
Menerima gaji pertama dari hasil bekerja selama satu bulan lamanya pasti akan membuat kita sangat bahagia. Bahkan perasaan bingung tak jarang menghampiri, uang ini harus diapakan, dibelikan apa, diberikan pada orang tua kah dan lain sebagainya.
Berbeda halnya dengan Ning yang justru ingin menggunakan gaji pertamanya untuk membayar hutang pamannya. Karena memang itulah tujuan Ning dipekerjakan oleh Rosmala di rumah itu, yakni untuk membayar hutang. Namun beruntung, sang majikan masih berbaik hati tak mengambil gaji pertama Ning.
Tak bisa dipungkiri hal itu membuat Ning bahagia, karena seumur- umur baru pertama kalinya di dalam rekeningnya terdapat uang dengan jumlah puluhan juta. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, karena ia diberi tugas mengurus seorang anak kecil yang selama ini merupakan pekerjaan yang dihindarinya.
Tak sampai di situ saja, kekesalannya bertambah saat ia melihat seseorang yang ingin dihapus dari ingatannya tiba- tiba muncul di hadapannya. Ia menundukkan kepalanya, untuk mengindari agar tidak menatap orang yang sedang menemani Sheryl belajar menggambar.
Kini Ning dan Utari tengah berdiri di dekat karpet tempat Sheryl menggambar bersama seseorang yang duduk membelakangi mereka.
Ia beberapa kali menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri. Mungkin bokongnya pun merasa lelah dan tidak sanggup jika harus mengeluarkan gas beracun andalannya.
“Maaf, Non Sheryl … Nyonya Ros bilang Mbak Ning ini sementara akan menggantikan tugas Mbak Susi. Jadi kalau Nona memerlukan apa-apa, bilang saja pada Mbak Ning, ya,” ucap Utari.
“Mbak Susi kemana?” tanya Sheryl.
“Ibunya Mbak Susi sedang sakit, jadi mbak Susi pulang dulu untuk menjenguk ibunya.”
“Oh ….”
Pria yang bersama Sheryl menoleh ke arah belakangnya saat mendengar ucapan Utari. Ia pun bangkit dan berdiri berhadapan dengan mereka berdua.
“Ning … kenapa kamu ada di sini?” tanya orang tersebut terkejut melihat nama yang disebutkan oleh Utari ternyata adalah Ning yang sama dengan yang ia kenal.
“Ning merupakan salah satu pelayan di rumah ini, dan sekarang menjadi pengasuh sementara nya Nona Sheryl.” Utari justru yang menjawab pertanyaan pria itu, sedangkan Ning terus menundukkan kepalanya.
Ceklek ….
“Oh, syukurlah kalian ada di sini … Temani Sheryl menggambar, karena aku dan pacarku mau ng-date ….” ucap Diasri yang baru keluar dari kamar mandi.
"Ayok sayang, kita pergi ….”
“Iya, sayang ….” Pria itu pun bangkit.
“Apa? Sayang? Si ketupat itu sudah ganti gebetan lagi? Perasaan bulan kemaren dia dekat dengan wanita lain, bukan dengan Non Diasri deh….” gumam Ning dalam hati.
“Huhhh, dasar playboy cap kadal buntung … untung dulu gue gak mau sama lo, Rifat ketupat basi ….” gerutu Ning dalam hati.
“Kakak mau kemana?” tanya Sheryl.
“Kakak mau beli buku dulu ya, kamu menggambarnya di temani Mbak- mbak itu saja ya. Dadah Sheryl ….” Ucapnya lalu menggandeng sang pacar dan beranjak pergi.
“Fiuh … untunglah si ketupat itu segera pergi, jadi dia tidak akan banyak tanya lagi … males banget gue ngomong sama dia ….” gumam Ning dalam hati.
“Mbak kan pengasuhnya kakak Dinosour,” ucap Sheryl.
“Dinosour?” taya Ning heran.
“Iya … kan di film upin ipin ada monster Dinosour.”
“Oh, Dinosaurus maksudnya?” Ning pun paham.
“Betul betul betul….” angguk Sheryl.
“Hehehe ….” Ning memperlihatkan senyum yang nampak dipaksakan.
“Sepetinya anak ini tidak menyebalkan seperti si Dinosour,” gumam Ning dalam hati.
