NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Dasar Gadis Aneh ....


__ADS_3

“Haha … ternyata kacung songong seperti mu bisa cengeng juga.” Dino yang melihat wajah sembab Ning langsung menertawakannya.


“Saya tidak cengeng … hanya merasa kesal saja.” ucap Ning dengan suara hidung mampet sembari sesenggukan.


“Tidak usah mengelak, wajah sembab dan suara bengek mu sudah membuktikan.” Dino yang membawa mangkuk di tangannya kemudian duduk di kursi panjang yang sama dengan Ning.


“Terserah ….” ucap Ning kesal.


“Kau itu benar- benar jorok ya … pergi ke taman tanpa memakai alas kaki !!"


“Bukan urusan mu!”


“Tentu saja menjadi urusan ku … kalau kau masuk ke kamar ku, kau akan membawa ribuan kuman dan mengotori lantai kamar ku ….”


“Biar saja, sekalian saya akan membawa sekarung kotoran ke kamar mu.”


“Kotoran apa?” tanya Dino sewot.


“Terserah saya lah, mau kotoran kuda kek, kotoran sapi kek, kotoran kerbau kek, kotoran kambing kek, kotoran gajah kek, kotoran buaya kek, kotoran dinosaurus sekalian!!” cerocos Ning semakin kesal.


“Hahahaha … kau pikir di rumah ini ada hewan- hewan seperti itu. Dasar konyol ...."


“Tentu saja aku tinggal pesan lewat aplikasi belanja online, apa pun banyak dijual di sana," ucap Ning dengan entengnya.


“Orang gila mana yang akan menjual kotoran hewan, hah?”


“Tentu saja yang menjualnya orang waras … Kau itu memang benar- benar bodoh ya … Banyak yang menjual kotoran hewan untuk dijadikan pupuk.” hardik Ning.


“Tapi tidak semua kotoran hewan dijual juga kali …” Dino terus saja berdebat.


“Apa-apaan ini kenapa jadi bahas kotoran? Kau benar- benar orang jorok!!!” Dino baru menyadari kekonyolan mereka.


“Lalu mau apa kau ke sini? mengganggu ku saja!!” tanya Ning ketus.


“Ini masih jam kerja mu, kacung songong!” hardik Dino.


Ning tak bisa berkutik setelah di skak matt oleh Dino.


“Aku ingin makan kelengkeng ….” ucap Dino melihat ke arah mangkuk yang dibawanya.


“Ya tinggal makan saja apa susahnya … Kelengkeng nya kan sudah ada di tangan mu!”


“Kupaskan kelengkeng nya!” Dino memberikan mangkuk itu pada Ning.


“Astaga naga … kau itu punya dua tangan dengan total sepuluh jari … Mengupas kelengkeng sekecil ini saja menyuruh orang lain!!” protes Ning kesal.


“Lakukan apa yang ku perintahkan! Cepat kupas!”


Dengan terpaksa Ning pun mengikuti perintah Dino. Ia mengambil satu buah kelengkeng.


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Dino.


“Tentu saja mengupasnya, bodoh … Memangnya apa lagi, hah?” Ning menjawab dengan ketus.


“Cuci tangan dulu, dasar jorok. Nanti kelengkeng nya bisa jadi asin.”


“Tangan ku bersih kok …. Asin apanya? Di sini tidak ada garam!” Ning melihat - lihat isian mangkuk.


“Heh, tadi itu kau habis menangis … Kau pikir aku tidak lihat apa, kau menghapus air mata menggunakan telapak tangan mu … Berarti tangan mu kotor kan, belum lagi terkena ingus mu … menjijikan!”


Ning mendengus kesal. Ia melanjutkan mengupas kulit kelengkeng, namun tidak menggunakan tangan melainkan dengan menggigitnya. Ning membuang kulitnya, lalu memberikan daging buah kelengkeng pada Dino.”


“Dasar kacung gila … Kau pikir aku akan sudi memakan kelengkeng yang sudah kau gigit itu hah?”


“Oh, kau tidak mau … yasudah … Ammmm ….” Ning memakan kelengkeng tersebut. “Ummm, manis sekali.” ucapnya tersenyum manis.


“Kau!!!” Dino menunjuk wajah Ning.


“Apa? Mau makan kelengkeng ini? Nih ambil dari mulut ku.” Ning membuka mulutnya lebar-lebar.


“Dasar kacung songong!!!” bentak Dino . Ia merebut kembali mangkuk kelengkeng dari tangan Ning, lalu bangkit dan beranjak pergi.


