamit, lalu beranjak keluar menghampiri Ocha.


“Udah?” tanya Ocha yang menunggu di luar pintu.


“Iya… ayok kita pulang… Pa Riko bilang sopir sudah menunggu di luar untuk mengantarkan kita pulang….” ucap Ning lalu melangkah dengan menundukkan kepala. Nampaknya ia ingin menyembunyikan raut wajah sedih dan kecewa yang dirasakannya. Riko pun ikut mengantar mereka berdua.


“Ternyata apa yang dia katakan tadi hanya mengigau saja, bukan benar- benar ungkapan dari hatinya… Mungkin dia mabuk karena sudah kehilangan kekasihnya di London sana….” batin Ning sedih, saat mereka tengah berada di dalam lift.


*


Sepanjang perjalanan, Ning tak bicara sepatah kata pun. Hanya keheningan yang ada dalam kendaraan itu. Sesekali terdengar suara dengkuran Ocha yang tidur, sepertinya sahabatnya itu sudah tak sanggup melawan rasa kantuknya.


Ning tenggelam dan larut dalam lamunannya. Nampaknya ia tak bisa berhenti memikirkan Athar. Kehilangannya membuat Ning gundah gulana, karena kerinduan yang begitu dalam dengan penuh tanda tanya akan alasannya pergi dan menghilang. Dan kini kehadirannya yang tiba- tiba pun mampu membuat Ning gelisah tak karuan. Bahagia, sedih, kecewa, bercampur menjadi satu.


“Kenapa kau datang disaat aku sudah menerima lamaran Mas Igih, Tuan Om??” batinnya sedih. Nampaknya ia masih memikirkan ucapan Athar akan ungkapan cintanya tadi.


“Enggak… enggak… aku gak boleh mikirin dia lagi…” Ning menyadarkan dirinya sendiri.


“Tadi itu hanya kicauan orang mabuk… Dia pasti gak sadar… Lagi pula dia tak menyebutkan nama orang yang dicintainya… Mungkin saja itu ungkapan untuk pacarnya….” Batin Ning.


*


Semalaman Ning tak hentinya memikirkan Athar, pertemuan pertamanya itu membuatnya gelisah dan tak bisa tidur. Sementara sahabatnya sudah mendengkur tidur lelap di sebelahnya. Hingga subuh tiba, Ning masih tetap terjaga. Ia membangunkan Ocha, ia lalu pergi ke kamar mandi untuk berwudhu kemudian melakukan ritual subuhnya.


”Tumben Nona subuh- subuh gini udah sarapan?” ucap Siti menghampiri Ning yang baru selesai makan roti dan minum susu di meja makan.


“Semalam sudah tidur, mungkin aja kalau perutnya udah diisi bisa tidur….”


“Memangnya Nona sama mbak Ocha semalam pulang jam berapa?” tanya Siti.


“Jam duaan kalau gak salah… Semalam ban motor bocor dan hape kami mati, jadi jalan dulu cukup jauh untuk menyegat taksi….”

__ADS_1


“Untung aja semalam aku gak ikutan, hehehe… Seru gak karaokean nya?”


“Ya gitu lah… Oh ya, hari ini akan ada banyak barang datang, tolong kamu sama Ocha handle dulu ya… Ocha barusan pulang dulu katanya… Dan sekarang aku mau istirahat….”


“Siap, Non….”


“Maaf ya, hari minggu ini kalian jadi lembur….”


“Gak apa- apa kok, Non… Kan lumayan bisa dapat penghasilan tambahan…. Hehehe….”


“Yasudah, aku ke kamar dulu….” Ning beranjak pergi ke kamarnya. Ia lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, kemudian memejamkan matanya. Perlahan ia pun tertidur.


*


“Emh….” Ning yang sedang tidur lelap, merasa terusik saat mendengar musik klasik yang begitu dekat di telinganya.


“Inces rambutnya disisir dulu ya, biar cantik seperti Nana….” Terdengar pula suara anak kecil yang taka sing baginya. Ning membuka matanya perlahan, dan ternyata ada Nana yang duduk di sebelah Ning tidur, sedang bermain boneka dengan memutar kotak musik.