Utari menjelaskan beberapa hal tentang kebiasaan Sheryl, yang disukai dan tidak disukainya sesuai yang ia ketahui dari pengasuhnya Sheryl. Ning pun mendengarkan baik- baik perkataan Utari sembari duduk menemani Sheryl menggambar.
“Utari, kamu sepertinya tahu banyak tentang Nona Sheryl?” ucap Ning.
“Tentu saja … Aku bekerja di sini sejak Non Sheryl baru lahir … Dan aku juga sering membantu Susi mengurusnya, karena dia adik sepupu ku.”
“Oh, pantas saja ….”
“Jangan lupa ya dengan semua yang ku jelaskan tadi … Dan hari senin nanti kamu akan mengantarkan Non Sheryl ke sekolahnya.”
“Apa? Aku kan gak tahu sekolahnya di mana?”
“Tentu saja sopir yang akan mengantarkan kalian, Ning … Masa iya anak konglomerat jalan kaki atau naik angkutan umum.”
“Oh, gitu ya … hehehe. Oke deh … berarti lusa ya? sekarang kan baru hari sabtu.” ucap Ning.
“Iya ….” Utari mengangguk. Ia beralih pada Sheryl.
“Non Sheryl, Mbak Utari tinggal dulu ya … Mbak Ning akan menemani Non di sini.”
“Iya ….”
Ning pun mulai melakukan tugasnya menjadi pengasuh sementara Sheryl. Ia membantunya menggambar dan mewarnai yang merupakan tugas sekolah Sheryl.
Saat sedang asyik mewarnai, tiba- tiba ponsel Ning berdering. Ia pun mengambil ponsel dari dalam saku celananya.
“Heh, baru saja ditinggal satu jam, sudah menghubungiku. Apa kau merindukan ku tuan muda?” gumam Ning tersenyum melihat nama si pemanggil di layar ponselnya. Digeserlah kursor pada tombol hijau.
“Hallo …” sapa Ning.
“Dimana kau?” Dino langsung to the poin.
“Di hati mu ….” Jawab Ning denagn nada genit.
“Hoek ….”
“Kenapa? Apa kau merindukan ku, Tuan Muda?” Ning malah menggoda.
“Gak sudi!!”
“Terus mau apa kau menelpon ku?” Ning masih dalam mode menggoda.
“Ini masih jam kerja mu, kenapa kau malah bermalas- malasan, hah?”
“Maaf Tuan Muda … sekarang aku sudah tidak menjadi pengasuh mu lagi.”
“Apa? Bagaimana bisa? Aku kan belum memecat mu?” Dino terdengar kaget.
“Hei … yang mempekerjakan ku kan Nyonya Ros … Jadi kau tak ada hak untuk memecat ku.”
“Lalu sekarang kau dimana?”
“Mbak Ning … ini awan-nya warna apa?” tanya Sheryl menggoyangkan lengan Ning.
__ADS_1
“Em, warna biru muda Non.”
“Blue sky?” tanya Sheryl lagi.
“Yes.” angguk Ning tersenyum.
“Oke ….” Sheryl pun mengambil crayon warna biru muda.
“Heh Kacung … kenapa kau malah bermain bersama adikku?” Dino nampaknya tahu keberadaan Ning.
“Tanyakan saja kepada Nyonya Ros … karena beliau yang menugaskan ku menjadi pengasuh Non Sheryl.” ucap Ning.
“Apa?” teriak Dino.
“Woy, kampret … biasa aja donk, jangan teriak- teriak … suara mu masuk semua ini ke telinga ku ….”
Tut tut tut …
Dino pun memutuskan sambungan telponnya.
“Idih, dasar gak ada akhlak ….” Ning menggerutu kesal. Ia pun kembali memasukan ponsel ke dalam saku celananya dan melanjutkan membantu Sheryl mengerjakan tugas sekolahnya.
**
Malam nya Ning yang sudah selesai menidurkan Sheryl, kembali ke kamarnya. Ia membuka aplikasi belanja online untuk membeli beberapa keprluan yang ia butuhkan. Bahkan ia membeli sepatu dan sandal yang lebih layak.
“Ternyata gini ya rasanya kalau punya banyak duit … Pas butuh apa- apa, pas duitnya ada … mantap betul ….” ucapnya lalu cekikikan sendiri.
Ia berbaring terlentang dan memandang ke langit- langit kamar. Tatapan-nya berubah sendu.