“Hahahaha … Dasar dinosaurus pemalas, makan kelengkeng saja minta dikupaskan … Disuapi pakai bibir gak mau, haahahaha ….” Ning menertawakan Dino dengan renyahnya. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang mengawasinya.


Ning pun bangkit dan beranjak pergi. Namun bukan kembali ke kamar Dino, melainkan ke bescame pelayan untuk meminta sepasang sandal. Ia yakin sandalnya yang tertinggal di kamar Dino pasti sudah dibuang.


“Terimakasih Utari, sandalnya … Nanti kalau saya sudah gajian, pasti saya ganti," ucap Ning.


“Tidak perlu, Ning. Lagi pula itu sandal yang biasa di pesan untuk hotel milik nyonya Ros. Memang sengaja disediakan di sini.”


“Oh gitu ya, terimakasih ya.”


“Sama- sama … Eh tapi Ning, kala kau sudah gajian ingin mentraktirku makan, aku gak akan nolak kok … Dengar- dengar gaji mu lebih besar dari kami ya?”


“Iya sih besar … tapi dipakai buat bayar utang Mang Asep … Hmmm, nasib … orang lain mah banyak yang suka makan gaji buta, ini mah kerja rodi entah romusha tanpa di gaji,” gumam Ning dalam hati.

__ADS_1


“Hei, benar gak kalau gaji mu itu besar?" Utari kembali bertanya.


“Mana ku tahu, kan belum gajian.” jawab Ning pura-pura.


“Eh, Iya ya, kau kan baru masuk satu minggu yang lalu.” Utari pun baru menyadari.


“Nah itu kau tahu … aku permisi dulu ya. Hape ku habis baterai nih, mau di charger dulu.”


“Iya.”


**


Hari berganti hari, tak terasa satu bulan sudah Ning bekerja menjadi pengasuh Dino si bayi besar. Namun mereka lebih terlihat seperti jelmaan tom and jerry yang selalu ribut setiap harinya. Ada saja perkara yang membuat keduanya saling mengejek atau saling menghina.


Jika Dino memarahinya pun, Ning tak mau kalah dan akan lebih galah dari Dino. Tak jarang keduanya saling mengerjai satu sama lain. Dan dengan cara itulah Ning berhasil membuat Dino bersedia kembali mengulang belajar home schooling-nya, setelah Dino kalah taruhan.


Tak sampai disitu, jika guru pengajar datang untuk membimbing Dino belajar, Ning selalu menyembunyikan laptop dan kedua ponsel milik Dino di tempat yang tak mungkin akan bisa diambil Dino, agar ia bisa fokus belajar.


Nyonya besar yang merasa takut jika Athar akan benar- benar dekat dengan Ning, meminta kepala pelayan mengawasi gerak gerik Ning juga Athar, dan melaporkannya pada beliau.


Padahal Athar hanya tinggal di rumah itu beberapa hari saja saat beliau sakit, dan setelah membaik ia kembali tinggal di apartemen miliknya. Sehingga Ning dan Athar tak pernah bertemu lagi setelah kejadian itu.


Nyonya besar pun tak pernah memaksa Athar kembali tinggal di rumah nya seperti yang sebelumnya sering ia lakukan. Justru malah Felisha yang sering datang ke rumah itu untuk mengambil hati beliau. Karena Felisha yang baru kembali satu bulan dari Amerika, tak tahu jika Athar tidak tinggal di rumah itu lagi semenjak tiga tahun yang lalu. Dan atas permintaan Athar tak ada yang memberitahukan Felisha tentang hal itu.


Sepertinya Nyonya besar masih merasa was- was terhadap Athar. Beliau secara diam- diam meminta Aufar, sang anak pertama untuk menugaskan Athar ke anak perusahaan yang berada di Singapura.


Di sebuah ruangan di gedung bertingkat yang menjulang tinggi, Athar yang masuk tanpa permisi langsung menghampiri meja pemilik ruangan tersebut.


“Bang, memangnya tidak ada orang lain yang bisa kau tugaskan ke Singapura?” protesnya dengan nada ketus.


“Justru menurut Abang hanya kamu yang mampu mengatasi masalah yang ada di perusahaan di Singapura … Maunya sih Abang yang berangkat ke sana, tapi project kita baru saja dimulai. Tidak mungkin Abang meninggalkannya begitu saja ….”