“Loh, kok ada peri kecil….” Ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.


“Momy sudah bangun?” sapa Nana.


“Hehehe… iya…” Ning bangkit, lalu duduk di sebelah Nana. “Peri kecil sejak kapan di sini? sama siapa ke sini nya?” tanya Ning.


“Em, sejak lama… Nana ke sini sama Papa, tapi papa lagi pergi dulu sebentar….”


“Kok momy gak dibangunin?”


“Udah kok… Tapi momy gak bangun- bangun, bobo nya kayak kebo… Mbak Siti bilang Momy capek, jadi Nana sama boneka incess temani momy ….”


“Unchhhh… Anak baik ….” ucap Ning mengusap pucuk kepala Nana. “Kayaknya peri kecil punya mainan baru ya? ini apa?” tanya Ning menunjuk kotak musik yang masih menyala itu.


“Ini kotak musik yang ada balenana nya….”


“Balerina, bukan balenana….” Ning mengoreksi.


“Iya itu… Nana bilang ke papa kalau Nana mau balet….”


“Oh ya… mau menari seperti ballerina ini ya? Pasti kotak musiknya dikasih Om Dandy yang dari Australia itu ya?” tebak Ning.


“Bukan, ini dari Dady… Opsss.” Nana langsung membekap mulutnya sendiri, sepertinya ia sudah bicara keceplosan.


“Apa? Dari Dady?” tanya Ning terkejut.


“Eng… Eng….” Nana nampak kebingungan, ia tak berani menatap mata Ning yang menunggu jawaban darinya.


“Peri kecil… tadi bilang mainan ini dari siapa?” Ning kembali bertanya.


“Éng… eng…” Nana malah menundukkan kepalanya, ia tak berani menjawab pertanyaan Ning.


“Sayang… katanya diantara kita gak ada rahasia… Kok peri kecil seperti menyembunyikan sesuatu dari momy....” desak Ning.


“Eng… enggak….”Nana menggelengkan kepalanya.


“Jadi kotak musik ini dari Dady?” tanya Ning memastikan.


“Itu… itu….” Nana masih tak berani mengakuinya.


“Gak apa- apa, sayang … Bilang aja… Momy gak akan marah kok….” ucap Ning mengusap- usap bahu Nana.


“Jadi benar mainan ini dari Dady? Kapan Nana ketemu sama Dady?” tanya Ning penasaran.


“Tadi malam….” ucap Nana.


“Apa? Tadi malam? Berarti saat di pesta ulang tahun oma?” Ning kembali terkejut.


“Iya….” Nana mengangguk- anggukan kepalanya.


Flashback…


“Ayok Nana kita pergi ke sana….” ajak Sheryl yang menarik tangan Nana. Keduanya pun berlarian menuju tempat yang Sheryl tunjukan.


Gedebuk…


“Aww….” Nana tiba- tiba terjatuh. Ia mengusap- usap lututnya yang nampak terasa sakit.


“Nana gak apa- apa?” tanya Sheryl berjongkok.


“Enggak.. Nana kuat kok…” ucapnya lalu berdiri, kemudian ia dan Sheryl kembali melanjutkan perjalanan, hingga keduanya sampai di depan sebuah pintu.


Ceklek


Sheryl membuka pintunya. “Ayok kita masuk….” Ajaknya masuk lebih dulu. Ia berlari ke dalam ruangan tersebut dan menghampiri seseorang yang sedang duduk di sebuah sofa, sementara Nana masih berdiri di gawang pintu. Ia tak bisa melihat orang itu, karena hanya terlihat tubuh bagian belakangnya saja.


“Aku sudah melaksanakan tugas, Om… Mana hadiah ku….” ucap Sheyl melapor.


“Ini….” Ucapnya memberikan tiga kotak coklat dengan merk ternama.


“Hore… terimakasih, Om sayang … muahhh….” Sheryl mencium orang itu dan bersorak gembira.


“Baiklah… kamu tunggu di luar sebentar ya….”


“Baik, Om….” Sheryl yang hendak keluar, menghampiri Nana yang masih berdiri di tempat yang sama. “Kamu dipanggil sama om tuh… aku keluar dulu sebentar ya… dadah Nana….” Ucapnya berlalu begitu saja.