“Seandainya bapak sama ibu masih ada … pasti aku akan memberikan gaji pertama ini ku pada mereka ….” Lirihnya tiba- tiba merasa sedih saat teringat pada kedua orang tuanya yang sudah tiada.
“Bapa, Ibu … Ning kangen kalian … hiks hiks ….” Air mata pun jatuh membasahi pipinya, dipeluknya boneka kesayangan pemberian mendiang bapaknya. Ia tertidur dengan membawa kesedihan dan kerinduan yang amat besar pada kedua orang tuanya.
**
Keesokan harinya pagi- pagi sekali, Ning sudah bersiap menjalankan tugas barunya. Ia memandikan Sheryl lalu membantu menganakan pakaiannya. Ia lalu mengnaarkan Sheryl ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya.
“Fiuh … untunglah si tuan Om tidak menginap di rumah ini … Kalau enggak, pasti dia akan ikut sarapan bersama keluarganya,” gumam Ning dalam hati. Ia pergi ke belakang untuk sarapan bersama pelayan lainnya.
Saat makan, ia teringat pada seseorang yang selama satu bulan ke belakang selalu menjadi anak asuh sekaligus musih bebuyutannya.
“Tumben si donosaurs tidak sarapan bersama keluarganya lagi?” Ning bertanya- tanya dalam hatinya karena tak melihat keberadaan Dino di meja makan tadi saat mengantarkan Sheryl.
“Ahh, sudahlah … untuk apa aku memikirkan manusia menyebalkan itu.” Ning kembali bergumam dalam hatinya, ia pun melanjutkan makan sarapannya agar cepat selesai.
“Ning, Nyonya Ros memanggil mu. Beliau sudah di kamar Nona Sheryl.” ucap kepala pelayan
“Baik, Pak Kepel.” ucap Ning yang baru saja selesai membersihkan bekas makannya, segera beranjak pergi. Ia paham jika anak majikannya sudah selesai makan dan ia harus kembali menjaganya.
“Ning, kau dan sopir temani Sheryl ke mall untuk belanja keperluan sekolah nya … Saya sedang ada urusan … Ini kartu kreditnya, beli saja apa yang dia inginkan. Paham?” Rosmala memberi perintah dan menyodorkan sebuah kartu kredit.
“Baik Nyonya.” Ning menerima kartu tersebut dengan takut dan ragu.
“Ayok Mbak Ning … Ayok kita berangkat ….” ajak Sheryl.
“Tapi Non, mall mana yang buka sepagi ini?” tanya Ning heran.
“Aaaaahhh, mau sekarang … sekarang sekarang sekarang ….”Sheryl menghentakkan kakinya berkali- kali.
“Turtuti saja apa maunya … Sopir akan membawa kalian keliling kota dulu sampai mall nya buka … sudah sana berangkaat sekarang … Sheryl kalau sudah ngambek susah dibujuk, urusan saya tidak bisa ditinggalkan," ucap Rosmala, ia lalu berjongkok dan berbicara pada putrinya.
“Sayang, jangan ngambek ya. Mama sama Papa harus pergi dulu, ada urusan sangat penting ... Nanti pulangnya Mama bawakan oleh-oleh... Dahh. Muach ….” Rosmala mencium kening putrinya lalu ia beranjak pergi.
“Ayok Mbak Ning Nong ….” ajak Sheryl.
“Etdah … sama aja sama si Dinosaurus suka manggil nama orang seenak dengkulnya.”
“Iiiihh, ayok !!" bentak Sheryl.
“Iya iya, Non.” Ning pun membawa tas Sheryl juga jaketnya, seperti yang prnah dijelaskan oleh Utari sebelumnya.
Keduanya memasuki mobil Alphard yang sudah dibukakan pintunya oleh Utari yang berdiri di luar mobil.
“Aku mau duduk di depan … Mbak Ning Nong duduk di belakang,” ucap Sheryl.
“Tapi, Nona____”
“Iiihhh ….” Sheryl menghentikan kakinya sembari melotot pada Utari.
“Iy iya, Nona ….” Utari pun membukakan pintu mobil untuk Sheryl.
“Busyet dah … Benar- benar titisan Nyonya Rosmala ….” gumam Ning dalam hati. Ia kemudian masuk ke dalam mobil sesuai perintah Sheryl. Sang sopir pun melajukan mobilnya.