“Tapi, Bang_____”


“Tenang saja, asisten pribadi mu juga akan ikut ke sana, agar ia bisa mempersiapkan segala kebutuhan mu selam kau di sana ... Abang juga akan menyiapkan paramedic di apartemen yang akan kau tinggali nanti, untuk jaga- jaga jika alergi mu kambuh.”


“Maaf, Bang … aku tidak bisa … Pekerjaan ku di sini juga sangat banyak, tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja.”


“Ayolah Athar, hanya beberapa bulan saja hingga kondisi perusahaan kembali stabil.” Aufar terus membujuk


“Maaf Bang, aku benar- benar tidak bisa … Apalagi jika aku harus meninggalkan negara ini dalam beberapa bulan ke depan .. Lebih baik Abang menunjuk orang lain saja yang lebih kompeten dibandingkan dengan ku.” Athar kekeuh menolak.


“Athar ….”


Aufar pun terdiam dengan menghela nafas panjang beberapa kali.


“Apa yang harus ku katakan pada Mami? Tidak mungkin aku ungkapkan alasan Athar yang sebenarnya.” Aufar berdialog sendiri, lalu ia memejamkan matanya seolah sedang memikirkan cara menyampaikan penolakan Athar pada ibunya.


**


Sementara di kediaman keluarga Sahulekha, Ning masih setia menunggui anak asuhnya belajar di sebuah ruangan yang di khususkan untuk Dino belajar bersama guru pembimbingnya. Ning duduk di kursi yang berbeda dari tempat Dino dan gurunya.


“Perasaan sudah tiga minggu ini aku tidak pernah melihat si Tuan Om? Apa dia juga menghindari ku?” gumam Ning dalam hati.


“Arghhh .. apa-apaan ini? Kenapa aku tiba- tiba memikirkannya … Bukan kah selama ini aku juga menghindarinya … Buang jauh- jauh Ning … jangan memikirkannya lagi!!!” Ning terhanyut dalam lamunannya.


“Tapi … ketampanannya begitu menggoda iman dan sulit dihapuskan dari rekaman di otak ku … Dan dia adalah lelaki pertama yang mencium tangan ku …” Ning terus berdialog dalam hati sembari senyam senyum dengan tangan kiri yang mengelus- elus punggung tangannya yang pernah dicium oleh Athar.


“Cung ….” panggil Athar yang berdiri di hadapan Ning.


“Hem, iya Tuan … Ada apa? Apa kau merindukan ku?” Ning me jawab dengan nada mesra dan menggoda.


“Najis banget!!” hadrik Dino.


Ning terperanjat dan membuyarkan lamunannya.


“Ka kau!! Sedang apa kau di sini? bukannya harusnya di sana?” Ning menunjuk ke arah meja tempat Dino belajar tadi.


“Loh, kemana Bu Guru nya?” tanyanya heran.


“Dari tadi ke toilet … Apa kau tidur, sampai tidak menyadarinya? Sini berikan ponsel ku!”


“Heh, memangnya tugas mu itu sudah selesai dikerjakan?” Ning melirik ke arah meja.


“Aku membutuhkan ponsel untuk menghitung.”


“Pakai kalkulator saja, sudah ku sediakan di atas meja.”


“Aku tidak mau, aku butuh ponsel ku!”


Gurunya Dino baru saja kembali dari toilet. Ning langsung melihat ke arahnya.


“Bu Guru, anak nakal ini ingin bermain games di hape nya.” ucapnya mengadu.


“Dino, selesaikan dulu tugas mu. Waktunya sebentar lagi….” ucap sang guru.

__ADS_1


“Dasar menyebalkan!” umpat Dino kesal.


“Aku dengar itu … sekali lagi kau mengumpat ku, aku akan membuang ponselmu ke dalam kloset.”


“Iya iya, bawel ….” Dino pun takut dengan ancaman Ning, karena games di dalam ponselnya sudah mencapai level tinggi.


“Kau!!” Ning melotot pada Dino.


“Baiklah nona kacung cantik yang baik hati ….” ucap Dino menjulurkan lidahnya serasa ingin muntah.


Setelah Dino menyelesaikan tugas dan diperiksa oleh guru nya, Dino kembali meminta ponselnya. Ning pun memberikannya usai gurunya berpamitan pulang.


“Kau itu benar- benar licik!” ucap Dino kesal.


“Hei, ini juga demi kebaikan mu … Dengan begini kan predikat bodoh mu akan mulai meluntur.”


Baru saja Dino mengaktifkan ponselnya, langsung ada panggilan masuk. Ia pun langsung menerima panggilan itu.