Nana yang merasa bingung, melangkah perlahan dengan ragu- ragu, sembari memperhatikan punggung orang yang duduk di sofa membelakanginya.


Saat orang itu berdiri, Nana menghentikan langkahnya. Sepertinya ia merasa takut melihat orang itu melangkah. Namun saat pria itu berbalik dan melihat ke arah Nana, ia menatap orag ituh dengan raut wajah terkejut.


“Dady….” ucapnya lirih.


“Peri kecil ku….” ucap orang itu tersenyum lebar.


Nana langsung berlari untuk menghampiri pria yang dipanggilnya Dady itu. Sang Dady pun berlutut dan merentangkan tangannya untuk menyambut keponakan yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri, karena sudah dirawatnya sejak peri kecilnya itu masih bayi.


Keduanya saling berpelukan disertai tangis haru biru. Mereka saling melepas rindu setelah setahun lamanya tak bersua.


“Dady… huhuhuhuhu…..” tangisan Nana tumpah saat itu juga. Betapa tidak, sejak lahir Athar lah yang menjadi sosok ayah bagi dirinya, dikala Singgih belum bisa menerima kehadirannya. Dan kini, penantian panjangnya berakhir sudah, hingga ia bisa bertemu kembali dengan Dady yang sangat disayanginya.


Athar pun demikian, ia tak kuasa menahan tangis haru, karena akhirnya ia bisa memeluk kembali peri kecilnya. Perlahan Athar melepaskan pelukannya. Athar menciumi kepala hingga wajah peri kecil yang sangat dirindukannya itu.


“Dady kemana aja? hik hiks….”

__ADS_1


“Ini Dady ada di sini…. hehehe,” ucapnya tersenyum dengan terus menatap wajah Nana. Ia merapikan rambut foni Nana yang nampak berantakan. Ia pun menghapus jejak air mata Nana.


“Jangan menangis peri kecil ku sayang… Dady sangat merindukan mu… Sekarang kamu sudah bertambah tinggi dan sangat cantik….” Ucapnya lalu menggendong Nana. Ia kemudian duduk di sofa dengan Nana yang duduk di pangkuannya.


Athar tak hentinya memandangi wajah gadis kecil yang sangat dirindukannya, setelah satu tahun lamanya tak pernah bertemu bertatap wajah, atau pun lewat video call. Selama ini ia hanya bisa melihat foto- foto peri kecilnya itu yang sering dikirimkan oleh Rosmala, sang kakak ipar.


“Apa Nana sudah menjalankan tugas yang Dady berikan?” tanyanya.


“Iy iya… Nana rajin sekolah, suka belajar dan bermain juga sama kakak peri, supaya bisa jagain kakak peri dan dia tidak sedih dan nangis lagi….” ucap Nana sesenggukan.


“Wahh... hebat ya, peri kecil nya Dady… muahhh…” Ucapnya memuji, kemudian mencium kening Nana. “Berarti peri kecil sudah berhasil menjalankan tugas nya….”


“Iya… Kata Papa, kakak peri nanti jadi mama nya Nana….”


“Oh ya….” Athar memaksakan diri untuk tersenyum.” Apa peri kecil senang, Kak Ning jadi mama nya Nana?” tanya Athar.


“Iya… Nana senang… Jadi Nana gak diejekin sama teman- teman sekolah lagi, karena Nana udah punya mama… Kakak peri suka anterin sekolah Nana… Tapi_____”


“Tapi apa?” tanya Athar.


“Kata papa, Nana gak boleh manggil kakak peri dengan sebutan mama…."


“Kenapa?” tanya Athar heran.


“Papa bilang Nana sudah punya mama peri, jadi gak boleh manggil mama ke kakak peri….”


“Terus manggil apa dong?”


Nana menggelengkan kepalanya. “Eng… Dady….” Nana memanggil Athar sembari mengusap dada Dady nya itu.


“Iya…” sahut Athar.


“Kalau Dady sama apa?”


“Maksudnya?” Athar nampak tak paham.


“Kan Papa sama mama, ibu sama bapak, ayah sama bunda… Kalau Dady sama apa?”