“Mau kemana kita sekarang, Inces?” tanya sang sopir.
“Kita jalan- jalan ke taman, main ke timezone, terus makan pizza.”
“Siap Laksanakan ….”
“Sepertinya Non Sheryl akrab banget sama sopirnya … Tapi kenapa sopirnya itu musti pakai topi, kaca mata hitam dan masker segala … apa ini termasuk dalam peraturan aneh pegawai di rumah itu?” gumam Ning dalam hati.
“Eh, tunggu … suaranya seperti tidak asing bagi ku?”
“Ooo, tidak mungkin … Dia kan tidak diperbolehkan keluar rumah oleh Nyonya Ros. Mana mungkin itu dia … Argh, kenapa gue jadi inget sama dia segala sih ….” Ning menggeleng- gelengkan kepalanya, nampak ngeri.
Seperti yang dikatakan Sheryl, sopir pun membawa mereka ke taman. Di sana ada beberapa pengunjung yang membawa anak- anak, karena di sana terdapat beberapa permainan anak- anak, seperti perosotan, ayunan, dan lain sebagainya.
Ning menemani Sheryl bermain selama beberapa saat. Mereka pun kembali melanjutkan perjalannanya menuju sebuah mall besar.
Sheryl memasuki mall tidak hanya ditemani oleh Ning, tapi sang sopir pun turut mengikuti mereka. Bahkan Sheryl lebih memilih di tuntun oleh sopir itu. Ning sekali mendelik pada sopir dengan terheran- heran.
“Awasss ….” teriak Ning, sang sopir pun langsung menarik tangan Sheryl saat menyadari sebuah boneka manekin hampir menimpa Sheryl.
Sopir itu berjongkok di depan Sheryl untuk menyetarakan dirinya. Ning segera mendekat dan menghampiri mereka.
“Kamu gak apa-apa inces?” tanya sopir itu nampak begitu perhatian.
“Gak apa- apa kakak ….”
“Hah? Kakak? Apa tadi dia memanggil sopir itu kakak?” Ning bertanya tanya dalm hatinya. Tangannya tiba- tiba menarik topi sopir tersebut dengan kasar, sehingga bukan hanya topi nya saja yang lepas, tapi kacamata nya pun ikut terlempar.
__ADS_1
“Kau!! Sudah ku duga kau si dinosaurus menyebalkan,” bentak Ning.
“Apa kau bilang? Berani sekali kau mengejek namaku?” Dino berdiri dan menatap kesal pada Ning.
“Hah … lalu selama ini apa yang kau lakukan? Selalu memanggil ku dengan sebutan kacung!!”
“Memang itu profesi mu … Sedangkan nama ku bukan Dinosaurus … dan panggil aku Tuan muda!” titahnya.
“Ha- ha … ini di luar rumah, dan kau bukan akak asuh ku lagi … Untuk apa aku memanggil mu dengan panggilan formal seperti itu. Dasar norak ….”
“Kau!!” Dino menunjuk wajah Ning.
“Apa?” Ning menantang.
“Kau benar- benar memuakkan!!” hardik Dino.
“Dan kau sangat menjengkelkan!!” Ning tak mau kalah mengejek.
“Ayok, Non kita per____” Ning menoleh ke sampingnya, namun tak melihat keberadaan Sheryl. “Hah … kemana Non Sheryl?” tanyanya terkejut.
Dino melihat sekelilingnya. “Sheryl … kemana dia? Ini semua gara- gara kau kacung songong!!”
“Kau yang mulai … Kenapa aku yang disalahkan?” Ning tak terima.
“Justru kau yang menarik topi dan melempar kacamata ku. Dasar kacung brutal!!”
“A aku … a aku … sudahlah sebaiknya kita cari Nona Sheryl ….” Ning sepertinya merasa salah.
Dino mendengus kesal, kemudian pergi begitu saja untuk mencari Sheryl. Ning pun mengikut Dino dari belakangnya sembari mengedarkan pandangan mencari keberadaan Sheryl. Ia terlihat begitu khawatir, sedangkan Dino nampak begitu tenang.
“Hei … kenapa kau tenang sekali … apa kau tidak mengkhawatirkan adik mu?” tanya Ning heran.
“Untuk apa khawatir .. paling dia pergi ke wahana permainan.”