“Hallo, Om apa kabar?” sapa Dino pada si penelpon.


“Dia bilang apa tadi? Om? Apa itu si tuan om tamvan?” gumam Ning dalam hatinya, ia kembali senyam senyum sendiri membayangkan si tuan Om.


Blam …


Suara pintu ditutup dengan keras membuatnya membuyarkan lamunannya.


“Dasar dinosaurus sialan!!!” Ning merasa sangat kesal dengan kelakuan anak asuhnya itu.


“Heran … sebenarnya dia sakit apa sih? Perasaan selama aku menjadi pengasuhnya dia tak pernah mengeluhkan sakit? Apa Kepala pelayan membodohi ku supaya aku mau jadi pengasuh si dinosaurus itu?”


Ning tak hentinya menggerutu sembari membereskan buku- buku Dino dan menyimpannya ke dalam lemari khusus untuk buku- buku Dino. Kemudian ia pun beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Saat baru keluar, ia berpapasan dengan Utari yang membawa nampan di tangannya.


“Utari, tunggu ....” panggil Ning saat Utari sudah melewati nya. ia menghampiri Utari.


“Ada apa?” Utari menghentikan langkahnya.


“Em … apa aku oleh bertanya sesuatu?” Ning nampak ragu dan malu.


“Boleh .. asalkan jangan tanya aku punya uang nganggur atau tidak, lalu kau ingin meminjam nya.”


“Ck .. bukan itu … tapi, em … Apa tuan Om eh maksudnya Tuan Athar selalu berangkat ke kantor subuh dan pulang larut malam?” Ning langsung to the poin.


“Mana ku tahu … Tuan Athar kan tidak tinggal di sini lagi … Opss.” Utari membekap mulutnya sendiri.


“Apa? Maksudnya?" tanya Ning heran.


“Sssstttt, aku kasih tahu ya. Tapi kau jangan bilang- bilang pada Nona Falesha.” Utari bicara berbisik-bisik.


“Memangnya ada apa?” Ning semakin bingung.


“Ih, pokoknya semua orang dilarang memberitahukan keberadaan Tuan Athar.”


“Hah? Memangnya Tuan Athar kenapa? Apa penyakitnya parah dan dia dirawat di rumah sakit?” Ning mulai mencemaskan Athar.


“Bukan … Tuan Athar itu tinggal di apartemen pribadinya sejak tiga tahun yang lalu.” ucap Utari masih dalam mode berbisik.


“Hah? Tapi, waktu itu dia selalu ada setiap hari.” Ning masih belum paham.


“Itu karena Nyonya besar sakit dan memintanya agar tinggal di sini. jadi setelah Nyonya besar sembuh, Tuan Athar balik lagi ke habitat ….” ucapnya berbisik lalu beranjak pergi tapa pamit setelah melihat ke arah belakang Ning.


“Oh, jadi si Tuan Om tidak tinggal di sini toh. Pantas saja aku tak pernah melihatnya lagi …” ning menghea nafas sejenak, nampak raut kekecewaan di wajahnya.


“Yahhh, gak bisa cuci mata lagi dong … Padahal kan kalau melihat wajah tamvan si Tuan Om membuat ku semangat menghadapi hari- hari ku yang selalu dipenuhi potamorgana kehidupan suram … Walau aku hanya berani melihatnya dengan diam- diam, hehehe."


Ning tersenyum malu mengingat kelakuannya yang selalu menghindari bertatap muka dengan Athar, namun ternyata sukamemperhatikannya diam- diam.


Ia membalikan tubuhnya dengan bibir yang masih tersenyum. Betapa terkejutnya ia melihat seseorang berdiri tepat di hadapannya.


“Bagaimana? Apa kau senang melihat wajah tampan ku lagi?” tanyanya tersenyum.


“Tu tu Tuan Om ….” Ning mendadak gelagapan melihat pria yang sejak tadi dibicarakannya. Matanya terbelak dengan mulut ternganga. Ia tersadar saat merasakan sesuatu.


“Gawat … aku harus segera pergi.” Ning langsung kabur dan berlari sekencang yang ia bisa sembari menutup pertengahan bokongnya dengan telapak tangan kirinya.


Athar yang melihat hal itu, malah tertawa geli sembari menggelengkan kepalanya.


“Dasar gadis yang aneh …. Hahahahaha.”


------------- TBC ----------------


************************


Happy Reading ......,,😉

__ADS_1


__ADS_2