“Dady sama Momy….” ucap Athar.


“Kalau gitu Nana mau panggil kakak peri, momy….”


“Kenapa momy?” tanya Athar heran.


“Kan Nana udah punya papa, mama peri sama Dady… Tapi Nana belum punya momy…”


“Hehehehe…” Athar mengusap- usap kelapa Nana dengan lembut, sembari melemparkan senyuman.


“Maaf, Pak Daniel… Mobilnya sudah di depan lobi….” ucap Riko yang tiba- tiba menghampiri.


“Oke….” Sahut Athar. I a beralih pada Nana. “Peri kecil, sayang… Maaf ya, Dady harus pergi dulu….”


“Dady mau kemana lagi? Kan baru sebentar….” rengek Nana.


“Maaf sayangku… Dady ada urusan penting dulu….” ucapnya kemudian mengambil godie bag di pingir sofa. “Ini hadiah untuk peri kecil….” Athar memberikannya pada Nana.


“Ini apa?”


“Di dalamnya ada boneka princess dan kotak musik yang kalau dibuka nanti ada ballerina kecil menari- nari….”


“Belerina? Balet?” tanya Nana.


“Iya… penari balet… Peri kecil katanya mau jadi penari balet ya?” ucap Athar.


“Iya….” Nana mengangguk.


“Kalau gitu, sekarang peri kecil kembali lagi ke Papa… Tapi, peri kecil harus janji, jangan bilang sama siapa- siapa kalau peri kecil sudah bertemu dengan Dady….”


“Kenapa?”


“Karena hanya peri kecil yang bisa bertemu dengan Dady… Yang lainnya gak boleh, dan ini akan menjadi rahasia kita… Kalau peri kecil menjaga rahasia, nanti Dady janji akan bertemu lagi sama peri kecil… Janji….” Ucapnya mengacungkan jari kelingkingnya.


“Janji….” Nana pun mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Athar sebagai pengikat janji.


Athar kembali memeluk dan menciumi Nana. Ia yang masih menggendong Nana, bangkit dan mengantarkan Nana hingga depan pintu.


Dengan berat hati ia menurunkan peri kecilnya dan membiarkannya pergi bersama Sheryl dan pengasuhnya, Susi.


Flasbak off…


Nana menceritakan semuanya tentang pertemuannya dengan Athar. Ning yang mendengarkan hal itu, membuatnya tertegun. Ia tak menyangka ternyata Athar ada di acara ulang tahun Andini. Walau sebenarnya ia pun merasakan kehadiran Athar di sana, namun tak sempat bertemu dengannya.


“Jadi, semalam dia benar-benar ada di sana... Dan dia sudah tahu kalau aku akan menikah dengan Mas Igih….” Gumam Ning dalam hati. “Apa karena itu semalam dia mabuk?” batin Ning bertanya- tanya.


Tok tok tok…


Suara ketukan pintu mampu membuyarkan lamunan Ning.


“Ck, ya ampun… Siti kebiasaan deh, suka lupa bawa kunci rumah….” Ucapnya yang kemudian bangkit dari tempat tidur. “Momy bukain pintu dulu, ya… Peri kecil tunggu sebentar di sini….”


“Iya….” angguk Nana.


Ning beranjak pergi keluar kamar. Ia berjalan menuju pintu depan yang masih terdengar diketuk- ketuk. Setibanya di depan pintu, ia memutar kuncinya.


“Loh, pintunya gak dikunci kok… Ngapain Siti musti ngetuk segala….” Ucapnya lalu memutar knop pintu untuk membukanya.


Ceklek …


“Ngapain ngetuk segala sih, orang pintunya gak di______” Ning yang membukakan pintu, tak melanjutkan ucapannya saat melihat seseorang berdiri tepat dihadapannya.


“Ya ampun… aku pikir Siti… kenapa malah dia? Mana penampilanku berantakan gini, celudih, belum cuci muka pula… Semoga di bibirku gak ada bekas iler... tengsin banget sihh....” jerit Ning dalam hati dengan raut wajah terkejut sekaligus malu.


-


-


----------------- TBC -----------------


*************************


-

__ADS_1


-


Happy Reading….


__ADS_2