“Apa?” Ning terkejut.
“Hmm.”
“Kenapa kau tidak memberitahu ku ….” ucap Ning kesal.
“Tuh Sheryl … aku sudah memberi tahu mu kan?” tunjuk Dino ke arah wahana permainan.
“Iiiiiih …. Menyebalakn sekali kau, Dinosaurus ….” Ning menghentakkan kakinya kesal.
Ning pun menghampiri Sheryl yang sudah berada di tempat mandi bola. Sementara Dino pergi ke tempat kasir, nampaknya ia sudah hafal dengan kelakuan adik bungsunya itu.
Ning dan Dino terus menemani Sheryl yang ingin main ini main itu dan lain sebagainya. Saat Sheryl kembai ke tempat mandi bola, Ning dan Dino duduk di kursi panjang.
“Bagaimana bisa kau keluar dengan menyamar seperti ini? Apa kau begitu merindukan ku sampai mengikuti ku segala?” Ning kembali menggoda Dino.
“Cihh... Jangan terlalu percaya diri … Siapa juga yang merindukan mu … Aku hanya ingin merasakan dunia luar, setelah sekian lama terkurung di rumah.”
“Kakak … inces mau naik kereta ulat itu ….” pinta Sheryl.
“Jangan Inces ….” Dino melarang.
“Iiihhh … Kakak kan sudah janji, kalau Inces bisa mengajak kakak keluar, Inces boleh minta apa saja ….” protes Sheryl.
“Iya tapi jangan kereta ulat itu … Bahaya, itu sama aja mini roller coaster.”
“Kalau gitu kakak ikut yuk.” Sheryl tak habis akal.
“Enggak ….” ucap Dino tegas.
“Halah … bilang saja takut … Cemen banget sih tuan muda ini. Naik mini coaster gitu aja takut apalagi kalau naik roller coaster beneran.” Ning malah mengompori.
“Siapa yang takut … Aku aku berani naik mainan seperti itu,” ucap Dino nampak ragu.
“Kalu begitu buktikan …” Ning menantang.
“Baik, aku akan buktikan ….” Dino menarik tanagn Sheryl. “Ayok Inces … kita naik kereta itu.”
Dino pun menaiki kereta mini coaster itu bersama sang adik. Sementara Ning menjadi penoton.
Ia tak hentinya menertawakan ekspesi Dino saat kereta sudah berjalan naik turun dalam rel nya. Dino beteriak- teriak seperti anak- anak yang lainnya yang menaiki kereta yang sama.
Saat turun, ia nampak keleyengan. Kedua tangan Dino memegang keplanya yang tersa begitu pusing.
“Kepala ku … sakit … sakit …” Dino mengeluhkan sakit disertai nafasnya terengah- engah.
“Kakak … kakak kenapa?” Sheryl terlihat panik.
Ning segera menghampiri Dino. “Tuan Muda, kau baik- baik saja?”
Bruk …
Dino menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Wajahnya muali pucat, sepertinya karena ia menahan rasa sakit yang menderanya.
“Arhhhh … kepala ku sakit sekali … kepala ku sakit sekali ….”
“Jangan jangan penyakitnya kambuh lagi?” gumam Ning.
“Tuan muda … tuan muda …” Ning duduk di lantai.
“Sakit … sakit ….” Dino terus memegang kepalanya yang terasa sakit.
“Tolong … tolong … ada yang sakit … tolong panggilkan ambulan ….” Ning berteriak minta tolong.
Penjaga keamanan pun menghampirinya dan memanggil ambulan. Namun sembari menungu, mereka membawa Dino ke klinik yang ada di mall tersebut dan mendapatkan penanganan dari petugas medis di sana.
Ning menggendong Sheryl yang terus menangis melihat kakaknya yang terus meraung kesakitan. Ia pun menghubungi Utari untuk memberitahukan keadaan Dino, karena hanya nomor Utari yang dimilikinya.
“Sebenarnya dia itu sakit apa?” lirih Ning menatap iba pada Dino yang sudah mulai tenang setelah diberi suntikan penahan rasa sakit oleh petugas medis di sana.
-------- TBC -------
*********************
Happy Reading ….
Jangan luva tinggalkan jejak mu … like, komen, rate bintang lima, vote hadiah seikhlasnya ….
__ADS_1
Tilimikicih ….
Ayalapyu All ….